IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Setelah dilakukan pengujian, maka didapatkan data yang merupakan parameterparameter

dokumen-dokumen yang mirip
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Dalam penelitian ini, mesin uji yang digunakan adalah motor diesel empat

l. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. aktifitas yang diluar kemampuan manusia. Umumnya mesin merupakan suatu alat

III. METODOLOGI PENELITIAN. Dalam penelitian ini, mesin yang digunakan untuk pengujian adalah

III. METODOLOGI PENELITIAN. : Motor Diesel, 1 silinder

KEMAMPUAN BENTONIT PELET TEKAN TERAKTIVASI FISIK SEBAGAI PENGGANTI ZEOLIT DALAM MENGHEMAT KONSUMSI BAHAN BAKAR MOTOR DIESEL 4-LANGKAH

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan akan bahan bakar minyak disebabkan oleh terjadinya peningkatan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Setelah melakukan pengujian, penulis memperoleh data-data hasil pengujian

I. PENDAHULUAN. ditegaskan oleh BP Plc. Saat ini cadangan minyak berada di level 1,258 triliun barrel

III. METODE PENELITIAN. : Motor Bensin 4 langkah, 1 silinder Volume Langkah Torak : 199,6 cm3

Suyartono, Husaini, Majalah Pertambangan Energi, 1992, Kegiatan Penelitian Dan Pengembangan Zeolit Indonesia Periode , PPPTM. Syamsir, A.

I. PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi otomotif saat ini semakin pesat, hal ini didasari atas

I. PENDAHULUAN. produksi minyak per tahunnya 358,890 juta barel. (

JURNAL FEMA, Volume 1, Nomor 2, April 2013

METODOLOGI PENELITIAN

STUDI PERBANDINGAN KINERJA MOTOR STASIONER EMPAT LANGKAH SATU SILINDER MENGGUNAKAN BAHAN BAKAR GAS LPG DAN BIOGAS

Bagaimana perbandingan unjuk kerja motor diesel bahan bakar minyak (solar) dengan dual fuel motor diesel bahan bakar minyak (solar) dan CNG?

Uji Eksperimental Pertamina DEX dan Pertamina DEX + Zat Aditif pada Engine Diesel Putaran Konstan KAMA KM178FS

PENAMBAHAN ADITIF PRESTONE, REDEX DAN BAHAN BAKAR SOLAR TERHADAP PRESTASI MESIN DIESEL, TORSI, DAYA, DAN KONSUMSI BAHAN BAKAR CAIR SPESIFIK.

LAMPIRAN A PERHITUNGAN DENGAN MANUAL. data data dari tabel hasil pengujian performansi motor diesel. sgf = 0,845 V s =

BAB I PENDAHULUAN. Banyaknya jumlah kendaraan bermotor merupakan konsumsi terbesar pemakaian

PERBANDINGAN UNJUK KERJA GENSET 4-LANGKAH MENGGUNAKAN BAHAN BAKAR BENSIN DAN LPG DENGAN PENAMBAHAN MIXER VENTURI

III. METODOLOGI PENELITIAN. a. Motor diesel 4 langkah satu silinder. digunakan adalah sebagai berikut: : Motor Diesel, 1 silinder

PENGARUH PENAMBAHAN ADITIF PADA PREMIUM DENGAN VARIASI KONSENTRASI TERHADAP UNJUK KERJA ENGINE PUTARAN VARIABEL KARISMA 125 CC

1. Spesifikasi sepeda motor bensin 4-langkah 110 cc. Dalam penelitian ini, mesin uji yang digunakan adalah sepeda motor

I. PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu dan teknologi di dunia terus berjalan seiring dengan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL UJI DAN PERHITUNGAN MENGETAHUI KINERJA MESIN MOTOR PADA KENDARAAN GOKART

III. METODOLOGI PENELITIAN. berdasarkan prosedur yang telah di rencanakan sebelumnya. Dalam pengambilan data

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Oleh : Wahyu Jayanto Dosen Pembimbing : Dr. Rr. Sri Poernomo Sari ST., MT.

I. PENDAHULUAN. tahun 2010 hanya naik pada kisaran bph. Artinya terdapat angka

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penggunaan minyak bumi terus-menerus sebagai bahan bakar dalam dunia

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN BAKAR SOLAR, BIOSOLAR DAN PERTAMINA DEX TERHADAP PRESTASI MOTOR DIESEL SILINDER TUNGGAL

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA

Pengaruh Variasi Normalitas NaOH pada Aktivasi Basa-Fisik Zeolit Pelet Perekat terhadap Prestasi Sepeda Motor Bensin 4-Langkah

Fahmi Wirawan NRP Dosen Pembimbing Prof. Dr. Ir. H. Djoko Sungkono K, M. Eng. Sc

Pengaruh Kerenggangan Celah Busi terhadap Konsumsi Bahan Bakar pada Motor Bensin

PENGARUH PERUBAHAN SAAT PENYALAAN (IGNITION TIMING) TERHADAP PRESTASI MESIN PADA SEPEDA MOTOR 4 LANGKAH DENGAN BAHAN BAKAR LPG

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan akan alat transportasi seperti kendaraan bermotor kian hari kian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PERBANDINGAN PENGARUH TEMPERATUR SOLAR DAN BIODIESEL TERHADAP PERFORMA MESIN DIESEL DIRECT INJECTION PUTARAN KONSTAN

PENGARUH VARIASI PERBANDINGAN BAHAN BAKAR SOLAR-BIODIESEL (MINYAK JELANTAH) TERHADAP UNJUK KERJA PADA MOTOR DIESEL

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 1. Persiapan bahan baku biodiesel dilakukan di laboratorium PIK (Proses

ANALISA KINERJA MESIN OTTO BERBAHAN BAKAR PREMIUM DENGAN PENAMBAHAN ADITIF OKSIGENAT DAN ADITIF PASARAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. uji yang digunakan adalah sebagai berikut.

