BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
RESPONDEN KEPALA SEKOLAH

A. PERENCANAAN PROGRAM

2. Akreditasi terhadap program dan satuan pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri yang berwenang sebagai bentuk akuntabilitas publik.

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN OLEH SATUAN PENDIDIKAN NONFORMAL

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2007 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2007 TENTANG

BUKU KERJA KEPALA SEKOLAH TK/RA,SD/MI/SDLB.SMP/MTs/ SMPLB, SMA/MA/SMK/MAK/SMALB Yang Bukan SBI

WALIKOTA TASIKMALAYA

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 11 B. TUJUAN 11 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 11 D. UNSUR YANG TERLIBAT 12 E. REFERENSI 12 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 12


1. Jatidiri prodi 2. Makna tatapamong 3. Tatapamong dalam konteks SNP 4. Tatapamong dalam perspektif kegiatan akreditasi BAN PT

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 50 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 51 D. UNSUR YANG TERLIBAT 51 E. REFERENSI 51 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 51

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 11 B. TUJUAN 11 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 11 D. UNSUR YANG TERLIBAT 12 E. REFERENSI 12 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 12

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 50 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 50 D. UNSUR YANG TERLIBAT 51 E. REFERENSI 51 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 51

BAB II TELAAH PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

STANDAR PENGELOLAAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 43 TAHUN 2012 TENTANG

KISI-KISI UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH/MADRASAH

BAB I PENDAHULUAN. Efektivitas proses..., Hani Khotijah Susilowati, FISIP UI, Universitas Indonesia

STANDAR PENGELOLAAN PEMBELAJARAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

STRATEGI PENCAPAIAN STANDAR PENGELOLAAN SMP

PANDUAN PENGELOLAAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) KEHUTANAN

BAB II DESKRIPSI SMA NEGERI RAYON 08 JAKARTA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

DIKLAT/BIMTEK KTSP 2009 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL HALAMAN 1

BAB 1 PENDAHULUAN. sesuai dengan UU No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah selanjutnya

FORM EDS KEPALA SEKOLAH

STMIK AKAKOM 2011 STANDAR AKADEMIK. Versi 1.0. PJM. Standar Akademik STMIK AKAKOM Halaman 1

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

ANALISIS STANDAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH. Oleh: Muhammad Faishal Haq, M.Pd.I

PEDOMAN STANDAR AKADEMIK STMIK SUMEDANG

KISI-KISI UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH/MADRASAH

II. TINJAUAN PUSTAKA

SOAL EDS ONLINE UNTUK KS.

BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 41 SERI E

BAB VII STANDAR PENGELOLAAN

STANDAR PENGELOLAAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

STANDAR PENGELOLAAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL UNIVERSITAS DIPONEGORO SPMI-UNDIP SM

Pangkalan Data Penjaminan Mutu Pendidikan. Negara Kesatuan Republik Indonesia. Panduan EDS Kepala Sekolah PADAMU NEGERI

AKREDITASI INSTITUSI PERGURUAN TINGGI TERBUKA JARAK JAUH

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

INTERNAL AUDIT CHARTER 2016 PT ELNUSA TBK

KATA PENGANTAR. menengah.

ANALISIS PELAKSANAAN PENGELOLAAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR MENGACU STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DI WILAYAH PESISIR

PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR : 54 TAHUN 2010 TENTANG

Kisi-Kisi Uji Kompetensi Kepala Sekolah, UKKS

BAB II TELAAH PUSTAKA DAN MODEL PENELITIAN

FORMAT 1. PENILAIAN BORANG INSTITUSI PERGURUAN TINGGI. Penilaian Dokumen Perorangan. Nama Perguruan Tinggi :... Nama Asesor :... Kode Panel :...

KEBIJAKAN MUTU AKADEMIK

BAB V PENYAJIAN DAN PEMBAHASAN. secara berurutan sebagaimana telah disajikan dalam

AKREDITASI PROGRAM STUDI DOKTOR

Latihan: UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH 2012

KEBIJAKAN AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA TAHUN

BERITA DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 34 TAHUN 2011 PERATURAN WALIKOTA SALATIGA NOMOR 34 TAHUN 2011

KONTRIBUSI SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL DALAM PENGEMBANGAN MUTU PERGURUAN TINGGI

AKREDITASI PROGRAM STUDI MAGISTER PSIKOLOGI PROFESI

BAB I PENDAHULUAN. pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Bab I Pendahuluan A. LATAR BELAKANG

LAPORAN PETA MUTU PENDIDIKAN KABUPATEN SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH BERBASIS SNP TAHUN 2016

STANDAR AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA

Bab I Pendahuluan 1 BAB I PENDAHULUAN

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 46 TAHUN 2014 TENTANG

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DAYANU IKHSANUDDIN BAU BAU

BAB 1. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. berbagai dimensi dalam kehidupan mulai dari politik, sosial, budaya, dan

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 51 B. TUJUAN 51 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 52 D. UNSUR YANG TERLIBAT 52 E. REFERENSI 52 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 53

PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 21 TAHUN 2009

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 64 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2018 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN KEDOKTERAN

SALINAN LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 12 TAHUN 2009 TANGGAL 4 MARET 2009

BUKU PROSEDUR MUTU SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL

BAB V PENUTUP. 5.1 Simpulan. 5.2 Implikasi

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

RENCANA STRATEGIS PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Lampiran KRITERIA EVALUASI. 1. Kriteria Evaluasi Ranah Konteks. Permendiknas no. 19 tahun 2007, tentang Standar Pengelolaan. A. Perencanaan Program

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

PENILAIAN AIPT. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Juli 2011 BAN-PT

PENILAIAN AIPT. Skor AIPT. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. Bobot (dalam %) 90

LAPORAN PETA MUTU PENDIDIKAN KABUPATEN DEMAK PROVINSI JAWA TENGAH BERBASIS SNP TAHUN 2016

LAPORAN PETA MUTU PENDIDIKAN KABUPATEN BLORA PROVINSI JAWA TENGAH BERBASIS SNP TAHUN 2016

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia bukan merupakan tugas yang

Independensi Integritas Profesionalisme

Standar Mutu Universitas dan Fakultas/Program

LANDASAN DAN PENTAHAPAN PERINTISAN SBI. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional

KEBIJAKAN NON AKADEMIK UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2007 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN OLEH PEMERINTAH DAERAH

KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

KRITERIA PENILAIAN STANDAR 2 : Tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan, dan penjaminan mutu

Kebijakan Sistem Penjaminan Mutu Internal di Universitas Kristen Indoneisa

BAB I PENDAHULUAN. seberapa besar tingkat kesesuaian penyelenggaraan pelayanan dengan nilai-nilai

