LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG. Nomor 4 Tahun 2004 Seri E PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG

dokumen-dokumen yang mirip
SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PEDOMAN ADMINISTRASI PENANAMAN MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA INVESTASI/KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL NOMOR 38/SK/1999 TANGGAL 6 OKTOBER 1999 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR : 4 TAHUN 2002 SERI : C PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR: 18 TAHUN 2002 TENTANG

GUBERNUR PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA,

LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR : 26 TAHUN 2002 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANAMAN MODAL DAERAH

KEPUTUSAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL NOMOR 70 /SK/2004 TAHUN 2004 TENTANG

PERATURAH DAERAH KABUPATEN GRESIK NOMOR 05 TAHUN 2003 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SAMOSIR TAHUN 2011 NOMOR 34 SERI E NOMOR 11

KEPUTUSAN GUBERNUR PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 26 TAHUN 2003 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 03 TAHUN 2004 TENTANG IZIN USAHA INDUSTRI DI KABUPATEN BARITO UTARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEDOMAN DAN TATA CARA JENIS PERIZINAN DAN NON PERIZINAN. I. Ketentuan dan Persyaratan Perizinan dan Non Perizinan Bidang Penanaman Modal

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.508, 2009 BKPM. Permohonan. Penanaman Modal. Pedoman.

PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO

PEDOMAN DAN TATA CARA JENIS PERIZINAN DAN NON PERIZINAN. I. Ketentuan dan Persyaratan Perizinan dan Non Perizinan Bidang Penanaman Modal

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG Nomor : 18 Tahun : 2005 Serie : E Nomor : 8

PUSAT PELAYANAN INVESTASI TERPADU. Badan Koordinasi Penanaman Modal. Dokumen yang harus dilampirkan:

KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL NOMOR 13 TAHUN 2009

KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL NOMOR 12 TAHUN 2009

PERATURAN DAERAH KOTA BITUNG NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI DAN PENANAMAN MODAL ASING DI KOTA BITUNG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAWAHLUNTO/ SIJUNJUNG NOMOR 5 TAHUN 2006 TENTANG PENGELOLAAN IZIN PENANAMAN MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PENANAMAN MODAL DI PROVINSI JAWA TENGAH

BUPATI BANGKA SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG TANDA DAFTAR INDUSTRI DAN IZIN USAHA INDUSTRI

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG USAHA PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 127 TAHUN : 2011 SERI : E PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUASIN NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN PENANAMAN MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUASIN,

BUPATI WONOGIRI PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PENANAMAN MODAL DI KABUPATEN WONOGIRI

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.13, 2008 DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN. IZIN USAHA. Industri. Ketentuan. Pencabutan.

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BOGOR

PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG

KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL NOMOR 12 TAHUN 2009

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PENANAMAN MODAL DI KABUPATEN PURBALINGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 14 TAHUN 2001 TENTANG

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PENANAMAN MODAL DI KABUPATEN SUKOHARJO

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PENGGUNAAN TENAGA KERJA ASING

LEMBARAN DAERAH KOTA BAUBAU NOMOR 25 TAHUN 2012

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT

BERITA DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2007 NOMOR : 7 PERATURAN WALIKOTA CILEGON NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG

RANCANGAN PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PENANAMAN MODAL DI PROVINSI JAWA TENGAH

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK TAHUN 2003 NOMOR 03 SERI C PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 03 TAHUN 2003

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 13 TAHUN 2011 RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG

BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG PERIZINAN USAHA BIDANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 3 TAHUN 2002

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARAWANG NOMOR: 5 TAHUN 2013

BUPATI KEPULAUAN ANAMBAS

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR. TAHUN 2014 TENTANG IZIN USAHA INDUSTRI DAN IZIN USAHA KAWASAN INDUSTRI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL REPUBLIK INDONESIA

BUPATI BOYOLALI PROVINSI JAWA TENGAH

PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 12 TAHUN 2002 TENTANG IJIN USAHA INDUSTRI ( IUI ) WALIKOTA DENPASAR,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKALIS NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG IZIN USAHA INDUSTRI, IZIN PERLUASAN DAN TANDA DAFTAR INDUSTRI

WALIKOTA TANJUNGPINANG,

WALIKOTA PEKALONGAN PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG PENANAMAN MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN KETENAGALISTRIKAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG PENERBITAN SURAT IZIN USAHA PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BERAU

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 04 TAHUN 2004 T E N T A N G SURAT IZIN USAHA PERDAGANGAN DI KABUPATEN BARITO UTARA

BUPATI HULU SUNGAI TENGAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

- 1 - PERATURAN DAERAH KABUPATEN BERAU NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PATI NOMOR 24 TAHUN 2016 TENTANG PENATAAN TOKO SWALAYAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 45/M-DAG/PER/9/2009 TENTANG ANGKA PENGENAL IMPORTIR (API)

Menelaah Permenkumham no 1/2016 tentang PT Hukum Penanaman Modal Asing serta Peranan Notaris saat ini di Era Pasar Bebas

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN PERDAGANGAN. Angka Pengenal Importir.

BUPATI KONAWE UTARA PROVINSI SULAWESI TENGGARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN KONAWE UTARA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG IZIN LOKASI

BUPATI BOGOR PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOGOR NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG IZIN GANGGUAN

LEMBARAN DAERAH KOTA TANGERANG

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL REPUBLIK INDONESIA,

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG

WALIKOTA MADIUN PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG IZIN INDUSTRI, PERDAGANGAN, PERGUDANGAN, DAN TANDA DAFTAR PERUSAHAAN

Bentuk Permohonan Izin Prinsip Perubahan PERMOHONAN IZIN PRINSIP PERUBAHAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2018 TENTANG PENGGUNAAN TENAGA KERJA ASING DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN MUKOMUKO

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG IZIN USAHA INDUSTRI, IZIN PERLUASAN DAN TANDA DAFTAR INDUSTRI

KOP SURAT BKPM RI IZIN KANTOR PERWAKILAN PERUSAHAAN ASING

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 1 /POJK.05/ TENTANG PERIZINAN USAHA DAN KELEMBAGAAN LEMBAGA PENJAMIN

BUPATI BALANGAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

SOP PERIZINAN KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 406 /KMK.06/2004 TENTANG USAHA JASA PENILAI BERBENTUK PERSEROAN TERBATAS

LAPORAN KEGIATAN PENANAMAN MODAL (LKPM) BAGI PROYEK YANG BELUM MEMILIKI IZIN USAHA TETAP (IUT) PERIODE LAPORAN : TAHUN

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR. TAHUN 2014 TENTANG IZIN USAHA INDUSTRI DAN IZIN USAHA KAWASAN INDUSTRI

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI BARAT

LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI

BUPATI KULON PROGO PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PEMBERIAN PERIZINAN USAHA JASA KONSTRUKSI

BUPATI BANGKA SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG TANDA DAFTAR PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN DAERAH KOTA BANJARBARU NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PENANAMAN MODAL DI KOTA BANJARBARU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANJARBARU,

BUPATI JEPARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG PENANAMAN MODAL DI KABUPATEN JEPARA

BUPATI TOLITOLI PERATURAN DAERAH KABUPATEN TOLITOLI NOMOR 22 TAHUN 2011 TENTANG

PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG

Transkripsi:

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG Nomor 4 Tahun 2004 Seri E PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN FASILITASI PENANAMAN MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANGERANG Menimbang : a. bahwa dengan diberlakukannya Otonomi Daerah dan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat di bidang Penanaman Modal serta untuk mendorong pertumbuhan perekonomian daerah dan pembangunan nasional melalui kegiatan penanaman modal diperlukan langkah-langkah untuk lebih mengembangkan iklim usaha yang kondusif dan menjamin kelangsungan penanaman modal di daerah; b. bahwa untuk melaksanakan hal tersebut pada butir a, daerah harus segera menata kembali peraturan Fasilitasi Penanaman Modal yang disesuaikan dengan kebijakan-kebijakan baru instansi teknis yang membidangi masing-masing sektor kegiatan; c. bahwa untuk mendukung kebijakan sebagaimana tersebut pada butir a dan b di atas dipandang perlu untuk menetapkan tentang Pedoman Fasilitasi Penanaman Modal. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); 2. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Propinsi Banten (Lembaran Negara Tahun 2000 nomor 182, tambahan lembaran negara nomor 4010); 3. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 jo. Nomor 11 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Asing (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2818 jo. Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2943); 4. Undang-undang..

