BAB II KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. Stewardship Theory Teori Stewardship diperkenalkan sebagai teori yang berdasarkan

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

Halal Guide.INFO - Guide to Halal and Islamic Lifestyle

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II DASAR TEORI. mengandalkan pada bunga. Bank Syariah adalah lembaga keuangan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penelitian yang dilakukan Wardi dan Putri (2011) tentang Analisis

4. Firman Allah SWT QS. al-baqarah (2):278 45)& %*('! Hai orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang yang b

Halal Guide.INFO - Guide to Halal and Islamic Lifestyle

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4. Firman Allah SWT QS. al-baqarah (2): dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba Firman Allah SWT QS. al-baqarah (2):27

BAB I PENDAHULUAN. manufaktur dan jasa. Sedangkan sektor moneter ditumpukan pada sektor

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN. pada Al Qur an dan Hadist Nabi SAW. Dengan kata lain, Bank syari ah adalah

BAB 1 PENDAHULUAN. keuangan atau biasa disebut financial intermediary. Sebagai lembaga keuangan,

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi yang menjalankan kegiatan perekonomian. Salah satu faktor penting

Halal Guide.INFO - Guide to Halal and Islamic Lifestyle

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang dalam kegiatannya mengeluarkan produk-produk syari ah dan

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Bank memiliki peran sebagai lembaga perantara antara unit-unit yang memiliki

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pembiayaan dalam perbankan syariah menurul Al-Harran (dalam Ascarya,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan perbankan syariah berawal pada tahun 1950an.

4. Firman Allah SWT tentang perintah untuk saling tolong menolong dalam perbuatan positif, antara lain QS. al- Ma idah [5]: 2:./0*+(,-./ #%/.12,- 34 D

BAB II LANDASAN TEORI. bahwa LKS menggunakan biaya secara efisien dan menghasilkan profit yang tinggi

karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya. 3. Firman Allah SWT

Prinsip Sistem Keuangan Syariah

$!%#&#$ /0.#'()'*+, *4% :;< 63*?%: #E Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya

MURA>BAH}AH DAN FATWA DSN-MUI

BAB I PENDAHULUAN. Islam adalah agama yang universal dan komprehensif. Universal berarti

BAB I PENDAHULUAN. prinsip keadilan dan keterbukaan, yaitu Perbankan Syariah. operasional bisnisnya dengan sistem bagi hasil.

FATWA DEWAN SYARI AH NASIONAL

Konversi Akad Murabahah

MAKALAH AKUNTANSI SYARIAH (AKAD SALAM) OLEH : Dian Magfirawati A Dwi Kartini Wardaningsi A

BAB I PENDAHULUAN. dari dunia perbankan. Jika dihubungkan dengan pendanaan, hampir semua

RIBA DAN BUNGA BANK Oleh _Leyla Fajri Hal. 1

(dari mengambil riba), maka bagiannya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang me

BAB I PENDAHULUAN. dengan metode pendekatan syariah Islam yang dapat menjadi alternatif bagi masyarakat,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penelitian ini merupakan hasil pengembangan dari peneliti-peneliti terdahulu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. pihak lain untuk pembiayaan dengan prinsip bagi hasil (mudharabah),

PERBANKAN SYARIAH. Oleh: Budi Asmita SE Ak, MSi. Bengkulu, 13 Februari 2008

BAB II KAJIAN TEORITIS TENTANG MUDHARABAH, BAGI HASIL, DAN DEPOSITO BERJANGKA

dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus be

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam linguistik, analisa atau analisis adalah kajian yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. BPRS atau yang dulu dikenal sebagai Bank Perkreditan Rakyat

Majalah Ilmiah UPI YPTK, Volume 18, No 2,Oktober 2011 ISSN :

BAB II LANDASAN TEORITIS. (2000:59.1) mengemukakan pengertian Bank Syariah sebagai berikut :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. operasional dan produknya dikembangkan berlandaskan pada Al-Qur an

BAB I PENDAHULUAN. informasi ekonomi untuk membuat pertimbangan dan mengambil. Standart Akuntansi Keuangan (PSAK) sudah diatur peraturan tentang

BAB I PENDAHULUAN. dari masyarakat; kedua, penyaluran dana (financing) merupakan kegiatan

BAB II LANDASAN TEORI

Porsi. Nasabah. Porsi. Bank. SUMBER DANA: Giro Wadiah Tab Wadiah Tab. Mudharabah Dep. Mudharabah Equity. Profit Distribution.

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana. tersebut ke masyarakat serta memberikan jasa bank lainnya (Kasmir,

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan dari waktu ke waktu. Diawali dengan berdirinya bank syariah di

BAB I PENDAHULUAN. dalam sumber hukum Islam yaitu Al-Qur an dan As-Sunah. Sumber. hukum Islam ini adalah dasar sebagai pedoman untuk melakukan

BAB I PENDAHULUAN. perbankan nasional. Bank Islam telah berkembang pesat pada dekade terakhir

ب س م االله الر ح من الر ح ي م

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Undang-Undang no 10 tahun 1998 tentang Perubahan Atas

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Halal Guide.INFO - Guide to Halal and Islamic Lifestyle

BAB I PENDAHULUAN. Hal ini terlihat dari tindakan bank bank konvensional untuk membuka

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat.