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat

STANDAR PENGELOLAAN PEMBELAJARAN

AKREDITASI PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN

BERITA DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Good Governance Konsep pengelolaan pendidikan modern dengan prinsip desentralisasi mencakup dua konsep dasar, yaitu konsep tata pamong yang baik (good governance) dan Konsep Manajemen Efektif (Effective Management). Pengertian Governance dapat diartikan sebagai cara mengelola urusan-urusan publik (Mardiasmo, 2002:23). Sedangkan World Bank memberikan definisi governance sebagai the way state power is used in managing economic and social resources for development of society, sedangkan dalam buku Corporate Governance Concept and Model (2009:2) menyebutkan bahwa: kata governance merupakan kata benda (noun) yang bermakna pengelolaan. Di Indonesia, sebagian literatur menerjemahkan sebagai tata-kelola dan sebagian lainnya tata-pamong. Dalam hal ini governance dikaitkan dengan keterlaksanaan standar pengelolaan maka dapat diartikan sebagai tata pamong. Dalam hal ini keterlaksanaan standar pengelolaan mengacu pada good governance yang sering diartikan sebagai tata pamong yang baik. Tata pamong yang baik mencakup lima kriteria yaitu kredibilitas, transparansi, akuntabilitas, tanggungjawab, dan adil (BAN-PT 2010:17). Menurut Bhata (dalam Widodo 2011:1) Karakteristik Good governance terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut: 11

akuntabilitas (accountability), transparansi (transparancy), keterbukaan (openess), dan rule of law. Sementara menurut Ganie-Rochman (2000:151), menyebutkan ada empat unsur utama yaitu accountability, kerangka hukum (rule of law), informasi, dan transparansi. Menurut United Nations Development Programme (UNDP) sebagaimana dikutip dari Lembaga Administrasi Negara (2000:7) 12 karakteristik good governance antara lain: participation, rule of law, trancparency, responsiveness, consensus orientation, equity, effectiveness and efficiency, accountability, strategic vision. Untuk membangun good governance, sekolah/- madrasah harus memiliki kepemimpinan yang kuat (strong leadership) yang dapat mempengaruhi seluruh perilaku individu dan kelompok dalam pencapaian tujuan. Kepemimpinan yang kuat adalah kepemimpinan yang visioner (yang mampu merumuskan dan mengartikulasi visi yang realistik, kredibel, menarik tentang masa depan). Kepemimpinan efektif mengarahkan dan mempengaruhi perilaku semua unsur, mengikuti nilai, norma, etika, dan budaya organisasi yang disepakati bersama, serta mampu membuat keputusan yang tepat dan cepat. Tata pamong mampu memberdayakan sistem pengelolaan yang berorientasi pada prinsip pengelolaan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia. Tata pamong yang ada memungkinkan terbentuknya sistem administrasi yang berfungsi untuk memelihara efektivitas, efisiensi dan produktivitas dalam upaya perwujudan visi, pelaksanaan misi, dan pencapaian tujuan serta memelihara

integritas Sekolah/Madrasah. Implementasi good governance tercermin dari baiknya sistem pengelolaan fungsional sekolah/madrasah, yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengembangan staf, pengarahan, pengawasan, monitoring dan evaluasi, terutama dalam penggunaan sumber daya pendidikan, agar tercapai efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan. 2.2 Standar Pengelolaan Pendidikan Dua konsep dasar pengelolaan pendidikan modern yaitu: konsep tata pamong yang baik (good governance) dan Konsep Manajemen Efektif (Effective Management), membuat beberapa ahli memberikan pengertian dan sudut pandang yang berdeda-beda dalam mengartikan pengelolaan pendidikan. Namun demikian apabila dicermati subtansinya hampir sama. Hasibuan (1985:15) mengatakan, pengelolaan adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lain secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan. Pidarta (2004:3) menyatakan bahwa pengelolaan ialah proses mengintegrasikan sumber-sumber yang tidak berhubungan menjadi sistem total untuk menyelesaikan suatu tujuan. Sumber di sini mencakup orang-orang, alat-alat, media, bahan, uang dan sarana. Mulyono (2009:18) mendefinisikan pengelolaan sebagai sebuah proses yang khas yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan serta evaluasi yang dilakukan pihak pengelola organisasi 13

untuk mencapai tujuan bersama dengan memberdayakan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya. Dengan demikian pengelolaan pendidikan merupakan kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi pendidikan dengan memberdayakan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya. Standar Pengelolaan adalah Standar Nasional Pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. Standar Pengelolaan Pendidikan Oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah diatur dalam Permendiknas No. 19 Tahun 2007. Standar pengelolaan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, harus mampu mencerminkan enam komponen kegiatan penting Standar Pengelolaan Pendidikan meliputi: 1) Perencanaan Program, 2) Pelaksanaan Rencana Kerja, 3) Pengawasan dan Evaluasi, 4) Kepemimpinan Sekolah/Madrasah, 5) Sistem Informasi Manajemen, dan 6) Penilaian Khusus. Dalam pelaksanaannya akan disimplifikasi menjadi tiga yakni perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan dengan tidak mengesampingkan komponenkomponen tersebut. Perencanaan program, mengatur tentang visi, misi, tujuan, dan rencana kerja sekolah/- madrasah. Pelaksanaan rencana kerja mengatur halhal yang berkaitan dengan: (1) pedoman sekolah/- 14

madrasah, (2) struktur organisasi sekolah/madrasah, (3) pelaksanaan kegiatan sekolah/madrasah, (4) kesiswaan, (5) kurikulum dan kegiatan pembelajaran, (6) pendidik dan tenaga kependidikan, (7) sarana dan prasarana, (8) keuangan dan pembiayaan, (9) budaya dan lingkungan sekolah/madrasah, dan (10) peranserta masyarakat dan kemitraan sekolah/madrasah. Bagian pengawasan dan evaluasi mengatur tentang: (1) program pengawasan, (2) evaluasi diri, (3) evaluasi dan pengembangan KTSP, (4) evaluasi pendayagunaan pendidik dan tenaga kependidikan, dan (5) akreditasi sekolah/madrasah. Dalam penelitian ini akan membahas standar pengelolaan pendidikan pada lima komponen penting yaitu 1) perencanaan program sekolah/madrasah; 2) pelaksanaan rencana kerja sekolah/madrasah; 3) pengawasan dan evaluasi sekolah/madrasah; 4) kepemimpinan sekolah; 5) sistem informasi manajemen sekolah/madrasah; serta keterlaksanaan pedoman pengelolaan sekolah/madrasah yang merupakan bagian dari pelaksanaan rencana kerja. Komponen keenam yaitu Penilaian Khusus tidak disertakan dalam penelitian ini karena keberadaan sekolah/madrasah pengelolaannya mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan. 2.2.1 Perencanaan Program Perencanaan program sekolah merupakan upaya yang perlu dilakukan untuk membangun sekolah agar menjadi sekolah unggulan serta memiliki nilai tambah agar memiliki daya saing. Aminoto (dalam Usman, 15