- 2-4. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1968 jo. Nomor 12 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri (Lembaran Negara Tahun 1968 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2853 jo. Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2944); 5. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 13, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3587); 6. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil (Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 13, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3611); 7. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1986 jo. Nomor 9 Tahun 1993 tentang Jangka Waktu Izin Penanaman Modal Asing (Lembaran Negara Tahun 1986 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3335 jo. Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 13, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3515); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1994 tentang Pemilikan Saham Dalam Perusahaan Yang Didirikan Dalam Rangka Penanaman Modal Asing (Lembaran Negara Tahun 1994 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3552); 9. Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1980 tentang Pembentukan Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah sebagaimana yang telah diubah Nomor 122 Tahun 1999; 10. Keputusan Presiden Nomor 97 Tahun 1993 tentang Tata Cara Penanaman Modal sebagaimana telah diubah Nomor 115 Tahun 1998 jo. Nomor 117 Tahun 1999; 11. Keputusan Presiden Nomor 41 Tahun 1996 tentang Kawasan Industri; 12. Keputusan Presiden Nomor 89 Tahun 1996 jo. Nomor 90 Tahun 1998 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi terpadu; 13. Keputusan Presiden Nomor 96 Tahun 1998 tentang Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup Bagi Penanaman Modal; 14. Keputusan Presiden RI Nomor 99 Tahun 1998 tentang Bidang/Jenis Usaha Yang Dicadangkan Untuk Usaha Kecil dan Bidang/Jenis Usaha Yang Terbuka Untuk Usaha Menengah atau Usaha Besar Dengan Syarat Kemitraan; 15. Peraturan

- 3-15. Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2000 tentang Retribusi Izin Gangguan; 16. Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2000 tentang Organisasi Perangkat Kabupaten Tangerang (Lembaran Daerah Nomor 11 Tahun 2000); 17. Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2001 tentang Izin Mendirikan Bangunan; 18. Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2001 tentang Pelayanan Ketenagakerjaan Bidang Penempatan dan Pelatihan Tenaga Kerja; 19. Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2002 tentang Pengaturan Pembinaan dan Pengendalian Industri dan Perdagangan. M E M U T U S K A N : Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG PEDOMAN FASILITASI PENANAMAN MODAL. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Tangerang. 2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten. 3. Bupati adalah Bupati Tangerang. 4. Badan adalah Badan Koordinasi Penanaman Daerah Kabupaten Tangerang. 5. Fasilitasi adalah Upaya membantu/memperlancar para penanam modal melalui pedoman, arahan, pembinaan, pemberian persetujuan, perizinan dan fasilitas penanaman modal. 6. Fasilitas penanaman modal adalah fasilitas bea masuk dan fasilitas fiskal lainnya yang ditenrtuka oleh Pemerintah untuk PMA dan PMDN. 7. Penanaman

- 4-7. Penanaman Modal Dalam Negeri yang selanjutnya disebut PMDN adalah penggunaan daripada kekayaan masyarakat Indonesia, termasuk hak-hak dan benda-benda, baik yang dimiliki oleh negara maupun swasta nasional atau swasta asing yang berdomisili di Indonesia yang disisihkan/disediakan guna menjalankan suatu usaha sepanjang modal tersebut tidak diatur oleh ketentuan Pasal 2 Undang-undang nomor 1 tahun 1967 tentang PMA, baik secara langsung atau tidak langsung untuk menjalankan usaha menurut atau berdasarkan ketentuan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1968 tentang PMDN. 8. Penanam modal adalah penanam modal yang berdomisili di Indonesia yang dalam menjalankan usahanya tidak diatur oleh ketentuan Undang-undang nomor 1 tahun 1967 tentang PMA dan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1968 tentang PMDN. 9. Penanaman Modal Asing yang selanjutnya disebut PMA adalah penanaman modal asing secara langsung yang dilakukan menurut atau berdasarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang PMA yang digunakan untuk menjalankan perusahaan di Indonesia dalam arti bahwa pemilik modal secara langsung menanggung resiko dari penanaman modal tersebut. 10. Modal Asing adalah : - Alat pembayaran luar negeri yang tidak merupakan bagian dari kekayaan devisa Indonesia, yang dengan persetujuan Pemerintah digunakan untuk pembiayaan perusahaan di Indonesia; - Alat-alat untuk perusahaan, termasuk penemuan-penemuan dari milik orang asing dan bahan-bahan, yang dimasukkan dari luar ke dalam wilayah Indonesia, selama alat-alat tersebut tidak dibiayai dari kekayaan devisa Indonesia; - Bagian dari hasil perusahaan yang berdasarkan Undang-undang ini diperkenankan ditransfer, tetapi dipergunakan untuk membiayai perusahaan di Indonesia. 11. Penanaman modal baru adalah penanaman modal yang diajukan oleh calon penanam modal untuk mendirikan dan menjalankan usaha baru, baik PMDN, PMA maupun Non fasilitas. 12. Perluasan penanaman modal adalah perluasan/penambahan modal untuk menambah kapasitas terpasang yang disetujui dan/atau menambah jenis produksi barang/jasa. 13. Perluasan

- 5-13. Perluasan penanaman modal di subsektor tanaman pangan dan perkebunan adalah peningkatan investasi untuk membiayai satu atau lebih kegiatan sebagai berikut : - Diversifikasi, yaitu menambah jenis tanaman; dan/atau - Peremajaan/rehabilitasi yang menggunakan bibit unggul; dan/atau - Intensifikasi, yaitu meningkatkan produksi tanpa menambah lahan; dan/atau - Menambah kapasitas produksi unit pengolahan; dan/atau - Menambah areal tananaman; dan/atau - Integrasi usaha dengan usaha industri hulu serta hilir. 14. Restrukturisasi adalah suatu kegiatan untuk mengganti mesin utama (menambah peralatan atau komponen mesin) untuk meningkatkan kualitas atau meningkatkan efisiensi proses produksi tanpa menambah kapasitas. 15. Perubahan penanaman modal adalah perubahan atas perubahan ketentuan-ketentuan penanaman modal yang telah ditetapkan dalam persetujuan penanaman modal sebelumnya. 16. Persetujuan Penanaman Modal adalah persetujuan penanaman modal Asing, Dalam Negeri dan Non Fasilitas yang diberikan dalam rangka pelaksanaan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1968 jo. Nomor 12 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 jo. Nomor 11 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Asing Ketentuan Penanaman Modal Non Fasilitas. 17. Persetujuan perluasan adalah persetujuan penambahan modal untuk menambah kapasitas terpasang yang disetujui dan/atau menambah jenis produksi barang dan jasa. 18. Persetujuan perubahan penanaman modal adalah persetujuan atas perubahan ketentuan-ketentuan penanaman modal tertentu yang telah ditetapkan dalam persetujuan penanaman modal sebelumnya. 19. Angka Pengenal Importir Terbatas (APIT) adalah angka pengenal yang dipergunakan sebagai izin memasukkan (impor) barang modal dan bahan baku/penolong untuk pemakaian sendiri dalam proses produksi proyek penanaman modal yang telah disetujui Pemerintah. 20. Angka Pengenal Importir Umum (APIU) adalah angka pengenal yang dipergunakan sebagai izin memasukkan (impor) barang modal dan bahan baku/penolong untuk pemakaian sendiri dalam proses produksi proyek penanaman modal yang telah disetujui Pemerintah atau untuk diperdagangkan sebagaimana telah disetujui Pemerintah. 21. Rencana..

