BAB III PEMBAHASAN, PERHITUNGAN DAN ANALISA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV PROSES, HASIL, DAN PEMBAHASAN. panjang 750x lebar 750x tinggi 800 mm. mempermudah proses perbaikan mesin.

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

PERENCANAAN MESIN PENGIRIS PISANG DENGAN PISAU (SLICER) VERTIKAL KAPASITAS 120 KG/JAM

BAB III PERANCANGAN SISTEM TRANSMISI RODA GIGI DAN PERHITUNGAN. penelitian lapangan, dimana tujuan dari penelitian ini adalah :

BAB IV PERHITUNGAN DAN PERANCANGAN ALAT. Data motor yang digunakan pada mesin pelipat kertas adalah:

BAB III PERANCANGAN. = 280 mm = 50,8 mm. = 100 mm mm. = 400 gram gram

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB IV PERHITUNGAN PERANCANGAN

POROS dengan BEBAN PUNTIR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB III PERANCANGAN Perencanaan Kapasitas Penghancuran. Diameter Gerinda (D3) Diameter Puli Motor (D1) Tebal Permukaan (t)

IV. ANALISIS TEKNIK. Pd n. Besarnya tegangan geser yang diijinkan (τ a ) dapat dihitung dengan persamaan :

BAB IV PERHITUNGAN RANCANGAN

BAB II LANDASAN TEORI. khususnya permesinan pengolahan makanan ringan seperti mesin pengiris ubi sangat

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

MESIN PERUNCING TUSUK SATE

Perancangan Belt Conveyor Pengangkut Bubuk Detergent Dengan Kapasitas 25 Ton/Jam BAB III PERHITUNGAN BAGIAN-BAGIAN UTAMA CONVEYOR

PERANCANGAN MESIN PENGUPAS KULIT KENTANG KAPASITAS 3 KG/PROSES

BAB IV PERHITUNGAN DAN HASIL PEMBAHASAN

BAB II DASAR TEORI. c) Untuk mencari torsi dapat dirumuskan sebagai berikut:

BAB II DASAR TEORI Sistem Transmisi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LADASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TEORI DASAR. BAB II. Teori Dasar

Mulai. Studi Literatur. Gambar Sketsa. Perhitungan. Gambar 2D dan 3D. Pembelian Komponen Dan Peralatan. Proses Pembuatan.

SABUK ELEMEN MESIN FLEKSIBEL 10/20/2011. Keuntungan Trasmisi sabuk

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA & PERHITUNGAN ALAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERENCANAAN MESIN PERAJANG SINGKONG DENGAN KAPASITAS 150 Kg/JAM SKRIPSI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perancangan yaitu tahap identifikasi kebutuhan, perumusan masalah, sintetis, analisis,

Bahan poros S45C, kekuatan tarik B Faktor keamanan Sf 1 diambil 6,0 dan Sf 2 diambil 2,0. Maka tegangan geser adalah:

BAB III ANALISA PERHITUNGAN

BAB III PERENCAAN DAN GAMBAR

BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem Transmisi 2.2 Motor Listrik

PERANCANGAN DAN ANALISIS KOMPONEN PROTOTIPE ALAT PEMISAH SAMPAH LOGAM DAN NON LOGAM OTOMATIS

BAB II DASAR TEORI 2.1 Konsep Perencanaan 2.2 Motor 2.3 Reducer

BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN. Mulai

Kopling tetap adalah suatu elemen mesin yang berfungsi sebagai penerus putaran dan daya dari poros penggerak ke poros yang digerakkan secara pasti

BAB III TEORI PERHITUNGAN. Data data ini diambil dari eskalator Line ( lampiran ) Adapun data data eskalator tersebut adalah sebagai berikut :

BAB VI POROS DAN PASAK

hingga akhirnya didapat putaran yang diingikan yaitu 20 rpm.

