Pengukuran Dosis Organ Sensitif Pada Pemeriksaan Computed Tomography (CT) Abdomen Menggunakan Fantom Rando

dokumen-dokumen yang mirip
UJI KESESUAIAN PESAWAT CT-SCAN MEREK PHILIPS BRILIANCE 6 DENGAN PERATURAN KEPALA BAPETEN NOMOR 9 TAHUN 2011

ESTIMASI NILAI CTDI DAN DOSIS EFEKTIF PASIEN BAGIAN HEAD, THORAX DAN ABDOMEN HASIL PEMERIKSAAN CT-SCAN MEREK PHILIPS BRILIANCE 6

PERBANDINGAN DOSIS RADIASI DI UDARA TERHADAP DOSIS RADIASI DI PERMUKAAN PHANTOM PADA PESAWAT CT-SCAN

PENGARUH DIAMETER PHANTOM DAN TEBAL SLICE TERHADAP NILAI CTDI PADA PEMERIKSAAN MENGGUNAKAN CT-SCAN

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pemeriksaan Computed Tomography (CT scan) merupakan salah salah

ABSTRAK

Analisis Pengaruh Faktor Eksposi terhadap Nilai Computed Tomography Dose Index (CTDI) pada Pesawat Computed Tomography (CT) Scan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. massanya, maka radiasi dapat dibagi menjadi radiasi elektromagnetik dan radiasi

Analisa Kualitas Sinar-X Pada Variasi Ketebalan Filter Aluminium Terhadap Dosis Efektif

ANALISIS PENERIMAAN DOSIS RADIASI DI ORGAN MATA PADA PEMERIKSAAN NASOFARING MENGGUNAKAN CT SCAN

ANALISIS SEBARAN RADIASI HAMBUR CT SCAN 128 SLICE TERHADAP PEMERIKSAAN CT BRAIN

IMPLEMENTASI COMPLIANCE TEST PESAWAT DENTAL INTRAORAL PADA SALAH SATU KLINIK GIGI DI KOTA PADANG

PERBANDINGAN KARAKTERISTIK KELUARAN ANTARA PESAWAT SINAR-X TOSHIBA MODEL DRX-1824B DAN TOSHIBA MODEL DRX-1603B. Skripsi

PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN TINGKAT PANDUAN PAPARAN MEDIK ATAU DIAGNOSTIC REFERENCE LEVEL (DRL) NASIONAL

Verifikasi TPS untuk Dosis Organ Kritis pada Perlakuan Radioterapi Area Pelvis dengan Sinar X 10 Megavolt

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. tindakan tertentu, maupun terapetik. Di antara prosedur-prosedur tersebut, ada

PENGARUH TEGANGAN TABUNG (KV) TERHADAP KUALITAS CITRA RADIOGRAFI PESAWAT SINAR-X DIGITAL RADIOGRAPHY (DR) PADA PHANTOM ABDOMEN

PENENTUAN NILAI NOISE BERDASARKAN SLICE THICKNESS PADA CITRA CT SCAN SKRIPSI HEDIANA SIHOMBING NIM :

Youngster Physics Journal ISSN : Vol. 2, No. 1, April 2013, Hal 27-34

Uji Kesesuaian Pesawat Fluoroskopi Intervensional merek Philips Allura FC menggunakan Detektor Unfors Raysafe X2 di Rumah Sakit Universitas Andalas

Pengukuran Dosis Radiasi dan Estimasi Efek Biologis yang Diterima Pasien Radiografi Gigi Anak Menggunakan TLD-100 pada Titik Pengukuran Mata dan Timus

Youngster Physics Journal ISSN : Vol. 3, No. 4, Oktober 2014, Hal

PERKIRAAN DOSIS PASIEN PADA PEMERIKSAAN DENGAN SINAR-X RADIOGRAFI UMUM. RUSMANTO

BAB. I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang Penelitian. bersinggungan dengan sinar gamma. Sinar-X (Roentgen) mempunyai kemampuan

Verifikasi Keluaran Radiasi Pesawat Linac (Foton Dan Elektron) Serta 60CO Dengan TLD

ANALISA CTDI PADA PERMUKAAN DAN PUSAT PHANTOM MENGGUNAKAN CT DOSE PROFILER

Dhahryan 1, Much Azam 2 1) RSUD 2 )Laboratorium Fisika Atom dan Nuklir Jurusan Fisika UNDIP

ANALISIS DOSIS RADIASI PEKERJA RADIASI IEBE BERDASARKAN KETENTUAN ICRP 60/1990 DAN PP NO.33/2007

Kata kunci : Fluoroskopi intervensional, QC, dosimetri, kualitas citra.

Analisis Pengaruh Sudut Penyinaran terhadap Dosis Permukaan Fantom Berkas Radiasi Gamma Co-60 pada Pesawat Radioterapi

PENENTUAN KARAKTERISASI CERROBEND SEBAGAI WEDGE FILTER PADA PESAWAT TELETERAPI 60 Co

OPTIMALISASI DOSIS RADIASI SINAR-X TERHADAP PROYEKSI PA (POSTERO-ANTERIOR) DAN LAT (LATERAL) PADA TEKNIK PEMERIKSAAN FOTO THORAX SKRIPSI

ANALISIS DISTRIBUSI COMPUTED TOMOGRAPHY DOSE INDEX (CTDI) PADA BODY PHANTOM

FAKTOR FANTOM DAN ESTIMASI DOSIS EFEKTIF DARI HASIL PENGUKURAN COMPUTED TOMOGRAPHY DOSE INDEX (CTDI) SKRIPSI

Analisis Persamaan Respon Dosis Thermoluminescent Dosimeter (TLD) Pada Spektrum Sinar-X Menggunakan Metode Monte Carlo