BAB I PENDAHULUAN. pemilik dana. Perbankan di Indonesia mempunyai dua sistem antara lain sistem

dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus be

BAB II LANDASAN TEORI. yang disepakati. Dalam Murabahah, penjual harus memberi tahu harga pokok

BAB I PENDAHULUAN. kontroversi praktik bunga bank yang dilakukan pada bank bank konvensional

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Indonesia merupakan negara dengan basis penduduk muslim terbesar di

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

RESCHEDULING DAN KOLEKTABILITAS

BAB 1 PENDAHULUAN. Semakin berkembangnya perekonomian suatu negara, semakin meningkat pula

Halal Guide.INFO - Guide to Halal and Islamic Lifestyle

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bunga merupakan harga yang harus dibayar/diterima untuk

BAB I PENDAHULUAN. merupakan suatu agama yang mengajarkan prinsip at ta awun yakni saling

Pengertian. Dasar Hukum. QS. Al-Baqarah [2] : 275 Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba

PENGARUH NON PERFORMING FINANCE

BAB I PENDAHULUAN. nasional Indonesia menganut dual banking system yaitu, sistem perbankan. konvensional menggunakan bunga (interest) sebagai landasan

TINJAUAN PUSTAKA. memberikan jasa bank lainnya. (Kasmir, 2007)

uang perakmu ini. Dan hendaklah ia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan yang lebih baik bagimu, dan hendaklah ia b

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penelitian sebelumnya. Berikut ini uraian beberapa penelitian terdahulu beserta

BAB I PENDAHULUAN. Beberapa tahun belakangan ini, terjadi pertumbuhan bank-bank yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perekonomian pasti ada hubungannya dengan dunia keuangan dan

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan kelembagaan perbankan syariah di Indonesia mengalami

BAB I PENDAHULUAN. tersebut diatur dengan rinci landasan hukum serta jenis jenis usaha yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. prinsip syariah sebagai dasar hukumnya berupa fatwa yang dikeluarkan oleh

BAB 1 PENDAHULUAN. hidupnya. Untuk melakukan kegiatan bisnis tersebut para pelaku usaha

BAB I PENDAHULUAN. Perbankan Syari ah atau Bank Islam yang secara umum pengertian Bank Islam

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. yang sehat dan stabil. Sistem keuangan negara Indonesia sendiri terdiri dari tiga

ANALISIS PERBANDINGAN BAGI HASIL DEPOSITO MUDHARABAH PADA BANK SYARIAH MANDIRI DENGAN BUNGA DEPOSITO PADA BANK KONVENSIONAL

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II LANDASAN TEORI

c. QS. al-ma idah [5]: 6: 78.9&:;8&<,-.,, &DEF2 4A0.0BC 78#1 #F7"; 1, 4&G5)42 # % J5#,#;52 #HI Hai orang yang beriman, janganlah ke

BAB V PENGAWASAN KEGIATAN LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH 1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul

Transkripsi:

5 BAB II KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS A. Kajian Pustaka Stewardship Theory Teori Stewardship diperkenalkan sebagai teori yang berdasarkan tingkah laku, perilaku manusia (behavior), pola manusia (model of man), mekanisme psikologis (motivasi, identifikasi dan kekuasaan) dalam sebuah organisasi yang mempraktikkan kepemimpinan sebagai aspek yang memainkan peranan penting bagi sebuah pencapaian tujuan. Teori ini berakar dari ilmu psikologi dan sosiologi yang mengarah pada sikap melayani (Steward). Menurut Donaldson dan Davis, 1989 dan 1991: Teori Stewardship adalah teori yang menggambarkan situasi dimana para manajer tidaklah termotivasi oleh tujuan-tujuan individu tetapi lebih ditujukan pada sasaran hasil utama mereka untuk kepentingan organisasi, sehingga teori ini mempunyai dasar psikologi dan sosiologi yang telah dirancang dimana para eksekutif sebagai steward termotivasi untuk bertindak sesuai keinginan principal, selain itu perilaku steward tidak akan meninggalkan organisasinya sebab steward berusaha mencapai sasaran organisasinya. Teori ini didesain bagi para peneliti untuk menguji situasi dimana para eksekutif dalam perusahaan sebagai pelayan dapat termotivasi untuk bertindak dengan cara terbaik pada principalnya. Stewardship (suatu sikap melayani), merupakan suatu pandangan baru tentang mengelola dan menjalankan organisasi, suatu pergeseran pendekatan pada konsep kepemimpinan dan manajemen yang ada sekarang dari konsep

6 mengendalikan (control) dan mengarahkan, kearah konsep peraturan, kemitraan, dan kepemilikan secara bersama oleh anggota/ tim dalam organisasi, yang merasa organisasi menjadi suatu miliknya ataupun satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari diri sendiri. (Ikhsan Suprasto 2008, dalam Uswatun Hasanah, 2015) Dalam Teori Stewardship, manajer akan melakukan upaya demi mendapatkan kepercayaan publik. Hal ini didasari pada prinsip bahwa manajer memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengelola sumber daya yang ada dengan cara yang bijak untuk kepentingan masyarakat luas. Para manajer tidak akan bertindak untuk kepentingannya sendiri, dan mereka (para manajer) percaya apabila mereka telah bertindak untuk kepentingan yang lebih luas, maka secara pribadi kebutuhan mereka pun telah terpenuhi. (Helena dan Therese 2005, dalam Prastanto 2013) Implikasi teori Stewardship dalam penelitian ini adalah didasarkan hubungan kepercayaan antara bank dalam menyalurkan pembiayaan berbasis jual beli, bagi hasil dan sewa terhadap para nasabah. Sehingga pihak bank dapat memberikan pelayanan yang optimal terhadap nasabah. Teori Syariah Enterprise (Syariah Enterprise Theory) Teori Syariah Enterprise memiliki pandangan dalam distribusi kekayaan (wealth) atau nilai tambah (value added) tidak hanya berlaku pada partisipan yang terkait langsung atau patisipan yang memberikan kontribusi kepada operasi perusahaan (pemegang saham, kreditur, karyawan,