PROGRAM STUDI DIPLOMA III JURUSAN TEKNIK MESIN Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 2010

I. PENDAHULUAN. mengimpor minyak dari Timur Tengah (Antara News, 2011). Hal ini. mengakibatkan krisis energi yang sangat hebat.

PENGARUH PENGGUNAAN CETANE PLUS DIESEL DENGAN BAHAN BAKAR SOLAR TERHADAP PERFORMANSI MOTOR DIESEL

SKRIPSI MOTOR BAKAR. Disusun Oleh: HERMANTO J. SIANTURI NIM:

Spesifikasi Bahan dan alat :

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

II. TEORI DASAR. kelompokaan menjadi dua jenis pembakaran yaitu pembakaran dalam (Internal

I. PENDAHULUAN. Motor bensin dan diesel merupakan sumber utama polusi udara di perkotaan. Gas

PENGARUH VARIASI SUDUT BUTTERFLY VALVE PADA PIPA GAS BUANG TERHADAP UNJUK KERJA MOTOR BENSIN 4 LANGKAH

STUDI KOMPARASI KINERJA MESIN BERBAHAN BAKAR SOLAR DAN CPO DENGAN PEMANASAN AWAL SKRIPSI

Bab IV Data Percobaan dan Analisis Data

STUDI PERBANDINGAN KINERJA MOTOR STASIONER 4 LANGKAH SATU SILINDER MENGGUNAKAN BAHAN BAKAR BENSIN DAN BIOGAS

KARAKTERISASI UNJUK KERJA SISTEM DUAL FUEL GASIFIER DOWNDRAFT SERBUK KAYU DAN DIESEL ENGINE GENERATOR SET 3 KW

PENENTUAN LAJU KONSUMSI BAHAN BAKAR CAMPURAN SOLAR DENGAN MINYAK TANAH UNTUK SUATU GENSET YANMAR SOWA

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi yang semakin cepat mendorong manusia untuk

RANCANGAN TURBOCARJER UNTUK MENINGKATKAN PERFORMANSI MOTOR DIESEL

PENGARUH JENIS BAHAN BAKAR TERHADAP UNJUK KERJA SEPEDA MOTOR SISTEM INJEKSI DAN KARBURATOR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. premium dan solar. Kelangkaan terjadi hampir di seluruh kabupaten dan kota di

MESIN PENGGILING JAGUNG TIPE HAMMER MILL

SFC = Dimana : 1 HP = 0,7457 KW mf = Jika : = 20 cc = s = 0,7471 (kg/liter) Masa jenis bahan bakar premium.

BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISA

BAB III METODE PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN PERHITUNGAN SERTA ANALISA

BAB III PENGUJIAN DAN ANALISA UNJUK KERJA

Andik Irawan, Karakteristik Unjuk Kerja Motor Bensin 4 Langkah Dengan Variasi Volume Silinder Dan Perbandingan Kompresi

1. Mesin Pengupas Kelapa Spesifikasi :

BAB IV PEMBAHASAN. Percepatan Grafitasi (g) = 9,81m/s 2. Beda ketinggian air (Δh) = 0,83 m

BAB III PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV PEMBAHASAN KINERJA BOILER

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i. ABSTRAK... iii. DAFTAR GAMBAR... viii. DAFTAR TABEL... x. DAFTAR NOTASI... xi Rumusan Masalah...

PENGARUH VARIASI PENYETELAN CELAH KATUP MASUK TERHADAP EFISIENSI VOLUMETRIK RATA - RATA PADA MOTOR DIESEL ISUZU PANTHER C 223 T

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pengaruh modifikasi diameter venturi dan pemasangan turbo cyclone terhadap daya mesin pada sepeda motor FIZR 2003

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

APLIKASI PENGGUNAAN BIODIESEL ( B15 ) PADA MOTOR DIESEL TIPE RD-65 MENGGUNAKAN BAHAN BAKU MINYAK JELANTAH DENGAN KATALIS NaOH 0,6 %

PENGARUH PENAMBAHAN ADITIF ABD 01 SOLAR KE DALAM MINYAK SOLAR TERHADAP KINERJA MESIN DIESEL

PENGARUH PENGGUNAAN WATER COOLANT TERHADAP PERFORMANCE MESIN DIESEL. Gatot Soebiyakto 1)

Industri Kimia) Universitas Sumatera Utara selama 2 minggu. Kelapa Sawit) Medan selama 2 minggu.

