OPERASIONALISASI KURIKULUM

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs.

BAB I PENDAHULUAN. kepada persaingan global. Tantangan dan perkembangan pendidikan di

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tugas seorang guru dalam kegiatan pembelajaran adalah membantu

Peraturan Mendiknas Nomor: 20 Tahun tentang STANDAR PENILAIAN DIREKTORAT PEMBINAAN SMA

2. Akreditasi terhadap program dan satuan pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri yang berwenang sebagai bentuk akuntabilitas publik.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan hal yang terpenting bagi kehidupan

Peta Konsep. Tujuan Pendidikan (Kompetensi Dasar) Proses/Kegiatan Untuk Mencapai Kompetensi. Hasil-hasil pendidikan yang dapat dicapai

BAB I PENDAHULUAN. sendiri. Tuntutan itu sangat wajar dan masuk akal serta bukan termasuk isu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pada setiap akhir semester 2, sekolah selalu menyelenggarakan ujian

STANDAR PENILAIAN (Permen No. 20 Th. 2007)

BAB I PENDAHULUAN. Evaluasi adalah pengambilan keputusan berdasarkan hasil pengukuran dan

BAB III PROSEDUR PENGEMBANGAN INSTRUMEN DALAM PEMBELAJARAN

THE QUALITY OF TRYOUTS ITEM ANALYSIS FOR EVERY SENIOR HIGH SCHOOL CLASS XII IN PEKANBARU BY USING ITEM ANALYSIS PROGRAM

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Wajib belajar 9 tahun menjadi kebutuhan mendasar bangsa Indonesia

MEMAHAMI STANDAR PENILAIAN BSNP

BAB I PENDAHULUAN. memberikan kontribusi bagi siswa. Kontribusi yang diharapkan dapat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 51 B. TUJUAN 51 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 52 D. UNSUR YANG TERLIBAT 52 E. REFERENSI 52 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 53

STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN. Achmad Samsudin, M.Pd. Jurdik Fisika FPMIPA UPI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dian Amirulloh

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 40 B. TUJUAN 40 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 40 D. UNSUR YANG TERLIBAT 41 E. REFERENSI 41 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 41

ANALISIS DESKRIPTIF SOAL MATEMATIKA PADA SELEKSI PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU SMA/SMK TAHUN AJARAN 2012/2013 DAN 2013/2014 KABUPATEN JEMBER

BAB I PENDAHULUAN. Semua orang yang mengalami sekolah secara formal, mungkin juga sekolah informal

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Metode Penelitian dan Desain Penelitian. mengumpulkan data penelitiannnya (Arikunto, 2006: 160).

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1, ayat (21).

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 51 B. TUJUAN 51 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 52 D. UNSUR YANG TERLIBAT 52 E. REFERENSI 52 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 52

DAFTAR ISI. PERNYATAAN... i KATA PENGANTAR... ii UCAPAN TERIMA KASIH... iii ABSTRAK... vi DAFTAR ISI... vii DAFTAR TABEL... x DAFTAR GAMBAR...

Document Title KATA PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. didik. Penilaian hasil belajar dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan dan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Bab ini membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan metode dan

LAPORAN KEGIATAN MONITORING DAN EVALUASI STANDAR PENILAIAN DI PROVINSI JAWA TENGAH

DAFTAR ISI. DAFTAR ISI... i. DAFTAR TABEL... iv. DAFTAR GAMBAR... vi DAFTAR LAMPIRAN... 9

FORM EDS KEPALA SEKOLAH

Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur an surah Al-Mujadalah

KUALITAS TES UJIAN NASIONAL MATA PELAJARAN MATEMATIKA JENJANG SLTP DI KABUPATEN KONAWE SELATAN TAHUN AJARAN 2011/2012

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... UCAPAN TERIMA KASIH. DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR. DAFTAR LAMPIRAN. BAB I PENDAHULUAN 1

KISI-KISI UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH/MADRASAH

UJI INSTRUMEN SOAL KOGNITIF

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Dalam bab V ini akan disajikan beberapa kesimpulan hasil penelitian

Perencanaan. Siklus I. Pengamatan. Perencanaan. Siklus III. Pengamatan. Perencanaan. Pengamatan. Hasil Penelitian

III. METODE PENELITIAN. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII semester genap SMP Negeri

I. PENDAHULUAN. informasi kepada lembaga, maupun kepada pihak-pihak lain yang. dengan mata pelajaran yang telah diberikan.

BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pre Experimental Design

ANALISIS BUTIR SOAL ULANGAN AKHIR SEMESTER (UAS) BIOLOGI TAHUN PELAJARAN 2015/2016 KELAS X DAN XI PADA MAN SAMPIT. Nurul Septiana

BAB III METODE PENELITIAN. Terkait dengan tujuan penelitian ini yang mengabaikan variabel luar yang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Evaluasi telah berlaku sebagai bagian integral dari setiap proses

ANALISIS SOAL. 1. Analisis Butir Soal 2. Analisis Perangkat Soal

PERTEMUAN 3 KEBIJAKAN PEMERINTAH DI BIDANG PENILAIAN

BAB I PENDAHULUAN. 11 provinsi, keterlambatan paket soal, kekurangan lembar soal dan lembar jawaban,

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 33 B. TUJUAN 33 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN D. UNSUR YANG TERLIBAT 34 E. REFERENSI 34 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 34

O 1 X O 2 Pre-test Treatment Post-test

(Staf Pengajar Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta) Kata kunci: pembelajaran ekonomi, penilaian berbasis kompetensi.

Pangkalan Data Penjaminan Mutu Pendidikan. Negara Kesatuan Republik Indonesia. Panduan EDS Kepala Sekolah PADAMU NEGERI

BAB III METODE PENELITIAN

EVALUASI PROGRAM OLEH : DRS.ZAINAL ARIFIN, M.PD. NIP

TES HASIL BELAJAR SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER KELAS XI MADRASAH ALIYAH NEGERI MATA PELAJARAN FIQIH DI KOTA PALEMBANG TAHUN 2014

PENGARUH VALIDITAS DAN RELIABILITAS BUTIR SOAL ULANGAN AKHIR SEMESTER BIDANG STUDI KIMIA TERHADAP PENCAPAIAN KOMPETENSI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Purnama Adek, 2014

Analisis Butir Soal Tes Prestasi Hasil Belajar

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif dan

SOAL EDS ONLINE UNTUK KS.

BAB I PENDAHULUAN. sekolah-sekolah sampai sekarang merupakan lembaga pendidikan utama yang. merupakan pusat pengembangan sumber daya manusia.

Ujian Nasional. Kebijakan Perubahan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Anies R. Baswedan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

BAB III METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya minat belajar siswa

I. PENDAHULUAN. diperoleh pengetahuan, keterampilan serta terwujudnya sikap dan tingkah laku

Laporan Penelitian. Analisis Kualitas Butir Soal Mata Kuliah Membaca 2 (PBIN4329)

PRO KONTRA UJIAN NASIONAL

BAB 1 PENDAHULUAN. Pendidikan yang menyatakan bahwa :

BAB III METODE PENELITIAN. Sesuai dengan masalah penelitian yang dikemukakan sebelumnya, maka jenis

ANALISIS SOAL. 1. Analisis Butir Soal. 2. Analisis Perangkat Soal

Transkripsi:

OPERASIONALISASI KURIKULUM Dokumen tertulis Implementasi; pembelajaran Penilaian Hasil belajar Monitoring dan evaluasi keberhasilan kurikulum

a. TUJUAN c. PENILAIAN (EVALUASI HASIL BELAJAR) b. PELAKSANAAN (PROSES BELAJAR) HUBUNGAN TUJUAN - PROSES - PENILAIAN (MODEL TYLER)

URGENSI UJIAN HASIL BELAJAR 1. Peserta didik: menetapkan nilai mata pelajaran, kenaikan kelas, kelulusan. 2. Guru: menetapkan tingkat keberhasilan tugas utamanya sebagai pendidik dan pengajar, sebagai dasar pengusulan kenaikan pangkat. 3. Kurikulum: mengetahui keterlaksanaan dan keberhasilan, kekuatan, kelemahan, dan kekurangan kurikulum; semua itu untuk menetapkan apakah suatu kurikulum masih dapat dipakai, apakah membutuhkan revisi, ataukan sudah harus diganti sama sekali.

MAKNA UJIAN NASIONAL Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor 20 tahun 2005 pasal 1 menyebutkan Ujian nasional adalah kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Thomas Kellaghan and Vincent Greaney (2001: 33) menyatakan a national assessment may be defined as an exercise designed to describe the level of achievements, not of individual students, but of a whole educational system, Berdasarkan dua pengertian tersebut, ujian nasional merupakan bentuk pengukuran dan penilaian terhadap penguasaan kompetensi peserta didik pada tingkat nasional.

