Sepenggal kisah tentang Tribo

dokumen-dokumen yang mirip
TRIBOLOGI, DAERAH PELUMASAN DAN KEAUSAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH BEBAN TERHADAP KOEFISIEN GESEK PADA SLIDING CONTACT FASE RUNNING-IN DENGAN TRIBOMETER PIN-ON-DISC

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang.

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: ( Print) F-316

BAB I PENDAHULUAN. (a) (b) (c)

ANALISA KEAUSAN CYLINDER BEARING MENGGUNAKAN TRIBOTESTER PIN-ON- DISC DENGAN VARIASI KONDISI PELUMAS

BAB II RUNNING-IN PADA KONTAK ROLLING SLIDING

Gesekan. Hoga Saragih. hogasaragih.wordpress.com

ANALISA PENGARUH VISKOSITAS LUBRICANT PADA BEARING TERHADAP JUMLAH PUTARAN DAN DAYA YANG DITRANSMISIKAN

JURNAL TEKNIK ITS VOL.5, No.2, (2016) ISSN: ( Print)

STUDI EKSPERIMEN PENGARUH BEBAN TERHADAP PERUBAHAN KOEFISIEN GESEK PADA ROLLING CONTACT DENGAN TRIBOMETER PIN- ON- DISC FASE RUNNING-IN

BAB II TEORI KEAUSAN. 2.1 Pengertian keausan.

ANALISIS KEAUSAN ALUMUNIUM MENGGUNAKAN TRIBOTESTER PIN-ON-DISC DENGAN VARIASI KONDISI PELUMAS

ANALISA KEAUSAN KAMPAS REM PADA DISC BRAKE DENGAN VARIASI KECEPATAN. Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Wahid Hasyim 2

Studi Eksperimen Dan Analisa KeausanJournal Bearing Dry ContactPada Rotary Valve Mesin Pembuat Pasta

PERANCANGAN MESIN UJI TRIBOLOGI PIN-ON-DISC

Momentum, Vol. 11, No. 1, April 2015, Hal ISSN , e-issn

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Gesekan

PENGARUH PASIR TERHADAP PENINGKATAN RASIO REDAMAN PADA PERANGKAT KONTROL PASIF (238S)

Jenis Gaya gaya gesek. Hukum I Newton. jenis gaya gesek. 1. Menganalisis gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan mekanika benda titik.

Studi Eksperimental Keausan Permukaan Material Akibat Adanya Multi-Directional Contact Friction

LAPORAN PRA PRAKTIKUM FISIKA UMUM. GESEKAN STATIS DAN GESEKAN KINETIS Tanggal Pengumpulan : Senin, 28 November 2016

Menentukan Regime Pelumasan Pada Ball Bearing Dengan Menggunakan Kurva Stribeck

KARAKTERISASI KOEFISIEN GESEK PERMUKAAN BAJA ST 37 PADA BIDANG DATAR TERHADAP VISKOSITAS PELUMAS

BAB I PENDAHULUAN. (a) (b) (c)

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No. 1, (2014) ISSN: ( Print) B-108

ANALISIS KEAUSAN BALL BAJA ST 90 MENGGUNAKAN TRIBOTESTER PIN-ON- DISC DENGAN VARIASI KONDISI PELUMAS

RANCANG BANGUN TRIBOMETER TIPE PIN ON DISK DAN STUDI EKSPERIMENTAL KARAKTERISTIK TRIBOLOGI POLIMER POLIMER

ANALISA KEAUSAN POINT CONTACT MENGGUNAKAN TRIBOMETER PIN-ON-DISC DAN PEMODELAN GLOBAL INCREMENTAL WEAR MODEL DENGAN VARIASI PEMBEBANAN