7 pemerintah), tetapi juga terhadap pihak lain yang tidak terkait secara langsung terhadap operasi perusahaan. Oleh karena itu, syariah enterprise theory akan membawa kemaslahatan bagi stockholder, stakeholder, masyarakat dan lingkungan alam tanpa meninggalkan kewajiban penting menunaikan zakat sebagai manifestasi ibadah kepada Allah SWT. (Slamet 2011, dalam Uswatun Hasanah, 2015) Implikasi teori Syariah Enterprise pada penelitian ini adalah bank umum syariah harus berlandaskan syariah enterprise theory dalam melaksanakan tugasnya, karena bank umum syariah tidak hanya bertanggung jawab kepada pemilik melainkan kepada stakeholder dan Allah SWT. Penerapan prinsip syariah enterprise theory pada bank umum syariah akan membuat kinerja bank lebih sehat, dikarenakan manajemen akan mematuhi prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. Semakin tinggi tingkat kepatuhan syariah maka akan semakin baik bank tersebut. Bank umum syariah juga akan lebih berhati-hati dalam melaksanakan tugasnya sehingga dapat meminimalisir tindak kecurangan yang mungkin dilakukan. Penerapan prinsip syariah enterprise theory pada bank umum syariah mengharuskan bank umum syariah memberikan informasi yang akurat dan transparan, sehingga pemilik modal yakin akan kebenaran informasi laporan keuangan yang diterbitkan oleh pihak bank umum syariah.

8 1. Pengertian Bank Syari ah Dalam istilah Internasional, perbankan syariah dikenal dengan sebutan Islamic Banking atau disebut juga interest-free banking. Istilah kata Islamic tidak terlepas dari asal-usul sistem perbankan syariah itu sendiri, sehingga Bank Islam selanjutnya disebut dengan Bank Syariah. Bank syariah adalah bank yang beroperasi dengan tidak berlandaskan pada sistem bunga. Bank syariah adalah lembaga keuangan atau perbankan operasional dan produknya dikembangkan berdasarkan pada Al Qur an dan Hadist Nabi SAW. Dengan kata lain, bank syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokonya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip syariat Islam (Muhammad 2005, dalam Ferial Nurbaya, 2013). (Muhammad Syafi i Antonio dan Karnaen Purwaatmadja, 2015:32) Apa dan Bagaimana Bank Islam menyatakan: Bank Islam adalah bank yang beroperasi dengan prinsip syariah Islam dan dengan tata cara operasi yang bersumber dari Al-Qur an dan Al- Hadits. Sedangkan, bank yang beroperasi sesuai prinsip syariah Islam adalah bank yang dalam pengoperasiannya mengikuti ketentuan syariah Islam, khususnya menyangkut cara bermuamalat dalam Islam. Dalam bermuamalat harus dijauhi praktek-praktek yang mengandung unsur riba yang selanjutnya digantikan dengan aktivitas investasi atas dasar bagi hasil dan pembiayaan perdagangan. Dalam rangka menghindari pengoperasian bank dengan sistem bunga, Islam telah memperkenalkan prinsip-prinsip muamalah Islam. Dengan hal tersebut, bank syariah lahir sebagai pilihan solusi terhadap pertentangan antara bunga dengan riba. Bank syariah didirikan dengan tujuan untuk mempromosikan dan mengembangkan penerapan prinsip-prinsip Islam dan

9 tradisinya ke dalam transaksi keuangan dan perbankan serta bisnis yang terkait. 2. Perbedaan Sistem Bank Syariah dengan Bank Konvensional Dalam beberapa hal, bank konvensional dan bank syariah memiliki persamaan, terutama dalam sisi teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi computer yang digunakan, syarat-syarat umum memperoleh pembiayaan, laporan keuangan dan sebagainya. Namun ada beberapa perbedaan antara bank konvensional dan bank syariah. Perbedaan mendasar antara sistem bank syariah dan bank konvensional terletak pada pengembalian dan pembagian keuntungan yang diberikan dari nasabah ke bank maupun sebaliknya dari bank kepada nasabah. Dari hal inilah timbul istilah bunga maupun bagi hasil. Berikut perbedaan antara sistem perbankan syariah dan sistem perbankan konvensional: Tabel 2. 1 Perbedaan Sistem Perbankan Syariah dan Perbankan Konvensional Perbedaan Sistem Syariah Sistem Konvensional Dalam hal investasi Melakukan investasi pada usaha atau produk halal saja Tidak membedakan antara yang halal dan yang haram

10 Prinsip yang Berdasarkan pada prinsip bagi Dengan prinsip dan digunakan hasil, jual beli atau sewa perangkat bunga Orientasi Profit dan falah (sejahtera Hanya bersama) oriented profit Oriented Hubungan antara Nasabah dan Bank Dewan Pengawas Bank dan Nasabah berbentuk hubungan kemitraan Penghimpunan dan penyaluran dana harus sesuai Hubungan hanya sebatas kreditur-debitur Aktivitas tanpa ketentuan syariah karena tidak dengan fatwa Dewan Syariah Nasional Majlis Ulama memiliki Pengawas Sejenis Dewan Indonesia (DSN-MUI) melalui Dewan Pengawas Syariah Sumber: Bank Syariah dari Teori ke Praktik Karakteristik utama bank syariah adalah ketiadaan bunga sebagai representasi dari riba yang diharamkan. Karakteristik inilah yang menjadikan perbankan syariah lebih unggul pada beberapa hal termasuk pada sistem operasional yang dijalankan. Berikut dijelaskan perbedaan antara bunga dan bagi hasil:

