Positive Self-Esteem (Self-Esteem Yang Sehat)

dokumen-dokumen yang mirip
SELF-ESTEEM DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA Self-Esteem in Mathematics Education

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. lingkungannya maupun mengenai diri mereka sendiri. dirinya sendiri dan pada late childhood semakin berkembang pesat.

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

TINJAUAN PUSTAKA. Dalam penelitian ini, tinjauan pustaka berisi komponen self esteem (harga diri) dan konseling kelompok, yaitu sebagai berikut :

1. PENDAHULUAN. kegiatan belajar mengajar di dalam kelas adalah sebuah proses dimana

BAB I PENDAHULUAN. sekolah merupakan tempat terjadinya proses pembelajaran.

PENDEKATAN PSIKOLOGIS DALAM OLAHRAGA USIA DINI

juga kelebihan yang dimiliki

BAB I PENDAHULUAN. pembeda. Berguna untuk mengatur, mengurus dan memakmurkan bumi. sebagai pribadi yang lebih dewasa dan lebih baik lagi.

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAGAIMANA MENGENAL DIRI ANDA

BAB I PENDAHULUAN. dimana individu mengalami perubahan dari masa kanak-kanak menuju. dewasa. Dimana pada masa ini banyak terjadi berbagai macam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terhadap perilakunya seseorang perlu mencari tahu penyebab internal baik fisik,

BAB 1 PENDAHULUAN. Asep Saputra, 2014 Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu

BAB I PENDAHULUAN. dari pendidikan, karena pendidikan memiliki peran penting bagi kehidupan

LAMPIRAN 1. Blue Print Kuisioner. Dukungan Sosial

3. Emosi subyek ketika menjawab pertanyaan interview. 4. Bagaimana kebudayaan etnis Cina dalam keluarga subyek?

BAB I PENDAHULUAN. Permainan bola basket di Indonesia telah berkembang sangat pesat. Event kejuaraan olahraga

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Program pengajaran pendidikan jasmani (penjas)

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa yang penting dalam kehidupan seseorang,

BAB I PENDAHULUAN. dianggap belum memenuhi tujuan utama pembelajaran. Tujuan utama pembelajaran dalam pendidikan jasmani tidak hanya untuk

BAB I PENDAHULUAN. Di zaman modern ini perubahan terjadi terus menerus, tidak hanya perubahan

Keperluan Komunikasi. Komunikasi Berkesan 2/2/2016

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

UMPAN BALIK (FEEDBACK) memberikan umpan balik (feedback) yaitu sebagai salah satu upaya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Motivasi Berprestasi Pada Atlet Sepak Bola. Menurut McClelland (dalam Sutrisno, 2009), motivasi berprestasi yaitu

PENERAPAN PEMBELAJARAN SAINS DENGAN QUANTUM TEACHING M.Gade*

Qana ah dan Tasamuh. Aspek Akhlak

I. PENDAHULUAN. berbeda-beda baik itu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan

LAMPIRAN I KATA PENGANTAR

BAB 1 PENGANTAR. A. Latar Belakang Masalah. Perjalanan hidup manusia mengalami beberapa tahap pertumbuhan.

commit to user 6 BAB II LANDASAN TEORI A. Landasan Teori 1. Kepercayaan Diri a. Pengertian Kepercayaan diri adalah salah satu aspek kepribadian yang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Harga diri merupakan evaluasi yang dibuat individu dan kebiasaan

Lampiran 1 Alat Ukur DATA PRIBADI. Jenis Kelamin : Pria / Wanita IPK :... Semester ke :...

