Universitas Sumatera Utara

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. terjadi, dimana telah mengenai 20-25% populasi dunia. Penyebab utama

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Mikosis adalah infeksi jamur. 1 Dermatomikosis adalah penyakit

I. PENDAHULUAN. Personal hygiene adalah cara perawatan diri manusia untuk memelihara

BAB I PENDAHULUAN. sehingga dapat ditemukan hampir di semua tempat. Menurut Adiguna (2004),

BAB I PENDAHULUAN UKDW. 27,6% meskipun angka ini tidak menggambarkan populasi umum. baru (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011).

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK PROFIL PIODERMA PADA ANAK USIA 0-14 TAHUN DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PERIODE JUNI JUNI 2016

KULIT SEBAGAI ORGAN PROTEKSI DAN ESTETIK

BAB I PENDAHULUAN. Kakimantan Tengah, Kalimantan selatan, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo

BAB I PENDAHULUAN. Kandidiasis adalah sekelompok infeksi yang disebabkan oleh Candida

BAB I PENDAHULUAN. kuku yang menyebabkan dermatofitosis.penyebab dermatofitosis terdiri dari 3

BAB 1 PENDAHULUAN. didefenisikan sebagai masa kehidupan pertama ekstrauterin sampai dengan usia 28

BAB I PENDAHULUAN. yang rendah menyebabkan keadaan yang menguntungkan bagi pertumbuhan

BAB 1 PENDAHULUAN. mutasi sel normal. Adanya pertumbuhan sel neoplasma ini ditandai dengan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dengan istilah tinea unguium (Monero dan Arenas, 2010). merupakan kelainan kuku paling sering (Welsh et al, 2010).

BAB I PENDAHULUAN. bulan Agustus 2014 berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik berjumlah sekitar

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

No. Kuesioner : I. Identitas Responden 1. Nama : 2. Umur : 3. Jenis Kelamin : 4. Pendidikan : 5. Pekerjaan : 6. Sumber Informasi :

BAB I PENDAHULUAN. Candida albicans dan Aspergillus yang menyebabkan mukormikosis. Selama

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN. cross sectional pendekatan retrospektif. Studi cross sectional merupakan

Penelitian Retrospektif: Mikosis Superfisialis. (Retrospective Study: Superficial Mycoses)

Vol 1, No 2, Oktober 2017 ISSN

ANATOMI KULIT Gambar 1. Anatomi Kulit Posisi Melintang Gambar 2. Gambar Penampang Kulit

PERAN PRESSURE GARMENT DALAM PENCEGAHAN JARINGAN PARUT HIPERTROFIK PASCA LUKA BAKAR

Profil dermatofitosis di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari Desember 2013

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Infeksi nosokomial adalah infeksi yang ditunjukkan setelah pasien

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di

BAB 1 PENDAHULUAN. papul, pustul, nodul dan kista di area predileksinya yang biasanya pada

BAB I PENDAHULUAN. Rambut merupakan mahkota bagi setiap orang. Masalah kulit kepala sering

BAB 1 PENDAHULUAN. Rheumatoid arthritis adalah penyakit kronis, yang berarti dapat

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. sistemik (Potter & Perry, 2005). Kriteria pasien dikatakan mengalami infeksi

Mikosis Superfisialis di Divisi Mikologi Unit Rawat Jalan Penyakit Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya Tahun

Mikosis Superfisialis di Divisi Mikologi Unit Rawat Jalan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya Periode Tahun

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. melaksanakan pembangunan nasional telah berhasil. meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi pada

BAB 1 PENDAHULUAN. Perubahan struktur masyarakat agraris ke masyarakat industri banyak

BAB I PENDAHULUAN. penyebarannya sangat cepat. Penyakit ini bervariasi mulai dari hiperemia

BAB 1 PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis. Sumber infeksi TB kebanyakan melalui udara, yaitu

BAB I PENDAHULUAN. Dermatofitosis adalah mikosis superfisialis yang banyak ditemukan di negeri tropis

nosokomial karena penyakit infeksi. Di banyak negara berkembang, resiko perlukaan karena jarum suntik dan paparan terhadap darah dan duh tubuh jauh

BAB 1 PENDAHULUAN. saluran dan kelenjar payudara (Pamungkas, 2011). Kanker payudara merupakan

TESIS. Oleh IHSAN MURDANI /IKM

Profil dan Evaluasi Pasien Dermatofitosis. (Profile and Evaluation of Dermatophytosis)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. batang dan daun. cendawan tidak bisa mengambil makanan dari tanah dan tidak