BAB IV PERHITUNGAN DIMENSI UTAMA ESKALATOR. Dari gambar 3.1 terlihat bahwa daerah kerja atau working point dalam arah

BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN BAGIAN BAGIAN CONVEYOR

RANCANG BANGUN MESIN PEMISAH KULIT ARI JAGUNG. ANDRI YONO ;

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

PERANCANGAN MESIN PENGADUK BAHAN DASAR ROTI KAPASITAS 43 KG

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN

Hopper. Lempeng Panas. Pendisribusian Tenaga. Scrubber. Media Penampung Akhir

PERENCANAAN MESIN BENDING HEAT EXCHANGER VERTICAL PIPA TEMBAGA 3/8 IN

BAB II DASAR TEORI. Mesin perajang singkong dengan penggerak motor listrik 0,5 Hp mempunyai

TRANSMISI RANTAI ROL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II DASAR TEORI 2.1. Prinsip kerja Mesin Penghancur Kedelai 2.2. Gerenda Penghancur Dan Alur

PERANCANGAN MESIN PRESS BAGLOG JAMUR KAPASITAS 30 BAGLOG PER JAM. Oleh ARIEF HIDAYAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. digunakan untuk mencacah akan menghasikan serpihan. Alat pencacah ini

LAPORAN TUGAS AKHIR PERANCANGAN MESIN ROUGH MAKER DIAMETER INTERNAL PIPA POLYPROPYLENE Ø 600

Lampiran 1 Analisis aliran massa serasah

BAB IV DESIGN DAN ANALISA

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Konsep Perencanaan Sistem Transmisi Motor

PERANCANGAN KOMPRESOR TORAK UNTUK SISTEM PNEUMATIK PADA GUN BURNER

Perancangandanpembuatan Crane KapalIkanUntukDaerah BrondongKab. lamongan

RANCANG BANGUN MESIN PENCACAH RUMPUT GAJAH

BAB II LANDASAN TIORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sebagai motor penggerak utama Forklift ini digunakan mesin diesel 115

RANCANG BANGUN MESIN PENGHANCUR BONGGOL JAGUNG UNTUK CAMPURAN PAKAN TERNAK SAPI KAPASITAS PRODUKSI 30 kg/jam

BAB III PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN

BAB IV PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN TRANSMISI PADA MESIN PERAJANG TEMBAKAU DENGAN PENGGERAK KONVEYOR

PERANCANGAN CAKE BREAKER SCREW CONVEYOR PADA PENGOLAHAN KELAPA SAWIT DENGAN KAPASITAS PABRIK 60 TON TBS PER JAM

Penggunaan transmisi sabuk, menurut Sularso (1979 : 163), dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :

Perencanaan Mesin Pengiris Bawang Merah Dengan Pengiris Vertikal ( Shallot Slicer ) Dengan Kapasitas 1kg/Menit

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB II DASAR TEORI. 1. Roda Gigi Dengan Poros Sejajar.

Tugas Akhir TM

PERANCANGAN PISAU MESIN PEMIPIL DAN PENGHANCUR BONGGOL JAGUNG HADIYATULLAH

MESIN PEMINDAH BAHAN PERANCANGAN HOISTING CRANE DENGAN KAPASITAS ANGKAT 5 TON PADA PABRIK PENGECORAN LOGAM

JURNAL PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN MESIN PEMIPIL JAGUNG DENGAN KAPASITAS 300 KG/JAM

BAB II LANDASAN TEORI. proses tekan geser. Butir beras terjepit dan tertekan cekung lesung antum sehingga

PERANCANGAN MESIN PENEPUNG RUMPUT LAUT SKALA LABORATORIUM. Jl. PKH. Mustapha No. 23. Bandung, 40124

Tujuan Pembelajaran:

Perhitungan Kapasitas Screw Conveyor perjam Menghitung Daya Screw Conveyor Menghitung Torsi Screw

PERANCANGAN OVERHEAD TRAVELLING CRANE YANG DIPAKAI DI WORKSHOP PEMBUATAN PABRIK KELAPA SAWIT DENGAN KAPASITAS ANGKAT 10 TON

BAB IV PERENCANAAN PERANCANGAN

Perhitungan Transmisi I Untuk transmisi II (2) sampai transmisi 5(V) dapat dilihat pada table 4.1. Diameter jarak bagi lingkaran sementara, d

