BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. penting bagi kehidupan manusia. Sebab tanpa adanya komunikasi tidak mungkin

BAB IV ANALISIS DATA. wisatawan pasca konflik ini pihak Dinas Pariwisata telah melakukan beberapa

BAB I PENDAHULUAN. yang dilaksanakan oleh instansi pemerintahan itu sendiri, seperti acara workshop

BAB I PENDAHULUAN. Propinsi Kalimantan Timur khususnya Kota Balikpapan yang dikenal

BAB I PENDAHULUAN. Kehadiran Humas memegang peranan penting dalam setiap organisasi, baik pada

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu tujuan dari suatu organisasi atau perusahaan adalah memiliki citra

BAB I PENDAHULUAN. dalam profesi Humas antar instansi pun tidak jauh berbeda. Menurut Frank

BAB I PENDAHULUAN. informasi cukup bisa didapat melalui gadget yang notabene semua masyarakat

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. dan teknis untuk mengisi jenjang kerja tertentu. 1. ketrampilan, dan sikap kerja, sesuai dengan unjuk kerja yang

BAB I PENDAHULUAN. Humas Pemerintahan dan Humas Perusahaan. Humas Pemerintahan dan. satu peran yang berbeda dari kedua Humas tersebut adalah Humas

BAB I PENDAHULUAN. komponen penting untuk membentuk citra dan image dalam suatu

BAB I PENDAHULUAN. organisasi atau instansi. Dapat kita lihat di berbagai instansi, baik instansi

BAB 1 PENDAHULUAN. (berkomunikasi) sudah dianggap sebagai suatu kepentingan bagi public relations. Dalam

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dewasa ini untuk menciptakan kerja sama, dimana orang-orangnya

BAB I PENDAHULUAN. adalah tentang keunikkan dan keanekaragaman budaya dan suku yang ada

BAB I PENDAHULUAN. diberikan suatu pelatihan atau yang sering disebut Kuliah Kerja Media

BAB I PENDAHULUAN. dengan publik dan sebaliknya. Hubungan komunikasi sangat dibutuhkan guna

BAB I PENDAHULUAN. Paska perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

BAB III PROSEDUR PELAKSANAAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. sikap, dan perilaku publik, mengidentifikasi kebijakan-kebijakan dan prosedurprosedur

BAB I PENDAHULUAN. Paradigma teknologi komunikasi dan informatika telah menjadikan

BAB 1 PENDAHULUAN. sering disebut dengan humas merupakan bagian yang sangat penting bagi sebuah

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. yang lainnya akan berbeda dalam bentuk strukturalisasi manajemen dan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Public Relations (PR) menurut Frank Jefkins merupakan semua bentuk

BAB I PENDAHULUAN. penyebaran informasi suatu lembaga bisa menjadi lebih dikenal oleh

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan perekonomian suatu negara ditandai dengan semakin pesatnya. perkembangan industri, perusahaan dagang dan jasa.

OPTIMALISASI PERAN HUMAS PERGURUAN TINGGI. Oleh: Lena Satlita. Salah satu agenda yang ramai dibicarakan dalam Rapat Koordinasi Nasional

profesional yang didasarkan pada prinsip-prinsip compliance.

BAB I PENDAHULUAN. untuk menangkal persepsi yang salah. Komunikasi yang berujung pada

PERILAKU KOMUNIKASI KOMUNITAS LESBI DI MAKASSAR

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dalam Era kompetisi yang kian ketat ini, setiap perusahaan dituntut untuk

BAB I PENDAHULUAN. organisasi kompleks jelasnya media adalah pemain utama dalam komunikasi.

