BAB I PENDAHULUAN. penghargaan atas kebhinekaan dan sejarah nusantara. Daerah Istimewa

dokumen-dokumen yang mirip
No Sentralitas posisi masyarakat DIY dalam sejarah DIY sebagai satu kesatuan masyarakat yang memiliki kehendak yang luhur dalam berbangsa dan b

yang meliputi Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman telah

BUPATI KULONPROGO Sambutan Pada Acara PERINGATAN EMPAT PULUH TAHUN IKATAN WARGA WATES (IWWT) KULONPROGO, YOGYAKARTA DI BANDUNG

LAPORAN. Penelitian Individu

LAPORAN SINGKAT KOMISI II DPR RI

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH ISTIMEWA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG

RANCANGAN UNDANG -UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR. TAHUN.. TENTANG KEISTIMEWAAN PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH ISTIMEWA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG PERTANAHAN

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Sistem otonomi yang diberlakukan oleh bangsa Indonesia merupakan

BAB I PENDAHULUAN. lain adalah memajukan kesejahteraan umum. Dalam rangka memajukan

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 6 TAHUN 2017 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH

ARAH KEBIJAKAN KEISTIMEWAAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN 2019

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG KEISTIMEWAAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG KEISTIMEWAAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. Pengembangan kebudayaan unggulan menjadi salah satu pokok pikir kerangka

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH ISTIMEWA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG

BAB II DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. pada masyarakat desa. Undang-Undang Desa disambut sebagai payung hukum untuk

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG KEISTIMEWAAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA,

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG

- 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH

BAB II LANDASAN TEORI

BUPATI KULONPROGO SAMBUTAN PADA ACARA MALAM RENUNGAN MENYONGSONG PERINGATAN HARI JADI KE 61 KABUPATEN KULONPROGO Wates, 14 Oktober 2012

PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal - usul, dan/atau

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

PERATURAN WALIKOTA TANGERANG NOMOR : 12 TAHUN 2009 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi,

DANA KEISTIMEWAAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Sambutan Presiden RI pada Pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY, Yogyakarta, 10 Oktober 2012 Rabu, 10 Oktober 2012

KAJIAN HUKUM TENTANG KEISTIMEWAAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

2017, No Pemajuan Kebudayaan Nasional Indonesia secara menyeluruh dan terpadu; e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam hur

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL DESA

BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN. berdasarkan Perjanjian Giyanti Berawal dari sini muncul suatu sistem

Kebangkitan Nasional: Keistimewaan Yogyakarta, Peluang atau Ancaman? Sri Mulyani*

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB V PENUTUP. Berdasarkan pemaparan-pemaparan pada bab-bab sebelumnya, penulis. dengan ini menjawab rumusan masalah sebagai berikut :

BUPATI BONDOWOSO PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR

2017, No Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lemba

RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 42/PUU-XIV/2016 Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubenur Daerah Istimewa Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. tangganya sendiri yang dinamakan dengan daerah otonom. 1

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAMBI NOMOR 9 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA MEMPERSIAPKAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PROSES FORMULASI KEBIJAKAN PEMBENTUKAN KELEMBAGAAN PEMERINTAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG KEISTIMEWAAN PADA TAHUN 2015

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR TAHUN 2011 TENTANG PENYUSUNAN DAN PENGELOLAAN PROGRAM LEGISLASI DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG KECAMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

TENTANG BUPATI MUSI RAWAS,

2016, No Nomor 826, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234) 2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUMAS NOMOR 7 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN DAN MEKANISME PENYUSUNAN PERATURAN DESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LEMBARAN DAERAH KOTA SUKABUMI

BAB V P E N U T U P. dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut: 1. Negara Kesatuan (Unitary State) sebagai salah satu asas pokok

BUPATI KUDUS PERATURAN BUPATI KUDUS NOMOR 26 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA PEMERINTAH DESA BUPATI KUDUS,

16. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Republik Indonesia

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN DAN MEKANISME PENYUSUNAN PERATURAN DESA

BAB I PENDAHULUAN. dan penyelesaian yang komprehensif. Hipotesis seperti itu secara kualitatif

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG

BAB V PENUTUP. Pada bab ini penulis akan memberikan kesimpulan dan saran dari. Pelaksanaan Surat Edaran Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta

Gubernur Jawa Barat DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUMAS TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN DAN MEKANISME PENYUSUNAN PERATURAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN SITUBONDO

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kedudukan negara Indonesia yang terdiri dari banyak pulau dan Daerah

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KAWASAN PERKOTAAN

BUPATI KULON PROGO PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR : 10 TAHUN 2005 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI JARINGAN DOKUMENTASI DAN INFORMASI HUKUM

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Perkembangan sistem tata kelola pemerintahan di Indonesia telah melewati serangkain

PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG URUSAN PEMERINTAHAN YANG MENJADI KEWENANGAN PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

BAB V PENUTUP. kewenangan penuh untuk menggelola segala hal yang menyangkut tentang tata kelola

I. PENDAHULUAN. hakekatnya ditujukan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

BUPATI BADUNG PROVINSI BALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DESA

BAB I PENDAHULUAN. Sumarto, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2009, hal. 1-2

KEWENANGAN PEMERINTAH DESA DALAM MENDIRIKAN BADAN USAHA MILIK DESA (BUMDes)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG KECAMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

BAB I PENDAHULUAN. wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan,

SMP JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN VIII (DELAPAN) PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKN) DISIPLIN ITU INDAH

{ib. : Pasal 20, Pasal 21, dan Pasal 32 Undang-Undang Dasar

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah Indonesia telah mencanangkan reformasi birokrasi

BUPATI TOBA SAMOSIR PROVINSI SUMATERA UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN TOBA SAMOSIR NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

BAB I PENDAHULUAN. tangganya sendiri. Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan, pemerintah

BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN. 1.1 Profil Daerah Istimewa Yogyakarta. Peta 2.1

PEMERINTAH KABUPATEN KULON PROGO

BAB I PENDAHULUAN. semua masalah diselesaikan dengan hukum sebagai pedoman tertinggi. Dalam

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA, PERATURAN DAERAH ISTIMEWA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2017

BUPATI PASURUAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH

PENGISIAN GUB & WAGUB

PEMERINTAH PROVINSI JAMBI

BUPATI MADIUN PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 62 TAHUN 2016 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA PEMERINTAH DESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KUDUS

BUPATI LOMBOK BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diakui dan dihormatinya satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau istimewa di Indonesia merupakan perwujudan penghargaan atas kebhinekaan dan sejarah nusantara. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adalah salah satu daerah yang berhak menerimanya. Dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2013 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Provinsi Yogyakarta dihormati dan dirancang untuk mampu menggerakkan fungsi-fungsi dan nilai-nilai keistimewaan lebih dibanding masa-masa sebelum hadirnya Undang-Undang ini sejak meleburnya Kasultanan Ngayogyakarta Ngadiningrat ke dalam naungan Negara Kesatuan Repubik Indonesia. Elaborasi keunikan atau unsur pembeda tersebut tidak hanya asal beda tetapi unsur-unsur tersebut dalam pelaksanaannya harus dapat mewujudkan (Perdais No.1 Tahun 2013 Pasal 3 Ayat 1): Pemerintahan yang demokratis; Kesejahteraan dan ketentraman masyarakat; Tata pemerintahan dan tatanan sosial yang menjamin ke-bhinneka Tunggal Ika-an dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia; Pemerintahan yang baik; 1

Melembagakan peran dan tanggung jawab Kasultanan dan Kadipaten dalam menjaga dan mengembangkan budaya Yogyakarta yang merupakan warisan budaya bangsa. Selain itu UU No.13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (UU Nomor 13 Tahun 2012) telah menetapkan lima urusan yang menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu: Tata cara pengisian jabatan, kedudukan, tugas, dan wewenang gubernur dan wakil gubernur Kelembagaan Pemerintah Daerah DIY; Kebudayaan; Pertanahan; dan Tata Ruang. Oleh karenanya elaborasi keunikan tersebut melahirkan konsekuensi perlu dirubahnya bentuk kelembagaan dan tata kelola pemerintah DIY, dengan berlandas mandat yang diberikan oleh Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 sebagai perwujudan, pendayagunaan, pengembangan, serta penguatan nilainilai, norma, adat istiadat, dan tradisi luhur yang mengakar dalam masyarakat DIY, sebagaimana tercermin dalam Perda DIY Nomor 4 Tahun 2011 tentang Tata Nilai Budaya Yogyakarta. Dalam proses penataan bentuk kelembagaan dan tata kelola kelembagaan Pemerintah DIY sebagai konsekuensi yuridis diberlakukannya 2

Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 perlu memperhatikan, setidaknya, 4 (empat) aspek, yaitu: Aspek bentuk dan tata kelola kelembagaan pemerintahan asli; Aspek bentuk dan tata kelola pemerintahan berdasarkan regulasi nasional; Aspek bentuk dan tata kelola pemerintahan yang ideal; dan Aspek perbandingan dengan bentuk dan tata kelola pemerintahan daerah lainnya yang bersifat khusus atau istimewa. Oleh karenanya, bentuk kelembagaan baru Pemerintah DIY harus mematuhi dan menerapkan tiga aspek yang pertama demi mewujudkan tujuan kelembagaan Pemerintah DIY yang lebih efektif, efisien, responsif, akuntabel, transparan, dan partisipatif, dengan tetap menghormati kearifan lokal dan dapat memberikan perlindungan terhadap kelompok marginal. Namun untuk memenuhi aspek bentuk dan tata kelola pemerintahan berdasarkkan regulasi nasional, bentuk kelembagaan dan tata kelola pemerintah DIY tersebut tetap harus berpedoman pada kerangka hukum nasional yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (PP Nomor 41 Tahun 2007), Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penataan Organisasi Perangkat Daerah (Permendagri Nomor 57 Tahun 2007) sebagaimana diubah dengan Permendagri Nomor 56 Tahun 2010. 3

Kelembagaan Pemerintah DIY yang berlaku saat ini memang perlu dirubah dan disesuaikan dengan ketentuan dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012. Salah satu keistimewaan itu adalah kelembagaan Pemerintah DIY sebagaimana ditentukan dalam Pasal 7 ayat (2) huruf b Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012. Meskipun demikian, bentuk dan tata kelola kelembagaan Pemerintah DIY tetap harus berpedoman pada ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku secara nasional. Hal ini didasarkan pada ketentuan Pasal 38 ayat (1) Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 yang menentukan bahwa sebuah Perdais tetap harus mematuhi peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Artinya, kelembagaan dan tata kelolanya akan sama dengan bentuk dan tata kelola pemerintah daerah lainnya. Sehingga, tidak ada keistimewaan dalam bentuk dan tata kelola Pemerintah DIY walaupun Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 telah menentukan bahwa salah satu kewenangan istimewa yang ditetapkan bagi DIY adalah bentuk kelembagaan pemerintah daerahnya. Namun itu bukan satu-satunya interpretasi yang dapat digunakan untuk memberikan dasar bentuk dan tata kelola Pemerintah DIY berdasarkan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012. Interpretasi lainnya didasarkan pada ketentuan Pasal 49 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012. Ketentuan pasal ini menentukan bahwa semua ketentuan dalam undang-undang tentang pemerintahan daerah berlaku bagi Pemerintahan Daerah DIY sepanjang tidak diatur secara khusus dalam undang-undang ini. Konsekuensinya, karena kelembagaan Pemerintah DIY diatur secara khusus dalam Undang-undang 4