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan

LAMPIRAN. repository.unisba.ac.id

BAB II LANDASAN TEORI. mau dan mampu mewujudkan kehendak/ keinginan dirinya yang terlihat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Dea Gardea, 2013

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan

Pdt Gerry CJ Takaria

BAB II. Tinjauan Pustaka

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan zaman diabad 21 ini memperlihatkan perubahan yang begitu

BAB I PENDAHULUAN. kembar identik pun masih dapat dibedakan melalui sifat-sifat non-fisik yang

PENDEKATAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI. Fitria Dwi Andriyani, M.Or.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Efikasi Diri Akademik

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki era globalisasi yang terjadi saat ini ditandai dengan adanya

Seni Menata Hati Dalam Bergaul

BAB II KAJIAN TEORI. 2010:523) menyatakan bahwa self efficacy mempengaruhi pilihan aktivitas

PETUNJUK PENGISIAN. 1. Bacalah pernyataan-pernyataan pada lembar berikut ini secara teliti.

Bab 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kondisi psikis atau mental akan mempengaruhi performa atlet baik saat latihan

BAB 4 BERPIKIR POSITIF

BAB II TINJAUAN TEORI

Reliabilitas alat ukur kuesioner self esteem adalah 0,714 artinya reliabilitas tinggi.

"Ia [kasih]tidak melakukan yang tidak sopan."

MOTIVASI BERPRESTASI ABSTRACK

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Dalam kehidupan bermasyarakat banyak sekali nilai-nilai dalam

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Hana Nailul Muna, 2016

BAB IV ANALISIS DATA. umumnya para remaja, tak terkecuali para remaja Broken Home, baik pada saat

BAB I PENDAHULUAN. Deskripsi cantik fisik, setiap orang punya paham sendiri-sendiri. Orang

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana

Astry Evana P.Y.H. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. individu dengan individu yang lain merupakan usaha manusia dalam

05FIKOM PSIKOLOGI KOMUNIKASI PSIKOLOGI KOMUNIKATOR

BAB I PENDAHULUAN. Asuransi untuk jaman sekarang sangat dibutuhkan oleh setiap perorangan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Berlian Ferdiansyah, 2014

EMOTIONAL INTELLIGENCE MENGENALI DAN MENGELOLA EMOSI DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN Hogan Assessment Systems Inc.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PEMBANGUNAN KARAKTER MELALUI PERMAINAN TENIS

II. TINJAUAN PUSTAKA. mempertahankan gawangnya sendiri agar tidak kemasukan (Sarumpaet. A.

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN ANAK MELALUI PENDIDIKAN JASMANI

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV ANALISA DATA. data sekunder yang telah dikumpulkan oleh peneliti melalui proses. wawancara dan observasi secara langsung di lokasi penelitian.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. memiliki rasa minder untuk berinteraksi dengan orang lain.

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju masa. lainnya. Masalah yang paling sering muncul pada remaja antara lain

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rizal Faisal, 2013

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. berpikir positif. Adapun penjabaran dan hubungan dari masing-masing

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

HUBUNGAN ANTARA PARTISIPASI KEIKUTSERTAAN DALAM EKSTRAKURIKULER BOLA BASKET DENGAN TINGKAT KECERDASAN EMOSIONAL

BAB I PENDAHULUAN. menjadi suatu kesadaran umum setiap organisasi dalam rangka menciptakan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan digunakan sebagai indikator kemajuan suatu bangsa yang

Perkebunan produktif di lereng pegunungan

Bab 1 PENDAHULUAN. Di Indonesia kegiatan psikologi olahraga belum berkembang secara meluas.

BAB 1 PENDAHULUAN. Kepercayaan diri tentu saja mengalami pasang surut, seseorang mungkin merasa percaya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sepanjang hayatnya, baik sebagai individu, kelompok sosial, maupun sebagai

Kecerdasan Emosional. Adaptasi dari James D.A Parker et al,2011. Kelas :. Umur :...

