BAB 3 DESKRIPSI KASUS

dokumen-dokumen yang mirip
Sensitivity Analysis Struktur Anjungan Lepas Pantai Terhadap Penurunan Dasar Laut BAB 1 PENDAHULUAN

5 Pemodelan Struktur

BAB 4 STUDI KASUS 4.1 UMUM

BAB 5 ANALISIS HASIL

3 Kriteria Desain dan Pemodelan

6 Analisa Seismik. 6.1 Definisi. Bab

1 Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang. Bab 1

SENSITIVITY ANALYSIS STRUKTUR ANJUNGAN LEPAS PANTAI TERHADAP PENURUNAN DASAR LAUT

4 Dasar untuk Analisis Struktur

Kajian Buoyancy Tank Untuk Stabilitas Fixed Offshore Structure Sebagai Antisipasi Penambahan Beban Akibat Deck Extension

Susunan Lengkap Laporan Perancangan

Sensitivity Analysis Struktur Anjungan Lepas Pantai Terhadap Penurunan Dasar Laut BAB 4 PEMODELAN

5 Analisis Seismic BAB 5

4 Analisis Inplace BAB Kombinasi Pembebanan (Load Combination)

PERENCANAAN FIXED TRIPOD STEEL STRUCTURE JACKET PADA LINGKUNGAN MONSOON EKSTRIM

IMADUDDIN ABIL FADA JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2010

PERHITUNGAN GAYA LATERAL DAN MOMEN YANG BEKERJA PADA JACKET PLATFORM TERHADAP GELOMBANG AIRY DAN GELOMBANG STOKES

6 Analisis Fatigue BAB Parameter Analisis Fatigue Kurva S-N

Analisa Kekuatan Ultimate Struktur Jacket Wellhead Tripod Platform akibat Penambahan Conductor dan Deck Extension

Perancangan Dermaga Pelabuhan

Perancangan Struktur Jacket dantopside Anjungan Lepas Pantai Ditinjau dari Analisis Inplace

3.3. BATASAN MASALAH 3.4. TAHAPAN PELAKSANAAN Tahap Permodelan Komputer

5 Analisa Fatigue. 5.1 Definisi. wave cinematic factor 1,0 dan conductor shielding factor 1,0 untuk gelombang fatigue. Nilai. Bab

Analisis Dampak Scouring Pada Integritas Jacket Structure dengan Pendekatan Statis Berbasis Keandalan

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

BAB III METODE ANALISIS

Analisis Struktur Dermaga Deck on Pile Terminal Peti Kemas Kalibaru 1A Pelabuhan Tanjung Priok

Bab IV Studi Kasus dan Analisis

ANALISA KEKUATAN ULTIMAT PADA KONSTRUKSI DECK JACKET PLATFORM AKIBAT SLAMMING BEBAN SLAMMING GELOMBANG

BAB 4 STUDI KASUS. Sandi Nurjaman ( ) 4-1 Delta R Putra ( )

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Analisa Riser Protection pada Fixed Jacket Platform Akibat Beban Tubrukan Kapal

BAB I PENDAHULUAN. Abstrak

DESAIN DAN ANALISA STRUKTUR YOKE MOORING TOWER UNTUK FLOATING STORAGE OFFLOADING (FSO)

BAB III PEMODELAN STRUKTUR

Kajian Buoyancy Tank Untuk Stabilitas Fixed Offshore Structure Tipe Tripod Platform saat Kinerja Pondasi Pile Menurun

ANALISA STOKASTIK BEBAN-BEBAN ULTIMATE PADA SISTEM TAMBAT FPSO SEVAN STABILIZED PLATFORM

RESPONS DINAMIK JACKET STEEL PLATFORM AKIBAT GELOMBANG LAUT DENGAN RIWAYAT WAKTU

3 Pembebanan dan Pemodelan Struktur

2 Anjungan Lepas Pantai

DAFTAR ISTILAH. xxiii

BAB IV DATA SISTEM PERPIPAAN HANGTUAH

KONSEP PERENCANAAN STRUKTUR BAJA WEEK 2

EVALUASI KINERJA INELASTIK STRUKTUR RANGKA BETON BERTULANG TERHADAP GEMPA DUA ARAH TUGAS AKHIR PESSY JUWITA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Jurusan Teknik Kelautan FTK ITS

