I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Komoditas tanaman hortikultura khususnya buah-buahan mempunyai prospek yang bagus untuk dikembangkan mengingat bertambahnya jumlah penduduk dan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi buahbuahan yang bergizi. Menurut Noorlatifah & Hamdani (2012) komoditas tanaman buah-buahan mempunyai andil besar terhadap kesehatan manusia, karena buahbuahan mengandung vitamin dan mineral yang diperlukan oleh tubuh. Selain memiliki kandungan dan zat gizi yang penting bagi kesehatan, pengembangan komoditas buah-buahan mempunyai prospek yang baik karena dapat mendukung upaya peningkatan pendapatan petani, pengentasan kemiskinan, perbaikan gizi masyarakat serta perluasan kesempatan kerja. Salah satu komoditas buah-buahan yang mempunyai potensi untuk dikembangkan dalam agroindustri adalah nenas. Nenas (Ananas comosus) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai manfaat ganda baik dikonsumsi dalam bentuk buah segar maupun sebagai bahan industri makanan. Manfaat nenas untuk tubuh antara lain dapat membantu melunakkan makanan dalam lambung, menurunkan berat badan, mengatasi peradangan kulit dan menguatkan kekebalan tubuh. Buah nenas adalah buah yang rendah kalori dan tidak mengandung lemak jenuh atau kolesterol, tetapi merupakan sumber yang kaya serat larut dan tidak larut seperti pektin. Selain itu, buah ini kaya vitamin B- kompleks seperti folates, thiamin, piridoksin dan riboflavin (Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, 2014). Nenas kaya mineral yang dibutuhkan tubuh seperti potasium, klor, sodium, fosfor, magnesium, belerang, kalsium, zat besi dan iodine. Vitamin-vitamin yang terkandung dalam buah nenas adalah vitamin A, B, C dan E. Adanya zat besi bromelani didalam sari nenas yang tidak dimasak menjadikan nenas sebagai anti peradangan yang baik (Nainggolan, 2006). Indonesia dengan kondisi wilayah yang sesuai untuk pengembangan nenas memiliki peluang besar dalam memenuhi ketersediaan nenas baik dalam negeri maupun pasar global. Nenas merupakan buah olahan unggulan ekspor Indonesia. Bahkan, Indonesia merupakan eksportir nenas kalengan nomor tiga di dunia, setelah Filipina dan Thailand (Sobir, 2009). Tanaman nenas dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis yang terletak antara 25 0 Lintang Utara sampai 25 0 Lintang 1
Selatan dengan ketinggian tempat 100 m 800 m dari permukaan laut dan temperatur antara 21 0 C 27 0 C. Tanaman akan berhenti tumbuh bila temperatur terletak antara 10 0 C 16 0 C. Curah hujan yang dibutuhkan oleh tanaman nenas adalah 1.000 mm 1.500 mm per tahun dan kelembaban udara 70% - 80%. Nenas memerlukan tanah lempung berpasir sampai berpasir, cukup banyak mengandung bahan organik, drainase baik, dan ph antara 4,5-6,5. Sinar matahari merupakan faktor iklim yang menentukan pertumbuhan dan kualitas buah. Apabila persentase sinar matahari sangat rendah maka pertumbuhan akan terhambat, buah kecil, kadar asam tinggi dan kadar buah rendah (Badan Penelitian Tanaman Buah Tropika, 2008). Sentra produksi nenas tersebar diberbagai wilayah Indonesia seperti di Lampung, Jawa Barat, Sumatera Utara, Riau dan Jawa Tengah (Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, 2013). Nenas segar memiliki umur simpan pendek yaitu hanya bertahan sekitar 4 6 hari (Hajare et al, 2006). Dalam keadaan segar buah buahan dengan kadar air yang cukup tinggi seperti nenas tidak dapat bertahan bila disimpan lama. Hal ini disebabkan oleh kandungan air yang tinggi