- 6-21. Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) adalah persetujuan rencana jumlah, jabatan dan lama penggunaan tenaga kerja asing yang diperlukan sebagai dasar untuk persetujuan pemasukan Tenaga Kerja Warga Negara Asing Pendatang (TKWNAP) dan penerbitan Izin Kerja Warga Negara Asing Pendatang (IKTA). 22. Izin Kerja Tenaga Kerja Warga Negara Asing Pendatang (IKTA) adalah izin bagi perusahaan untuk mempekerjakan sejumlah tenaga kerja warga negara asing pendatang dalam jabatan dan periode tertentu. 23. Izin Usaha Tetap (IUT) adalah izin yang wajib dimiliki oleh perusahaan untuk melaksanakan kegiatan produksi komersial baik produksi barang dan atau produksi jasa. 24. Izin Usaha Perluasan adalah izin yang wajib dimiliki oleh perusahaan untuk melaksanakan kegaiatan produksi komersial atas penambahan produksi barang dan atau produksi jasa. 25. Perubahan status adalah perubahan yang khusus dimohon untuk mengubah status penanaman modal dari PMDN atau Non Fasilitas menjadi PMA, atau dari PMA menjadi PMDN sebagai akibat adanya perubahan pemilikan saham. 26. Merger adalah penggabungan 2 (dua) atau lebih perusahaan yang didirikan dalam rangka PMDN dan/atau PMA dan/atau Non Fasilitas yang sudah berproduksi komersial dan telah memiliki IUT ke dalam suatu perusahaan yang akan meneruskan semua kegiatan perusahaan yang bergabung sedangkan perusahaan yang menggabung dilikuidasi. 27. Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) adalah laporan berkala mengenai perkembangan kegiatan perusahaan penanaman modal. 28. Kawasan Berikat adalah suatu bangunan, tempat atau kawasan dengan batas-batas tertentu yang didalamnya dilakukan kegiatan usaha industri pengolahan barang dan bahan, kegiatan rancang bangun, perekayasaan, penyortiran, pemeriksaan awal, pemeriksaan akhir dan pengepakan atas barang dan bahan hasil impor atau barang dan bahan dari dalam Daerah Pabean Indonesia lainnya yang hasilnya terutama untuk tujuan ekspor. 29. Penyelenggara Kawasan Berikat adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berbentuk Persero atau Otorita yang khusus dibentuk untuk maksud mengusahakan dan/atau mengelola Kawasan Berikat. 30. Kawasan..

- 7-30. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) adalah wilayah geografis dengan batas-batas tertentu yang memenuhi persyaratan, memiliki potensi untuk cepat tumbuh dan/atau mempunyai sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitarnya dan/atau memerlukan investasi di wilayah sekitarnya dan/atau memerlukan investasi yang besar untuk pengembangannya. 31. Badan Pengelola Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) adalah Badan yang khusus dibentuk untuk maksud mengusahakan dan/atau mengelola KAPET. 32. Usaha Kecil adalah kegiatan usaha yang memenuhi kriteria sebagai berikut : a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau b. Memiliki hasil penjualan tahun paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah); c. Milik Warga Negara Indonesia; d. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar; e. Berbentuk usaha orang perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk Koperasi. BAB II PERMOHONAN PENANAMAN MODAL BARU Pasal 2 (1) Permohonan penanaman modal baru dalam rangka PMDN dan Non Fasilitas dapat diajukan oleh peseroan terbatas (PT), Commanditaire Vennotschap (CV), Firma (Fa), Badan Usaha Koperasi, BUMN, BUMD, atau perorangan. (2) Permohonan penanaman modal baru dalam rangka PMA dapat diajukan oleh : a. Warga negara asing dan/atau badan hukum asing dan/atau perusahaan PMA; atau b. Warga negara asing dan/atau badan hukum asing dan/atau perusahaan PMA bersama dengan warga negara Indonesia dan/atau badan hukum Indonesia. (3) Permohonan penanaman modal baru sebagai mana dimaksud dalam ayat (1), diajukan kepada Bupati melalui BKPMD, dengan berpedoman kepada : - Daftar bidang usaha dalam mengajukan tertutup bagi penanaman modal; - Bidang/jenis usaha yang dicadangkan untuk usaha kecil dan bidang/jenis usaha yang terbuka untuk usaha menengah atau usaha besar dengan syarat kemitraan; - Ketentuan lain yang dikeluarkan oleh Pemerintah. (4) Permohonan

- 8 - (4) Permohonan penanaman modal baru dalam rangka PMA diajukan kepada Bupati melalui BKPMD dan dapat juga diajukan kepada Kantor Perwakilan RI di luar negeri. (5) Permohonan penanaman modal baru yang berlokasi di lintas 2 (dua) atau lebih Kabupaten/Kota, diajukan kepada BKPMD Propinsi, dan untuk lintas Propinsi diajukan kepada Kepala BKPM. (6) Permohonan penanaman modal baru sebagaimana di maksud dalam ayat 1 (satu) diajukan sebanyak 2 (dua) rangkap dengan menggunakan formulir Model I. (7) Persetujuan atas permohonan penanaman modal sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 (satu) dikeluarkan oleh Bupati melalui BKPMD Kabupaten Tangerang. (8) Persetujuan penanaman modal sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), selain dikeluarkan oleh Bupati dalam hal ini BKPMD dapat pula dikeluarkan oleh Kantor Perwakilan RI di Luar Negeri. (9) Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat 7 diterbitkan selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja sejak permohonan diterima. Pasal 3 (1) Surat Persetujuan Penanaman Modal akan batal dengan sendirinya apabila dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak tanggal dikeluarkan tidak ada realisasi proyek dalam bentuk kegiatan yang nyata baik dalam bentuk administrasi ataupun dalam bentuk fisik. (2) Kegiatan nyata dalam bentuk administrasi yaitu kegiatan memperoleh perizinan berupa : a. Izin Lokasi atau perjanjian sewa gedung khusus bidang jasa atau Surat Izin; b. Pertambangan Daerah (SIPD) Atau Kuasa Peratambangan (KP) khusus bidang usaha pertambangan; dan c. Rekening bank atas nama perusahaan PMA (khusus bagi perusahaan PMA baru); dan d. SP Pabean Barang Modal; dan/atau e. APIT; dan/atau f. RPTK bagi yang menggunakan TKWNAP; dan/atau g. IMB, dan/atau; h. Izin HO/UUG; i. Akta Pendirian Perusahaan yang telah disyahkan oleh Menteri Kehakiman dan HAM untuk perusahaan penyertaan modal. 3. Kegiatan

