Direktorat lelang - DJKN

dokumen-dokumen yang mirip
SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 106/PMK.06/2013 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 93 /PMK.06/2010 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN LELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN,

LAMPIRAN I. Persetujuan Permohonan Izin. Melaksanakan Penelitian Di. KPKNL Medan

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 175/PMK.06 /2010 TENTANG PEJABAT LELANG KELAS II DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2017, No Peraturan Menteri Keuangan Nomor 175/PMK.06/2010 tentang Pejabat Lelang Kelas II (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 175/PMK.06 /2010 TENTANG PEJABAT LELANG KELAS II

2018, No Penjualan Langsung Benda Sitaan atau Barang Rampasan Negara atau Benda Sita Eksekusi dan untuk mendukung optimalisasi penerimaan negar

2017, No Instruksi Lelang (Vendu Instructie, Staatsblad 1908:190 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Staatsblad 1930:85)

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 102/PMK.01/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Kekayaan Negara; 13.

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 176/PMK.06/2010 TENTANG BALAI LELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

KEPUTUSAN MENTERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 304/KMK.01/2002 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN LELANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 160/PMK.06/2013 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 176/PMK.06/2010 TENTANG BALAI LELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN,

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA - 8 -

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 176/PMK.06/2010 TENTANG BALAI LELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN,

2016, No menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Pedoman Pelaksanaan Lelang dengan Penawaran Secara Tertulis Tanpa Kehadiran Peserta Lela

MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INQONESIA fsalinan

PEJABAT LELANG TERANCAM HUKUMAN 5 TAHUN PENJARA.

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 158/PMK.06/2013 TENTANG

S A L I N A N RISALAH LELANG Nomor : 349/2013

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat;

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Gambaran Umum Kantor Pejabat Lelang Kelas II H. Khalidin, SH. MH

PERATURAN KOMITE PROFESI AKUNTAN PUBLIK NOMOR 5/PKPAP/2014 TENTANG TATA KERJA BANDING KOMITE PROFESI AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PEMBERIAN PENGURANGAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN SEHUBUNGAN DENGAN LUAPAN LUMPUR SIDOARJO

2017, No Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 102/PMK.01/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Kekayaan Negara; 11.

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 242/PMK.03/2014 TENTANG TATA CARA PEMBAYARAN DAN PENYETORAN PAJAK

R I S A L A H - L E L A N G Nomor :010/PLII.6/2014

PERAN KEMENTERIAN KEUANGAN DALAM PEMULIHAN ASET TINDAK PIDANA KORUPSI

2015, No Independen Pemilihan Aceh atau Komisi Pemilihan Umum/KomisiIndependen Pemilihan Kabupaten/Kota; b. bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Tata Cara Lelang Internet

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

EKSEKUSI HAK TANGGUNGAN DI PENGADILAN AGAMA

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 242/PMK.03/2014 TENTANG TATA CARA PEMBAYARAN DAN PENYETORAN PAJAK

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 243/PMK.04/2011 TENTANG PEMBERIAN PREMI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

TATA CARA LELANG DENGAN KEHADIRAN PESERTA (KONVENSIONAL) Umum UANG JAMINAN

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE - 41/PJ/2014 TENTANG

MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INPONESIA SALIN AN

2017, No Peraturan Menteri Keuangan tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 111/PMK.04/2013 tentang Tata Cara Penagihan Bea Ma

2010 MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PENILAIAN KEKAYAAN YANG DIKUASAI NEGARA BERUPA SUMBER DAYA ALAM. BAB I KETENTUAN UMUM

NO. PERDA NOMOR 2 TAHUN 2011 PERDA NOMOR 17 TAHUN 2016 KET 1. Pasal 1. Tetap

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Sudiono (2001: 52), lelang adalah penjualan dihadapan orang banyak

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-32/PJ/2013 Tanggal 25 September 2013

PERATURAN DAERAH KOTA BANJARBARU NOMOR 34 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI PENGGANTIAN BIAYA CETAK KARTU TANDA PENDUDUK DAN AKTA CATATAN SIPIL

2016, No Gubernur, Bupati, dan Wali Kota menjadi Undang- Undang; b. bahwa Pasal 22B huruf a dan huruf b Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tent

REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1997 TENTANG BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1997 TENTANG BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BERITA ACARA PENJELASAN / AANWIJZING ( ADDENDUM) Nomor : 003.3/BA-PA/POKJA-PU/2011

PEMERINTAH KABUPATEN REJANG LEBONG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 163/PMK.03/2012 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1997 TENTANG BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republi