PENGUJIAN PERFORMANSI MOTOR DIESEL DENGAN BAHAN BAKAR BIODIESEL CAMPURAN MINYAK JARAK PAGAR (JATROPHA CURCAS) DENGAN CRUDE PALM OIL (CPO)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. t 1000

METODOLOGI PENELITIAN. langkah 110 cc, dengan merk Yamaha Jupiter Z. Adapun spesifikasi mesin uji

PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN BAKAR MINYAK KELAPA SAWIT DENGAN CAMPURAN SOLAR DAN BIOSOLAR TERHADAP PERFORMANSI MESIN DIESEL

MODIFIKASI MESIN DIESEL SATU SILINDER BERBAHAN BAKAR SOLAR MENJADI LPG DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM GAS MIXER

Transkripsi:

48 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Setelah dilakukan pengujian, maka didapatkan data yang merupakan parameterparameter dari daya engkol dan laju pemakaian bahan bakar spesifik yang kemudian digunakan untuk perbandingan antara kinerja mesin tanpa zeolit, kinerja yang menggunakan zeolit granular dan zeolit pellet yang telah diaktivasi NaOH-fisik dengan variasi berat, dan berat zeolit. Dari data yang didapat maka dapat dihitung kinerja dari motor diesel yaitu daya engkol (bp) dengan menggunakan persamaan (2.1) dan laju pemakaian bahan bakar spesifik (bsfc) menggunakan persamaan (2.5), sehingga dari data-data hasil perhitungan dapat ditampilkan dalam bentuk grafik.

49 Tabel 2. Data Hasil Pengujian Penelitian Zeolit : 0 gr (Tanpa Zeolit) Bahan bakar : Solar Putaran Mesin, rpm : 1500/2000/2500/3000 Spesific grafity : 0,839 Beban : 2,5 kg Nilai kalor bahan bakar : 42.700 kj/kg Diameter zeolit : - mm Tebal zeolit : - mm Berat zeolit, gram T. udara ruangan, C Putaran mesin,rpm Torsi,Nm Waktu pemakaian b.bakar,detik T. gas buang, C Bacaan manometer, mmh 2 O 0 gr 25 1513,6 7 168,29 120 9 25 1527,9 7,1 163,74 120 9 25 1521,8 7,1 161,89 120 9 Rerata 25 1521,10 7,07 164,64 120,00 9,00 25 2023,5 7,5 118,02 150 12 25 2019,7 7,7 118,2 150 12 25 2017,8 7,6 118,56 150 12 Rerata 25 2020,33 7,60 118,26 150,00 12,00 25 2506,5 8 87,5 180 16 25 2501,1 8,1 87,85 180 16 25 2502 8 90,65 180 16 Rerata 25 2503,20 8,03 88,67 180,00 16,00 25 3000,3 8,4 68,11 210 18 25 2999,4 8,3 69,73 210 18 25 2990,9 8,4 68,57 210 18 Rerata 25 2996,87 8,37 68,80 210,00 18,00 Dari data-data tersebut, maka diperoleh nilai kinerja motor diesel tanpa zeolit, yaitu daya engkol dan pemakaian bahan bakar spesifiknya. Hasil perhitungan berdasarkan contoh diatas dapat dilihat pada tabel 3.

50 Tabel 3. Hasil Perhitungan Zeolit : 0 gr (Tanpa Zeolit) Bahan bakar : Solar Putaran Mesin, rpm : 1500/2000/2500/3000 Spesific grafity : 0,839 Beban : 2,5 kg Nilai kalor bahan bakar : 42.700 kj/kg Diameter zeolit : - mm Tebal zeolit : - mm 1) Daya Engkol (bp), kw 1,125 1,607 2,105 2,624 2) Laju pemakaian b.bakar (mf), Kg/jam 0,147 0,205 0,273 0,352 3) Laju Pemakaian b.bakar Spesifik Daya Engkol (Bsfc), kg/kwh 0,131 0,127 0,130 0,134 Daya engkol dan laju pemakaian bahan bakar spesifik diatas, kemudian dibandingkan berdasarkan variasi berat zeolit pellet, berat zeolit pellet yang digunakan. Data-data hasil perhitungan diatas disajikan dalam bentuk grafik. Contoh perhitungan laju pemakaian bahan bakar spesifik dan daya engkol dapat dilihat pada lampiran. B. Pembahasan Pada penelitian ini, pengaruh dari pemanfaatan zeolit pellet terhadap daya engkol dan laju laju pemakaian bahan bakar spesifik daya engkol dilihat dari perbedaan berat zeolit pellet yang digunakan, membandingkan zeolit granular dengan zeolit pellet yang telah diaktivasi NaOH-fisik terhadap putaran mesin. Dalam hal ini, putaran mesin terbagi dua yakni putaran rendah (1500 & 2000 rpm) dan putaran tinggi (2500 & 3000 rpm).

