BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

dokumen-dokumen yang mirip
2017, No Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 8

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

2016, No Indonesia Tahun 2002 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4168); 2. Peraturan Presiden Nomor 52 Tahun 2010 tent

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

2016, No Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3547) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2010 tenta

KABUPATEN KARIMUN PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN BUPATI KARIMUN NOMOR 22 TAHUN 2016 TENTANG MERITOKRASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN KARIMUN

Mengingat -2- : 1. Undang-Undang Kementerian Nomor Negara 39 Tahun (Lembaran 2008 Negara tentang Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lem

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR 41 TAHUN 2012

MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

2017, No Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Le

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

2016, No Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 te

2017, No Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 100 Tahun 2000 tentang Pengangka

2016, No mineral untuk mencapai persyaratan kompetensi teknis dan dapat dilaksanakan secara berjenjang; d. bahwa berdasarkan pertimbangan seba

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR TENTANG MANAJEMEN PENGELOLAAN DATA KEPEGAWAIAN KEMENTERIAN DALAM NEGERI

2016, No Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 15, Tambahan Lembaran Negara Republik Indones

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6,

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

2017, No Tahun 2017 tentang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil Dalam Jabatan Fungsional melalui Penyesuaian (inpassing), masing-masing Kementer

2017, No Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3419); 2. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Repub

2017, No II, Eselon III, Eselon IV, Jabatan Fungsional Auditor Utama, Auditor Madya, Auditor Muda, dan Jabatan Fungsional Widyaiswara sebagai

PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

2017, No di lingkungan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tenta

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN SERTIFIKASI JABATAN FUNGSIONAL ARSIPARIS

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6,

2017, No Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lemba

2 Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494); 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusya

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6,

2017, No masing-masing Kementerian/Lembaga mempunyai kewajiban untuk menyusun peraturan perundang-undangan yang mengatur pedoman penyusunan for

2017, No Meningat : 1. Undang- Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6,

PERATURAN NOMOR 13 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN PENGADAAN PEGAWAI NEGERI SIPIL BADAN NASIONAL PENCARIAN DAN PERTOLONGAN

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG

2017, No Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 127, Tam

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6,

BERITA NEGARA. No.745, 2016 BKPM. Tunjangan Kinerja. Jabatan. Kelas Jabatan. Pencabutan. PERATURAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan

PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN MONITORING DAN EVALUASI JABATAN FUNGSIONAL ARSIPARIS

2017, No , Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4616); 2. Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformas

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

2017, No Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494); 3. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan (Lemb

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA,

WALIKOTA BUKITTINGGI PROVINSI SUMATERA BARAT

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

2016, No tentang Nilai dan kelas Jabatan Struktural dan Jabatan fungsional pada Kementerian Agama; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 39 Tahun

2016, No Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Lem

2016, No Kelas Jabatan di Lingkungan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentan

2017, No tentang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam Jabatan Struktural (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 33, Tambahan L

2017, No Tahun 2002 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4169); 2. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian N

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

2016, No Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara di Kementerian Dalam Negeri; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Pen

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL DESA

2018, No ketentuan mengenai Identifikasi Kebutuhan Pendidikan dan Pelatihan Non-Gelar di Lingkungan Kementerian Keuangan; d. bahwa berdasarkan

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 58 TAHUN 2013 TENTANG BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

WALIKOTA BATU PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 40 TAHUN 2017 TENTANG

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG POLA KARIER PEGAWAI DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL

2017, No Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 100 Tahun 2000 tentang Pengangka

2017, No Nasional tentang Tata Cara Pengangkatan Pelaksana Tugas di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan

- 1 - MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahu

2017, No Indonesia Nomor 5494); 3 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpu

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTER! AGAMA REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 59 TAHUN 2016 TENTANG

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2015 TENTANG

WALIKOTA PONTIANAK PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN WALIKOTA PONTIANAK NOMOR 53 TAHUN 2015 TENTANG

2017, No KEP/58/M.PAN/6/2004 tentang Jabatan Fungsional Penggerak Swadaya Masyarakat dan Angka Kreditnya; c. bahwa berdasarkan pertimbangan seb

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 64 TAHUN 2017 TENTANG

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG PELAPORAN HARTA KEKAYAAN APARATUR SIPIL NEGARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN SOSIAL

2016, No Peraturan Presiden Nomor 23 Tahun 2010 tentang Badan Narkotika Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 60); 4.