11 Tabel 2.2 Perbedaan antara Bunga dan Bagi Hasil No. Bunga Bagi Hasil 1. Penentuan bunga dibuat pada waktu akad dengan asumsi harus selalu untung Penentuan besarnya rasio atau nisbah bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi 2. Besarnya presentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan 3. Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh Bagi hasil bergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan. Bila usaha merugi, kerugian akan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak untung atau rugi 4. Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan booming 5. Eksistensi bunga diragukan oleh semua agama Tidak ada yang meragukan keabsahan bagi hasil Sumber: Bank Syariah dari Teori ke Praktik; Muhammad Syafi i Antonio

12 3. Sistem Operasional Bank Syariah Pada sistem operasi bank syariah, pemilik dana menanamkan uangnya di bank tidak dengan motif mendapatkan bunga, tapi dalam rangka mendapatkan keuntungan bagi hasil. Dana nasabah tersebut kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan (misalnya modal usaha), dengan perjanjian pembagian keuntungan sesuai kesepakatan. Sistem operasional tersebut meliputi: a. Sistem Penghimpunan Dana Metode penghimpunan dana yang ada pada bank-bank konvensional didasari teori yang diungkapkan Keynes yang mengemukakan bahwa orang membutuhkan uang untuk tiga kegunaan, yaitu fungsi transaksi, cadangan dan investasi. Teori tersebut menyebabkan produk penghimpunan dana disesuaikan dengan tiga fungsi tersebut, yaitu berupa giro,tabungan dan deposito. b. Sistem Pembiayaan (Financing) Pembiayaan merupakan salah satu tugas pokok bank, yaitu pemberian fasilitas penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan defisit unit. 4. Pembiayaan Bank Syariah Jenis pembiayaan pada bank syariah adalah sebagai berikut: a. Pembiayaan dengan prinsip bagi hasil 1) Pembiayaan Mudharabah

13 Pembiayaan mudharabah adalah perjanjian antara penanam dana dan pengelola dana untuk melakukan kegiatan usaha tertentu, dengan pembagian keuntungan antara kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya. Dalam fikih mu amalah Mudharabah dinamakan juga dengan Qiradh, yaitu bentuk kerja sama antara pemilik modal (shohibul mal/rabbul maal) dengan pengelola (mudharib) untuk melakukan usaha dimana keuntungan dari usaha tersebut dibagi diantara kedua pihak tersebut, dengan rukun dan syarat tertentu. PSAK 105 mendefinisikan mudharabah sebagai akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (pemilik dana/ shahibul maal) menyediakan seluruh dana, sedangkan pihak kedua (pengelola dana/ mudharib) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan sedangkan kerugian finansial hanya ditanggung oleh pemilik dana. Kerugian akan ditanggung oleh pemilik dana sepanjang kerugian itu tidak diakibatkan oleh kelalaian pengelola dana, apabila kerugian yang terjadi diakibatkan oleh kelalaian pengelola dana maka kerugian ini akan ditanggung oleh pengelola dana. PSAK 105 paragraf 18 memberikan contoh bentuk kelalaian pengelola dana, yaitu: persyaratan yang ditentukan di dalam akad tidak dipenuhi, tidak terdapat kondisi di luar kemampuan (force majeur) yang lazim dan/ atau yang telah ditentukan dalam akad, atau merupakan hasil keputusan dari institusi yang berwenang.

14 2) Pembiayaan Musyarakah Pembiayaan musyarakah adalah perjanjian diantara para pemilik dana/ modal untuk mencampurkan dana/modal mereka pada suatu usaha tertentu, dengan pembagian keuntungan diantara pemilik dana/modal berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya. Musyarakah berasal dari kata syirkah yang secara Bahasa berarti al-ikhtilath (penggabungan atau pencampuran). Menurut ulama Hanafiah, syirkah secara istilah adalah penggabungan harta (dan/atau keterampilan) untuk dijadikan modal usaha dan hasilnya yang berupa keuntungan atau kerugian dibagi bersama (Hasanudin dan Mubarak, 2012). PSAK 106 mendefinisikan musyarakah sebagai akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, dimana masingmasing pihak memberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan sedangkan kerugian berdasarkan porsi kontribusi dana. Para mitra bersama-sama menyediakan dana untuk mendanai sebuah usaha tertentu dalam masyarakat, baik usaha yang sudah berjalan maupun yang baru, selanjutnya salah satu mitra dapat mengembalikan dana tersebut dan bagi hasil yang telah disepakati nisbahnya secara bertahap atau sekaligus kepada mitra lain. Investasi musyarakah dapat dalam bentuk kas, setara kas, atau asset non kas.

