BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. begitu cepat, termasuk perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. seseorang. Komunikasi tidak saja dilakukan antar personal, tetapi dapat pula

BAB I PENDAHULUAN. Perangkat televisi menjadi suatu kebiasaan yang popular dan hadir secara luas

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat dibutuhkan manusia, dan manusia tidak bisa hidup tanpa

BAB I PENDAHULUAN. Media Televisi adalah salah satu media massa elektronik yang digemari

BAB 1 PENDAHULUAN. banyaknya program acara variety show, reality show, infotainment menjadi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Komunikasi merupakan kegiatan yang dibutuhkan dalam kehidupan

BAB 1 PENDAHULUAN. mengakibatkan kebutuhan masyarakat akan informasi semakin besar. Dan informasi

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kepada khalayak. Media adalah salah satu unsur terpenting dalam komunikasi. Pada

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah mendukung

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. membuat pemirsanya ketagihan untuk selalu menyaksikan acara-acara yang ditayangkan.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Keberadaan televisi di Indonesia saat ini bertumbuh sangat pesat. Hingga

BAB I PENDAHULUAN. bahasa sebagai alat penyalurnya. Dalam bahasa komunikasi, pernyataan

BAB I PENDAHULUAN. turut merubah peradaban manusia. Bukan hanya itu, teknologi juga merubah

BAB I PENDAHULUAN. untuk memperoleh informasi dan pengetahuan serta wadah untuk menyalurkan ide,

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini kebutuhan akan informasi dan diiringi dengan kemajuan zaman yang sangat pesat,

BAB I PENDAHULUAN. Media massa adalah sarana penunjang bagi manusia untuk memenuhi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. waktunya untuk menonton acara yang beragam ditelevisi. Televisi sebagai media

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 LatarBelakang

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat Indonesia, kemudian kemunculannya disusul oleh stasiun stasiun

BAB 1 PENDAHULUAN. sosial. Pendek kata, komunikasi adalah bagian dimensi sosial yang khusus membahas

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Televisi adalah salah satu media masa yang tidak hanya menampilkan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dalam era informasi sekarang ini, masyarakat sangat membutuhkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perkembangan komunikasi dari waktu ke waktu selalu mengalami

PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi merupakan kegiatan sehari-hari yang sangat penting,

BAB I PENDAHULUAN. vindonesia ke-17 pada tanggal 17 Agustus Siaran langsung itu masih

BAB 1 PENDAHULUAN. verbal dan non verbal tetapi banyak melakukan komunikasi melalui media, baik

BAB I PENDAHULUAN. media atau khalayak menggunakan media sebagai pemuas kebutuhannya. Sumber

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan media massa saat ini, khususnya media elektronik televisi telah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Pemasaran merupakan segala kegiatan usaha untuk membujuk,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. communicatio yang diturunkan dari kata communis yang berarti membuat

BAB I PENDAHULUAN. maupun media elektronik mengalami kemajuan yang sangan pesat.

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. satunya melalui media massa, seperti televisi, radio, internet dan surat kabar.

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan bidang informasi dan komunikasi telah melahirkan peradaban

BAB 1 PENDAHULUAN. Televisi dapat dikatakan telah mendominasi hampir semua waktu luang setiap

BAB 1 PENDAHULUAN. berkembang sangat pesat. Apalagi banyak masyarakat yang membutuhkan teknologi itu

BAB. I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Semakin majunya perkembangan zaman, dunia teknologi pun ikut

BAB I PENDAHULUAN. media massa karena sifatnya yang lebih efisien dan cepat. Media massa kini tidak

BAB I PENDAHULUAN 1.1

BAB I PENDAHULUAN. meresap banyak informasi secara langsung dari media. berubah sesuai dengan situasi yang berlaku. 2 Komunikasi mengacu tindakan

BAB I PENDAHULUAN Latar Balakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. proses kehidupannya, manusia akan selalu terlihat dalam tindakan tindakan

BAB I PENDAHULUAN. katanya dari bahasa latin communicatio yang berarti proses penyampaian suatu. pernyataan oleh seseorang kepada orang lain.