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

2017, No Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 292, Tamb

- 1 - MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KOORDINASI PERGURUAN TINGGI SWASTA

2016, No (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614); 3. Peraturan Pemeri

PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2015 TENTANG

2017, No Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA,

2016, No Kemaritiman tentang Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara di lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman; Mengingat :

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

Transkripsi:

No.1531, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENDAGRI. Pusat Penilaian. PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2016 TENTANG PUSAT PENILAIAN KEMENTERIAN DALAM NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menjamin objektivitas, transparansi dan akuntabilitas dalam pengembangan karier dan pengembangan kompetensi pegawai Aparatur Sipil Negara perlu dilakukan penilaian kompetensi; b. bahwa untuk melakukan pengelolaan dan pengembangan penilaian kompetensi pegawai Aparatur Sipil Negara perlu dibentuk pusat penilaian di Kementerian Dalam Negeri; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pusat Penilaian Kementerian Dalam Negeri; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494; 2. Peraturan Pemerintah Nomor 100 Tahun 2000 tentang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil Dalam Jabatan Struktural (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

2016, No.1531-2- 2000 Nomor 197 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4018) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2002 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 100 Tahun 2000 tentang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam Jabatan Struktural (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4194); 3. Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025; MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PUSAT PENILAIAN KEMENTERIAN DALAM NEGERI. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Pusat Penilaian yang selanjutnya disebut Assessment Center adalah unit pelaksanaan Assessment di Kementerian Dalam Negeri. 2. Pegawai Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disebut Pegawai ASN adalah pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang diangkat oleh pejabat yang berwenang dan melaksanakan tugas secara penuh. 3. Pegawai Kementerian Dalam Negeri yang selanjutnya disebut Pegawai adalah Pegawai ASN yang bekerja di Kementerian Dalam Negeri. 4. Pegawai Lainnya adalah pegawai yang bekerja di luar Kementerian Dalam Negeri. 5. Kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh Pegawai dan Pegawai Lainnya berdasarkan kompetensi manajerial, kompetensi teknis dan kompetensi sosial kultural yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatan.

-3-2016, No.1531 6. Kompetensi Manajerial adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau perilaku yang dapat diamati, diukur, dikembangkan untuk memimpin dan/atau mengelola unit organisasi dan/atau tugas jabatan. 7. Kompetensi Teknis adalah pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku yang dapat diamati, diukur, dan dikembangkan yang spesifik berkaitan dengan bidang teknis jabatan. 8. Kompetensi Sosial Kultural adalah pengetahuan keterampilan, dan sikap/perilaku yang dapat diamati, diukur, dan dikembangkan terkait dengan pengalaman berinteraksi dengan masyarakat majemuk dalam hal agama, suku, dan budaya, perilaku, wawasan kebangsaan, etika, nilai-nilai, moral yang harus dipenuhi oleh setiap pemegang jabatan untuk memperoleh hasil kerja sesuai dengan peran, fungsi, dan jabatan. 9. Kamus Kompetensi Kementerian Dalam Negeri yang selanjutnya disebut Kamus Kompetensi adalah pedoman yang berisi informasi nama, kode unit, definisi, tingkatan, uraian, dan indikator perilaku Kompetensi jabatan di Kementerian Dalam Negeri sebagai rujukan dalam penyusunan standar Kompetensi jabatan. 10. Standar Kompetensi Jabatan yang selanjutnya disingkat SKJ adalah persyaratan Kompetensi minimal yang harus dimiliki setiap jabatan Pegawai atau Pegawai Lainnya dalam melaksanakan tugas jabatan. 11. Asesor adalah Pegawai dan/atau Pegawai Lainnya yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang untuk melakukan Assessment. 12. Asesor Kementerian Dalam Negeri adalah Pegawai yang bersertifikat Asesor dan diberikan kewenangan oleh Sekretaris Jenderal untuk melakukan Assessment. 13. Asesor Pendamping (Assessor Associate) adalah pakar Assessment dari luar Kementerian Dalam Negeri yang ditetapkan oleh Sekretaris Jenderal untuk bersama-sama Asesor Kementerian Dalam Negeri dalam pelaksanaan tahapan Assessment.