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. langsung maupun tidak langsung hal tersebut berdampak pada masyakrakat

BAB I PENDAHULUAN. (Sumber: Buku Kunci Sukses Seorang Public Relations Officer Telkom)

BAB I PENDAHULUAN. tentang suatu tindakan yang konsekuen dan sistematis mengenai hal-hal yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dalam setiap kegiatan organisasi yang diselenggarakan dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. pemerintahan tidak diadakan untuk melayani diri nya sendiri. masyarakatnya tidak buta akan informasi yang ada pada saat ini.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kedudukan sektor pariwisata di dunia perekonomian Indonesia semakin


BAB I PENDAHULUAN. mendunia dan tidak berbatas atau tak mengenal batas wilayah. Globalisasi adalah


BAB III PROSEDUR PELAKSANAAN

Produksi Media PR Cetak

# Namun peranan PR tidak hanya sebatas menjalin hubungan baik dengan publiknya, baik publik internal maupun publik eksternal. PR juga memiliki tugas u

BAB I PENDAHULUAN. dengan competitor lainnya agar dapat menarik perhatian dan minat masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Magang

PENDAHULUAN. sosial, maupun politik adalah usaha untuk membangun dan mengembangkan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Era persaingan usaha yang ketat sekarang ini, bidang Hubungan

BAB I PENDAHULUAN. banyak faktor diantaranya lingkungan, keluarga dan pendidikan.

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN. Visi pembangunan daerah dalam RPJMD adalah visi Kepala daerah dan

BAB I PENDAHULUAN. Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang diberi amanat melakukan. melaksanakan tugas dan wewenangnya bebas dari kekuasaan manapun.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ETIKA PROFESI. Manfaat Etika dan Etiket dalam Profesi Humas. Triasiholan A.D.S.Nababan. Modul ke: 05Fakultas KOMUNIKASI

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan sehari-hari umat manusia. Karena manusia merupakan makhluk

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sudah semakin menjamur dan sepertinya hukum di Indonesia tidak

B A B I PENDAHULUAN. Kota Solo memiliki banyak keunikan salah satunya dikenal sebagai

BAB 1 PENDAHULUAN. jasa public relations. Banyak nya kesuksesan dari perusahaan adalah salah satu

BAB I PENDAHULUAN. Di era pasar bebas saat ini, dimana persaingan dalam dunia bisnis semakin

BAB I PENDAHULUAN. tekanannya, sehingga perusahaan dituntut melakukan inovasi secara terus menerus

Judul Tugas Akhir : Strategi Humas RS. Telogorejo Dalam Mengelola Komunikasi Eksternal : Miftah Noor Fajriani NIM : D0C ABSTRAKSI

BAB 1 PENDAHULUAN. stakeholders ataupun untuk mengkomunikasikan visi, misi, tujuan dan program

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. dalam menggali suatu informasi yang aktual dan terpercaya, suatu instansi

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Komunikasi berasal dari Bahasa inggris yaitu Communication dan

BAB 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

BAB V PENUTUP. bisa dikatakan sangat nyata dan profesional. Berbagai aktivitas yang dilakukan

BAB I PENDAHULUAN. Kognisi adalah Pengetahuan manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang

BAB I PENDAHULUAN. komunikasi berkembang pesat dari waktu-kewaktu. Sehingga mendorong terjadinya

2 keberadaannya, secara umum Public Relations adalah semua bentuk komunikasi yang terencana, baik itu kedalam maupun keluar, antara suatu organisasi d

BAB I PENDAHULUAN. yaitu mendefinisikan masalah atau peluang, merencanakan, mengkomunikasikan dan mengevaluasi dalam kegiatan-kegiatan humas.

BAB 1 PENDAHULUAN. organisasi, sehingga peran dan fungsinya semakin maksimal. perusahaan salah satunya melalui kegiatan media relations.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. media. Media itu sendiri sebagai alat humas yang berguna dalam

BAB IV ANALISIS DATA. A. Temuan Penelitian Dalam penelitian kualitatif analisis data merupakan tahap yang

VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

KARAKTERISTIK, TUGAS, JENIS PEKERJAAN, PERANAN, RUANG LINGKUP, & fungsi PUBLIC RELATIONS. Kuliah ke-3.

