BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

EVALUASI RENCANA TATA RUANG WILAYAH BERDASARKAN INDEKS POTENSI LAHAN MELALUI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN SRAGEN

BAB I PENDAHULUAN. sumberdaya lahan (Sitorus, 2011). Pertumbuhan dan perkembangan kota

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 8. SUPLEMEN PENGINDRAAN JAUH, PEMETAAN, DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG)LATIHAN SOAL 8.3.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. ditunjukkan oleh besarnya tingkat pemanfaatan lahan untuk kawasan permukiman,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN TAPANULI UTARA DARI SISI PDRB SEKTORAL TAHUN 2013

BAB I PENDAHULUAN. kondisi penggunaan lahan dinamis, sehingga perlu terus dipantau. dilestarikan agar tidak terjadi kerusakan dan salah pemanfaatan.

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. HALAMAN PENGESAHAN... i. HALAMAN PERNYATAAN... iii. INTISARI... iii. ABSTRACT... iv. KATA PENGANTAR...

BAB I PENDAHULUAN. dan masyarakatnya mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada dan. swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang

PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Kota Depok telah resmi menjadi suatu daerah otonom yang. memiliki pemerintahan sendiri dengan kewenangan otonomi daerah

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

ANALISIS POTENSI LAHAN PERTANIAN SAWAH BERDASARKAN INDEKS POTENSI LAHAN (IPL) DI KABUPATEN WONOSOBO

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. dengan jalan mengolah sumberdaya ekonomi potensial menjadi ekonomi riil

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Tabel 1.1 Tabel Jumlah Penduduk Kecamatan Banguntapan Tahun 2010 dan Tahun 2016

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

berbagai macam sumberdaya yang ada di wilayah pesisir tersebut. Dengan melakukan pengelompokan (zonasi) tipologi pesisir dari aspek fisik lahan

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pertambahan penduduk daerah perkotaan di negara-negara berkembang,

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Perkembangan jumlah penduduk dan industri pada CAT Karanganyar-Boyolali

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Pembangunan ekonomi adalah proses yang dapat menyebabkan

BAB I. PENDAHULUAN. luas, yang mengkaji sifat-sifat dan organisasi di permukaan bumi dan di dalam

I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan pendapatan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Kabupaten Ponorogo merupakan daerah di Provinsi Jawa Timur

IV. KEADAAN UMUM 4.1. Regulasi Penataan Ruang

Pendapatan Regional / Product Domestic Regional Bruto

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. cepat, sementara beberapa daerah lain mengalami pertumbuhan yang lambat.

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi menjadi prioritas utama bagi negara-negara

BAB I PENDAHULUAN. Perencanaan pengembangan wilayah merupakan salah satu bentuk usaha

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

I. PENDAHULUAN. dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dengan kata lain, perkembangannya

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Laju pertumbuhan penduduk yang semakin cepat dan aktifitas penduduk di suatu daerah membawa perubahan yang

I. PENDAHULUAN. yang menyebabkan GNP perkapita (Gross National Product) atau pendapatan

BAB I PENDAHULUAN. institusi nasional tanpa mengesampingkan tujuan awal yaitu pertumbuhan

INDIKATOR MAKRO EKONOMI KABUPATEN TEGAL

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

penduduk yang paling rendah adalah Kabupaten Gunung Kidul, yaitu sebanyak 454 jiwa per kilo meter persegi.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

BAB I PENDAHULUAN. rakyat. Pembangunan merupakan pelaksanaan dari cita-cita luhur bangsa. desentralisasi dalam pembangunan daerah dengan memberikan

BAB I PENDAHULUAN. upaya mencapai tingkat pertumbuhan pendapatan perkapita (income per capital) dibandingkan laju pertumbuhan penduduk (Todaro, 2000).

BAB I PENDAHULUAN. dan melakukan segala aktivitasnnya. Permukiman berada dimanapun di

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. memuat arah kebijakan pembangunan daerah (regional development policies)

Gambar 1.1 Siklus Hidrologi (Kurkura, 2011)

I.PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan sebagai perangkat yang saling berkaitan dalam

BAB I PENDAHULUAN. diperbarui adalah sumber daya lahan. Sumber daya lahan sangat penting bagi

Katalog BPS :

I. PENDAHULUAN. Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional dalam rangka

IV. GAMBARAN UMUM KABUPATEN TULUNGAGUNG

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Sektor industri mempunyai peranan penting dalam pembangunan ekonomi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Kepariwisataan merupakan salah satu dari sekian banyak gejala atau

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. sehingga masyarakat yang terkena harus menanggapinya dengan tindakan. aktivitas bila meningkat menjadi bencana.

