BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada abad ini gerak perubahan zaman terasa semakin cepat sekaligus semakin padat. Perubahan demi perubahan terus-menerus terjadi seiring gejolak globalisasi yang kian melanda dunia. Globalisasi politik, ekonomi dan kebudayaan memperluas cakrawala berpikir manusia kontemporer tentang hakikat eksistensinya di dunia. Di seantero dunia tumbuh kesadaran baru akan pentingnya kerjasama dalam berbagai bidang kehidupan, terutama dalam bidang ekonomi dalam rangka peningkatan harkat dan martabat manusia. Namun arus deras globalisasi pun membawa tantangan-tantangan baru bagi bangsa-bangsa di dunia Selain itu di negara-negara berkembang yang sedang mengalami transisi dari masyarakat tradisional-agraris ke masyarakat industri modern, seperti Indonesia pun timbul kekhawatiran serius akan terjadinya pergeseran nilai-nilai budaya yang mengarah pada krisis identitas budaya-budaya bangsa. Falsafah Bhineka Tunggal Ika menggambarkan bangsa Indonesia yang terdiri atas sejumlah suku bangsa yang tersebar di penjuru Nusantara dan membentuk wilayah budaya yang berbeda-beda kondisinya. Setiap suku bangsa memiliki arsitektur tradisional sebagai wujud kebudayaannya yang bertumpu pada adat istiadat dan kepercayaan yang diyakininya. Satu hal yang menggembirakan, di mana penduduk di kawasan pedesaan tetap setia menghuni rumah-rumah adat.tatanan kehidupan kolektif yang mapan melahirkan keterikatan emosional dengan arsitektur tradisional. Namun derap laju pembangunan di segala bidang membawa serta pengaruh modernisasi ke wilayah pedesaan. Sangat disayangkan demam modernisasi tanpa seleksi dan pengarahan seketika merasuki pola hidup penduduk desa. Bermunculannya rumah-rumah gaya modern menyebabkan lingkungan pedesaan kehilangan identitas dan nuansa tradisional. Konsep dasar pariwisata budaya dimaksudkan untuk menyelamatkan segala bentuk kebudayaan lama materiil dan spiritual, dari kepunahan dengan mengutamakan keseluruhan budaya. Langkah-langkah pelestarian (proteksi, preservasi, konservasi dan restorasi) diupayakan atas karya-karya arsitektur yang bermutu dan bernilai sejarah. Namun, tidak cukup hanya dengan pemugaran atau perlindungan. Yang terpenting adalah menyadarkan masyarakat akan makna dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam
setiap karya arsitektur. Konservasi arsitektur tradisional tidak boleh diukur dari faktor biaya semata, karena menyangkut kelangsungan kebudayaan suatu suku bangsa. Pendidikan kita yang lebih banyak berkiblat pada ilmu dan teknologi barat, hendaknya dilengkapi dengan wawasan kebudayaan yang terdapat dalam perwujudan arsitektur tradisional. Di sanalah terpendam benih-benih kebudayaan nasional yang mencerminkan watak bangsa yang sejati. Seperti dinyatakan arkeolog Bernert Kempers (1954). Sukarlah untuk memikirkan alat lain yang lebih baik daripada pelajaran sejarah kebudayaan, guna mengenal watak sejati bangsa sendiri. Yang berarti memahami diri sendiri pula.. Berbagai kearifan tradisional mendatang, seperti halnya konsep pembangunan berwawasan lingkungan sebagai kewajiban menjaga keseimbangan makro kosmos dan mikro kosmos. Oleh karena itu keinginan menampilkan identitas budaya melalui karya arsitektur sangat perlu dilengkapi pemahaman kebudayaan seutuhnya. Seharusnyalah penghayatan terhadap tatanan nilai-nilai tradisi yang memendam berbagai kebijaksanaan dan suriteladan diajarkan kembali mendampingi ilnu pengetahuan modern. Dengan mengenal arsitektur tradisional dan latar belakang budayanya, dapatlah diharapkan nilai-nilai tradisi yang hakiki akan terus hidup dan berkembang sebagai bagian dari kebudayaan bangsa. Pemahaman hakikat tradisi dan kebesaran budaya masa silam dapat membimbing para arsitek untuk menemukan kembali jati diri yang sejati. Karena perencanaan bangunan apapun yang bernafaskan prinsip-prinsip dasar arsitektur tradisional akan memberi warna dan nuansa yang bercirikan kepribadian Indonesia. Bagaimanapun kehidupan terus berjalan dan kebudayaan senantiasa berkembang mengikuti zamannya. Setiap kebudayaan harus mencipta bentuk arsitekturnya sendiri yang lahir dari keinginan rohani pengusungnya dan mengakar pada kepribadian bangsa. Dari bentuk yang jujur, wajar, sederhana dan memancarkan niscaya terwujud keindahan yang sejati. Dengan mengkaji kembali nilai-nilai luhur kebudayaan lama serta kearifan arsitektur tradisional sebagai perwujudannya. Jelas arsitektur tradisional tetap diperlukan, terutama bagi masyarakat pedesaaan yang masih terikat pada adat dan kepercayaan lama. Jadi tidak ada salahnya menjalin kembali kebesaran masa silam, demi terbentuknya suatu kebudayaan yang tetap mengakar pada kepribadian bangsa. Kebanggaan masyarakat akan keagungan budaya masa lampau harus dibangkitkan. Hal itu akan mendorong masyarakat menghargai kembali jati dirinya, sehingga mampu menyikapi pengaruh modernisasi di setiap sisi kehidupan dengan penuh kearifan.
