Media & Cultural Studies

dokumen-dokumen yang mirip
* Terdapat dua teori besar dalam ilmu social yang. 1. Teori struktural fungsionalisme, dan 2. Teori struktural konflik

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN TELAAH KONSEPTUAL. Penelitian tentang perempuan etnis Tionghoa muslim belum

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa

Gambar 1.1 : Foto Sampul Majalah Laki-Laki Dewasa Sumber:

BAB I PENDAHULUAN. Gender merupakan konstruksi sosial mengenai perbedaan peran dan. kesempatan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan peran dan

BAB IV KESIMPULAN. Perempuan sebagai subjek yang aktif dalam urusan-urusan publik

BAB I PENDAHULUAN. dari tulisan-tulisan ilmiah. Tidak juga harus masuk ke dalam masyarakat yang

BAB I PENDAHULUAN. tidak pantas atau tabu dibicarakan. 1. lainnya secara filosofis, sebenarnya manusia sudah kehilangan hak atas

PENDEKATAN TEORITIS. Tinjauan Pustaka

Imaji Vol. 4 - No. 2/ Februari 2009 RESENSI BUKU

BAB I PENDAHULUAN. tentunya sangat berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia serta kemanusiaan. Ia

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Media seni-budaya merupakan tempat yang paling banyak

TEORI KOMUNIKASI. Teori-Teori Komunikasi Interpretif dan Kritis (2) SUGIHANTORO, S.Sos, M.IKom. Modul ke: Fakultas ILMU KOMUNIKASI

BAB I PENDAHULUAN. pekerja dan itu menjadi penanda waktu yang beremansipasi.

Analisis Gender dan Transformasi Sosial Pembahas: Luh Anik Mayani

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. historisnya, dipersoalkan oleh pemeluk agama, serta

1Konsep dan Teori Gender

GENDER DALAM PERKEMBANGAN MASYARAKAT. Agustina Tri W, M.Pd

DEFINISI & TERMINOLOGI ANALISIS GENDER

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. upaya dari anggota organisasi untuk meningkatkan suatu jabatan yang ada.

Gender, Interseksionalitas dan Kerja

BAB I PENDAHULUAN. manusia kedua setelah laki-laki. Tatanan sosial memberi kedudukan perempuan

I. PENDAHULUAN. 2008:8).Sastra sebagai seni kreatif yang menggunakan manusia dan segala macam

BAB I PENDAHULUAN. hiburan publik. Kesuksesaan film dikarenakan mewakili kebutuhan imajinatif

BAB I PENDAHULUAN. gender. Kekerasan yang disebabkan oleh bias gender ini disebut gender related

GENDER, PEMBANGUNAN DAN KEPEMIMPINAN

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum pers mempunyai beberapa fungsi yang saling berhubungan satu

BAB I PENDAHULUAN. sesuai dengan pendapat yang mengatakan bahwa pengalaman dan imajinasi

BAB I PENDAHULUAN. berperan penting atau tokoh pembawa jalannya cerita dalam karya sastra.

BAB I PENDAHULUAN. Isu tentang gender telah menjadi bahasan analisis sosial, menjadi pokok

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Masalah

TINJAUAN PUSTAKA. A. Politik Identitas. Sebagai suatu konsep yang sangat mendasar, apa yang dinamakan identitas

BAB 1 PENDAHULUAN. Gender adalah perbedaan jenis kelamin berdasarkan budaya, di mana lakilaki

BAB II KAJIAN PUSTAKA. dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang. Oleh karena itu

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Perselingkuhan sebagai..., Innieke Dwi Putri, FIB UI, Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. lurus. Mereka menyanyikan sebuah lagu sambil menari. You are beautiful, beautiful, beautiful

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

BAB 6 PEMBAHASAN. Pada bab ini akan membahas dan menjelaskan hasil dan analisis pengujian

PEREMPUAN YANG MERESISTENSI BUDAYA PATRIARKI

KESEHATAN REPRODUKSI DALAM PERSPEKTIF GENDER. By : Basyariah L, SST, MKes

Dekonstruksi Maskulinitas dan Feminitas dalam Sinetron ABG Jadi Manten Skripsi Disusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan Pendidikan Strata 1

GENDER DAN KESEHATAN MENTAL

BAB IV ANALISIS PERLINDUNGAN HAK NAFKAH PEREMPUAN DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM DALAM PERSPEKTIF FEMINISME

II. TINJAUAN PUSTAKA

Kerangka Acuan Desiminasi Hasil Analisa Pendokumentasian Data Kasus Kekerasan terhadap perempuan dengan HIV dan AIDS di 8 provinsi di Indonesia.

