Konsep Penataan Massa

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Total keseluruhan luas parkir yang diperlukan adalah 714 m 2, dengan 510 m 2 untuk

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Sentra Agrobisnis tersebut. Bangunan yang tercipta dari prinsip-prinsip Working

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. adalah High-Tech Of Wood. Konsep High-Tech Of Wood ini memiliki pengertian

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB VI HASIL RANCANGAN. tema Sustainable Architecture yang menerapkan tiga prinsip yaitu Environmental,

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

BAB V KONSEP. marmer adalah Prinsip Sustainable Architecture menurut SABD yang terangkum

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Dalegan di Gresik ini adalah difraksi (kelenturan). Konsep tersebut berawal dari

BAB VI HASIL PERANCANGAN

BAB 6 HASIL RANCANGAN

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. Terakota di Trawas Mojokerto ini adalah lokalitas dan sinergi. Konsep tersebut

PUSAT MODIFIKASI MOBIL BAB V KONSEP PERANCANGAN KONSEP METAFORA PADA BANGUNAN Beban angin pada ban lebih dinamis.

BAB VI HASIL RANCANGAN. terdapat pada Bab IV dan Bab V yaitu, manusia sebagai pelaku, Stadion Raya

BAB VI HASIL RANCANGAN. Perancangan Pusat Rekreasi Peragaan IPTEK ini terletak di Batu,karena

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan lingkungannya yang baru.

BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB VI HASIL RANCANGAN. Perancangan Kembali Citra Muslim Fashion Center di Kota Malang ini

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN

5 BAB V KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Konsep perancangan yang digunakan dalam perancangan kembali pasar

BAB V KONSEP. mengasah keterampilan yaitu mengambil dari prinsip-prinsip Eko Arsitektur,

Structure As Aesthetics of sport

BAB VI KLASIFIKASI KONSEP DAN APLIKASI RANCANGAN. dirancang berangkat dari permasalahan kualitas ruang pendidikan yang semakin

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. V. 1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan. mengenai isu krisis energi dan pemanasan global.

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. kendaraan dan manusia akan direncanakan seperti pada gambar dibawah ini.

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Konsep dasar perancangan beranjak dari hasil analisis bab sebelumnya yang

Lapas Kelas I A Kedungpane

BAB VI HASIL RANCANGAN. wadah untuk menyimpan serta mendokumentasikan alat-alat permainan, musik,

BAB VI HASIL RANCANGAN. produksi gula untuk mempermudah proses produksi. Ditambah dengan

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAGIAN 3 HASIL RANCANGAN DAN PEMBUKTIANNYA

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP. Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki

BAB 6 HASIL RANCANGAN. Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan. bab sebelumnya didasarkan pada sebuah tema arsitektur organik yang menerapkan

BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan arsitektur yang

BAB V I APLIKASI KONSEP PADA RANCANGAN. karena itu, dalam perkembangan pariwisata ini juga erat kaitannya dengan

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Pemikiran yang melandasi perancangan dari proyek Mixed-use Building

BAB V I KLASIFIKASI KONSEP DAN APLIKASI RANCANGAN. dari permasalahan Keberadaan buaya di Indonesia semakin hari semakin

Bab V Konsep Perancangan

BAB VI HASIL PERANCANGAN. Hasil perancangan dari kawasan wisata Pantai Dalegan di Kabupaten Gresik

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB VI KONSEP RANCANGAN

BAB 6 HASIL RANCANGAN. Konsep dasar rancangan yang mempunyai beberapa fungsi antara lain: 1.

BAB VI HASIL PERANCANGAN

BAB VI HASIL RANCANGAN. Redesain terminal Arjosari Malang ini memiliki batasan-batasan

BAB VI HASIL RANCANGAN. perancangan tapak dan bangunan. Dalam penerapannya, terjadi ketidaksesuaian

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB VI HASIL PERANCANGAN

BAB V KESIMPULAN ARSITEKTUR BINUS UNIVERSITY

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

Kondisi eksisting bangunan lama Pasar Tanjung, sudah banyak mengalami. kerusakan. Tatanan ruang pada pasar juga kurang tertata rapi dan tidak teratur

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Studi Tipologi Bangunan Pabrik Gula Krebet. Kawasan Pabrik gula yang berasal dari buku, data arsitek dan sumber-sumber lain

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

Konsep dasar perancangan pada Sekolah Pembelajaran Terpadu ini terbentuk. dari sebuah pendekatan dari arsitektur prilaku yaitu dengan cara menganalisa

BAB VI HASIL RANCANGAN. dalam perancangan yaitu dengan menggunakan konsep perancangan yang mengacu

Perancangan Convention and Exhibition di Malang

AR 40Z0 Laporan Tugas Akhir Rusunami Kelurahan Lebak Siliwangi Bandung BAB 5 HASIL PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN. Tujuan dari perancangan Pusat Gerontologi di Jawa Barat merupakan

Gambar 5.1. Zoning Ruang (sumber:konsep perancangan.2012)

BAB V KONSEP. a. Memberikan ruang terbuka hijau yang cukup besar untuk dijadikan area publik.