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya komunikasi adalah unsur pokok dalam suatu organisasi karena

PERENCANAAN KINERJA BAB. A. Instrumen untuk mendukung pengelolaan kinerja

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

Studi Deskriptif Tentang Kegiatan Humas Pemerintah Terhadap Citra Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Setiap Instansi Pemerintah Daerah memiliki bagian Humas. Baik itu yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. di Inggris dan mulai sangat populer hingga dekade ke 20. Definisi Humas menurut Denny Griswold dalam buku Dasar- Dasar Public

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi merupakan suatu aktifitas dasar manusia, dengan

Transkripsi:

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Public Relations atau Humas secara garis besar adalah komunikator sebuah organisasi atau perusahaan, baik kepada publik internal maupun publik eksternal. Bagi sebuah organisasi, Humas sangat diperlukan untuk menjalin hubungan melalui komunikasi dengan para stakeholder-nya ataupun untuk mengkomunikasikan visi, misi, tujuan, dan program organisasi kepada publik. Kedudukan Humas adalah menilai sikap publik agar tercipta keserasian antara publik dan kebijakan organisasi. Karena mulai dari aktivitas, program Humas, tujuan, dan sasaran yang hendak dicapai oleh organisasi tersebut tidak terlepas dari dukungan dan kepercayaan dari publiknya. Aktivitas utama Humas yakni mendapat kesan positif dari publik, menciptakan dan membangun citra organisasi, mendukung berbagai acara spesial, berdiskusi dengan pakar politik dan sosial, serta memberi masukan kepada manajemen dalam hal mencapai tujuan perusahaan yakni mendapatkan citra positif organisasi di mata publik. Fungsi Humas dalam menyelenggarakan komunikasi timbal balik dua arah antara organisasi yang diwakilinya dengan publik sebagai sasaran pada akhirnya dapat menentukan sukses atau tidaknya tujuan dari citra yang hendak dicapai oleh organisasi bersangkutan. Hal ini berarti Humas sangat dibutuhkan untuk menciptakan reputasi yang baik bagi organisasi dan membuat masyarakat berpikir lebih baik tentang organisasi yang diwakilinya. Bagian Humas instansi dinas pemerintah dibentuk untuk menjadi jembatan komunikasi agar pemerintah dapat melaksanakan penyampaian informasi pembangunan, penjelasan mengenai kebijaksanaan atau tindakantindakan tertentu serta kegiatan-kegiatan dalam melaksanakan kewajiban atau tugas dinas kepemerintahan. Dengan kata lain, Humas mempublikasikan atau mempromosikan kebijaksanaan-kebijaksanaan mereka. Memberi informasi 1

2 secara teratur tentang kebijakan, rencana dan hasil kerja institusi serta memberi pengertian kepada masyarakat tentang peraturan dan perundang-undangan dan segala sesuatunya yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Selain keluar, humas pemerintah juga memberi masukan dan saran bagi manajemen tentang segala informasi yang diperlukan serta reaksi atau kemungkinan reaksi masyarakat akan kebijakan institusi, baik yang sedang dilaksanakan, akan dilaksanakan ataupun sedang diusulkan. Menurut Ruslan (2012, p.109), tugas pokok dan kewajban Humas/PR adalah bertindak sebagai komunikator (narasumber) untuk membantu keberhasilan dalam melaksanakan program pembangunan pemerintah (back up the government work program supporting), memiliki kemampuan membangun hubungan yang positif (good relationship), konsep kerja yang terencana baik (work program concept), hingga mampu menciptakan citra baik bagi lembaga yang diwakilinya, serta membangun opini publik yang positif (good image maker and positif of public opinion). Secara garis besar, Humas instansi pemerintah memiliki peran ganda. Fungsi keluar adalah berupaya memberikan informasi atau pesan-pesan sesuai kepentingan masyarakat sebagai khalayak sasaran. Fungsi kedalam adalah pihak humas wajib menyerap aspirasi atau keinginan publik/masyarakat yang diselaraskan dengan kepentingan bagi instansinya demi tercapainya tujuan bersama. Oleh karena itu fungsi Humas sangat dibutuhkan dalam institusi pemerintahan, yakni terbentuknya pehaman bersama antara institusi pemerintahan dengan masyarakat. Era reformasi yang menuntut segala sesuatunya serba transparan, berdampak pada keingintahuan masyarakat sebagai publik pemerintah, yakni keingintahuan akan berbagai informasi yang berkenaan dengan penyelenggaraaan pemerintah dan pembangunan. Dimana pemerintah dituntut menyediakan informasi dan mengkomunikasikannya atau mensosialisasikannya sesuai dengan keinginan masyarakat, karena pada dasarnya pemerintah adalah pelayan masyarakat yang harus memberikan pelayanan dan pengabdian terhadap masyarakat. Memberikan pelayanan terhadap masyarakat merupakan tugas utama dari pemerintah. Pelayanan yang diberikan harus di lakukan sebaik

