Jl. Prof. H. Soedarto, S.H. Tembalang Semarang.

dokumen-dokumen yang mirip
MODEL ECONOMIC PRODUCTION QUANTITY (EPQ) UNTUK PERENCANAAN TERKOORDINASI PADA PRODUK DENGAN BACKORDER PARSIAL DAN KOMPONENNYA

ECONOMIC PRODUCTION QUANTITY MULTI PRODUK MESIN TUNGGAL DENGAN PROSES PENGOLAHAN ULANG

MODEL OPTIMASI ECONOMIC ORDER QUANTITY DENGAN SISTEM PARSIAL BACKORDER DAN INCREMENTAL DISCOUNT

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB 4 FORMULASI MODEL

MODEL EKONOMI PRODUKSI UNTUK PERMINTAAN YANG TERGANTUNG WAKTU DALAM PENGERJAAN ULANG DAN m PENGADAAN PRODUKSI. Alfi Mafrihah ABSTRACT

MODEL PENGENDALIAN PERSEDIAAN DENGAN PENUNGGAKAN PESANAN KETIKA TERJADI KEKURANGAN STOK. F. Aldiyah 1, E. Lily 2 ABSTRACT

Bab 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Seorang produsen penyedia kebutuhan sehari-hari dituntut untuk dapat

BAB 2 LANDASAN TEORI. dari beberapa item atau bahan baku yang digunakan oleh perusahaan untuk

PENGEMBANGAN MODEL PERSEDIAAN PRODUKSI, PRODUKSI ULANG, DAN PEMBUANGAN LIMBAH PADA KASUS PURE BACKORDERING DENGAN PERSEDIAAN PIHAK KETIGA

BAB II LANDASAN TEORI

MODEL PERSEDIAAN ECONOMIC PRODUCTION QUANTITY (EPQ) DENGAN MEMPERTIMBANGKAN DETERIORASI

BAB I PENDAHULUAN. Seperti yang kita lihat dan rasakan sekarang ini persaingan di dunia bisnis

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Arti dan Peranan Pengendalian Persediaan Produksi

( : WETTY ANGGUN WERTI JURUSAN STATISTIKA FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

PENGENDALIAN PERSEDIAAN PRODUKSI CRUDE PALM OIL (CPO) MENGGUNAKAN MODEL ECONOMIC PRODUCTION QUANTITY (EPQ) PADA PKS. PT. ABC

Mata Kuliah Pemodelan & Simulasi. Riani Lubis. Program Studi Teknik Informatika Universitas Komputer Indonesia

kegiatan produksi pada sistem manufaktur, kegiatan pemasaran pada sistem distribusi

BAB III LANDASAN TEORI

MODEL PERSEDIAAN DETERMINISTIK STATIS WAKHID AHMAD JAUHARI TEKNIK INDUSTRI UNS 2015

APLIKASI TRANSFORMASI LAPLACE DALAM PEMODELAN MATEMATIKA SIKLUS KARBON DI ATMOSFER DAN VEGETASI

MODEL PERSEDIAAN TERINTEGRASI PRODUSEN DAN PENGECER DENGAN KESALAHAN INSPEKSI, KENDALI WAKTU TUNGGU, DAN LEARNING IN PRODUCTION

BAB 2 LANDASAN TEORI

Berupa persediaan barang berwujud yang digunakan dalam proses produksi. Diperoleh dari sumber alam atau dibeli dari supplier

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

MANAJEMEN PERSEDIAAN

Model EOQ dengan Holding Cost yang Bervariasi

Prinsip-Prinsip Manajemen Persediaan Tujuan perencanaan dan pengendaliaan persediaan:

BAB 2 LANDASAN TEORI

MANAJEMEN PERSEDIAAN

MODEL PERSEDIAAN TERINTEGRASI PRODUSEN DAN DISTRIBUTOR DENGAN KEBIJAKAN MANAJEMEN BIAYA EMISI KARBON DAN PROSES INSPEKSI

Stok yang disimpan untuk. mendatang. Pertanyaan: barang atau jasa?