51 1. Zeolit Pada Kemasan Sebagai Adsorben Pada proses pengambilan data, digunakan 5 (lima) variasi terhadap adsorben atau penyaring udara yang diletakkan di saluran udara masuk, sebelum udara memasuki ruang pembakaran. Diantaranya sebagai berikut: a. Tanpa Zeolit Tahap pertama pengambilan data tidak menggunakan zeolit sebagai adsorben. Hal ini berarti, udara masuk ke ruang bakar tidak mengalami penyaringan. Data pada tahap ini, digunakan sebagai acuan perbandingan dengan data yang menggunakan zeolit sebagai adsorben. b. Zeolit Granular Untuk pengambilan data pada tahap yang kedua, digunakan zeolit granular atau zeolit yang berbentuk kerikil dengan ukuran seragam (2,5-3 mm). Hal ini dilakukan untuk dibandingkan dengan zeolit yang dibentuk secara buatan dari serbuk zeolit. Kemasan zeolit granular menggunakan tiga variasi berat (25, 50, dan 100 gr) c. Zeolit Pellet Tekan 2 Gram Pengambilan data tahap yang ketiga, digunakan zeolit pellet tekan yang dibentuk dari serbuk zeolit dengan berat 2 gr sebelum aktivasi dan menjadi 1,04-1,06 gr setelah aktivasi. Zeolit pellet tekan ini berbentuk tablet dengan dimensi diameter 16 mm dan tebal 5,5 mm. Kemasan zeolit pellet tekan 2 gr menggunakan tiga variasi berat, yaitu: 1. Kemasan 25 gr yang berisi ± 24 butir pellet

52 2. Kemasan 50 gr yang berisi ± 48 butir pellet 3. Kemasan 100 gr yang berisi ± 96 butir pellet d. Zeolit Pellet Tekan 2,3 Gram Pada tahap yang keempat, pengambilan data menggunakan zeolit pellet tekan yang dibentuk dari serbuk zeolit dengan berat 2,3 gr sebelum aktivasi dan menjadi 1,12-1,15 gr setelah aktivasi. Zeolit pellet tekan ini berbentuk tablet dengan dimensi diameter 16 mm dan tebal 5,5 mm. Kemasan zeolit pellet tekan 2,3 gr menggunakan tiga variasi berat, yaitu: 1. Kemasan 25 gr yang berisi ± 22 butir pellet 2. Kemasan 50 gr yang berisi ± 44 butir pellet 3. Kemasan 100 gr yang berisi ± 89 butir pellet e. Zeolit Pellet Tekan 2,5 Gram Untuk tahap yang terakhir, pengambilan data menggunakan zeolit pellet tekan yang dibentuk dari serbuk zeolit dengan berat 2,5 gr sebelum aktivasi dan menjadi 1,19-1,23 gr setelah aktivasi. Zeolit pellet tekan ini berbentuk tablet dengan dimensi diameter 16 mm dan tebal 5,5 mm. Kemasan zeolit pellet tekan 2,5 gr menggunakan tiga variasi berat, yaitu: 1. Kemasan 25 gr yang berisi ± 21 butir pellet 2. Kemasan 50 gr yang berisi ± 42 butir pellet 3. Kemasan 100 gr yang berisi ± 84 butir pellet

53 2. Pengaruh Zeolit Pellet yang diaktivasi NaOH-Fisik terhadap Daya Engkol (kw) Zeolit pellet dengan tiga jenis berat (2, 2,3 dan 2,5 gr) dibagi menjadi tiga berat zeolit pellet yang digunakan sebagai Adsorben pada motor diesel yaitu 25 gram, 50 gram dan 100 gr, ditambah zeolit granular 100 gr, dengan demikian ada 10 (sepuluh) jenis zeolit yang digunakan sebagai Adsorben. a. Pengaruh Pemanfaatan Zeolit Pellet dengan Berat 25 gram terhadap Daya Engkol (kw) Pengaruh dari pemanfaatan zeolit pellet ini, merupakan perbandingan antara besaran daya engkol yang menggunakan zeolit (pellet dan granular) dan yang tidak menggunakan zeolit berdasarkan putaran mesin. Gambar 20. Pengaruh Berat Zeolit Pellet yang diaktivasi NaOH-Fisik terhadap Daya Engkol dengan Berat 25 gr

54 Gambar 20 menunjukkan nilai daya engkol dengan lima variasi (sumbu x): 1. Daya engkol tanpa zeolit. 2. Daya engkol dengan zeolit granular sebanyak 25 gr. 3. Daya engkol dengan zeolit pellet yang berat per pelletnya 2 gr sebanyak 25 gr. 4. Daya engkol dengan zeolit pellet yang berat per pelletnya 2,3 gr sebanyak 25 gr. 5. Daya engkol dengan zeolit pellet yang berat per pelletnya 2,5 gr sebanyak 25 gr. Berdasarkan gambar 20, terlihat pengaruh zeolit pellet yang diaktivasi NaOH- Fisik terhadap daya engkol dengan berat 25 gr belum signifikan. Nilai daya engkol terbaik masih didominasi oleh granular seberat 25 gr pada setiap putaran, kecuali pada satu putaran yakni 2000 rpm. Sedangkan untuk nilai daya engkol terendah masih ditunjukkan oleh grafik daya engkol yang normal atau tanpa menggunakan zeolit, pada nilai 1,119 kw. Pada gambar 20, dapat juga dilihat bahwa peningkatan daya engkol terbaik dimiliki oleh zeolit granular 25 gr pada putaran tinggi (3000 rpm), yaitu sebesar 2.753 kw (meningkat 4,836 %). Pada zeolit pellet peningkatan terbaik terjadi pada zeolit pellet 2,5 gr putaran 3000 rpm, sebesar 2,686 kw (meningkat 2,285 %). Tetapi, bila dilihat dari nilai-nilai daya engkol zeolit pellet (2, 2.3, 2.5 gr), nilai tersebut masih lebih tinggi bila dibandingkan dengan nilai-nilai daya engkol tanpa zeolit. Meskipun pada gambar 20, nilai terbaik daya engkol ditunjukkan pada jenis zeolit granular 25 gr. Hal ini menunjukkan bahwa