PERENCANAAN MESIN PENGUPAS KULIT KEDELAI DENGAN KAPASITAS 100 KG/JAM

TRANSMISI RANTAI ROL 12/15/2011

A. Dasar-dasar Pemilihan Bahan

Analisis Morfologi dan Rancang Bangun Mesin Grinding Camshaft Untuk Meningkatkan Performa Engine Sepeda Motor

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

Transkripsi:

BAB III PEMBAHASAN, PERHITUNGAN DAN ANALISA 3.1 Perancangan awal Perencanaan yang paling penting dalam suatu tahap pembuatan hovercraft adalah perancangan awal. Disini dipilih tipe penggerak tunggal untuk menggerakkan propeller thrust dan lift. Keuntungan menggunakan tipe ini propeller akan terpusat pada penggerak sehingga hasilnya daya yang dihasilkan lebih stabil. Design yang digunakan tercantum pada gambar dibawah ini Gambar 3.1 Rancangan hovercraft 35

Gambar 3.2 Hovercraft 3.2 Metode penyelesaian masalah Metoda yang dilakukan dalam penyelesaian tugas akhir ini dapat dilihat pada (flow chart) dibawah ini : Mulai 1 Pembuatan Gambar Tekhnik Latar Belakang Masalah Pembuatan komponen Alternatif Perancangan Perancangan Hovercraft Menganalisa Kesalahan Perakitan/Assembly Ya Percobaan Tidak Memenuhi Tidak Ya Memenuhi Persiapan Pembuatan Penyediaan Alat Penulisan Laporan 1 Selesai 36

3.3 Bahan yang akan digunakan Bahan yang diperlukan untuk pembuatan hovercraft mengenai elemen mesinnya diantaranya: 1. Bearing 2. Puli 3. V-Belt 4. Gearbox 3.4 Metoda pengambilan data Dalam usaha memperoleh data yang diperlukan dalam pembuatan laporan tugas akhir ini, penulis menggunakan tiga metode yaitu : a) Observasi (pengamatan) Penulis melakukan pengamatan terhadap hovercraft yang telah dibuat baik itu dari hasil penelitian orang lain maupun informasi di internet atau buku lainnya b) Library research (pencarian sumber buku) Untuk melengkapi data yang belum diperoleh, penulis mencari sumber atau buku yang dapat digunakan untuk merancang komponen pendukung dari hovercraft. Sumber buku ini penulis dapatkan dari internet atau di perpustakaan Universitas Mercubuana. c) Interview (wawancara) Untuk melengkapi data yang belum sempurna dan tidak dimengerti oleh penulis yang diperoleh dari hasil pengamatan, maka penulis menanyakan kepada dosen pembimbing I atau dosen pembimbing II, dosen yang lain, dan teman. 3.5 Masalah yang dihadapi dan penyelesaiannya Masalah yang dihadapi dari penyelesaian tugas akhir ini diantaranya adalah 1. Penggunaan Penggerak propeller yang tepat 37

Kesulitan dalam pencarian pengerak yang tepat untuk mesin hovercraft merupakan faktor vital dalam pembuatan hovercraft. Hal ini dapat mempengaruhi hovercraft berjalan dengan baik atau tidak. Ketentuan dari pencarian mesin yang digunakan untuk menggerakan propeller membutuhkan daya yang cukup serta putaran yang tinggi. Masalah mesin penggerak ini membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Akhirnya mesin yang cocok untuk penggerak hovercraft menggunakan mesin 2 tak dengan kapasitas 110 cc karena mesin ini mempunyai putaran yang cukup tinggi dibanding mesin 4 tak. 2. Penentuan konstruksi rangka hovercraft Penentuan konstruksi yang merupakan rangka untuk komponen pendukung sebagi dudukan mesin, propeller serta komponen lainnya harus kuat untuk menahan beban serta bahan harus ringan karena akan membantu terangkatnya mesin hovercraft. Dudukan komponen ini dipusatkan terhadap pemilihan mesin karena rangka akan jadi seutuhnya setelah ada mesin tersebut. 3. Penentuan elemen mesin yang digunakan Elemen mesin kepentingannya tidak bisa diabaikan karena merupakan komponen yang akan menentukan mesin hovercraft jalan atau tidak. Contoh dari pemilihan elemen mesin ini seperti pemilihan belt, puli, gearbox, serta poros yang digunakan. Masalah yang dihadapi adalah perhitungan yang diperlukan harus terkait dengan kebutuhan daya dorong dengan daya angkat. Perhitungan juga tidak lepas dari design yang akan dirancang. Setelah semua itu dipenuhi maka perhitungan elemen mesin pun bisa dilaksanakan. 4. Pembuatan propeller yang akan digunakan Komponen utama yang harus teliti untuk dihitung dan dibuat. Perhitungan propeller ini membutuhkan data yang akurat terhadap kondisi alam di Indonesia. Hal ini diperlukan untuk mengetahui apakah hovercraft bisa mengangkat beban atau tidak. 38

