BAB III TEKANAN TERHADAP LINGKUNGAN

dokumen-dokumen yang mirip
Daftar Tabel. halaman. Bab I Kondisi Lingkungan Hidup dan Kecenderungannya A. Lahan dan Hutan

BAB I. KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA

Daftar Tabel. Kualitas Air Rawa... I 28 Tabel SD-15. Kualitas Air Sumur... I 29

BUKU DATA STATUS LINGKUNGAN HIDUP KOTA SURABAYA 2012 DAFTAR TABEL

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

DAFTAR ISI. Tabel SD-1 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama Tabel SD-2 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi/Status... 1

BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB II ARAH PENGEMBANGAN SANITASI

KATA PENGANTAR. Bogor, 08 Desember 2015 Walikota Bogor, Dr. Bima Arya Sugiarto

Pengembangan Kawasan Industri Dalam Perspektif Rencana Tata Ruang Wilayah KABUPATEN GROBOGAN

BAB I KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA

BAB IV HASIL PENELITIAN

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SRAGEN TAHUN

BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

DAFTAR ISI. Kata Pengantar. Daftar Isi. Daftar Tabel. Daftar Gambar

Mata Pencaharian Penduduk Indonesia

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah

BAB II RANCANGAN PELAKSANAAN KEGIATAN PLPBK

BAB 3 TINJAUAN WILAYAH

TUJUAN DAN KEBIJAKAN. 7.1 Program Pembangunan Permukiman Infrastruktur Permukiman Perkotaan Skala Kota. No KOMPONEN STRATEGI PROGRAM

Kriteria angka kelahian adalah sebagai berikut.

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris dengan sektor pertanian sebagai sumber. penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

Jurnal Teknologi Pertambangan Volume. 1 Nomor. 1 Periode: Maret-Agustus 2015

V. GAMBARAN UMUM. Desa Lulut secara administratif terletak di Kecamatan Klapanunggal,

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso

PENDAHULUAN Latar Belakang

IKHTISAR EKSEKUTIF. Tidak tercapainya beberapa sasaran tersebut diatas disebabkan karena beberapa hal, antara lain : PROSE NTASE

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

Potensi Kota Cirebon Tahun 2010 Bidang Pertanian SKPD : DINAS KELAUTAN PERIKANAN PETERNAKAN DAN PERTANIAN KOTA CIREBON

MATRIKS ARAH KEBIJAKAN WILAYAH MALUKU

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian

H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP

1.2 Perumusan Masalah Sejalan dengan meningkatnya pertambahan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi, maka pemakaian sumberdaya air juga meningkat.

H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP

PROFIL KECAMATAN TOMONI 1. KEADAAN GEOGRAFIS

H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

DESKRIPSI PROGRAM AIR LIMBAH

BAB VI STRATEGI DAN KEBIJAKAN

RPJMD Kab. Temanggung Tahun V 29

BUPATI GROBOGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GROBOGAN NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG

Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) Kabupaten Grobogan Tahun 2015 KATA PENGANTAR

1/10 LAYANAN PERIZINAN PAKET GROBOGAN INVESTASI (LARI PAGI) BERSAMADINAS PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU KABUPATEN GROBOGAN.

RANCANGAN: PENDEKATAN SINERGI PERENCANAAN BERBASIS PRIORITAS PEMBANGUNAN PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2017

PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 KABUPATEN BONE BOLANGO NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan merupakan proses perubahan sistem yang direncanakan

PENGANTAR. Latar Belakang. Tujuan pembangunan sub sektor peternakan Jawa Tengah adalah untuk

BAB I PENDAHULUAN. peranan yang sangat penting dalam ketahanan nasional, mewujudkan ketahanan

ppbab I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN IV

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN

MATRIKS ARAH KEBIJAKAN WILAYAH PAPUA

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 KABUPATEN MAGETAN. INDIKATOR KINERJA Meningkatkan kualitas rumah ibadah dan

Pangkalanbalai, Oktober 2011 Pemerintah Kabupaten Banyuasin Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penanaman Modal

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi

PROFIL KABUPATEN / KOTA

REVISI PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2015

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) Grobogan 1-1

LAMPIRAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 8 TAHUN 2003 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2003

IV. KEADAAN UMUM 4.1. Regulasi Penataan Ruang

BAB III ANALISIS ISU STRATEGIS

BAB II PROFIL SANITASI SAAT INI

SISTEM INFORMASI PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN PANGANDARAN

BAB V SUMBER DAYA ALAM

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS TAHUN 2015

I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. Wilayah pesisir kota Bandar Lampung merupakan suatu wilayah yang mempunyai

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Bab 3 Kerangka Pengembangan Sanitasi

KATA PENGANTAR RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN PACITAN

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAGIAN ORGANISASI DAN KEPEGAWAIAN SETDA KOTA LANGSA

S A L I N A N LAMPIRAN I PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN UTARA NOMOR 21 TAHUN 2016

BAB I PENGANTAR Latar Belakang. asasi manusia, sebagaimana tersebut dalam pasal 27 UUD 1945 maupun dalam

kuantitas sungai sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan iklim komponen tersebut mengalami gangguan maka akan terjadi perubahan

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Manusia dan lingkungan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat

LAMPIRAN II HASIL ANALISIS SWOT

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PROFIL KABUPATEN / KOTA

pemerintah KABUPATEN GROBOGAN

KABUPATEN ACEH TENGAH PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016

BAB 5 RTRW KABUPATEN

I. PENDAHULUAN. kemampuan daerah tersebut dalam swasembada pangan atau paling tidak

Disajikan oleh: 1.Michael Ario, S.H. 2.Rizka Adellina, S.H. (Staf Bagian PUU II Subbagian Penataan Ruang, Biro Hukum, KemenPU)

Transkripsi:

BAB III TEKANAN TERHADAP LINGKUNGAN 3.1 KEPENDUDUKAN Perubahan penduduk baik dalam hal jumlah maupun komposisi dan penyebarannya akan mempunyai dampak yang sangat luas terhadap berbagai aspek kehidupan. Fenomena kependudukan selalu menjadi permasalahan yang pelik di berbagai wilayah di Indonesia, seperti permasalahan ketidakseimbangan penyebaran penduduk. Pulau Jawa mempunyai kepadatan paling tinggi, sedangkan di pulau-pulau lain kepadatannya masih rendah. Permasalahan seperti ini kemudian menular di beberapa wilayah yang lebih mikro seperti di tingkat kabupaten. Khususnya di Pulau Jawa pun juga terjadi permasalahan pemerataan penduduk, misalnya tingkat kepadatan penduduk di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di pedesaan yang ada di Pulau Jawa. Permasalahan penduduk akan terus-menerus seperti itu, sehingga diperlukan penanganan yang serius untuk mengatasinya, khususnya dalam hubungannya dengan dampak terhadap lingkungan. Penduduk dengan segala aktivitasnya merupakan salah satu komponen penting dalam permasalahan lingkungan karena diantara penyebab kerusakan maupun kelestariannya lingkungan bergantung pada kuantitas dan kualitas penduduk. Jumlah penduduk yang besar tanpa kualitas yang baik cenderung menjadi beban bagi lingkungan dan pembangunan. Berdasarkan hasil registrasi penduduk akhir tahun 2011 jumlah penduduk Kabupaten Grobogan sebesar 1.423.261 jiwa. Berdasarkan persebaran secara keruangan maka jumlah penduduk yang tersebar yaitu di Kecamatan Purwodadi luas daerah 77,65 km² dengan jumlah penduduk sebesar 132.175 jiwa (8,98%) dengan kepadatan penduduk sebesar 1.720 jiwa per km². jumlah penduduk terkecil berada di Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -1

Kecamatan Klambudenganjumlah penduduk 35.726 jiwa (2,48%) luas daerah 46,56 km² dengan kepadatan penduduk sebesar 767 jiwa per km². Tekanan penduduk terhadap lingkungan hidup dicerminkan dari tingkat kepadatan kependudukannya. Semakin padat penduduknya maka tekanan terhadap lingkungan juga semakin besar. Tingkat kepadatan penduduk yang tinggi di kawasan perkotaan maka akan memberikan tekanan terhadap jumlah yang dihasilkan dalam setiap hari dan jumlah air bersih serta listrik yang dibutuhkan. Berdasarkan tingkat kepadatan penduduknya maka di Kabupaten Grobogan yang kepadatanya lebih dari 1.000 jiwa/km², terdapat di Kecamatan Purwodadi dengan tingkat kepadatan penduduknya 1.702 jiwa/km² Kemudian Kecamatan Gubug yang mempunyai tingkat kepadatan 1.083 jiwa/km². sedangkan tingkat kepadatan penduduk terendah terdapat di Kecamatan Geyer yaitu sebesar 360 jiwa/km². pembagian lebih lanjut dapat dilihat pada Tabel 3.1 di bawah ini Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -2

Tabel 3.1. Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, Pertumbuhan Penduduk, dan kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan No. Kecamatan Luas (km 2 ) Jumlah Pertumbuhan Kepadatan Penduduk Penduduk Penduduk 1 KEDUNGJATI 130,33 42.558 0,35 327 2 KARANGRAYUNG 140,59 100.004 1,79 711 3 PENAWANGAN 74,18 65.813 0,74 887 4 TOROH 119,31 117.985 0,65 989 5 GEYER 196,19 70.551 0,17 360 6 PULOKULON 133,65 111.438 0,85 834 7 KRADENAN 107,74 85.360 0,63 792 8 GABUS 165,38 75.794 0,28 458 9 NGARINGAN 116,72 68.015 0,76 583 10 WIROSARI 15430 91.934 0,6 596 11 TAWANGHARJO 83,6 52.369 0,41 626 12 GROBOGAN 104,56 69.131 0,25 661 13 PURWODADI 77,65 132.175 0,82 1702 14 BRATI 54,9 46.482 0,37 847 15 KLAMBU 46,56 35.726 0,84 767 16 GODONG 86,78 88.696 0,58 1022 17 GUBUG 71,11 77.006 1,06 1083 18 TEGOWANU 51,67 51.149 0,98 990 19 TANGGUNGHARJO 60,64 41.075 0,39 677 TOTAL 1975,864 1.423.261 0,66 720 Sumber Tabel DE-1 Buku Data SLHD 2012 Migrasi penduduk perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat lainnya dan biasanya perpindahan tersebut cenderung terjadi di daerah terpencil menuju ke kota besar. Kecenderungan seperti ini juga terlihat di Kabupaten Grobogan, karena secara administrasi Kabupaten Grobogan relative dekat dengan Kota Semarang dan Kota Surakarta. Faktor yang mempengaruhi terjadinya migrasi bervariasi,mulai dari faktor ekonomi sampai faktor pendidikan. Untuk faktor pendidikan yang lebih terlihat adalah pada tingkat perguruan tinggi, karena di Kabupaten Grobogan belum terdapat perguruan tinggi nasional, jadi penduduk yang baru lulus dari SMA lebih memilih keluar dari Kabupaten Grobogan menuju Kota Semarang ataupun Kota Surakarta. Migrasi penduduk di Kabupaten Grobogan terjadi di setiap kecamatan. Penduduk pendatang dan yang pindah ke luar daerah sangat beragam di setiap kecamatan. Berdasarkan jenis kelamin pada tahun 2011, penduduk laki-laki lebih banyak yang pindah ke daerah lain dengan jumlah 7131 orang dibandingkan Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -3

dengan penduduk laki-laki yang datang ke Kabupaten Grobogan yaitu hanya sebesar 6675 orang. Demikian juga terjadi pada penduduk perempuan dimana penduduk lebih banyak yang pindah ke daerah lain yaitu 6257 orang daripada yang datang ke Kabupaten Grobogan yaitu sebesar 4996 orang. Laju surkulasi perpindahan baik laki-laki atau perempuan banyak terjadi di Kecamatan Purwodadi. Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -4