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

Perhitungan Struktur Bab IV

BAB 2 DASAR TEORI Dasar Perencanaan Jenis Pembebanan

Nama : Mohammad Zahid Alim Al Hasyimi NRP : Dosen Konsultasi : Ir. Djoko Irawan, MS. Dr. Ir. Djoko Untung. Tugas Akhir

BAB IV LANGKAH PEMODELAN DI SACS. Gambar Tampilan awal SACS dan new model options

Manual SACS - Properti

Jurnal Teknik Perkapalan - Vol. 4, No. 3 Juli

Gambar 5.83 Pemodelan beban hidup pada SAP 2000

DAFTAR ISI. Halaman Judul Pengesahan Persetujuan Surat Pernyataan Kata Pengantar DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR NOTASI DAFTAR LAMPIRAN

BAB 4 ANALISA DAN PENGOLAHAN DATA

ANALISIS PILE DRIVABILITY STRUKTUR JACKET PLATFORM 3 KAKI

Soal :Stabilitas Benda Terapung

2 Pengenalan Bangunan Lepas Pantai

ANALISA KONFIGURASI PIPA BAWAH LAUT PADA ANOA EKSPANSION TEE

ANALISIS PENGARUH MARINE GROWTH TERHADAP INTEGRITAS JACKET STRUCTURE Anom Wijaya Daru 1, Murdjito 2, Handayanu 3

ANALISIS NON-LINIER PERKUATAN ANJUNGAN LEPAS PANTAI DENGAN METODE GROUTING PADA JOINT LEG YANG KOROSI

BAB 2 DASAR TEORI. Bab 2 Dasar Teori. TUGAS AKHIR Perencanaan Struktur Show Room 2 Lantai Dasar Perencanaan

ABOVE WATER TIE IN DAN ANALISIS GLOBAL BUCKLING PADA PIPA BAWAH LAUT

BAB III LANDASAN TEORI. Bangunan Gedung SNI pasal

ANALISIS PERBANDINGAN PERILAKU STRUKTUR JEMBATAN CABLE STAYEDTIPE FAN DAN TIPE RADIALAKIBAT BEBAN GEMPA

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Umum

BAB 5 ANALISIS Elemen yang Tidak Memenuhi Persyaratan Kekuatan API RP 2A WSD

ABSTRAK. Kata Kunci : Gedung Parkir, Struktur Baja, Dek Baja Gelombang

KAJIAN KEKUATAN KOLOM-PONTON SEMISUBMERSIBLE DENGAN KONFIGURASI DELAPAN KOLOM BERPENAMPANG PERSEGI EMPAT AKIBAT EKSITASI GELOMBANG

2.1 Pengkajian Ulang Struktur Anjungan Lepas Pantai

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

STUDY PEMODELAN STRUKTUR SUBMERGED FLOATING TUNNEL

Analisa Pemasangan Ekspansi Loop Akibat Terjadinya Upheaval Buckling pada Onshore Pipeline

BAB IV ALTERNATIF PEMILIHAN BENTUK SALURAN PINTU AIR

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RUSUNAWA UNIMUS

PERANCANGAN STRUKTUR LEPAS PANTAI DINAMIS (TRB III) - MO091320

Analisa Kegagalan Crane Pedestal Akibat Beban Ledakan

BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN

Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang

DAFTAR NOTASI. A cp. = Luas yang dibatasi oleh keliling luar penampang beton, mm² = Luas efektif bidang geser dalam hubungan balokkolom

STUCTURE STRENGTH ANALYSIS CONVENTIONAL PILE FIXED JACKET PLATFORM IN NATUNA SEA USING FINITE ELEMENT METHOD

1. Bagaimana cara melakukan perancangan fixed platform dengan bracing yang berbeda?

BAB III PEMODELAN DAN ANALISIS STRUKTUR

BANGUNAN LEPAS PANTAI

BAB VIII PENUTUP Kesimpulan

ANALISIS DAN DESAIN STRUKTUR BAGIAN BAWAH DERMAGA PONTON DI BABO PAPUA BARAT

Kehandalan Kriteria Desain Anjungan Lepas Pantai Studi Kasus Jacket 4 Kaki berdasarkan Analisis In-Place Metode API RP2A WSD dan LRFD

PRESENTASI TUGAS AKHIR (P3)

Judul: Masca Indra Triana

Laporan Tugas Akhir (KL-40Z0) Desain Dermaga General Cargo dan Trestle Tipe Deck On Pile di Pulau Kalukalukuang Provinsi Sulawesi Selatan

DESAIN STRUKTUR JEMBATAN RANGKA BAJA BENTANG 80 METER BERDASARKAN RSNI T ABSTRAK

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...