tersebut, sehingga mengundang mikroorganisme untuk tumbuh dan mempercepat terjadinya pembusukan. Karena memiliki daya simpan yang relatif singkat maka pemasaran buah nenas segar menjadi terbatas, sehingga lebih banyak dilakukan pengolahan produk nenas yang memiliki daya simpan lebih lama. Untuk meningkatkan mutu, daya saing, serta perluasan pasar, buah nenas segar dapat diolah menjadi berbagai macam produk seperti keripik nenas, nenas kaleng, selai nenas, wajik nenas, dodol nenas, sirup dan lain-lain. Menurut Cahyono (2011) nenas banyak digemari oleh masyarakat baik dalam bentuk buah segar maupun olahan, sehingga pemasarannya memiliki peluang baik di dalam maupun luar negeri. Hanya saja untuk pasar luar negeri makin dituntut kebutuhan akan jaminan standar keamanan produk olahan nenas sesuai standar yang sudah ditetapkan. Pengolahan produk dengan bahan baku nenas dapat dilakukan dalam skala industri rumah tangga maupun industri dengan skala yang lebih besar seperti perusahaan. Pengolahan pada skala industri rumah tangga masih menggunakan peralatan yang relatif sederhana, biaya yang dikeluarkan selama proses produksi tidak terlalu besar, serta tenaga kerja yang digunakan juga sedikit. Masyarakat yang tinggal di daerah sentra produksi nenas memiliki kesempatan serta peluang yang besar untuk dapat mengembangkan produk olahan nenas sehingga dapat memberikan lapangan pekerjaan dan mampu menunjang perekonomian mereka. 2
Tabel 1.1. Produksi Buah-buahan (ton) di Provinsi Riau Tahun 2010-2014 No Buah 2010 2011 2012 2013 2014 1. Rambutan 2. Pepaya 3. Nenas 4. Jambu 5. Pisang Sumber: BPS Provinsi Riau, 2015 Ratarata 5.361 10.381 9.223 7.604 9.839 8.482 7.570 7.391 12.965 19.517 7.379 10.964 19.837 109.374 92.444 96.173 107.438 85.053 4.600 4.215 3.783 3.882 3.407 3.977 25.243 26.498 20.644 19.685 22.758 22.966 Provinsi Riau merupakan salah satu sentra produksi nenas di Indonesia. Pada Tabel 1.1 dapat dilihat produksi buah-buahan di Provinsi Riau pada tahun 2010 hingga 2014. Produksi nenas lebih tinggi jika dibandingkan dengan buahbuahan lainnya seperti rambutan, pepaya, jambu dan pisang. Produksi nenas pada tahun 2014 mencapai 107.438 ton dengan rata-rata produksi sebesar 85.053 ton. Pada Tabel 1.2 dapat dilihat bahwa sentra produksi nenas berada di Kabupaten Indragiri Hilir, Siak, Kampar dan Dumai. Kabupaten Kampar menjadi salah satu sentra produksi nenas di Riau hal ini didukung oleh kondisi daerah yang merupakan lahan gambut sehingga cocok untuk pengembangan komoditas nenas. Nenas dapat dipanen pada umur yang berbeda-beda tergantung pada varietas dan bibit yang digunakan. Panen biasanya dilakukan 5 bulan setelah pemacuan pembungaan. Pertanaman yang berasal dari anakan dapat dipanen 15-18 bulan setelah tanam. Bibit yang berasal dari tunas batang dipanen 18 bulan setelah tanam, dan bibit yang berasal dari mahkota dipanen 24 bulan setelah tanam. Penentuan saat panen yang tepat perlu dilakukan secara cermat karena waktu panen yang kurang tepat dapat mempengaruhi kualitas buah. Adapun ciri-ciri buah nenas yang siap panen adalah mahkota lebih terbuka, tangkai buah menjadi keriput, mata lebih datar dan bentuknya lebih bulat, warna kulit pada dasar buah mulai menguning serta aroma buah mulai muncul (Badan Penelitian Tanaman Buah Tropika, 2008). 3