2016, No.1531-4- 14. Asesi adalah individu yang menjadi objek Assessment. 15. Assessment adalah penilaian Kompetensi yang dilakukan Asesor terhadap Asesi dengan menggunakan alat ukur dan metode yang telah ditetapkan. 16. Koordinator Tim Assessment yang selanjutnya disebut Koordinator adalah Asesor yang ditunjuk oleh kepala Assessment Center untuk mengkoordinasikan pelaksanaan Assessment dalam kurun waktu tertentu. 17. Narasumber adalah Pegawai ASN dan/atau pakar yang memiliki kriteria tertentu yang dibutuhkan dalam Assessment dan ditetapkan oleh kepala Assessment Center. 18. Umpan Balik (Feedback) adalah kegiatan penyampaian hasil Assessment dari Asesor kepada Asesi. 19. Satuan Kerja adalah unsur pelaksana tugas yang dipimpin oleh pegawai negeri sipil yang menduduki jabatan pimpinan tinggi madya. 20. Pimpinan Satuan Kerja adalah Sekretaris Jenderal, Inspektur Jenderal, para Direktur Jenderal dan para Kepala Badan. 21. Instansi Pengguna adalah instansi yang menggunakan jasa Assessment Center, tempat Pegawai Lainnya melaksanakan tugas. BAB II MAKSUD, TUJUAN DAN RUANG LINGKUP Pasal 2 Maksud ditetapkannya Peraturan Menteri ini adalah untuk digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan Assessment yang objektif, transparan dan akuntabel yang dilakukan pada Assessment Center. Pasal 3 Tujuan ditetapkannya Peraturan Menteri ini adalah untuk: a. pengambilan keputusan manajemen aparatur sipil negara secara efektif dan efisien di Kementerian Dalam Negeri; dan

-5-2016, No.1531 b. tersedianya informasi profil Kompetensi Pegawai sebagai bahan pengembangan karier dan pengembangan Kompetensi Pegawai. Pasal 4 Ruang lingkup pengelolaan Assessment Center terdiri dari: a. wewenang; b. Assessment Center; c. pelaksanaan Assessment; d. keluaran (output) Assessment; e. monitoring dan evaluasi; f. penjaminan kualitas dan pengembangan; dan g. pembiayaan. BAB III WEWENANG Pasal 5 (1) Menteri berwenang membentuk Assessment Center. (2) Untuk menjalankan fungsi Assessment Center sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri menetapkan Sekretaris Jenderal selaku penanggung jawab Assessment Center dengan dibantu oleh Kepala Biro Kepegawaian selaku kepala Assessment Center. (3) Assessment Center sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kedudukan, tugas dan fungsinya diintegrasikan pada Biro Kepegawaian Sekretariat Jenderal. BAB IV ASSESSMENT CENTER Bagian Kesatu Umum Pasal 6 (1) Dalam melaksanakan pengelolaan Assessment Center sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3), kepala

2016, No.1531-6- Assessment Center dibantu oleh: a. sekretaris Assessment Center; dan b. kelompok kerja Assessor. (2) Sekretaris Assessment Center sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah pejabat administrator pada Biro Kepegawaian yang menyelenggarakan fungsi pengelolaan Assessment Center. (3) Kepala Assessment Center membentuk kelompok kerja Asesor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b yang terdiri dari para Asesor Kementerian Dalam Negeri dan dapat dibantu oleh Asesor Pendamping (Assessor Associate). Bagian Kedua Tugas Pasal 7 Kepala Assessment Center sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) memiliki tugas: a. mengkoordinasikan pengelolaan Assessment Center; b. menyampaikan rekomendasi usulan rencana Assessment kepada Sekretaris Jenderal; c. mengusulkan pengangkatan dan/atau pemberhentian Asesor kepada Sekretaris Jenderal; d. menetapkan surat perintah tugas kepada Koordinator, Asesor dan Narasumber untuk melakukan Assessment ; e. menetapkan penggunaan metode dan alat ukur pelaksanaan Assessment; f. menetapkan validasi Kompetensi dalam hal belum adanya SKJ yang akan dilakukan Assessment; g. menyampaikan keluaran (output) Assessment kepada Sekretaris Jenderal; dan/atau h. menyampaikan laporan tahunan penyelenggaraan Assessment Center kepada Sekretaris Jenderal. Pasal 8 Sekretaris Assessment Center sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) memiliki tugas:

-7-2016, No.1531 a. membantu pengelolaan Assessment Center terkait dengan, anggaran, sarana dan prasarana, dan sumber daya manusia; b. memberikan dukungan pelaksanaan Assessment terkait dokumen pendukung, informasi, administrasi persuratan dan database; c. mengusulkan penugasan Koordinator, Asesor dan/atau Narasumber kepada kepala Assessment Center; d. menyusun jadwal kegiatan Assessment Center; dan/atau e. menyiapkan laporan tahunan Assessment Center. Pasal 9 Kelompok kerja Asesor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) terdiri dari para Asesor yang dalam melaksanakan tugas Assessment sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Pasal 10 (1) Dalam setiap kegiatan pelaksanaan Assessment, dibentuk tim pelaksana. (2) Tim pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. Koordinator; dan b. Asesor Kementerian Dalam Negeri. (3) Tim pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh kepala Assessment Center yang berlaku untuk 1 (satu) kali masa tugas Assessment. (4) Koordinator sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a menyampaikan laporan pelaksanaan tugas, tanggung jawab dan penyampaian keluaran (output) Assessment kepada kepala Assessment Center melalui sekretaris Assessment Center. (5) Tim pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dalam melaksanakan Assessment dapat melibatkan Asesor Pendamping (Assessor Associate) dan/atau Narasumber berdasarkan perintah tugas kepala Assessment Center.

2016, No.1531-8- Pasal 11 (1) Dalam hal terdapat permintaan dari Pegawai Lainnya, Asesor Kementerian Dalam Negeri dapat melaksanakan tugas Assessment di luar Assessment Center. (2) Pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan perintah tugas kepala Assessment Center. BAB V PELAKSANAAN ASSESSMENT Bagian Kesatu Umum Pasal 12 (1) Pelaksanaan Assessment terdiri dari: a. Assessment secara berkala; dan b. Assessment berdasarkan kebutuhan atau permintaan. (2) Pegawai mengikuti Assessment secara berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a yang dilaksanakan 2 (dua) tahun sekali. (3) Pegawai atau Pegawai Lainnya mengikuti Assessment sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b yang dilaksanakan berdasarkan kebutuhan organisasi Kementerian Dalam Negeri atau permintaan Instansi Pengguna. Pasal 13 (1) Pegawai dalam mengikuti pelaksanaan Assessment sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) huruf a dan huruf b dilaksanakan berdasarkan pemberitahuan dari Kepala Biro Kepegawaian kepada Pimpinan Satuan Kerja atau Kepala Biro/Kepala Pusat di lingkungan Sekretariat Jenderal. (2) Pegawai Lainnya dalam mengikuti pelaksanaan Assessment sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) huruf b dilaksanakan dengan persetujuan Sekretaris Jenderal berdasarkan permintaan dari Instansi Pengguna.

-9-2016, No.1531 Bagian Kedua Alat Ukur dan Metode Pasal 14 (1) Pelaksanaan Assessment sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) dilakukan dengan menggunakan kelengkapan berupa: a. alat ukur Assessment; dan b. metode Assessment. (2) Penggunaan kelengkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh kepala Assesment Center sesuai dengan kebutuhan organisasi Kementerian Dalam Negeri atau permintaan Instansi Pengguna. Pasal 15 (1) Alat ukur Assessment sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf a meliputi: a. psikotes; b. wawancara berbasis Kompetensi; c. simulasi; dan/atau d. alat ukur lain yang dibutuhkan dalam Assessment. (2) Psikotes sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah penilaian dengan menggunakan alat ukur psikologi yang terstandarisasi untuk melihat potensi kecerdasan dan kepribadian Asesi. (3) Wawancara berbasis Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah Assessment menggunakan wawancara terstruktur berdasarkan Kompetensi yang akan dinilai. (4) Simulasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri dari: a. presentasi yaitu simulasi penyampaian informasi dan/atau penyelesaian permasalahan oleh Asesi di hadapan Asesor dan/atau Narasumber secara lisan serta sistematis; b. analisis kasus yaitu simulasi yang menugaskan Asesi menyelesaikan kasus yang diberikan;