2011:65) mengungkapkan, bahwa perencanaan adalah proses mempersiapkan kegiatan secara sistematik yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Perencanaan ialah sejumlah kegiatan yang ditentukan sebelumnya untuk dilaksanakan dalam suatu periode tertentu dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian perencanaan mengandung unsur: a) sejumlah kegiatan yang ditetapkan sebelumnya, b) adanya proses, c) hasil yang ingin dicapai, dan d) menyangkut masa depan dalam waktu tertentu. Permendiknas No. 19 Tahun 2007 mengatur penyusunan Perencanaan Program mewajibkan pengelola sekolah/madrasah merencanakan program yang diawali dengan merumuskan, menetapkan, dan mengembangkan visi sekolah/madrasah yang dijadikan sebagai cita-cita bersama warga sekolah/madrasah dan segenap pihak yang berkepentingan pada masa yang akan datang. Visi merupakan gambaran masa depan yang realistik, yang hendak diwujudkan dalam kurun waktu tertentu. Visi sekolah/madrasah harus mampu memberikan inspirasi, motivasi, dan kekuatan pada warga sekolah/madrasah serta segenap pihak yang berkepentingan. Selain itu juga mensyaratkan bahwa visi sekolah/madrasah dirumuskan berdasar masukan dari berbagai warga sekolah/madrasah dan pihakpihak yang berkepentingan, selaras dengan visi institusi di atasnya serta visi pendidikan nasional, dan visi sekolah/madrasah harus diputuskan oleh rapat dewan pendidik yang dipimpin oleh kepala sekolah/- madrasah dengan memperhatikan masukan komite 16

sekolah/marasah. Visi sekolah/madrasah harus disosialisasikan kepada warga sekolah/madrasah dan segenap pihak yang berkepentingan, dan ditinjau ulang atau dirumuskan kembali secara berkala sesuai dengan perkembangan dan tantangan di masyarakat. Langkah berikutnya adalah penyusunan misi. Muhaimin, et. al. (2011;165) mengungkapkan, bahwa: misi sekolah/madrasah dikembangkan dari kegiatan utama lembaga dengan memperhatikan visi yang telah ditetapkan. Misi harus merupakan hal-hal penting yang harus dilakukan oleh sekolah/madrasah dalam upaya mencapai visi. Kejelasan misi ditetapkan dengan mempertimbangkan rumusan penugasan (yang merupakan tuntutan tugas dari luar) dan keinginan dari dalam (antara lain berkaitan dengan visi ke masa depan dan situasi yang dihadapi saat ini). Dengan demikian misi adalah pernyataan yang ditetapkan dengan mempertimbangkan rumusan penugasan dan keinginan dari dalam (berkaitan dengan visi), serta memberi arah yang jelas yang akan ditempuh sekarang dan yang akan datang. Permendiknas No. 19 tahun 2007 mensyaratkan bahwa misi sekolah/madrasah harus memenuhi halhal sebagai berikut: 1) memberikan arah dalam mewujudkan visi sekolah/ madrasah sesuai dengan tujuan pendidikan nasional; 2) merupakan tujuan yang akan dicapai dalam kurun waktu tertentu; 3) menjadi dasar program pokok sekolah/madrasah; 4) menekankan pada kualitas layanan peserta didik dan mutu lulusan yang diharapkan oleh sekolah/ madrasah; 5) memuat pernyataan umum dan khusus yang 17

18 berkaitan dengan program sekolah/madrasah; 6) memberikan keluwesan dan ruang gerak pengembangan kegiatan satuan-satuan unit sekolah/madrasah yang terlibat 7) dirumuskan berdasarkan masukan dari segenap pihak yang berkepentingan termasuk komite sekolah/ madrasah dan diputuskan oleh rapat dewan pendidik yang dipimpin oleh kepala sekolah/madrasah; 8) disosialisasikan kepada warga sekolah/madrasah dan segenap pihak yang berkepentingan; 9) ditinjau dan dirumuskan kembali secara berkala sesuai dengan perkembangan dan tantangan di masyarakat. Misi sekolah/madrasah merupakan tujuan yang akan dicapai dalam kurun waktu tertentu. Menurut Mulyono (dalam Haryono, 2010), tujuan merupakan apa yang akan dihasilkan oleh sekolah yang bersangkutan, dan kapan hasil tersebut akan dicapai. Tujuan sekolah/madrasah dalam standar pengelolaan pendidikan haruslah: 1) Menggambarkan tingkat kualitas yang perlu dicapai dalam jangka waktu menengah; 2) Mengacu pada visi, misi dan tujuan pendidikan nasional serta relevan dengan kebutuhan masyarakat; 3) Mengacu pada standar kompetensi lulusan yang sudah ditetapkan oleh sekolah/madrasah dan pemerintah; 4) Mengakomodasi masukan dari berbagai pihak yang berkepentingantermasuk komite sekolah/madrasah dan diputuskan oleh rapat dewan pendidik yang dipimpin oleh kepala sekolah; 5) Disosialisasikan kepada warga sekolah/madrasah dan segenap pihak yang berkepentingan. Pasal 53 ayat 1 PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyebutkan bahwa setiap satuan pendidikan dikelola atas dasar rencana kerja tahunan yang merupakan penjabaran rinci dari rencana kerja jangka menengah satuan pendidikan

yang meliputi masa 4 (empat) tahun. Rencana kerja tahunan dikategorikan sebagai rencana operasional, sedangkan rencana kerja jangka menengah sebagai kategori rencana strategik. Lebih jauh, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 19 Tahun 2007 menyatakan bahwa sekolah/madrasah wajib membuat: (1) Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) yang menggambarkan tujuan yang akan dicapai dalam kurun waktu 4 tahun yang berkaitan dengan mutu lulusan yang ingin dicapai dan perbaikan komponen yang mendukung peningkatan mutu lulusan; dan (2) Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang dinyatakan dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah/madrasah (RKA-S/M) dilaksanakan berdasarkan Rencana Kerja Jangka Menengah. Rencana kerja jangka menengah dan tahunan sekolah/madrasah haruslah disetujui oleh dewan pendidik setelah memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah dan disahkan berlakunya oleh dinas pendidikan kota/kabupaten. Pada sekolah/madrasah swasta rencana kerja disahkan berlakunya oleh penyelenggara sekolah/madrasah. Dengan kata lain RKJM dijabarkan secara rinci ke dalam rencana kerja tahunan atau yang dikenal sebagai Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah/ Madrasah (RKA-S/M). RKA-S/M merupakan rencana biaya dan pendanaan program/kegiatan secara rinci untuk satu tahun anggaran. RKA-S/M adalah dokumen anggaran sekolah resmi yang disetujui kepala sekolah serta disahkan Dinas Pendidikan setempat (bagi sekolah negeri), atau penyelenggara pendidikan/yayasan 19

(bagi sekolah swasta). Masa RKAS hanya berlaku untuk satu tahun ajaran yang akan datang, terdiri atas pendapatan dan belanja (pengeluaran). Pendanaan yang dicantumkan dalam RKAS hanya mencakup pengeluaran dalam bentuk uang yang akan diterima dan dikelola sekolah. Dengan adanya RKJM dan RKAS yang jelas, semua pihak yang berkepentingan (orang tua, guru, pegawai sekolah, komite sekolah, warga di sekitar sekolah, dan kepala sekolah sendiri) akan mengetahui apa yang dibutuhkan oleh sekolah, apa yang perlu dilakukan untuk memperbaiki keadaan sekolah, maksud dan tujuan yang akan dilakukan. Standar Pengelolaan Pendidikan yang diperinci ke dalam Instrumen Pemantauan dan Evaluasi Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (BSNP Tahun 2012) sebagai berikut: Dalam Perencanaan Program Sekolah, diawali dengan penetapan visi dan misi sekolah. Penetapan visi dan misi tersebut hendaknya memperhatikan masukan dari warga sekolah (orangtua peserta didik, komite sekolah dan tenaga kependidikan). Pengambilan keputusan atas visi dan misi haruslah melalui rapat dewan pendidik yang dipimpin oleh kepala sekolah dengan melibatkan komite sekolah. Visi dan misi harus sesuai dengan Tujuan Pendidikan Nasional, dan harus sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan. Tujuan sekolah hendaknya disosialisasi kepada warga sekolah. Peran dewan pendidik dan komite sekolah sangat penting dalam penyusunan rencana kerja jangka pendek (tahunan) 20