Jurnal Fisika Unand Vol. 3, No. 4, Oktober 2014 ISSN

ANALISIS KUALITAS RADIASI DAN KALIBRASI LUARAN BERKAS FOTON 6 DAN 10 MV PESAWAT PEMERCEPAT LINIER MEDIK VARIAN CLINAC CX 4566 ABSTRAK

ANALISIS KUALITAS CITRA VERIFIKASI LAPANGAN RADIASI LINAC PADA KANKER PAYUDARA MENGGUNAKAN VARIASI MONITOR UNIT. Skripsi FRILYANSEN GAJAH

ilmu radiologi yang berhubungan dengan penggunaan modalitas untuk keperluan

JImeD, Vol. 1, No. 1 ISSN X

UJI IMAGE UNIFORMITY PERANGKAT COMPUTED RADIOGRAPHY DENGAN METODE PENGOLAHAN CITRA DIGITAL

ANALISA PENGARUH FAKTOR EKSPOSI TERHADAP ENTRANCE SURFACE AIR KERMA (ESAK)

PENGUKURAN DOSIMETER PERORANGAN PEKERJA RADIASI PUSAT REAKTOR SERBA GUNA TAHUN Yanni Andriani, Elfida Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-BATAN

Pengukuran Dosis Ekuivalen pada Berbagai Organ Kritis Pekerja Radiasi Kedokteran Nuklir

Analisis Dosis Serap CT Scan Thorax Dengan Computed Tomography Dose Index Dan Thermoluminescence Dosimeter

PENGUKURAN DOSIS RADIASI PADA PASIEN PEMERIKSAAN PANORAMIK. Abdul Rahayuddin H INTISARI

DOSIS RADIASI DAN FAKTOR RESIKO PADA PEMERIKSAAN COMPUTED TOMOGRAPHY SCAN WHOLE ABDOMEN 3 FASE SKRIPSI

PENGUJIAN RESPON DOSIS RADIASI IONISASI DARI Nd SILIKA TERDOP SEBAGAI MATERIAL THERMOLUMINESEN DOSIMETER

ESTIMASI DOSIS PASIEN PADA PEMERIKSAAN DENTAL PANORAMIK SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pemeriksaan Computed Tomography (CT scan) merupakan salah salah

PENENTUAN NILAI TEBAL PARUH (HVL) PADA CITRA DIGITAL COMPUTED RADIOGRAPHY

Studi Uniformitas Dosis Radiasi CT Scan pada Fantom Kepala yang Terletak pada Sandaran Kepala

PERBANDINGAN DOSIS RADIASI DI PERMUKAAN KULIT PADA PASIEN THORAX TERHADAP DOSIS RADIASI DI UDARA DENGAN SUMBER RADIASI PESAWAT SINAR-X

ANALISIS NOISE LEVEL HASIL CITRA CT SCAN PADA TEGANGAN TABUNG 120 kv DAN 135 kv DENGAN VARIASI KETEBALAN IRISAN (SLICE THICKNESS)

PENGUKURAN DOSIS RADIASI RUANGAN RADIOLOGI II RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT (RSGM) BAITURRAHMAH PADANG MENGGUNAKAN SURVEYMETER UNFORS-XI

PENGENDALIAN PERSONEL DI PUSAT PENELITIAN TENAGA NUKLIR SERPONG TAHUN 2005

Jurnal Fisika Unand Vol. 3, No. 3, Juli 2014 ISSN

OPTIMASI ASPEK KESELAMATAN PADA KALIBRASI PESAWAT RADIOTERAPI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

UJI KESESUAIAN KUALITAS CITRA DAN INFORMASI DOSIS PASIEN PADA PESAWAT MAMMOGRAFI

MDP) MENGGUNAKAN TEKNIK ROI PADA TULANG PANGGUL KIRI DARI PASIEN KANKER PROSTAT

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

UJI KESESUAIAN AKURASI DAN LINEARITAS KELUARAN RADIASI PADA PESAWAT CT-SCAN SUITABILITY ACCURACY AND LINEARITY OUTPUT RADIATION CT- SCAN TEST

PENGUKURAN DAN PENGHITUNGAN VOLUME PHANTOM DARI CITRA COMPUTED TOMOGRAPHY (CT) SCAN

ANALISIS WAKTU PELURUHAN TERHADAP PERSYARATAN DOSIS RADIOISOTOP UNTUK PEMERIKSAAN GONDOK

PERBANDINGAN KUALITAS CITRA CT SCAN PADA PROTOKOL DOSIS TINGGI DAN DOSIS RENDAH UNTUK PEMERIKSAAN KEPALA PASIEN DEWASA DAN ANAK

Penentuan Entrance Skin Exposure (ESE) pada Pesawat Mammografi Mammomat 1000 dengan Filter Molybdenum (Mo) dan Rhodium (Rh)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kanker merupakan penyebab kematian nomor dua setelah penyakit

PENENTUAN SISA RADIOFARMAKA DAN PAPARAN RADIASI

PREDIKSI DOSIS PEMBATAS UNTUK PEKERJA RADIASI DI INSTALASI ELEMEN BAKAR EKSPERIMENTAL

ANALISIS LINEARITAS KELUARAN RADIASI PADA X-RAY MOBILE DENGAN MENGGUNAKAN PIRANHA

HUBUNGAN ANTARA LAJU DOSIS SERAP AIR DENGAN LAPANGAN RADIASI BERKAS ELEKTRON PESAWAT PEMERCEPAT LINIER MEDIK ELEKTA

ALAT UKUR RADIASI. Badan Pengawas Tenaga Nuklir. Jl. MH Thamrin, No. 55, Jakarta Telepon : (021)

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

STUDI AWAL UJI PERANGKAT KAMERA GAMMA DUAL HEAD MODEL PENCITRAAN PLANAR STATIK MENGGUNAKAN SUMBER RADIASI HIGH ENERGY IODIUM-131 (I 131 )