Data tentang Sirkulasikulasi penduduk yang datang dan pindah dapat dilihat pada tabel 3.2 berikut Tabel 3.2 Migrasi Selama Hidup Menurut Jenis Kelamin Kabupaten : Grobogan Tahun data : 2011 No Kecamatan Datang Laki - laki Perempuan Jumlah Laki-LaKi Perempuan Jumlah 1 2 3 4 5 6 7 8 1 Kedungjati 70 64 134 162 172 334 2 Karangrayung 455 374 829 509 530 1039 3 Penawangan 272 290 562 288 270 558 4 Toroh 467 381 848 365 290 655 5 Geyer 94 99 193 345 262 607 6 Pulokulon 512 389 901 628 526 1154 7 Kradenan 430 308 738 438 319 757 8 Gabus 281 141 422 350 202 552 9 Ngaringan 334 292 626 382 312 694 10 Wirosari 1113 342 1455 800 811 1611 11 Tawangharjo 58 48 106 71 78 149 12 Grobogan 151 128 279 180 116 296 13 Purwodadi 934 852 1786 1008 905 1913 14 Brati 86 63 149 111 96 207 15 Klambu 113 84 197 69 81 150 16 Godong 406 389 795 428 399 827 17 Gubug 553 477 1030 531 469 1000 18 Tegowanu 209 221 430 332 273 605 19 Tanggunharjo 137 118 255 134 146 280 Jumlah 6675 4996 11735 7131 6257 13388 Sumber : Tabel DE-4 Buku Data SLHD 2012 Pindah : Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -5

Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Pada tahun 2011 jumlah warga kabupaten Grobogan yang melakukan migrasi, dapat dilihat dari gambar 3.1 Gambar 3.1 Diagram Migrasi Penduduk Kabupaten Grobogan tahun 2011 Data Migrasi Kependudukan Kab Grobogan tahun 2011 Jumlah (jiwa) 8000 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 6675 4996 7131 6257 Series1 Datang Kategori Pindah Kabupaten Grobogan mempunyai fasilitas sekolah diantaranya 852 Sekolah Dasar, 126 SLTP dan 67 SLTA. Kecamatan Purwodadi mempunyai fasilitas sekolah yang lebih banyak karena mempunyai tingkat kepadatan yang tinggi pula yaitu sebesar 1702 jiwa/km². Kecamatan Kedungjati mempunyai kepadatan penduduk hanya sebesar 329,95 jiwa/km² dan mempunyai fasilitas sekolah lebih banyak dibandingkan dengan kecamatan Brati yang mempunyai kepadatan penduduk sebesar 828,96 jiwa/km². Data lebih jelas tentang hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.3 berikut ini Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -6

Tabel 3.3. Jumlah Penduduk, Luas Daerah, dan jumlah Sekolah menurut Kabupaten/kota dan Tingkat pendidikan Kabupaten : Grobogan Tahun Data : 2011 No. Kecamatan Jumlah penduduk Luas SD SLTP SLTA (km 2 ) (unit) (unit) (unit) 1 KEDUNGJATI 42.558 130,33 31 6 3 2 KARANGRAYUNG 100.004 140,59 63 12 3 3 PENAWANGAN 65.813 74,18 38 4 3 4 TOROH 117.985 119,31 65 6 3 5 GEYER 70.551 196,19 48 7 1 6 PULOKULON 111.438 133,65 60 9 3 7 KRADENAN 85.360 107,74 46 9 4 8 GABUS 75.794 165,38 47 6 1 9 NGARINGAN 68.015 116,72 38 6-10 WIROSARI 91.934 15430 50 9 10 11 TAWANGHARJO 52.369 83,6 32 3 1 12 GROBOGAN 69.131 104,56 42 5 2 13 PURWODADI 132.175 77,65 76 14 15 14 BRATI 46.482 54,9 32 2-15 KLAMBU 35.726 46,56 26 2-16 GODONG 88.696 86,78 49 7 4 17 GUBUG 77.006 71,11 49 9 10 18 TEGOWANU 51.149 51,67 33 6 1 19 TANGGUNGHARJO 41.075 60,64 27 4 3 Jumlah 1.423.261 1975,86 852 126 67 Sumber : Tabel DS-5Buku Data SLHD 2012 Jumlah sarana pendidikan di Kabupaten Grobogan dari jenjang SD sampai dengan SMP hampir merata, namun jika dilihat dari jumlah SMA pada tiap Kabupaten akan ditemui angka yang timpang. Bahkan di beberapa Kecamatan belum terdapat SMA separti di Kecamatan Ngaringan,Brati, dan Klambu. Jumlah SMA paling banyak terdapat di Kecamatan Purwodadi dengan jumlah SMA sebanyak 15 unit dan di Kecamatan Gubug dengan 10 unit. Jika diamati banyaknya jumlah unit SMA di Kecamatan Purwodadi dan Gubug juga berhubungan dengan kepadatan penduduk. Kepadatan pendudukan di dua kecamatan ini lebih dari 1000 jiwa/km². Angka kepadatan penduduk yang tinggi menandakan kecamatan tersebut mempunyai faktor penarik yang lebih tinggi dari wilayah kecamatan yang lain. Besarnya jumlah penduduk dan tingginya tingkat kepadatan membutuhkan tingkat pelayanan yang tinggi pula termasuk pelayanan dalam bidang pendidikan. Pemerataan tingkat pendidikan kiranya harus dilakukan khususnya pada jenjang SMA, karena dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan berpengaruh terhadap. Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -7