BAB VI KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN STUDENT APARTMENT STUDENT APARTMENT DI KABUPATEN SLEMAN, DIY Fungsi Bangunan

BAB V KONSEP PERANCANGAN. konsep dasar yang digunakan dalam Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Boom Di

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP. Langkah-langkah untuk menerapkan Konsep Green Hospital, yaitu :

BAB V KONSEP PERENCANAAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN. tema perancangan dan karakteristik tapak, serta tidak lepas dari nilai-nilai

LAMPIRAN 1 PERAN ENERGI DALAM ARSITEKTUR

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V. KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN. menggunakan dinding yang sifatnya masif.

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. a. Aksesibilitas d. View g. Vegetasi

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB VI HASIL PERANCANGAN. apartemen sewa untuk keluarga baru yang merupakan output dari proses analisis

DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR DIAGRAM...


BAB IV ANALISA PERENCANAAN

BAB V KONSEP. V.1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan

BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN. Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi

BAB VI HASIL PERANCANGAN. Konsep tersebut berawal dari tema utama yaitu Analogy pergerakan air laut, dimana tema

BAB V KONSEP 5.1 Konsep Makro Gambar 5.1 : Sumber :

SEKOLAH MENENGAH TUNANETRA BANDUNG

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP. perencanaan Rumah Susun Sederhana di Jakarta Barat ini adalah. Konsep Fungsional Rusun terdiri dari : unit hunian dan unit penunjang.

BAB IV: KONSEP Pendekatan Aspek Kinerja Sistem Pencahayaan Sistem Penghawaan Sistem Jaringan Air Bersih

BAB IV ANALISA TAPAK

BAB V KONSEP. Konsep Dasar dari Balai Pengobatan Kanker terpadu adalah Thibbun Nabawi. Adapun pemaparan konsep adalah sebagai berikut:

BAB V KONSEP PERANCANGAN BANGUNAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Perencanaan dasar pengunaan lahan pada tapak memiliki aturanaturan dan kriteria sebagai berikut :

BAB V LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR STASIUN INTERMODA DI TANGERANG

Transkripsi:

5.2.1. Konsep Penataan Massa Pembagian Zona dan perletakan massa Vegetasi dan dinding masif berfungsi untuk menghalangi kebisingan dari jalan raya. Mebatasi antara rumah warga dan komplek pesantren Memberikan jembatan layang untuk menjaga keselamatan siswa yang bersekolah, sehingga orang tua tidak kawatir. Menggunakan dua entrance untuk mempermudah pengunjung dalam akses ke tapak Memberi bangunan sedikit lebih tinggi pada bangunan yang terkena sinar matahari untuk menghalangi sinarmatahari siang, agar proses belajar tidak terganggu. Gambar 5.2 Konsep Perletakan massa 182 P a g e

5.2.2. Konsep Batas dan Bentuk Tapak Pada dasarnya perancangan komplek pesantren modern ini dibutuhkan pembatasan tapak secara masif, karena sesuai dengan penekanan konsep ruang tertutup yang diperuntukkan bagi publik yaitu tidak diperuntukkan oleh masyarakat sekitar. Namun, perlu adanya pengaturan terhadap lahan dengan memberi batas tapak dengan pagar di beberapa area sebagai penanda untuk menunjukkan adanya batas tapak dan juga sebagai batas antara jalur pejalan kaki dengan kendaraan di dalam tapak. Oleh karena itu, jenis pembatasan yang dipilih adalah mengkombinasikan antara pagar dinding, pagar hidup dan pagar besi menjadi satu kesatuan. Karena dengan cara mengkombinasikan dari ketiga alternatif tersebut, dapat menampilkan suatu taman yang menarik. Jenis vegetasi yang digunakan pagar hidup untuk membatasi tapak adalah pohon palem, pohon merambat dan pohon-pohon yang berada di eksisting. Pohon-pohon yang berada di eksisting itu diantaranya seperti pohon angsana dan trembesi. 183 P a g e