dan rencana jangka menengah (empat tahunan). Keterlibatan dewan pendidik dan komite sekolah dalam penyempurnaan rencana kegiatan dan angaran (kesiswaan, kurikulum dan kegiatan pembelajaran tenaga kependidikan dan prasarana, keuangan dan pembiayaan, peran serta masyarakat dan kemitraan). 2.2.2 Pelaksanaan Rencana Kerja Untuk mencapai tujuan dan sasaran, selanjutnya membuat strategi yang diperinci dalam kebijakan, program operasional dan kegiatan (Akdon, 2007:186). Dalam menjalankan kegiatan di sekolah agar terlaksana dengan baik dan sesuai dengan visi, misi dan tujuan maka perlu dilakukan upaya penyusunan rencana kerja sekolah sehingga sekolah memiliki rambu-rambu yang bisa dijadikan landasan dalam pengelolaan program, implementasi, monitoring dan evaluasi yang baik, terstruktur dan terukur. Dalam Permendiknas No. 19 tahun 2007 diuraikan 10 hal yang perlu dilakukan Sekolah/Madrasah dalam Pelaksanaan Rencana Kerja antara lain diuraikan sebagai berikut: 1) Pedoman Sekolah/Madrasah Sekolah/Madrasah membuat dan memiliki pedoman yang mengatur berbagai aspek pengelolaan secara tertulis yang mudah dibaca oleh pihak-pihak terkait. Pedoman Pengelolaan sekolah/madrasah meliputi: a. Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP) b. Kalender Pendidikan/Akademik 21

c. Struktur Organisasi Sekolah/Madrasah d. Pembagian Tugas diantara Guru e. Pembagian Tugas di antara Tenaga Kependidikan f. Peraturan Akademik g. Tata tertib sekolah/madrasah h. Kode etik sekolah/madrasah i. Biaya operasional sekolah/madrasah Pedoman sekolah ini berfungsi sebagai petunjuk pelaksanaan operasional. 2) Struktur Organisasi sekolah Berisi tentang sistem penyelenggaraan dan administrasi yang diuraikan secara jelas dan transparan 3) Pelaksanaan Kegiatan Sekolah/Madrasah Dilaksanakan berdasarkan Rencana Kerja Tahunan oleh penanggung jawab kegiatan yang didasarkan pada ketersediaan sumber daya yang ada. 4) Bidang Kesiswaan a. Sekolah/madrasah menyusun dan menetapkan petunjuk pelaksanaan operasional mengenai proses penerimaan peserta didik; b. Sekolah/Madrasah meberikan layanan konseling kepada peserta didik; c. melaksanakan kegiatan ekstra dan kokurikuler untuk para peserta didik; d. melakukan pembinaan prestasi ungulan; e. melakukan pelacakan terhadap alumni 5) Bidang Kurikulum dan Kegiatan Pembelajaran Menyusun: 22 a. Kurikulum Tingkat Satuan

b. Kalender Pendidikan c. Program Pembelajaran d. Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik e. Peraturan Akademik 6) Bidang Pendidikan dan Tenaga Kependidikan menyusun program pendayagunaan pendidik dan tenaga kependidikan dengan memperhatikan Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, dikembangkan sesuai dengan kondisi sekolah/ madrasah, termasuk pembagian tugas, mengatasi bila terjadi kekurangan tenaga, menentukan sistem penghargaan, dan pengembangan profesi bagi setiap pendidik dan tenaga kependidikan serta menerapkannya secara profesional, adil, dan terbuka. 7) Bidang Sarana dan Prasarana Menetapkan kebijakan program secara tertulis mengenai pengelolaan sarana dan prasarana yang mengacu pada Standar Sarana dan Prasarana dalam hal: merencanakan, memenuhi, mendayagunakan, mengevaluasi, memelihara, melengkapi fasilitas, menyusun skala prioritas pengembangan fasilitas sarana prasarana pendidikan. Seluruh program pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan disosialisasikan kepada pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik. Pengelolaan dilakukan secara sistematis, memiliki masterplan dan bagimana cara mencapainya secara tertulis. Bidang sarana dan prasarana bertanggung terhadap pengelolaan perpustakaan, pengelolaan laboratorium, dan Pengelolaan fasilitas fisik untuk kegiatan 23

ekstrakurikuler disesuaikan dengan perkembangan kegiatan ekstrakurikuler peserta didik dan mengacu pada Standar Sarana dan Prasarana. Pengelolaan laboratorium dikembangkan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta dilengkapi dengan manual yang jelas sehingga tidak terjadi kekeliruan yang dapat menimbulkan kerusakan. 8) Bidang Keuangan dan Pembiayaan Menyusun pedoman pengelolaan biaya investasi dan operasional yang mengacu pada Standar Pembiayaan. 9) Budaya dan Lingkungan Sekolah/Madrasah Sekolah/madrasah menciptakan suasana, iklim dan lingkungan pendidikan yang kondusif untuk pembelajaran yang efisien dalam pelaksanaan. Hal ini dapat di wujudkan melalui tata tertib sekolah/ madrasah dan kode etik sekolah/madrasah. 10) Peranserta Masyarakat dan Kemitraan Sekolah/ Madrasah Melibatkan warga dan masyarakat pendukung sekolah/madrasah dalam pengelolaan akademik dan non-akademik dibatasi pada kegiatan tertentu yang ditetapkan. Penyusunan rencana kerja sekolah akan memudahkan sekolah untuk mengetahui secara rinci tentang tindakan apa saja yang harus dilakukan supaya tujuan dan kewajiban sekolah tercapai. Dari sisi partisipasi, rencana kerja sekolah memberikan dukungan terhadap diperhitungkannya harapan- 24

harapan para pemangku kepentingan sekolah baik eksternal maupun internal, tanpa mengabaikan kondisi nyata sekolah. 2.2.3 Pengawasan dan Evaluasi Menurut Pidarta (2004:158), sasaran pengawasan ada dua yaitu: perilaku individu sebagai orang-orang yang memproses input menjadi output organisasi, serta output organisasi itu sendiri. Perilaku individu diarahkan agar berperilaku organisasi, sedangkan output organisasi diusahakan agar tidak menyimpang dari rencana semula. Dengan demikian, definisi pengawasan menurut Robbins seperti dikutip oleh Pidarta adalah: Proses memonitor aktivitas-aktivitas untuk mengetahui apakah individu-individu dan organisasi itu sendiri memperoleh dan memanfaatkan sumbersumber pendidikan secara efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuannya, serta memberikan koreksi apabila tidak tercapai. Pengawasan dan Evaluasi dalam standar pengelolaan pendidikan yang harus dilakukan oleh sekolah antara lain: Program Pengawasan; Evaluasi Diri; Evaluasi dan Pengembangan KTSP; Evaluasi Pendayagunaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan; dan Akreditasi Sekolah. Sekolah/Madrasah menyusun program pengawasan secara obyektif, dan berkelanjutan dan didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan. Pemantauan pengelolaan sekolah/madrasah dilakukan oleh komite sekolah atau pihak-pihak yang berkepentingan yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan untuk menilai efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas 25