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

2016, No Negara Republik Indonesia Nomor 4916); 3. Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2015 tentang Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Lemb

KEPUTUSAN KEPALA BADAN URUSAN PIUTANG DAN LELANG NEGARA NOMOR 42/PN/2000 TAHUN 2000 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN LELANG

B U P A T I T A N A H L A U T PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG NOMOR 16 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TEMANGGUNG,

BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN Undang-Undang No. 21 Tahun 1997 tanggal 29 Mei 1997 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

PENUNJUK UNDANG-UNDANG JABATAN NOTARIS

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 306/KMK.01/2002 TENTANG BALAI LELANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

BUPATI BANDUNG BARAT PROVINSI JAWA BARAT

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 118/PMK.03/2016 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN. REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 350/MPP/Kep/12/2001 TENTANG PELAKSANAAN TUGAS DAN WEWENANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TRENGGALEK,

No. SOP: 16/TMPB/2016. Revisi Ke - Tanggal Penetapan 7 Desember Tanggal Revisi: -

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL REPUBLIK INDONESIA,

UU 21/1997, BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN

Sejarah Lelang. DTSS Pejabat Lelang I Lelang menurut sejarahnya berasal dari bahasa Latin

STANDAR PROSEDUR OPERASI (STANDARD OPERATING PROCEDURE) LAYANAN UNGGULAN BIDANG KEKAYAAN NEGARA DAN LELANG KEMENTERIAN KEUANGAN

PER - 26/PJ/2010 TATA CARA PENELITIAN SURAT SETORAN PAJAK ATAS PENGHASILAN DARI PENGALIHAN HAK ATAS

Transkripsi:

1. Sebagai tindak lanjut Laporan Hasil Pemeriksaan Kinerja oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Pelayanan Lelang, dengan rekomendasi agar disusun suatu ketentuan tentang tata tertib pelaksanaan lelang. 2. Untuk meningkatkan ketertiban, kualitas, dan kuantitas dalam pelaksanaan lelang.

1. Pelaksanaan lelang telah mencerminkan transparansi dan akuntabilitas lelang; 2. Peserta Lelang sejak awal telah mendapatkan informasi yang memadai terkait pelaksanaan lelang dan mengetahui tata tertib lelang; 3. Pada saat pelaksanaan, Peserta Lelang sudah mengetahui hak dan kewajibannya;

4. Hanya peserta lelang beserta pendampingnya yang diperkenankan memasuki ruangan lelang; 5. Prosedur pelaksanaan lelang yang mudah, praktis, dan efisien, namun tetap sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

Meningkatkan Ketertiban, Kelancaran, dan Optimalisasi pelaksanaan lelang dengan kehadiran Peserta Lelang.

MATERI POKOK PERDIRJEN NOMOR 11/KN/2014 Terdiri dari: 4 BAB dan 9 Pasal

MATERI POKOK PERDIRJEN NOMOR 11/KN/2014 Persiapan Lelang 2 Pasal Pelaksanaan Lelang 3 Pasal Setelah Pelaks. Lelang 3 Pasal Ketentuan Penutup 1 Pasal

BAB I - PERSIAPAN LELANG PASAL 1 Dalam persiapan lelang, Pejabat Lelang wajib melakukan halhal sebagai berikut: a. meneliti dokumen persyaratan lelang dan legalitas formal subjek dan objek lelang; b. meminta penjelasan kepada Penjual, apabila ada hal-hal yang memerlukan penjelasan; c. meneliti materi dan jangka waktu pengumuman lelang yang dilakukan oleh Penjual, sesuai ketentuan; d. membuat bagian Kepala Risalah Lelang;

BAB I - PERSIAPAN LELANG PASAL 1 e. menyiapkan kelengkapan administrasi lelang, antara lain daftar hadir dan formulir surat penawaran untuk penawaran lelang secara tertulis; f. meminta Peserta Lelang untuk menyerahkan fotokopi NPWP dalam hal objek lelang berupa tanah dan/atau bangunan; g. melakukan registrasi Peserta Lelang dengan mencatat identitas Peserta Lelang yang telah menyetorkan Uang Jaminan Penawaran Lelang atau menyerahkan Garansi Bank;

BAB I - PERSIAPAN LELANG PASAL 1 h. membuat daftar penyetor/penyerah jaminan dan jika diperlukan, dapat memberikan Nomor Peserta Lelang; i. mencatat identitas Peserta Lelang dan jika diperlukan, dapat memberikan Nomor Peserta Lelang, dalam hal lelang kayu dan hasil hutan lainnya dari tangan pertama dan lelang noneksekusi sukarela yang tidak memerlukan jaminan penawaran lelang; j. meminta Peserta Lelang untuk mengisi daftar hadir;