= tegangan horisontal akibat tanah dibelakang dinding = tegangan horisontal akibat tanah timbunan = tegangan horisontal akibat beban hidup = tegangan

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN

BAB 3 DATA TANAH DAN DESAIN AWAL

PERENCANAAN GEOMETRI JALAN REL KERETA API TRASE KOTA PINANG- MENGGALA STA STA PADA RUAS RANTAU PRAPAT DURI II PROVINSI RIAU

PERENCANAAN STRUKTUR RANGKA BAJA BERATURAN TAHAN GEMPA BERDASARKAN SNI DAN FEMA 450

Transkripsi:

BAB 3 DESKRIPSI KASUS 3.1 UMUM Anjungan lepas pantai yang ditinjau berada di Laut Jawa, daerah Kepulauan Seribu, yang terletak di sebelah Utara kota Jakarta. Kedalaman laut rata-rata adalah 89 ft. Anjungan lepas pantai ini dibangun untuk mengembangkan kawasan Kepulauan Seribu yang mengandung sumber minyak dan gas. Konsep anjungan lepas pantai yang ditinjau adalah platform tetap (fixed platform). Platform ini akan dianalisis sensitivitasnya terhadap perubahan ketinggian muka air laut yang dinaikkan tiap 1.5 meter (5 ft) hingga mencapai 6 meter (20 ft). 3.2 DESKRIPSI PLATFORM Platform yang dianalisis merupakan fixed platform dengan 4 (empat) kaki baja tubular dimana kedua kaki lurus vertikal, sedangkan kedua kaki lainnya miring. Ketinggian platform dari dasar laut sekitar 106 kaki dengan penetrasi pile dari mudline sekitar 5 kaki. Platform North yaitu arah Utara sumbu utama platform adalah 45 Barat dari True North. Konfigurasi platform secara umum terdiri dari jacket, pile, dek dan appartenances. 3.2.1 Jacket dan Pile Jacket platform ini mempunyai 4 (empat) kaki baja tubular. Keempat leg (kaki) membentuk persegi panjang dengan jarak horizontal 51.25 kaki dan 53.625 kaki. Kaki jacket memiliki ukuran 34 OD x 0.5 WT. Di dalamnya terdapat conductor yang dipancang atau dipenetrasi sampai pada kedalaman 5 kaki dari mudline. Sambungan antarkaki vertikal jacket menggunakan joint can berupa baja tubular dengan ukuran 34 OD x 1.0 WT. 3-1

Kaki jacket memiliki tiga penahan lateral (horizontal framing) yaitu pada elevasi (+)10 ft, (-)24 ft, dan (-)64 ft. Selain itu, juga terdapat penahan lateral pada elevasi mudline, yaitu (-)89 ft. Pada elevasi (+)10 ft hingga (-)64 ft terdapat single bracing pada setiap segmennya. Antara elevasi (-)64 ft dan (-)89 ft terdapat v- bracing dengan ukuran 14 OD x 0.375 WT. Pada beberapa titik sambung member, beberapa titik kerja (working point) member tidak bertemu pada satu titik sehingga diperlukan pergeseran (offset) titik kerja member-member tertentu. 3.2.2 Dek Dek berada pada elevasi (+)15 ft. Dek ditopang oleh 4 (empat) deck support yang menumpu pada horizontal framing pada elevasi (+)12 ft. Jarak antar deck support adalah 24.75 ft dan 40.375 ft. Deck support menopang 4 (empat) frame utama dek yang berbentuk profil IWF. 3.2.3 Appartenances Komponen struktural lain yang terdapat pada platform ini adalah conductor, bumpers, dan boat landing. Platform didesain untuk dapat mengakomodasi sebanyak 8 (delapan) conductor dengan rincian sebagai berikut: 4 30 conductor yang digunakan sebagai kaki platform, pile dan well conductor. 4 30 conductor yang berada di bagian kanan tengah platform sebagai well conductor. Selain conductor, platform juga didesain untuk mengakomodasi appartenances berikut: Bumpers merupakan pipa yang dipasang dalam kelengkungan tertentu untuk menyalurkan minyak dan gas dari platform menuju kapal produksi (production 3-2