BAB I PENDAHULUAN. seluruh dunia. Media televisi menjadi penting dari semua media yang ada di

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. yang lebih kuat dalam kapasitasnya tersebut, karena selain siaran dapat didengar

BAB I PENDAHULUAN. bergantung kepada dirinya sendiri, melainkan membutuhkan kehadiran orang lain.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat, yang pada masanya

BAB I PENDAHULUAN. disajikan. Begitu besar daya tarik media ini karena televisi mampu menyajikan

BAB 1 PENDAHULUAN. munculnya berbagai media komunkasi yang semakin canggih sehingga mampu

BAB I PENDAHULUAN. pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. menjawab pertanyaan berikut: Who Say What In Which Channel To Whom With

BAB I PENDAHULUAN. interaksi. Komunikasi dapat di lakukan secara verbal yaitu suatu bentuk

BAB I PENDAHULUAN. tingkat pengetahuan masyarakat. Sekarang ini, media memiliki andil yang. budaya yang bijak untuk mengubah prilaku masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. yang penting yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan umat

ANALISIS GENRE PROGRAM QUIZ SHOW BULAN NOVEMBER TAHUN 2013 PADA STASIUN TELEVISI SWASTA NASIONAL DI INDONESIA SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. dunia pertelevisian di Indonesia semakin hari semakin maju pesat. Pertelevisian indonesia semulanya

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi merupakan inti dari kehidupan. Dalam hidup, apa saja yang kita

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Teknologi dan media komunikasi saat ini berkembang sangat pesat. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. proses dimana komunikasi tersebut dicari, digunakan, dan dikonsumsi oleh. audiens, pusat dari komunikasi massa adalah media.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Komunikasi merupakan aktifitas manusia yang sangat penting, bukan

BAB 1 PENDAHULUAN. Komunikasi merupakan hal penting untuk dapat berinteraksi dengan orang lain maupun

BAB I PENDAHULUAN. pada potensi penerimaan negara khususnya pajak. Karena di dunia yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Informasi menjadi salah satu hal penting dalam kehidupan manusia, tak

BAB I PENDAHULUAN. hati, sikap, perasaan pikiran, ide, gagasan maupun informasi kepada orang lain

BAB I PENDAHULUAN. cara yang ditempuh untuk dapat berkomunikasi seperti melalui media massa,

BAB I PENDAHULUAN. tanpa butuh waktu lama, tenaga yang besar ataupun biaya mahal. Perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. tinggi dibanding dengan makhluk lainnya, karena manusia memiliki naluri dan akal

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan masyarakat. Televisi sebagai media massa memiliki

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Seiring dengan perkembangan zaman, segala sesuatu yang ada di

BAB 1 PENDAHULUAN. TVRI. Siaran perdananya menayangkan upacara peringatan Hari Kemerdekaan

BAB I PENDAHULUAN. bagian internal dari sistem tatanan kehidupan sosial manusia dan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Semakin berkembangnya stasiun TV di Indonesia, tidak dipungkiri

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Televisi adalah media elektronik yang akurat dan cepat dalam menyampaikan informasi kepada khalayak. Dikarenakan televisi memiliki daya tarik yaitu berupa suara dan gambar bergerak sehingga mampu menimbulkan kesan yang mendalam pada penonton. Hingga saat ini, masyarakat masih menggunakan televisi sebagai sarana hiburan dan informasi, walaupun media online juga turut menghiasi perkembangan zaman, dimana media tersebut dapat diakses dimana saja melalui komputer maupun smartphone. Kemampuan televisi mempengaruhi audiens dengan audio dan visual secara serentak dalam waktu bersamaan di tempat berbeda, dibandingkan radio. Jika radio mempunyai daya tarik kuat dikarenakan radio memiliki unsur-unsur kata, musik, sound effect, maka televisi memiliki daya tarik yang lebih kuat. Selain ketiga unsur tersebut, televisi juga memiliki unsur visual berupa gambar. Gambar ini bukan gambar mati, melainkan gambar hidup yang mampu menimbulkan kesan yang mendalam pada penonton. Sehingga televisi mampu mengubah perilaku khalayak yang menontonnya melalui acaraacara televisi yang disajikan. Siaran televisi sangat efektif dalam mengubah opini publik tentang gaya hidup masyarakat. Penonton televisi juga tidak mengenal usia, jenis kelamin, dan status sosial. Menurut data Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), saat ini terdapat 15 stasiun televisi nasional, yang terbagi menjadi satu stasiun televisi publik yaitu TVRI, dan stasiun televisi swasta meliputi : ANTV, Global TV, Indosiar, MNCTV, RCTI, SCTV, Trans TV, Trans 7, TVOne, RTV, Sindo TV, Kompas TV, dan Net. Dari segi kualitas program, KPI telah melakukan survey mengenai kualitas program televisi yang ditayangkan oleh seluruh televisi nasional (publik dan swasta) di Indonesia. Hasil survey menyebutkan, program acara disebut berkualitas atau berkualitas, jika nilai skor indeksnya minimal 4,0. Survei periode ini 1