- 9 - (3) Kegiatan dalam bentuk fisik merupakan kegiatan yang telah dilakukan untuk : a. Bidang industri, telah ada kegiatan pokok berupa pembebasan lahan sekurang-kurang 25% dari luas yang tercantum dalam b. Bidang usaha jasa dan jasa penyertaan modal (holding), pada umumnya telah ada kegiatan pokok berupa pembebasan lahan sekurang-kurangnya 25% dari luas yang tercantum dalam surat persetujuan, atau ruang perkantoran/gedung. BAB III PERMOHONAN PERLUASAN PENANAMAN MODAL Pasal 4 (1) Permohonan perluasan penanaman modal diajukan oleh perusahaan yang telah memiliki IUT. (2) Dalam hal jenis produksi berbeda dengan proyek sebelumnya atau lokasi perluasan usahanya berada dalam Kabupaten/Kota yang berbeda dengan proyek sebelumnya, permohonan perluasan dapat diajukan tanpa dipersyaratkan memiliki IUT atas proyek sebelumnya. (3) Permohonan perluasan Penanaman Modal sebagaimana tersebut pada ayat (1) dibuat sebanyak 2 (dua ) rangkap diajukan kepada Bupati melalui BKPMD. (4) Pemohon perluasan penanaman modal yang berlokasi di lintas Propinsi diajukan kepada Kepala BKPM. Untuk yang berlokasi di lintas Kabupaten/Kota dalam satu propinsi diajukan ke Propinsi. (5) Persetujuan perluasan penanaman modal atas permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) di keluarkan oleh Bupati melalui BKPMD. (6) Persetujuan perluasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) diterbitkan selambat-lambatnya 10 hari kerja sejak permohonan yang telah lengkap diterima. (7) Apabila jangka waktu 3 (tiga) tahun, terhitung sejak tanggal SP Perluasan di keluarkan tidak ada realisasi proyek dalam bentuk kegiatan nyata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 maka SP Perluasan tersebut akan batal dengan sendirinya. BAB

- 10 - BAB IV PERUBAHAN PENANAMAN MODAL Bagian Pertama Jenis Perubahan Penanaman Modal Pasal 5 (1) Yang dimaksud dengan jenis perubahan Penanaman Modal adalah : a. Perubahan lokasi Proyek; b. Perubahan bidang usaha dan Produksi; c. Perubahan investasi dan sumber Pembiayaan; d. Perubahan Kepemilikan Saham PMA; e. Perubahan status PMA Menjadi PMDN; f. Perubahan status perusahan PMDN dan Non Fasilitas menjadi perusahaan PMA; g. Perpanjangan waktu penyelesaian proyek penanaman modal; h. Penggabungan perusahaan (merger); i. Perubahan nama perusahaan; j. Perubahan bentuk pola kemitraan dan atau mitra usaha (Khusus bagi bidang usaha yang dipersyaratkan kemitraan dengan usaha kecil); k. Perubahan penggunaan tenaga kerja. (2) Permohonan atas jenis perubahan penanaman modal sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1), berlaku untuk semua persetujuan penanaman modal yang lokasinya berada di Kabupaten Tangerang. (3) Setiap perubahan atas ketentuan proyek dalam rangka Penanaman Modal wajib mengajukan permohonan kepada Bupati melalui BKPMD. (4) Setiap permohonan harus di tanda tangani oleh pimpinan perusahaan atau direksi yang berwenang atau pihak yang diberi kuasa disertai dengan surat kuasa. Bagian Kedua Perubahan Lokasi Proyek Pasal 6 (1) a. Setiap perusahaan dan atau penanam modal yang akan melakukan perubahan lokasi penanaman modal di wilayah Kabupaten Tangerang wajib mengajukan Permohonan kepada Bupati melalui BKPMD; b. Perubahan

- 11 - b. Perubahan lokasi proyek ke luar Kabupaten Tangerang, wajib dilaporkan kepada Bupati melalui BKPMD. (2) Permohonan perubahan lokasi proyek sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a diajukan 2 (dua) rangkap dengan menggunakan formulir Model III. (3) Persetujuan perubahan atas permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dikeluarkan oleh Bupati dalam hal ini Kepala BKKPMD. (4) Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diterbitkan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak permohonan yang telah lengkap diterima. Bagian Ketiga Perubahan Bidang Usaha dan Produksi Pasal 7 (1) Permohonan perubahan bidang usaha dan produksi, perusahaan PMDN, PMA dan Non Fasilitas wajib diajukan kepada Bupati melalui BKPMD. (2) Permohonan perubahan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 diajukan 2 (dua) rangkap dengan menggunakan formulir Model III. (3) Persetujuan perubahan atas permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikeluarkan oleh Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD. (4) Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diterbitkan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak permohonan yang telah lengkap diterima. Bagian Keempat Perubahan Investasi Dan Sumber Pembiayaan Pasal 8 (1) Perusahaan PMDN, PMA Non Fasilitas yang mengadakan perubahan investasi dan sumber pembiayaan wajib mengajukan permohonan kepada Bupati melalui BKPMD. 2. Perubahan sebagaimana

- 12 - (2) Perubahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah perubahan yang mengakibatkan perubahan fasilitas yang diperoleh dan/atau sumber pembiayaan dalam rangka memperbaiki struktur permodalan. (3) Permohonan perubahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang diajukan 2 (dua) rangkap dengan menggunakan formulir Model III. (4) Persetujuan perubahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikeluarkan oleh Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD. (5) Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diterbitkan selambat-selambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak permohonan yang telah lengkap diterima. Bagian Kelima Perubahan Kepemilikan Saham Perusahaan PMA Pasal 9 (1) Permohonan perubahan kepemilikan saham bagi perusahaan PMA wajib mengajukan permohonan kepada Bupati melalui Kepala BKPMD. (2) Permohonan perubahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diajukan 2 (dua) rangkap dengan menggunakn formulir Model III. (3) Persetujuan perubahan atas permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dikeluarkan oleh Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD. (4) Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diterbitkan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak permohonan yang telah lengkap diterima. Bagian Keenam Perubahan Status Perusahaan PMA Menjadi PMDN Pasal 10 (1) Bagi Perusahaan PMA yang seluruh pemilikan sahamnya menjadi milik peserta Indonesia, maka perusahaan berubah status menjadi PMDN dan wajib memperoleh persetujuan Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD. (2) Permohonan persetujuan

- 13 - (2) Permohonan persetujuan perubahan status sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diajukan 2 (dua) rangkap dengan menggunakan formulir Model III. (3) Persetujuan perubahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dikeluarkan oleh Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD. (4) Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diterbitkan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak permohonan yang lengkap diterima. Bagian Ketujuh Perubahan Status Perusahaan PMDN atau Non Fasilitas Menjadi Perusahaan PMA Pasal 11 (1) Perusahaan PMDN atau non Fasilitas yang telah sah berbadan hukum yang akan dirubah menjadi perusahaan PMA dan atau badan hukum asing dan atau sahamnya dimiliki warga negara asing, wajib mengajukan permohonan perubahan status tersebut kepada Bupati melalui BKPMD. (2) Pembelian saham perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan hanya apabila bidang usaha perusahaan dimaksud tidak dinyatakan tertutup bagi penanaman modal asing. (3) Permohonan perubahan status perusahaan menjadi PMA sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diajukan 2 (dua) rangkap dengan menggunakan formulir Model III.B. (4) Persetujuan atas permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dikeluarkan oleh Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD. (5) Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) diterbitkan selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sejak permohonan yang telah lengkap diterima. Bagian Kedelapan Perpanjangan Waktu Penyelesaian Proyek Penanaman Modal Pasal 12 (1) Bagi perusahaan yang belum berproduksi komersil sedangkan waktu penyelesaian proyek akan berakhir wajib memperoleh perstujuan perpanjangan dari Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD. (2) Permohonan perpanjangan