2016, No.1531-10- c. diskusi mandiri (leaderless group discussion) yaitu simulasi yang dilakukan dengan menggunakan satu atau beberapa persoalan yang harus diselesaikan secara bersama oleh para Asesi; d. in basket/in tray yaitu simulasi situasi nyata yang dihadapi Asesi dalam menjalankan tugas sehari-hari, Asesi diberikan tugas untuk merespon persoalan/masalah pada berkas yang diberikan; e. bermain peran (role play) yaitu simulasi yang menugaskan Asesi untuk berperan sesuai dengan perintah; dan/atau f. simulasi lainnya sesuai dengan kebutuhan Assessment. Pasal 16 (1) Metode Assessment sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf b meliputi: a. metode Assessment sederhana; b. metode Assessment sedang; dan c. metode Assessment kompleks. (2) Metode Assessment sederhana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah proses Assessment dengan menggunakan alat ukur psikotes, wawancara berbasis Kompetensi, kuisioner Kompetensi dan paling sedikit 1 (satu) simulasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (4). (3) Metode Assessment sedang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah proses Assessment dengan menggunakan alat ukur psikotes, wawancara berbasis Kompetensi, kuisioner Kompetensi dan paling sedikit 2 (dua) simulasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (4). (4) Metode Assessment kompleks sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c adalah proses Assessment dengan menggunakan alat ukur psikotes, wawancara berbasis Kompetensi, kuisioner Kompetensi dan paling sedikit 3 (tiga) simulasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (4).

-11-2016, No.1531 Pasal 17 (1) Metode Assessment sederhana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2) digunakan untuk melakukan Assessment terhadap jabatan pelaksana, jabatan fungsional keahlian ahli pertama, jabatan fungsional keterampilan pemula, jabatan fungsional keterampilan mahir, jabatan fungsional keterampilan terampil dan/atau jabatan fungsional keterampilan penyelia. (2) Metode Assessment sedang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (3) digunakan untuk melakukan Assessment terhadap jabatan pengawas, jabatan administrator, jabatan fungsional keahlian muda dan/atau jabatan fungsional keahlian madya. (3) Metode Assessment kompleks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (4) digunakan untuk melakukan Assessment terhadap jabatan pimpinan tinggi dan/atau jabatan fungsional ahli utama. Bagian Ketiga Pedoman Pasal 18 (1) Dalam penyelenggaraan Assessment, kepala Assessment Center menyusun pedoman yang meliputi: a. kamus kompetensi; dan b. SKJ. (2) Dalam hal belum adanya SKJ sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, kepala Assessment Center menetapkan validasi Kompetensi terhadap Kompetensi yang akan dilakukan Assesment. Pasal 19 Kamus Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) huruf a paling sedikit memuat: a. informasi nama Kompetensi yang meliputi Kompetensi Manajerial, Kompetensi Teknis dan Kompetensi Sosial Kultural;

2016, No.1531-12- b. kode unit Kompetensi; c. definisi atau gambaran umum Kompetensi; d. tingkat (level) Kompetensi; e. deskripsi per-tingkat (level) Kompetensi; dan f. indikator perilaku. Pasal 20 (1) Kompetensi dinilai berpedoman pada SKJ sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) huruf b atau validasi Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2). (2) SKJ atau validasi Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat: a. identitas jabatan. b. identifikasi Kompetensi jabatan yang meliputi Kompetensi Manajerial, Kompetensi Teknis dan/atau Kompetensi Sosial Kultural c. unit Kompetensi; dan d. tingkat (level) Kompetensi. (3) SKJ dan/atau validasi Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dengan berpedoman pada Kamus Kompetensi. Pasal 21 (1) Kamus Kompetensi dan SKJ Kementerian Dalam Negeri ditetapkan oleh Sekretaris Jenderal atas nama Menteri Dalam Negeri. (2) Kamus Kompetensi dan SKJ Kementerian Dalam Negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diubah sesuai dengan perkembangan organisasi Kementerian Dalam Negeri.