pengelolaan. Supervisi pengelolaan akademik dilakukan secara teratur dan berkelanjutan oleh kepala sekolah/ madrasah dan pengawas sekolah/madrasah. Guru melaporkan hasil evaluasi dan penilaian sekurangkurangnya setiap akhir semester yang dilakukan kepada kepala sekolah/madrasah dan orang tua wali peserta didik. Pengawas sekolah melaporkan hasil pengawasan disekolah kepada bupati/walikota melalui Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan dan sekolah yang bersangkutan, setelah dikonfirmasi pada sekolah terkait. Pengawas madrash melaporkan hasil pengawasan di madrasah keoada kantor departemen Agama Kabupaten/Kota dan pada madrasah yang bersangkutan, setelah dikonfirmasi pada madrasah terkait. Setiap pihak yang menerima lapran hasil pengawasan menindaklanjuti laporan hasil pengawasan tersebut dalam rangka meningkatkan mutu sekolah/ madrasah, termasuk memberikan sanksi atas penyimpangan yang ditemukan. Sekolah/Madrasah mendokumentasikan dan menggunakan hasil pemantauan, supervisi, evaluasi, dan pelaporan serta catatan tindak lanjut untuk memperbaiki kinerja sekolah/madrasah, dalam pengelolaan pembelajaran dan pengelolaan secara keseluruhan. Evaluasi diri: dalam pelaksanaannya sekolah melakukan evalusi diri terhadap kinerja sekolah/madrasah; sekolah/madrasah menetapkan prioritas indikator untuk mengukur, menilai kinerja, dan melakukan perbaikan dalam rangka pelaksanaan Standar Nasional Pendidikan; sekolah/madrasah melaksanakan evaluasi 26

proses pembelajaran secara periodik pada akhir semester akademik; evaluasi program kerja tahunan secara secara periodik sekurang-kurangnya satu kali dalam setahun, pada akhir tahun anggaran sekolah- /madrasah. Evaluasi diri sekolah/madrasah dilakukan secara periodik berdasarkan data dan informasi yang sahih. Proses Evaluasi dan Pengembangan KTSP: dilaksanakan secara komprehensif dan fleksibel; berkala; integatif dan monolitik; serta menyeluruh dengan melibatkan berbagai pihak. Melakukan Evaluasi Pendayagunaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Akreditasi Sekolah/Madrasah: sekolah/madrasah menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk mengikuti akreditasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; sekolah meningkatkan status akrditasi, dengan menggunakan lembaga eksternal yang memiliki legitimasi; sekolah/madrasah harus terus meningkatkan kualitas kelembagaan secara holistik dengan menindaklanjuti saran-saran hasil akreditasi. 2.2.4 Kepemimpinan Sekolah Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang sangat berperan dalam sebuah organisasi. Keberhasilan organisasi mencapai tujuan yang telah ditetapkan akan sangat tergantung pada berperannya kepemimpinan. Kepemimpinan berkaitan dengan kepala sekolah dalam meningkatkan kesempatan untuk mengadakan pertemuan secara efektif dengan para 27

guru dalam situasi yang kondusif (Mulyono, 2009:144). Pola kepemimpinan yang diterapkan oleh kepala sekolah sebagai pemimpin akan sangat berpengaruh dalam menentukan arah dan kebijakan pendidikan yang dibangun. Dalam Permen nomor 19 Tahun 2007, Kepala sekolah dan wakil kepala sekolah memiliki kemampuan memimpin yaitu pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diwujudkannya dalam melaksanakan tugas keprofesionalan sesuai dengan Standar Pengelolaan Satuan Pendidikan. Kemudian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam pengelolaan Sekolah Dasar dan Menengah tahun1994, menjelaskan, bahwa: kepemimpinan pendidikan adalah kemampuan kepala sekolah untuk memberikan pengaruhpengaruh yang dapat menyebabkan guru tergerak untuk melaksanakan tugas dan kegiatan secara bersama-sama dalam mencapai tujuan pendidikan secara efesien dan efektif Kepala sekolah/madrasah dalam Permen 19 tahun 2007 memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: 28 a) Menjabarkan visi ke dalam misi target mutu; b) Merumuskan tujuan dan target mutu yang akan dicapai; c) Menganalisis tantangan, peluang, kekuatan dan kelemahan sekolah/madrasah; d) Membuat rencana kerja strategis dan rencana kerja tahunan untuk pelaksanaan peningkatan mutu; e) Bertanggung jawab dalam membuat keputusan anggaran sekolah/madrasah f) Melibatkan guru, komite sekolah dalam pengambilan keputusan penting sekolah/madrasah. g) Berkomunikasi untuk menciptakan dukungan intensif dari orang tua peserta didik dan masyarakat;

h) Menjaga dan meningkatkan motivasi kerja pendidik dan tenaga kependidikan dengan menggunakan sistem pemberian penghargaan atas prestasi dan sanksi atas pelanggaran peraturan dan kode etik; i) Menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif bagi peserta didik; j) Betanggung jawab atas perencanaan partisipatif mengenai pelaksanaan kurikulum; k) Melaksanakan dan merumuskan program supervisi, serta memanfaatkan hasil supervisi untuk meningkatkan kinerja sekolah/ madrasah; l) Meningkatkan mutu pendidikan; m) Memberikan teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang dibeikan kepadanya; n) Memfasilitasi pengembangan, penyebarluasan dan pelaksanaan visi pembelajaran yang dikomunikasikan dengan baik dan didukung oleh komunitas sekolah/madrasah; o) Membantu, membina, dan mempertahankan lingkungan sekolah/madrasah dan program pembelajaran yang kondusif bagi proses belajar peserta didik dan pertumbuhan profesional para guru dan tenaga kependidikan.; p) Menjamin manajemen organisasi dan pengoperasian sumber daya sekolah/madrasah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, efisien dan efektif q) Menjalin kerja sama dengan orang tua peserta didik dan masyarakat, dan komite sekolah/ madrasah menanggapi kepentingan dan kebutuhan komunitas yang beragam, dan memobilisasi sumber daya masyarakat; r) Memberi contoh/teladan/tindakan yang bertanggung jawab Kepala sekolah dapat mendelegasikan sebagian tugas dan kewenangan kepada wakil kepala sekolah/- madrasah sesuai dengan bidangnya. 2.2.5 Sistem Informasi Manajemen Sistem informasi manajemen saat ini sudah menjadi kebutuhan yang cukup penting bagi sekolah, 29

dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan informasi kepada semua komponen sekolah, terutama bagi semua siswa, orang tua siswa, guru, dan pengelola sekolah. Sistem berasal dari Bahasa Yunani, yaitu Systema yang mempunyai arti: (1) suatu keseluruhan yang tersusun dari sekian banyak bagian, dan (2) hubungan yang berlangsung di antara satuan-satuan atau komponen-komponen secara teratur (Depdiknas, 2007). Sedangkan informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerima (Depdiknas, 2007). Sementara itu Hasibuan (2013) menyatakan, bahwa manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sistem informasi manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Apabila dikaitkan dengan sekolah, maka sistem informasi manajemen sekolah adalah suatu cara mengatur proses pemanfaatan data yang berasal dari berbagai kegiatan yang dijalankan oleh sekolah antara lain meliputi, penilaian siswa, penggajian guru, perpustakaan, administrasi, operasional sekolah dan lain-lain, secara efektif dan efisien agar dapat dipergunakan oleh pihakpihak yang membutuhkan. Agar dapat tercapai hasil yang maksimal, pengelolaan dapat dilakukan dengan menerapkan sistem komputerisasi bagi masing-masing kegiatan yang kemudian digabung menjadi satu 30

kesatuan sistem yang akan mengelola sekolah secara keseluruhan. Kurniawan (2002) menyatakan, bahwa Sistem Informasi Manajemen (SIM) merupakan sebuah sistem terstruktur yang digunakan untuk mengelola data secara komputerisasi. Didalam SIM terdapat beberapa fungsi yang dibutuhkan yaitu pencarian, pemutakhiran, presentasi data dan penyimpanan data. Dengan demikian dapat diharapkan dengan SIM dapat dikaitkan untuk mempermudah penyusunan informasi manajemen sekolah agar terstruktur dengan baik. Dengan informasi-informasi tersebut dapat membantu untuk menggambarkan keadaan sekolah baik dari segi visi maupun sumber daya manusia yang ikut berpartisipasi. Dengan diterapkannya SIM sekolah/madrasah berbasis teknologi informasi akan memberi peluang: 1) Sekolah/madrasah untuk: a. mengelola SIM yang memadai guna mendukung administrasi pendidikan yang efektif, efisien, dan akuntabel; b. menyediakan fasilitas informasi yang efektif, efisien, dan mudah diakses; c. menugaskan seorang guru atau tenaga kependidikan untuk melayani permintaan informasi maupun pemberian informasi atau pengaduan dari masyarakat berkaitan dengan pengelolaan sekolah/madrasah baik secara 31

32 lisan maupun tertulis dan semuanya direkam dan didokumentasikan; dan d. melaporkan data informasi sekolah/madrasah yang telah terdokumentasikan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. 2) Komunikasi antar warga sekolah/madrasah di lingkungan sekolah/madrasah dilaksanakan secara efektif dan efisien. 2.3 Akreditasi Satuan Pendidikan Akreditasi adalah benchmark yang sangat positif dalam upaya meningkatkan mutu sekolah yang bersifat berkelanjutan. Sekolah bermutu terpadu merupakan bagian dari prinsip Total Quality Manajemen (TQM). Salis (2006) menuliskan, TQM merupakan suatu prinsip yang efisien untuk melakukan pelayanan mutu terus-menerus. Umiarso dan Gojali (2010) berpendapat bahwa peningkatan mutu dalam pendidikan dapat dilakukan dengan melalui prinsip TQM. Prinsip tersebut antara lain fokus pada pelanggan pendidikan, gaya kepemimpinan kepala sekolah, dan pelibatan anggota sekolah dalam kegiatan di luar tanggung jawab proses belajar mengajar serta dibutuhkan perbaikan terus-menerus, perlu juga menjalin hubungan baik antara pihak sekolah dengan pengguna jasa pendidikan. Akreditasi merupakan kegiatan penilaian yang dilakukan oleh pemerintah atau lembaga mandiri yang berwenang untuk menentukan kelayakan program atau satuan pendidikan berdasarkan kriteria yang telah

ditetapkan, sebagai bentuk akuntabilitas publik dengan menggunakan instrumen dan kriteria yang mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan. Akreditasi pada satuan pendidikan memberikan informasi bahwa sebuah sekolah atau program telah memenuhi standar kelayakan dan kinerja yang telah ditentukan. Dalam Pasal 60 Undang-Undang N0.20 tahun 2003 yang menyebutkan bahwa sekolah perlu diakreditasi karena: a. Akreditasi dilakukan untuk menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan non formal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. b. Akreditasi terhadap program dan satuan pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri yang berwewenang sebagai bentuk akuntabilitas publik. c. Akreditasi dilakukan atas dasar kriteria yang bersifat terbuka. Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (2009) menyatakan, bahwa akreditasi dilaksanakan dalam rangka: 1) Memberi informasi bahwa sebuah sekolah atau program telah memenuhi standar kelayakan dan kinerja yang telah ditentukan. 2) Membantu sekolah melakukan evaluasi diri dan menentukan kebijakan sendiri dalam upaya peningkatan mutu. 3) Membimbing calon peserta didik, orang tua, dan masyarakat untuk mengidentifikasi sekolah bermutu yang dapat memenuhi kebutuhan individual terhadap pendidikan termasuk mengidentifikasikan sekolah yang 33

memiliki prestasi dalam suatu bidang tertentu yang mendapat pengakuan masyarakat. 4) Membantu sekolah dalam menentukan dan mempermudah transfer peserta didik dari satu sekolah ke sekolah lain, pertukaran guru, dan kerjasama yang saling menguntungkan. 5) Membantu mengidentifikasi sekolah dan program dalam rangka pemberian bantuan pemerintah, investasi dana swasta dan donator atau bentuk bantuan lainnya. Bagi Sekolah hasil akreditasi memiliki makna yang penting, karena ia dapat digunakan sebagai: 1) Acuan dalam upaya peningkatan mutu sekolah dan rencana pengembangan sekolah. 2) Umpan balik untuk usaha pemberdayaan dan pengembangan kinerja warga sekolah dalam rangka menerapkan visi, misi, tujuan, sasaran, strategi dan program sekolah. 3) Pendorong motivasi untuk sekolah agar terus meningkatkan mutu sekolahnya secara bertaha, terencana, gradual dan kompetitif di tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional bahkan regional dan internasional; 4) Bahan informasi bagi sekolah sebagai masyarakat belajar untuk meningkatkan dukungan dari pemerintah, masyarakat maupun sektor swasta dalam hal profesionalisme, moral, tenaga, dan dana. (BSNP 2010). Badan Akreditasi Sekolah Nasional (2004) mengemukakan prinsip-prinsip dalam melaksanakan akreditasi sekolah adalah sebagai berikut: 34