pemahaman dan kesadaran dalam pengelolaan lingkungan hidup. Kesadaran tersebut memang tidak bisa serta merta langsung terbentuk begitu saja, namun diperlukan proses yang panjang dan konsisten. Oleh sebab itu diperlukan konsistensi dan dukungan dari berbagai stakeholder agar tercipta suatu pemerataan pendidikan yang secara langsung akan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kepedulian lingkungan. Melihat distribusi penduduk Kabupaten Grobogan yang tidak merata antara kawasan pedesaan akan mempunyai tekanan terhadap lingkungan hidup yang berbeda. Pada kawasan perkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk yang lebih tinggi maka tekanan penduduk terhadap lingkungan mengarah kesanitasi yang buruk. Persoalan yang sering dijumpai adalah: pembuangan sampah sembarangan, pembuangan limbah rumah tangga langsung ke badan air atau tanah, terjadinya pemukiman kumuh dan terbatasnya lahan untuk melakukan penghijauan. Disamping itu pada kawasan perkotaan merupakan penyumbang banjir lokal yang terbesar karena tingkat infiltasi sangat rendah akibat banyaknya lahan terbangun. Dalam rangka peningkatan pengelolaan lingkungan hidup khususnya yang berkaitan dengan konservasi sumber daya alam dan pengendalian kerusakan lingkungan maka upaya yang perlu dilakukan adalah: a. Menciptakan lapangan kerja baru di kawasan pedesaan yang berbasis pada potensi unggulan wilayah yang berbasis kelingkungan. Misalnya industri kecil mlinjo, industri kecil kripik pisang dan industri kecil sirup mangga atau kripik mangga. b. Menigkatkan dan melakukan agribisnis pada lahan pertanian khususnya pada lahan pertanian irigasi. c. Meningkatkan kualitas dan pembuatan sekolah Kejuruan berbasis pada pertanian dan perkebunan. d. Melakukan pelatihan kepada masyarakat yang berkaitan dengan sistem pertanian terpadu. Misalnya padi-ternak, padi-ikan, dan kebun-lebah madu. Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -8

3.2 PEMUKIMAN Pemukiman adalah suatu kawasan yang merupakan kota/desa atau bagian kota/desa yang mempunyai fungsi utama sebagai lingkungan tempat tinggal, tempat penduduk bermukim, berkiprah dalam kegiatan kerja dan usaha, berhubungan dengan sesama pemukim sebagai masyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Keberadaan pemukiman erat kaitannya dengan permasalahan lingkungan. Pola hidup penghuni pemukiman secara langsung berpengaruh terhadap kondisi lingkungan. Contohnya adalah munculnya pemukiman-pemukiman dengan lingkungan kumuh yang disebabkan oleh banyak hal seperti kondisi ekonomi, kurangnya pengetahuan dan kesadaran tentang kebersihan lingkungan dan lainlain. Kondisi ini akan memberikan tekanan terhadap lingkungan yang sangat besar sehingga mengakibatkan daya dukung lingkungan menjadi menurun. Perbandingan jumlah antara rumah tangga dengan rumah tangga miskin di wilayah Kabupaten Grobogan dapat dilihat pada gambar 3.2 Gambar 3.2.Diagram Perbandingan Jumlah Rumah Tangga dengan Rumah Tangga Miskin Kabupaten Grobogan Tahun 2011 Mayoritas rumah tangga di Kabupaten Grobogan memanfaatkan sumber air minum yang berasal dari sumur. Sedangkan untuk fasilitas buang air besar untuk kehidupan sehari hari di Kabupaten Grobogan mayoritas sudah mempunyai Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -9

tempat sendiri. Hal ini dapat dilihat dari gambar 3.3. Untuk jumlah rumah tangga dan tempat pembuangan akhir tanpa tanki septik pada tahun 2011 mengalami penurunan bila dibanding dengan tahun sebelumnya. Hal ini dapat dilihat pada gambar 3.4 Gambar 3.3.Diagram Jumlah Sarana Buang Air Besar Kabupaten Grobogan Tahun 2011 Gambar 3.4.Diagram Jumlah Rumah Tangga Tanpa Tangki Septik Kabupaten Grobogan Tahun 2008 2011 Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -10

Tabel 3.4. Jumlah Keluarga Tanpa Tangki septik di Kab Grobogan Tahun 2011 Tahun Jumlah Keluarga 2008 93640 2009 89110 2010 190643 2011 160850 Rataan 133560,75 Maksimum 190643 Minimum 89110 Sumber: BPS Kab Grobogan (2012) Tingginya rumah tangga miskin tersebut di atas akan memberikan dampak negatif terhadap kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan hidup. Hal ini apabila tidak segera ditangani akan menyebabkan bencana sosial yang berakibat ke bencana alam khususnya di wilayah perkotaan di Kabupaten Grobogan. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut adalah : a. Penertiban pemukiman yang tidak sesuai dengan RUTRK b. Melakukan kerjasama antara pemerintah dan swasta dalam menyediakan rumah sehat dan murah di kawasan perkotaan (rusunawa) c. Pembuatan IPAL terpadu untuk limbah rumah tangga di perkotaan d. Pembuatan sumur resapan di kawasan perkotaan e. Sosialisasi terhadap warga yang berkaitan dengan hidup sederhana tanpa menimbulkan bencana. Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -11