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan ekonomi bertujuan untuk mewujudkan ekonomi yang handal. Pembangunan ekonomi diharapkan dapat meningkatkan

I. PENDAHULUAN. perkembangan suatu perekonomian dari suatu periode ke periode. berikutnya. Dari satu periode ke periode lainnya kemampuan suatu negara

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan pesisir sangat luas,

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Jumlah Penduduk Kabupaten Bantul

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan kebutuhan manusia akibat dari pertambahan jumlah penduduk maka

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB 11: GEOGRAFI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan daerah memiliki peranan penting dalam menunjang pembangunan nasional. Pada masa Orde baru pembangunan nasional dikendalikan oleh pemerintah pusat, sedangkan daerah hanya menjadi pelaksana perintah dari pusat. Sistem yang tersentralisasi tersebut mengakibatkan terjadinya kesenjangan capaian pembangunan antar daerah satu dengan daerah lainnya akibat tidak meratanya pembangunan. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang diperbarui dengan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2014, memberikan kewenangan yang besar bagi daerah untuk dapat mengelola potensi daerahnya. Potensi yang ada di suatu daerah dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung perkembangan suatu wilayah. Pengembangan wilayah merupakan upaya membangun dan mengembangkan suatu wilayah berdasarkan pendekatan spasial dengan mempertimbangkan aspek sosial budaya, ekonomi, lingkungan fisik, dan kelembagaan. Pendekatan pembangunan yang memadukan antara pembangunan berbasis wilayah dan pembangunan berbasis sektoral dirasa penting dalam perencanaan pembangunan wilayah. Pembangunan berbasis wilayah merupakan pembangunan fisik wilayah sedangkan pembangunan berbasis sektoral lebih mengarah pada sektor potensial yang menunjang pengembangan wilayah seperti sektor pertanian dan industri. Pengembangan wilayah dilakukan untuk mengurangi kesenjangan wilayah. Kesenjangan wilayah menunjukkan ketidakmerataan kemajuan pembangunan antar wilayah yang terjadi akibat perbedaan kecepatan pertumbuhan. Pertumbuhan yang merata baik dari aspek fisik maupun sosial akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Perencanaan pengembangan wilayah berorientasi pada daerah yang belum berkembang. Potensi dan ketersediaan sumberdaya wilayah harus diketahui dan dimanfaatkan untuk kemakmuran masyarakat. Penentuan potensi wilayah dapat dilakukan dengan evaluasi lahan. Evaluasi lahan harus memperhatikan faktor 1

lingkungan sehingga tidak mengganggu keseimbangan ekosistem. Penilaian potensi lahan dapat dilakukan dengan menggunakan Indeks Potensi Lahan (IPL). IPL menyatakan nilai tingkat potensi lahan yang ada di suatu wilayah. Indeks potensi lahan dikaji dengan menggunakan pendekatan bentuklahan sehingga batasnya berupa batas fisik, sedangkan indeks potensi sosial dikaji berdasarkan batas administrasi. Kondisi wilayah memberikan gambaran tentang potensi yang ada di wilayah tersebut serta faktor tertentu yang dapat menghambat proses pengembangan wilayah. Penentuan prioritas daerah pengembangan mutlak diperlukan agar perencanaan wilayah dapat terlaksana dengan baik dan sesuai sasaran. Keputusan untuk menentukan lokasi pengembangan tidak boleh dilakukan tanpa mengidentifikasi lebih dahulu keterbatasan kondisi fisik wilayah dan keadaan sosial ekonomi penduduk yang telah menempati lokasi tersebut. Penentuan prioritas harus menunjukkan wilayah tersebut dapat dikembangkan tanpa merusak lingkungan. Perkembangan teknologi yang semakin pesat mendorong perkembangan di bidang penginderaan jauh. Penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk monitoring dan memperoleh atau mengekstraksi data potensi lahan yang ada di suatu wilayah. Penginderaan jauh dirasa lebih efektif dalam menghasilkan informasi kondisi fisik lahan. Citra Landsat 8 merupakan salah satu satelit sumberdaya yang mempunyai resolusi spasial menengah sehingga sesuai untuk mengkaji daerah yang luas. Saluran tertentu pada citra Landsat 8 sangat peka terhadap kondisi permukaan bumi seperti tanah dan batuan serta vegetasi penutup lahan. Hal ini akan mempermudah dalam menginterpretasi parameter fisik penentu potensi wilayah yang terdiri dari bentuk lahan, kemiringan lereng, litologi, tanah, hidrologi, dan kerawanan bencana. Pemanfaatan Citra Landsat 8 untuk keperluan perencanaan pengembangan wilayah sejauh ini belum banyak dilakukan. Sebagian besar perencanaan pengembangan yang ada masih menggunakan metode survei terestrial untuk memperoleh data potensi lahan sebagai dasar penyusunan prioritas pengembangan wilayah. Teknik penginderaan jauh mempunyai peranan penting dalam penentuan prioritas pengembangan wilayah. Citra penginderaan jauh mempunyai beberapa 2