Berdasarkan hal tersebut diatas muncul sebuah pemikiran untuk mendesain suatu lingkungan kebudayaan di Medan yang memiliki potensi history dengan konsep wisata, tujuannya mengangkat kembali budaya masa lampau untuk mengembalikan jati diri masyarakat Sumatera Utara yaitu Medan Cultural Center. Medan Cultural Center ini merupakan Relokasi dari Taman Budaya Sumatera Utara yang berada di jalan Perintis Kemerdekaan 1.2 Maksud, Tujuan, dan Manfaat Perancangan Adapun maksud dan tujuan dari perencanaan dan perancangan Medan Cultural Center adalah : sebagai perwujudan kepedulian terhadap keagungan kebudayaan masa lampau sekaligus untuk menyadarkan kembali masyarakat Indonesia khususnya Sumatera Utara yang terbuai akan arus modernisasi terutama bagi para generasi muda sebagai penerus bangsa yang terlebih dahulu harus mengetahui dan memiliki jati diri bangsa Indonesia. Membuat Medan Cultural Center berkesan menjadi tempat yang bebas dikunjungi oleh masyarakat luas. Menjadikan Medan Cultural Center menjadi tempat wisata budaya di Sumatera Utara, pada umumnya dan kota Medan pada khususnya. Membuat Medan Cultural Center menjadi pusat pertunjukan kesenian-kesenian daerah dan juga sebagai pusat pelatihan kesenian daerah di wilayah kota Medan. Menumbuhkembangkan rasa kecintaan masyarakat terhadap kebudayaan bangsa Indonesia pada umumnya dan masyarakat Sumatera Utara pada khususnya. Melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Sumatera Utara. Menyediakan suatu tempat yang bersifat cultural edukatif dan rekreatif Menyediakan wadah sebagai tempat untuk mempelajari mengenai kebudayaan masyarakat Sumatera Utara sekaligus merasakan pengalaman akan budaya Sumatera Utara. Memberikan sumbangsih penambahan Objek Tujuan Wisata di daerah Sumatera Utara pada umumnya dan Medan pada khususnya. Merencanakan dan merancang suatu lingkungan dan bangunan dengan fasilitas yang menarik yang dapat mendukung aktivitas wisata budaya didalamnya.
Menjadikan sebagai sumber andalan Pendapatan Asli Daerah (PAD) kotamadya Medan. Manfaat perancangan Medan Cultural Center adalah sebagai berikut : Dapat menjadi salah satu alternatif tempat rekreasi untuk menghilangkan kepenatan dan kejenuhan Sebagai sarana untuk mengenal lebih dekat kesenian dan kebudayaan Sumatera Utara Meningkatkan pendapatan Kotamadya Medan dengan meningkatnya kunjungan wisatawan Turut menunjang kegiatan pariwisata serta mendukung segi promosi daerah Merupakan wadah informasi dan pendidikan untuk mengenal lebih dalam lagi mengenai seni dan budaya Sumatera Utara. Membuka lapangan kerja baru. Mendapat akibat tak langsung dari penambahan pendapatan pemerintah. 1.3 Permasalahan Perancangan Rumusan permasalahan yang timbul untuk tema dan kasus dalam perancangan proyek ini adalah : Bagaimana menciptakan sebuah rancangan lingkungan dan bangunan yang sesuai dengan judul yang diangkat dan maksud tujuan yang hendak dicapai demi menunjang keberadaan fungsi bangunan sesuai dengan kasus proyek. Bagaimana meningkatkan citra dan potensi lingkungan setempat sebagai kontribusi dari sebuah fasilitas Medan Cultural Center. Bagaimana memahami maksud dari wisata budaya berdasarkan tujuan dari perpaduan konsep edukatif, rekreatif dengan kebudayaan yang ada dan perwujudannya dalam sebuah proses perancangan. Bagaimana memahami dan menerapkan tema yang diangkat dan mewujudkannya pada lingkungan dan bangunan melalui proses perancangan. Bagaimana menjadikan Medan Cultural Center menjadi pusat pelatihan dan pengembangan kebudayaan daerah sekaligus menjadi tempat umum (public space di wilayah perancangannya)