Jurnal Fisika Unand Vol. 3, No. 2, April 2014 ISSN

PENGARUH SUDUT GANTRI TERHADAP KONSTANSI DOSIS SERAP DI AIR PESAWAT TELETERAPI Co-60 XINHUA MILIK RUMAH SAKIT dr. SARJITO YOGYAKARTA

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 01-P /Ka-BAPETEN/ I-03 TENTANG PEDOMAN DOSIS PASIEN RADIODIAGNOSTIK

OPTIMASI ASPEK KESELAMATAN PADA KALIBRASI PESAWAT TERAPI 60 Co atau 137 Cs

GAMBARAN HITUNG JENIS LEKOSIT PADA RADIOGRAFER DI PERUSAHAAN X SURABAYA TAHUN 2012 Laily Hidayati Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga

Widyanuklida, Vol. 15 No. 1, November 2015: ISSN

TANGGAPAN THERMOLUMINESCENT DOSIMETER CaSO 4 :Dy TERHADAP MEDAN RADIASI CAMPURAN BETA, GAMMA DAN MEDAN RADIASI CAMPURAN BETA GAMMA

Paparan radiasi dari pekerja radiasi sejak tahun berdasarkan kriteria dan lama kerja

ANALISIS PERBANDINGAN PARAMETER DAN PROFIL DOSIS MENGGUNAKAN PHANTOM STANDAR DAN TIDAK STANDAR

PENGUKURAN DOSIS PAPARAN RADIASI DI AREA RUANG CT SCAN DAN FLUOROSKOPI RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG. Novita Rosyida

PENGARUH VARIASI AIR GAP TERHADAP DOSIS SERAP PENYINARAN BERKAS ELEKTRON PADA PESAWAT LINAC SIEMENS / PRIMUS M CLASS 5633

ANALISIS DOSIS SERAP RADIASI PADA PERBEDAAN DIMENSI DAN BENTUK LAPANGAN PENYINARAN BERKAS RADIASI FOTON 6 MV

BAB I PENDAHULUAN. utama kematian akibat keganasan di dunia, kira-kira sepertiga dari seluruh kematian akibat

PENGUKURAN LAJU DOSIS PAPARAN RADIASI EKSTERNAL DI AREA RADIOTERAPI RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG. Diterima: 6 Juni 2016 Layak Terbit: 25 Juli 2016

Bab 2. Nilai Batas Dosis

PERSENTASE DOSIS KEDALAMAN (PDD) PADA PESAWAT TELETERAPI CO-60. Fisikawan medik Habib Syeh Az /

BAB I PENDAHULUAN. Radiodiagnostik merupakan tindakan medis yang memanfaatkan radiasi

ANALISIS DOSIS YANG DITERIMA PASIEN PADA PEMERIKSAAN RENOGRAF

PENENTUAN CT DOSE INDEX (CTDI) UNTUK VARIASI SLICE THICKNESS DENGAN PROGRAM DOSXYZNRC

DOSIS EFEKTIF PEKERJA RADIASI PREPARASI RADIOFARMAKA DI HOTLAB KEDOKTERAN NUKLIR RSUPN DR CIPTO MANGUNKUSUMO JAKARTA

Analisis Radiasi Hambur di Luar Ruangan Klinik Radiologi Medical Check Up (MCU)

ANALISIS IMAGE NOISE DAN NILAI DOSIS RADIASI PENGGUNAAN APLIKASI CARE DOSE 4D DAN NON CARE DOSE 4D PADA PESAWAT MSCT SIEMENS

UJI KELAYAKAN PESAWAT SINAR-X TERHADAP PROYEKSI PA (POSTERO-ANTERIOR) DAN LAT (LATERAL) PADA TEKNIK PEMERIKSAAN FOTO THORAX

LATAR BELAKANG Latar Belakang Kegiatan Litbangyasa

Transkripsi:

Pengukuran Dosis Organ Sensitif Pada Pemeriksaan Computed Tomography (CT) Abdomen Menggunakan Fantom Rando Anglin Andhika Maharani Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, Depok, 16424, Indonesia E-mail:anglinandhikamaharani@yahoo.com Abstrak CT-scan abdomen merupakan opsi dalam penegakan diagnosis terkait dengan dugaan penyakit yang diderita pasien menggunakan radiasi pengion, namun resiko radiasi pada organ sensitif di sekitar area abdomen dapat menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Maka dari itu, dilakukan penelitian untuk menunjukkan seberapa besar dosis radiasi yang diterima organ sensitif (gonad, payudara, tiroid dan mata) pada pelaksanaan pemeriksaan CT abdomen, dengan fantom rando sebagai objek pemeriksaan dan TLD rod sebagai penangkap radiasi. Pelaksanaan pemeriksaan dilakukan dengan memvariasikan kv (80,120 dan 140) dan nilai pitch (4,6 dan 8). Dosis radiasi terbesar didapatkan pada gonad 7,674 mgy dan terendah pada mata kanan dengan 0 mgy dengan tegangan tabung 140 kv dan pitch 6. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan CT-scan abdomen tidak menimbulkan efek langsung. Kata kunci: organ sensitif, TLD, CT-scan, abdomen Abstract CT-scan for abdomen area is an examination option in diagnosis that related to patient s disease, but the radiation risk that appears on sensitive organs near abdomen area need to be concern. Therefore, a research was done to show how much radiation dose for organs received (gonad, breasts, thyroids, and eyes) in CT-scan examination for abdomen, using rando phantom as an object and TLD rod as dosemeter. The variation of examination was done for kv (80, 120, and 140) and pitch (4, 6, and 8). The result show that gonad had received the highest radiation dose with 7,674 mgy (tube s voltage was 140 kv, pitch 6). So, it can be concluded that examination with CT-scan did not give deterministic effect to sensitive organs. Keywords: sensitive organs, TLD, CT-scan, abdomen