memperlihatkan, nilai indeks kualitas program acara secara keseluruhan adalah 3,25. Angka ini memperlihatkan, secara umum kualitas program acara televisi masih di bawah standar kualitas dari KPI. Angka indeks 3,25 tersebut adalah angka rata-rata dari seluruh program acara televisi. Tidak semua program acara televisi dinilai tidak berkualitas oleh pemirsa televisi. Program acara televisi yang dinilai berkualitas (indeks di atas 4) adalah religi dan wisata / budaya, sisanya di bawah 4. Program acara dengan kualitas program tertidak berkualitas menurut responden pemirsa televisi adalah variety show, infotainment dan sinetron / film/ftv. Ketiga program acara ini mempunyai indeks kualitas di bawah 3 (http://kpi.go.id/download/pengumuman/hasil Survei Indeks Kualitas Program Televisi Periode Maret-April 2015.pdf, diakses tanggal 10 November 2015, pukul 22.00 WIB). Bedasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa program acara televisi di Indonesia semakin banyak dan beragam, terutama program acara televisi swasta yang menjamur, mulai dari program news (berita), hingga entertainment (hiburan) seperti games, variety show, talk show, sinetron, reality show, film televisi (FTV), komedi, ajang kompetisi menyanyi, stand up comedy, dan lain-lain. Seperti contoh acara sinetron bertemakan manusia setengah hewan yang ditayangkan di salah satu televisi swasta nasional Indonesia, pada akhirnya menjadi trend dan kemudian beberapa stasiun televisi mengikuti untuk membuat acara yang serupa. Hal ini terkait dengan salah satu tujuan televisi swasta yaitu meraih rating tertinggi dan mendapat keuntungan besar melalui audiens sebanyak-banyaknya, sehingga ada beberapa acara televisi yang dinilai KPI tidak begitu baik kualitasnya, bahkan tidak mendidik masyarakat. Berbeda dengan televisi swasta atau kabel, televisi publik seperti TVRI bersifat independen, netral, tidak komersial, sehingga program yang ditayangkan berfungsi memberikan layanan untuk kepentingan masyarakat. Pengelola program televisi publik menata acaranya dengan menekankan pada aspek pendidikan masyarakat yang bertujuan mencerdaskan audien. Program disusun bedasarkan 2