BAB I - PERSIAPAN LELANG PASAL 1 k. wajib memperlihatkan asli dokumen kepemilikan kepada Peserta Lelang sebelum lelang dimulai, dalam hal terdapat dokumen asli kepemilikan dan Penjual/Pemilik Barang menyerahkannya kepada Pejabat Lelang; dan l. meminta Penjual memperlihatkan asli dokumen kepemilikan kepada Peserta Lelang sebelum lelang dimulai, dalam hal Penjual/Pemilik Barang tidak menyerahkannya kepada Pejabat Lelang.

BAB I - PERSIAPAN LELANG PASAL 2 Selain persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, Pejabat Lelang melakukan hal-hal sebagai berikut: a. memberikan penjelasan terkait prosedur lelang, dalam hal menghadiri pelaksanaan penjelasan lelang ( aanwijzing) yang diselenggarakan Penjual; b. mengatur dan memastikan tata ruang serta sarana lelang telah mendukung transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan lelang;

BAB I - PERSIAPAN LELANG PASAL 2 c. memberikan informasi lelang kepada pemohon lelang dan Peserta Lelang; d. membatasi jumlah pendamping Peserta Lelang yang masuk ke ruang lelang paling banyak 2 (dua) orang; e. memisahkan tempat duduk Peserta Lelang/pendamping dari para pengunjung lain yang terkait pelaksanaan lelang;

BAB I - PERSIAPAN LELANG PASAL 2 f. melarang Peserta Lelang, pendamping, dan/atau pengunjung lain yang terkait pelaksanaan lelang membawa senjata api/tajam dan benda berbahaya lainnya kecuali petugas keamanan; g. meminta bantuan aparat keamanan, dalam hal diperlukan; dan h. berpakaian rapi dan sopan serta mengenakan tanda pengenal Pejabat Lelang.

BAB II - PELAKSANAAN LELANG PASAL 3 Dalam pelaksanaan lelang, Pejabat Lelang melakukan hal-hal sebagai berikut: a. membuka acara pelaksanaan lelang sesuai jadwal yang tercantum dalam pengumuman lelang dengan mengucapkan kalimat: Dengan ini lelang saya buka ; b. menunda pelaksanaan lelang untuk sementara waktu, dalam hal diperlukan, dengan menjelaskan alasan penundaan kepada Peserta Lelang;

BAB II - PELAKSANAAN LELANG PASAL 3 c. memberikan kesempatan kepada Pejabat Penjual untuk menjelaskan objek yang akan dilelang, dalam hal diperlukan; d. membacakan bagian Kepala Risalah Lelang dengan jelas dan tegas; e. membacakan daftar nama Peserta Lelang; f. memberikan kesempatan Peserta Lelang untuk bertanya kepada Penjual terkait objek lelang dan kepada Pejabat Lelang terkait pelaksanaan lelang;

BAB II - PELAKSANAAN LELANG PASAL 3 g. melarang Peserta Lelang dan/atau pendamping berpindah tempat dan/atau meninggalkan tempat lelang tanpa alasan yang jelas; h. melarang Peserta Lelang, pendamping dan/atau pengunjung melakukan hal-hal yang mengganggu jalannya pelaksanaan lelang dan/atau melanggar tata tertib pelaksanaan lelang;

BAB II - PELAKSANAAN LELANG PASAL 3 i. j. menegur dan/atau mengeluarkan Peserta Lelang, pendamping dan/atau pengunjung jika mengganggu jalannya pelaksanaan lelang dan/atau melanggar tata tertib pelaksanaan lelang; dan meminta bantuan Pemandu Lelang (afslager) yang telah mendapat surat tugas dalam melaksanakan penawaran, dalam hal diperlukan.

BAB II - PELAKSANAAN LELANG PASAL 4 Pejabat Lelang melakukan proses penawaran lelang secara lisan dengan ketentuan sebagai berikut: a. memulai penawaran paling kurang sebesar nilai limit, dalam hal lelang menggunakan nilai limit dengan penawaran semakin meningkat; b. memulai penawaran secara bebas sampai terbentuk penawaran tertinggi, dalam hal lelang tidak menggunakan nilai limit dengan penawaran semakin meningkat;