3.6 Perhitungan Perhitungan merupakan hal yang paling penting dari suatu perancangan. Banyak kejadian dari suatu perancangan tidak berhasil dikarenakan dari kesalahan perhitungan. 3.6.1 Perhitungan transmisi sabuk V Transmisi di sini adalah pemindahan daya yang dibutuhkan hovercraft yang berupa propeller dari mesin. Transmisi yang digunakan adalah sabuk V-belt dengan penggerak puli. Keuntungan dari pemakaian transmisi ini adalah pemindahan daya cenderung stabil karena daya yang dihasilkan tidak terlalu dipengaruhi oleh rugi-rgi karena gesekan. Perhitungan transmisi V belt dapat dilakukan dengan mengikuti spesifikasi mesin serta putaran yang dibutuhkan propeller. Mesin yang digunakan adalah mesin 2 tak yang berkapasitas 110 cc dengan daya 10,7 Hp pada putaran mesin 7500 Rpm. Dengan kapasitas mesin Yamaha F1ZR pada putaran maksimum maka kita bisa konversi ke putaran minimum yaitu: P (daya) = 10,7 hp = 7,98 kw Pada kecepatan 1500 Rpm dayanya adalah 1,6 kw Maka diketahui 48mm Maka: Karena diameter puli untuk n 1 adalah 150mm dan diameter puli untuk n 2 adalah Dari data diatas dapat diketahui perbandingan putaran 39

Jarak antar sumbu poros Faktor koreksi untuk penggunaan penggerak propeller termasuk kategori beban sedang (lampiran 12) yaitu Sehingga bisa diketahui daya rencananya Dari data diatas dapat dicari jenis penampang V-belt yang akan digunakan yang dapat dilihat di lampiran 10. penampang V-belt Penampang A Pemilihan diameter puli Karena diameter puli sudah diketahui adalah 150mm (Dp) dan diameter puli minimum 48mm (dp) kita bisa mengetahui (lampiran 11) α( o ) =34 (sudut kontak) W = 11,95 L o = 9,2 K = 4,5 K o = 8,0 e = 15,0 f = 10,0 Dp = diameter lingkar jarak bagi 40

din = dp - 2.ko =48-2. 8 = 32mm dout = dp +2.k = 48 + 2.4,5 = 57mm Din = Dp-2.ko = 150-2.8 = 134mm Dout = Dp +2.k = 150+2.4,5 =159mm Jadi kecepatan beltnya adalah. dp. n V 60 Pengecekan C terhadap diameter puli dout Dout C 2 C =108 mm = 11,78 m/dt Kapasitas daya transmisi dari satu V-belt Po = 2.8 kw Sehingga sudut kontak yang didapat 180 0 DP dp.57 c 0 41

Dilihat lampiran 17 bahwa =0,95 Jadi panjang V beltnya adalah 1 L 2. c Dp dp Dp dp 2 4. c Hasil perencanaan 2 Penampang V-belt tipe A No.34 Dp = 150 mm dp= 48 mm N = 1 unit Menghitung jarak penyetelan puli Untuk dapat memelihara tegangan yang cukup dan sesuai pada sabuk, jarak poros puli harus dapat disetel kedalam maupun keluar. Oleh sebab itu, panjang sabuk sebenarnya harus terlebih dahulu dihitung. Ls = 34 x 25,4mm = 864 mm b = 2Ls π( Dp + dp) b = 2 x 864mm π(150 +48) = 1105mm Dimana : Ls = panjang sabuk sebenarnya 42