SEJARAH UJIAN NASIONAL Sebelum tahun 1970; ujian negara. Kelulusan dikontrol secara ketat pihak pemerintah, sehingga ada kesan ujian negara tak sejalan dengan rasa keadilan. Tahun 1970 1982; ujian sekolah. Penentu kelulusan pihak sekolah, yang berdampak pada jor-joran nilai. Tahun 1983 2002; ebtanas sebagai kombinasi ujian negara dengan ujian sekolah, dengan menggunakan rumus NA=(P+Q+R)/3. Sistem ini tak bisa dipakai menentukan kualitas hasil belajar anak dan seperti macan ompong. Tahun 2003 sekarang; ujian nasional (UN), dengan salah satu fungsinya sebagai penentu kelulusan.

LEGALITAS UJIAN NASIONAL 1. UU nomor 20 tahun 2003 tentang sisdiknas; pasal 57 ayat (1), berbunyi; evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan kepada pihak-pihak berkepentingan; pasal 58, ayat (2) berbunyi; evaluasi peserta didik, satuan pendidikan, dan program pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistemik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan. 2. PP. 19 tahun 2005 tentang SNP; pasal 63, ayat (1) penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas; penilaian hasil belajar oleh pendidik, penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan, dan penilaian hasil belajar oleh Pemerintah. 3. Peraturan Mendiknas nomor 20 tahun 2005 tentang Ujian Nasional tahun pelajaran 2005/2006.

UJIAN NASIONAL DAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN 1. Ujian nasional bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran yang ditentukan dari kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam rangka pencapaian standar nasional pendidikan. 2. Hasil ujian nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk; (a) penentuan kelulusan peserta didik dari suatu satuan pendidikan, (b) seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, (c) pemetaan mutu satuan dan/atau program pendidikan; (d) akreditasi satuan pendidikan, (f) pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.

UJIAN NASIONAL YANG BAIK 1. Objektivitas: semaksimal mungkin merefleksikan keadaan yang sebenarnya, tidak lebih dan tidak kurang. 2. Validitas: secara akurat mampu mengungkapkan objek yang sesungguhnya; bukan saja tidak boleh salah sasaran, harus mampu mengenali perbedaan dengan presisi tinggi. 3. Reliabilitas: hasil evaluasinya bersifat handal, ajeg, konsisten, dengan error sekecil mungkin, sehingga dapat menjadi pegangan (dependable) dalam pembuatan keputusan. 4. Feasibilitas: secara teknis, manajerial, dan finansial dapat diselenggarakan dan dilaksanakan dengan sebaikbaiknya.

KARAKTERISTIK BUTIR SOAL 1. Tingkat kesukaran; proporsi peserta tes menjawab benar terhadap butir soal tersebut, yang biasanya dilambangkan dengan p. Makin besar p berarti proporsi peserta menjawab benar lebih banyak, makin rendah tingkat kesukaran. 2. Daya beda; indeks yang menunjukkan tingkat kemampuan butir soal membedakan kelompok berprestasi tinggi (kelompok atas) dari kelompok berprestasi rendah (kelompok rendah) di antara peserta tes. 3. Berfungsi tidaknya pilihan.

INDEKS TINGKAT KESUKARAN PERSENTASE YANG MENJAWAB BENAR KATEGORI BUTIR SOAL < 30 % (30-40) % (41-84) % (85-90) % Sangat sukar Sukar Sedang Mudah > 90 % Sangat mudah INDEKS DAYA PEMBEDA INDEKS DAYA PEMBEDA > 0,40 0,20-0,39 < 0,19 KATEGORI BUTIR SOAL Baik Cukup Sedang

PEMIKIRAN KE DEPAN Dengan mengakui masih banyak masalah dalam penyelenggaraan UN, misal; butir-butir soal masih mengukur aspek kognitif dan belum semua sekolah paham cara penilaian hasil belajar yang benar, di masa depan UN masih layak dilakukan dengan beberapa perbaikan; (1) menambah mata pelajaran yang di-un-kan, termasuk aspek-aspek lain (afektif dan psikomotor) yang diujikan, (2) mengembangkan sistem ujian yang tak sebatas tes objektif, (3) menaikkan batas minimal nilai kelulusan, misal 5,01, (5) profesionalisme guru dalam pembelajaran, dan (6) memotivasi siswa belajar giat.