Pendahuluan Computed Tomography scanning atau biasa disingkat CT-scan adalah suatu sistem pencitraan tubuh dengan menggunakan radiasi sinar-x yang mengitari objek 360 derajat. Selain untuk mendeteksi kanker, CT-scanner juga dapat digunakan untuk mendiagnosis kondisi dan penyakit pada sistem peredaran darah, batu ginjal, sinusitis, penyakit pada kepala, sistem rangka, dan organ internal. CT-scanner bisa digunakan untuk mendeteksi penyakit pada anak-anak dan dewasa. CT-scan pada abdomen melibatkan organ sensitif yang terdapat pada sekitar abdomen, contohnya ginjal dan gonad. Masing-masing organ memiliki nilai ambang dosisnya terhadap ketahanan radiasi. Berdasarkan International Commission on Radiological Protection (ICRP), gonad pada pria atau sel sperma memiliki nilai ambang dosis 3,5-6 Gy untuk menyebabkan sterilitas permanen, sedangkan pada wanita terjadi pada dosis 2,5-6 Gy. Untuk simulasi pengukuran dosis pada gonad dapat dilakukan dengan fantom rando sebagai pengganti manusia dan dosimeter yang ditempatkan pada fantom. Dengan menggunakan fantom dan TLD rod, maka radiasi dan pengukuran dosis bisa dilakukan tanpa melibatkan manusia untuk diradiasi. Metode Penelitian Peralatan Thermoluminescent Dosemeter (TLD) TLD rod yang Penulis gunakan adalah TLD-100 dari The Harshaw Chemical & Co dengan panjang 3 mm dan diameter 1 mm yang terbuat dari Lithium-Flouride (Li-F). Sebelum pengelompokan, kalibrasi, dan pengambilan data, TLD selalu di-annealing terlebih dahulu untuk mengosongkan muatannya dan menghindari penumpukan radiasi. TLD Reader TLD reader yang digunakan untuk membaca paparan TLD rod adalah merk Harshaw model 3500 buatan Thermo Scientific yang dilengkapi dengan satu laci sampel untuk satu TLD dan mesin pemanas untuk annealing yaitu oven West model 4100+ dan software Thermosoft, sedangkan software yang digunakan untuk pembacaan adalah Windows Radiation Evaluation and Managing Systems (WinREMS).

(a) (b) Gambar 1. (a) TLD Reader Harshaw 3500, (b) Oven West 4100+ Fantom Rando Fantom rando adalah model manusia yang menyerupai manusia asli dalam komposisi penyusun, bentuk fisik, dan bobotnya. Bahan penyusun fantom rando adalah Poly-Urethane (PU) dan tulang alami. Fantom yang Penulis gunakan adalah female phantom dan tidak memiliki representasi jaringan lunak seperti lambung dan ginjal. Unfors Xi R/F Satu set unfors diperlukan untuk kalibrasi TLD rod yang akan dipakai. Unfors ini terdiri dari berbagai detektor yang dilengkapi dengan tiang penyangga, alat pembaca (elektrometer), dan kabel sambungan ke komputer. Pengukuran output dari pesawat radiasi diperlukan untuk menyesuaikan penggunaan energi yang diinginkan. Pesawat CT-scan Pesawat CT-scan yang digunakan dalam penelitian kali ini berada di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) di Jakarta. Jenis pesawat yang digunakan adalah Siemens Somatom Sensation 4 MS (Muti Slice) yang dilengkapi dengan sistem pengoperasian yang mengatur nilai kv, mas, pitch, dan jenis pemeriksaan CT yang digunakan. Tegangan tabung yang bisa digunakan pada pesawat ini adalah 80 kv, 120 kv, dan 140 kv, sedangkan arus tabung berkisar antara 28-500 ma. Pitch bisa diatur dari nilai 1-8 dengan tebal slice standar 1.0, 1.25, 1.5, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 10 mm.

(a) (c) (b) Gambar 2. (a) Female Rando Phantom, (b) Pesawat CT-scan, (c) Unfors Xi R/F Tahap Penelitian Kalibrasi TLD Kalibrasi (a) TLD diperlukan agar didapatkan faktor kalibrasi (dalam satuan mgy/µc). Kalibrasi ini dilakukan di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Mampang, Jakarta Selatan. Untuk melakukan kalibrasi ini, Penulis menyiapkan TLD yang sudah dikemas dan satu set Unfors. Positioning (Penentuan Posisi) dan Topogram (Penentuan Area Radiasi) Positioning dilakukan sebagai penentuan posisi (0,0) fantom rando. Dengan bantuan laser, batas penyinaran CT-abdomen dan penentuan posisi awal dilakukan. Setelah positioning awal dilakukan, fantom rando disinari untuk melihat topogramnya. Pada tahap ini ditentukan batas area radiasi atau Field of View (FOV) yang menentukan number of images (jumlah slice) dan nilai mas. Pengambilan Data (a) (b) TLD rod yang digunakan terlebih dahulu dikemas dalam satu plastik yang masing(c) masing plastiknya terdiri dari tiga butir TLD tetapi terpisah. Variasi yang Penulis lakukan adalah variasi tegangan dan pitch, dengan tiap tegangan dan pitch adalah tiga kali pengambilan data. Pada penelitian ini Penulis menggunakan variasi kv sebesar 80 kv, 120 kv, dan 140 kv untuk mengamati perubahan besar dosis yang terjadi pada area gonad dan organ sensitif di luar area radiasi, yaitu payudara, tiroid dan mata. Variasi nilai pitch yang dipakai adalah 4, 6, dan 8, diatur pada energi 120 kv dan 110 mas.