pada gagasan melestarikan dan mendorong berkembangnya budaya lokal, sejarah kebangsaan, dan sebagainya. Sumber pembiayaan media penyiaran publik di Indonesia berasal dari : iuran penyiaran yang berasal dari masyarakat, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sumbangan masyarakat, siaran iklan. Iuran dan sumbangan masyarakat itu merupakan bentuk dukungan masyarakat terhadap keberadaan televisi publik (Morrisan, 2008 : 100). TVRI menjadi salah satu direktorat di bawah Direktorat Jenderal (Dirjen) RTF (Radio, Televisi, Film). Posisi Dirjen RTF sendiri berada langsung di bawah Menteri Penerangan. TVRI pun diperbolehkan pendanaan dari APBN dan tidak lagi diperbolehkan memuat tayangan niaga (iklan). Kehadiran televisi swasta di tahun 1989 masih menguntungkan bagi TVRI. Pada masa itu televisi swasta masih harus merelai siaran berita dari TVRI, sehingga kedudukan TVRI masih cukup kuat di mata masyarakat. Karena tidak boleh beriklan, TVRI mendapatkan bagi hasil iklan dari televisi swasta sebesar 12,5% (Kasali, 2013 : 204). Seiring dengan perkembangan teknologi di TVRI dan perkembangan dunia musik Indonesia yang semakin cepat, muncul acara-acara baru yang mengisi siaran TVRI setiap malam. Konten program-program TVRI juga tengah mengalami perubahan. Saat pertama kali menjadi LPP, komposisi konten program siaran TVRI hampir merata untuk semua kategori yaitu informasi (34%), pendidikan (33%), hiburan (33%). Sejak tahun 2012, komposisi konten program berubah menjadi informasi (61,46%), pendidikan (17,50%), dan hiburan (21,60%) (Kasali, 2013 : 323). Dapat disimpulkan bahwa konten program hiburan di TVRI tidak sebanyak program informasi. Salah satu program acara hiburan yang masih bertahan sejak tahun 1964 hingga tahun 2016 adalah Kamera Ria. Kamera Ria adalah acara pelopor yang paling digemari, dan hingga tahun 1980-an tak mengalami perubahan berarti. Acara-acara hiburan yang ada di televisi saat ini, semua berawal dari acara Kamera Ria di TVRI, tidak hanya itu, acara Kamera Ria juga melahirkan penyanyi-penyanyi terkenal yang muncul di 3

layar televisi, Yuni Shara misalnya. Komedian seperti Sule juga mengawali karirnya di acara ini. Kamera Ria merupakan kerjasama antara Pusat Hankam ABRI dengan TVRI. Acara ini mulanya bertujuan sebagai hiburan semata. Namun kemudian berkembang sebagai wadah untuk menyampaikan pesan-pesan ABRI kepada masyarakat, dengan latar belakang fasilitas atau informasi mengenai dunia militer. Pesan-pesan tersebut kemudian dikemas lebih menarik dan disampaikan lewat lagu serta hiburan. Setiap episode nya Kamera Ria menampilkan artis dan penyanyi sebagai bintang tamu. Para penyanyi biasanya akan menyanyikan lagu dengan tema kebangsaan selama acara berlangsung (Kasali, 2013 : 281-283). Gambar 1.1 Top Program TVRI Desember 2015 Sumber : Data Olahan TVRI Program Acara Kamera Ria masuk ke dalam sepuluh besar pada top program TVRI bulan Desember tahun 2015, program ini ada di urutan ke-10 dengan jumlah rating 0.2, share 1.2, dan mampu meraih 128.000 penonton. Bedasarkan data yang diperoleh dari Litbang TVRI, pada bulan Desember tahun 2015, rating acara Kamera Ria mengalahkan acara-acara hiburan lainnya yang tayang di TVRI. 4

Memasuki usia TVRI yang ke-41 tahun, tampaknya TVRI mulai kehilangan pemirsa, sejak lahirnya televisi swasta yang diawali dengan RCTI pada tahun 1989, kemudian dilanjut pada tahun 1990, lahirnya SCTV, kehadiran stasiun televisi swasta akhirnya mengguncang kedudukan TVRI sebagai penguasa tunggal (Kasali, 2013 : 334). Masyarakat mulai membanding-bandingkan siaran yang disiarkan satu stasiun televisi dengan stasiun televisi lainnya. Sekarang ini, masyarakat cenderung lebih tertarik dengan program televisi swasta dibanding program TVRI, padahal TVRI adalah pelopor berdirinya stasiun televisi Indonesia. Sedangkan acara di televisi Indonesia yang meraih rating tertinggi menurut data Nielsen pada 8 September 2015, adalah Pangeran (SCTV) dengan rating 4,5; diikuti oleh Tukang Bubur Naik Haji (RCTI, 4,5), Rajawali (RCTI; 4,2), Preman Pensiun (RCTI; 3,9), Madun (SCTV; 3,8), Ashoka (ANTV; 3,1); Tukang Ojek Pengkolan (RCTI; 3,0), Cinta di Langit Taj mahal (ANTV; 2,9), Tujuh Manusia Harimau (RCTI; 2,8), Cansu Hazal (ANTV; 2,8) (http://www.kompasiana.com/adearmando24/mengapa-kpi-terus-menyalahkannielsen_55f15e92d492733d34cf8199, diakses tanggal 10 November 2015 pukul 22.00 WIB). Data Nielsen pada bulan April 2016 menunjukkan tiga acara yang meraih rating tertinggi yaitu sinetron anak jalanan (RCTI; 8.0/32.2), serial Bollywood Uttaran (ANTV; 4.4/25.3), sinetron Tukang Bubur Naik Haji (RCTI; 4.4/18.5) (http://www.mediaselebriti.com/2016/04/rating-tv-kamis-21-april-ratingjalanan.html, diakses tanggal 19 Mei 2015 pukul 22.41 WIB). 5