Nomor 13 Tahun 2012 maka pengaturan mengenai kelembagaan Pemerintah DIY pun dikecualikan dari ketentuan yang diatur dalam undang-undang tentang pemerintahan daerah. Termasuk, seluruh peraturan pelaksanaannya yang terkait dengan kelembagaan pemerintah daerah. Oleh karenanya, secara normatif, kelembagaan Pemerintah DIY dapat saja tidak disesuaikan dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, PP Nomor 38 Tahun 2007, PP Nomor 41 Tahun 2007, dan Permendagri Nomor 57 Tahun 2007. Namun, kelembagaan itu tetap harus mematuhi prinsip-prinsip kelembagaan yang baik, efektif dan efisien. Dilematisasi inilah yang kemudian muncul dipermukaan sebagai sebuah persoalan landasan apa yang menjadi dasar pembentukan kelembagaan dan tata kelola pemerintah DIY yang baru. Pasalnya pembaharuan kelembagaan daerah dan tata kelola pemerintah DIY juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pewujudan, pendayagunaan, serta pengembangan dan penguatan nilai-nilai, norma, adat istiadat, dan tradisi luhur yang mengakar dalam masyarakat DIY. Sedangkan PP 41 tahun 2007, Pemendagri 56 tahun 2007 merupakan peraturan nasional yang berfungsi mengatur bentuk dan teknis penataan organisasi perangkat daerah yang hanya memperhatikan efisiensi dan efektifitas sebuah organisasi perangkat daerah tanpa mengukur landasan-landasan filosofis dan historis yang seharusnya dimiliki kelembagaan DIY kedepannya. Salah satu asas yang dijadikan dasar pemberian keistimewaan pada DIY adalah asas pengakuan atas hak asal-usul. Asas ini menunjukkan bahwa 5

keistimewaan DIY didasarkan pada keinginan tulus dan pilihan dari Kasultanan dan Kadipaten untuk bergabung dan meleburkan diri ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, meskipun pada saat itu, Kasultanan dan Kadipaten telah memenuhi unsur-unsur negara. Oleh karenanya, dalam penataan kelembagaan yang akan dilakukan juga tetap harus mengakomodasi dan mengadopsi pola kelembagaan yang selama ini telah diterapkan oleh Kasultanan dan Kadipaten atau yang dalam aspek kesitimewaan disebutkan sebagai aspek bentuk dan tata kelola kelembagaan pemerintahan asli. Sayangnya dalam proses penataan ulang kelembagaan istimewa DIY yang dilakukan oleh Biro Organisasi Sekretariat Daerah DIY saat ini lebih menekankan pada kompleksitas tata kelembagaan ditubuh DIY ketimbang penataan ulang kelembagaan yang mengampu urusan-urusan keistimewaan, hal ini terlihat dari hasil evaluasi yang dilaksanakan Biro Organisasi Sekretariat Daerah DIY yang menyimpukan bahwa perlu dilakukan beberapa penyesuaian terhadap biro, dinas, dan lembaga teknis daerah yang disebabkan oleh tumpang tindih (overlapping) kewenangan dalam biro dan dinas atau lembaga teknis daerah di DIY. Dengan kata lain agenda penyesuaian dan penataan ulang kelembagaan DIY seakan-akan hanya dijadikan momentum semata dalam memperbaiki bentuk organisasi yang dirujuk dari PP 41 tahun 2007 dan Pemendagri 56 tahun 2007. Hal kedua adalah isu atas keinginan Sultan HB X untuk tetap menjadi raja dan memastikan ases-aset pertanahan Sultan Ground dan Paku Alam Ground (SG-PAG). Hal ini tercermin dari polemik penetapan yang terjadi saat 6

presiden SBY menyatakan bahwa seluruh kepala daerah harus dipilih secara demokratis, dan disaat yang bersamaan Sultan HB X menolaknya. Di dalam urusan pertanahan dan aset juga terlihat kenginan sultan untuk mengambil atau mengklaim kembali tanah-tanah SG-PAG yang tercermin dari beberapa kasus pertanahan seperti pertambangan pasir besi di Kab. Kulon Progo. Melalui UU Nomor 13 Tahun 2012 kedua keinginan sultan tersebut terpenuhi, dan untuk memastikan itu, dalam struktur kelembagaan dan kewenangan tata kelola pun Sultan harus dapat memastikan statusnya sebagai raja dan pengelola tunggal aset-aset tanah dengan ketentuan-ketentuan pasal yang nantinya akan diusulkan. Kondisi ini kemudian menimbulkan kecurigaan terjadinya praktekpraktek politik negatif yang dijalankan oleh aktor-aktor pemegang kuasa dan kewenangan dalam melakukan penataan ulang kelembagaan DIY pasca lahirnya UU 13 tahun 2012 tentang keistimewaan DIY ini. Belum lagi adanya intervensi-intervensi dari Pemerintah Pusat melalui Menteri Dalam Negeri yang memiliki wewenang penuh dalam memfasilitasi kelembagaan dan ketata organisasian di Indonesia yang mau tidak mau harus diikuti, serta peran Sultan dan Adipati selaku pemimpin Kraton yang dalam keistimewaannya memiliki hak-hak veto dalam merumuskan dan mengajukan rancangan perundangan keistimewaan, khususnya dalam urusan-urusan keistimewaan tata ruang dan pertanahan. Karena pada dasarnya Organisasi merupakan wahana atau gelanggang politik tempat bernegosiasi kepentingan para anggotanya (Bolman & Deal, 1991) artinya organisasi merupakan sebuah medan dimana 7

