BAB I PENDAHULUAN A. Pendahuluan B. Rumusan Masalah

dokumen-dokumen yang mirip
KONSEP BEHAVIORAL THERAPY DALAM MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI PADA SISWA TERISOLIR. Dyesi Kumalasari

KONSEP DASAR. Manusia : mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol/dipengaruhi oleh faktorfaktor

KEMAMPUAN KONSELOR DALAM MENGELOLA KONSELING BEHAVIORAL MELALUI ALAT PENILAIAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB V PENUTUP. Proses pengembangan kaidah kaidah fiqhiyah menjadi nilai nilai konseling. 1. Proses Pengembangan Qowaidul Fiqhiyah Pertama

BAB I PENDAHULUAN. ilmu pengetahuan teknologi dan kesenian. Tugas utama siswa di sekolah adalah

BAB I PENDAHULUAN. Kualitas akhlak seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi iman dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa

DIPLOMA PSIKOLOGI ISLAM DAN KAUNSELING. WPK1913 Kaunseling Keluarga (Minggu 4)

KONSELING KELUARGA DENGAN PENDEKATAN BEHAVIORAL: STRATEGI MEWUJUDKAN KEHARMONISAN DALAM KELUARGA

PENDEKATAN KONSELING BEHAVIORAL UNTUK MENINGKATKAN APLIKASI PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK SISWA MADRASAH ALIYAH ( Teori modelling Albert Bandura)

SKRIPSI. Diajukan untuk memenuhi sebagian syarat mencapai derajat Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Disusun oleh : Endah Widyaningsih Rahayu

BERBAGAI PENDEKATAN DALAM PSIKOLOGI

BAB I PENDAHULUAN. digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

Behavioristik Therapy ARNOLD LAZARUZ

SIJIL PSIKOLOGI ISLAM DAN KAUNSELING

BAB IV ANALISIS DATA

BAB I PENDAHULUAN. Keterlibatan Belajar Siswa, (Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2011), 2

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dalam ajaran agama Islam, umat Islam diperintahkan untuk semangat

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan akan layanan bimbingan dan konseling dalam pendidikan

PSIKOLOGI ALIRAN BEHAVIORISME

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menumbuh kembangkan

Anggit Fajar Nugroho Jurnal Tawadhu Vol. 2 no. 1, 2018

Bimbingan Konseling Islam pada Perilaku Menyimpang

BAB I PENDAHULUAN A. Pengertian Teori Konseling Behavioral konseling

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan masyarakat adalah orang-orang dewasa, orang-orang yang. dan para pemimpin formal maupun informal.

Berkompetisi mencintai Allah adalah terbuka untuk semua dan tidak terbatas kepada Nabi.

PRA KATA. Agus Supriyanto, M.Pd.

MATERI UJIAN KOMPREHENSIF: KOMPETENSI KHUSUS. Meliputi ujian tentang ayat dan hadis yang berkaitan dengan bimbingan dan konseling

BAB I PENDAHULUAN. kemajuan dalam masyarakat. Aspek perubahan meliputi: sosial, politik, ekonomi,

Teori Albert Bandura A. Latar Belakang Teori self-efficasy

A. LATAR BELAKANG MASALAH

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu kebanggaan bagi setiap orang tua adalah memiliki anak-anak

BAB I PENDAHULUAN. pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang

TEORI BELAJAR SKINNER

BAB III TEKNIK TOKEN ECONOMY DALAM TERAPI BEHAVIORAL

SKRIPSI. Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Pada Jurusan Bimbingan dan Konseling OLEH :

TEKNIK MODELING SIMBOLIS DALAM LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pada prinsipnya sebagai makhluk sosial, antara individu yang satu dengan

BAB II KAJIAN TEORI. Watson pada tahun 1913 dan digerakkan oleh Burrhus Frederic Skinner.