- 14 - (2) Permohonan perpanjangan waktu penyelesaian proyek sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diajukan 2 (dua) rangkap kepada Bupati melalui Kepala BKPMD. (3) Persetujuan perpanjangan waktu penyelesaian proyek sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dikeluarkan oleh Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD. (4) Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diterbitkan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak permohonan yang telah lengkap diterima. (5) Persetujuan perpanjangan waktu penyelesaian proyek sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) sekaligus juga memperpanjang jangka waktu pengimporan. Bagian Kesembilan Penggabungan Perusahaan (Merger) Pasal 13 (1) Perusahaan yang akan meneruskan kegiatan usahanya sebagai akibat terjadinya penggabungan (merger) wajib memperoleh persetujuan Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD. (2) Perusahaan yang meneruskan kegiatan usaha maupun yang akan menggabung harus sudah memiliki neraca dan perhitungan laba rugi 3 (tiga) tahun buku terakhir. (3) Status perusahaan penggabungan perusahaan (merger), ditentukan oleh status perusahaan yang meneruskan kegiatan usaha : a. Dalam hal perusahaan yang meneruskan kegiatan usaha adalah perusahaan PMDN dan setelah penggabungan perusahaan (merger) tidak ada warga negara asing dan atau badan hukum asing dan/atau perusahaan PMA sebagai pemegang saham, maka status perusahaan tetap PMDN; b. Dalam hal perusahaan yang meneruskan kegiatan usaha adalah perusahaan PMDN dan setelah penggabungan perusahaan (merger) terdapat warga negara asing dan/atau badan hukum asing dan/atau perusahaan PMA sebagai pemegang saham, maka status perusahaan berubah menjadi PMA; c. Dalam hal yang bergabung adalah perusahaan perusahaan PMA, maka status perusahaan tetap PMA. 4. Bagi perusahaan

- 15 - (4) Bagi perusahaan yang meneruskan kegiatan usaha setelah pengabungan perusahaan (merger) yang sebagian saham perusahaan dimiliki oleh warga negara asing dan/atau badan hukum asing dan/atau perusahaan PMA, tidak diizinkan memasuki kegiatan usaha yang dinyatakan tertutup bagi penanaman modal asing. (5) Dalam hal perusahaan yang akan menggabung masih mempunyai proyek dalam tahap pembangunan/konstruksi dimana sebagian mesin/peralatan sudah diimpor, perusahaan yang akan meneruskan kegiatan usaha harus terlebih dahulu mengajukan permohonan perluasan bidang usaha yang masih dalam tahap konstruksi tersebut. (6) Fasilitas perpajakan yang dimiliki oleh masing-masing perusahaan yang menggabung dan belum dimanfaatkan dinyatakan batal dan tidak dapat dimanfaatkan lebih lanjut oleh perusahaan yang meneruskan kegiatan usahanya. (7) Permohonan penggabungan perusahaan (merger) sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diajukan kepada Bupati melalui BKPMD dalam rangkap 2 (dua) dilengkapi dengan : a. Rekaman Akta pendirian dan perubahan masing-masing perusahaan yang bergabung; b. Rekaman IUT bagi perusahaan yang akan meneruskan kegiatan usaha, apabila belum memiliki IUT perlu dilengkapi dengan BAP; c. Risalah RUPS tentang persetujuan untuk bergabung dari masing-masing perusahaan yang bergabung; d. Rekaman LKPM periode terakhir untuk perusahaan PMA dan perusahaan PMDN yang akan meneruskan kegiatan usaha. (8) Persetujuan atas permohonan penggabungan perusahaan (merger) sebagaimana dimaksud dalam ayat (7) disampaikan kepada pemohon dengan tembusan kepada instansi terkait sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (6) untuk PMDN dan Pasal 6 ayat (7) untuk PMA. (9) Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (8) diterbitkan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak permohonan yang telah lengkap dan benar diterima. Bagian

- 16 - Bagian Kesepuluh Perubahan Nama P Pasal 14 (1) Perubahan nama perusahaan PMA, PMDN dan Non Fasilitas diberitahukan secara tertulis kepada Bupati melalui Kepala BKPMD. (2) Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilengkapi dengan : a. Rekaman akta perubahan yang memuat perubahan nama perusahaan yang telah mendapatkan pengesahan Departemen Kehakiman; atau b. Kesepakatan para pihak bagi perusahaan PMA yang belum mendapat pengesahaan Menteri Kehakiman. (3) Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD mengeluarkan Persetujuan Perubahan Nama Perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2). (4) Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diterbitkan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak laporan perubahan nama diterima secara lengkap. Bagian Kesebelas Perubahan Bentuk/Pola Kemitraan dan/atau Mitra Usaha ( Khusus Bagi Bidang Usaha Yang Dipersyaratkan Kemitraan Dengan Usaha Kecil) Pasal 15 (1) Perusahaan PMDN, PMA dan Non Fasilitas yang menanamkan modalnya di bidang usaha yang dipersyaratkan kemitraan dengan usaha kecil wajib mendapatkan persetujuan dari Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD. (2) Perubahan bentuk/pola kemitraan dan atau mitra usaha yang dilakukan perusahaan wajib diberitahukan secara tertulis kepada Bupati melalui Kepala BKPMD. (3) Perubahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak boleh meniadakan kewajiban kemitraan yang telah dietapkan dalam persetujuan. (4) Pemberitahuan sebagaimana.

- 17 - (4) Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diajukan kepada Bupati melalui Kepala BKPMD dilengkapi dengan : a. Alasan perubahan bentuk/pola kemitraan dan/atau mitra usaha; b. Perubahan Kesepakatan/perjanjian kerjasama tertulis mengenai kesepakatan bermitra dengan usaha kecil, yang antara lain memuat nama dan alamat masing-masing pihak, pola kemitraan yang akan digunakan, hak dan kewajiban masing-masing pihak, dan bentuk pembinaan yang diberikan kepada usaha kecil; c. Akta perubahan atau risalah RUPS mengenai persyaratan Usaha Kecil yang baru sebagai pemegang saham, apabila kemitraan dalam bentuk penyertaan saham; d. Surat Pernyataan di atas materai dari: 1). Mitra Usaha kecil yang baru bahwa yang bersangkutan memenuhi kriteria Usaha Kecil; 2). Mitra Usaha Kecil yang lama bahwa yang bersangkutan bersedia mengundurkan diri dari kemitraan usaha (khusus bagi kemitraan bukan dalam bentuk penyertaan saham). (5) Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD mengeluarkan Persetujuan Perubahan Pola Kemitraan sebagaiman dimaksud dalam ayat (2) dan (3). (6) Persetujuan Perubahan Pola Kemitraan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) diterbitkan selambat-lambatnya 4 (empat) hari kerja sejak laporan perubahan pola kemitraan secara lengkap diterima. Bagian Keduabelas Perubahan Penggunaan tenaga Kerja Asing Pasal 16 (1) Perubahan penggunaan tenaga kerja asing bagi perusahaan PMDN, PMA dan Non Fasilitas wajib mendapat persetujuan dari Bupati dalam hal ini Kepala Dinas Tenaga Kerja. (2) Permohonan perubahan penggunaan tenaga kerja asing diajukan kepada Bupati melalui Kepala Dinas Tenaga Kerja dengan menggunakan formulir Model III. (3) Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diterbitkan selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja sejak permohonan yang telah lengkap diterima. BAB V

- 18 - BAB V KETENTUAN KHUSUS BAGI BIDANG USAHA DAN KEGIATAN USAHA TERTENTU Bagian Pertama Pertambangan Golongan Bahan Galian C Dalam Rangka PMDN Pasal 17 (1) Permohonan penanaman modal baru di bidang pertambangan golongan bahan galian C, diajukan secara tertulis kepada Bupati melalui Kepala BKPMD. (2) Penanaman modal di bidang pertambangan tertutup bagi penanaman modal asing. (3) Dalam setiap pemberian Persetujuan PMDN untuk pertambangan golongan bahan galian C harus dipertimbangkan aspek tehnis, lingkungan ekonomi, Sosial dan SDA yang disyahkan oleh Dinas/Instansi/Lembaga terkait. (4) Persetujuan atas permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikeluarkan oleh Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD. (5) Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diterbitkan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak permohonan yang telah lengkap diterima. (6) Apabila dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak Persetujuan dikeluarkan tidak ada realisasi proyek dalam bentuk kegiatan nyata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, maka Persetujuan tersebut akan batal dengan sendirinya. Bagian Kedua Kantor Perwakilan Wilayah Perusahaan Asing Pasal 18 (1) Pendirian Kantor Perwakilan Wilayah Perusahaan Asing (KPWPA) diluar bidang keuangan, wajib memperroleh izin Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD. (2) Permohonan izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diajukan 2 (dua) rangkap dengan menggunakan formulir Model KPWPA. (3) Izin pendirian KPWPA dikeluarkan Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD. (4) Izin sebagaimana