Tabel 1.2. Jumlah Rumpun dan Produksi Nenas (kg) Menurut Kabupaten di Provinsi Riau Tahun 2014 No 1. Kabupaten/Kota Jumlah (rumpun) Produksi (kg) Produktivitas (kg/rumpun) Produksi nenas (%) Kuantan Singingi 8.061 40.000 4,96 0,04 2. Indragiri Hulu 820.683 1.371.000 1,67 1,28 3. Indragiri Hilir 9.308.434 26.547.000 2,85 24,71 4. Pelalawan 11.882 59.000 4,97 0,05 5. Siak 8.625.587 10.720.000 1,24 9,98 6. Kampar 8.601.519 20.179.000 2,35 18,78 7. Rokan Hulu 23.669 113.000 4,77 0,11 8. Bengkalis 560.206 2.912.000 5,20 2,71 9. Rokan Hilir 121.066 486.000 4,01 0,45 Kepulauan 10. Meranti 21.608 74.000 3,42 0,07 11. Pekanbaru 1.977 8.000 4,05 0,01 12. Dumai 11.842.540 44.929.000 3,79 41,82 Jumlah/Total 39.947.232 107.438.000 43,29 100,00 Sumber: BPS Provinsi Riau, 2015 Komoditas nenas yang dikembangkan di Kabupaten Kampar adalah varietas Queen, Smok Cayenne, dan Spanish dengan ciri-ciri daun berduri, bentuk buah kerucut dengan berat buah antara 0,5-1,1 kg, warna kulit buah kuning dan memiliki mata yang dalam, sedangkan warna buah kuning tua dengan inti buah kecil. Wilayah Kabupaten Kampar sebagian besar merupakan dataran dengan topografi 10-20 m diatas permukaan laut dengan jenis tanah podsolik, organosol/gambut, alluvial dan sebagainya. Khusus untuk wilayah sentra pengembangan nenas didominasi oleh jenis tanah gambut yang secara fisik di lapangan sangat cocok untuk pengembangan komoditas nenas. (Dinas Pertanian Kabupaten Kampar, 2013). 4
Tabel 1.3. Jumlah Pohon Buah-buahan yang Menghasilkan dan Produksi Buahbuahan di Kabupaten Kampar Tahun 2014 No Jenis Buah-buahan Jumlah (pohon) Produksi (kg) Produktivitas (kg/pohon) 1. Rambutan 82.362 2.941.000 35,71 2. Pepaya 20.706 1.217.000 58,78 3. Nenas 8.601.519 20.179.000 2,35 4. Jambu 14.598 1.082.000 74,12 5. Pisang 108.904 6.166.000 56,62 Sumber: BPS Provinsi Riau, 2015 Pada Tabel 1.3 dapat dilihat berbagai komoditas buah-buahan yang dikembangkan di Kabupaten Kampar, dimana pada tahun 2014 jumlah rumpun nenas mencapai 8.601.519 dengan produksi 20.179.000 kg dimana produktivitas nenas sebesar 2,35 kg per jumlah rumpun nenas. Produksi nenas jauh lebih tinggi dibandingkan dengan buah-buah lainnya yang juga dikembangkan di Kabupaten Kampar. Hal ini didukung dengan kesesuaian agroklimat serta tersedianya lahan yang cukup sehingga menjadikan Kabupaten Kampar sebagai salah satu sentra pengembangan komoditas nenas di Provinsi Riau. Kecamatan Tambang merupakan sentra penanaman nenas di Kabupaten Kampar yang berbatasan langsung dengan ibukota Provinsi Riau yaitu Pekanbaru sehingga membuka kesempatan bagi petani maupun pengrajin produk olahan nenas untuk memperluas dan mengembangkan usahanya. Hasil produksi nenas segar yang melimpah di Kecamatan Tambang mendorong masyarakat untuk mengolah nenas menjadi berbagai macam produk dikarenakan sifat buah nenas yang mudah rusak atau busuk. Selain itu, inovasi dan diferensiasi produk dapat memberikan nilai tambah dari buah nenas tersebut serta memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Beberapa produk olahan nenas diantaranya seperti keripik nenas, wajik nenas, dodol nenas, puding nenas, selai nenas dan lain sebagainya. Masyarakat Kabupaten Kampar cenderung mengolah buah nenas menjadi keripik nenas dikarenakan memberikan keuntungan yang lebih jika dibandingkan dengan produk olahan nenas lainnya. Selain itu proses pengolahan keripik nenas cukup mudah dilakukan serta daya tahan keripik yang cukup lama yaitu 3-5 bulan meski dalam proses pemasakannya tidak menggunakan bahan pengawet. 5