Gambar 1.2 Market share TVRI pada bulan Juli 2012 Sumber : Nielsen, Juli 2012. Laporan Pengukuran Kepemirsaan Televisi. Analisa Peforma TVRI Nasional. Bedasarkan data-data tersebut, sudah jelas menunjukkan bahwa rating acara TVRI saat ini dibawah acara-acara televisi swasta. Acara hiburan di televisi akhirakhir ini lebih digemari masyarakat, jumlah penonton acara hiburan lebih banyak, hal ini dilihat dari rating acara tertinggi adalah acara hiburan. Kamera Ria merupakan acara hiburan tertua yang masih tayang di televisi dan ratingnya termasuk rendah, tetapi, masih memiliki peluang untuk bisa menaikkan rating seperti acara-acara hiburan lainnya yang tayang di televisi swasta. Sebelum membuat sebuah program acara dibutuhkan perencanaan dan strategi komunikasi yang matang agar program acara dapat disukai oleh pemirsa. TVRI adalah stasiun televisi pertama di Indonesia yang merupakan lembaga penyiaran publik milik pemerintah yang lekat dengan image kuno dan kurang menarik untuk ditonton. Beberapa tahun belakangan, tampaknya pamor TVRI menurun. Padahal masyarakat sangat membutuhkan televisi publik yang independen, dan setia memberikan edukasi yang bermanfaat. Tentunya, harus melakukan strategi dari segi tampilan, juga harus memikirkan bagaimana memasarkan program acara tersebut agar dapat diketahui oleh masyarakat, sehingga menarik bagi pemirsa. Selain itu, persaingan ketat dalam industri penyiaran membuat TVRI harus memacu kreatifitas dan kualitas siaran agar mendapatkan kembali penontonnya. Sejak kehadiran televisi-televisi swasta tidak 6

dapat dipungkiri bahwa khalayak telah tersegmentasi. Televisi swasta bukanlah saingan TVRI, karena tujuan programnya berbeda. TVRI membuat program tetap pada konteks pendidikan, informasi, dan hiburan yang sehat dengan tujuan melayani kepentingan publik, sedangkan televisi swasta membuat program dengan tujuan mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya. Meskipun bukan pesaing, menghadapi siaran dari stasiun televisi swasta bukan hal yang ringan. Apalagi selera pemirsa berubah-ubah dari budaya lokal menuju budaya pop. Maka dari itu, yang perlu dilakukan TVRI adalah memperbaiki kemasan programnya. Kesuksesan stasiun televisi dapat diukur dari seberapa banyak audiens dari stasiun televisi tersebut. Hubungan televisi dengan audiens sangat kuat, dimana apabila televisi memiliki audiens yang cukup banyak maka para pengiklan akan banyak berdatangan. Hubungan yang kuat itu dapat terjadi apabila televisi tersebut dapat memuaskan kebutuhan audiens, apabila tidak dapat memuaskan, maka audiens dapat memindahkan channel ke televisi lain (Perebinossof,Gross,Gross,2005:134). Bedasarkan hal-hal tersebut, stasiun publik seperti TVRI harus memiliki strategi perancangan program yang jelas sebelum memproduksi program. Khususnya program hiburan, dimana program hiburan saat ini sangat beragam di televisi swasta dan berlomba-lomba menarik audiens. Tentunya dalam hal ini, TVRI memiliki strategi dalam merancang program hiburan unggulannya, salah satunya adalah Kamera Ria. Strategi program ini berupa perencanaan program yang mencakup pekerjaan mempersiapkan rencana jangka pendek, menengah, dan jangka panjang yang memungkinkan stasiun penyiaran untuk mendapatkan tujuan program yang ingin dicapai. Strategi program pada televisi publik harus disusun bersama direktur program dengan para manajer senior lainnya. Fungsi utama stasiun publik di Indonesia, sebagaimana disebutkan dalam undang-undang penyiaran, adalah memberikan layanan untuk kepentingan masyarakat. Hal ini merupakan faktor 7