BAB 1 PENDAHULUAN. menurun, maka sifat komensal candida ini dapat berubah menjadi. disebabkan oleh Candida albicans, sisanya disebabkan oleh Candida

Luka dan Proses Penyembuhannya

BAB 1 PENDAHULUAN. yang cukup banyak mengganggu masyarakat. Pada umumnya, terjadi pada

PERBANDINGAN UJI KEPEKAAN ITRAKONAZOL TERHADAP AGEN PENYEBAB DERMATOFITOSIS PADA KULIT GLABROUS DI MAKASSAR

FORM UNTUK JURNAL ONLINE. : Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Pada Infeksi Jamur Subkutan

BAB 3 KERANGKA KONSEP. Gambar 3.1: Kerangka konsep tentang pola kelainan kulit pada pasien AIDS.

HUBUNGAN KADAR CD4 + DENGAN INFEKSI JAMUR SUPERFISIALIS PADA PASIEN HIV DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

Pendahuluan BAB I. A. Latar Belakang Masalah

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. (WHO, 2002). Infeksi nosokomial (IN) atau hospital acquired adalah

BAB 1 PENDAHULUAN. Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) memperkirakan

BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Profil Manifestasi Klinis dan Spesies Penyebab Dermatofitosis pada Pasien HIV

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN LAPORAN KASUS

KESEHATAN KULIT RAMBUT DAN KUKU

BAB 1 PENDAHULUAN. Menurut WHO (World Health Organization) sejak tahun 1993

PENDAHULUAN MIKOSIS SUPERFISIAL MIKOSIS SUPERFISIALIS MIKOSIS 4/18/2011. MIKOSIS : Penyakit yang disebabkan oleh jamur;

BAB 1 PENDAHULUAN. usia anak. Anak menjadi kelompok yang rentan disebabkan masih. berpengaruh pada tumbuh kembang dari segi kejiwaan.

PREVALENSI DERMATOFITOSIS DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUD TANGERANG PERIODE 1 JANUARI 2011 SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2011

BAB 1 PENDAHULUAN. Komplikasi akut adalah gangguan keseimbangan kadar glukosa darah jangka

BAB I LATAR BELAKANG

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

Profil Pasien Baru Infeksi Kandida pada Kulit dan Kuku (Profile of New Patients with Candida Infection in Skin and Nail)

BAB I PENDAHULUAN. jerawat atau akne (Yuindartanto, 2009). Akne vulgaris merupakan suatu

BAB 1 PENDAHULUAN. terhadap infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat pasien

BAB I PENDAHULUAN. TB (Mycobacterium Tuberculosis) (Depkes RI, 2011). Mycobacrterium tuberculosis

BAB I PENDAHULUAN. kebersihan terutama pada kehidupan sehari hari. Dalam aktivitas yang relatif

BAB I PENDAHULUAN. Istilah onikomikosis merupakan suatu istilah yang merujuk pada semua

BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan daerah yang seringkali menjadi lokasi terjadinya luka bakar. Luka

DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA TINEA FASIALIS. Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar

BAB I PENDAHULUAN. Survei morbiditas yang dilakukan oleh Subdit Diare Departemen Kesehatan

BAB 1 PENDAHULUAN. Psoriasis adalah salah satu penyakit kulit termasuk dalam kelompok

PROFIL DERMATOMIKOSIS SUPERFISIAL PADA PEKERJA PABRIK TAHU DI DESA MABAR KECAMATAN MEDAN DELI

BAB I PENDAHULUAN. tak terpisahkan. Oleh sebab itu, seorang ibu hamil pada masa kehamilannya

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG

SERUMEN PROP. Angga Rizky Permana Dina Nurfadhilah Khairi Maulana Azhari Isnaini Syakira

BAB 1 PENDAHULUAN. dinilai melalui berbagai indikator. Salah satunya adalah terhadap upaya

Angka Kejadian dan Karakteristik Tinea Versikolor di Rs Al Islam Bandung

BAB I PENDAHULUAN. fungsi kulit dan ini sama seriusnya dengan penyakit hati dan ginjal. 1

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

All about Tinea pedis

GAMBARAN KARAKTERISTIK INDIVIDU PENDERITA DERMATOFITOSIS DI POLI KILINIK PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN RSUD DR. SOEDARSO PONTIANAK TAHUN 2014 ABSTRACT