55 zeolit pellet berpengaruh pada daya engkol, meskipun berat zeolit yang digunakan adalah 25 gr dan mengindikasikan berat zeolit berbanding lurus dengan daya engkol. b. Pengaruh Pemanfaatan Zeolit Pellet dengan Berat 50 gram terhadap Daya Engkol (kw) Gambar 21. Pengaruh Berat Zeolit Pellet yang diaktivasi NaOH-Fisik terhadap Daya Engkol dengan Berat 50 gr Berbeda halnya dengan nilai-nilai daya engkol zeolit pellet (2, 2.3, 2.5 gr) pada berat 25 gr (gambar 20). Pada gambar 21 dengan berat zeolit pellet 50 gr, nilai-nilai daya engkol zeolit pellet (2, 2.3, 2.5 gr) menunjukkan hasil yang baik. Untuk variasi pellet 2,5 gr menunjukkan hasil terbaik pada setiap putaran. Untuk hasil peningkatan daya engkol paling baik terlihat pada penggunaan zeolit pellet 2,5 gr putaran 2500 rpm yaitu 2,329 kw (meningkat 10,589 %). Peningkatan daya engkol yang cukup baik, juga terjadi pada

56 putaran 3000 rpm yaitu 2,812 kw (meningkat 7,083 %) dan masih terjadi pada zeolit pellet dengan variasi pellet 2,5 gr. Pada variasi pellet 2 dan 2,3 gr juga menunjukkan hasil yang diharapkan bila dibandingkan dengan zeolit granular 50 gr. c. Pengaruh Pemanfaatan Zeolit Pellet dengan Berat 100 gram terhadap Daya Engkol (kw) Gambar 22. Pengaruh Berat Zeolit Pellet yang diaktivasi NaOH-Fisik terhadap Daya Engkol dengan Berat 100 gr Grafik dengan berat 100 gr, sangat jauh berbeda dengan grafik 25 gr (gambar 20) dan grafik 50 gr (gambar 21). Gambar 22 menunjukkan grafik pengaruh pemanfaatan zeolit pellet yang diaktivasi NaOH-fisik dengan berat 100 gram. Pada grafik yang menggunakan berat yang terbesar ini, menunjukkan peningkatan daya engkol terbaik pada variasi pellet 2,3 gr putaran 2500 rpm, sebesar 2,339 kw (meningkat 11,064 %). Peningkatan daya engkol terbaik

57 kembali terjadi pada putaran 2500 rpm, hal ini terjadi juga pada grafik yang menggunakan berat 50 gr (gambar 21). Peningkatan yang cukup baik juga terjadi pada putaran 3000 rpm dan masih pada pellet 2,3 gr, yaitu sebesar 2,837 kw (meningkat 8,035 %). d. Pengaruh Pemanfaatan Zeolit Pellet terhadap Daya Engkol (kw) pada Nilai Terbaik Gambar 23. Pengaruh Berat Zeolit Pellet yang diaktivasi NaOH-Fisik terhadap Daya Engkol (kw) pada Nilai Terbaik Gambar 23 menunjukkan grafik pengaruh pemanfaatan zeolit pellet yang diaktivasi NaOH-fisik dengan nilai terbaik yang dihasilkan oleh tiap variasi. Nilai daya engkol terbaik pada putaran rendah (1500 & 2000 rpm) ditunjukkan pada variasi pellet 2,5 gr, sedangkan untuk putaran tinggi (2500 & 3000 rpm) oleh variasi pellet 2,3 gr. Putaran rendah, 1500 rpm dengan 1,207 kw dan putaran 2000 rpm dengan 1,705 kw. Sedangkan putaran tinggi, 2500 rpm

58 dengan 2,339 kw dan daya engkol terbesar pada putaran 3000 rpm sebesar 2,818 kw terjadi pada jenis zeolit pellet 2,3 gr. Hal ini tidak jauh berbeda dengan jenis zeolit pellet 2,5 gr yang memiliki nilai daya engkol terbesar kedua pada putaran 2500 dan 3000 rpm. Hal ini menunjukkan peran zeolit pellet yang diakfivasi NaOH-fisik sebagai Adsorben terhadap daya engkol, terlihat pada putaran rendah (1500 dan 2000 rpm) pada variasi berat pellet terbesar (2,5 gr). Sedangkan untuk putaran tinggi (2500 dan 3000 rpm), daya engkol terbaik dihasilkan variasi berat yang medium (2,3 gr). e. Persentase Peningkatan Terbaik dari Pengaruh Pemanfaatan Zeolit Pellet terhadap Daya Engkol (kw) Gambar 24. Persentase Peningkatan Terbaik dari Pengaruh Berat Zeolit Pellet yang diaktivasi NaOH-Fisik terhadap Daya Engkol (kw)

