BAB VI PENUTUP. A. Simpulan

dokumen-dokumen yang mirip
BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 13 Tahun : 2014

BAB I PENDAHULUAN. Kebebasan Pers. Seperti yang sering dikemukakan, bahwa kebebasan bukanlah semata-mata

WALIKOTA MATARAM PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN WALIKOTA MATARAM NOMOR 26 TAHUN 2016

2016, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Kepala Badan ini yang dimaksud dengan: 1. Intelijen Negara adalah penyelenggara Intelijen

Etika Jurnalistik dan UU Pers

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 116, Tambaha

Pertemuan ke-2. MK. Etika dan Profesi. Dr. I Wayan S. Wicaksana 02. Profesi (MK. Etika Profesi) 1

BUPATI BADUNG PROVINSI BALI PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. pesan secara massal, dengan menggunakan alat media massa. Media. massa, menurut De Vito (Nurudin, 2006) merupakan komunikasi yang

2017, No Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik In

LEMBARAN NEGARA PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

BAB V. Penutup. Dari kajian wacana mengenai Partai Komunis Indonesia dalam Surat Kabar

PROFESI. Pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian.

MEDIA WATCH DAN PELAKSANAAN KEBEBASAN PERS. Djoko Walujo 1

BAB I KETENTUAN UMUM

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 25/PER/M.KOMINFO/12/2011 TENTANG

SUBSTANSI DAN KONTEN NILAI DASAR, KODE ETIK DAN KODE PERILAKU ASN

PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. berdasarkan atas kekuasaan belaka, maka segala kekuasaan negara harus

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

POKOK-POKOK PIKIRAN RUU APARATUR SIPIL NEGARA TIM PENYUSUN RUU TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA

MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA

PANITIA PEMILIHAN RAYA IKATAN KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA

KODE ETIK GURU INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. fase dimana mengalami pasang surut tentang kebebasan pers. Kehidupan pers

KODE ETIK DOSEN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2007

DARI KODE ETIK WARTAWAN INDONESIA KE DEWAN PERS

PELANGGARAN ETIK DAN HAK PRIBADI DALAM KASUS KODE ETIK DI MAHKAMAH KONSTITUSI

PEDOMAN KOMITE DISPLIN DOSEN FAKULTAS EKONOMI & BISNIS

PERATURAN LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG KODE ETIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Kode Etik PNS. Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil adalah pernyataan kesanggupan untuk melakukan suatu keharusan atau tidak melakukan suatu larangan.

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NO. POL. : 7 TAHUN 2006 TENTANG KODE ETIK PROFESI KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

POLICY BRIEF ANALISIS DAN EVALUASI HUKUM DALAM RANGKA PARTISIPASI PUBLIK DALAM PROSES PENGAMBILAN KEBIJAKAN PUBLIK

PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

BAB V P E N U T U P. Berdasarkan uraia uraian dalam bab sebelumnya, Sebagai bab penutup dalam

INTERNALISASI NILAI-NILAI REVOLUSI MENTAL DALAM MEMBANGUN BUDAYA KERJA

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMASI REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG KODE ETIK INSAN OMBUDSMAN KETUA OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA,

2 Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan. Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelengga

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG P E R S DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PROGRAM STUDI S1 ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS TANJUNGPURA SIKAP

BAB I PENDAHULUAN. dan biaya pelayanan tidak jelas bagi para pengguna pelayanan. Hal ini terjadi

ETIKA ADMINISTRASI HENDRA WIJAYANTO

BAB I PENDAHULUAN. pun mulai bebas mengemukakan pendapat. Salah satunya adalah kebebasan di bidang

BAB I PENDAHULUAN. media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia. penting dalam peta perkembangan informasi bagi masyarakat.

PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM MAHASISWA UNIVERSITAS JEMBER NOMOR 1 TAHUN 2017 tentang KODE ETIK KOMISI PEMILIHAN UMUM MAHASISWA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS

LAPORAN SINGKAT PANJA RUU APARATUR SIPIL NEGARA KOMISI II DPR RI

BAB I PENDAHULUAN. tahunnya. Pengakses internet terus mengalami peningkatan sejalan dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Jurnalisme online pada saat sekarang ini lebih banyak diminati oleh

Guru biasa memberitahu. Guru baik menjelaskan. Guru ulung memperagakan. Guru hebat mengilhami. (William Arthur Ward)

Nomor :Skep/032A/V/2012. tentang KODE ETIK TENAGA KEPENDIDIKAN UNIVERSITAS NURTANIO BANDUNG

MENGAPA MENGELUH? Oleh Yoseph Andreas Gual

2017, No tentang Kode Etik Pegawai Badan Keamanan Laut; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembara

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perubahan ke era reformasi menjadi awal kebebesan pers karena

KODE ETIK PENERBIT ANGGOTA IKAPI

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. menjadi faktor determinan dalam kehidupan sosial, ekonomi dan budaya bangsa Indonesia.

PERATURAN SEKRETARIS JENDERAL DEWAN ENERGI NASIONAL NOMOR : 001 K/70.RB/SJD/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 11/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL KEMENTERIAN KEHUTANAN

HAK PUBLIK MEMPEROLEH INFORMASI DAN KEBEBASAN PERS Oleh Ashadi Siregar

PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2007 TENTANG KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

PEMERINTAH KABUPATEN KEBUMEN I N S P E K T O R A T Jl. Arungbinang Nomor 16 Telp: (0287) , Kebumen 54311

2 2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 140, Tambahan

b. bahwa Komisi Yudisial mempunyai peranan penting dalam usaha mewujudkan

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 06/PRT/M/2012 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

- 1 - MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. Berbicara mengenai media, tentunya tidak terlepas dari konsep komunikasi

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS

BAHAN TAYANG MODUL 9

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 06/PRT/M/2012 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

PENDAHULUAN Latar Belakang

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Mencermati hasil analisis data dan pembahasan mengenai profesionalisme wartawan / jurnalis pada stasiun televisi lokal

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN SEKRETARIS JENDERAL KOMISI YUDISIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 04 TAHUN 2013

BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2015 NOMOR 51 SERI E

I. PENDAHULUAN. menjadi isu global dan hangat yang selalu ingin disajikan media kepada. peristiwa yang banyak menarik perhatian dan minat masyarakat.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. Undang-undang No 40 tahun 1999 Tentang Pers, telah ditetapkan dalam

BAB I PENDAHULUAN. BP. Dharma Bhakti, 2003), hlm Depdikbud, UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta :

SISTIM HUKUM INDONESIA POKOK BAHASAN

KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO Nomor : 61/KEP/UDN-01/VI/2007. tentang KODE ETIK DOSEN UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

ETIKA BAGI PENGEVALUASI AMDAL HADI S. FAKULTAS KEHUTANAN IPB

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

IKATAN KELUARGA ALUMNI STAR BPKP PERATURAN KETUA IKA STAR BPKP NOMOR. TAHUN 2017 TENTANG KODE ETIK IKA STAR BPKP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Bab III Keanggotaan. Bagian Kesatu. Umum

BAB VI KESIMPULAN. Mohamad (GM), sebagai salah seorang pendiri dan mantan pemimpin Majalah

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA INSPEKTUR JENDERAL KEMENTERIAN PERDAGANGAN,

Transkripsi:

167 BAB VI PENUTUP A. Simpulan Pemberitaan politik di media cetak nasional, yaitu Kompas, Jawa Pos, Republika dan Media Indonesia, memiliki peran yang cukup penting bagi proses demokratisasi. Tidak dipungkiri bahwa media massa termasuk media cetak merupakan pilar penting bagi demokrasi, karena dengan media massa ini partisipasi politik masyarakat dapat didorong secara optimal. Peristiwa politik pasca reformasi 1998 yang sangat penting adalah dilaksanakannya pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung untuk pertama kalinya di Indonesia tahun 2004. Fungsi normatif pers untuk memberi informasi dan pendidikan politik sekaligus kontrol politik bagi masyarakat, pemerintah dan kontestan politik dalam peristiwa pergantian kepemimpinan nasional ini dapat diwujudkan manakala media massa ini melakukan aktivitasnya disertai dengan rasa tanggungjawab dan penuh dengan sikap etika. Kaitannya dengan hal tersebut, kajian tentang etika pemberitaan politik memiliki nilai yang cukup signifikan dalam kerangka membangun masyarakat yang demokratis. Dari hasil kajian terhadap empat media cetak nasional, maka dapat disimpulkan tentang deskrispsi etika pemberitaan politik media cetak nasional dalam peristiwa pemilihan presiden dan wakil presiden 2004 tersebut. 1. Media cetak nasional menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakatnya, oleh karena itu etika pemberitaan yang dilakukannya tidak lepas dari situasi sosial politik negara. Dari teks pemberitaan politik menunjukkan performen media cetak nasional telah cukup berkualitas, dengan memperhatikan kaidah-kaidah obyektivitas yang merupakan indikasi nilainilai etika seperti kejujuran, keadilan, kebenaran, kebijaksanaan dan sebagainya. Masing-masing media memiliki gradasi kualitas yang berbedabeda dalam memproduksi pemberitaan politik. Hal ini dipengaruhi oleh