3.3 KESEHATAN Kesehatan merupakan faktor penunjang kehidupan yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Apabila suatu lingkungan mempunyai kualitas yang baik maka kemungkinan besar tingkat kesehatan penduduknya juga akan semakin baik. Begitu pula sebaliknya, jika kondisi lingkungan kualitasnya buruk maka tingkat kesehatannya akan menjadi buruk. Terdapat 5 macam penyakit utama atau penyakit yang sering dijumpai di wilayah Kabupaten Grobogan, diantaranya dapat dilihat pada tabel 3.5 berikut ini Tabel 3.5. Jenis Penyakit Utama yang Diderita Penduduk Kabupaten : Grobogan Tahun Data : 2011 No. Jenis Penyakit Jumlah Penderita % terhadap Total 1 Diare ( Termasuk tersangka Kolera ) 4.861 6,31 2 Disentri 955 1,24 3 Penyakit Infeksi Lain pada usus 4.561 5,92 4 Penyakit Bakteri Lain 1.428 1,85 5 TB Paru BTA (+) 271 5,35 6 TB Paru Klinis (Suspek) 393 0,51 7 Pneumonia 403 0,52 8 Peny. Lain pd Sal. Pernafasan Bag. Bawah 7.685 9,98 9 Peny. Pd Saluran Pernafasan Bag. Atas 38.999 50,63 10 DHF ( DBD ) 145 0,19 11 Penyakit Virus Lain 1.627 2,11 12 Penyakit Cardiovasculer 4.801 6,23 13 Diabetis melitus 2.709 3,52 14 Penyakit Degeneratis Lain 3.969 5,15 15 Anemia 2.756 3,58 16 Penyakit Defisiansi Gizi Lain 1.471 1,91 Jumlah 77.034 100,00 Sumber : tabel DS-8 Buku Data SLHD 2012 Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -12

Gambar 3.5 Diagram Jumlah Jenis Penyakit Utama Yang Diderita Penduduk Kabupaten Grobogan Tahun 2011 Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -13

Pada tahun 2011, jenis penyakit yang paling banyak dijumpai adalah penyakit infeksi saluran pernafasan. Hal ini sama dengan kasus yang terjadi pada tahun sebelumnya yang juga didominasi penyakit saluran pernafasan. Akan tetapi bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya terjadi penurunan yang sangat tajam. Salah satu sumber dari penyakit yang muncul berasal dari limbah rumah sakit. Pada tahun 2011, rumah sakit penghasil limbah yang terbesar di Kabupaten Grobogan adalah Rumah Sakit Dr. R. Soedjati yang terdiri dari limbah padat sebesar 7,6 m 3 / hari dan 100 m 3 / hari limbah cair. Limbah Rumah sakit ini harus dikelola dengan cermat, karena dapat menjadi media penularan penyakit dan limbahnya berbahaya bagi lingkungan. Berkaitan dengan kenyataan tersebut di atas khususnya yang berkaitan dengan limbah yang dihasilkan dari fasilitas kesehatan maka upaya yang dapat dilakukan pemerintah Kabupaten Grobogan adalah : a. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk berbudaya hidup sehat b. Peningkatan perlindungan dari pemerintah terhadap masyarakat yang berkaitan dengan upaya pencegahan dan pengobatan penyakit c. Melakukan pendataan dan identifikasi dari kegiatan medis yang menimbulkan cemaran d. Melakukan sosialisasi pengolahan limbah cair dan padat pada kegiatan medis baik yang dilakukan pemerintah maupun swasta e. Penetapan dan melakukan pengelolaan dan pemantauan limbah medis pada setiap kegiatan f. Menetapkan adanya persyaratan pengelolaan limbah bagi kegiatan yang baru Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -14

3.4 PERTANIAN Kegiatan pertanian yang meliputi budaya bercocok tanam dan memelihara ternak merupakan kebudayaan manusia paling tua. Tetapi dibandingkan dengan sejarah keberadaan manusia, kegiatan bertani ini termasuk masih baru. Sebelumnya manusia hanya berburu hewan dan mengumpulkan bahan pangan untuk dikonsumsi. Sejalan dengan peningkatan peradaban manusia, pertanian pun berkembang menjadi berbagai sistem mulai dari sistem yang paling sederhana sampai sistem yang canggih dan padat modal. Berbagai teknologi pertanian dikembangkan guna mencapai produktivitas yang diinginkan. Tabel 3.6 Penggunaan Lahan di Kab Grobogan Tahun 2011 Penggunaan Luas (Ha) % 1. Tanah Sawah 65.182,220 32,98972 1.1. Irigasi Teknis 18.221,290 9,222074 1.2. Irigasi Setengah Teknis 1.487,000 0,752594 1.3.Irigasi Sederhana 10.332,770 5,229573 1.4 Tadah Hujan 35.144,160 17,787 2. Tanah Bukan Sawah 132.401,200 67,01028 2.1 Bangunan dan Halaman 23.440,554 11,86362 2.2.Tegalan/Kebun 28.514,860 14,43181 2.3.Padang gembala 0,000 0 2.4. Tambak/Kolam 24,000 0,012147 2.5.Rawa 0,000 0 2.6.Hutan Negara 68.632,320 34,73587 2.7.Hutan Rakyat 4.399,000 2,226401 2.8.Perkebunan Negara 0,000 0 2.9. Lainnya 7.390,446 3,740418 Jumlah 197.583,420 100 Maksimum 68.632,320 Minimum 0,000 Sumber: Tabel SD-1 dan SD-1A Buku Data SLHD 2012 Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -15

Dari data yang diperoleh dari Daerah Dalam Angka Kabupaten Grobogan tahun 2012 dapat diketahui fluktuasi jumlah luas lahan di wilayah Kabupaten Grobogan baik yang digunakan sebagai lahan persawahan maupun lahan non persawahan dari tahun 2006 sampai dengan 2010. Data tersebut dapat dilihat dari gambar 3.6 dan gambar 3.7 di bawah ini. Gambar 3.6. Diagram Jumlah Luas Lahan Persawahan Kabupaten Grobogan Tahun 2007 2011 Gambar 3.7 Diagram Jumlah Lahan non-persawahan Kabupaten Grobogan Tahun 2007 2011 Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -16

3.4.1 Padi Tanaman padi merupakan komoditas sektor pertanian terbesar yang dihasilkan kabupaten Grobogan. Untuk mengetahui jumlah hasil produksi panen padi Kabupaten Grobogan selama periode 2007 sampai dengan periode 2011 dapat dilihat pada gambar 3.8 dan 3.9 Tabel 3.7. Jumlah Produksi Padi Sawah di Kab Grobogan Tahun 2007-2011 Tahun Produksi (ton) 2007 603422 2008 646074 2009 719495 2010 663758 2011 574671 Rataan 641484 Maksimum 719495 Minimum 603422 Sumber: Buku Grobogan dalam Angka Kabupaten Grobogan 2012 Tabel 3.8. Jumlah Produksi Padi Gogo di Kab Grobogan Tahun 2007-2011 Tahun Produksi (ton) 2007 15485 2008 8240 2009 17983 2010 26054 2011 28016 Rataan 19155,6 Maksimum 28016 Minimum 8240 Sumber: Buku Grobogan dalam Angka Kabupaten Grobogan 2012 Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -17