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

Psikologi Konseling. Pengertian, Tujuan, Proses, dan Karakteristik Konselor. Muhammad Ramadhan, M.Psi, Psikolog. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI

BAB I PENDAHULUAN. dan menjadi perilaku yang tidak baik dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena

BAB I PENDAHULUAN. mental, emosional, sosial dan fisik. Pandangan ini diungkapkan oleh

BAB I PENDAHULUAN. dan berinteraksi dengan orang lain demi kelangsungan hidupnya. Karena pada

BAB I PENDAHULUAN. dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya inpit secara

BAB I PENDAHULUAN. * Seluruh Teks dan terjemah Al-Qur`ān dalam skripsi ini dikutip dari Microsoft Word Menu Add-Ins

BAB I PENDAHULUAN. dikaji, pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pentingnya hidup beragama (Daradjat, 1990 : 35).

MATERI PENDEKATAN KONSELING PERILAKU

BAB V PEMBAHASAN. bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara pengembangan karir dan

BAB I PENDAHULUAN. potensi sumber daya manusia. Pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK

BAB II KAJIAN TEORI. saat akan berpengaruh atau kecenderungan untuk memberi respon. Menurut Jamies Drever (dalam Slameto 2010:59) Readiness adalah

TEORI BELAJAR BEHAVIORISME (TINGKAH LAKU)

BAB V TERAPI DALAM BIMBINGAN KONSELING SOSIAL

Psikologi Konseling Pendekatan Konseling Rasional Emotif (Rational Emotive Therapy)

Menyampah' dari Perspektif Psikologi (2) Marselius Sampe Tondok Fakultas Psikologi, Universitas Surabaya

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Sekolah sebagai lembaga pendidikan mempunyai kebijakan tertentu yang

B.F. Skinner. Pendekatan Psikologi Skinner

PERILAKU DAN MENTAL DALAM PERSPEKTIF BEHAVIORISME

ISBN:

BAB I PENDAHULUAN. Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu

PENGANTAR DAN TEORI ALIRAN BEHAVIOUR

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. yang sifatnya menembangkan pola hidup yang menyimpang dari norma. perikehidupan dan perkembangan remaja.

BAB IV ANALISIS PERTANGGUNG JAWABAN PEMERIKSAAN TERSANGKA PENGIDAP GANGGUAN JIWA MENURUT HUKUM PIDANA POSITIF DAN HUKUM PIDANA ISLAM

BAB I PENDAHULUAN. fenomena---teori adalah untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena.

BAB I PENDAHULUAN. Matematika juga berkembang di bidang ilmu yang lain, seperti Kimia, Fisika, saat ini dengan penerapan konsep matematika tersebut.

PENANAMAN NILAI- NILAI AGAMA DAN MORAL PADA ANAK USIA DINI (STUDI KASUS DI TK RA-MARYAM KECAMATAN KESUGIHAN CILACAP TAHUN PELAJARAN 2014/2015)

I. PENDAHULUAN. Setiap orang cenderung pernah merasakan kecemasan pada saat-saat tertentu

BK KELOMPOK Diana Septi Purnama HUBUNGAN INTERPERSONAL

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Belajar merupakan suatu kegiatan yang tidak pernah berhenti dilakukan

SIJIL PSIKOLOGI ISLAM DAN KAUNSELING

Sejarah dan Aliran-Aliran Psikologi

Tafsir Depag RI : QS Al Baqarah 286

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Salah satu masalah yang terjadi pada dunia pendidikan di Indonesia

BAB I PEDAHULUAN. Pendidikan juga mengarahkan pada penyempurnaan potensi-potensi yang

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan. Kesempurnaan, kemuliaan, serta kebahagiaan tidak mungkin

BAB I PENDAHULUAN. guna meraih bekal-bekal keilmuan untuk keberlangsungan hidupnya. Islam

BAB I PENDAHULUAN. politik, sosial, dan lain sebagainya. Permasalahan-permasalahanan tersebut kerap

BAB I PENDAHULUAN. Sehubungan dengan itu Allah Swt berfirman dalam Alquran surah At-Tahrim

BAB I PENDAHULUAN. secara sistematis dan terencana dalam setiap jenis dan jenjang pendidikan.

BAB IV ANALISIS DATA. konseling islam, yang di analisis sebagai baerikut : A. Analisis Tentang Pengalaman orangtua mengenai anak autis.