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Proses Pengadaan Persediaan

BAB II KONSEP PERSEDIAAN DAN EOQ. menghasilkan barang akhir, termasuk barang akhirnya sendiri yang akan di jual

BAB II LANDASAN TEORI. Berdasarkan jenis operasi perusahaan, persediaan dapat diklasifikasikan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

MANAJEMEN PERSEDIAAN. Heizer & Rander

PENGENDALIAN PERSEDIAAN MINYAK SAWIT DAN INTI SAWIT PADA PT PQR DENGAN MODEL ECONOMIC PRODUCTION QUANTITY (EPQ)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Jl. Veteran 2 Malang

BAB III METODE PENELITIAN

Manajemen Produksi dan Operasi. Inventory M-4

Sistem Pengendalian Persediaan Dengan Permintaan Dan Pasokan Tidak Pasti (Studi Kasus Pada PT.XYZ)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Mata Kuliah Pemodelan & Simulasi

ISSN: JURNAL GAUSSIAN, Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015, Halaman Online di:

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 LANDASAN TEORI

Simulasi Monte Carlo. (Inventory)

BAB I PENDAHULUAN. produksi per bulan mencapai 200 pcs untuk semua jenis produk.

Manajemen Persediaan

PENENTUAN SOLUSI OPTIMAL PERSEDIAAN PROBABILISTIK MENGGUNAKAN SIMULASI MONTE CARLO. Dian Ratu Pritama ABSTRACT

BAB 2 LANDASAN TEORI

TOOLS SIMULASI INVENTORI PADA SUPERMARKET

INVENTORY. (Manajemen Persediaan)

Manajemen Persediaan INVENTORY

MANAJEMEN PERSEDIAAN ILHAM SUGIRI HAMZAH KARIM AMRULLAH ARIE TINO YULISTYO

BAB 3 ANALISIS SISTEM BERJALAN. 3.1 Gambaran Umum dan Struktur Organisasi Perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. berbagai macam produk, baik itu berupa barang ataupun jasa. Salah satu

MATA KULIAH PEMODELAN & SIMULASI

BAB III. Metode Penelitian. untuk memperbaiki keterlambatan penerimaan produk ketangan konsumen.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

MANAJEMEN PERSEDIAAN

Prosiding Matematika ISSN:

BAB I PENDAHULUAN. Proses industri harus dipandang sebagai suatu perbaikan terus menerus, yang

BAB I PENDAHULUAN. Manajemen adalah suatu proses yang berguna dalam merencanakan,

PERENCANAAN & PENGENDALIAN PRODUKSI TIN 4113

ANALISIS MODEL EOQ DENGAN ADANYA KERUSAKAN BARANG PADA PERSEDIAAN DAN PERUBAHAN TINGKAT PERMINTAAN

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. adanya kemampuan manusia dalam mempertimbangkan segala kemungkinan sebelum

Manajemen Persediaan (Inventory Management)

BAB 1. PENDAHULUAN. Permasalahan pendistribusian barang oleh depot ke konsumen merupakan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

PENERAPAN MODEL LINEAR GOAL PROGRAMMING UNTUK OPTIMASI PERENCANAAN PRODUKSI

MANAJEMEN PERSEDIAAN

Model Kerusakan Inventori dan Backlog Parsial

Manajemen Persediaan. Perencanaan Kebutuhan Barang (MRP) EOQ. Christian Kuswibowo, M.Sc. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi Manajemen

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Persediaan

PENERAPAN DARI MODEL MATEMATIKA PENGENDALIAN PERSEDIAAN BARANG (INVENTORY MODEL) PADA SISTEM PRODUKSI DI PD. HANDI MEUBEL CIREBON

Manajemen Persediaan. Perencanaan Kebutuhan Barang (MRP) Lot for Lot. Christian Kuswibowo, M.Sc. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi Manajemen

MODEL EOQ DENGAN KONDISI KEKURANGAN PERSEDIAAN YANG DIPENGARUHI POTONGAN HARGA DAN INFLASI

PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PERSEDIAAN BAHAN BAKU MENGGUNAKAN METODE ECONOMIC ORDER QUANTITY (STUDI KASUS: PT.