3 mungkin sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara pemerintah dan masyarakat. Disinilah diperlukan peran Humas pemerintah dalam mensosialisasikan kebijakan tersebut kepada masyarakat. Karena kualitas layanan sangat mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap kredibilitas pemerintahnya. Menurut Jebarus dan Basya (2013, p.15), saat ini praktisi Humas menghadapi sebuah situasi yang cukup kompleks. Globalisasi yang dipicu perkembangan teknologi komunikasi telah membawa Indonesia menjadi sebuah negara yang semakin pesat dalam aktivitas perekonomiannya. Sementara itu, pada saat bersamaan pula, reformasi politik yang merupakan sebuah pengalaman baru bagi masyarakat (pasca rezim Soeharto), telah melahirkan sebuah komponen publik yang semakin terbuka, demokratis, dengan pers yang semakin bebas dan kritis. Konsekuensinya, para praktisi Humas akan menghadapi komponen stakeholders yang dilandasi oleh suasana yang sangat demokratis, bebas bahkan mungkin sangat rewel. Stakeholders itu tidak hanya bersedia untuk sepakat dengan berbagai kebijakan organisasi atau perusahaan, tapi sebaliknya, mereka berupaya untuk mempertanyakan, sembari menuntut agar Humas memberikan informasi yang jelas, tepat, dan terbuka kepada publik. Situasi tersebut menuntut Humas institusi pemerintahan tidak hanya sebagai jembatan komunikasi agar pemerintah dapat melaksanakan penyampaian informasi mengenai penyelenggaraan pemerintahan kepada publiknya, tetapi juga sebagai pihak yang melaksanakan komunikasi persuasif guna terpeliharanya keserasian antara organisasi dengan masyarakat. Komunikasi persuasif tersebut didasarkan atas strategi dan teknik berinteraksi yang mengarah pada terciptanya suatu keadaan yang harmonis diantara kedua pihak. Menurut Suhandang (2012, p.54), dalam masyarakat demokratis, usaha untuk mempengaruhi sikap, sifat, dan pendapat, hanyalah bisa dilakukan melalui persuasi (bujukan atau ajakan). Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) merupakan pelaksana pemerintah di bidang Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dipimpin oleh Menteri Negara Pembangunan

4 Daerah Tertinggal yang berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Presiden. KPDT mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang pembangunan daerah tertinggal dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara, khususnya dengan lokus kabupaten daerah tertinggal. Daerah tertinggal adalah daerah kabupaten yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional. Kesenjangan antar wilayah dan ketertinggalan daerah masih menjadi masalah Bangsa Indonesia hingga saat ini yang harus diatasi sebagai upaya mencapai tujuan pembangunan nasional. Setiap kegiatan yang dilakukan oleh KPDT tidak terlepas dari peran Humas sebagai jembatan komunikasi di antara instansi dan masyarakat. Sesuai dengan indikator kinerja humas, yakni laporan hasil ketersediaan informasi dan publikasi KPDT dalam rangka percepatan pembangunan daerah tertinggal, dan jumlah publikasi dan informasi daerah tertinggal dalam rangka mengangkat atau mempublikasikan daerah tertinggal, salah satunya melalui kegiatan expo. Guna mendukung upaya program percepatan pembangunan daerah tertinggal, KPDT melakukan kegiatan expo. Dimana kegiatan tersebut merupakan salah satu kegiatan utama organisasi yang tidak terlepas dari peran Humas. KPDT Expo sendiri merupakan sebuah gelaran yang bertujuan untuk memamerkan kepada khalayak ramai tentang potensi unggulan daerah tertinggal. Kegiatan tersebut dikemas dalam sebuah pameran potensi unggulan daerah baik di bidang seni, pariwisata, produk unggulan lokal, dan potensi sumberdaya lainnya. EXPO yang dilaksanakan pada tanggal 14-17 April 2013 bertempat di Pesisir Selatan, Sumatera Barat, kawasan wisata Pantai Carocok Painan, dengan tema yang diangkat adalah Pagelaran dan Apresiasi Seni Budaya dan Potensi Daerah Tertinggal dan judul kegiatan Bangkitlah Daerahku, Bangkitlah Bangsaku!. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong kabupaten yang berstatus Daerah Tertinggal untuk mempromosikan potensi daerahnya kepada masyarakat yang sejalan dengan program unggulan yang diluncurkan oleh Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal, yaitu Produk Unggulan Kabupaten (Prukab).