keunggulan seperti lebih cepat dalam ekstraksi data dan mempunyai tingkat keakuratan yang memadai sehingga lebih murah apabila dibandingkan cek lapangan secara langsung. Sistem informasi geografi dapat mempermudah analisis data guna menentukan prioritas pengembangan wilayah demi terwujudnya perkembangan wilayah yang merata. SIG dapat digunakan untuk mengolah data dan memetakkan potensi lahan dan potensi sosial ekonomi di suatu wilayah. Kabupaten Boyolali yang berada di dataran kaki gunung api menyebabkan daerah ini menjadi subur karena material dari Gunung Merapi. Seiring dengan perkembangan zaman dan meningkatnya taraf hidup masyarakat maka pemerintah daerah giat melakukan pembangunan. Pembanguan suatu wilayah diharapkan mampu memicu perkembangan wilayah sekitarnya atau memberikan pelayanan ekonomi bagi wilayah sekitar. Pengembangan suatu wilayah harus didasarkan pada karakteristik dan potensi sumberdaya yang dimiliki wilayah tersebut serta daya saingnya dalam berinteraksi dengan wilayah di sekitarnya. Kabupaten Boyolali merupakan salah satu kabupaten di Karesidenan Surakarta yang memiliki pembangunan lambat dibanding kabupaten lainnya. Hal ini ditunjukkan oleh pendapatan daerah regional bruto atas dasar harga berlaku (PDRB ADHB) Kabupaten Boyolali tahun 2005 hingga 2009 terhadap kabupaten lain di Karesidenan Surakarta. Tabel 1.1 menunjukkan PDRB Kabupaten Boyolali selama 5 tahun terakhir dan pertumbuhannya paling rendah jika dibanding dengan kabupaten lainnya di Karesidenan Surakarta. Tabel 1.1 PDRB ADHB Eks Karesidenan Surakarta Tahun 2005-2009 Kabupaten / PDRB ADHB (Rp Milyar) Rata-rata Kota 2005 2006 2007 2008 2009 Pertumbuhan Boyolali 4,64 5,14 5,71 6,44 7,14 10,84 Klaten 6,52 7,50 8,34 9,49-14,78 Sukoharjo 5,54 6,27 7,05 8,04-13,74 Wonogori 3,45 4,01 4,55 5,26-13,94 Karanganyar 5,61 6,18 6,90 7,68-11,11 Sragen 3,49 4,04 4,51 5,17-14,03 Surakarta 5,58 6,19 6,90 7,90-13,56 Sumber : BPS Kabupaten Boyolali 3