kewenangan dan kekuasaan dipengaruhi oleh kekuatan politik antar mereka yang memiliki kepentingan. Oleh karena itu tulisan ini berupaya untuk mengindentifikasi berbagai dinamika proses penataan kembali kelembagaan daerah DIY pasca lahirnya UU 13 tahun 2012 tentang keistimewaan DIY dan peran aktor-aktor berkepentingan didalamnya. Dimana dalam prosesnya terlibat hubungan vertikal antara pemerintah pusat yang diwakili oleh Menteri Dalam Negeri, Kraton sebagai sebuah institusi independen yang memiliki kewenangan khusus dalam mengajukan usul peraturan perundangan istimewa, dan Biro Organisasi Perangkat Daerah DIY yang memiliki peran utama dalam mendesain ulang bentuk dan tata kelola kelembagaan khususnya urusan-urusan keistimewaan. Tulisan ini mencoba mencermati dan menganalisis peran ketiga aktor dalam sebuah agenda Organization Development yang oleh W.Burke & D.Brandford (2005) dijelaskan sebagai sebuah proses perubahan terstruktur yang bertujuan meningkatkan efektifitas keseluruhan lembaga atau organisasi melalui perubahan dan adaptasi elemen-elemen kunci dalam dimensi keorganisasian yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi output bentuk kelembagaan dan tentu substansi keistimewaan yang coba dilekatkan dalam kelembagaan urusan-urusan keistimewaan. Dengan berlandaskan teori tersebut penulis mencoba menjelaskan dan mendeskripsikan berbagai pola hubungan peran antar aktor dalam proses penataan ulang dan penyesuaian kelembagaan terhadap ketentuan Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY serta 8

mengindentifikasi pengaruhnya terhadap aplikasi filsafah dan value keistimewaan dalam proses perumusan tata organisasi kelembagaan DIY. 1.2 Rumusan Masalah Bagaimana dinamika proses penataan kembali bentuk kelembagaan DIY pasca UU nomor 13 tahun 2012 tentang keistimewaan daerah istimewa yogyakarta dan pengaruhnya terhadap status dan kelembagaan urusan keistimewaan (Urusan Kebudayaan, Pertanahan, dan Tata Ruang) Daerah DIY? 1.3 Tujuan Penelitian Untuk mengindentifikasi dan menjelaskan proses penataan kembali bentuk kelembagaan istimewa DIY dalam merespon UU 13 tahun 2012 tentang keistimewaan DIY dan pengaruh outputnya terhadap substansi keistimewaan Daerah DIY. Untuk mengetahui pola relasi antar aktor yang berperan dalam agenda penataan kembali kelembagaan istimewa DIY dan pengaruhnya terhadap desain kelembagaan dan substansi keistimewaan DIY. 1.4 Manfaat Penelitian Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan o Memberikan pemahaman dan konsepsi Organization Development dan peran aktor berbeda dalam proses penataan 9

kembali bentuk kelembagaan istimewa DIY dalam merespon UU 13 tahun 2012 tentang keistimewaan DIY. Bagi Pemerintah o Sebagai landasan teoritis dan akademis dalam mengindentifikasi bentuk Organization Development yang ideal organisasi dalam tubuh pemerintah sebagai landasan pelaksanaan wewenang dan kebijakan dimasa yang akan datang. Bagi Masyarakat o Membangun awareness dan pemahaman masyarakat akan isu perubahan struktur kelembagaan dan kaidah keistimewaan di tubuh pemerintahan daerah istimewa Yogyakarta yang dilandasi oleh UU No 13 Tahun 2012 dan dinamika politik birokrasi dalam proses perubahannya. 10