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN. tujuan hidupnya, prestasi, kesuksesan dan juga penghargaan. Tanpa didukung oleh

TINJAUAN PUSTAKA. Adapun teori-teori yang dijelaskan adalah teori mengenai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Firman Allah SWT. Dalam Surat Al-Mujaadilah [58:11]:

BAB I PENDAHULUAN. masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Pendidikan memberikan

Tafsir Depag RI : QS Al Baqarah 284

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Pendahuluan Teori belajar diterapkan ke perilaku manusia setelah behaviorisme yang dipelopori oleh psikologi Amerika, J.B. Watson melakukan riset terhadap anak yang bernama Albert dan publikasi artikelnya psychology as the behaviorist views it. Publikasi dan penelitian yang dilakukan oleh Watson dan lainnya secara sistematik mengembangkan dan menyempurnakan prinsip-prinsip behaviorisme. Teori-teori behaviorisme menjadi amat populer dan memberi inspirasi bagi upaya-upaya pengubahan perilaku, termasuk di dalamnya melalui proses konseling. Selama berabad abad, para pengamat perilaku manusia sudah mengetahui jika manusia pada umumnya melakukan hal yang memiliki konsekuensi yang tidak menyenangkan. Sebagai sebuah pendekatan yang relatif baru, sejak 1960-an konseling behavioral telah memberi implikasi yang amat besar dan spesifik pada teknik dan strategi konseling dan dapat diintegrasikan ke dalam pendekatan lain. Konseling behavioral ini dikembangkan atas reaksi terhadap pendekatan psikoanalasis dan aliran-aliran Freudian (Rachman, 1963). B. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan teori behavioristik? 2. Pandangan behavioristik dari perilaku bermasalah? 3. Tujuan dan peran konseling dari teori behavioristik?

BAB II PEMBAHASAN A. Teori behavioristik Thorndike daqn Watson menekankan bahwa perilaku manusia mestinya dipelajari secara ilmiah. Behaviorisme ilmiah berkeyakian jika perilaku dapat dipelajari dengan baik tanpa harus mengacu pada konsep kebutuhan, insting ataupun motif. Melekatkan motivasi kepada perilaku manusia sama saja melekatkan kehendak bebas kepada fenomena alam. 1 Dalam pandangan behavioral, kepribadian manusia itu pada hakikatnya adalah perilaku. Perilaku dibentuk berdasarkan hasil dari segenapnya pengalamannya berupa interaksi individu dengan lingkungan sekitarnya. Tidak ada manusia yang sama, karena kenyataan manusia memiliki pengalaman yang berbeda dalam kehidupannya. Kepribadian seseorang merupakan cerminan dari pengalaman, yaitu situasi atau stimulus yang diterimanya. Sesuai dengan pandangan behavioristik yang terutama disoroti adalah tingkah laku seseorang yang nyata. Tingkah laku itu dievaluasi menurut keseuaian atau ketidaksesuaian dengan realitas yang ada. Glasser memfokuskan perhatian pada perilaku seseorang pada prilaku saat sekarang, dengan menitikberatkan pada tanggung jawab yang dipikul setiap orang untuk berperilaku sesuai dengan realitas atau dengan kenyataan yang dihadapi. 2 Selama proses konseling konselor membantu konseli untuk menilai kembali tingkah laku dari sudut pandang bertindak dan bertanggung jawab. Seperti dalam QS. An-Nahl : 93 ك عومعنك عشا عءكا ه للن كمع عج ع ع ن ك كأ همة ك عواح عدة ك عومع ك نكينض ل ك عمنكيع عشا نءك عو ع ي د يك عمنكيع عشا نءك ك عومعتنسأ من هنك ععهكاك ن ن ت ك ع ع نن ع ك Artinya: dan jika allah menghendaki, niscaya dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi dia menyesatkan siapa yang dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki. Tetapi, kamu pasti akan ditanyatentang apa yang telah kamu kerjakan. Pandangan dualisme sebagaimana yang berkembang: jiwa raga, mental fisik, sikap perilaku, dan sebgaimya bagi behavioral adalah tidak valid, tidak dapat dikenali dan dikendalikan di laboraturium. Berikut beberapa teori belajar tentang mekanisme pembentukkan perilaku. 1. Teori Belajar Klasik 2. Teori Belajar Perilaku Operan 3. Teori Belajar dengan Mencontoh Berdasarkan teori tentang perilaku sebagaimana yang dikemukakan ahli-ahli behavioral, konselor behavioral menurut Dustin dan George dalam menjalankan fungsinya berdasarkan atas asumsi-asumsi berikut. 1 Latipun. Psikologi Konseling. Malang. UMM PRES. 2010. Hal 89 2 W.S. Winkel & M.M. Sri Hastuti. BimbingAN dan Konseling. Yogyakarta. Media Abadi. 2004. Hal 459