-13-2016, No.1531 Bagian Keempat Tahapan Pelaksanaan Pasal 22 (1) Assessment terdiri dari beberapa tahapan pelaksanaan: a. tahap pra pelaksanaan; b. tahap pelaksanaan; dan c. tahap pasca pelaksanaan. (2) Tahap pra pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri dari kegiatan yang meliputi: a. penetapan tim Asesor dan/atau Narasumber; b. validasi Kompetensi dalam hal belum adanya SKJ pada jabatan yang akan dilakukan Assessment; c. penyusunan alat ukur Assessment; dan d. penyusunan jadwal pelaksanaan Assessment. (3) Tahap pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari kegiatan yang meliputi: a. pengambilan data Assessment dengan menggunakan alat ukur Assessment dan metode Assessment; b. integrasi dan validasi hasil Assessment; dan c. penyusunan profil Kompetensi individu. (4) Tahap pasca pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri dari kegiatan yang meliputi: a. pemberian Umpan Balik (Feedback); b. penyusunan dan pelaporan keluaran (output) Assessment kepada kepala Assessment Center melalui sekretaris Assessment Center; dan c. pemantauan dan evaluasi tindak lanjut rekomendasi Assessment. Pasal 23 Tahapan pelaksanaan Assessment sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) dapat melibatkan: a. Asesor Pendamping (Assessor Associate); dan/atau b. Narasumber.

2016, No.1531-14- Pasal 24 Tahapan pelaksanaan Assessment dapat melibatkan Asesor Pendamping (Assessor Associate) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf a, pada kegiatan: a. penyusunan alat ukur Assessment; b. penyusunan validasi Kompetensi; c. pengambilan data Assessment dengan menggunakan alat ukur Assessment dan metode Assessment; d. integrasi dan validasi hasil Assessment; e. penyusunan profil Kompetensi individu; f. pemberian Umpan Balik (Feedback); dan/atau g. penyusunan dan pelaporan hasil Assessment. Pasal 25 (1) Tahapan pelaksanaan Assessment dapat melibatkan Narasumber sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf b, pada kegiatan: a. penyusunan alat ukur Assessment; b. wawancara berbasis Kompetensi; dan/atau c. simulasi. (2) Tugas Narasumber dalam kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, memberikan saran sesuai bidang tugas yang dikuasainya. (3) Tugas Narasumber dalam kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c adalah: a. menyiapkan dan memberikan pertanyaan untuk menggali Kompetensi Asesi; dan/atau b. memberikan catatan dan penilaian terhadap Asesi berdasarkan simulasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (4).

-15-2016, No.1531 BAB VI KELUARAN (OUTPUT) ASSESSMENT Bagian Kesatu Umum Pasal 26 (1) Pelaksanaan Assessment menghasilkan keluaran (output) berupa: a. Laporan Assessment ; dan b. Hasil Assessment. (2) Keluaran (output) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Koordinator kepada kepala Assessment Center melalui sekretaris Assessment Center. (3) Laporan Assessment sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri dari rangkaian laporan setiap tahap pelaksanaan Assessment sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf a sampai dengan huruf c, ditandatangani oleh kepala Assessment Center. (4) Hasil Assessment sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari dokumen: a. ringkasan profil Kompetensi individu; dan b. profil Kompetensi individu. (5) Ringkasan profil Kompetensi individu sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a berisi informasi mengenai kelebihan, kekurangan, dan rekomendasi terhadap Asesi berdasarkan hasil Assessment, ditandatangani oleh Asesor dan diketahui oleh kepala Assessment Center. (6) Profil Kompetensi individu sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b berisi informasi mengenai perbandingan antara Kompetensi Asesi dengan SKJ dan rekomendasi terhadap Asesi, ditandatangani oleh Asesor. Pasal 27 Ringkasan profil Kompetensi individu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (5) dan profil Kompetensi individu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (6) disusun dalam