59 Pada gambar 24, menunjukkan grafik persentase terbaik dari peningkatan daya engkol bila dibandingkan daya engkol yang tidak menggunakan zeolit. Persentase peningkatan terbaik terjadi pada variasi pellet 2,3 gr dan putaran 2500 rpm, yakni 11,064 %. Hal ini mengindikasikan peningkatan yang lebih baik dibandingkan zeolit pellet penelitian sebelumnya yang tidak teraktivasi NaOH-fisik sebesar 5,661 %. 3. Pengaruh Zeolit Pellet yang diaktivasi NaOH-Fisik terhadap Laju Pemakaian Bahan Bakar Spesifik (kg/kwh) Lain halnya dengan daya engkol, bila semakin meningkat variasi berat zeolit pellet maka nilai daya engkol semakin baik. Nilai laju pemakaian bahan bakar kebalikan dengan daya engkol, bila nilainya semakin turun variasi berat zeolit pellet berarti semakin baik yang artinya semakin hemat pemakaian bahan bakarnya. Pemakaian bahan bakar spesifik engkol (bsfc) besarnya dipengaruhi oleh daya engkol dan laju pemakaian bahan bakar yang dihasilkan pada waktu pengoperasian motor bakar itu sendiri. a. Pengaruh Pemanfaatan Zeolit Pellet dengan Berat 25 gram terhadap Laju Pemakaian Bahan Bakar Spesifik (kg/kwh) Pengaruh dari pemanfaatan zeolit ini, membandingkan antara besarnya penurunan laju pemakaian bahan bakar spesifik yang menggunakan zeolit (pellet dan granular) dan yang tidak menggunakan zeolit berdasarkan putaran mesin.

60 Gambar 25. Pengaruh Berat Zeolit Pellet yang diaktivasi NaOH-Fisik terhadap Laju Pemakaian Bahan Bakar Spesifik (kg/kwh) dengan Berat 25 gr Berdasarkan grafik laju pemakaian bahan bakar spesifik pada gambar 25, terlihat bahwa penurunan laju pemakaian bahan bakar spesifik pada penggunaan zeolit pellet dengan berat 25 gram terbesar terjadi pada putaran 3000 rpm pada penggunaan zeolit pellet 2,5 gr sebesar 0,119 kg/kwh (meningkat 11,194 %). Pada putaran 2500 rpm, penurunan laju pemakaian bahan bakar spesifik juga terjadi pada penggunaan zeolit granular 0,124 kg/kwh (4,614 %). Sedangkan pada 2000 rpm dan 3000 rpm penurunan laju pemakaian bahan bakar spesifik tidak terlalu terlihat.

61 b. Pengaruh Pemanfaatan Zeolit Pellet dengan Berat 50 gram terhadap Laju Pemakaian Bahan Bakar Spesifik (kg/kwh) Gambar 26. Pengaruh Berat Zeolit Pellet yang diaktivasi NaOH-Fisik terhadap Laju Pemakaian Bahan Bakar Spesifik (kg/kwh) dengan Berat 50 gr Berbeda dari hasil yang ditunjukkan gambar 25, grafik yang dihasilkan masih berfluktuatif. Pada gambar 26, penggunanan zeolit pellet yang diaktivasi NaOH-fisik dengan berat 50 gram memperlihatkan garis yang tidak berpola pada putaran tinggi (2500 dan 3000 rpm). Sedangkan pada putaran 1500 rpm, mengalami penurunan laju pemakaian bahan bakar spesifik terbesar, sebesar 0,118 kg/kwh (meningkat 10,606 %). Sama halnya pada putaran 1500 rpm, pada putaran 2000 rpm diperoleh nilai penurunan laju pemakaian bahan bakar spesifik yang sama (0,118 kg/kwh), atau meningkat sebesar 0,009 kg/kwh (7,087 %) bila dibandingkan dengan tanpa menggunakan zeolit.

62 c. Pengaruh Pemanfaatan Zeolit Pellet dengan Berat 100 gram terhadap Laju Pemakaian Bahan Bakar Spesifik (kg/kwh) Gambar 27. Pengaruh Berat Zeolit Pellet yang diaktivasi NaOH-Fisik terhadap Laju Pemakaian Bahan Bakar Spesifik (kg/kwh) dengan Berat 100 gr Dibandingkan gambar 26, yang mengalami peningkatan laju pemakaian bahan bakar spesifik pada variasi zeolit pellet, gambar 27 menampilkan penurunan laju pemakaian bahan bakar spesifik pada penggunaan zeolit pellet. Penurunan terbaik terjadi pada putaran mesin 2000 rpm dengan berat 100 gram untuk semua variasi zeolit pellet, sebesar 0,117 kg/kwh (meningkat 7,874 %). Pada putaran 2000 rpm, penurunan laju pemakaian bahan bakar spesifik terjadi secara drastis oleh granular 100 gr sebesar 0,118 kg/kwh (meningkat 7,087 %). Sementara itu, pada putaran 1500 dan 3000 rpm memiliki nilai penurunan terbaik yang sama, yang terjadi pada penggunaan zeolit pellet 2 gr sebesar 0,123 kg/kwh (meningkat 7,087 %).