1.4 Pendekatan Masalah Beberapa pendekatan yang dilakukan dalam pengembangan konsep dan perencanaan selama proses perancangan berlangsung dengan cara : Studi pustaka atau studi literatur yang berkaitan langsung dengan judul dan tema yang diangkat untuk mendapatkan informasi dan bahan berupa literatur yang sesuai dengan materi laporan, yang berguna untuk memperkuat fakta secara ilmiah. Studi banding terhadap proyek dan tema sejenis dengan melakukan pendekatan perancangan dengan melihat keadaan yang sudah ada, sumber dapat berupa buku, majalah, internet dan sebagainya. Studi lapangan mengenai kondisi sekitar lahan studi dan lingkungan fisik yang berhubungan dengan kasus proyek. Wawancara dengan instansi terkait atau orang-orang yang dianggap ahli dan mengetahui tentang kasus dan tema yang diangkat untuk pengenalan masalah dan dapat menghasilkan kriteria umum bagi perancangan dan perencanaan kasus proyek. Pendekatan-pendekatan diatas dilakukan untuk memperjelas pemahaman tentang Medan Cultural Center sebagai judul dari proyek ini dan penerapan tema Arsitektur Neo-Vernakular ke dalam kasus proyek. 1.5 Lingkup Batasan Masalah Lingkup yang menjadi batasan dalam merancang Medan Cultural Center ini adalah sebagai berikut : Seluruh aspek fisik yang berhubungan dengan pembahasan dan perancangan mengenai bangunan Medan Cultural Center yang menyangkut lingkungan tapak, massa bangunan, dan pembentukan ruang. Perencanaan fasilitas Medan Cultural Center yang disertai fasilitas pendukungnya ini hanya menawarkan keberadaan budaya Sumatera Utara yang diberikan dalam bentuk edutainment (education-entertainment). Dan fasilitas yang ditawarkan dalam proyek ini hanya terbatas sarana peragaan, pertunjukan atau bahkan pengamatan secara langsung dengan prinsip visualisasi dan interaktif. Teknologi yang diterapkan pada bangunan yang efisien, tepat guna, yang sangat berhubungan dengan teknologi yang digunakan pada kebudayaan Sumatera Utara.
1.6 Asumsi Karena kasus proyek bersifat fiktif, maka diperlukan beberapa asumsi sebagai dasar perencanaan dan perancangan yaitu : Studi kasus ini direncanakan sebagai bagian dari perencanaan kawasan. Diasumsikan bahwa keberadaan sosial budaya masyarakat sangat mendukung terhadap proyek ini. Diasumsikan bahwa perekonomian di Indonesia khususnya daerah Sumatera Utara berada dalam kondisi normal sehingga dapat mendukung keberadaan proyek ini.
1.7 Kerangka Berfikir Adapun kerangka berpikir yang digunakan dalam perancangan Medan Cultural Center ini dapat dilihat pada diagram 1.1 yaitu : Latar Belakang Globalisasi yang merusak lingkungan kebudayaan. Pendesainan kembali sebuah lingkungan dan bangunan yang membangkitkan kembali kebesaran budaya pada masa silam. Pengembalian nuansa tradisional pada lingkungan yang sudah ada Kebutuhan akan tempat wisata yang sekaligus Masalah Bagaimana menciptakan suatu Taman Kebudayaan yang bernuansakan Kebudayaan Sumatera Utara, dan berfungsi sebagai Objek Tujuan Wisata di Propinsi Sumatera Utara pada umumnya dan Pengumpulan Data STUDI LITERATUR/DATA SEKUNDER Data penduduk Studi banding Literatur SURVEY/DATA PRIMER Peta Lokasi Kondisi Tapak Kumpulan gambar survey ANALISIS DATA KONSEP DESAIN/KELUAR Diagram 1.1 Kerangka Berpikir
1.8 Sistematika Laporan Adapun sistematika penulisan laporan ini adalah : BAB I. PENDAHULUAN Pada bab ini akan dibahas mengenai latar belakang pemilihan kasus proyek, maksud dan tujuan dari kasus serta permasalahan yang dihadapi dalam perancangan. BAB II. DESKRIPSI PROYEK Pembahasan pada bab ini dititikberatkan pada pengenalan dan pendalaman tentang kasus proyek yang mengacu pada kebutuhan ruang berdasarkan studi kasus proyek sejenis dan studi kasus tema sejenis serta pengenalan lokasi proyek yang direncanakan. BAB III. ELABORASI TEMA Pada bab ini akan dijabarkan pengertian tentang tema serta beberapa tinjauan teoritis yang mendukung penjabaran tema yang dipilih serta interpretasi terhadap tema. BAB IV. ANALISIS Bab ini berisikan tentang analisis terhadap fungsi yang meliputi organisasi ruang, permintaan ruang, program ruang dan persyaratan teknis dari ruang yang direncanakan serta analisis terhadap lingkungan pada site terpilih. BAB V. KONSEP PERANCANGAN Pada bab ini diuraikan mengenai konsep dasar perancangan tapak dan bangunan. BAB VI. HASIL RANCANGAN Pada bab ini akan dilampirkan peta situasi, gambar-gambar pra rancangan serta foto-foto gambar dan maket.