15 b. Pembiayaan dengan prinsip jual beli (piutang) Jenis pembiayaan dengan prinsip ini meliputi: 1) Pembiayaan Murabahah Pembiayaan Murabahah adalah perjanjian jual beli antara bank dan nasabah dimana bank syariah membeli barang yang diperlukan oleh nasabah kemudian menjualnya kepada nasabah yang bersangkutan sebesar harga perolehan ditambah dengan margin/keuntungan yang disepakati antara bank syariah dan nasabah. Karakteristik murabahah adalah bahwa penjual harus memberi tahu pembeli mengenai harga pembelian produk dan menyatakan jumlah keuntungan yang ditambahkan pada biaya (cost) tersebut. (Wiroso 2005, dalam Ferial Nurbaya 2013). Dalam daftar istilah buku himpunan fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan murabahah (DSN, 2003 dalam Wiroso 2005) adalah menjual suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga lebih sebagai laba. Murabahah merupakan salah satu jenis penyaluran dana dari bank syariah yang menggunakan prinsip jual beli. Saat ini, jenis transaksi murabahah sangat dominan dijalankan oleh lembaga keuangan syariah. Beberapa alasan transaksi jual beli murabahah mendominasi penyaluran dana bank syariah antara lain: (Wiroso 2005, dalam Ferial Nurbaya 2013)

16 a) Mudah diimplementasikan Jual beli murabahah dengan cepat, mudah diimplementasikan dan dipahami, karena para pelaku bank syariah menyamakan murabahah ini dengan kredit investasi konsumtif. b) Pendapatan bank dapat diprediksi Dalam transaksi murabahah, bank syariah sudah dapat melakukan estimasi pendapatan yang akan diterima, karena dalam transaksi murabahah hutang nasabah adalah harga jual sedangkan dalam harga jual terkandung porsi pokok dan porsi keuntungan. Sehingga dalam keadaan yang normal, bank dapat memprediksi pendapatan yang akan diterima. c) Tidak perlu mengenal nasabah secara mendalam Dengan adanya murabahah yang pembayarannya dilakukan dengan tangguh, maka akan timbul hutang oleh nasabah. Dalam hal ini hubungan bank dan nasabah adalah hubungan hutang piutang. Sehingga dalam keadaan bagaimanapun nasabah harus membayar hutang harga barang yang diperjualbelikan. Bank tidak perlu menganalisa dan mencari sumber pengembaliannya secara khusus, tetapi cukup secara singkat dan global. d) Menganalogikan murabahah dengan pembiayaan konsumtif Jika diperhatikan, sepintas memang terdapat persamaan antara jual beli murabahah dengan pembiayaan konsumtif. Murabahah

17 merupakan bagian terpenting dari jual beli dan prinsip akad ini mendominasi pendapatan bank dari produk-produk yang ada di semua bank islam. Dalam islam, jual beli sebagai sarana tolong menolong antara sesama umat manusia yang diridhoi oleh Allah SWT. Dalam PSAK 102: Akuntansi Murabahah menjelaskan bahwa murabahah adalah akad jual beli barang dengan harga jual sebesar biaya perolehan ditambah keuntungan yang disepakati dan penjual harus mengungkapkan biaya perolehan barang tersebut kepada pembeli. PSAK 102: Akuntansi Murabahah paragraf 23 juga mengatur bahwa pengakuan keuntungan murabahah diakui: a) Pada saat terjadinya penyerahan barang jika dilakukan secara tunai atau secara tangguh yang tidak melebihi satu tahun, atau b) Selama periode akad sesuai dengan tingkat risiko dan upaya untuk merealisasikan keuntungan tersebut untuk transaksi tangguh lebih dari satu tahun. Metode-metode berikut ini digunakan, dan dipilih yang paling sesuai dengan karakteristik risiko dan upaya transaksi murabahah-nya: (1) Keuntungan diakui saat penyerahan asset murabahah. Metode ini terapan untuk murabahah tangguh dimana risiko penagihan kas dari piutang murabahah dan beban pengelolaan piutang serta penagihannya relatif kecil.

18 (2) Keuntungan diakui proporsional dengan besaran kas yang berhasil ditagih dari piutang murabahah. Metode ini terapan untuk transaksi murabahah tangguh dimana risiko piutang tidak tertagih relatif besar dan/ atau beban untuk mengelola dan menagih piutang tersebut relatif besar. (3) Keuntungan diakui saat seluruh piutang murabahah berhasil ditagih. Metode ini terapan untuk transaksi murabahah tangguh dimana risiko piutang tidak tertagih dan beban pengelolaan piutang serta penagihannya cukup besar. Dalam praktik, metode ini jarang dipakai, karena transaksi murabahah tangguh mungkin tidak terjadi bila tidak ada kepastian yang memadai akan penagihan kasnya. Hal-hal diatas merupakan acuan bagi Bank untuk menentukan margin keuntungan. Setelah menentukan tingkat margin keuntungan Bank menambahkannya ke dalam harga jual. Jadi harga jual dari produk pembiayaan Murabahah adalah harga pokok dari pemasok ditambah dengan margin keuntungan. Margin keuntungan ini dapat berupa jumlah nominal. Harga Perolehan dari pemasok +Margin = Harga Jual Sumber Hukum Akad Murabahah

19 Dalam fatwa nomor 04/ DSN-MUI/IV/2000 Tanggal 1 April 2000 tentang Murabahah, sebagai landasan syariah transaksi murabahah adalah sebagai berikut: (DSN 2000, Wiroso 2005) a) Al-Qur an (1) Al-Qur an : Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela diantaramu... (QS. An-Nisa:29) (2)... Dan Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba... (QS. Al-Baqarah: 275) (3) Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai ia berkelapangan... (QS. Al- Baqarah: 280) b) Al Hadits (1) Hadits Nabi dari Abu Said Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka. (HR Al-Baihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban) (2) Hadits Nabi riwayat Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda, Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai, muqaradha mudharabah), dan mencampur jewawut dan gandum untuk kepentingan rumah tangga, bukan untuk dijual (HR Ibnu Majah dar Shuhaib) (3) Hadits Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: Perdamaian dapat dilakukan diantara kaum muslimin, kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. (4) Hadits Nabi riwayat Jamaah: Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kedzaliman... (5) Hadits Nabi riwayat Nasa i, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad: Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya (6) Hadits Nabi riwayat Abd Al-Raziq dari Zaid bin Aslam, Rasulullah ditanya tentang urban (uang muka) dalam jual beli, maka beliau menghalalkannya.