BAB II - PELAKSANAAN LELANG PASAL 4 c. memulai penawaran secara bebas sampai terdapat penawar pertama yang penawarannya paling kurang sebesar nilai limit, dalam hal lelang menggunakan nilai limit dengan penawaran semakin menurun; d. memberi kesempatan kepada para penawar lelang lainnya untuk melakukan penawaran yang lebih tinggi atas penawaran lelang tertinggi sebelumnya, dalam hitungan satu sampai tiga dengan jeda waktu yang patut;

BAB II - PELAKSANAAN LELANG PASAL 4 e. mengesahkan penawar tertinggi yang telah mencapai atau melampaui nilai limit sebagai Pembeli, diikuti dengan ketukan palu; dan f. membacakan kembali nama Peserta Lelang yang telah ditunjuk sebagai Pembeli, jumlah penawaran, dan kewajiban yang harus dipenuhi pada waktu penutupan pelaksanaan lelang.

BAB II - PELAKSANAAN LELANG PASAL 5 Pejabat Lelang melakukan proses penawaran lelang secara tertulis dengan kehadiran Peserta Lelang, dengan ketentuan sebagai berikut: a. membagikan formulir surat penawaran lelang kepada Peserta Lelang di tempat lelang; b. menjelaskan tata cara pengisian surat penawaran lelang, yakni surat penawaran harus ditulis dalam bahasa Indonesia berisi nama penawar, alamat penawar, barang yang ditawar, harga penawaran dalam rupiah dengan angka dan huruf, dan tanda tangan di atas meterai cukup;

BAB II - PELAKSANAAN LELANG PASAL 5 c. meminta Peserta Lelang untuk memasukkan surat penawaran dalam kotak penawaran yang telah disediakan atau menyerahkan surat penawaran kepada Pejabat Lelang dalam hal kotak penawaran tidak tersedia; d. membuka dan memeriksa surat penawaran dengan disaksikan oleh Penjual dan salah satu Peserta Lelang; e. membubuhkan paraf pada surat penawaran dalam hal surat penawaran telah memenuhi ketentuan dan menulis besaran penawaran di daftar penawaran;

BAB II - PELAKSANAAN LELANG PASAL 5 f. menyatakan penawaran tidak mengikat/tidak sah dalam hal surat penawaran tidak memenuhi ketentuan; g. melanjutkan penawaran lelang secara lisan dengan harga semakin meningkat (opbod) atau tertulis di antara penawar tertinggi tertulis yang sama, dalam hal terdapat penawaran tertinggi yang sama;

BAB II - PELAKSANAAN LELANG PASAL 5 h. mengesahkan Peserta Lelang sebagai Pembeli, dalam hal penawaran tertinggi yang diajukan oleh Peserta Lelang telah mencapai atau melampaui nilai limit, diikuti dengan ketukan palu; dan i. membacakan kembali nama Peserta Lelang yang telah ditunjuk sebagai Pembeli, jumlah penawaran, dan kewajiban yang harus dipenuhi pada waktu penutupan pelaksanaan lelang.

BAB III SETELAH PELAKSANAAN LELANG PASAL 6 (1) Pembayaran Harga Lelang dan Bea Lelang harus dilakukan secara tunai/cash atau cek/giro paling lama 5 (lima) hari kerja setelah pelaksanaan lelang. (2) Penyetoran Bea Lelang dan PPh ke Kas Negara paling lama 1 (satu) hari kerja setelah pembayaran diterima oleh Bendahara Penerimaan KPKNL/Pejabat Lelang Kelas II/Balai Lelang.

BAB III SETELAH PELAKSANAAN LELANG PASAL 7 Pejabat Lelang membuat dan menyelesaikan Minuta, Kutipan, Salinan Risalah Lelang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB III PASAL 8 SETELAH PELAKSANAAN LELANG (1) Dalam hal Penjual/Pemilik Barang menyerahkan asli dokumen kepemilikan kepada Pejabat Lelang, Pejabat Lelang harus menyerahkan asli dokumen kepemilikan dan/atau barang yang dilelang kepada Pembeli, paling lama 1 (satu) hari kerja setelah Pembeli menunjukkan bukti identitas diri dan bukti pelunasan kewajiban pembayaran lelang serta bukti setor Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan untuk objek lelang berupa tanah dan/atau bangunan.

BAB III SETELAH PELAKSANAAN LELANG PASAL 8 (2) KPKNL/Pejabat Lelang Kelas II/Balai Lelang mencatat penyerahan asli dokumen kepemilikan kepada pembeli di dalam buku serah terima dokumen.

BAB IV KETENTUAN PENUTUP PASAL 9 Peraturan Direktur Jenderal ini mulai berlaku setelah 1 (satu) bulan terhitung sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan : 30 Desember 2014.

Direktorat Lelang - DJKN