LAMPIRAN. repository.unisba.ac.id

Transkripsi:

Positive Self-Esteem (Self-Esteem Yang Sehat) 1. Pengertian Positive Self-Esteem Istilah self-esteem diartikan pula sebagai kepercayaan diri atau keyakinan diri. Self-esteem berkaitan dengan perasaan bahwa kita pantas, layak, berharga, mampu dan berguna, tak peduli apapun yang telah terjadi dalam hidup kita, apa yang sedang terjadi atau apa yang bakal terjadi. Rusli Lutan (2003a:3) memaparkan bahwa self-esteem adalah penerimaan diri sendiri, oleh diri sendiri berkaitan bahwa kita pantas, berharga, mampu dan berguna tak peduli dengan apa pun yang sudah, sedang atau bakal terjadi. Tumbuhnya perasaan aku bisa dan aku berharga merupakan inti dari pengertian self-esteem. Hal yang serupa diungkapkan dalam sebuah situs Kidshealth (3/2/2006) yang menyatakan bahwa Self-esteem is the collection of beliefs or feeling that we have about ourselves, or our self-perception. How we define ourselfes influences or motivations, attitudes, and behavioras and affects our emotional adjusment. Maksudnya adalah self-esteem merupakan kumpulan dari kepercayaan atau perasaan tentang diri kita atau persepsi kita terhadap diri sendiri tentang motivasi, sikap, perilaku, dan penyesuaian emosi yang mempengaruhi kita. Dari uraian tersebut dapat dikemukakan pula bahwa self esteem berkenaan dengan: (a) kemampuan kita untuk memahami apa yang dapat kita lakukan dan apa yang telah dilakukan, (b) penetapan tujuan dan arah hidup sendiri, (c) kemampuan untuk tidak merasa iri terhadap prestasi orang lain. Awal dari pembinaan self-esteem yang sehat adalah mengajarkan kepada siswa untuk memahami siapa dirinya, khususnya yang berkenaan dengan Bahan Ajar MK Psikologi Anak dalam Penjas Didin Budiman 1

kelebihan dan kekurangan yang dimiliki siswa. Dalam konteks pembelajaran penjas, lingkungan yang dimaksud adalah kegiatan belajar penjas yang melibatkan peran aktif seluruh siswa dalam melaksanakan tugas gerak yang disampaikan guru. Tujuannya tiada lain untuk memberikan pengalaman sukses melalui pemberian penghargaan (reward yang menjadi bagian dari feedback) kepada setiap siswa sehingga masing-masing siswa mampu menghargai kelebihan yang dimiliki oleh setiap siswa. 2. Self-Esteem Sebagai Landasan Keterampilan Hidup Self-esteem bukanlah kesombongan, keangkuhan atau bualan besar. Rusli Lutan (2003:10-11) mengemukakan self-esteem bagi seseorang ibarat fondasi sebuah bangunan rumah. Self-esteem merupakan sebuah struktur penting bagi perkembangan kemampuan yang lainnya. Di atas self-esteem-lah akan terbangun prestasi. Bila self-esteem dan penilaian diri rendah maka apapun yang kita bangun di atasnya niscaya akan mudah retak. Itulah sebabnya self-esteem harus dibangun sekokoh mungkin agar kita dapat mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Untuk itulah guru penjas harus jeli dan kritis dalam setiap penyajian bahan ajar sehingga mampu menyentuh aspek self-esteem siswa. 3. Faktor Yang Mempengaruhi Self Esteem Self-esteem yang sehat bisa dibentuk dan dibina (ditumbuhkembangkan) yang tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Rusli Lutan (2003:15-21) Bahan Ajar MK Psikologi Anak dalam Penjas Didin Budiman 2

mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan self-esteem yaitu sebagai berikut: a. Orang tua Orang tua merupakan sumber utama pembentuk self-esteem, khususnya di kalangan anak-anak. Pemberian yang paling berharga dari orang tua adalah meletakkan landasan sels-esteem yang kokoh, mengembangkan kepercayaan diri dari hormat diri. Orang tua sebaiknya dapat menumbuhkembangkan self-esteem melalui beberapa cara, diantaranya adalah sebagai berikut: Kritik tertuju kepada perilaku, bukan kepada anak Memberi perhatian kepada anak apabila mencapai hasil yang bagus Memberikan penghargaan kepada usaha anak, bukan hanya pada hasil akhir Lebih banyak menunjukkan kasih dengan memeluk, merangkul sambil mengutarakan kata-kata sayang Memberikan kesempatan agar anak sering merasa pengalaman sukses. b. Para sejawat dan Teman Orang-orang terdekat dalam kehidupan keseharian akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan self-esteem. Ketika anak berada di lingkungan sekolah dengan teman yang sering memperoloknya, maka lingkungan tersebut kurang baik bagi pertumbuhan self-esteem yang sehat. Sebaliknya, teman sejawat dan kawan-kawan dekat dapat pula menumbuhkembangkan self-esteem yang Bahan Ajar MK Psikologi Anak dalam Penjas Didin Budiman 3