20 2) Pembiayaan Salam Pembiayaan Salam adalah akad jual beli barang pesanan dengan penangguhan pengiriman oleh penjual dan pelunasannya dilakukan segera oleh pembeli sebelum barang pesanan tersebut diterima sesuai syarat-syarat tertentu. Bank dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual dalam suatu transaksi salam. Jika bank bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barang pesanan dengan cara salam maka hal ini disebut salam paralel. PSAK 103 mendefinisikan salam sebagai akad jual beli barang pesanan (muslam fiih) dengan pengiriman di kemudian hari oleh penjual (muslam illaihi) dan pelunasannya dilakukan oleh pembeli (al muslam) pada saat akad disepakati sesuai dengan syarat-syarat tertentu. Untuk menghindari risiko yang merugikan, pembeli boleh meminta jaminan dari penjual. Sumber Hukum Akad Salam Al-Qur an Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaknya kamu menuliskannya dengan benar. (Qs:2:282) Hai orang-orang beriman penuhilah akad-akad itu... (Qs:5:1) Dalam kaitan ayat tersebut, Ibnu Abbas menjelaskan keterkaitan ayat tersebut dengan transaksi bai as-salam. Hal ini tampak jelas dari ungkapan beliau, Saya bersaksi bahwa salam yang dijamin untuk

21 jangka waktu tertentu telah dihalalkan oleh Allah pada kitab-nya dan diizinkan-nya. Sumber Hukum Akad Salam Al-Hadits Barang siapa melakukan salam, hendaknya ia melakukan dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas pula, untuk jangka waktu yang diketahui. (HR. Bukhari Muslim) Tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkahan jual beli secara tangguh mudharabah, dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual (HR.Ibnu Majah). 3) Pembiayaan Istishna Pembiayaan Istishna adalah perjanjian jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan dan penjual. Cara pembayarannya dapat berupa pembayaran dimuka, cicilan, atau ditangguhkan sampai jangka waktu tertentu. PSAK 104 mendefinisikan akad istishna adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli, mustashni ) dan penjual (pembuat, shani ). Sumber Hukum Akad Istishna Al-Qur an Hai orang-orang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya (QS. Al-Baqoroh:283). Sumber Hukum Akad Istishna Al-Hadits Amir bin Auf berkata: Perdamaian dapat dilakukan diantara kaum muslim kecuali perdamaian yang mengharumkan yang halal dan menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan

22 syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. (HR.Tirmidzi). Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah) dan mencampur gandum denga tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual. (HR. Ibnu Majjah). c. Pembiayaan dengan prinsip sewa Jenis pembiayaan dengan prinsip ini meliputi: 1) Pembiayaan Ijarah Transaksi ijarah dilandasi adanya perpindahan manfaat. Bila pada jual beli objek transaksi adalah barang, maka pada ijarah objeknya jasa. Pada akhir masa sewa, bank dapat menjual barang yang disewakannya kepada nasabah. Harga jual dan harga sewa disepakati pada awal perjanjian. Pengertian Al-Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri. Dalam praktiknya kegiatan ini dilakukan oleh perusahaan leasing, baik untuk kegiatan operating lease maupun financial lease. PSAK 107 mendefinisikan akad ijarah adalah akad pemidahan hak guna (manfaat) atas suatu asset dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa (ujrah) tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan asset itu sendiri. Sumber Hukum Akad Ijarah Al-Qur an

23 Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah Allah Maha Melihat apa yang kammu kerjakan. (Q.S. Al Baqarah: 233) Sumber Hukum Akad Ijarah Al-Hadits Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa rosulullah SAW bersabda, Berbekam kamu, kemumdian berikanlah olehmu upahnya kepada tukang bekam itu. (Hr. Bukhari dan Muslim). Dari Umar bahwa Rosulullah bersabda, Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya. (Hr. Ibnu Majah). 7. Pengaruh Pembiayaan Murabahah Terhadap Total Pendapatan Murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan penmbeli. Pembayaran murabahah dapat dilakukan secara tunai atau cicilan (tunda) sesuai dengan kemampuan dan kesepakatan antara penjual (Bank syariah) dengan pembeli (nasabah). Dalam murabahah juga diperkenankan adanya perbedaan dalam harga barang untuk cara pembayaran yang berbeda. Dalam hal ini pembayaran angsuran atau tunda lebih tinggi daripada pembayaran tunai berdasarkan ketentuan yang telah disepakati di awal perjanjian. Pembiayaan murabahah merupakan salah satu sumber pendapatan bagi Bank syariah. Meningkatnya penerimaan dan pembiayaan murabahah maka akan meningkat pula pendapatan yang dihasilkan. Apabila terjai peningkatan terhadap pendapatan akan berpengaruh terhadap laba operasional. Laba operasional yang diperoleh Bank dipengaruhi dari jumlah pembiayaan yang disalurkan.