pertama yang harus dipertimbangkan sebelum menyusun strategi program (Morrisan, 2008 : 101). Gambar 1.3 Coverage Area dan Coverage Population Sumber : Rhenald Kasali, Camera Branding: Cameragenic VS Auragenic, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2013) Sebenarnya, program hiburan TVRI masih memiliki peluang untuk bisa eksis layaknya program hiburan televisi swasta. Mengingat TVRI memiliki potensi coverage area yang menjangkau 65% populasi Indonesia (Kasali, 2013 : 136). Maka dari itu, diperlukan strategi-strategi khusus dalam merancang program acara. Strategi inilah yang digunakan agar bisa mempertahankan program agar tetap eksis dan dapat dinikmati oleh masyarakat, serta mampu meningkatkan audience share. Dari hasil survey yang dilakukan Nielsen, ditemukan bahwa audience share dan rating program-program tertentu di TVRI telah menunjukkan peningkatan meskipun jelas masih dapat dikembangkan lebih jauh lagi. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan kepada TVRI tentang bagaimana membuat strategi program acara televisi yang baik, dan bisa menaikkan rating program acara hiburan di TVRI, sehingga TVRI lebih dikenal oleh masyarakat sebagai televisi publik dengan acara acara nya yang tidak kalah menarik. 8

Bedasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk meneliti lebih dalam tentang strategi program acara TVRI, dengan mengangkat judul : STRATEGI PERANCANGAN PROGRAM ACARA HIBURAN DI TELEVISI PUBLIK INDONESIA (Studi Kasus Strategi Perancangan Program Acara Hiburan Kamera Ria di LPP TVRI Periode Desember 2015-April 2016) 1.2 Rumusan Masalah Pertanyaan yang hendak dijawab dari penelitian ini adalah : 1. Bagaimana perencanaan program acara hiburan Kamera Ria di TVRI? 2. Bagaimana TVRI memproduksi program acara hiburan Kameria Ria? 3. Bagaimana eksekusi program acara hiburan Kamera Ria di TVRI? 4. Bagaimana pengawasan program acara hiburan Kamera Ria di TVRI? 1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian Dalam penelitian ini ditetapkan tujuan untuk memfokuskan permasalahan dengan hasil akhir adalah laporan akhir. Adapun tujuan dari penulisan ini untuk: 1. Mengetahui perencanaan program hiburan Kamera Ria di TVRI 2. Mengetahui proses produksi program acara Kamera Ria di TVRI. 3. Mengetahui eksekusi program acara hiburan Kamera Ria di TVRI. 4. Mengetahui pengawasan program acara hiburan Kamera Ria di TVRI. 1.4 Manfaat Penelitian 1) Teoritis/akademis Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebuah wacana, literature, ataupun hal yang baru tentang skripsi ataupun tugas akhir (TA) dalam studi ilmu komunikasi khususnya konsentrasi broadcasting, serta memberikan wawasan yang bermanfaat mengenai proses atau kegiatan yang harus dilalui sebelum membuat program acara televisi. 9

2) Praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi mahasiswa atau umum yang ingin berkarir di dunia pertelevisian. Selain itu, juga dapat menjadi masukan bagi lembaga penyiaran televisi nasional Indonesia yaitu TVRI, tentang strategi program televisi yang baik agar dapat menaikkan rating acara. 1.5 Tahapan Penelitian Adapun tahap tahap yang harus dilakukan oleh peneliti pada saat melakukan penelitian kualitatif. Menurut Bogdan (1972) dalam Basrowi (2008 : 84-92), terdapat tiga tahapan dalam penelitian kualitatif yaitu tahap pralapangan, tahap kegiatan lapangan, dan tahap analisis intensif. Berikut adalah bagan yang menjelaskan tiga tahap tersebut : 10

Bagan 1.1 Tahapan Penelitian Menyusun Rancangan Penelitian Memilih Lapangan Penelitian Tahap Pra Lapangan Mengurus Perizinan Menjajaki dan Menilai Keadaan Lapangan Memilih dan Memanfaatkan Informan Menyiapkan Perlengkapan Penelitian Tahap Pekerjaan Lapangan Observasi Wawancara Mendalam Tahap Analisis Data Analisis Data Kesimpulan Sumber : Olahan Peneliti 11

a. Tahap Pralapangan Ada enam kegiatan yang harus dilakukan oleh peneliti dalam tahapan ini ditambah dengan satu pertimbangan yang perlu dipahami yaitu etika penelitian lapangan. Kegiatan dan pertimbangan diuraikan berikut ini : 1) Menyusun Rancangan Penelitian, meliputi : - Latar belakang masalah dan alasan penelitian - Kajian kepustakaan yang menghasilkan kesesuaian paradigma dengan fokus, rumusan masalah, hipotesis kerja, kesesuaian paradigm dengan teori substanti yang mengarahkan inkuiri. - Pemilihan lapangan atau setting penelitian - Penentuan jadwal penelitian - Pemilihan alat penelitian - Rancangan pengumpulan data - Rancangan analisis data - Rancangan perlengkapan (yang diperlukan dalam penelitian) - Rancangan pengecekan kebenaran data 2) Memilih Lapangan Penelitian 3) Mengurus Perizinan 4) Menjajaki dan Menilai Keadaan Lapangan 5) Memilih dan Memanfaatkan Informan 6) Menyiapkan Perlengkapan Penelitian b. Tahap Pekerjaan Lapangan Pada tahap ini, terlebih dahulu peneliti memahami latar penelitian dan mulai melakukan persiapan diri. Peneliti juga berinteraksi secara langsung dengan subjek penelitian dengan melakukan wawancara secara mendalam. Kemudian, berperan serta dalam mengumpulkan data, mencatat data yang diperlukan melalui dokumen-dokumen penting, laporan, gambar, dan foto. Setelah itu, peneliti melakukan analisis di lapangan, apabila peneliti sudah mulai mencatat serta mulai memberikan kode pada data, akan tampak bahwa ada kecocokan atau 12

ketidakcocokan dengan hipotesis kerja yang telah dirumuskan pertama kali di lapangan. c. Tahap Analisis Data Analisis data menurut Patton (1980 : 268) adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Prinsip pokok dari analisis data yang dilakukan oleh peneliti meliputi : konsep dasar, menemukan tema dan merumuskan hipotesis, dan bekerja dengan hipotesis. 1.6 Lokasi dan Waktu Penelitian 1.6.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kantor TVRI yang berlokasi di Jalan Gerbang Pemuda, Senayan, Jakarta. 1.6.2 Waktu Penelitian Penelitian ini mulai dilakukan pada bulan November tahun 2015 hingga bulan April tahun 2016. 13

Tabel 1.1 Waktu Penelitian Bulan Tahap Penelitian Kegiatan No v Tahap Menyusun Rancangan Perencanaan Penelitian Memilih Lapangan Penelitian Mengurus Perizinan Menjajaki dan Menilai Keadaan Lapangan Memilih dan Memanfaatkan Informan Menyiapkan Perlengkapan Penelitian Tahap Pekerjaan Lapangan Wawancara Narasumber Mengumpulkan Data De s Jan Feb Mar Apr Tahap Analisis Data Analisis Lapangan Analisis Data Manfaat Penelitian dan Kesimpulan Sumber : Olahan Peneliti 14