sehat. Ini dikarenakan suasana pergaulan yang saling mendukung, saling menghargai terhadap usaha dan hasil yang dicapai seseorang. c. Pencapaian Prestasi Hasil yang dicapai dan memadai merupakan salah satu faktor bagi pengembangan self-esteem. Penciptaan perasaan tenang, yakin, dan mampu melaksanakan suatu tugas merupakan bibit bagi pengembangan self-esteem. Sebaliknya, apabila kegagalan beruntun yang diperoleh akan memberikan kesan mendalam bahwa kita tidak mampu mencapai sukses. d. Diri Anda Sendiri Sumber utama bagi pengembangan self-esteem adalah diiri anda sendiri. Kita dapat mempertinggi atau memperendah self-esteem sesuai dengan perasaan kita sendiri. Seseorang yang sehat self-esteemnya ditandai oleh beberapa ciri diantaranya adalah: Selalu memberi dorongan, motivasi kepada diri sendiri. Selalu memandang pada apa yang dikerjakan dan pada apa yang telah dilakukan. e. Guru dan Pelatih Olahraga Guru dan pelatih olahraga sangat berpotensi membangun atau bahkan menghancurkan self-esteem siswa atau atlet binaanya. Guru atau pelatih olahraga dapat mengembangkan self-esteem dengan cara menempatkan siswa atau atlet dalam kedudukan merasa berharga, merasa diakui dan mampu melakukan sesuatu menurut ukuran masing-masing. Jika guru atau pelatih olahraga lebih suka mengkritik dengan pedasaa atas setiap penampilan siswa Bahan Ajar MK Psikologi Anak dalam Penjas Didin Budiman 4

atau atletnya, maka hal ini merupakan biang bagi terciptanya self-esteem yang negatif. Oleh sebab itulah pemberian penghargaan yang tulus, ucapan yang manis, pemberian dorongan dan pengakuan terhadap siri setiap siswa seperti apa adanya merupakan bagian dari taktik untuk mengembangkan self-esteem. 4. Jenis-Jenis Self-Estetem KidsHealts memaparkan mengenai dua jenis self-esteem yaitu Unhealty Self-Esteem dan Healthy Self-Esteem. a. Healthy Self-Esteem atau Self-esteem yang sehat Siswa yang memiliki self-esteem tinggi atau self-esteem yang sehat pada umumnya memiliki kepercayaan diri dan keyakinan yang tinggi pula untuk dapat melakukan tugas gerak yang diinstruksikan guru. Mereka biasanya bersungguh-sungguh dalam melakukan aktivitas jasmani dan selalu berupaya memperbaiki kekurangan dan terus berlatih meningkatkan kemampuannya. Anak atau siswa yang memiliki self-esteem yang sehat ditandai dengan senang memelihara hubungan dengan yang lain, aktif dalam kelompoknya, menyenangkan dalam berhubungan sosial, mampu menemukan solusi ketika peluang menipis, memahami kekuatan dan kelemahannya serta memiliki sikap optimis. b. Unhealthy Self-Esteem atau self-esteem yang tidak sehat Self-esteem yang rendah atau tidak sehat pada anak ditandai dengan tidak adanya keinginan melakukan sesuatu hal yang baru, anak selalu berkata negatif atas kemampuan yang dimilikinya misalnya Saya bodoh!, Saya Bahan Ajar MK Psikologi Anak dalam Penjas Didin Budiman 5