1. Memandang manusia secara intrinsik bukan sebagai baik atau buruk, tetapi sebagai hasil dari pengalaman yang memiliki potensi untuk segala jenis perilaku 2. Manusia mampu untuk mengkonsepsikan dan mengendalikan perilakunya. Seperti dalam firman allah ار نعناكا عو عس ع ل ك عمغ ف عرة كم نك هرب ن ك ك عو عجنهة ك ععر نضهع اكام هس ع ا عوا نتك عوا ل ر نضكأ ع هدت كن ن تهق عيك Artinya: dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. ا ه ل ي عنكينتف نقن ع ك ف كام ه سهاء ك عوام ه ضهاء ك عوام ع كظ عيكام غعي ظعك عوام ع اف عيك ععن كامته اس ك ك عوا ه للن ك ن ي ب كام ن ح س ت عيك Artinya : (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. dan allah mencintai orang yang berbuat baik. 3. Manusia mampu mendapatkan perilaku baru. 4. Manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain sebagaimana perilakunya juga dipengaruhi orang lain. Asumsi-asumsi dasar yang dianut kalangan behavioris ini memberikan implikasi terhadap tujuan dan prosedur konseling. 3 B. Perilaku Bermasalah Perilaku yang bermasalah dalam pandanngan behavioris dapat dimaknakan sebagai perilaku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau perilaku yang tidak tepat, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kepuassan individu terhadap perilakunya bukanlah ukuran bahwa perilaku itu harus dipertahankan, karena adakalanya perilaku itu dapat menimbulkan kesulitan di kemudian hari (Hansen dkk., 1982), perilaku yang dipertahankan atau dibentuk pada individu adalah perilaku yang bukan sekadar memperoleh kepuasan pada jangka pendek, tetapi perilaku yang tidak menghadapi kesulitan-kesulitan yang lebih luas dan dalam jangka yang lebih panjang. Perubahan perilaku bisa terjadi karena pengaruh lingkungan melalui proses belajar atau proses kondisioning sebagai akibat hubungannya dengan lingkunga. Beberapa pandangan mengatakan antara lain bahwa manusia tumbuh menjadi seperti apa yang terbentuk oleh lingkungan. 4 C. Tujuan Konseling Corey (1977) dan George dan Cristiani (1990) mengemukakan bahwa konseling behavioral itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut. 1. Berfokus pada perilaku yang tampak dan spesifik. 2. Memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan terapeutik. 3. Mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai masalah klien. 4. Penaksiran objektif atas tujuan terapeutik. Secara khusus, tujuan konseling behavioral mengubah perilaku salah dalam penyesuaian dengan cara-cara memperkuat perilaku yang diharapkan dan meniadakan 3 Latipun. Psikologi Konseling. Malang. UMM PRES. 2010. Hal 91 4 Latipun. Psikologi Konseling. Malang. UMM PRES. 2010. Hal 92