BAB 1 PENDAHULUAN. perusahaan. Untuk mendukung kelancaran produksi yang pada akhirnya akan

Persediaan. by R.A.H

MODEL PENGENDALIAN PERSEDIAAN

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN, UNIVERSITAS ANDALAS BAHAN AJAR. : Manajemen Operasional Agribisnis

Penerapan Algoritma Greedy Pada Mesin Penjual Otomatis (Vending Machine)

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap laba yang diperoleh

Transkripsi:

ECONOMIC PRODUCTION QUANTITY DALAM KASUS PRODUKSI BARANG YANG TIDAK SEMPURNA DAN PENGERJAAN KEMBALI SERTA PENGEMBALIAN BARANG TANPA STOCKOUT Adhie Wijaya Litianko 1, R. Heri Soelistyo 2, H. Djuwandi,SU 3 1,2,3 Jurusan Matematika FSM Universitas Diponegoro Jl. Prof. H. Soedarto, S.H. Tembalang Semarang rianzi.48@gmail.com robertusutomo@yahoo.co.id Abstrak. Model EPQ biasa digunakan dalam masalah pengendalian persediaan untuk menentukan kebijakan dan mengawasi tingkat persediaan. Permasalahan persediaan adalah bagaimana cara menentukan jumlah produksi optimal dengan biaya total persediaan yang minimum. Asumsi umum yang digunakan adalah semua barang yang dihasilkan sempurna. Pada Tugas Akhir ini dibahas mengenai Model Economic Production Quantity dalam kasus produksi barang yang tidak sempurna dan pengerjaan kembali serta pengembalian barang tanpa Stockout, dimana barang yang diproduksi tidak semua sempurna dan kemungkinan adanya barang gagal. Barang yang belum sempurna akan dikerjakan kembali sebelum dapat dijual. Pada model ini juga dipertimbangkan tentang barang yang belum sempurna yang lolos dari pengawasan dan berakhir di tangan konsumen dan mengakibatkan pengembalian barang. Kata kunci : Model Economic Production Quantity, Pengerjaan Kembali, Pengembalian Barang, Barang yang Tidak Sempurna I. PENDAHULUAN Masalah produksi merupakan masalah penting yang dihadapi oleh suatu perusahaan. Masalah umum yang dihadapi di suatu perusahaan adalah masalah kuantitatif dan kualitatif. Masalah kuantitatif yaitu hal-hal yang berkaitan dengan penentuan kebijaksanaan persediaan (berapa jumlah barang yang harus diproduksi, total biaya yang harus dikeluarkan untuk produksi suatu barang) dan masalah kualitatif yaitu hal-hal yang berkaitan dengan sistem pengoperasian produksi yang akan menjamin kelancaran pengelolaan sistem produksi (jenis barang apa saja yang dimiliki, kualitas

barang yang telah di produksi). Upaya peminimalan biaya produksi dapat dilakukan dengan model Economic Production Quantity. Model Economic Production Quantity (EPQ) merupakan salah satu model manajemen produksi, model Economic Production Quantity digunakan untuk menentukan jumlah produksi optimal dengan tujuan meminimalkan biaya produksi. Biaya total produksi terdiri dari biaya persiapan (setup cost), biaya produksi (production cost), biaya penyimpanan (holding cost). Pada tugas akhir ini dibahas mengenai Economic Production Quantity dalam kasus produksi barang yang tidak sempurna dan pengerjaan kembali serta pengembalian barang tanpa stockout. Pada tugas akhir sebelumnya telah dibahas tentang model Economic Production Quantity dengan varian setup cost yaitu model EPQ dengan biaya setup yang berbeda beda setiap waktunya [6], lalu Economic Production Quantity dengan mempertimbangkan learning effect dan rework process yaitu model EPQ yang mempertimbangkan adanya barang yang rusak dan perlu melakukan perbaikan sebelum dijual serta pengaruh jumlah produksi terhadap jumlah inventori dan total biaya produksi [7]. Perbedaan model pada tugas akhir ini dengan tugas akhir yang telah dibahas sebelumnya adalah pada model ini barang yang diproduksi tidak semua sempurna dan memerlukan pengerjaan kembali sebelum dijual ke pelanggan. Dalam model ini ditambahkan d yang merupakan angka dalam produksi yang menghasilkan barang yang tidak sempurna dan w sebagai barang yang sampai ke tangan konsumen dalam keadaan tidak sempurna. Hal ini terjadi karena pada kenyataannya tidak semua barang yang diproduksi sempurna.