BAB 3 KERANGKA PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Hipertensi merupakan gangguan sistem peredaran darah yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. Pola penyakit saat ini telah mengalami perubahan yaitu adanya transisi

PROFIL KANDIDIASIS KUTIS DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO PERIODE

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata 1 pada Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran Umum. Oleh :

BAB 1 PENDAHULUAN. termasuk golongan tumbuhan. Jamur bersifat heterotropik yaitu organisme yang tidak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dan Kesehatan Kerja di Rumah Sakit (K3RS). Dampak dari proses pelayanan

BAB 1 PENDAHULUAN. angka kejadiannya (Depkes, 2006). Perkembangan teknologi dan industri serta. penyakit tidak menular (Depkes, 2006).

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kulit merupakan organ terluar yang membatasi manusia dan lingkungannya. Kulit mudah dilihat dan diraba serta berperan dalam menjamin kelangsungan hidup (Wasitaatmadja, 2010). Fungsi utama kulit adalah melindungi, absorpsi, ekskresi, persepsi, regulasi suhu tubuh, pembentukan vitamin D, dan keratinisasi. Begitu pentingnya kulit, selain menjamin kelangsungan hidup juga mempunyai fungsi lain yaitu estetik (menyokong penampilan), ras, indikator sistemik, dan sarana komunikasi nonverbal antar individu (Wasitaatmadja, 2010). Kulit manusia rentan terhadap hama. Kulit yang steril hanya didapatkan pada waktu yang singkat yaitu setelah lahir. Hal ini disebabkan permukaan kulit banyak mengandung nutrisi untuk pertumbuhan organisme, antara lain lemak, bahanbahan yang mengandung nitrogen, mineral, dan lain-lain yang merupakan hasil ekstra dari proses keratinisasi atau merupakan hasil apendiks kulit (Wiryadi, 2010). Menurut Nairn (2007), hanya sedikit mikroorganisme yang mampu menembus kulit intak, tetapi banyak yang dapat memasuki kelenjar keringat (kelenjar sebasea) dan folikel rambut serta menetap disana. Daya tahan kulit manusia bervariasi sesuai usia. Anak-anak sangat rentan infeksi kurap. Setelah pubertas, daya tahan terhadap penyakit kulit ini meningkat jelas seiring meningkatnya kandungan asam lemak jenuh dalam sekret sebasea. Data Profil Kesehatan Indonesia 2008 menunjukkan bahwa distribusi pasien rawat jalan menurut International Classification of Diseases - 10 (ICD-10) di rumah sakit di Indonesia tahun 2008 dengan golongan sebab sakit Penyakit Kulit dan Jaringan Subkutan terdapat sebanyak 64.557 pasien baru (Depkes, 2009). Penyakit kulit semakin berkembang, hal ini dibuktikan dari data Profil Kesehatan Indonesia 2010 yang menunjukkan bahwa penyakit kulit dan jaringan subkutan menjadi peringkat ketiga dari 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di

2 rumah sakit se-indonesia berdasarkan jumlah kunjungan yaitu sebanyak 192.414 kunjungan dan 122.076 kunjungan diantaranya merupakan kasus baru (Kemenkes,2011). Hal ini menunjukkan bahwa penyakit kulit masih sangat dominan terjadi di Indonesia. Penyakit kulit yang disebabkan infeksi jamur atau dermatomikosis merupakan penyakit yang sering dijumpai di negara tropis yang disebabkan udara yang lembab yang mendukung berkembangnya penyakit jamur (Putra, 2008). Penelitian Rusetianti (2004) menunjukkan bahwa dermatomikosis selalu menjadi 10 besar penyakit terbanyak di poliklinik rawat jalan dan menjadi peringkat pertama pada tahun 1999 serta peringkat ketiga pada tahun 2003. Hasil penelitian Mulyani (2011) juga menunjukkan bahwa penyakit dermatomikosis menjadi urutan pertama dibandingkan dengan penyakit kulit lainnya di RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan pada bulan Juli September 2010 dengan pasien sebanyak 140 orang serta kunjungan rata-rata pasien perhari 40% dari penyakit lainnya. Menurut Budimulja (2010), penyakit akibat infeksi jamur (mikosis) terbagi atas mikosis superfisialis dan mikosis profunda. Klasifikasi lain menurut Jain (2012), infeksi jamur dibagi menjadi infeksi superficial (menginvasi stratum korneum, rambut, dan kuku), subcutaneous (biasanya karena implantasi), dan deep (sistemik). Menurut Utama (2004) dalam Mulyani (2011), penyakit Dermatomikosis Superfisialis (mikosis superfisialis) menjadi penyakit yang paling banyak dijumpai di semua lapisan masyarakat yang terjadi pada kulit, rambut, kuku, dan selaput lendir. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Samuel, Adekunle, dan Ogundipe (2013) tentang dermatomikosis yang menunjukkan bahwa jamur golongan dermatofit, penyebab dermatofitosis yang merupakan bagian dari infeksi superfisial, mendominasi hasil isolasi jamur yang mereka lakukan yaitu sebanyak 188 temuan sedangkan jamur penyebab infeksi sistemik hanya sebanyak 26 temuan.