5 Adapun tujuan diadakannya kegiatan ini lebih ditekankan pada aspek promosi dan investasi. Pesisir Selatan yang merupakan tuan rumah pelaksanaan expo, menurut Menteri PDT, Helmy faisal Zaini, bahwa kabupaten Pesisir Selatan memiliki potensi yang sangat besar. Dimana potensi itu merupakan kekuatan yang harus dikembangkan kedepannya untuk mengatasi berbagai permasalahan menyangkut daerah tertinggal. Jika dikelola dengan baik dan profesional, Pesisir Selatan dapat menjadi tujuan wisata kelas dunia, sejajar dengan daerah lain yang sudah terkenal sektor pariwisatanya. Oleh karena itu, KPDT membantu dalam pengembangan infrastruktur dan mempromosikan wisata Pesisir Selatan melalui publikasi kegiatan Expo Pesisir Selatan (Sumber Berita: m.antarasumbar.com, 15 April 2013). Dalam hal ini, Humas KPDT tidak hanya bertugas menginformasikan mengenai kebijakan dan kinerja organisasi saja, tetapi juga berusaha mendapatkan pemahaman dari masyarakat mengenai kegiatan apa yang telah dilakukan organisasi, sehingga tujuan dari kegiatan tersebut yakni promosi dan investasi dapat tercapai. Dengan tercapainya tujuan dari kegiatan tersebut, hal ini berarti sebagian tujuan KPDT, yakni meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan daya saing pemanfaatan potensi dan sumber daya sehingga terhasilkan produk unggulan daerah tertinggal, serta meningkatkan jumlah dan daerah investasi pada daerah tertinggal dalam suatu keseimbangan wilayah dan iklim investasi yang kondusif sehingga tercipta penyerapan tenaga kerja pun tercapai. Untuk mencapai tujuan dari KPDT Expo, Humas KPDT harus melaksanakan komunikasi persuasif, salah satunya dengan teknik presentasi persuasif. Karena dengan presentasi persuasif, KPDT dapat mengkomunikasikan, meyakinkan, membujuk, mengajak, dan mengubah opini serta sikap masyarakat mengenai kegiatan expo sebagai salah satu penyelenggaraan pemerintahan KPDT. Presentasi yang bersifat persuasif dibutuhkan ketika Humas KPDT ingin mengkomunikasikan mengenai kegiatan KPDT Expo tersebut kepada target audiensnya, khususnya masyarakat setempat di Pesisir Selatan. Pada dasarnya,