barge). Bumpers juga menyalurkan gaya horizontal ke struktur platform yang diakibatkan adanya pergerakan dari kapal produksi dan gaya vertikal akibat beban gravitasi. Komponen lain yang terdapat di platform yaitu boat landing. Boat landing ini didesain dengan sederhana hanya berupa tangga akses dari muka air laut menuju dek. Boat landing berada pada bagian barat platform. Beban impak yang terjadi antara kapal yang merapat dengan kapal yang merapat dengan platform di sekitar boat landing perlu diperhitungkan. 3.3 PARAMETER DESAIN Parameter desain yang digunakan dalam analisis berikut adalah berdasarkan data hasil pengukuran lapangan dan peraturan API RP2A edisi 21 (WSD). 3.3.1 Usia Layan Platform ini didesain dengan usia layan 60 tahun. Apabila usia layannya terlampaui dan platform masih dapat digunakan, dapat dilakukan rekualifikasi untuk menilai kelayakan platform untuk diperpanjang masa pakainya. 3.3.2 Kedalaman Air Data kedalaman air yang digunakan dalam analisis in-place, fatigue, dan seismik disajikan dalam tabel berikut: Tabel 3.1 Kedalaman Air Operasi Ektrem Fatigue/ seismik Max Min Max Min Permukaan Laut Rata-rata, (ft) 89 89 89 89 89 HAT, (ft) 3.8 0 3.8 0 0 LAT, (ft) 0-1.9 0-1.9 0 Badai, (ft) 0.5 0 0.8 0 0 Kedalaman Air, (ft) 93.3 87.1 93.3 87.1 89 3-3

3.3.3 Gelombang Gelombang air laut terjadi pada bagian permukaan air laut akibat adanya pergerakan angin. Gelombang harus diperhitungkan untuk berbagai kemungkinan arah yang terjadi. Data gelombang untuk analisis in-place disajikan sebagai berikut: Tabel 3.2 Data Gelombang In-place Kondisi Operasional Ekstrem (1 tahun) (1 tahun) Tinggi Maksimum (ft) 16.7 28.3 Periode Maksimum (s) 7.1 9.4 Untuk analisis fatigue, Jonswap wave spectrum akan digunakan untuk mengolah data gelombang yang ada. 3.3.4 Arus Arus merupakan pergerakan air laut di bawah permukaan air laut. Data arus berupa kecepatan arus pada beberapa kedalaman air disajikan sebagai berikut: Tabel 3.3 Data Arus Percent of Depth Below Water Surface (%) Return Per. 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 1 year 0.8 1.2 1.4 1.6 1.8 2.0 2.2 2.4 2.6 2.8 3.0 100 year 1.0 1.7 2.0 2.2 2.4 2.6 2.9 3.2 3.4 3.7 4.0 3.3.5 Wave Kinematic Factor dan Current Blockage Factor Berdasarkan Design Basis digunakan Wave Kinematic Factor 1.0 dan Current Blockage Factor 1.0 untuk semua analisis. 3.3.6 Koefisien Seret (Cd) dan Koefisien Inersia (Cm) Nilai Koefisien Seret (Cd) dan Koefisien Inersia (Cm) yang digunakan adalah berdasarkan API RP2A edisi 21 (WSD). Untuk memperhitungkan adanya anode 3-4