Pembacaan TLD Bacaan TLD didapatkan dengan memasukkan butiran TLD ke dalam laci yang disertai planchet ke dalam TLD reader. Dari tampilan di monitor akan didapat data berupa kurva, bacaan paparan didapat dari nilai empat ROI yang tampil. Hasil bacaan ini didapatkan dalam bentuk paparan, yaitu dalam satuan mikro Coloumb (µc). Kalkulasi Data Dari bacaan TLD yang telah disinari dengan pesawat CT-scan hasilnya akan dikali dengan faktor kalibrasi yang telah didapatkan dari BATAN. Hasil bacaan dari tiap TLD untuk satu holder dirata-ratakan dengan demikian akan didapatkan hasil bacaan dosis per hari. Faktor kalibrasi didapatkan dalam satuan mgy/µc, sehingga nantinya akan didapatkan bacaan dosis dalam satuan mgy. Hasil dan Pembahasan Kalibrasi TLD Setiap energi memiliki nilai HVL yang berbeda, maka dari itu diperlukan added filter yang tebalnya berbeda juga. Added filter berfungsi menyaring energi yang diperlukan. Tabel 4.1 menunjukkan data HVL, added filter, dan nilai kalibrasi dari pelaksanaan kalibrasi TLD dengan dosis awal sebesar 500 mgy. Faktor kalibrasi dibagi menjadi dua, yaitu faktor kalibrasi nilai kecil dan faktor kalibrasi nilai besar. Variasi Tegangan Tabung Pada setiap tegangan tabung, dilakukan pengambilan data sebanyak tiga kali. Pengulangan dilakukan pada hari yang berbeda, untuk melihat kestabilan alat (pesawat CTscan dan TLD rod) dan faktor posisi (positioning) pada fantom rando. Setiap kali pengambilan data menggunakan tiga TLD yang hasil bacaan dosisnya telah dirata-ratakan. Berikut adalah tabel bacaan dosis untuk tiap organ pada tegangan tabung yang berbeda.

Tabel 1 Data Faktor Kalibrasi Setiap Tegangan Tabung Tegangan (kv) HVL (mmal) Added filter (mmal) Dosis (mgy) 140 9,78 14,5 500,90 120 9,00 14,5 506,22 80 6,61 15 500,57 Faktor Kalibrasi (mgy/µc) 245,79 264,65 237,99 256,46 196,35 204,86 Tabel 2 Dosis Rata-rata yang Diterima Organ Pada Variasi Tegangan Tabung Organ Dosis Rata-rata Untuk Setiap Tegangan Tabung (mgy) Dosis Ambang 140 kv 120 kv 80 kv (Gy) Gonad 7,67 4,89 1,22 2,5-6,0 Mata Kanan 0,04 0,09 0,13 0,5-2,0 Mata Kiri 0,21 0,11 0,12 0,5-2,0 Tiroid Kanan 0,13 0,24 0,01 5,0 Tiroid Kiri 0,46 0,10 0,16 5,0 Payudara Kanan 0,90 0,52 0,23 5,0 Payudara Kiri 1,98 0,78 0,27 5,0 Tabel 2 menunjukkan bahwa seiring dengan penurunan tegangan tabung, maka bacaan dosis juga semakin kecil. Hal ini disebabkan energi berpengaruh pada besarnya paparan radiasi. Kenaikan energi yang diwakili oleh tegangan tabung akan menaikkan dose-length product yang berarti kenaikan tingkat paparan per luas area radiasi. Jika dilihat dari Grafik 1, gonad adalah organ yang paling besar dosis radiasinya dengan nilai 7,67 mgy. Organ sensitif yang berada di luar abdomen mendapat nilai bacaan sesuai dengan jaraknya terhadap batas radiasi. Mata kanan dan kiri mendapat bacaan 0,04 mgy dan 0,21 mgy, tiroid kanan dan kiri mendapat bacaan 0,13 mgy dan 0,46 mgy, sedangkan untuk payudara kiri dan kanan masing-masing terbaca dosis sebesar 0,90 mgy dan 1,98 mgy. Kenaikan bacaan dosis terlihat linier mulai dari mata, tiroid, dan payudara secara berturut-turut. Sementara pada tegangan tabung 120 kv (Grafik 2), nilai bacaan dosis radiasi pada tiroid kanan lebih besar daripada tiroid kiri. Tiroid kiri mendapat bacaan dosis sebesar 0,10 mgy, sedangkan pada tiroid kanan terbaca dosis 0,24 mgy. Tetapi, dosis keduanya dapat

dikatakan sebanding karena perbedaannya yang tidak signifikan. Mata kanan dan mata kiri mendapat dosis rata-rata sebesar 0,09 mgy dan 0,11 mgy yang nilainya mendekati dosis pada tiroid kiri. Hal ini disebabkan mata terletak cukup jauh dari batas abdomen sehingga menyerap radiasi secara random. Payudara kanan dan kiri mendapat bacaan dosis terbesar dibandingkan organ sensitif lainnya dengan bacaan 0,52 mgy dan 0,78 mgy, sedangkan untuk gonad dosisnya tetap yang paling tinggi dengan 4,89 mgy dikarenakan gonad berada di area penyinaran. Grafik 1 Perbandingan Dosis Setiap Organ Pada Tegangan Tabung 140 kv Grafik 2 Perbandingan Dosis Setiap Organ Pada Tegangan Tabung 120 kv