6 kegiatan apresiasi seni budaya dan potensi daerah tertinggal yang menjadi event tahunan KPDT ini memiliki fungsi untuk membesarkan dampak publikasi kepada masyarakat dalam mempromosikan potensi daerah tertinggal. Presentasi persuasif diperlukan agar terpelihara dan terbentuknya saling pengertian (aspek kognisi), menjaga dan membentuk saling percaya (aspek afeksi), dan memelihara serta menciptakan kerja sama (aspek psikomotoris) antara KPDT dan masyarakat yang menjadi target dari kegiatan KPDT Expo Pesisir Selatan 2013. Setelah diadakan kegiatan expo, hingga saat ini, kawasan wisata Pantai Carocok Painan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat mengalami kemajuan di bidang ekonomi dan pariwisata. Hal ini ditunjukkan dengan dibangunnya hotel di kawasan tersebut, dan semakin ramainya turis yang berkunjung. Menurut Bupati, saat ini rata-rata tingkat kunjungan wisata ke Pessel mencapai 10 ribu orang dalam sepekan. Puncak kunjungan itu terjadi pada hari-hari libur, termasuk juga Sabtu dan Minggu (Sumber Berita: www.swarakalibata.com, 8 Februari 2014). Dengan demikian, membuktikan bahwa presentasi yang dilaksanakan Humas KPDT berhasil sehingga tujuan dari kegiatan expo pun tercapai. Mengingat begitu penting presentasi persuasif sehingga tercapainya tujuan expo yang manggambarkan keprofesionalan image KPDT, maka penelitian ini bermaksud untuk mengetahui mengenai strategi presentasi persuasif yang dilakukan Humas KPDT. Berdasarkan pemaparan di atas, penelitian ini berjudul Presentasi Persuasif Dalam Rangka Keprofesionalan Image Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT). Studi Kasus Pada Kegiatan Expo Pesisir Selatan 2013 oleh Humas KPDT Kepada Masyarakat Lokal di Pesisir Selatan, Sumatera Barat. 1.2 Fokus Penelitian Fokus Penelitian dari penulisan ini adalah mengetahui bagaimana Strategi Presentasi Persuasif Dalam Rangka Keprofesionalan Image Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal Kepada Masyarakat Lokal di Pesisir Selatan dalam kegiatan Expo Pesisir Selatan 2013.

7 1.3 Pertanyaan Penelitian Berdasarkan fokus penelitian tersebut, maka pertanyaan penelitian adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana strategi presentasi persuasif dalam rangka keprofesionalan image Humas Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) yang dilakukan Humas KPDT kepada masyarakat lokal Pesisir Selatan pada kegiatan Expo Pesisir Selatan 2013? 2. Apakah hambatan-hambatan yang terjadi dalam melakukan kegiatan presentasi persuasif dalam rangka keprofesionalan image KPDT kepada masyarakat pada kegiatan Expo di Pesisir Selatan? 3. Apakah upaya yang dilakukan oleh Humas Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) dalam menanggulangi hambatan tersebut? 1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4.1 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan : 1) Untuk mengetahui strategi presentasi persuasif dalam rangka keprofesionalan image Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) yang dilakukan Humas KPDT kepada masyarakat Pesisir Selatan pada kegiatan Expo di Pesisir Selatan 2013. 2) Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang ditemukan selama melakukan kegiatan komunikasi persuasif. 3) Untuk mengetahui upaya apa yang dilakukan guna menanggulangi hambatan komunikasi Humas Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT). 1.4.2 Manfaat Penelitian Penulis berharap agar penulisan ini dapat bermanfaat untuk : 1) Secara Akademis Penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan bagi program studi marketing communication khususnya dalam dunia Public Relations,

8 dan dapat membantu pembaca lain apabila ingin melakukan penelitian serupa atau sebagai bahan referensi dalam rangka pengembangan penelitian sejenis. 2) Secara Praktis Penelitian ini diharapkan bisa menjadi masukan bagi Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT), serta untuk mengetahui benar bagaimana strategi Humas/PR dalam melakukan kegiatan presentasi persuasif yang sesungguhnya. 3) Bagi Masyarakat Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi masyarakat umum yang ingin memahami tentang peran humas dalam melakukan presentasi persuasif. 1.5 Sistematika Penulisan Bab I Pendahuluan Meliputi latar belakang masalah, ruang lingkup, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi dan sistematika penulisan. Bab II Kajian Pustaka Dalam bab ini akan dijelaskan teori-teori yang berkaitan dengan konsep presentasi persuasif dan hubungannya dengan public relations diantaranya: pengertian komunikasi persuasif, presentasi persuasif dan strategi persuasif, pengertian public relations, pengertian Humas Pemerintahan, strategi Humas, professional image, dan publik eksternal. Bab III Metode Penelitian Berisi metodologi penelitian yang meliputi teknik pengumpulan data, uji keabsahan data, teknik penentuan informan dan teknik analisis data. Bab IV Hasil Penelitian Pada bab ini, penulis akan menguraikan hasil penelitian dari pelaksanaan, penyajian dan analisis data hingga pembahasan.

9 Bab V Penutup Pada bab ini, penulis akan memberi simpulan dan saran yang didasarkan pada hasil penelitian ini.

10