C= 272,5 mm Mengacu pada lampiran 18 maka jarak penyetelannya Δci = 20 Δct = 25 Dimana : Δci = Jarak penyetelan kedalam Δct = Jarak penyetelan keluar Perhitungan tegangan yang terjadi pada sabuk Dimana : tegangan pada sisi tarik sabuk tegangan pada sisi kendor sabuk Setelah nilai pada persamaan diatas didapat. Dilanjutkan dengan menggunakan persamaan kedua. Nilai α diperolaeh dengan menggunakan persamaan : Selanjutnya persamaan 1 dimasukkan kedalam persamaan berikut, sehingga : 43

Kemudian masing-masing tegangan dapat diperoleh nilainya dengan mensubtitusikan persamaan 1 kedalam persamaan 2. Maka nilai T 1 dan T 2 adalah sebesar = 0,17 kn Berdasarkan perhitungan, tegangan sabuk yang terjadi adalah T 1 = 309,3 N = 30,9 kg =309 N T 2 = 173,3 N = 17,3 kg = 173 N T ekivalen = T 1 - T 2 = (30,9 17,3) kg = 13,6 kg =136 N 3.6.2 Perhitungan poros Pada poros sebagai penghubung putaran mesin hovercraft ke transmisi mendapat pembebanan utama berupa torsi. Karena pembebanan hanya pada ujung poros yaitu berbentuk puli bisa kejutan torsinya kecil, maka kemungkinan adanya pembebanan 44

tambahan tersebut perlu diperhitungkan sesuai faktor keamanan yang diambil. Hal-hal yang diperlukan untuk menghitung poros dengan pembebanan torsi diketahui daya (P) yang diambil dari daya motor pada mesin hovercraft dan putaran (n) sesuai dengan mesinnya. 200 mm 50 mm A B Fa 200 mm 50 mm Fa=156N A B Fa = berat puli + tegangan tarik ekivalen puli = (13,6kg + 2 kg) = 15,6kg =156 N Gaya-gaya pada poros akibat R A dan R B : akibat gaya R A : ΣMA=0 (Fa x 200) - (R B x 250) = 0 (+15,6 x 200) - (R B x 250) = 0 45

R B = +12,48 kg=124,8n ΣMB=0 (-Fa x 50) + (R A x 250) = 0 (-15,6 x 50) + (R A x 250) = 0 R A = +3,12 kg=31,2n Jadi gaya total akibat R A dan R B : R A = +124,8N R B = +31,2N M B = +(Fa x 50mm) = +(156N x 50mm) = +780N.mm M A = +(Fa x 250mm) = +(156N x 250mm) = +3900N.mm Jadi momen terbesar di titik A Mesin yang digunakan adalah mesin 2 tak yang berkapasitas 110 cc dengan daya 10,7 Hp pada putaran mesin 7500 Rpm. Dengan kapasitas mesin Yamaha F1ZR pada putaran maksimum maka kita bisa konversi ke putaran minimum yaitu: P (daya) = 10,7 hp = 7,98 kw Pada kecepatan 1500 rpm dayanya adalah 1,6 kw Maka diketahui Faktor koreksi adalah faktor keamanan yang akan digunakan agar daya yang dipindahkan akan maksimal. fc = 1,2 46

Dengan diketahuinya daya nominal dari motor penggerak dan faktor koreksi telah ditentukan 1,2 maka dapat kita hitung daya rencana (Pd). Pd = P. fc Pd = 1,6 kw. 1,2 Pd = 1,92 kw Daya rencana (Pd) sudah diketahui yaitu 1,92 kw dikonversikan menjadi 1,92x10 3 N.mm dapat diketahui momen puntir atau bisa disebut dengan momen rencana (T) =12,22309 N.m Bila momen puntir (T) dibebankan pada suatu diameter poros (d s ) maka tegangan geser (τ) yang terjadi adalah Material poros yang digunakan S30C σu = 480 N/mm 2 Sf 1 = 6 Sf 2 = 2 = Kemudian keadaan momen puntir harus ditinjau. Faktor koreksi dinyatakan dengan K t dipilih sebesar 1,5 karena beban yang dikenakan sedikit kejutan. Meskipun dalam perkiraan sementara ditetapkan bahwa beban hanya terdiri dari momen puntir saja, perlu ditinjau pula adanya momen lentur yang terjadi. Bila momen lenturnya kecil maka faktor koreksi (Cb) dipilih sebesar 1. Kt = 1,5 47