Memberikan pagar hidup yang memberikan kesan bebas, alami dan lebih terbuka. Pohon kelapa dan sejenisnya dapat difungsikan sebagai pohon penunjuk arah, selain itu dapat menjadikan estetika. Menggunakan entrance dua arah guna untuk mempermudah pengunjung dalam aksesnya. Memberikan partisi atau pagar masif antara tapak dengan mengkomposisikan bentukan geometri islami kedalam rancangan. Gambar 5.3 Konsep Batas, bentuk Tapak 5.2.3. Konsep Aksesbilitas Aksesibilitas pada tapak dapat dicapai dari dua arah, yaitu selatan dan barat. Akses Paling utama terletak dari arah selatan tapak. Arah ini merupakan arah yang berbatasan langsung dengan jalan raya atau paling banyak dilalui kendaraan. Sedangkan akses yang kedua terletak dari arah barat tapak, karena arah ini erupakan arah yang berhadapan langsung dengan jalan permukiman yang begitu ramai dilalui kendaraan. 184 P a g e

Pencapaian dapat dilakukan secara langsung dari dua arah entrance selatan. Pemilihan pintu masuk dari selatan karena merupakan arah yang berbatasan langsung dengan jalur jalan raya utama dan jalan menuju perumahan, sehingga akan memudahkan pengunjung untuk mengunjungi komplek pesantren modern di bugul kidul pasuruan. Pintu masuk dirancang diberi pagar pembatas. Dengan konsep ini pengunjung dapat memasuki komplek pesantren modern di bugul kidul pasuruan dengan memasuki pintu masuk (entrance) pengunjung akan disambut oleh pintu utama, pos satpam dan parkir. Menggunakan entrance dua arah guna untuk mempermudah pengunjung dalam aksesnya. Memberikan jembatan layang untuk menjaga keselamatan siswa yang bersekolah, sehingga orang tua tidak kawatir. Gambar 5.4 Konsep Aksesbilitas 185 P a g e

5.2.4. Konsep Sirkulasi Pejalan kaki menggunakan trotoar sebagai sirkulasi untuk mengurangi kemacetan dan syarat dalam sirkulasi jalan. Pohon kelapa sebagai penunjuk jalan menuju ke bangunan yang lain, dan sebagai peneduh dari panas dan hujan. Penggunaan batu bata/paving blok dapat berfungsi sebagai pembersih udara dan meredam udara polusi dari kendaraan menjadi udara yang tidak membahayakan. Membuat pedestrian yang sebelumnya tidak ada untuk memberikan kenyamanan dan keamanan terhadap pejalan kaki. Guna memanfaatkan grid pada petak sawah. Gambar 5.6 Konsep Sirkulasi Pejalan Kaki 186 P a g e

Jenis sirkulasi kendaraan yang berhubungan dengan jalan raya dan area parkir. Dengan membedakan antara pejalan kaki dan kendaraan bertujuan untuk kenyamanan pengguna kendaraan. Membedakan antara sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki, demu keselamatan pengguna jalan. Gambar 5.7 Konsep Sirkulasi Kendaraan 5.2.5. Konsep Pencahayaan dan Penghawaan Konsep pencahayaan dan penghawaan alami yang berasal dari cahaya matahari tergantung dari bentuk permainan bukaan bangunan dengan membuat sosoran atau sejenisnya (sebagai penyaring sinar matahari) agar sinar matahari tidak langsung masuk pada interior bangunan. 187 P a g e

Gambar 5.8 Konsep Penghawaan dan Pencahayaan 5.2.6 Konsep Vegetasi Dari berbalternaif-alternatif yang ditawarkan pada Bab 4 ada beberapa pengelompokan Pemilihan jenis tanaman maupun cara pengaturan penanamannya harus mengikuti rencana penanaman yang disusun untuk memenuhi fungsi serta estetikanya. Banyak jenis vegetasi yang bisa digunakan pada rancangan seperti : pohon kelapa, trembesi dan pohon sono.dll Dari pengelompokkan tersebut, vegetasi dapat disusun menjadi taman, tempat bernaung, memberi tirai pemandangan, menahan angin, memberi bayangan. 188 P a g e

Gambar 5.9 Pohon Sono Sumber: Dokumentasi Pribadi. 2011 Memberikan pohon kelapa untuk penunjuk arah bagi pengguna. Gambar 5.10 Konsep Vegetasi Phon trembesi difungsikan untuk peneduh bangunan maupun parkir dan aktifitas pelajar 189 P a g e