- 19 -. (4) Izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diterbitkan selambatlambatnya 5 (lima) hari kerja sejak permohonan yang telah lengkap diterima. Bagian Ketiga Perusahaan Penyertaan Modal Pasal 19 (1) Permohonan pendirian Perusahaan Penyertaan Modal dalam rangka PMDN, PMA dan Non Fasilitas dapat diajukan oleh Badan Hukum dan/atau Warga Negara Asing dan/atau Badan Hukum Indonesia dan/atau Warga Negara Indonesia kepada Bupati melalui Kepala BKPMD. (2) Permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diajukan dalam rangkap 2 (dua) dengan menggunakan Formulir khusus. (3) Persetujuan pendirian Perusahaan Penyertaan Modal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikeluarkan oleh Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD. (4) Persetujuan dimaksud dalam ayat (5) diterbitkan selambatlambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sejak pemohon yang telah lenkap diterima. (5) Apabila dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak Persetujuan dikeluarkan tidak ada realisasi proyek dalam bentuk kegiatan nyata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 maka Persetujuan tersebut akan batal dengan sendirinya. Bagian Keempat Lokasi Khusus Kawasan berikat dan dikawasan pengembangan ekonomi terpadu Pasal 20 (1) Permohonan Penanaman Modal baru diajukan kepada penyelenggara Kawasan Berikat bagi yang berlokasi di Kawasan Berikat dan diajukan kepada Badan Pengelola KAPET bagi yang berlokasi di KAPET. (2) Penyelenggara Kawasan Berikat atau KAPET yang telah mendapat pelimpahan kewenangan, menilai permohonan proyek baru, perluasan dan perubahan dalam rangka PMDN dan PMA. Hasil penilaian permohonan tersebut disampaikan kepada Bupati melalui Kepala BKPMD. (3) Persetujuan permohonan

- 20 - (3) Persetujuan permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikeluarkan oleh Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD. (4) Penyelenggara Kawasan Berikat atau KAPET yang telah mendapat pelimpahan kewenangan, menyelenggarakan penilaian permohonan izin-izin pelaksanaan penanaman modal yang diperlukan. Hasil penilaian permohonan disampaikan kepada Bupati melalui Kepala BKPMD. (5) Izin sebagaimana dimaksud ayat (4) dikeluarkan oleh Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD. BAB VI PERSETUJUAN DAN IZIN PELAKSANAAN PENANAMAN MODAL Bagian Pertama pengimporan barang modal dan bahan baku/penolong Pasal 21 (1) Permohonan persetujuan pengimporan barang modal dan bahan baku/penolong dengan memperoleh fasilitas bagi perusahaan PMDN dan PMA diajukan kepada Bupati melalui Kepala BKPMD. (2) Permohonan sebagaimana dimaksud ayat (1) untuk proyek baru, perluasan dan diversifikasi, diajukan 2 (dua) rangkap dengan menggunakan formulir Model IV.A Daftar Induk Barang Modal dan model IV.B Daftar Induk Bahan baku Penolong. (3) Persetujuan Pengimporan barang modal dengan fasilitas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dikeluarkan oleh Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD. (4) Permohonan perubahan atas persetujuan pengimporan barang modal yang telah dimiliki, diajukan kepada Bupati melalui Kepala BKPMD. (5) Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diterbitkan selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sejak permohonan yang telah lengkap dan benar diterima. (6) Jangka waktu berlakunya SP Fasilitas Pabean Barang Modal disesuaikan dengan waktu penyelesaian proyek. 7. Apabila barang modal.

- 21 - (7) Apabila barang modal (mesin-mesin/peralatan) yang telah diimpor sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) akan dire-ekspor maka perusahaan mengajukan surat permohonan rekomendasi kepada Bupati melalui Kepala BKPMD. (8) Bagi perusahaan yang belum memiliki IUT, baik dalam rangka PMDN maupun PMA, diberikan fasilitas pengimporan bahan baku/penolong untuk kebutuhan 1 (satu) tahun produksi degan jangka waktu pengimporan 1 (satu) tahun. Tambahan kebutuhan bahan baku untuk tahun kedua dapat diberikan setelah perusahaan memiliki IUT dengan perpanjangan jangka waktu pengimporan selama 1 (satu) tahun sejak berakhirnya SP Pabean pertama. (9) Bagi perusahaan yang telah memiliki IUT, baik dalam rangka PMDN maupun PMA, diberikan fasilitas pengimporan bahan baku untuk kebutuhan 2 (dua) tahun produksi dengan jangka waktu pengimporan diberikan sekaligus selama 2 (dua) tahun. Bagian Kedua Angka Pengenal Importir Pasal 22 (1) Perusahaan PMDN atau perusahaan PMA yang akan melaksanakan sendiri pengimporan barang modal dan/atau bahan baku/penolong, wajib memiliki Angka Pengenal Importir Terbatas (APIT). (2) Permohonan untuk memperoleh APIT sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diajukan kepada Bupati melalui Kepala BKPMD. (3) Permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diajukan 2 (dua) rangkap dengan menggunakan formulir APIT. (4) Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) APIT dikeluarkan oleh Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD. (5) APIT sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) diterbitkan selambatlambatnya 5 (lima) hari kerja sejak permohonan yang telah lengkap diterima. (6) APIT berlaku sejak ditetapkan dan selama perusahaan yang bersangkutan masih berproduksi. (7) Perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) wajib mengajukan permohonan kepada Bupati melalui Kepala BKPMD setempat untuk setiap perubahan nama, alamat, dan direksi perusahaan atau perubahan yang menandatangani dokumen impor, guna mendapatkan persetujuan perubahan APIT. Bagian Ketiga

- 22 - Bagian Ketiga Izin Kerja Bagi Tenaga Kerja Warga Negara Asing Pendatang Pasal 23 (1) Perusahaan PMDN, PMA dan Non Fasilitas yang akan mempekerjakan tenaga kerrja warga negara asing pendatang wajib memiliki Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Warga Negara Asing Pendatang (RPTKA). (2) Permohonan untuk memperoleh RPTKA sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1), diajukan kepada Bupati dalam hal ini Dinas tenaga Kerja. (3) Permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diajukan dengan menggunakan formulir RPTKA dan berpedoman kepada ketentuan Departemen Tenaga Kerja. (4) Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), dikeluarkan oleh Bupati dalam hal ini Dinas Tenaga Kerja. (5) Persetujuan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (4) diterbitkan selambat-lambatnya 4 (empat) hari kerja sejak permohonan yang lengkap dan benar diterima. Pasal 24 (1) Tenaga Keraja Warga Negara Asing Pendatang (TKWNAP) pada perusahaan PMDN, PMA dan Non Fasilitas serta Kantor Perwakilan Wilayah Perusahaan Asing (KPWPA) yang sudah siap datang ke Indonesia wajib memiliki Visa Tinggal Terbatas (VITAS) yang dikeluarkan oleh Kepala Perwakilan Republik Indonesia. (2) Untuk mendapat VITAS sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), perusahaan harus memiliki rekomendasi TA.01 dari Bupati dalam hal ini Dinas Tenaga Kerja. (3) Permohonan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (2) diajukan 1 (satu) rangkap dengan menggunakan formulir Ppt.2. (4) Rekomendasi TA.01 sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dikeluarkan oleh Bupati dalam hal ini Dinas Tenaga Kerja. (5) Rekomendasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) diterbitkan selambat-lambatnya 4 (empat) hari kerja sejak permohonan yang lengkap diterima. Pasal 25..