63 d. Pengaruh Pemanfaatan Zeolit Pellet terhadap Laju Pemakaian Bahan Bakar Spesifik (kg/kwh) pada Nilai Terbaik Gambar 28. Pengaruh Berat Zeolit Pellet yang diaktivasi NaOH-Fisik terhadap Laju Pemakaian Bahan Bakar Spesifik (kg/kwh) pada Nilai Terbaik Gambar 28, menunjukkan grafik pengaruh pemanfaatan zeolit pellet yang diaktivasi NaOH-fisik pada nilai terbaik yang dihasilkan oleh tiap variasi. Pada grafik, sama halnya dengan grafik daya engkol terbaik (gambar 23), laju pemakaian bahan bakar spesifik terbaik dihasilkan pada putaran rendah (2000 rpm) ditunjukkan pada semua variasi pellet, sedangkan untuk putaran tinggi (3000 rpm) oleh variasi pellet 2,5 gr. Namun besaran laju pemakaian bahan bakar spesifiknya tidak terlalu berbeda, yaitu pada range 0,117 0,119 kg/kwh. Penurunan laju pemakaian bahan bakar spesifik terbaik, terjadi pada putaran 3000 rpm pada penggunaan zeolit pellet 2,5 gr sebesar 0,119 kg/kwh (meningkat 11,194 %), yang justru terjadi pada variasi berat zeolit terkecil

64 yakni 25 gr (gambar 25). Pada gambar 28 juga menunjukkan perbandingan antara laju pemakaian bahan bakar spesifik yang tidak dipengaruhi oleh putaran mesin. e. Persentase Peningkatan Terbaik dari Pengaruh Pemanfaatan Zeolit Pellet terhadap Laju Pemakaian Bahan Bakar Spesifik (kg/kwh) Gambar 29. Persentase Peningkatan Terbaik dari Pengaruh Berat Zeolit Pellet yang diaktivasi NaOH-Fisik terhadap Laju Pemakaian Bahan Bakar Spesifik (kg/kwh) pada Nilai Terbaik

65 Pada gambar 29, menunjukkan grafik persentase terbaik dari peningkatan laju pemakaian bahan bakar spesifik bila dibandingkan laju pemakaian bahan bakar spesifik yang tidak menggunakan zeolit. Persentase peningkatan terbaik terjadi pada variasi pellet 2,5 gr dan putaran 3000 rpm, yakni 11,064 %. Hal ini mengindikasikan peningkatan yang lebih baik dibandingkan zeolit pellet penelitian sebelumnya yang tidak teraktivasi NaOH-fisik sebesar 7,976 %. 4. Pengaruh Zeolit Pellet yang diaktivasi NaOH-Fisik terhadap Nilai Kekerasan (Hardness Vickers Number) Pada penelitian ini, zeolit pellet yang digunakan dibagi tiga jenis berat yaitu berat sebesar 2, 2,3 dan 2,5 gr. Ketiga jenis tersebut dibagi menjadi mengalami pencampuran dengan NaOH, sebelum dipanaskan pada temperatur 325 o C selama 2 jam. Tabel 4. Nilai sebaran keempat titik No Sample Titik HVN 1 5 2 4,3 1 2 gr 3 4,5 4 5,3 rerata 4,775 Titik HVN 1 5,2 2 6 2 2,3 gr 3 6,1 4 5,1 rerata 5,6 Titik HVN 3 2,5 gr 1 4,7 2 5 3 4,5 4 4,7 rerata 4,725

66 Tabel 4 adalah tabel perbaikan yang disebabkan oleh terdapatnya nilai satu titik yang aneh (terlalu besar atau terlalu kecil), sehingga hanya digunakan empat dari lima titik yang diperoleh dari laboratorium Metalurgi Fisika dan Keramik, Institut Teknologi Bandung. Hal ini cukup mempengaruhi nilai rata-rata yang didapatkan. Akibat nilai rerata yang tidak relevan, yang diperoleh dari laboratorium Metalurgi Fisika dan Keramik, maka yang digunakan pada grafik adalah data yang terdapat pada tabel 4, seperti pada gambar 30. Gambar 30. Pengaruh Berat Zeolit Pellet terhadap Nilai Kekerasan Dari gambar 30, dapat dilihat bahwa nilai kekerasan terbaik diperoleh sebesar 5,6 HVN pada penggunaan zeolit pellet 2,3 gr yang diaktivasi NaOH-fisik. Sedangkan untuk nilai kekerasan pellet 2 gr dan pellet 2,5 gr adalah 4,775 dan 4,725 HVN. Untuk nilai kekerasan yang paling kecil dimiliki oleh pellet 2,5 gr.