Kurun waktu 5 tahun dari tahun 2005 hingga 2009, sektor pertanian merupakan sektor yang menjadi andalan di Kabupaten Boyolali karena menyumbang 36% dari total PDRB Kabupaten Boyolali. Sektor industri menyumbang 15,12%, sektor perdagangan 24,81%, sektor jasa 10,52%, sedangkan sektor lainnya masih dibawah 10% berdasarkan PDRB ADHB Kabupaten Boyolali tahun 2005-2009. Tabel 1.2 Distribusi Sumbangan PDRB ADHB Kabupaten Boyolali 2005-2009 No. Sektor Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 1. Pertanian 36,76 35,84 34,48 34,07 33,51 2. Pertambangan dan penggalian 0,75 0,85 0,92 0,91 0,96 3. Industri pengolahan 16,32 16,18 16,26 16,37 16,35 4. Listrik dan air bersih 0,98 1,19 1,24 1,30 1,30 5. Bangunan dan konstruksi 2,46 2,57 2,80 2,76 2,81 6. Perdagangan 25,97 25,49 25,09 24,92 24,60 7. Pengangkutan dan komunikasi 2,65 2,76 2,69 2,71 2,76 8. Keuangan, persewaan, dan Jasa 6,45 6,40 6,35 6,43 6,45 Perusahaan 9. Jasa-jasa 7,68 8,72 9,81 10,51 11,36 JUMLAH 100 100 100 100 100 Sumber : BPS Kabupaten Boyolali Keterlambatan pembangunan di Kabupaten Boyolali dapat dipengaruhi oleh keterbatasan faktor fisik wilayah sehingga pembangunan sulit dilaksanakan di wilayah tertentu. Pembangunan yang tidak merata di Kabupaten Boyolali dapat dilihat dari perkembangan permukiman yang pesat di wilayah kota dan perkembangan industri yang dominan di wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo. Perencanaan pembangunan harus dilaksanakan agar tercipta pembangunan yang merata di seluruh wilayah Kabupaten Boyolali. Analisis ambang batas (threshold analysis) merupakan metode perencanaan yang komprehensif untuk evaluasi kemungkinan pembangunan wilayah dengan melihat keterbatasan faktor fisik dan sosial ekonomi. Keterbatasan atau lebih dikenal dengan istilah ambang batas tergantung pada lokasi pembangunan (Kozlowski,1997). Berdasarkan batasan tersebut, maka perencanaan fisik wilayah dapat mempengaruhi dan mengarah pada proses pembangunan. Analisis ambang batas dapat dikombinasikan dengan teknik perencanaan lainnya seperti perencanaan wilayah berbasis penilaian potensi wilayah menggunakan teknik 4

penginderaan jauh. Keputusan untuk menentukan lokasi perkembangan harus mengidentifikasi terlebih dahulu keterbatasan kondisi fisik wilayah sehingga tidak melampaui daya dukung lingkungan. (Sumarwoto, 1987). Kemampuan citra penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis dapat membantu untuk mengahasilkan informasi tentang parameter fisik penentu potensi wilayah. Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini bermaksud mengkaji perencanaan pengembangan wilayah berdasarkan potensi fisik dan potensi sosial ekonomi, dengan judul Analisis Ambang Batas Untuk Penentuan Prioritas Pengembangan Wilayah Berdasarkan Citra Landsat 8 Di Kabupaten Boyolali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi lahan yang ada di suatu wilayah berdasarkan informasi parameter fisik dan data sosial ekonomi serta menentukan prioritas daerah pengembangan berdasarkan penilaian tingkat potensi fisik, sosial ekonomi dengan analisis ambang batas serta rekomendasi pengembangan wilayah dengan pertimbangan penggunaan lahan. 1.2. Perumusan Masalah Kabupaten Boyolali memiliki luas 1094,09 km 2 dan merupakan salah satu kabupaten yang cukup luas di Jawa Tengah. Perencanaan pengembangan wilayah di Kabupaten Boyolali harus diawali dengan inventarisasi potensi sumberdaya yang ada dan mengetahui kondisi wilayah secara umum, baik kondisi fisik maupun kondisi sosial ekonomi masyarakat. Topografi yang beragam menyebabkan perkembangan wilayah di Kabupaten Boyolali tidak merata. Kondisi fisiografi yang berbeda menunjukkan potensi yang berbeda pula pada tiap wilayah. Kondisi fisiografi ini harus mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah sehingga pelaksanaan pembangunan dapat merata dan sesuai dengan kondisi fisik wilayah. Kondisi fisiografi yang beragam menyebabkan potensi wilayah Kabupaten Boyolali belum terpetakan dengan baik. Oleh karena itu diperlukan informasi mengenai potensi wilayah yang disajikan dalam bentuk peta potensi fisik wilayah dan peta potensi sosial ekonomi. Penelitian ini memperhitungkan faktor yang mendorong perkembangan wilayah dan faktor yang menjadi penghambat dalam perencanaan pengembangan 5