- 23 - Pasal 25 Perusahaan yang bersangkutan mengajukan permohonan penerbitan Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS) kepada Kantor Imigrasi setempat dengan menggunakan formulir KITAS dan melampirkan bukti kartu embarkasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku setelah TKWNAP datang dengan VITAS Pasal 26 (1) TKWNAP yang telah memperoleh VITAS dan akan bekerja di Indonesia wajib memperoleh IKTA. (2) Permohonan IKTA diajukan oleh sponsor kepada Bupati melalui Dinas Tenaga Kerja. (3) Persetujuan permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) IKTA dikeluarkan oleh Bupati dalam hal ini Dinas Tenaga Kerja dalam bentuk SK-IKTA dan Buku Legimitasi. (4) Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diterbitkan selambat-lambatnya 4 (empat) hari kerja sejak permohonan yang lengkap dan benar diterima. Pasal 27 (1) Permohonan perpanjangan IKTA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (3) diajukan 1 (satu) rangkap dengan menggunakan formulir Ppt.2 diajukan kepada Bupati melalui Dinas Tenaga Kerja dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sebelum IKTA TKWNAP yang bersangkutan habis masa berlakunya. (2) Berdasarkan persetujuan atas permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Bupati dalam hal ini Kepala Tenaga Kerja mengeluarkan Surat Rekomendasi perpanjangan KITAS kepada Kantor Imigrasi setempat dengan menggunakan bentuk TA.02. (3) Sementara menunggu perpanjangan KITAS, Bupati dalam hal ini Kepala Dinas Tenaga Kerja mengeluarkan Surat Keterangan IKTA Sementara yang berlaku selama 2 (dua) bulan, dengan menggunakan bentuk TA.04. (4) Rekomendasi dan Surat Keterangan IKTA sementara sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diterbitkan selambatlambatnya 4 (empat) hari kerja sejak permohonan yang lengkap diterima. 5. Berdasarkan.

- 24 - (5) Berdasarkan persetujuan perpanjangan KITAS sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), perusahaan menyampaikan rekaman perpanjangan KITAS kepada Bupati melalui Kepala Dinas tenaga kerja. (6) Berdasarkan rekaman KITAS sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) SK perpanjangan IKTA diterbitkan Bupati dalam hal ini Kepala Dinas Tenaga Kerja. (7) SK perapanjangan IKTA sebagaimana dimaksud dalam ayat (6), diterbitkan selambat-lambatnya 4 (empat) hari kerja sejak permohonan yang lengkap diterima. (8) Perusahaan wajib mengajukan permohonan kepada Bupati melalui Dinas Tenaga Kerja untuk perubahan penggunaan TKWNAP yang pindah jabatan, alih sponsor atau pindah lokasi. Pasal 28 (1) TKWNAP diluar Direksi dan Komisaris yang telah bekerja selama 3 (tiga) tahun berturut-turut di Indonesia termasuk Kabupaten Tangerang harus keluar dari wilayah Indonesia dengan status Exit Permit Only (EPO). (2) Apabila TKWNAP sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) masih diperlukan oleh perusahaan, perusahaan sponsor wajib menempuh prosedur baru dengan mempergunakan rekomenasi TA.01 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (4) berdasarkan RPTKA yang berlaku dilengkapi dengan rekaman bukti EPO. Pasal 29 (1) Perusahaan PMA, PMDN dan Non Fasilitas dapat mendatangkan TKWNAP yang akan digunakan sejak masa konstruksi (bukan erector) sampai ke masa operasional, dengan mengajukan permohonan kepada Bupati melalui Kepala BKPMD sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (2) TKWNAP yang digunakan oleh perusahaan sponsor maupun kontraktor hanya dalam masa konstruksi/pembangunan fisik pabrik (erector) termasuk pemasangan mesin-mesin, pengesahan RPTK dan permohonan IKTA diajukan ke Bupati melalui Kepala Dinas Tenaga Kerja. Bagian..

- 25 - Bagian Keempat Izin Lokasi, Pembebasan Dan Penggunaan Tanah Pasal 30 (1) Pengusaha/Penanamam Modal yang berada diluar kawasan industri wajib mangajukan permohonan Ijin Lokasi, Pembebasan dan Penggunaan Tanah serta perpanjangan. (2) Dokumen kelengkapan sebagaimana dimaksud dlam ayat (1) meliputi : - Foto copy KTP atau bukti diri pemohon; - Akta pendirian perusahaan; - Gambar Situasi tanah yang dimohon; - Surat Kuasa Pemegang Ijin; - Lay Out/Pra Site Plan Rencana Penggunaan Tanah; - Foto copy Fatwa Rencana Pengarahan Lokasi; - Surat Keterangan atau foto copy tanda bukti pelunasan PBB tahun terakhir; - Surat Keterangan Lokasi yang dimohon tidak sengketa dari Pejabat setempat diketahui Camat; - Menyampaikan Bank Ggaransi sebesar 60% x Luas Tanah x Harga Tanah yang dimohon; (3) Surat Keputusan Pemberian Ijin Lokasi, Pembebasan Tanah ditandatangani oleh Bupati. (4) Jangka waktu pemberian Ijin Lokasi dan pembebasan Tanah sebagai berikut : a. Ijin Lokasi seluas sampai dengan 25 Ha, 1 (satu) Tahun; b. Ijin Lokasi seluas lebih dari 25 Ha s.d 50 Ha, 2 (dua) Tahun; c. Ijin Lokasi seluas lebih dari 50 Ha, 3 (tiga) Tahun. (5) Perolehan tanah oleh pemegang ijin lokasi harus diselesaikan dalam jangka waktu ijin lokasi; (6) Apabila dalam jangka waktu ijin lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) perolehan tanah belum selesai, maka ijin lokasi dapat diperpanjang jangka waktunya selama 1 (satu) Tahun apabila tanah yang sudah diperoleh mencapai lebih dari 50 % dari tanah yang dimohon dalam ijin lokasi; (7) Ketentuan pelaksanaan ijin lokasi, pembebasan dan penggunaan tanah ditetapkan oleh Bupati. Bagian

- 26 - Bagian Kelima Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Dan Izin Undang-undang Gangguan (HO) Pasal 31 (1) Perusahaan Penanaman Modal yang sudah memiliki Surat Persetujuan dan akan merealisasikan proyeknya wajib memiliki Izin Mendirikan Bangunan dan Undang-Undang Ganguan (HO) dari Bupati atau Pejabat yang berwenang. (2) Pemohon sebagaimana dimaksud ayat 1 berpedoman/mengacu kepada PERDA IMB dan HO, diajukan kepada Bupati atau pejabat yang berwenang. (3) IMB dan HO dikeluarkan oleh Bupati atau pejabat berwenang. Bagian Keenam Izin Usaha Tetap (IUT) Pasal 32 (1) Perusahaan penanaman modal yang akan melaksanakan produksi komersial wajib memiliki Izin Usaha Tetap (IUT). (2) Permohonan sebagaimana dimaksud ayat (1) diajukan kepada Bupati melalui BKPMD dalam rangkap 2 (dua). (3) Persetujuan sebagaimana ayat (2) IUT dikeluarkan oleh Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD berdasarkan hasil pertimbangan tehni dari Dinas/Instansi/Lembaga terkait dalam bidang usaha yang bersangkutan dalam bentuk Surat Keputusan (SK) IUT. (4) IUT sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diterbitkan selambatselambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sejak permohonan yang telah lengkap diterima. (5) Bagi perusahaan insdustri yang berlokasi di Kawasan Industri, Surat Persetujuan Penanaman Modal dinyatakan berlaku sebagai perizinan yang dipersyaratkan untuk melaksanakan kegiatan produksi komersial. Apabila perusahaan sudah beroperasi komersial, wajib membuat Surat Penyataan Siap Berproduksi dan dismpaikan kepada Bupati melalui BKPMD untuk penerbitan IUT. (6) Bagi.