Produksi (Ton) Produksi (Ton) Gambar 3.8 Diagram Produksi Padi Sawah Kabupaten Grobogan Tahun 2007-2012 Produksi Padi sawah Kab Grobogan tahun 2007-2012 800000 700000 719495 603422 646074 663758 600000 574671 500000 400000 300000 200000 100000 0 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Tahun Series1 Sumber: Buku Grobogan Dalam Angka 2012 Gambar 3.9 Produksi Padi Gogo Kabupaten Grobogan Tahun 2007 2011 Produksi Padi Gogo kab grobogan tahun 2007-2011 30000 25000 26054 28016 20000 15000 15485 17983 Series1 10000 5000 8240 0 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Tahun Sumber : Buku Grobogan Dalam Angka 2012 Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -18

Tabel 3.9 Jumlah Penggunaan Pupuk 2007 2008 2009 2010 2011 Rata Maksimum Minimum Urea 73795 73795 83485 73603 78062 76548 83485 73603 SP36 0 0 11047 11064 11460 6714,2 11460 0 ZA 4084 4084 7191 4510 5368,5 5047,5 5368,5 4084 Organik 0 0 5675 5494 6625,7 3558,94 6625,7 0 NPK 8759 8759 17119 21605 24991 16246,6 24991 8759 Gambar 3.10 Diagram Jumlah Penggunaan Pupuk Untuk Tanaman Perkebunan (ton) Kabupaten GroboganTahun 2011 3.5 INDUSTRI Kegiatan industri merupakan salah satu penggerak roda ekonomi di dalam suatu daerah. Penduduk melakukan usaha di bidang ekonomi yang nantinya dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan melalui industri, baik skala kecil atau sedang yang dikelola di sekitar tempat tinggalnya. Kabupaten Grobogan memilki potensi Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -19

yang besar di sektor industri. Hal ini terbukti dengan banyaknya industri kecil yang tumbuh. Terdapat 18.640 buah industri yang terbagi dalam 29 jenis industri yang masing-masing menghasilkan barang jadi maupun barang setengah jadi untuk pemenuhan kebutuhan. Industri tersebut di atas sebagian besar merupakan industri rumah tangga atau home industry, sehingga dapat diperkirakan belum menggunakan teknologi ramah lingkungan dan melakukan pengolahan limbah secara baik. Kenyataan ini akan mengakibatkan beban pencemaran terhadap lingkungan semakin besar. Upaya yang dapat dilakukan pemerintah Kabupaten Grobogan untuk mengurangi tekanan industri terhadap lingkungan hidup adalah : a. Melakukan identifikasi kesesuaian lokasi industri terhadap RUTRK b. Melakukan penetapan wajib AMDAL atau UKL/UPL bagi rencana kegiatan industri c. Melakukan pemantauan secara rutin terhadap pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh pihak pemrakarsa industri d. Pembimbingan teknis dan bantuan modal pembuatan IPAL terpadu bagi industri kecil e. Pembimbingan pemakaian bahan bakar yang berasal dari energi alternatif 3.6 PERTAMBANGAN Potensi pertambangan Kabupaten Grobogan mempunyai beraneka ragam jenis bahan galian mineral. Namun sebagian besar bahan tambang mineral tersebut masih belum dieksploitasi. Sebagai salah satu contoh sampai saat ini potensi phospat yang terdapat di Kecamatan Karangrayung belum ditambang, padahal potensi yang dimiliki sangat besar dan memiliki harga jual tinggi. Potensi pertambangan yang dimiliki Kabupaten Grobogan dan luas pertambangannya dapat dilihat pada tabel 3.10, tabel 3.11.dan tabel 3.12 Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -20

Tabel 3.10. Luas Areal dan Produksi Pertambangan Menurut Jenis Bahan Galian Kabupaten : Grobogan Tahun Data : 2011 No. Nama Perusahaan Jenis Bahan Galian Luas Areal (Ha) Produksi (Ton/Tahun) 1. SUADI Tanah liat 0,9 294 2. ENY ENDARWATI Batugamping 0,9 628 Jumlah Sumber : Tabel SE 14 Buku Data SLHD 2012 922 Tabel 3.11. Luas Areal dan Produksi Pertambangan menurut Jenis Bahan Galian Kabupaten : Grobogan Tahun Data : 2012 No. Nama Perusahaan Jenis Bahan Galian Luas Areal (Ha) Produksi (Ton/Tahun) 1 Fajar Debyantoro Batu gamping untuk urugan 3,04 183600 2 H. Markani Batu gamping untuk urugan 0,377 38700 Batu gamping untuk urugan 0,458 36000 3 Kasroni Batu gamping untuk urugan 0,40 18000 4 Umar Batu gamping untuk urugan 0,46 62100 5 Supartono Batu gamping untuk urugan 0,47 28800 6 Suadi Batu gamping untuk urugan 0,45 90000 7 Imam Mukhayat Yusuf Batu gamping untuk urugan 0,20 10800 Batu gamping untuk urugan 0,27 12150 8 Partono Batu gamping untuk urugan 1,93 87300 Batu gamping untuk urugan 0,48 47700 9 Suprihono Batu gamping untuk urugan 0,277 7200 10 Taufiq Romandhoni Batu gamping untuk urugan 0,18 28800 Jumlah Sumber : Tabel SE 14.A.Buku Data SLHD 2012 683550 Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -21