tidak pernah belajar dengan baik. Ciri yang lainnya adalah anak tidak memiliki toleransi, frustasi, dan pesimis. Umumnya mereka enggan atau bermalas-malasan melakukan tugas gerak karena merasa khawatir atau tidak percaya terhadap kemampuan yang dimilikinya, tidak bekerja keras memperbaiki kekurangannya dan merasa cukup dengan apa yang sudah dilakukannya. Untuk mengetahui derajat atau tingkat self-esteem yang dimiliki dapat melalui pengukuran yang sederhana sebagaimana dikemukakan oleh Rusli Lutan (2003:11-12) yaitu sebuah kuis singkat yang di dalamnya memuat indikatorindikator yang bertalian dengan keadaan self-esteem. Ada sepuluh pernyataan yang berkenaan dengan derajat self-esteem yaitu sebagai berikut: 1. Saya tahu bahwa saya adalah orang yang berguna. 2. Saya selalu memberikan dorongan kepada diri sendiri. 3. Tujuan yang saya tetapkan dalam hidup benar-benar saya buat sendiri. 4. Saya tahu saya akan dapat mencapai tujuan saya dalam hidup. 5. Saya mengeritik tindakan saya, bukan terhadap diri saya. 6. Mencoba sesuatu yang baru dalam hidup benar-benar merangsang saya. 7. Saya memperkenankan diri saya berbuat salah dalam hidup. 8. Saya menyukai dan mencari kawan yakni orang-orang yang bersikap positif. 9. Saya cenderung terpaku pada hak dan kebutuhan saya dalam hidup. 10. Saya memperoleh sukses yang saya ingat pada masa lalu. Bahan Ajar MK Psikologi Anak dalam Penjas Didin Budiman 6

5. Upaya Pengembangan Self-Esteem Yang Sehat Self-esteem yang sehat atau tinggi dapat dilatih dan dikembangkan. Latihan merupakan cara terbaik untuk membina self-esteem dengan selalu memperhatikan tiga hal yang mempengaruhi hidup yakni perilaku (tindakan), pola pikir (kepercayaan dan sikap), emosi (perasaan/mood) (Rusli Lutan, 2003:17). Dalam konteks pembelajaran pendidikan jasmani, guru penjas memegang peran utama dalam menumbuhkembangkan self-esteem di kalangan siswa sekolah dasar. Salah satu faktor yang menjadi kompetensi penting bagi guru penjas adalah kemampuan berkomunikasi secara efektif. Keterampilan berkomunikasi merupakan bagian penting dari keterampilan hidup. Bila guru penjas mampu berkomunikasi dengan baik, jelas, terbuka, dan sopan, maka ia dapat menciptakan perasaan nyaman bagi seluruh siswanya. Tiga unsur pokok agar dapat berkomunikasi secara efektif yaitu: a. Berterus terang Berterus terang berarti menceritakan sesuatu sesungguhnya tentang perasaan dengan cara yang enak dan berpendirian. Guru penjas harus mampu berterus terang perihal penampilan setiap siswa dengan tidak membuat perasaan siswa menjadi tidak anak atau terganggu. Sampaikan penilaian yang sebenarnya sesuai dengan kemampuan dan keberhasilan yang sudah dicapai oleh siswa. b. Mendengar Pendengar yang baik tidak berarti hanya memasang telinga lebar-lebar, melainkan juga memperlihatkan sikap memperhatikan lawan bicara yang Bahan Ajar MK Psikologi Anak dalam Penjas Didin Budiman 7

dicirikan dengan reaksi fisik dan sikap yang munjukkan bahwa kita tertarik terhadap apa yang dibicarakan lawan bicara. c. Merasakan Perasaan Orang Lain Menerima perasaan orang lain merupakan bagian penting dari komunikasi efektif. Kita akan merasa nyaman dalam berkomunikasi manakaala kita dapat memahami perasaan orang lain, terampil mendengar, dan jelas dalah hal menyampaikan buah pikiran kita (Rusli Lutan, 2003:25). Bahan Ajar MK Psikologi Anak dalam Penjas Didin Budiman 8