II. HASIL PENELITIAN Model persediaan untuk barang kasus produksi barang yang tidak sempurna dan pengerjaan kembali serta pengembalian barang tanpa stockout dapat dilihat pada gambar 3.1 berikut : Gambar 3.1 ini memperlihatkan bahwa pada t1 yaitu pada proses produksi awal, barang barang yang tidak sempurna dan barang gagal (scrap items) telah dipisahkan dengan barang yang sudah jadi terlebih dahulu sebelum proses pengerjaan kembali dimulai. nilai t2 adalah waktu pabrik untuk memperbaiki barang yang tidak sempurna yang telah dipisahkan sebelumnya, sedangkan t3 proses produksi sudah berhenti dan barang yg masih bisa diperbaiki telah disempurnakan. Pada saat t3 grafik menunjukkan penurunan yang diakibatkan tidak ada lagi barang yang diproduksi dan semua barang yang ada pada inventori telah dijual seiring waktu sampai barang habis dan memulai siklus produksi selanjutnya. Pada tahap produksi awal, dari awal sampai akhir baik barang yang sudah sempurna maupun belum diproduksi sebanyak P pada saat t1. Garis AO menunjukkan

garis P-D-d-w dan jumlah barang naik sebesar P sekaligus dikurangi oleh permintaan D dan barang yang tidak sempurna d dan juga barang tidak sempurna yang telah dikembalikan oleh pelanggan. Dan untuk jumlah barang pada inventori adalah sebesar P-D-d-w unit. I = Jumlah rata rata inventori pada 1 periode perencanaan (I) adalah : I = 1 T (1 2 Q1t1 + Q1 t2 + 1 2 (Q1 Q2) t2 + 1 2 Q2t3) Q 2P (P2 D(1 + y)((1 + x) 2x(1 θ) + (x(1 θ)) 2 ) Setelah mengetahui jumlah inventori kita dapat menghitung total biaya keseluruhan 1 periode perencanaan yang terdiri dari total biaya persiapan, total biaya produksi barang, total biaya penyimpanan inventori, total biaya untuk pengerjaan kembali, total biaya barang yang gagal saat produksi, dan total biaya peningkatan kualitas untuk barang yang belum sempurna. C h I = Untuk total biaya persiapan sendiri adalah : C 0 T = D. C 0 Q Untuk total biaya produksi barang adalah: Q. C p T = D. C p Total biaya penyimpanan inventori adalah: C hq 2P (1 xθ) (P2 D(1 + y)((1 x) + 2x(1 θ) + (x(1 θ)) 2 ) Total biaya untuk pengerjaan kembali atau perbaikan barang yang belum sempurna adalah : D. x. C R. (1 θ) Total biaya barang yang gagal saat produksi adalah: D. x. θ. C r Total biaya peningkatan kualitas untuk barang yang belum sempurna adalah: D. x. C Q

Sehingga total biaya keseluruhan dalam 1 periode perencanaan dapat ditulis : TC(Q) = D. C 0 Q + D. C p + C h. Q 2P (P2 D(1 + y)(1 + x 2xθ + (x(1 θ)) 2 ) + D. C R. x(1 θ) + D. x. θ. C r + D. x. C Q Nilai Q yang optimal dapat dihitung dengan cara dtc(q) = 0, dan hasilnya : 2. P. D. C 0 Q = C h (P 2 D(1 + y)(1 + x 2xθ + (x(1 θ)) 2 ) dq Untuk nilai Q akan menjadi peminimal di fungsi TC(Q) asalkan d2 TC(Q) dq 2 > 0, dijelaskan sebagai berikut : d 2 TC(Q) dq 2 = 2D.C 0 Q 3 (1 xθ) d 2 TC(Q) dq 2 > 0 2D.C 0 Q 3 (1 xθ) > 0 Untuk 2D. C 0 selalu bernilai positif dikarenakan nilai permintaan (D) dan biaya persiapan (C 0 ) selalu positif sedangkan pada Q 3, nilai selalu positif dikarenankan nilai proporsi terbentuknya barang belum sempurna pada produksi awal (x) hanya berkisar antara 0 sampai 0,1 dan nilai proporsi terbentuknya barang gagal (scrap items) (θ) paling besar bernilai 1 sehingga nilai xθ tidak pernah lebih dari satu. Dan nilai Q juga selalu positif sehingga nilai Q 3 selalu positif. Sehingga Q yang optimal : Q 2P. D. C 0 = C h (P 2 D(1 + y)(1 + x 2xθ + (x(1 θ)) 2 ) sebagai biaya total dalam 1 periode perencanaan dan jumlah produksi yang optimal. Untuk penerapan model tersebut akan dilakukan simulasi numerik. Simulasi numerik ini tidak diperbolehkan adanya kekurangan barang. Toko busana Tiara