Pada tegangan tabung 80 kv dapat dikatakan semua organ kecuali gonad mendapat radiasi yang sebanding. Hal ini bisa dilihat pada Grafik 3 yang menunjukkan bacaan dosis pada tiroid dan mata nilainya tidak berbeda jauh, kecuali pada tiroid kanan yang mendapat dosis 0,01 mgy. Payudara kanan dan kiri mendapat dosis yang paling tinggi dibandingkan organ sensitif lainnya dengan bacaan 0,23 mgy dan 0,27 mgy. Walaupun demikian, dosis keduanya dapat dikatakan sebanding dengan organ lain, yang menyebabkan bacaannya lebih besar adalah dikarenakan letaknya yang dekat dengan area radiasi. Sementara itu, gonad mendapat dosis tertinggi dengan bacaan 1,22 mgy. Grafik 3 Perbandingan Dosis Setiap Organ Pada Tegangan Tabung 80 kv Grafik 4 Perbandingan Dosis Pada Gonad Untuk Setiap Tegangan Tabung

Grafik 5 Perbandingan Dosis Pada Mata Kanan Untuk Setiap Tegangan Tabung Grafik 6 Perbandingan Dosis Pada Mata Kiri Untuk Setiap Tegangan Tabung Penurunan energi yang diwakili tegangan tabung akan mengakibatkan penurunan radiasi. Hal ini dapat dilihat pada Grafik 4. Gonad adalah organ yang berada di area radiasi, sehingga dapat menggambarkan dengan akurat hubungan energi dengan bacaan dosis radiasi, terlihat bahwa bacaan dosis turun secara linier dari 7,67 mgy ke 4,89 mgy, lalu 1,22 mgy. Dosis rata-rata pada mata kanan untuk setiap tegangan tabung dapat dilihat pada Grafik 5, dapat dilihat seiring dengan penurunan faktor eksposi tegangan tabung, dosis yang terbaca semakin besar. Walaupun terlihat adanya kenaikan dosis radiasi, sebenarnya perbedaan bacaan dosis di ketiga energi tersebut tidak besar. Kenaikan dosis dari tegangan 140 kv ke 120 kv adalah sebesar 0,05 mgy dan kenaikan dosis ke 80 kv adalah sebesar 0,04 mgy. Nilai rata-rata bacaan dosis pada energi 120 kv dan 80 kv yang ditunjukkan Grafik 6 tidak jauh berbeda. Hal ini disebabkan mata berada di luar area radiasi, sehingga tidak begitu valid untuk dijadikan penentu besarnya pengaruh tegangan tabung pada besar radiasi. Hal ini

dikarenakan mata berada di luar area radiasi, sehingga hanya menerima menerima radiasi hambur yang bersifat random. Jika melihat Grafik 7, dosis yang terbaca memiliki nilai terendah saat tegangan tabungnya 80 kv, yaitu 0,01 mgy dan memiliki nilai tertinggi saat tegangannya 120 kv, yaitu 0,24 mgy. Sama halnya dengan mata, tiroid merupakan organ yang berada di luar area radiasi, sehingga yang terukur hanya radiasi hambur yang diterima secara random. Bacaan dosis pada Grafik 8 juga tidak menunjukkan kesesuaian antara tegangan tabung dengan bacaan dosis. Ketidaksesuaian bacaan dosis ini disebabkan tiroid berada di luar area radiasi, sehingga bacaannya tidak bisa menggambarkan hubungan antara energi dengan besar radiasi yang diterima. Dosis yang terbaca pada tegangan 140 kv adalah 0,46 mgy, pada tegangan 120 kv terbaca 0,10 mgy dan pada tegangan 80 kv terbaca 0,16 mgy. Grafik 9 menunjukkan linieritas antara tegangan tabung dengan dosis payudara kanan. Bacaan dosis dari tertinggi sampai terendah adalah 0,90 mgy, 0,52 mgy, dan 0,23 mgy dengan tegangan tabung 140 kv, 120 kv, dan 80 kv berturut-turut. Walaupun payudara berada di luar area radiasi, tapi jaraknya cukup dekat dengan batas abdomen, sehingga dosis yang terbaca dapat menggambarkan hubungan antara tegangan tabung dengan besar radiasi yang diterima. Grafik 7 Perbandingan Dosis Pada Tiroid Kanan Untuk Setiap Tegangan Tabung

Grafik 8 Perbandingan Dosis Pada Tiroid Kiri Untuk Setiap Tegangan Tabung Grafik 9 Perbandingan Dosis Pada Payudara Kanan Untuk Setiap Tegangan Tabung Grafik 10 Perbandingan Dosis Pada Payudara Kiri Untuk Setiap Tegangan Tabung Bacaan dosis pada Grafik 10 masih menunjukkan linieritas bacaan dosis. Bacaan dosis terbesar ada pada tegangan tabung 140 kv dengan bacaan dosis 1,98 mgy, diikuti dengan bacaan dosis 0,78 mgy pada tegangan 120 kv dan 0,27 mgy pada tegangan 80 kv.