pada member maka nilai Cd dan Cm dapar dinaikkan sebesar 5%. Nilai dasar Cd dan Cm disajikan sebagai berikut: Tabel 3.4 Koefisien Seret (Cd) dan Koefisien Inersia (Cm) Cd Cm Smooth 0.65 1.6 Analisis In-place Rough 1.05 1.2 Analisis Fatigue 0.70 2.0 3.3.7 Pertumbuhan Biota Laut (Marine Growth) Marine Growth diterapkan pada member yang berada di bawah muka air laut. Profil Marine Growth diterapkan dengan ketebalan 1.8 dan kerapatan sebesar 77.00 kips/ft 3. 3.3.8 Angin Data angin berupa kecepatan angin disajikan sebagai berikut: Tabel 3.5 Data Angin Kondisi Operasional Ekstrem U 1 min (mph) 38 63 3.3.9 Jarak Bebas (Air Gap) Diperlukan adanya jarak bebas (air gap) antara tepi paling bawah dek dan puncak gelombang pada kondisi ekstrem sebesar minimum 5 ft. 3.3.10 Peak Ground Acceleration (PGA) Analisis seismik menggunakan data percepatan tanah maksimum sebagai berikut: 3-5

Tabel 3.6 Peak Ground Acceleration Kondisi PGA (g) Strength Level (periode ulang 100 tahun) 0.172 Ductility Level (periode ulang 800 tahun) 0.243 Peak Ground Acceleration dikombinasikan dengan Spektrum Standar Kurva C yang sesuai dengan API RP2A, edisi 21 (WSD). 3.3.11 Data Tanah Data karakteristik tanah yang untuk analisis pile berupa data aksial T-Z, data End Bearing T-Z, dan data lateral P-Y. Data Aksial T-Z merupakan data yang menunjukkan hubungan antara tegangan aksial dan kedalaman penetrasi. Data End Bearing T-Z merupakan data yang menunjukkan pergerakan ujung tiang pancang. Data Lateral P-Y merupakan data yang menunjukkan hubungan antara tegangan lateral dan defleksi lateral. 3.3.12 Data Kejadian Gelombang Data kejadian gelombang untuk analisis fatigue disajikan sebagai berikut: Tabel 3.7 Data Kejadian Gelombang Wave Height (H) (Ft) Wave Period (T) (Ft) Reported Range Mean Value Reported Value Selected Value 0-3.9 2.0 4.6 4.6 4-7.9 6.0 6.4 6.4 8-11.9 10.0 6.8 6.8 12-15.9 14.0 7.3 7.3 16-19.9 18.0 7.7 7.7 20-23.9 22.0 7.9 7.9 3.3.13 Material Baja tubular berstandar ukuran pipa digunakan untuk pipa dengan ukuran lebih kecil atau sama dengan 18 diameter. Material ini diambil berdasarkan antara ASTM A53 atau API 5L Grade B (Fy = 35 ksi). Baja tubular yang berdiameter 3-6

lebih besar, difabrikasi menggunakan ASTM A36 material (Fy = 36 ksi) berdasarkan API Spec. 2B. 3.4 PEMBEBANAN Platform menerima berbagai macam kondisi pembebanan seperti berat sendiri, beban mati, beban hidup, dan beban lingkungan. Data pembebanan diambil dari gambar struktural platform, parameter desain yang terdapat dalam Design Basis Report dan Laporan Kondisi Lingkungan yang dibuat oleh WNI Oceanographers & Meteorologists. Data pembebanan tersedia untuk kondisi operasional (1 tahun) dan kondisi ekstrem (100 tahun). 3.4.1 Beban Mati Beban mati merupakan beban yang keberadaannya di platform bersifat permanen dan akan ada pada semua kondisi pembebanan. Pada platform ini, yang termasuk beban mati adalah berat sendiri struktur, beban dek, dan beban tambahan (miscellaneous). 3.4.1.1 Berat Sendiri Struktur Berat ini diperhitungkan secara otomatis oleh SACS dengan memasukkan input yang diminta. Beberapa input data untuk perhitungan berat sendiri model struktur diantaranya: Berat jenis baja, sebesar 7850 kg/m 3. Berat jenis air laut, sebesar 1025 kg/m 3 pada kondisi standar. Keterangan flooded atau non flooded. Flooded berarti bahwa ruang kosong pada member tubular dianggap terisi oleh air laut. Non-flooded berarti bahwa ruang kosong pada member tubular kosong dan hanya berisi udara. Member yang non-flooded apabila berada di bawah muka air 3-7