Cb = 1 Karena poros yang digunakan adalah poros pejal, diameter porosnya (ds) yaitu mm Dari perhitungan diatas diketahui bahwa diameter poros harus lebih besar dari 13,27 mm. Poros yang digunakan pada mesin hovercraft yaitu 20 mm jadi memenuhi faktor keamanan untuk digunakan. 3.6.3 Perhitungan bearing Beban radial yang ditumpu F R = R A = 3,12 kg =31,2 N Beban aksial yang ditumpu (beban motor)f motor = 40kg = 400 N Putaran poros (n) = 1500 rpm Faktor beban (f w = 1,1) putaran halus tanpa tumbukan (lampiran 4) Beban rencana F R = F R. f w = 3,12 x 1,1 = 3,4 kg = 3,4 N F motor = F motor. f w = 40 x 1,1 = 44 kg = 440 N Dipilih bantalan 6201 (C = 535kg dan C o = 305kg) berdasarkan lampiran 8 =1,4 N = 129 N Faktor V sama dengan 1 untuk pembebanan pada cincin dalam yang berputar Dari tabel (lampiran 8) didapatkan e = 0,33 dan ternyata nilai Sehingga diperoleh nilai X = 0,56 ; Y = 1,35 Beban ekivalen dinamis P R = X. F R + Y. F a P R = (0,56x3,12) + (1,35 x 40) = 55,75kg = 557,5 N 48

Faktor kecepatan f n = Faktor umur f h = Umur bantalan LH = 500. LH = Kesimpulan : Nomor bantalan 6201 Lebar (b) = 10 Diameter dalam (d) = 12 mm Diameter luar (D) = 32 mm 3.6.4 Perhitungan gearbox Perhitungan gearbox merupakan hal yang penting untuk mendapatkan putaran dan torsi yang sesuai untuk propeller. Gearbox berfungsi untuk meneruskan putaran dari putaran motor menuju propeller. 5 Motor 1 1:10 Gearbox 49

n motor = n puli1 = 1000 Rpm n puli2 = 5xn puli1 = 5 x 1000 Rpm = 5000 Rpm n propeller = 1/10 x 5000 Rpm = 500 Rpm Dengan menggunakan gearbox perbandingan 1:10 maka putaran yang dihasilkan oleh propeller yaitu 500 Rpm. Jadi bisa disimpulkan bahwa perbandingan putaran motor dengan putaran propeller adalah 1:2. 3.7 Analisa teknis Setelah melakukan perhitungan dan pembuatan komponen-komponen dari hovercraft ini, maka dilakukan perakitan dan pembahasan. 3.7.1 Hasil rancangan Gambar 3.3 Hasil rancangan hovercraft 50

3.7.2 Hasil perakitan 1 2 3 4 Gambar 3.4 Hasil perakitan hovercraft 1. Poros Gambar 3.5 Poros Poros yang digunakan sebagai penerus putaran dari mesin ke puli. Berdiameter 20mm dan panjang 140mm. 51

2. Transmisi V-Belt Gambar 3.6 Transmisi v-belt Transmisi yang digunakan sebagai penerus putaran dari motor ke gearbox dengan penghubung sabuk V. Spesifikasi yang digunakan sabuk BANDO RED 2335 9,5x850 LA dengan puli besar berdiameter 150mm dan puli kecil 48mm 3. Bearing Gambar 3.7 Bearing Bearing digunakan untuk menopang poros dengan nomor 6201. 52

4. Gearbox Gambar 3.8 Gearbox Gearbox digunakan perbandingan 1:10 sesuai perbandingan propeller dan motor. 53