BAB V KESIMPULAN. pedesaan yang sesungguhnya berwajah perempuan dari kelas buruh. Bagian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Karya sastra merupakan gambaran tentang kehidupan yang ada dalam

BAB V PENUTUP. kalangan masyarakat, bahwa perempuan sebagai anggota masyarakat masih

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dilihat pada penyajian sampul-sampul buku karya sastra yang hampir selalu menjadikan sketsa

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. akan adanya perspektif penyeimbang di tengah dominasi teori-teori liberal. Kedua

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN. yakni Bagaimana struktur novel Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf? dan

Issue Gender & gerakan Feminisme. Rudy Wawolumaja

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang

BAB V KESIMPULAN Identitas Nasional dalam Imajinasi Kurikulum kurikulum Konstruksi tersebut melakukan the making process dalam

I. PENDAHULUAN. Pada dasarnya sebagai manusia, kita membutuhkan untuk dapat berinteraksi

Pemahaman Analisis Gender. Oleh: Dr. Alimin

MEDIA & CULTURAL STUDIES

SKRIPSI KETIMPANGAN GENDER DAN KESUKSESAN PEMBANGUNAN INDIA STUDI KASUS: PRAKTEK KEKERASAN DAN DISKRIMINASI GENDER PADA PEREMPUAN-PEREMPUAN INDIA

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan berkembangnya zaman ilmu komunikasi dan teknologi dalam

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

I. PENDAHULUAN. Indonesia. Pada tahun 2010 diperhitungkan sekitar 0,8 juta tenaga kerja yang

Kesehatan reproduksi dalam perspektif gender. By : Fanny Jesica, S.ST

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB V PENUTUP. Pada bagian ini peneliti akan mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan

BAB I PENDAHULUAN. kesetaraan antara kaum pria dan wanita dalam bidang sosial, politik, dan ekonomi.

BAB I PENDAHULUAN. penting dan strategis dalam pembangunan serta berjalannya perekonomian bangsa.

BAB IV KESIMPULAN. Sejarah panjang bangsa Eropa mengenai perburuan penyihir (witch hunt) yang

Pertanyaan awal : mengapa pembangunan merupakan isu gender?

BAB 6 PENUTUP. 6.1 Kesimpulan. Kritik ekofeminisme..., Ketty Stefani, FIB UI, Universitas Indonesia

I. A. PERMASALAHAN I. A.

REPRESENTASI BIAS GENDER PADA IKLAN SABUN KHUSUS PEREMPUAN

BAB IV KESIMPULAN. atau isu-isu yang sering terjadi dalam kehidupan perempuan. Melalui

BAB I PENDAHULUAN. Kebanyakan orang-orang hanya melihat dari kulit luar semata. Lebih

BAB I PENDAHULUAN. digambarkan secara luas oleh pengarang melalui pemikiran-pemikiran yang menjadikan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

AGRESI. Pengertian agresi, teori-teori agresi, pengaruh terhadap agresi, cara mengurangi agresi. Sri Wahyuning Astuti, S.Psi. M,Ikom.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Waria merupakan salah satu jenis manusia yang belum jelas gendernya.

BAB VI KESIMPULAN. instrumentnya meraih legitimasi-legitimasi, namun juga menelisik kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. berbagai macam masalah kehidupan manusia secara langsung dan sekaligus.

BAB V PENUTUP. Karya-karya Suparto Brata yang berjudul Ser! Ser! Plong!, Mbok Randha

BAB VII HUBUNGAN SOSIALISASI PERAN GENDER DALAM KELUARGA ANGGOTA KOPERASI DENGAN RELASI GENDER DALAM KOWAR

BAB III METODE PENELITIAN. The Great queen Seondeok dan kemudian melihat relasi antara teks tersebut

Dalam televisi seperti pakaian, make up, perilaku, gerakgerik, ucapan, suara. Dalam bahasa tulis seperti dokumen, wawancara, transkip dan sebagainya.