1) Obyektif Berbagai aspek yang terkait dengan kinerja dan kelayakan diperiksa untuk memperoleh informasi tentang keberadaan yang menggambarkan kondisi yang sebenarnya dan dibandingkan dengan kondisi yang diharapkan. Dalam prosesnya digunakan indikator-indikator yang dikaitkan dengan kriteriakriteria yang diinginkan sebagai dasar penilaian. 2) Efektif Hasil yang diperoleh harus mampu memberikan informasi yang bisa digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan yang tepat oleh pihak-pihak yang terkait, seperti kepala sekolah dalam rangka melakukan perencanaan atau peningkatan mutu, dan pihak pemerintah maupun masyarakat dalam rangka memfasilitasi upaya peningkatan kelayakan dan kinerja sekolah itu. 3) Komprehensif Dalam pelaksanaan akreditasi sekolah meliputi berbagai aspek yang bersifat menyeluruh. Dengan demikian hasil yang diperoleh dapat menggambarkan secara utuh kondisi kelayakan dan kinerja sekolah tersebut. 4) Memandirikan Kewenangan melakukan akreditasi sekolah berada pada lembaga eksternal di luar sekolah itu yang secara teknis bersifat mandiri. Namun demikian, proses analisis meliputi evaluasi diri oleh sekolah dengan menggunakan instrumen yang disediakan oleh lembaga eksternal tersebut. Hasil evaluasi dapat digunakan untuk menentukan tingkat kelayakan 35

sekolah dibandingkan standar kelayakan nasional yang dijadikan pagu. Proses akreditasi akan berdampak bagi sekolah yang bersangkutan untuk dapat mengetahui kekuatan dan kelemahannya, dan berupaya memperbaiki dan meningkatkan mutu kelayakan dan kinerjanya. 5) Keharusan Akreditasi dilakukan untuk setiap sekolah, baik sekolah negeri maupun swasta. Namun demikian sekolah yang akan diakreditasi dapat mengajukan permohonan terlebih dahulu kepada Badan Akreditasi Sekolah. Sekolah yang belum siap dapat mengajukan permohonan untuk menunda pelaksanaan akreditasi. 2.4 Keterlaksanaan Antara SMA Terakreditasi A dengan Terakreditasi B Asmani (2010:175-198) membahas secara tidak langsung kaitan antara keterlaksanaan standar pengelolaan pendidikan dengan akreditasi sekolah. Dua profil sekolah yang dibahasnya di dalam buku yang berjudul Tips Lulus Akreditasi Sekolah/Madrasah Panduan Manajemen Mutu Sekolah/Madrasah Berorientasi Kompetitif yaitu SMP Maarif NU Pandaan Pasuruan Jawa Timur, SD Muhammadiyah 15 Surabaya, menunjukkan bahwa sekolah yang terakreditasi A melaksanakan komponen standar pengelolaan pendidikan dengan baik. Terdapat pembahasan mengenai bagian-bagian dari standar pengelolaan pendidikan yang menonjol dari kedua profil sekolah di atas, diantaranya seperti 36

kekuatan mereka dalam mewujudkan manajemen profesional yang sangat dominan. Hal ini dilihat dari pola manajemen yang dinamis, efektif, dan antisipatif. Sekolah tersebut mampu merespon tantangan eksternal dan internal dengan cepat, bahkan mampu melakukan ekspansi keluar demi pengembangan kelembagaan. Selain itu kaderisasi berjalan dengan baik dan monitoring serta evaluasi terus dilakukan. Kepala sekolah sebagai pemegang otoritas tidak otoriter dan sentralistik. Ada pembagian kerja sesuai dengan aturan yang ada sehingga masing-masing pihak bekerja dalam koridor yang jelas dan tidak terjadi tumpang tindih. Penjelasan ini memberi keterangan bahwa sekolah yang terakreditasi A memiliki tata kelola yang baik. Tidak ada pembahasan yang menunjukkan sekolah terakreditasi B dijadikan dasar pembahasan untuk acuan keterlaksanaan standar pengelolaan pendidikan. Dasar ini digunakan untuk membentuk sebuah hipotesis yang menunjukkan bahwa ada perbedaan dalam keterlaksanaan standar pengelolaan pendidikan antara Sekolah yang terakreditasi A dan Sekolah terakreditasi B. Dalam melakukan akreditasi sekolah/madrasah, kebutuhan akan data atau dokumen penunjang dalam bentuk bukti fisik sangat mutlak diperlukan. Tanpa adanya data atau dokumen penunjang, BAS-S/M tidak dapat menilai dan memberikan akreditasi terhadap suatu sekolah/madrasah. Data atau dokumen penunjang dikembangkan berdasarkan standar dan parameter penilaian yang dikembangkan oleh badan 37

akreditasi. Data atau dokumen penunjang berisi kumpulan data dan informasi mengenai masukan, proses, keluaran, hasil dan dampak yang bercirikan upaya untuk meningkatkan mutu kinerja, keadaan dan perangkat kependidikan sekolah/madrasah secara berkelanjutan. Yang dinilai adalah: (1) Kinerja pengelolaan sekolah berdasarkan kerja tim dan kemitraan yang kuat dengan visi dan misi yang jelas dan diketahui oleh semua pihak; (2) Rencana kerja sekolah mencantumkan tujuan yang jelas untuk program peningkatan dan perbaikan berkelanjutan yang tersosialisasi dengan baik; (3) Rencana kerja sekolah berdampak terhadap peningkatan hasil belajar; (4) Pengumpulan dan penggunaan data yang handal dan valid; (5) Pemberian dukungan dan kesempatan kesempatan pengembangan profesi bagi para pendidik dan tenaga kependidikan; dan (6) Masyarakat mengambil bagian dalam kehidupan sekolah. Akreditasi sebagai proses penilaian terhadap kelayakan dan kinerja sekolah merupakan kegiatan yang bersifat menyeluruh dalam memotret kondisi nyata sekolah dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan. Hasil penilaian berupa kualifikasi seperti tampak pada Tabel 2.1. berikut: 38

Tabel 2.1 Kualifikasi Penilaian Akreditasi Aspek Kualifikasi A Kualifikasi B Visi dan Misi sekolah Merumuskan dan merumuskan dan menetapkan visi menetapkan visi, dan misi, mudah msi, mudah dipahami dipahami dan sering dan pernah disosialisasikan disosialisasikan. Tujuan sekolah Merumuskan dan menetapkan tujuan sekolah, mudah dipahami dan sering disosialisasikan. Rencana kerja Memiliki pedoman tertulis yang mengatur pengelolaan sekolah Struktur organisasi Memiliki rencana jangka menengah dan rencana kerja tahunan dan sudah disosialisasikan. Memiliki 7 aspek atau lebih Memiliki struktur organisasi yang dipajang di dinding dan disertai uraian tugas yang jelas. Kegiatan sekolah Sebanyak 76% - 100 % kegiatan sesuai dengan rencana kerja tahunan. Kegiatan kesiswaan Melaksanakan 4 atau lebih kegiatan kesiswaan. Kegiatan pengembangan kurikulum dan pembelajaran Program pendayagunaan pendidik dan tenaga kependidikan. Program sarana dan prasarana. Program pengelolaan pembiayaan pendidikan. Menciptakan suasana, iklim, dan lingkungan pembelajaran Melaksanakan 4 kegiatan atau lebih. Melaksanakan 4 program atau lebih. Mengelola 4 program atau lebih. Memiliki 4 program atau lebih. Melaksanakan 4 kegiatan atau lebih. Merumuskan dan menetapkan tujuan sekolah, mudah dipahami dan pernah disosialisasikan. Memiliki rencana jangka menengah dan rencana kerja tahunan dan belum disosialisasikan. Memiliki 5 atau 6 aspek Memiliki struktur disertai uraian tugas yang jelas Sebanyak 51% - 75 % kegiatan sesuai dengan rencana kerja tahunan. Melaksanakan 3 kegiatan kesiswaan. Melaksanakan 3 kegiatan. Melaksanakan 3 program. Mengelola 3 program. Memiliki 3 program. Melaksanakan 3 kegiatan. 39