24 Pendapatan merupakan kenaikan kotor dalam asset atau penurunan dalam liabilitas atau gabungan dari keduanya selama periode yang dipilih oleh pernyataan pendapatan yang bertujuan meraih keuntungan (Antonio Muhammad Syafi I, 2001). B. Penelitian Terdahulu Berdasarkan tinjauan pustaka dan penelitian terdahulu yang sudah diuraikan, maka kerangka penelitian dapat digambarkan pada gambar berikut : 1. Menurut hasil penelitian Liana (2012) secara simultan dapat disimpulkan bahwa pembiayaan murabahah berpengaruh signifikan terhadap total pendapatan. Secara parsial pembiayaan murabahah berpengaruh secara signifikan terhadap total pendapatan. Diantara variable pembiayaan murabahah dan total pendapatan yang digunakan dalam penelitian, variabel pembiayaan murabahah memiliki pengaruh yang lebih besar atau lebih signifikan dibandingkan total pendapatan. Hal ini dalam dilihat dari nilai signifikan pembiayaan murabahah yang lebih kecil dari nilai signifikasi tingkat suku bunga Bank Indonesia. 2. Dalam penelitian Ridha (2012) menyatakan bahwa hasil pengujian pembiayaan jual beli berpengaruh positif signifikan terhadap total pendapatan. Hal ini berarti bahwa peningkatan jumlah pembiayaan jual beli disalurkan bank syariah akan berpengaruh dalam total pendapatan. 3. Hasil penelitian Mustika (2011), Pendapatan jual beli berpengaruh signifikan dan mempunyai hubungan positif terhadap penyaluran

25 pertumbuhan pembiayaan murabahah pada Bank syariah. Artinya pendapatan jual beli memberikan sumbangan secara positif terhadap peningkatan pertumbuhan murabahah. Semakin besar total pendapatan jual beli oleh Bank syariah maka akan semakin besar kemungkinan Bank akan memutar pendapatan jual beli untuk pembiayaan. 4. Berdasarkan hasil penelitian Dina (2013) Pertumbuhan pembiayaan Murabahah secara parsial berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan Laba bersih. hal ini menunjukan bahwa pertumbuhan laba bersih dipengaruhi oleh pembiayaan murabahah, pertumbuhan bagi hasil, dan pertumbuhan pinjaman qardh. 5. Dalam penelitian Ferdian (2014) Pembiayaan murabahah terhadap profitabilitas memiliki pengaruh yang sangat signifikan dengan tingkat profitabilitas yang ada pada PT. Bank Muamalat Indonesia,Tbk. Dapat disimpulkan bahwa pembiayaan murabahah PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk mempunyai hubungan yang kuat dan positif terhadap tingkat profitabilitas. 6. Hasil penelitian Wahyu (2014) Permintaan pembiayaan murabahah dipengaruhi signifikan secara positif oleh variabel Akses. Selain itu, permintaan pembiayaan murabahah dipengaruhi signifikan secara negatif oleh variabel margin murabahah. 7. Menurut hasil penelitian Novi (2012) Transaksi Murabahah dan mudharabah menunjukkan hubungan positif terhadap laba, setiap terjadi peningkatan pembiayaan mudharabah dan transaksi murabahah akan

26 meningkat kan perolehan laba. Walaupun dilihat secara parsial mudharabah tidak berpengaruh terhadap laba bersih Bank Syariah Mandiri, sedangkan murabahah mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap laba. 8. Berdasarkan hasil penelitian Nadia (2014) menunjukan bahwa pembiayaan murabahah berpengaruh signifikan secara positif terhadap profitabilitas. Nilai koefisien regresi pembiayaan murabahah menunjukan elastisitas pengaruh pertumbuhan pembiayaan murabahah terhadap profitabilitas. Tabel 2.3 Ringkasan Penelitian Terdahulu No Peneliti Variabel 1 Liana (2012) Variabel Dependen : Pengaruh Pendapatan Margin Pembiayaan Murabahah Murabahah Dan Variabel Independen : Tingkat Suku a) Pembiayaan Murabahah Bunga Bank b) Tingkat Suku Bunga Indonesia Terhadap Bank Indonesia Pendapatan Margin Murabahah Pada Perbankan Syariah 2 Ridha (2012) Variabel Dependen : Pengaruh ROA Pembiayaan Jual Variabel Independen : Metode Statistik Regresi Linier Berganda Regresi Linier Berganda Hasil Penelitian Variabel pembiayaan murabahah variabel pembiayaan murabahah dan tingkat suku bunga Bank Indonesia, memiliki pengaruh yang signifikan terhadap total pendapatan Pembiayaan jual beli berpengaruh positif signifikan terhadap total

27 No Peneliti Variabel Beli, Pembiayaan a) Pembiayaan Jual Beli Bagi Hasil, dan b) Pembiayaan Bagi Hasil Rasio Non c) Non Performing Performing Financing (NPF) Financing Terhadap Proftabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia 3 Mustika (2011) Variabel Dependen : Analisis Variabel- Pembiayaan Murabahah Variabel yang Varibel Independen: mempengaruhi a) Pembiayaan Murabahah Pembiayaan b) Margin Keuntungan Murabahah Pada c) Non Performing Bank Syariah Financing (NPF) Mandiri Periode d) Financing Deposit Ratio 2011 (FDR) Metode Statistik Regresi Linier Berganda Hasil Penelitian pendapatan Hal ini berarti bahwa peningkatan jumlah pembiayaan jual beli disalurkan Bank syariah akan berpengaruh dalam total pendapatan Pendapatan jual beli berpengaruh signifikan dan mempunyai hubungan positif terhadap penyaluran pertumbuhan pembiayaan murabahah pada Bank syariah. 4 Dina (2013) Variabel Dependen : Regresi Pembiayaan murabahah Analisis Pengaruh Pertumbuhan Laba Linier secara parsial Pertumbuhan Berganda berpengaruh siginfikan Pembiayaan Variabel Independen : terhadap pertumbuhan Murabahah Bagi a) Pembiayaan laba bersih. Hasil Dan Murabahah Pertumbuhan laba Pinjaman Qardh b) Bagi Hasil bersih dipengaruhi oleh Terhadap c) Qardh pembiayaan Pertumbuhan Laba murabahah Bersih Pada Bank Syariah Periode