- 27 - (6) Bagi perusahaan PMA, IUT berlaku selama 30 (tiga puluh) tahun sejak produksi komersil dimulai dan bagi perusahaan PMDN selama perusahaan berproduksi komersil/beroperasi sedangkan non fasilitas dengan ketentuan tersendiri. (7) Perusahaan PMA yang melaksanakan perluasan usaha diberikan perpanjangan IUT dengan jangka waktu selama 30 tahun terhitung sejak produksi komersial proyek perluasan usaha dimulai. (8) Perusahaan PMA yang masa berlaku IUT-nya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 Ayat 6 dan 7 akan berakhir. (9) Permohonan pembaharuan IUT sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diajukan 3 (tiga) bulan sebelum IUT berakhir dengan menggunakan formulir permohonan IUT sebanyak 2 (dua) rangkap diajukan kepada Kepala BKPMD. Pasal 33 Permohonan sebagaimana dimaksud dalam pasal 32 ayat 2 (dua) melampirkan : - Rekaman SP dan perubahannya; - Rekaman Akte Pendirian dan pengesahannya serta perubahannya; - Rekaman IMB, UUG/HO, RPTK, IKTA, APIT/APIU; - Dokumen AMDAL (RKL/RPL,UKL/UPL atau SPPL); - LKPM periode terahir; - Hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Lapangan dan rekomendasinya. Pasal 34 (1) Pelaksanaan penerbitan perijinan pada Bagian Kedua sampai dengan Bagian Keenam pada Bab VI ini, mengacu kepada peraturan daerah dan perundangan yang berlaku pada Dinas Insatansi Terkait. (2) Semua perijinan sebagaimana tersebut pada ayat (1) diterbitkan oleh Dinas terkait, setelah pemohon perijinan penanaman modal terlebih dahulu mendapat Surat Persetujuan Penanaman Modal dari Bupati dalam hal ini Kepala BKPMD. (3) Sebelum diterbitkannya Surat Persetujuan Baru dan perijinan dalam rangka pelaksanaan penanaman modal, BKPMD wajib melakukan koordinasi dengan Dinas Instansi terkait. BAB VII..

- 28 - BAB VII PENGAWASAN PENANAMAN MODAL Pasal 35 (1) Pemerintah Daerah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan Penanaman Modal dalam rangka pembinaan, pengendalian, perlindungan dan peningkatan mutu layanan terhadap penanaman modal. (2) Pengawasan dilakukan terhadap realisasi kegiatan administrasi, kegiatan fisik dan produksi komersial. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dilakukan Tim Pengawasan yang ditetapkan oleh Bupati dan dikoordinasikan oleh BKPMD. (4) Ketentuan (5) Tata Cara Pengawasan ditetapkan oleh Bupati. BAB VIII LAPORAN KEGIATAN PENANAMAN MODAL Pasal 36 (1) Setiap penanaman modal yang telah mendapat persetujuan baik dalam tahap pembangunan maupun yang telah berperoduksi komersil, wajib menyampaikan Laporan Kegiatan Penanaman Modal kepada Bupati melalui BKPMD dengan tembusan kepada instansi terkait. (2) Perusahaan PMA dan PMDN yang berlokasi di Kawasan Berikat wajib menyampaikan Laporan Kegitan Penanaman Modal kepada Pengelola Kawasan Berikat dan tembusan kepada Instansi terkait. (3) Badan Koordinasi Penanaman Modal dan Kawasan Berikat melakukan Evaluasi atas setiap LKPM yang diterima masing-masing dan masing-masing dan menyampaikan hasilnya kepada BKPM dengan tembusan kepada : a. Bank Indonesia; b. Kantor Wilayah Departemen Terkait yang bersangkutan; c. Perusahaan yang bersangkutan. BAB IX..

- 29 - BAB IX SANKSI ATAS PELANGGARAN KETENTUAN PENANAMAN MODAL Pasal 37 Apabila perusahaan dalam melaksanakan penanaman modal yang telah disetujui pemerintah ternyata : a. Melanggar peraturan perundang-undangan penanaman modal yang berlaku atau ketentuan proyek penanaman modal yang bersangkutan atau ketentuan perizinan yang telah diberikan; atau b. Menyakahgunakan fasilitas penanaman modal yang telah diberikan oleh pemerintah; atau c. Tidak memenuhi kewajiban menyampaikan LKPNM, sebagaimana dimaksud dalam ketentuan sebelumnya dapat dikenakan sanksi. Pasal 38 (1) Sanksi yang dikenakan terhadap perusahaan sebagaimana tersebut dalam pasal 38 berupa : a. Penolakan pelayanan perizinan; atau b. Penghentian sementara kegiatan pembangunan dan atau kegiatan produksi; atau c. Pencabutan sebagaian atau seluruh fasilitas yang telah diberikan. (2) Bila Perusahaan melakukan tindak pidana, maka kepada yang bertanggungjawab dapat diberikan sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 39 (1) Apabila terjadi pelanggaran yang mengakibatkan timbulnya gangguan terhadap keamanan, keselamatan umum, ketertiban umum dan tindak pidana yang telah mendapatkan keputusan, yang berkekuatan hukum tetap dari pengadilan. Bupati dapat langsung menjatuhkan sanksi tersebut. (2) Perusahaan yang dikenakan sanksi dapat mengajukan keberatan kepada Bupati apabila hal-hal yang menyebabkan pengenaan sanksi dianggapnya tidak benar dengan disertai bukti bukti yang diperlukan. Pasal 40 (1) Perusahaan yang jenis usahanya wajib dilengkapi dengan Analisys Dampak Lingkungan ( AMDAL ), dikenakan sanksi berupa penghentian sementara kegiatan pembangunan, apabila dalam melakukan kegiatan fisik tidak mendapat persetujuan dari instansi berwenang. 2. Sanksi berupa

- 30 - (2) Sanksi berupa penghentian sementara kegiatan produksi dikenakan, apabila terdapat pelanggaran terhadap salah satu atau lebih dari halhal berikut ini : a. Proses produksi, bahan baku/penolong yang digunakan ternyata membahayakan keselamatan umum; b. Kegiatan perusahaan menimbulkan pencemaran lingkungan hidup; c. Perusahaan tidak memiliki izin usaha tetap setelah berproduksi komersil; d. Memasarkan dalam negeri hasil produksi yang seharusnya diwajibkan untuk ekspor. Pasal 41 (1) Sanksi berupa pencabutan SP dikenakan terhadap perusahaan apabila terjadi pelanggaran terhadap salah satu atau lebih dari halhal sebagai berikut : a. Perusahaan yang sudah melakukan kegiatan penanaman modal dalam bentuk kegiatan yang nyata tetapi tidak melanjutkan usahanya; b. Tidak melakukan usaha perbaikan dalam waktu yang ditetapkan Bupati setelah terkena sanksi penghentian sementara kegiatannya dan atau setelah terkena sanksi pencabutan fasilitasnya. (2) Dalam hal perusahaan sudah mempunyai Izin Usaha Tetap, sanksi pencabutan SP diikuti dengan pencabutan Izin Usaha Tetap. BAB X KETENTUAN PERALIHAN Pasal 42 Permohonan yang telah diajukan ke BKPM atau BKPMD Kabupaten Tangerang sebelum ditetapkannya Keputusan ini diselesaikan berdasarkan ketentuan yang lama. Pasal 43 Atas Surat Persetujuan PMDN atau Surat Persetujuan PMA yang dikeluarkan oleh Menisves/Kepala BKPM sebelum tanggal ditetapkannya Keputusan ini, pemohon wajib mengajukan permohonan perluasan, perubahan dan perizinan pelaknanaanya kepada Bupati melalui Kepala BKPMD. BAB XI