Variasi Pitch Variasi pitch yang Penulis lakukan adalah 8, 6, dan 4, dengan lebar berkas kolimasi yang tetap, yaitu 2,5 mm, sedangkan yang diubah adalah nilai feed/rotation-nya. Feed/rotation ini diatur pada nilai 20, 15, dan 10 mm. Setiap pitch dilakukan pengambilan data sebanyak tiga kali pada hari yang berbeda. Dengan demikian nilai dosis yang didapat adalah hasil bacaan dosis rata-rata pada setiap pitch selama tiga hari. Nilai bacaan dosis untuk setiap organ pada pitch yang telah ditentukan dapat dilihat pada Tabel 3. Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa untuk tiap pitch yang berbeda tidak terdapat perbedaan dosis yang signifikan. Seharusnya, semakin kecil pitch semakin besar dosis radiasi. Dapat disimpulkan perbedaan rentang pitch yang tidak begitu besar tidak memberikan perbedaan dosis radiasi yang berarti. Grafik 111 menunjukkan bahwa gonad menerima radiasi terbesar dengan bacaan dosis 4,67 mgy, sedangkan untuk organ sensitif lainnya tidak menerima radiasi sebesar gonad. Hal ini terlihat dari dosis pada mata, tiroid, dan payudara di bawah 4,67 mgy. Bacaan dosis terbesar hingga terkecil untuk organ di luar area radiasi dimulai dari payudara, tiroid, dan mata. Payudara kanan dan kiri masing-masing mendapat bacaan dosis sebesar 0,25 mgy dan 0,66 mgy. Tiroid kanan dan kiri masing-masing mendapat bacaan dosis sebesar 0,24 mgy dan 0,18 mgy, sedangkan untuk mata kanan mendapat dosis 0,07 mgy dan mata kiri mendapat dosis 0,12 mgy. Tabel 3 Dosis Rata-rata yang Diterima Organ Pada Variasi Pitch Organ Dosis Rata-rata Untuk Setiap Pitch (mgy) Dosis Ambang 8 6 4 (Gy) Gonad 4,41 4,89 4,43 2,5-6,0 Mata Kanan 0,07 0,09 0,12 0,5-2,0 Mata Kiri 0,12 0,11 0,07 0,5-2,0 Tiroid Kanan 0,24 0,24 0,01 5,0 Tiroid Kiri 0,18 0,10 0,21 5,0 Payudara Kanan 0,25 0,52 0,78 5,0 Payudara Kiri 0,66 0,78 0,76 5,0

Grafik 11 Perbandingan Dosis Setiap Organ Pada Pitch 8 Walaupun tiroid kanan mendapat dosis hampir sebesar payudara kanan, tetapi secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa bacaan dosisnya linier. Dari grafik dapat disimpulkan faktor jarak mempengaruhi besar radiasi, makin besar jaraknya maka bacaan dosis yang didapatkan akan semakin kecil dan semakin random. Bacaan dosis yang ditunjukkan pada Grafik 12 masih menunjukkan hubungan antara jarak organ dari batas radiasi dengan besar radiasi yang diterima. Gonad sebagai organ yang berada di area abdomen menerima radiasi tertinggi dengan bacaan dosis 4,89 mgy. Mata kanan dan mata kiri masing-masing menerima dosis 0,09 mgy dan 0,11 mgy, sedangkan untuk tiroid kanan dan tiroid kiri masing-masing terbaca 0,24 mgy dan 0,10 mgy. Payudara kanan dan payudara kiri menerima dosis yang lebih besar daripada mata dan tiroid yaitu 0,52 mgy dan 0,78 mgy, karena letaknya lebih dekat dengan area radiasi. Grafik 13 menunjukkan gonad sebagai organ yang berada di area abdomen menerima dosis yang terbesar dibandingkan organ lainnya, yaitu 4,43 mgy. Organ sensitif yang berada di luar area radiasi mendapat bacaan dosis terbesar sampai terkecil sesuai jaraknya terhadap area

Grafik 12 Perbandingan Dosis Setiap Organ Pada Pitch 6 Grafik 13 Perbandingan Dosis Setiap Organ Pada Pitch 4 radiasi atau batas abdomen. Payudara kanan dan kiri mendapat dosis terbesar dengan 0,78 mgy dan 0,76 mgy karena letaknya paling dekat dengan area radiasi. Tiroid kanan mendapat bacaan terendah dengan 0,01 mgy dan tiroid kiri mendapat dosis 0,21 mgy. Mata kanan dan mata kiri mendapat dosis sebesar 0,12 mgy dan 0,07 mgy. Bacaan dosis yang kecil pada tiroid dan mata dikarenakan letaknya yang jauh dari area radiasi sehingga menerima radiasi hambur yang random. Dosis pada gonad dengan bacaan terbesar terdapat pada pitch 6 yang ditunjukkan oleh Grafik 14 adalah 4,89 mgy. Seharusnya, bacaan terbesar terdapat di pitch 4, karena semakin kecil feed/rotation dibandingkan lebar berkas kolimasi akan memakan waktu scanning yang

lebih lama, sehingga dosis yang terbaca juga semakin besar. Bacaan dosis pada pitch 8 merupakan yang terkecil dengan dosis 4,41 mgy, sehingga dapat disimpulkan radiasi yang timbul tidak begitu besar karena waktu scanning-nya lebih cepat. Bacaan dosis pada Grafik 15 menunjukkan bahwa dosis pada mata kanan dengan nilai tertinggi terdapat pada pitch 4 dengan dosis 0,12 mgy. Dosis pada pitch 8 adalah yang terendah dengan bacaan sebesar 0,07 mgy, sedangkan pada pitch 6 bacaannya sebesar 0,09 mgy. Bacaan dosis ini sesuai karena semakin kecil pitch nilai dosisnya semakin besar, tetapi hal ini tidak bisa dijadikan acuan karena mata letaknya cukup jauh dari batas abdomen. Dosis yang terbaca pada mata kiri di Grafik 16 memiliki nilai dosis terbesar pada pitch 8, dengan bacaan 0,12 mgy. Semua bacaan dosis pada tiap pitch ini tidak berbeda jauh atau dapat dikatakan sebanding. Hal ini dikarenakan mata berada di luar area radiasi sehingga Grafik 14 Perbandingan Dosis Pada Gonad Untuk Setiap Pitch Grafik 15 Perbandingan Dosis Pada Mata Kanan Untuk Setiap Pitch

hanya menerima radiasi secara random dan variasi pitch yang rentangnya dekat kurang menggambarkan kenaikan atau penurunan dosis yang terbaca secara akurat. Grafik 17 menunjukkan dosis pada tiroid kanan juga tidak menunjukkan kesesuaian antara nilai pitch dengan bacaan dosis. Bacaan dosis pada pitch 8 dan 6 bernilai 0,24 mgy, sedangkan pada pitch 4 nilainya cukup rendah yaitu 0,01 mgy. Bacaan dosis yang tidak linier ini menunjukkan bahwa tiroid menerima radiasi secara random. Tiroid kiri pada Grafik 18 menerima dosis 0,18 mgy, 0,10 mgy, dan 0,21 mgy pada pitch 8, 6, dan 4. Tidak terlihat adanya hubungan antara penurunan pitch dengan dengan dosis. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, hal ini disebabkan tiroid berada cukup jauh dari area radiasi, sehingga bacaan dosisnya tidak linier. Grafik 16 Perbandingan Dosis Pada Mata Kiri Untuk Setiap Pitch Grafik 17 Perbandingan Dosis Pada Tiroid Kanan Untuk Setiap Pitch