28 No Peneliti Variabel 2011-2013 5 Ferdian (2014) Variabel Dependen : Pengaruh Tingkat Profitabilitas Pembiayaan Murabahah Variabel Independen : Terhadap a) Pembiayaan Profitabilitas Murabahah b) (ROA) Return On Assets 6 Wahyu (2014) Variabel Dependen : Faktor-Faktor Yang Bank Syariah Di Indonesia Mempengaruhi Permintaan Variabel Independen : Pembiayaan a) Faktor-faktor yang Murabahah Bank mempengaruhi Syariah Di permintaan murabahah Indonesia Periode b) Pembiayaan margin 2011-2015 murabahah 7 Novi (2012) Variabel Dependen : Analisis Laba Pembiayaan Mudharabahdan Variabel Independen : Murabahah a) Pembiayaan Terhadap Laba Mudharabah Bank Syariah b) Pembiayaan Mandiri Murabahah Metode Statistik Regresi Linier Berganda Regresi Linier Berganda Regresi Linier Berganda Hasil Penelitian Pembiayaan murabahah terhadap profitabilitas memiliki pengaruh yang sangat signifikan dengan ROA Permintaan pembiayaan murabahah dipengaruhi signifikan secara positif oleh variabel akses. Permintaan pembiayaan murabahah dipengaruhi signifikan secara negatif oleh variabel margin murabahah Transaksi murabahah dan mudharabah menunjukan hubungan positif terhadap laba. Secara parsial mudharabah tidak dipengaruhi terhadap laba bersih di Bank Syariah Mandiri Sedangkan murabahah

29 No Peneliti Variabel Metode Statistik Hasil Penelitian mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap laba 8 Nadia (2014) Variabel Dependen : Regresi Pembiayaan murabahah Pengaruh Profitabilitas (ROA) Linier berpengauh signifikan Pembiayaan Berganda positif terhadap Efisiensi Terhadap Variabel Independen : profitabilitas Profitabilitas Bank a) Pembiayaan Pembiayaan bagi hasil Umum Syariah Murabahah berpengaruh signifikan b) Pembiayaan Bagi terhadap profitabilitas, Hasil menunjukan c) Pembiayaan pembiayaan bagi hasil Bermasalah berpengaruh negatif d) Efisiensi Operasional terhadap profitabilitas Pembiayaan bermasalah tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas C. Rerangka Penelitian Dalam pelaksanaanya di Bank syariah, Bank membelikan terlebih dahulu barang yang dibutuhkan nasabah. Bank melakukan pembelian barang kepada supplier yang ditunjuk oleh nasabah atau bank, kemudian bank menetapkan harga jual barang tersebut berdasarkan kesepakatan bersama nasabah. Nasabah dapat melunasi pembelian barang tersebut dengan cara sekaligus atau mengangsur.

30 Pengaruh signifikasi tingkat suku bunga bank syariah di Indonesia yaitu upaya pencapaian keuntungan yang setinggi-tingginya (profit maximization) adalah tujuan yang biasa dicanangkan oleh bank komersial, terutama bank-bank swasta. Berada dengan tujuan ini, bank Islam berdiri untuk menggalakan, memelihara serta mengembangkan jasa serta produk perbankan yang berdasarkan syariah Islam. Dalam penelitian ini digunakan 2 variabel yang mencerminkan pembiayaan tersebut, kedua variabel itu adalah Pembiayaan murabahah dan tingkat suku bunga Bank Indonesia. Maka hal ini memiliki implikasi yang sangat berpengaruh pada aspek operasional dan produk yang dikembangkan oleh Islam. Menurut penelitian Liana (2012) menyatakan bahwa pembiayaan murabahah berpengaruh signifikan terhadap total pendapatan. Diantara variabel pembiayaan murabahah dan total pendapatan yang digunakan dalam penelitian, variabel pembiayaan memiliki pengaruh yang lebih besar atau lebih signifikan dibandingkan total pendapatan. Pada penelitian Ridha (2012) menyatakan bahwa hasil pengujian pembiayaan jual beli berpengaruh positif signifikan terhadap total pendapatan. Hal ini berarti bahwa peningkatan jumlah pembiayaan jual beli disalurkan bank syariah akan berpengaruh dalam total pendapatan. Selanjutnya pada penelitian Mustika (2011) pendapatan jual beli berpengaruh signifikan dan mempunyai hubungan positif terhadap penyaluran pertumbuhan pembiayaan murabahah pada Bank syariah. Berdasarkan teori dan hasil-hasil penelitian sebelumnya mengenai hubungan antara pembiayaan murabahah, tingkat suku bunga Bank Indonesia dengan total

31 pendapatan, maka dapat disusun kerangka pemikiran teoritis seperti pada gambar 2.1 Gambar 2.1 Rerangka Pemikiran Teoritis Pembiayaan Murabahah (X1) Tingkat Suku Bunga BI Total Pendapatan (Y) (X2) Hipotesis Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa hipotetis dari penelitian ini adalah : H1 : Pembiayaan Murabahah berpengaruh signifikan terhadap Total Pendapatan. H2 : Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia berpengaruh signifikan terhadap Total Pendapatan.