perilaku yang tidak diharapkan serta membantu menemukan cara-cara berperilaku yang tepat. Krumboltz mengemukakan bahwa dengan dirumuskannya perubahan perilaku dalam bentuk operasioanal sebagai tujuan konseling, maka akan menimbulkan konsekuensi sebagai berikut. 1. Konselor dan klien akan lebih jelas mengantisipasi apa yang akan di proses dalam konseling, yang telah dan yang tidak akan diselesaikan. 2. Psikologi konseling menjadi lebih terintegrasi dengan teori-teori psikologi beserta hasil penelitiannya. 3. Perbedaan kriteria harus diaplikasikan secara berbeda dalam mengukur keberhasilan konseling. D. Prosedur Konseling Tokoh aliran psikologi behavioral John D. Krumboltz dan Carl Thoresen menempatkan prosedur belajar dalam empat kategori, sebagai berikut. 1. Belajar operan (operant learning) adalah belajar didasarkan atas perlunya pemberian ganjaran untuk menghasilkan perubahan perilaku yang diharapkan. 2. Belajar mencontoh yaitu cara dalam memberikan respon baru melalui menunjukkan atau mengerjakan model-model perilaku yang diinginkan sehingga dapat dilakukan oleh klien. 3. Belajar kognitif, yaitu belajr memelihara respon yang di harapkan dan boleh mengadaptasi perilaku yang lebih baik melalui instruksi sederhana. 4. Belajar emosi yaitu cara yang digunakan untuk mengganti respon-respon emosional yang dapat diterima sesuai dengan konteks classical conditioning. Konselor dakam setiap menyelenggarakan konseling harus beranggapan bahwa setiap reaksi klien adalah akibat dari situasi yang diberikannya. Tujuan konseling behavioral dalam pengambilan keputusan adalah secara nyata membuat keputusan. E. Peranan Konselor Konselor behavioral memiliki peran yang sangat penting dalam membantu klien. Wolpe mengemukakan peran yang harus dilakukan konselor, yaitu bersikap menerima, mencoba memahami klien dan apa yang dikemukakan tanpa menilai atau mengkritiknya. F. Teknik Spesifik 1. Desensitisasi Sistematis Merupakan teknik relaksasi yang digunkan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya berupa kecemassan dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan 2. Terapi Implosif Dikembangkan berdasarkan atas asumsi bahwa seseorang yang secara berulang0ulang dihadapkan pada suatu situasi penghasil kecemasan dan konsekuensi-konsekuensi yang menakutkan ternyata tidak muncul maka kecemasan akan hilang. 3. Latihan Perilaku Asertif Melatih individu yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adakah layak atau benar. Cara yang digunakan adalah ddengan

permainan peran dengan bimbingan konselor. Diskusi-diskusi kelompok diterapkan untuk latihan asertif ini. 4. Pengkondisian Aversi Dilakukan untuk meredakan perilaku simptomatik dengan cara menyajikan stimulus yang tidak menyenangkan sehingga perilaku yang tidak dikehendaki tersebut terhambat kemunculannya. Stimulus dapat berupa sengatan listrik atau ramuan-ramuan yang membuat mual. Jadi terapi aversi ini menahan perilaku yang maladaptif dan individu berkesempatan untuk memperoleh perilaku alternatif yang adaptif. 5. Pembentukan Perilaku Model Digunkan untuk membentuk perilaku baru pada klien dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. 6. Kontrak Perilaku Persetujuan antara dua orang atau lebih untuk mengubah perilaku tertentu pada klien. Konselor dapat memilih perilaku yang realistik dan dapat diterima oleh kedua belah pihak. 5 5 Latipun. Psikologi Konseling. Malang. UMM PRES. 2010. Hal 101

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Perilaku manusia dapat terus bergerak menjadi kompleks dari perilaku kompleks dibentuk oleh seleksi alam, evolusi budaya, atau sejarah penguatan individu. Tidak menyangkal keberadaan proses mental lebih tinggi seperti kognisi, rasio dan rekoleksi. Namun juga tidak mengabaikan perilaku kompleks manusia sepreti kreativitas, perilaku yang tidak disadari, mimpi, dan perilaku sosial. B. Penutup Kami menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Akan tetapi bukan berarti makalah ini tidak berguna. Besar harapan kami makalah ini dapat menjadi referensi bagi pembaca serta menambah ilmu pengetahuan bagi kita.

DAFTAR PUSTAKA Latipun. 2010. Psikologi Konseling. Malang : UMM PRESS Winkel W.S & M.M Sri Hastuti. 2004. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, Yogyakarta: Media Abadi Al-Quran dan Terjemah. Bandung : SYGMA