Aspek Kualifikasi A Kualifikasi B yang kondusif. Dokumen tentang keterlibatan masyarakat pendukung dan membangun kemitraan dengan lembaga lain yang relevan dalam pengelolaan pendidikan. Program pengawasan Evaluasi diri Evaluasi kinerja pendidik dan tenaga kependidikan. Unsur pelaksanaan akreditasi Tupoksi kepemimpinan kepala sekolah Sistem informasi Memiliki 4 dokumen atau lebih. Memiliki 4 dokumen atau lebih. Melaksanakan evaluasi diri setidak-tidaknya sekali dalam satu semester. Melaksanakan 4 program evaluasi Mempersiapkan 4 unsur pelaksanaan akreditasi. Melaksanakan 15-18 tupoksi Memiliki sistem informasi dan memiliki fasilitas dan petugas khusus. Memiliki 3 dokumen. Sumber: BAN S/M 2014, Instrumen Akreditasi SMA Memiliki 3 dokumen. Melaksanakan evaluasi diri setidaktidaknya sekali dalam dua semester. Melaksanakan 3 program evaluasi Mempersiapkan 3 unsur pelaksanaan akreditasi. Melaksanakan 11-14 tupoksi Memiliki sistem informasi tetapi tidak memiliki petugas khusus. Dalam melaksanakan penjaminan mutu Standar Pengelolaan Pendidikan, sekolah perlu memperhatikan dua hal. Pertama, kriteria minimal yang harus dicapai berdasarkan Permendiknas No. 19 Tahun 2007, indikator operasional, dan kriteria pencapaian tujuan. Kedua, sekolah perlu memperhatikan indikator dan kriteria keunggulan tingkat satuan pendidikan sehingga sekolah dapat memiliki target yang lebih tinggi daripada kriteria pada Standar Nasional Pendidikan (SNP). 40

2.5 Penelitian-penelitian sebelumnya dan literatur yang mendukung Penelitian tentang Standar Pengelolaan Pendidikan sebelumnya pernah dilakukan oleh Haryono (2010) di SMK Farmasi Semarang, dengan hasil analisis: sekolah belum melakukan pengelolaan pendidikan sesuai dengan Standar Pengelolaan Pendidikan secara maksimal, sekolah yang diteliti kurang memahami Standar Pengelolaan Pendidikan. Selanjutnya dalam penelitiannya ia menemukan bahwa dari 5 komponen Standar Pengelolaan Pendidikan, yang belum berjalan sama sekali adalah komponen Sistem Informasi Manajemen. Sedangkan Komponen Pelaksanaan Rencana Kerja dan Kepemimpinan Sekolah pelaksanaannya cukup baik (diatas 50%), sedangkan Komponen Perencanaan Program dan Pengawasan dan Evaluasi pelaksanaannya masih kurang (di bawah 50%). Hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa di SMK Farmasi Semarang terdapat 2 Komponen dalam Standar Pengelolaan Pendidikan yang pelaksanaannya masih kurang baik. Penelitian Subagyo (2013) dilakukan untuk mengetahui signifikansi perbedaan keterlaksanaan Standar Pengelolaan Pendidikan SD/MI terakreditasi A dan B di Kota Salatiga Berdasarkan Permendiknas RI Tahun 2007. Penelitian ini menggunakan Metode kuantitatif dengan cara mengisi angket tentang standar penge-lolaan penfifikan yang disusun BNSP. Penelitian yang dilakukan pada para kepala SD/MI sebanyak 70 Kepala Sekolah yang terdiri dari 33 orang kepala dari 41

SD/MI terakreditasi A (Sangat Baik) dan 37 orang kepala dari SD/MI terakreditasi B (Baik). Dari penelitian itu diperoleh: Nilai rerata (Mean) sekolah terakreditasi A adalah 232,667 ada pada kategori Baik, sedangkan nilai rerata (Mean) sekolah terakreditasi B adalah 231,946 ada pada kategori Baik. Nilai tes uji beda (t- test) koefisien t = 0,425; p = 0,674 > 0,05. Hasil penelitian ditemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara SD/MI terakreditasi A dengan SD/MI terakreditasi B dalam keterlaksanaan Standar Pengelolaan Pendidikan di Kota Salatiga. Dari penelitian tersebut, Subagyo memberi sudut pandang bahwa tidak ada perbedaan keterlaksanaan standar pengelolaan pendidikan di Sekolah terakreditasi A dan B. Sementara haryono menegaskan SMK Farmasi Yayasan Pharmasi Semarang belum melakukan pengelolaan pendidikan sesuai dengan Standar Pengelolaan Pendidikan secara maksimal. Hal tersebut menunjukkan bahwa keterlaksanaan Standar Pengelolaan Pendidikan belum terlaksana dengan baik. Sa ud, et. al dalam penelitian yang berjudul Pengaruh Akreditasi Terhadap Mutu Pendidikan (Studi Tentang Pengaruh Akreditasi Terhadap Mutu Pendidikan Di Sekolah Menengah Atas Se-Kota Bandung), Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pengaruh akreditasi sekolah terhadap peningkatan mutu pendidikan SMA di Kota Bandung. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis korelasi. Pengujian hipotesis menggunakan uji-f, hasilnya menunjukkan bahwa akreditasi sekolah 42

berpengaruh terhadap peningkatan mutu pendidikan sebesar 63,6%. BSNP (2012) Naskah Standar Pengelolaan Pendidikan ini berisi tentang: Perencanaan Program Sekolah, Pendayagunaan Guru dan Tenaga Kependidikan, Pengelolaan Sarana Prasarana, Kegiatan Pembelajaran, Penilaian Hasil Belajar dan Pengawasan di Sekolah/- madrasah (BNSP 2012). Literatur di atas menjadi bahan kajian dan pedoman dalam penelitian ini. 2.6 Kerangka Pikir Kerangka pikir penelitian ini dikembangkan berdasarkan Standar Nasional Pendidikan dalam rangka penjaminan pendidikan bermutu. Pada penelitian Keterlaksanaan Standar Pengelolaan Penidikan Peneliti akan melihat pada sisi yang berbeda dengan melakukan analisis deskriptif dan analisis komparatif dengan Uji t pada SMA Terakreditasi A dan SMA Terakreditasi B di Kabupaten Semarang. Adapun kerangka pemikiran teoretis Keterlaksanaan Standar Pengelolaan Pendidikan di SMA Terakreditasi adalah sebagai berikut: 43

Standar Nasional Pendidikan Standar Penjaminan Mutu Standar 6: Standar Pengelolaan Pendidikan 1. Perencanaan Program 2. Pelaksanaan Rencana Kerja 3. Pengawasan dan Evaluasi 4. Kepemimpinan Sekolah 5. Sistem Informasi Manajemen Pelaksanaan Pengelolaan Pendidikan StakeHolder dan Pihak Sekolah Keterlaksanaan Standar PengelolaanPendidikan SMA Terakreditasi A SMA Terakreditasi B Analisis Komparatif: Perbedaan Keterlaksanaan Standar Pengelolaan Pendidikan Gambar. 2.1 Kerangka Pikir 44