Tabel 3.12. Luas Areal pertambangan Rakyat menurut Jenis Tambang Kabupaten : Grobogan Tahun Data : 2011 No. Jenis Bahan Galian Luas Areal (Ha) Produksi (Ton/Tahun) I BATU GAMPING Tanggungharjo 20 9.916 Wirosari 5 1.784 Grobogan 18 10.810 Brati 9 5.996 Klambu 6 2.405 II TANAH LIAT Nagaringan 8 5.110 Wirosari 25 20.910 Brati 6 14.864 Toroh 7 28.100 Sumber : Tabel SE -15 Buku Data 2012 Dari data yang terdapat pada tabel di atas dapat diketahui bahan tambang mineral yang tersebar di wilayah Kabupaten Grobogan antara lain adalah : a. Batu gamping. Batu gamping yang terdapat di wilayah Kabupaten Grobogan terdiri atas 4 jenis batu gamping yaitu : batu gamping klastik, batu gamping non klastik, batu gamping pasieran, dan batu lempung gampingan. b. Tanah liat c. Sebagian besar daerah potensi tanah liat ini adalah areal persawahan, tegalan dan pemukiman. Potensi bahan galian ini paling banyak ditemui di Kecamatan Wirosari. Bahan galian ini merupakan bahan baku utama pembuatan batu bata, genteng, dan keramik. Untuk potensi bahan galian sirtu berasal dari endapan sungai Tuntang dan Sungai Bancak di Kecamatan Kedungjati, Sungai Lusi, serta di perbatasan Kecamatan Wirosari, Kradenan dan Ngaringan Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -22

Eksploitasi lingkungan akan menyebabkan dampak terhadap kualitas lingkungan hidup yaitu menurunnya daya dukung lingkungan. Hal ini akan mengakibatkan 3 macam krisis yang sangat serius dan berdampak luas dan mendalam bagi kehidupan, yaitu krisis air, pangan dan energi. Oleh sebab itu apabila tidak ditangani secara bijaksana, situasi ini akan membawa konsekuensi pada perilaku eksploitasi atas SDA yang semakin tak terkendali. Upaya yang dapat dilakukan Pemerintah Kabupaten Grobogan dalam upaya mengurangi tekanan kegiatan pertambangan terhadap kerusakan lingkungan adalah : a. Program Jangka pendek 1. Menentukan zonasi lahan yang boleh ditambang tanpa syarat, boleh ditimbang dengan syarat, ataupun tidak boleh ditambang 2. Melakukan sosilalisasi zonasi lahan penambangan kepada masyarakat sekitar lokasi penambangan 3. Mengidentifikasi penambangan berdasarkan zonasi tersebut b. Program Jangka Menengah 1. Mewajibkan penambangan yang berada pada zonasi tidak dilarang penambangan untuk mempunyai Surat Ijin Penambangan Daerah (SIPD) yang dilengkapi dengan keterangan biaya jaminan reklamasi, batas kedalaman penggalian, desain bentuk akhir lahan dan rencana reklamasi yang akan dilaksanakan 2. Dalam penerbitan SIPD oleh pejabat yang berwenang, penambang harus dapat menunjukkan dokumen UKL/UPL/Amdal yang ditandatangani oleh pengusaha atau pemrakarsa 3. Melakukan komitmen bersama tentang hak dan kewajiban untuk pengelolaan lahan galian golongan C dari pemrakarsa penambang masyarakat pemilik lahan, masyarakat di sekitar lokasi penambangan dan pemerintah dalam rangka untuk menghadapi konflik-konflik yang mungkin terjadi 4. Melaksanakan reklamasi lahan yang dilakukan oleh pengusaha penambangan. Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -23

c. Program Jangka Panjang 1. Melakukan perubahan Perda DATI I Jawa Tengah no 6 tahun 1995 tentang usaha pertambangan bahan galian golongan C di Propinsi Jawa Tengah yang disesuaikan dengan pelaksanaan otonomi daerah. 2. Penyusunan Perda Kabupaten Grobogan tentang Pertambangan Bahan Galian Golongan C, yang disesuaikan dengan UU RI no 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara 3.7 ENERGI Sebagian besar energi yang digunakan rakyat Indonesia pada saat ini adalah bahan bakar fosil. Selain dapat merusak lingkungan kerugian penggunaan bahan bakar fosil ini juga tidak dapat terbarukan dan juga tidak berkelanjutan keberadaannya. Pemakaian kendaraan bermotor yang menggunakan BBM yang berada di wilayah Kabupaten Grobogan dapat diketahui dari tabel 3.13 dan gambar 3.11 berikut ini : Tabel 3.13 Jumlah dan Jenis Kendaraan Bermotor Di Kabupaten Grobogan Tahun 2007-2011 Jenis Kendaraan 2007 2008 2009 2010 2011 Rata Maksimum Minimum Bus 409 409 439 439 439 423,4 439 409 Truk 2598 2598 2340 2340 2340 2487 2598 2340 Angkutan Barang 2535 2535 2500 2500 2500 2517,2 2535 2500 Kendaraan penumpang 3849 3849 502 502 502 2468,4 3849 502 Mobil Dinas 186 186 247 247 247 210,2 247 185 Mobil Pribadi 1157 1157 1185 1185 1185 1144,4 1185 1038 Sepeda Motor 128455 128455 166426 166426 166426 141588,8 166426 118182 Sumber: Buku Grobogan dalam Angka 2012 Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -24

Gambar 3.11 Diagram Jumlah Kendaraan Bermotor Kabupaten Grobogan Tahun 2007 2011 Tabel 3.14 Jumlah Kendaraan Menurut Jenis BBM yang Digunakan Kabupaten Grobogan Tahun 2011 No Jenis Kendaraan Jumlah Kendaraan Premium Solar 1 Beban (Tronton/Trailer) - 66 2 Penumpang Pribadi - 5 Penumpang Pribadi yang diuji - 58 3 Penumpang Umum/Angkot 178 108 4 Bus Besar Pribadi 351-5 Bus Besar Umum - 50 6 Bus Kecil Pribadi (Sedang) - 9 7 Bus Kecil Umum - 79 8 Truk Besar - 419 9 Truk Kecil (Sedang/Pick Up) 2.745 1.202 10 Roda Tiga 5.080-11 Roda Dua 156.990 - Total 165.344 7.427 Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -25