laut akan memberikan gaya apung ke atas (buoyancy). Besarnya berbanding lurus dengan volume dari ruang kosong member. SACS hanya akan menghitung berat sendiri struktur yang dimodelkan, sedangkan pada pemodelan biasanya hanya struktur utama daja yang dimodelkan. Membermember kecil kadang-kadang tidak dimodelkan langsung tetapi keberadaannya tetap diperhitungkan melalui perkalian dengan faktor pembebanan tertentu atau dijadikan sebagai beban. Faktor desain yang digunakan sebagai bentuk antisipasi terhadap member yang tidak dimodelkan langsung adalah terhadap ketepatan item. Faktor penambahannya sebesar 5%. Dengan demikian: Total untuk topsides : 1 + 0.05 = 1.05 Total untuk struktur : 1 + 0.05 = 1.30 Faktor pembebanan tersebut diterapkan pada jacket dan beban mati saja. Adanya faktor ini juga meningkatkan gaya apung sehingga perlu adanya penyesuaian besarnya kerapatan air (water density). Nilai kerapatan air yang digunakan adalah mengambil keadaan nominal sebagai berikut: Kerapatan air untuk berat struktur nominal: 1.025 / 1.00 = 1.025 3.4.1.2 Beban Dek Beban yang termasuk dalam beban dek adalah berat dari struktur dek dan berat dari equipment yang ada di atas dek. Seluruh beban dek dikategorikan ke dalam beban mati karena platform ini termasuk sederhana sehingga semua equipment di atas dek dianggap statis dan tidak ada beban hidup yang signifikan bergerak di atas dek. 3-8

Sesuai Design Basis, berat dek didesain tidak boleh melebihi 80 ton. Berdasarkan perhitungan otomatis SACS, berat sendiri dek yang dimodelkan adalah sebesar 300 lb/ft 2. 3.4.2 Beban Lingkungan Beban hidup merupakan beban yang keberadaan dan besarnya dapat berubah bergantung pada kondisi yang terjadi. Pada platform ini yang termasuk beban hidup adalah beban angin, beban gelombang, dan beban arus. Karena ketidak pastian beban hidup yang cukup besar maka pada perhitungannya, beban harus diperhitungkan untuk berbagai arah dan diperhitungkan dengan faktor pengali tertentu. Analisis berikut menggunakan 8 mata angin untuk mendapatkan kondisi pembebanan yang menghasilkan kondisi paling berbahaya bagi struktur. 3.4.2.1 Beban Angin Beban angin bekerja pada bagian platform yang berada di atas permukaan air laut. Daerah yang dianggap mengalami beban angin adalah sekitar dek. Berdasarkan data parameter desain, perhitungan beban angin menggunakan data angin desain pada ketinggian 10 m di atas permukaan laut dengan pencatatan per 1 menit sebagai berikut: Tabel 3.8 Data Angin Desain Kondisi Operasional Ekstrem U 1 min (mph) 38 63 Beban angin disebabkan karena adanya tekanan angin yang bekerja pada area tertentu sehingga menghasilkan gaya angin. Area yang menjadi bidang terpa angin dihitung dengan menggunakan konsep tributary area. Sebagai input data untuk perhitungan otomatis beban angin oleh SACS, diperlukan luas proyeksi angin pada arah X dan arah Y. Untuk penyederhanaan, 3-9

tributary area arah X dan Y dianggap sama besar. Beban angin diaplikasikan sebagai beban terpusat pada titik-titik penopang dek. 3.4.2.2 Beban Gelombang dan Arus Beban gelombang dan arus merupakan beban hidup yang berasal dari pergerakan air laut. Data gelombang berupa tinggi gelombang maksimum dan periode gelombang telah diberikan pada Tabel 3.2. Data arus berupa kecepatan arus pada berbagai kedalaman telah diberikan pada Tabel 3.3. Sesuai Design Basis, besarnya Wave Kinematic Factor dan Current Blockage Factor adalah 1.0. Untuk mendapatkan kondisi pembebanan terbesar bagi platform, beban gelombang dan arus dikombinasikan ke berbagai arah. Agar mendapat nilai terbesar, beban gelombang dan beban arus selalu dibuat searah. Beban gelombang dan arus diperhitungkan pada kondisi operasional (1 tahun) dan ekstrem (100 tahun) untuk kemungkinan kedalaman air maksimum atau minimum. 3-10