merupakan toko yang menjual dan memproduksi sendiri berbagai macam pakaian namun dalam kasus ini khusus membahas tentang 1 jenis pakaian yaitu Kebaya (1 model). Dalam kasus ini satu periode perencanaan diasumsikan selama satu tahun dan satu unit sama dengan satu potong Kebaya. Jumlah produksi rata rata tiap tahunnya 268 unit sedangkan permintaan rata rata tiap tahunnya 224 unit. Untuk setiap kali produksi diperlukan biaya persiapan (biaya pengiriman bahan dan perawatan mesin) sebesar Rp 48.000,00 dan pembuatan untuk satu Kebaya biayanya sebesar Rp 300.000,00 dan biaya penyimpanan diberikan sebesar Rp 7.100,00 per unit per tahun. Dan jika terjadi kesalahan dalam penjahitan maka Kebaya akan di bongkar dan dijahit ulang dengan biaya sebesar Rp 150.000,00 dan jika terdapat aksesoris tambahan yang rusak maka akan diganti biaya aksesoris tambahan tersebut sekitar Rp 87.000,00. Apabila Kebaya rusak atau robek dan tidak bisa diperbaiki kembali pada saat proses produksi maka Toko akan rugi seharga dengan pembuatan baju tersebut. Pada kasus kali ini proporsi terbentuknya barang yang tidak sempurna dari produksi awal (x) diambil sebesar 0.03 dan proporsi barang yang tidak sempurna sampai ke tangan pelanggan (y) sebesar 0.02 sedangkan proporsi barang gagal dari produksi barang yang tidak sempurna (θ) sebesar 0.5. Total biaya produksi selama 3 bulan yang diperoleh dari data adalah Rp.18.100.000,00. Dihitung jumlah pemesanan barang yang optimal, biaya total produksi secara keseluruhan selama 1 periode perencanaan yaitu 1 tahun, pengaruh parameter x, y, dan θ dalam biaya total produksi dan perbandingan biaya menggunakan EPQ dengan Sistem Produksi Barang yang Tidak Sempurna dan Pengerjaan Kembali serta Pengembalian Barang Tanpa Backorder dengan Total biaya produksi yang telah di dapat dari data. Didapat besar produksi optimalnya (Q ) : Q = 160.553 Q 161 Untuk total biaya produksi secara keseluruhan selama 1 periode perencanaan didapat : TC(Q) = 70487895

Didapat selisih biaya dari model dengan Economic Production Quantity dalam kasus produksi barang yang tidak sempurna dan pengerjaan kembali serta pengembalian barang tanpa stockout dengan data adalah : Dengan efisiensi biaya : x Rp. 72.400.000 - Rp 70.487.895,00 = Rp 1.912.105,00 % efisiensi = TCD TC(Q). 100% TCD = 2,64% Berikut adalah tabel pengaruh besar x, y, θ terhadap total biaya produksi : Q* Q1 Q2 T Biaya total produksi 0.02 154.1394 23.50627 22.24937 0.667884 69431.5859 0.03 160.5533 22.56347 21.5103 0.692161 70487.89528 0.04 167.835 21.57878 20.70176 0.71988 71554.74068 0.05 176.2 20.54618 19.80804 0.751904 72632.24933 0.06 185.9473 19.45805 18.80766 0.789429 73720.54195 0.01 155.1292 23.35249 21.59912 0.675399 70491.94249 0.02 160.5533 22.56347 21.5103 0.692161 70487.55191 y 0.03 166.5892 21.74584 21.41223 0.71121 70482.96851 0.04 173.3615 20.89625 21.30304 0.733006 70478.17039 0.05 181.033 20.01062 21.18032 0.758153 70473.13107 0.1 158.6122 22.29068 19.91245 0.692123 69238.25271 0.2 159.0935 22.35832 20.30827 0.692135 69548.42341 θ 0.3 159.5774 22.42633 20.70651 0.692145 69860.47217 0.4 160.064 22.49471 21.10718 0.692154 70174.41608 0.5 160.5533 22.56347 21.5103 0.692161 70490.27248 Tabel 3.1 Pengaruh x, y, dan θ terhadap Total biaya produksi