5.2.7 Konsep Kebisingan Pemilihan jenis vegetasi maupun cara pengaturan harus mengikuti rencana peletakan bangunan yang disusun untuk memenuhi fungsi serta estetikanya. Yang terpenting adalah pemberian jarak antara vegetasi dengan bangunannya. Kebisingan yang berasal dari jalur utama jl. Doktor Setiabudi dapat direduksi dengan menempatkan barier berupa vegetasi perdu untuk menyaring kebisingan. Memberikan jarak antara bangunan dengan sumber bising agar proses belajar dalam pesantren tidak terganggu Zona bising dimanfaatkan untuk fasilitas-fasilitas yang tidak memerlukan ketenangan maksimal seperti, area parkir, pos keamanan dan fasilitas servis lainnya. Gambar 5.11 Konsep Vegetasi 5.3 Konsep Sirkulasi Pejalan kaki Sirkulasi dalam tapak di pondok pesantren ini akan didominasi oleh sirkulasi dari pejalan kaki. Sementara di sisi lain, penekanan kriteria untuk kualitas ruang publik yang ditinjau secara non fisik yaitu kenyamanan, kemanan, keselamatan dan kemudahan. 190 P a g e

Gambar 5.12 sirkulasi pejalan kaki Sirkulasi pejalan kaki dalam tapak dihadirkan dengan jalan setapak dan trotoar atau pedestrian. Agar senantiasa menyelaraskan dengan fungsi pesantren modern, maka dilakukan desain jalur sirkulasi yaitu dengan hanya menggunakan perkerasan yang diberi motif pola yang diambil dari nilai-nilai geometri islami sebagai pengarah pejalan kaki. Memasukkan nilai-nilai islam ke motif pedestrin : komposisi, pengulangan, dan mudah dialami (tidak membingungkan pengguna) Gambar 5.13 Motif pedestrian 191 P a g e

Memberikan pedestrian yang sebelumnya belum ada pada tapak dengan menerapkan komposisi segi empat Gambar 5.14 Konsep pelaku dan aktifitas Sirkulasi kendaran Konsep sirkulasi kendaraan hanya bisa sampai pada area parkir saja, selebihnya kendaraan tidak boleh mengakses jalan lain di pesantren modern. Posisi parkir diletakkan di dalam tapak sebelah utara dan barat dengan memanfaatkan garis sempadan bangunan pada tapak. Gambar 5.15 Konsep sirkulasikendaraan 192 P a g e

Gambar 5.16 Konsep sistem parkir 5.4 Konsep Ruang Penekanan konsep pada ruang dalam dan luar akan dicapai dengan upaya menghasilkan suasana ruang dengan mangambil konsep dari nilai-nilai geometri islami. Hal ini akan diwujudkan dengan menghadirkan suasana ruang yang menjadikan seseorang saat berada didalam ruangan terasa nyaman dan aman, dan tidak merasakan ruang yang negatif. 193 P a g e

Gambar 5.17 interior ruang kelas Gambar 5.18Ruang luar 194 P a g e

5.6 Konsep Struktur A. Pondasi Struktur pondasi yang digunakan pada perancangan komplek pesantren modern yaitu, pondasi batu kali, plat beton dengan dikombinasikan pondasi strauss atau tiang pancang dangkal, dan plat beton yang dikombinasikan dengan penyambungan kolom. Gambar 5.19 Pondasi Batu Kali (Sumber: Suparno. 2008) B. Dinding Berikut merupakan pilihan material dinding yang dapat digunakan sebagai struktur dinding dengan ciri masing-masing, yaitu: 1. Batu bata merah Kelebihan : Dapat menyesuaikan bentuk atau fleksibel, bahan dapat dibeli di toko bangunan terdekat. Kekurangan : Berat, membutuhkan banyak buruh dan bahan. 195 P a g e

Gambar 5.20 Bata Merah dan dinding pasangan bata merah (Sumber: Foto PKLI. 2011) Dari hasil beberapa analisis struktur dinding dapat dilihat bahwa ketiga bahan atau material tersebut dapat dipadukan, karena kedua bahan tersebut saling mendukung untuk dapat digunakan sebagai material struktur dinding dan dapat menyeseuaikan dengan kedaan iklim di tapak perancangan. C. Kolom Terdapat dua macam pilihan material kolom yang dapat digunakan sebagai struktur kolom dengan ciri masing-masing, yaitu: 1) Baja profil Kelebihan : Pengerjaan cepat, praktis, hanya membutuhkan tenaga kerja yang sedikit. Kekurangan : Harus melakukan pemesanan dahulu sesuai desain, tidak dapat dikerjakan oleh sembarang orang atau harus tenaga ahli yang mengerjakan. 196 P a g e