168 beberapa hal seperti proses produksi dalam ruang redaksi dan faktor ektramedia yaitu masyarakat, sistem politik, budaya dan sebagainya. Tinjauan terhadap pemberitaan politik media cetak nasional ini menunjukkan bahwa nilai-nilai etika, terutama etika pemberitaan dan media massa merupakan hasil negosiasi dan kompromi dari nilai-nilai idealis dengan nilainilai pragmatis, antara ideologi media, kepentingan media dan kepentingan khalayak. Namun demikian pengaruh kepentingan media sendiri terhadap masyarakat terlihat lebih dominan dibandingkan kepentingan masyarakat terhadap media. 2. Pada umumnya sistem etika Islam bersifat personal, yakni berhubungan dengan kualitas diri indiviual dan kondisi jiwa personal tetapi memiliki implikasi sosial. Dalam konteks media cetak nasional, wujud etika ditentukan oleh jiwa media itu sendiri yaitu para pelaku media cetak. Para pelaku inilah menjalankan aktivitas-aktivitas pemberitaan sesuai dengan ideologi yang bangun bersama dalam insititusi media. Pelaku media yang terbiasa memahami dan komitmen terhadap nilai-nilai dalam profesinya akan mudah untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Jiwa media yang sehat dan baik akan menghasilkan suara hati media yang juga baik dan luhur. Suara hati ini akan menunjukkan bahwa sesuatu perbuatan yang baik harus dilakukan karena memang perbuatan itu baik dan utama; dan perbuatan harus ditinggalkan karena perbuatan tersebut buruk dan rusak. etika pemberitaan ini dalam tinjauan Islam adalah kesadaran moral yang berangkat dari dalam diri, bertolak dari kondisi jiwa yang terbentuk menjadi mentalitas etika. Bisa saja, seseorang berbuat baik dalam pengertian tidak melanggar norma masyarakat, tetapi sikap itu bisa jadi hanya berupa sebuah disiplin sosial yang dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan keuntungankeuntungan atau kepentingan tertentu yang sekular. Hal ini akan berbeda dengan sikap yang muncul dari dalam jiwa, ia akan hadir dalam kondisi bagaimanapun dan menuntut untuk dilaksanakan, terlepas dalam kesaksian orang lain maupun tidak, karena kesaksian bagi jiwa cukup diyakini selalu hadir dari Tuhan yang Maha Mengetahui (muraqabah).