Gambar 3.12 Diagram Jumlah Konsumsi BBM Untuk Kendaraan Bermotor (Liter/tahun) Kabupaten GroboganTahun 2010-2011 Bahan bakar yang dipakai dan jumlah kendaraan yang eksisting lebih besar jumlahnya. Hal ini disebabkan karena Kabupaten Grobogan merupakan jalur antara Solo Kudus atau Solo Semarang dan Kabupaten Ngawi Semarang. Besarnya penggunaan bahan bakar fosil akan menambah beban tekanan terhadap lingkungan terutama untuk unsur Pb, CO, SO 2 dan NO 2. Upaya yang dapat dilakukan Pemerintah Kabupaten Grobogan antara lain : 1. Melakukan pemeriksaan secara rutin terhadap kendaraan bermotor terutama yang berkaitan dengan gas buang. 2. Melaksanakan perbaikan jalan sehingga transportasi dapat lancar 3. Melakukan efisiensi penggunaan kendaraan pribadi 4. Melakukan pembuatan hutan kota yang berfungsi menangkap cemaran kendaraan bermotor 5. Pembuatan jalur alternatif luar kota, sehingga beban cemaran udara di kota dapat dikurangi Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -26

3.8 TRANSPORTASI Jalan merupakan sarana menunjang transportasi yang paling utama. Kabupaten Grobogan adalah kabupaten yang dilewati jalur menuju ke Kota Semarang. Untuk itu Kabupaten Grobogan memiliki jalan propinsi sepanjang 190,740 km, jalan kabupaten sepanjang 829,71 km. Dan Jaln kota 53,29 km. seperti yang tercantum dalam tabel 3.15 Tabel3.15. Panjang Jalan Menurut Kewenangan Kabupaten : Grobogan Tahun Data : 2011 No. Jenis Kewenangan Panjang Jalan (Km) 1. Jalan Nasional Tidak ada 2. Jalan Provinsi Tidak Berwenang (190,740 ) 3. Jalan Kabupaten 829,71 4. Jalan Kota 53,39 Sumber : Tabel SE -20 Buku Data SLHD 2012 Dalam melengkapi sarana transportasi umum, di Kabupaten Grobogan terdapat 6 buah terminal dengan 5 terminal dengan kategori C dan 1 terminal dengan kategori B dengan terminal induk yaitu Terminal Purwodadi yang memiliki luas 22.000 m 2. tercantum dalam tabel 3.16. Kabupaten Grobogan tidak memiliki sarana pelabuhan dan sarana bandara Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -27

Tabel 3.16. Sarana Terminal Kendaraan Penumpang Umum Kabupaten : Grobogan Tahun Data : 2011 N Tipe Luas Kawasan Nama Terminal Lokasi**) o. Terminal*) (Ha) 1 Terminal Induk Purwodadi B Jl. Gajah Mada - Purwodadi 22.000 m² 2 Terminal Angkot C Jl. A. Yani - Purwodadi 450 m² 3 Terminal Wirosari C Jl. Purwodadi - Blora 600 m² 4 Terminal Godong C Jl. Purwodadi - Semarang 1.800 m² 5 Terminal Gubug C Jl. Purwodadi - Semarang 12.551 m² 6 Terminal Sulur C Sulursari 500 m² Total - - 37.901 m² Sumber : Tabel SE 21 Buku DataSLHD 2012 3.9 PARIWISATA Pariwisata merupakan salah satu komoditi penyumbang devisa daerah yang menjanjikan. Kabupaten Grobogan memiliki beberapa objek wisata potensial yang mulai dikembangkan. Objek-objek wisata tersebut dapat dilihat pada tabel 3.17 Tabel 3.17. Lokasi Obyek Wisata, Jumlah Pengunjung, dan Luas kawasan Kabupaten : grobogan Tahun Data : 2011 No. Nama Obyek Wisata Jenis Obyek Wisata Jumlah Pengunjung (orang per tahun) Luas Kawasan (Ha) 1. BLEDUK KUWU WISATA ALAM 26030 45 2. WADUK KEDUNG OMBO WISATA BUATAN 61373 4 3. GOA LAWA GOA MACAN WISATA ALAM 2741 2,5. Sumber : Tabel SE-24 Buku Data SLHD 2012 Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -28

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa objek wisata dengan pengunjung terbanyak adalah Kedungombo dengan jumlah kunjungan 61.373 orang pada tahun 2011. Kegiatan pariwisata di Kabupaten Grobogan masih didominasi oleh wisata alam. Hal ini berpengaruh terhadap tingkat tekanan terhadap lingkungan alam. Selain itu, hal ini juga berpengaruh terhadap hunian kamar penginapan/ hotel. Upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Grobogan adalah : 1. Meningkatkan wisata berbasis alam,misalnya goa, hutan, dan air 2. Melakukan identifikasi lokasi hotel dan melakukan pengawasan pengelolaan limbahnya 3. Melakukan wajib Amdal atau UKL/ UPL bagi rencana pendirian hotel baru. 3.10 LIMBAH B3 Menurut PP RI No. 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) disebutkan pengaturan pengelolaan B3 bertujuan unuk mencegah dan atau mengurangi resiko dampak B3 terhadap lingkungan hidup, kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya. Di Kabupaten Grobogan terdapat izin penimbunan sementara Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang dilakukan oleh PT. Japfa. Oleh sebab itu agar tidak berpengaruh terhadap lingkungan hidup secara umum perlu memperhatikan lokasi dan penyimpanan B3. Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -29

Buku laporan SLHD Kabupaten Grobogan Tahun 2012 III -30