3 Penjabaran lebih spesifik dari penelitian lain berdasarkan data kunjungan rawat jalan Penyakit Kulit dan Kelamin RS Dr Sardjito tahun 1999 dan 2003 menunjukkan bahwa tinea kruris merupakan penyakit dermatofitosis terbanyak dijumpai dengan kunjungan penderita baru dan lama berjumlah 641 pada tahun 1999 dan kunjungan penderita baru dan lama berjumlah 291 orang pada tahun 2003 (Rusetianti, 2004). Sementara itu hasil penelitian lain yang dilakukan Panjaitan (2008) menunjukkan tinea imbrikata yang menjadi dominan terjadi di Kabupaten Waringin Timur dengan prevalensi 2,45 % dari populasi di dua Kecamatan, namun di beberapa desa dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah menunjukkan prevalensi tinea imbrikata jauh lebih tinggi yaitu berkisar 17% - 20%. Hal yang berbeda diungkapkan dalam hasil penelitian K et al (2012) di Ahmedabad yang memperlihatkan bahwa pada umumnya paling banyak kejadian penyakit yang diakibatkan tinea korporis dengan insidensi sebesar 52,78% yang selanjutnya tinea kruris sebesar 15,65%, pitiriasis versikolor sebesar 12,47%. Venugopal dan Venugopal (1992) di dalam Gopichand, Babulal, dan Madhukar (2013) menyatakan bahwa tinea kapitis dan tinea korporis lebih cenderung terjadi pada anak-anak sedangkan tinea unguium, tinea pedis, dan pitiriasis versikolor lebih umum terjadi pada orang dewasa. Hal yang tidak jauh berbeda diungkapkan Gautam, Dekate, dan Padhye (2011), pitiriasis versikolor pada umumnya terjadi pada orang dewasa yang terjadi di sekitar tubuh. Uraian di atas telah menunjukkan pentingnya penelitian seperti ini untuk dilakukan. Namun penelitian lain mengenai infeksi jamur semakin sangat spesifik yang memungkinkan adanya subjek yang terlewatkan sehingga peneliti berniat melakukan penelitian ini. 1.2. Rumusan Masalah Dalam penelitian ini, yang menjadi rumusan masalah yaitu: Bagaimana pola penyakit kulit akibat infeksi jamur superfisial di Departemen Ilmu Kesehatan

4 Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan periode Januari 2009 Desember 2012. 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Mengetahui pola penyakit kulit akibat infeksi jamur superfisial di Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan periode Januari 2009 Desember 2012. 1.3.2. Tujuan Khusus Yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah: 1. Mengetahui jenis kelamin dan kelompok usia yang paling banyak menderita penyakit kulit akibat infeksi jamur superfisial. 2. Mengetahui perkembangan penyakit kulit akibat infeksi jamur superfisial dalam 4 tahun terakhir. 3. Mengetahui jenis penyakit kulit akibat infeksi jamur superfisial yang memiliki jumlah kasus terbanyak berdasarkan jenis kelamin dan kelompok usia. 4. Mengetahui distribusi daerah asal penderita penyakit kulit akibat infeksi jamur superfisial di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan 2009-2012. 1.4. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat untuk: 1. Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan serta institusi kesehatan pemerintah maupun swasta lainnya sebagai rujukan tambahan dalam penetapan kebijakan mengenai penyakit kulit akibat infeksi jamur superfisial.

5 2. Peneliti dalam peningkatan pengetahuan mengenai penyakit kulit akibat infeksi jamur superfisial. 3. Masyarakat sebagai rujukan bagi yang ingin melakukan penelitian yang berkaitan dengan judul ini dan meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit kulit akibat infeksi jamur superfisial.