2) Beton bertulang Gambar 5.21 Standart tipe penampang profil baja canai panas Sumber : Ariestadi. 2008 Kelebihan : Dapat dikerjakan sesuai kehendak, tidak memerlukan tenaga ahli, bahan dapat dibeli di toko bangunan terdekat, lebih murah dibanding kolom baja. Kekurangan : pengerjaannya memerlukan tahapan tertentu, membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Gambar 5.22 Tipikal kolom beton bertulang Sumber : Ariestadi. 2008 197 P a g e

D. Struktur Atap Atap yang dipilih dalam desain adalah atap miring, karena untuk iklim tropis lembab yang paling memungkinkan adalah atap miring (antara 30 o - 45 o ). Adapun material yang digunakan yaitu kayu, karena kayu bisa menyerap energi matahari siang yang kemudian dipantulkan kedalam ruangan. E. F. G. Gambar 5.23 Struktur Kayu Sumber : Ariestadi. 2008 198 P a g e

5.7. Konsep Utilitas 5.7.1 Sistem Penyediaan Air Bersih Agar tidak mengganggu kebutuhan air pada setiap bangunan, konsep sistem penyediaan air bersih pada bangunan dipisah berdasarkan kebutuhan primer (air minum, kamar mandi,) dan sekunder kolam air pada (pemadam kebakaran,dll). Dan sistem distribusi yang digunakan adalah sistem downfeed (sistem disrtibusi dari sumber air masuk kedalam tandon bawah dan dipompa menuju tandon atas kemudian didistribusikan kemasing-masing ruangan yang memutuhkan persediaan air. 5.7.2 Sistem Pembuangan Air Kotor Gambar 5.24 Konsep Distribusi Air Bersih Sumber : sketsa pribadi, 2011 Pipa yang dipakai pada instalasi air kotor ada dua macam, yakni yang terbuat dari logam dan PVC. Bahan PVC merupakan terobosan inovatif yang hebat dan sangat menghematkan konsumen. Selain itu, PVC merupakan material yang tak karat dan lebih mudah perawatan maupun perbaikannya jika terjadi 199 P a g e

kerusakan. Satu satunya kelemahan pipa PVC adalah rawan bocor apabila sistem pengelemannya kurang rapi. Gambar 5.25 air kotor Sumber: sketsa.com 5.7.3 Sistem Elektrikal A. Bahaya kebakaran Untuk menanngulangi terhadap bahaya kebakaran dibutuhkan alatalat pemadam kebakaran yang praktis, mudah digunakan dan mudah dijangkau. Alat-alat tersebut adalah: 1) Heat detector Suatu alat untuk mendeteksi panas seperti suhu atau temperatur. 2) Smoke detector Suatu alat untuk mendeteksi asap apabila terjadi kebakaran atau pun asap yang timbul dari asap rokok, asap pembakaran kertas, asap pembakaran sampah dan lain sebagainya. 3) Flame detector 200 P a g e

Suatu alat untuk mendeteksi lidah api seperti terjadinya kebakaran. 4) Titik panggil manual (TPM) TPM adalah suatu alat berupa tombol yang ditekan secara manual jika terjadi suatu kebakaran. 5) Lampu darurat Suatu alat berupa lampu yang akan menyala begitu alarm aktif dengan kata lain sebagai tanda darurat bila terjadi sesuatu. Biasanya pada lampu ini berwarna merah atau kuning. 6) Sistem komunikasi darurat Sistem ini akan mematikan sarana yang ada secara otomatis jika terjadi kebakaran. Contohnya lift tidak akan berfungsi jika sistem mendeteksi terjadi kebakaran. 7) Penunjuk arah jalan keluar Penunjuk arah ini dipasang di sepanjang jalur sirkulasi, koridor pintu darurat dan pintu keluar. 8) Sprinkler Alat untuk memadamkan api dengan cara menyemprotkan air atau bahan pemadam lainnya seperti gas tertentu. Radius yang adapt dijangkau adalah 25m2/unit. 9) Hidran kebakaran Radius pelayanan adalah 30m2/unit. 10) Pemadam ringan Alat pemadam yang digunakan dengan cara disemprotkan. Dalam alat ini 201 P a g e

berisi bahan kimia yang dapat memadamkan api bila terjadi kebakaran dan alat ini dapat dibawa berpindah-pindah tempat. 11) Tangga kebakaran Tangga ini berfungsi sebagai tempat melarikan diri bila terjadi kebakaran. 202 P a g e