BAB VI KESIMPULAN. Pertama, poligami direpresentasikan oleh majalah Sabili, Syir ah dan NooR dengan

BAB I PENDAHULUAN. berkembang mendorong semua lapisan masyarakat untuk masuk kedalam

BAB I PENDAHULUAN. yang luas. Tanaman tertentu adalah tanaman semusim dan atau tanaman

BAB IV KESIMPULAN. dalam menentukan dan membentuk konstruksi sosial, yaitu aturan-aturan dan batasan

BAB I PENDAHULUAN. Pada masyarakat yang menganut sistem patriarkhi seringkali menempatkan lakilaki

Transkripsi:

Modul ke: Media & Cultural Studies Feminisme dalam perspektif Cultural Studies Fakultas ILMU KOMUNIKASI ADI SULHARDI. Program Studi Penyiaran www.mercubuana.ac.id

FEMINISME DAN CULTURAL STUDIES Pemikiran feminis mempengaruhi cultural studies, tidak semua bentuk feminisme bisa dipandang sebagai cultural studies dan tidak semua cultural studies berbicara soal gender. Siapa yang bisa tahu tentang siapa, dengan cara apa dan tujuan apa (Grey, 1997:94). Feminisme maupun cultural studies ingin menghasilkan pengetahuan dari dan oleh kelompok yang terpinggirkan dan tertindas dengan niatan tegas yaitu untuk melakukan intervensi publik.

Cultural studies dan feminisme samasama memiliki kepentingan substantif dalam isu kekuasaan, representasi, budaya pop, subjektivitas, identitas dan konsumsi.

Patriarki, Kesetaraan dan Perbedaan Feminisme adalah suatu arena plural bagi teori dan politik yang memiliki perspektif dan preskripsi yang saling berkompetisis untuk sebuah aksi. Feminisme sebagai suatu gerakan yang berkepentingan untuk mengkonstruksi strategi politis yang digunakan untuk melakukan intervensi kedalam kehidupan sosial demi mengabdi kepada kepentingan perempuan.

Feminisme Liberal dan Feminisme Sosialis Feminisme liberal melihat perbedaan laki-laki dengan perempuan sebagai konstruk sosio-ekonomis dan budaya ketimbang sebagai hasil dari suatu biologi abadi. Feminis sosialis menunjuk kepada kesaling terhubungan antara kelas dengan gender termasuk tempat fundamental ketimpangan gender dalam reproduksi kapitalisme.

Feminisme Perbedaan Feminisme perbedaan menyatakan adanya perbedaan esensial antara laki-laki dan perempuan. Hal ini banyak diinterpretasikan sebagai perbedaan secara budaya, psikis dan atau biologis. Kesulitan dengan patriarki adalah karena ia mengaburkan perbedaan antar perempuan selaku individu serta ciri khas mereka dan lebih melihat suatu bentuk penindasan yang bersifat universal dan mencakup semua aspek. (Rowbotham, 1981)

Feminisme Kulit Hitam dan Feminisme Pasca Kolonial Feminisme Kulit Hitam menunjuk pada perbedaan antara pengalaman perempuan kulit hitam dengan kulit putih, representasi budaya dan kepentingan mereka. (Carby, 1984: Hooks, 1992) Feminisme Pasca Kolonial, perempuan memilikul beban ganda yaitu dijajah oleh kekuasaan imperial dan disubordinasikan oleh laki-laki penjajah dan pribumi. Spivak (1993) berkeyakinan bahwa kelas bawah tidak dapat berbicara. Artinya perempuan miskin tidak memiliki bahasa konspetual untuk berbicara dan tidak ada telinga laki-laki penjajah dan pribumi yang mau mendengarkan.

Feminisme Pasca Strukturalis Seks dan gender adalah konstruksi sosial dan budaya yang tidak dapat dijelaskan dalam konteks biologi atau direduksi menjadi fungsi kapitalisme. (Nicholson, 1990; Weedon, 1997) Pemikiran anti-esensialis menyatakan feminitas dan maskulinitas bukan merupakan kategori universal dan abadi melainkan konstruksi diskursif, yaitu cara mendeskripsikan dan mendisiplinkan subjek manusia.

Seks, Gender dan Identitas Seks mencakup berbagai bentuk reduksionisme biologis yang menyatakan bahwa struktur biokimia dan struktur genetis manusia menentukan perilaku lakilaki dan perempuan dengan cara yang pasti dan khas (kemampuan bahasa, penilaian spasial, agresi, dorongan seks, kemapuan untuk berfokus kepada tugas atau mengaitkan kepada kedua belahan otak).

Konstruksi Sosial Seks dan Gender Aliran feminisme lain menolak segala bentuk esensialisme, dengan meyakini bahwa feminitas dan maskulinitas semata-mata dan hanya merupakan konstruksi sosial. Seks diyakini sebagai biologi tubuh, sementara gender mengacu kepada asumsi dan praktik budaya yang mengatur bahwa struktur sosial laki-laki, perempuan dan relasi sosial mereka.

Subjektivitas dan Seksualitas (menurut Foucault) Subjektivitas adalah produksi diskursif. Jadi, diskursus (sebagai cara teratur dalam bertutur atau praktik) menawarkan subyek orang yang berbicara yang dia gunakan sebagai pijakan untuk menjelaskan dunia sambil mengikatkan pembicara kepada aturan dan disiplin diskursusdiskursus tersebut.