Grafik 18 Perbandingan Dosis Pada Tiroid Kiri Untuk Setiap Pitch Grafik 19 Perbandingan Dosis Pada Payudara Kanan Untuk Setiap Pitch Grafik 20 Perbandingan Dosis Pada Payudara Kiri Untuk Setiap Pitch

Bacaan dosis pada payudara kanan di Grafik 19 menunjukkan kesesuaian antara pitch dengan besar radiasi yang diterima. Dosis terbesar terdapat pada pitch 4 dengan bacaan 0,78 mgy, diikuti dengan 0,52 mgy pada pitch 6, lalu 0,25 mgy pada pitch 8 sebagai bacaan terkecil. Grafik 20 menunjukkan bacaan dosis pada payudara kiri sebesar 0,66 mgy, 0,78 mgy, dan 0,76 mgy pada pitch 8, 6, dan 4 berturut-turut. Bacaan dosis terendah terdapat pada pitch 8, yang berarti sesuai dengan waktu scanning-nya yang paling singkat dibandingkan pitch 6 dan 4. Sementara pada pitch 6 dan 4 perbedaan dosisnya t Kesimpulan Dari penelitian pengukuran dosis pada area abdomen dengan CT-scan yang telah Penulis lakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Nilai faktor kalibrasi yang didapat pada energi 140 kv adalah 245,79 dan 264,65, sedangkan nilai faktor kalibrasi pada energi 120 kv adalah 237,99 dan 256,46 dan pada energi 80 kv adalah 196,35 dan 204,86. Semua nilai dalam satuan mgy/µc. 2. Semakin besar tegangan tabung (kv) yang digunakan, semakin besar dosis radiasi yang diterima. Dosis yang terbesar terdapat pada gonad dengan tegangan tabung 140 kv yaitu 7,67 mgy. 3. Dosis yang diterima oleh mata dan tiroid merupakan dosis hamburan sehingga nilainya bersifat random. 4. Pemeriksaan dengan CT-scan tidak menimbulkan efek deterministik karena dosis yang terukur seluruhnya berada di bawah dosis ambang. Daftar Acuan 1. Akhadi, Mukhlis dan M. Thoyib Thamrin. Fenomena Termoluminesensi dan Pemanfaatannya dalam Dosimetri. Buletin ALARA Vol. 2 No. 2 Desember. 1998. 2. Alatas, Zubaidah. Efek Radiasi Pengion dan Non Pengion Pada Manusia. Buletin ALARA Vol. 5 No. 2&3 April. 2004. 3. American Association of Physicist in Medicine. CT Terminology Lexicon. USA. 2011.

4. Background on Tritium, Radiation Protection Limits, and Drinking Water Standards. United States Nuclear Regulatory Commission. 2006. http://nrc.gov/reading-rm/doc-collections/fact-sheets/tritium-radiation-fs.html. 5. Efek Radiasi Pada Sistem Biologi. Diklat Insprektur Pratama Tingkat I, Jawa Barat, Juli 2005. 6. Efek Radiasi Terhadap Manusia. Badan Tenaga Nuklir Nasional. 2005. http://batan.go.id/pusdiklat/elearning/proteksiradiasi/pengenalan_ radiasi/2-3.htm. 7. Germany. Forchheim: Siemens AG Medical Solutions Computed Tomography, 2002. 8. Hoang et al. Variation in Tube Voltage for Adult Neck MDCT: Effect on Radiation Dose and Image Quality. AJR: 198. Maret 2012. http://ajronline.org/doi/abs/10.2214/ajr.11.6831 9. ICRP Publication 60. Recommendations of The International Commission on Radiological Protection. Pergamon Press, Oxford. 1990. 10. ICRP Publication 87. Recommendations of The International Commission on Radiological Protection. Pergamon Press, Oxford. 2000. 11. ICRP. Radiological Protection in Fluoroscopically Guided Procedures Performed Outside The Imaging Department. Pergamon Press, Oxford. 2011. 12. Mahesh, et al. Dose and Pitch Relationship for a Particular Multislice CT Scanner. AJR: 177. Desember 2001. http://ajronline.org/doi/abs/10.2214/ajr.177.6.1771273 13. National Cancer Institute. Computed Tomography (CT) Scans and Cancer. 2013. 14. NHS Choices. CT Scan When It is Needed. 2012. 15. Sprawl, Perry. Computed Tomography Image Formation. Sprawl Educational Foundation. USA. 2013. http://sprawls.org/resources/ctimg/module.htm. 16. The Phantom Laboratory. Rando Phantom Technical Data Sheets. New York, USA. 2010. 17. Thermo Fisher Scientific Inc. Harshaw 3500 TLD Reader. Germany. 2007.

18. Thermo Fisher Scientific Inc. TLD Material Specifications. Germany. 2007. 19. United States. Columbia University. Radiation Dosimetry for CT Protocols. Enviromental Health & Safety. 2013. http://ehs.columbia.edu/dosimetry%20help/ctdoseestimates.htm