wilayah. Perencanaan pengembangan wilayah dan rekomendasi kebijakan pengembangan wilayah membutuhkan data potensi wilayah meliputi potensi fisik maupun potensi sosial ekonomi. Data potensi fisik lahan sangat sulit didapatkan karena memerlukan pengukuran langsung dan kegiatan lapangan untuk menilai potensi lahan yang ada di suatu wilayah. Penginderaan jauh dapat digunakan untuk menyadap informasi terkait parameter fisik lahan dengan cepat dan biaya yang lebih murah dibanding cek lapangan secara langsung. Penginderaan jauh dirasa lebih efektif dalam menghasilkan informasi kondisi fisik lahan. Citra Landsat 8 merupakan salah satu satelit sumberdaya yang mempunyai resolusi spasial menengah sehingga sesuai untuk mengkaji daerah yang luas karena cakupannya cukup luas. Citra satelit Landsat 8 diharapkan mampu memberikan informasi terkait parameter penentu potensi fisik lahan seperti bentuklahan, kemiringan lereng, litologi, tanah, hidrologi, dan kerawanan bencana. Perkembangan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografi dapat mempermudah analisis data guna menentukan prioritas pengembangan wilayah demi terwujudnya perkembangan wilayah yang merata. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan di bidang penginderaan jauh dan SIG, memungkinkan untuk dilakukannya monitoring dan inventasisasi data fisik sebagai dasar pembuatan peta potensi wilayah. Peta potensi wilayah diharapkan mampu memberi gambaran secara rinci potensi wilayah yang ada di Kabupaten Boyolali dan selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk dasar perencanaan pengembangan wilayah. Penentuan prioritas daerah pengembangan mutlak diperlukan agar perencanaan wilayah lebih optimal. Penentuan prioritas daerah pengembangan ini dapat memanfaatkan data potensi fisik serta potensi sosial ekonomi yang tersaji dalam peta. Keputusan untuk menentukan lokasi pengembangan tidak boleh dilakukan tanpa mengidentifikasi lebih dahulu keterbatasan kondisi fisik wilayah dan keadaan sosial ekonomi penduduk yang telah menempati lokasi tersebut. Penentuan prioritas harus menunjukkan wilayah tersebut dapat dikembangkan tanpa merusak lingkungan. Oleh karena itu digunakan analisis ambang batas untuk 6

mengetahui batas maksimal penggunaan lahan baik dari faktor fisik maupun sosial ekonomi. Analisis ambang batas dapat dijadikan dasar penentuan prioritas daerah pengembangan wilayah. Berdasarkan deskripsi tersebut, dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut: 1. Kondisi fisiografi yang beragam menyebabkan potensi wilayah Kabupaten Boyolali belum terpetakan dengan baik. 2. Citra Penginderaan Jauh belum banyak digunakan untuk mengetahui kondisi wilayah secara cepat dan inventarisasi potensi sumberdaya yang ada di wilayah tersebut. 3. Apakah pengembangan wilayah di Kabupaten Boyolali dapat optimal dengan penentuan prioritas daerah pengembangan berdasarkan penilaian tingkat potensi fisik, sosial ekonomi dan analisis ambang batas? 1.3. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mengkaji akurasi Citra Penginderaan Jauh untuk memperoleh informasi parameter fisik sebagai dasar penentuan potensi lahan. 2. Menilai potensi wilayah yang ada di Kabupaten Boyolali berdasarkan parameter potensi fisik lahan dan parameter sosial ekonomi. 3. Menentukan prioritas daerah pengembangan berdasarkan penilaian tingkat potensi fisik, sosial ekonomi dengan analisis ambang batas serta rekomendasi pengembangan wilayah dengan pertimbangan penggunaan lahan. 7

1.4. Kegunaan Penelitian 1. Hasil penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam bidang aplikasi ilmu Geografi untuk pengembangan wilayah, serta masukan untuk penelitian-penelitian selanjutnya terkait perencanaan wilayah. 2. Hasil penelitian ini secara praktis dapat digunakan sebagai pertimbangan perencanaan wilayah khususnya untuk menentukan prioritas pengembangan wilayah. 3. Bagi Pemerintah Kabupaten Boyolali, dapat menjadi rekomendasi kebijakan pengembangan wilayah. 8