Kritik Feminisme atas Foucault Foucault menolak menelaah karakter bergender dari berbagai teknik disipliner Foucault memperlakukan tubuh sebagai sesuatu yang bebas dari gender yang tidak memiliki ciri khas diluar norma laki-laki.

Psikoanalisis, Feminisme dan Subjektivitas Berjenis Kelamin Freud menyatakan bahwa anatomi adalah takdir namun disisi lain dia menjabarkan bahwa seksualitas manusia mengalami berbagai bentuk distorsi, yaitu kemampuan untuk memiliki aneka bentuk. Anatomi dikatakan takdir karena perbedaan badaniah merupakan penanda bagi diferensiasi seksual dan sosial. Anatomi adalah takdis karena sulit untuk lari dari aturan regulatif yang mengitari perbedaan ragawi dan yang menyubordinasi perempuan dibawah kekuasaan politik, ekonomi dan seksual laki-laki. Jadi, persoalan feminisme terletak pada anatomi tubuh.

Gender, Representasi dan Budaya Media Evans (1997) menyatakan bahwa terdapat dorongan untuk menunjukkan bahwa perempuan telah memainkan suatu peran dalam kebudayaan. Representasi perempuan yang telah dibangun yaitu tesis bahwa politik gender memainkan posisi sentral dalam proyek representasi.

Tuchman (1978) menyatakan perspektif citra perempuan yaitu repersentasi citra perempuan mencerminkan sikap laki-laki dan merupakan misrepresentasi perempuan sejati. Representasi sebagai konstruksi budaya dan bukan sebagai refleksi atas dunia nyata.

Citra Perempuan Konsep stereotipe menempati posisi penting dalam citra perspektif perempuan. Suatu stereotipe terdiri dari reduksi person menjadi serangkaian ciriciri karakter yang dibesar-besarkan, dan biasanya negatif. Pen-stereotipe-an mereduksi, mengesensialkan, mengalamiahkan, dan mematri perbedaan. (Hall, 1997)

Menurut Meehan (1983), stereotipe citra perempuan dikategorikan : Nakal : memberontak, aseksual, tomboy Istri yang baik : domestik, menarik, terpusat dirumah Tamak : agresif, lajang Sundal : panjang tangan, curang, manipulatif Korban : pasif, menderita kekerasan atau kecelakaan Bak Umpan : kelihatannya lemah, padahal kuat Genit : secara seksual memancing laki-laki untuk suatu tujuan buruk Pelacur kelas tinggi : tinggal di salon, pertunjukkan kabaret dan prostitusi Penyihir : kekuatan ekstra namun tersubordinasi oleh laki-laki Materiarch : otoritas peran keluarga, lebih tua dan tidak suka seks

Penegasan dan Penyangkalan Menurut studi Krishnan dan Dighe (1990) : penegasan dan penyangkalan adalah dua tema utama yang terlihat tentang representasi perempuan di televisi India Karakter Laki-laki Karakter Perempuan Terpusat pada diri Tegas Percaya diri Melihat suatu tempat pada dunia yang lebih luas Rasional dan berkomplot Dominan Paternal Berkorban Tergantung Ragu untuk bersenang-senang Mendefinisikan dunia melalui hubungan keluarga Emosional dan sentimental Tersubordinasi Maternal

Posisi Subjek dan Politik Representasi Posisi subjek adalah perspektif atau serangkaian makna diskursif regulatif dan tertata dimana teks atau diskursus tersebut dipahami. Misal dalam konteks iklan : Dengan mengarahkan kita kepada persona pribadi, iklan menyodorkan kepada kita sebagai perempuan, bukan hanya komoditas melainkan juga hubungan personal kita di mana kita adalah feminin: bagaimana kita seharusnya/bisa menjadi perempuan feminim, yang atributnya dalam kaitan dengan lakilaki dan keluaraga berasal dari komoditas-komoditas ini. Seorang perempuan tidak lebih dari sekedar komoditas yang kita kenakan : lipstik, celana pendek, pakaian, dan lain-lain adalah perempuan. (Winship, 1981:218)

Ringkasan Identitas seksual diyakini bukan sebagai suatu esensi biologis universal melainkan bagaimana feminitas dan maskulinitas dituturkan. Dalam cultural studies, seks dan gender diyakini sebagai konstruksi sosial (ditata dan mengandung sejumlah konsekuensi) yang secara intrinsik terkandung dalam persoalan representasi.

Terima Kasih Adi Sulhardi, S.Sos, MS.i