Dari tabel dapat disimpulkan bahwa jika x atau proporsi terbentuknya barang yang tidak sempurna atau cacat dari produksi awal bertambah besar maka besar produksi optimal Q dan waktu produksi dalam satu periode perencanaan T ikut bertambah serta total biaya produksi satu periode perncanaan pun ikut meningkat. Banyak stok barang dalam gudang setelah konsumsi pada akhir t1 dan t2 berkurang. Jika y atau proporsi barang yang tidak sempurna atau cacat yang sampai ditangan konsumen meningkat maka besar produksi optimal Q dan waktu produksi satu periode perencanaan T juga akan ikut bertambah. Banyak stok barang dalam gudang setelah konsumsi pada akhir t1 dan t2 berkurang. Sedangkan untuk biaya total produksi satu periode perencanaan turun ini diakibatkan oleh menurunnya total biaya penyimpanan. Jika θ atau proporsi barang gagal (tidak bisa diperbaiki) meningkat maka besar produksi optimal Q dan waktu produksi dalam satu periode perencanaan T ikut bertambah. Banyak stok barang dalam gudang setelah konsumsi pada akhir t1 dan t2 bertambah serta total biaya produksi satu periode perncanaan pun ikut meningkat. III. KESIMPULAN Pada tugas akhir ini telah dirumuskan model optimasi Biaya yang dikeluarkan model Economic Production Quantity dalam kasus produksi barang yang tidak sempurna dan pengerjaan kembali serta pengembalian barang tanpa stockout. Perbedaan dengan model Economic Production Quantity yang sudah dipelajari adalah adanya kerusakan yang terjadi pada proses produksi sehingga menghasilkan barang yang tidak sempurna maupun barang gagal dan apabila barang yang belum sempurna tersebut lepas dari pengawasan dan sampai ke tangan pelanggan akan mengakibatkan pengembalian barang. Hasil model optimasi Economic Production Quantity dalam kasus produksi barang yang tidak sempurna dan pengerjaan kembali serta pengembalian barang tanpa stockout digunakan untuk melakukan simulasi numerik pada sebuah toko busana dimana tidak diperbolehkan terjadinya kekurangan barang. Pada perhitungan di toko busana Tiara proporsi terbentuknya barang yang belum sempurna dari produksi awal (x) sebesar 0.03 dan proporsi barang yang belum sempurna sampai ke tangan pelanggan (y) sebesar 0.02 sedangkan proporsi barang

gagal dari produksi barang yang belum sempurna (θ) sebesar 0.5. Maka hasil yang didapatkan adalah jumlah kebaya yang harus diproduksi optimal tiap siklusnya sebesar 161 unit. Biaya yang dikeluarkan model Economic Production Quantity dalam kasus produksi barang yang tidak sempurna dan pengerjaan kembali serta pengembalian barang tanpa stockout lebih kecil dibandingkan dengan biaya yang di dapat dari data, sehingga jika menggunakan model ini toko tersebut dapat menghemat pengeluaran sebesar 2,46% atau Rp 1.912.105,00 dalam 1 periode perencanaan. IV. DAFTAR PUSTAKA [1] Widowati, Heri Sulistyo, Farikhin. 2012. Kalkulus. Semarang : UPT UNDIP Press. [2] Sardjono.2008. Kalkulus I. Jakarta : Penerbit Universitas Terbuka. [3] Purcell, Edwin dan Dale Varberg. 1987. Kalkulus dan Geometri Analitis Jilid 1. Jakarta : Erlangga. [4] Pudjiastuti,BSW. 2006. Kalkulus Diferensial dan Integral.Yogyakarta : Graha Ilmu. [5] C. Krishnamoorthi and S. Panayappan, An EPQ Model with Imperfect Production Systems with Rework of Regular Production and Sales Return, American Journal of Operations Research, Vol. 2 No. 2, pp. 225-234. doi: 10.4236/ajor.2012.22026. [6] Havid Yogi Pratama, Ikmam. 2015. Model Economic Production Quantity (EPQ) Dengan Setup Cost yang Tidak Konstan. Skripsi. Semarang : Universitas Diponegoro [7] Febriyantie, Yosephine Elly. 2015. Model Optimasi Economic Production Quantity Dengan Mempertimbangkan Learning Effect dan Rewoking Process. Skripsi. Semarang : Universitas Diponegoro.