67 Hal ini menunjukkan bahwa, berat zeolit pellet tidak berbanding lurus dengan nilai kekerasan. Pada gambar 30 juga menunjukkan selisih nilai kekerasan antara masing-masing variasi berat zeolit pellet. Bila diurutkan dari yang paling besar nilai kekerasannya, maka antara pellet 2,3 gr dengan pellet 2 gr berselisih 0,825 HVN (meningkat 17,28 %). Sedangkan untuk pellet 2 gr dengan pellet 2,5 gr memiliki selisih nilai kekerasan sebesar 0,05 HVN (meningkat 1,06 %). 5. Pengaruh Variasi Aktivasi terhadap Nilai Kekerasan (HVN) Gambar 31. Pengaruh Variasi Aktivasi terhadap Nilai Kekerasan Gambar 31 menjelaskan tiga variasi aktivasi perlakuan terhadap nilai kekerasan maksimal yang dapat diterima oleh zeolit pellet. Ketiga variasi itu ialah, alami (tanpa aktivasi), aktivasi fisik (dengan cara dipanaskan), dan aktivasi NaOH-fisik (setelah dicampur bahan kimia yakni NaOH, kemudian zeolit pellet dipanaskan). Gambar 31 memang tidak terlalu bagus dengan bentuknya yang tidak berpola.

68 Diluar hal tersebut, nilai kekerasan terbaik dihasilkan oleh aktivasi NaOH-fisik (5,6 HVN). Apabila dibandingkan dengan nilai kekerasan terbaik kedua (5,32 HVN pada aktivasi fisik), selisihnya dengan yang terbaik, dihasilkan nilai yang cukup besar (0,48 HVN). Pada gambar 31 terlihat nilai kekerasan terbaik 5,6 HVN dan nilai kekerasan terkecil pada perlakuan tanpa aktivasi dengan variasi pellet yang sama (2,3 gr), yakni 4,2 HVN. Hal ini menunjukkan, untuk menghasilkan nilai kekerasan yang baik digunakan berat maksimal sebesar 2,3 gr dalam membuat zeolit pellet tekan. 6. Pengaruh Nilai Kekerasan (HVN) terhadap Daya Engkol (kw) pada Nilai Terbaik Gambar 32. Pengaruh Nilai Kekerasan terhadap Daya Engkol (kw) pada Nilai Terbaik Gambar 32 menunjukkan nilai pengaruh pada daya engkol terhadap kekerasan pemanfaatan zeolit pellet yang diaktivasi NaOH-fisik pada nilai terbaik yang

69 dihasilkan oleh tiap variasi. Pada putaran rendah (1500 & 2000 rpm) daya engkol terbaik ditunjukkan pada nilai kekerasan 4,725 HVN yaitu dengan variasi pellet 2,5 gr. Putaran 1500 rpm dengan 1,207 kw dan putaran 2000 rpm dengan 1,705 kw Sedangkan untuk putaran tinggi (2500 & 3000 rpm) pada 5,6 HVN (variasi pellet 2,3 gr) dihasilkan daya engkol terbesar. Putaran tinggi, 2500 rpm dengan daya engkol 2,339 kw dan daya engkol terbesar pada putaran 3000 rpm sebesar 2,818 kw. Hal ini menunjukkan hubungan antara daya engkol dengan nilai kekerasan tidak berbanding lurus, sebab nilai terbesar dari kedua parameter tersebut mengalami nilai maksimal yang sama pada variasi berat zeolit pellet medium yakni 2,3 gr pada nilai kekerasan 5,6 HVN. Bila dibandingkan dengan selisih peningkatan nilai kekerasan pada gambar 30 dengan selisih peningkatan nilai daya engkol pada gambar 32, hanya terjadi pada putaran tinggi (2500 dan 3000 rpm). Peningkatan selisih nilai daya engkol terbaik terjadi pada putaran 2500 rpm antara 4,775 HVN dengan 5,6 HVN yakni sebesar 0,011 kw. Hal ini menunjukkan bahwa, dengan selisih nilai kekerasan terbesar 0,825 HVN (meningkat 17,28 %) hanya menghasilkan selisih daya engkol sebesar 0,011 kw (meningkat 0,47 %), sehingga dapat dikatakan nilai kekerasan tidak berbanding dengan daya engkol.

70 7. Pengaruh Nilai Kekerasan (HVN) terhadap Laju Pemakaian Bahan Bakar (kg/kwh) pada Nilai Terbaik Gambar 33. Pengaruh Nilai Kekerasan terhadap Laju Pemakaian Bahan Bakar Spesifik (kg/kwh) pada Nilai Terbaik Berbeda halnya dengan grafik pengaruh nilai kekerasan terhadap daya engkol (gambar 32), gambar 33 menunjukkan grafik pengaruh nilai kekerasan terhadap laju pemakaian bahan bakar spesifik. Bila dibandingkan dengan nilai kekerasan, laju pemakaian bahan bakar spesifik terbaik (0,117 kg/kwh) dihasilkan pada putaran 2000 rpm untuk semua variasi nilai kekerasan. Pada gambar 33, penurunan laju pemakaian bahan bakar spesifik hanya terjadi pada putaran 2500 rpm antara 4,775 HVN dengan 5,6 HVN yakni sebesar 0,001 kg/kwh (meningkat 0,84 %). Bila dibandingkan dengan selisih nilai kekerasannya 0,825 HVN (meningkat 17,28 %), maka hanya menghasilkan laju pemakaian bahan bakar spesifik sebesar 0,001 kg/kwh. Meskipun

71 sebenarnya, perbandingan antara nilai kekerasan dengan laju pemakaian bahan bakar spesifik dapat dikatakan tidak layak karena tidak terjadi pada semua putaran mesin, melainkan hanya terjadi pada satu putaran saja (2500 rpm).