169 Nilai-nilai akhlak sebagaimana dalam ajaran Islam sebenarnya linear dengan etika yang dituntutkan dalam pemberitaan, termasuk pemberitaan politik, di media cetak. Nilai-nilai seperti keadilan, kejujuran, kebenaran yang menjadi sikap hidup para pelaku media akan dapat menjamin keberlangsungan partisipasi sosial dan politik masyarakat. Di sinilah fungsi pemberitaan politik untuk menyampaikan informasi-informasi tentang situasi masyarakat, citra personal dan struktur politik mendapat posisi yang sangat penting. Tidak sekedar memberi informasi, posisi pemberitaan politik lebih khusus lagi sangat berperan dalam memberi preferensi bagi masyarakat untuk berpendapat terkait diri mereka dalam bentuk opini publik atau pendapat umum, sehingga memperteguh dan menguatkan predisposisi keyakinan atau sikap politik masyarakat. Peranan-peranan normatif tersebut dengan sendirinya menjadi kewajiban bagi media cetak untuk diwujudkan dalam masyarakat demokratis. B. Saran dan Penutup Pada umumnya media massa yang besar memiliki standar perilaku sebagai pengejawantahan nilai-nilai jurnalisme dan etika yang dianutnya. Etika pemberitaan, termasuk pemberitaan politik, sudah semestinya menjadi kesadaran personal para pelaku media yang dibangun melalui penghayatan atas nilai-nilai yang berkembang di masyarakat, khususnya nilai-nilai dari ajaran agama. Pengamalan dan penghayatan terhadap ajaran agama menjadi penting untuk membangun kesadaran etika religius, di mana kesadaran inilah yang dapat menjadi faktor utama terwujudnya sikap-sikap moral, termasuk dalam aktivitas di media massa. Namun biasanya membangun kesadaran etika tersebut merupakan pekerjaan yang paling sulit, oleh karena itu dalam membentuk jiwa dan mendidik kesadaran etika ini dapat dilakukan di level normatif berupa pemaksaan perintah dan larangan. Level normatif ini dapat berbentuk kode etik, kode perilaku, maupun hukum yang mengikat dan memaksa para pelaku media untuk

170 menaati norma-norma etika dalam pemberitaan. Dalam konteks Indonesia, pada level hukum negara telah membuat undang-undang yaitu UU no.40 tahun 1999 tentang Pers dan Dewan Pers sebagai bentuk normatif politis bagi aktivitas media massa. Selain itu, organisasi profesi juga pada umumnya menerapkan aturan normatif perilaku dalam bentuk kode etik atau kode perilaku. Norma-norma ini akan efektif dalam menjamin terwujudnya perilaku yang profesional dan moral dari pelaku media manakala ada badan yang berwenang untuk melakukan pengawasan pelaksanaan norma tersebut. Koran Jawa Pos dan (dulu) majalah Pantau Jakarta memiliki lembaga Ombudsmen yang mengawasi dan melakukan penilaian terhadap kinerja dan kualitas pemberitaan wartawannya, termasuk memberi sanksi. Meskipun negara memiliki kewenangan untuk mengatur perikehidupan masyarakatnya, tetapi negara hendaknya tidak melakukan pengekangan terhadap kebebasan media massa. Dalam masyarakat yang demokratis keberadaan media massa mutlak diperlukan sebagai media komunikasi dan interaksi antar warga, mediator kepentingan dalam masyarakat dan fungsi distribusi informasi yang diperlukan masyarakat untuk mengambil keputusan dan sikap politik. Aturan yang dilakukan negara bukan untuk mengekang kebebasan, melainkan menjamin media massa dapat menjalankan fungsinya melayani masyarakat, memenuhi hak tahu, hak informasi bagi masyarakat. Pemenuhan hak masyarakat oleh madia massa hanya akan terwujud jika media massa memiliki rasa tanggungjawab sosial dan memegang teguh etika. Rosihan Anwar dalam buku biografinya menyatakan: Jika pers mementingkan kebebasan dia akan kehilangan sentuhannya dengan masyarakat ramai dan berdiri dalam isolasi, pengucilan, paling banter dia seorang Don Kisot. Pada sisi ekstrim lain terdapat penyerahan hina-dina kepada doktrin resmi pemerintah yang berkuasa, dan di situ dia kembali terkucil dari khalayak (Sudibyo, 1999 : 64) Dengan demikian segala aktivitas media pada intinya adalah berorientasi pada masyarakat. Masyarakat sebagai pengguna media juga harus meningkatkan

171 daya kritisnya dalam melihat media massa. Media massa sering dipandang sebagai anjing penjaga bagi masyarakat, tetapi juga sebaliknya masyarakat perlu mengawasi perilaku media agar tetap profesional dan bermoral, misalnya dengan membentuk lembaga media watch atau lembaga pengawas media. Masyarakat yang melek baca (literate society) akan dapat melakukan seleksi, kritis dan pembacaan informasi di media massa secara lebih baik sehingga mampu menerapkannya dalam penentuan sikap sosial dan politiknya secara bijaksana. Wallahu Alam bi ash-shawab.