Tabel 1.4. Jumlah Tanaman Menghasilkan dan Produksi Nenas Menurut No. Kecamatan di Kabupaten Kampar Tahun 2014 Kecamatan Jumlah Tanaman Menghasilkan (rumpun) Produksi (kg) 1. Tambang 8.580.000 12.870.000 2. Tapung 10.400 15.600 3. Perhentian Raja 2.500 3.750 4. Kampar Kiri Hilir 2.000 3.000 5. XIII Koto Kampar 1.347 2.020 6. Kampar Kiri Tengah 800 1.200 Sumber: BPS Kabupaten Kampar, 2015 Kecamatan Tambang merupakan daerah yang paling banyak menghasilkan nenas di Kabupaten Kampar. Dari Tabel 1.4 dapat dilihat Kecamatan Tambang dengan jumlah tanaman nenas menghasilkan 8.580.000 rumpun dan produksi 12.870.000 kg pada tahun 2014. Peningkatan produktivitas dan produksi komoditas pertanian khususnya buah-buahan belum menunjukkan keberhasilan dalam meningkatkan kualitas hidup petani. Peningkatan produktivitas belum menjamin terjadinya peningkatan kesejahteraan petani, selama petani hanya mampu menjual hasil panennya dalam bentuk segar atau mentah. Pemasaran hasil dalam bentuk bahan baku mentah memiliki beberapa kelemahan seperti tidak adanya nilai tambah, mudah rusak atau busuk, serta daya simpan yang relatif singkat. Nenas sebagai komoditas yang mudah rusak karena kandungan kadar air yang cukup tinggi perlu pengolahan dengan segera yaitu dengan mengolah nenas menjadi berbagai macam produk untuk memperpanjang daya simpan serta meningkatkan nilai tambah dan keuntungan. Usaha pengolahan keripik nenas memiliki prospek yang bagus untuk terus dikembangkan mengingat ketersediaan bahan baku nenas yang cukup di Kabupaten Kampar. 1.2. Perumusan Masalah Keripik nenas adalah salah satu usaha yang berkembang pesat di Kabupaten Kampar Riau, hal ini didukung oleh kondisi daerahnya yang merupakan sentra pengembangan nenas yang menjadi bahan baku utama dalam pembuatan keripik nenas. Produksi keripik nenas yang masih terbatas serta kualitas produk yang belum baik menjadi kendala tersendiri bagi pengrajin keripik nenas sehingga 6
untuk pengembangan usaha kedepannya diharapkan dapat meningkatkan kondisi ekonomi dan kesejahteraan khususnya masyarakat di Kabupaten Kampar. Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan utama penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi keuntungan pada usaha keripik nenas? 2. Berapa besar nilai tambah yang dihasilkan dari usaha keripik nenas di Kabupaten Kampar Riau? 3. Bagaimanakah tingkat efisiensi relatif pada usaha keripik nenas di Kabupaten Kampar Riau? 4. Bagaimanakah hubungan atau keterkaitan antara efisiensi dengan keuntungan dan nilai tambah pada usaha keripik nenas? 1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keuntungan pada usaha keripik nenas. 2. Mengetahui nilai tambah yang dihasilkan pada usaha keripik nenas di Kabupaten Kampar Riau. 3. Mengetahui tingkat efisiensi relatif pada usaha keripik nenas di Kabupaten Kampar Riau. 4. Mengetahui hubungan atau keterkaitan antara efisiensi dengan keuntungan dan nilai tambah pada usaha keripik nenas. 1.4. Manfaat Penelitian 1. Bagi penulis penelitian ini digunakan sebagai pemenuhan syarat untuk mendapatkan predikat Master of Science (M.Sc) pada Program Studi Ekonomi Pertanian, Program Pascasarjana Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. 2. Bagi pengrajin keripik nenas di Kabupaten Kampar Riau, penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran dan informasi yang bermanfaat untuk keberlanjutan usaha keripik nenas. 7
3. Bagi pemerintah daerah sebagai pertimbangan dan masukan dalam menentukan kebijakan yang lebih baik terutama dalam pengembangan usaha keripik nenas. 4. Bagi pihak-pihak lain yang membutuhkan, sebagai bahan rujukan dalam mengembangkan usaha keripik nenas di Kabupaten Kampar Riau. 8