2016, No.1531-16- 1 (satu) dokumen dan ditandatangani kepala Assessment Center. Pasal 28 Hasil Assessment sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) huruf b dituangkan dengan kategori: a. di atas standar; b. memenuhi standar; dan c. belum memenuhi standar. Bagian Kedua Penyampaian Pasal 29 Kepala Assessment Center menyampaikan keluaran (output) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) kepada Sekretaris Jenderal. Pasal 30 (1) Dalam hal pelaksanaan Assessment diikuti oleh Pegawai, Sekretaris Jenderal menyampaikan ringkasan profil Kompetensi individu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (5) kepada Pimpinan Satuan Kerja. (2) Dalam hal pelaksanaan Assessment diikuti oleh Pegawai Lainnya, Sekretaris Jenderal menyampaikan keluaran (output) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) kepada pimpinan Instansi Pengguna. Bagian Ketiga Pemanfaatan Pasal 31 (1) Rekomendasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (5) dan ayat (6) digunakan sebagai dasar: a. pengembangan karier; dan/atau b. pengembangan Kompetensi.

-17-2016, No.1531 (2) Rekomendasi pengembangan karier sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a digunakan oleh Sekretaris Jenderal sebagai dasar: a. penempatan, promosi dan/atau mutasi Pegawai; b. penyusunan dokumen manajemen talenta; dan/atau c. kebutuhan lainnya sesuai dengan rekomendasi kepala Assessment Center. (3) Rekomendasi pengembangan Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b disampaikan oleh Sekretaris Jenderal kepada Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia untuk digunakan sebagai dasar: a. penyusunan dokumen perencanaan pengembangan Pegawai; b. penyusunan kalender dan modul pendidikan dan pelatihan; dan c. kebutuhan lainnya sesuai dengan rekomendasi kepala Assessment Center. Pasal 32 Pemanfaatan keluaran (output) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) menjadi tanggung jawab sepenuhnya pimpinan Instansi Pengguna. Bagian Keempat Masa Berlaku dan Kerahasiaan Pasal 33 Masa berlaku hasil Assessment sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) huruf b paling lama 2 (dua) tahun terhitung sejak tanggal ditandatangani. Pasal 34 (1) Hasil Assessment sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) huruf b bersifat rahasia dan hanya berhak diketahui oleh pihak terkait. (2) Pihak terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. Menteri;

2016, No.1531-18- b. Sekretaris Jenderal; c. kepala Assessment Center; d. sekretaris Assessment Center; e. Asesor; f. pejabat yang membidangi Assessment pada Biro Kepegawaian; dan g. Pimpinan Satuan Kerja dari Asesi yang dinilai; h. Asesi. (3) Asesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf h dapat mengetahui hasil Assessment melalui proses Umpan Balik (feedback). BAB VII MONITORING DAN EVALUASI Pasal 35 (1) Kepala Biro Kepegawaian selaku kepala Assessment Center melakukan monitoring dan evaluasi terhadap penyelenggaraan Assessment Center. (2) Monitoring dan evaluasi yang dilakukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. pemanfaatan hasil Assessment; dan b. tindak lanjut rekomendasi hasil Assessment. (3) Monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan paling kurang 1 (satu) kali untuk setiap pelaksanaan Assessment. (4) Laporan hasil monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderal. BAB VIII PENJAMINAN KUALITAS DAN PENGEMBANGAN Pasal 36 (1) Untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan Assessment Center, Kepala Biro Kepegawaian melakukan penjaminan kualitas dan pengembangan pada aspek: a. sumber daya manusia; b. metode dan alat ukur;

-19-2016, No.1531 c. tata laksana; dan d. sarana dan prasarana. (2) Penjaminan kualitas dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dengan melibatkan tenaga ahli dengan persetujuan Sekretaris Jenderal. BAB IX PEMBIAYAAN Pasal 37 (1) Pembiayaan pengelolaan Assessment Center dibebankan pada anggaran pendapatan belanja negara dan sumber pendapatan lain yang sah dan tidak mengikat. (2) Pembiayaan Assessment untuk Pegawai Lainnya dibebankan kepada Instansi Pengguna sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. BAB X PENUTUP Pasal 38 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

2016, No.1531-20- Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 4 Oktober 2016 MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA, ttd. TJAHJO KUMOLO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 17 Oktober 2016 DIREKTUR JENDERAL PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA, ttd. WIDODO EKATJAHJANA