GAYA DAN HUKUM NEWTON

UNIVERSITAS DIPONEGORO

ANALISIS PENGARUH TEKANAN DAN BEBAN PADA BAN TIPE RADIAL TERHADAP ROLLING RESISTANCE KENDARAAN PENUMPANG

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

PENGUKURAN GAYA GESEK STATIS PADA BERBAGAI MACAM BERAS

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1.1. Proses Pemesinan Milling dengan Menggunakan Mesin Milling 3-axis

KAJI EKSPERIMENTAL RUNNING-IN PADA KONTAK ROLLING-SLIDING PASANGAN MATERIAL ALUMINIUM DENGAN BAJA S45C

PETUNJUK UMUM Pengerjaan Soal Tahap II Semifinal Diponegoro Physics Competititon Tingkat SMA

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator

BAB 3 DINAMIKA. Tujuan Pembelajaran. Bab 3 Dinamika

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

MODUL MATA PELAJARAN IPA

PR I PERGERAKAN RODA KENDARAAN BERMOTOR AKIBAT GESEKAN

Laporan Praktikum Laboratorium Teknik Material 1 Modul A Uji Tarik

DINAMIKA GERAK FISIKA DASAR (TEKNIK SIPIL) Mirza Satriawan. menu. Physics Dept. Gadjah Mada University Bulaksumur, Yogyakarta

Gambar 1 Temporomandibular joint manusia

Studi Simulasi Stick-Slip Friction akibat Multi- Directional Contact Friction

Studi Eksperimen Pengaruh Durasi Gesek, Tekanan Gesek Dan Tekanan Tempa Pengelasan Gesek (FW) Terhadap Kekuatan Tarik dan Impact Pada Baja Aisi 1045

ANALISIS KELAYAKAN-PAKAI MINYAK PELUMAS SAE 10W-30 PADA SEPEDA MOTOR (4TAK) BERDASARKAN VISKOSITAS DENGAN METODE VISKOMETER BOLA JATUH

PERHITUNGAN KEAUSAN PADA SISTEM KONTAK ROLLING-SLIDING MENGGUNAKAN FINITE ELEMENT METHOD

BAB 4 GAYA DAN PERCEPATAN

BAB 3 DINAMIKA GERAK LURUS

BAB V Hukum Newton. Artinya, jika resultan gaya yang bekerja pada benda nol maka benda dapat mempertahankan diri.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sistem perawatan elemen mesin telah dikenal luas teknik

BAB III LANDASAN TEORI

HUKUM KEKEKALAN ENERGI MEKANIK

PENGARUH PUTARAN TERHADAP LAJU KEAUSAN Al-Si ALLOY MENGGUNAKAN METODE PIN ON DISK TEST

Gaya merupakan besaran yang menentukan sistem gerak benda berdasarkan Hukum Newton. Beberapa fenomena sistem gerak benda jika dianalisis menggunakan

BAB iv HUKUM NEWTON TENTANG GERAK & PENERAPANNYA

Kecepatan putaran poros / journal BAB I PENDAHULUAN

MENGETAHUI KOEFISIEN GESEK STATIK DAN KINETIS MELALUI KONSEP GERAK MELINGKAR BERATURAN

BAB IV HUKUM NEWTON DALAM GERAK

JURNAL ILMU BERBAGI. Mengenal Nanosains. Murni Handayani. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

HUKUM STOKES. sekon (Pa.s). Fluida memiliki sifat-sifat sebagai berikut.

SEMINAR NASIONAL ke-8 Tahun 2013 : Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi

BAB I PENDAHULUAN. Pendinginan dapat didefinisikan sebagai proses menghilangkan panas dari sebuah

PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAMBI 2016

HUKUM NEWTON B A B B A B

Bab 1 Besaran dan Pengukuran

BAB iv HUKUM NEWTON TENTANG GERAK & PENERAPANNYA

PENGUJIAN RUNNING-IN PADA KONTAK SLIDING ANTARA BOLA BAJA DENGAN PELAT KUNINGAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan manusia sehari-hari, selain itu jalan juga memegang peranan penting

Studi Eksperimental Laju Keausan (Specific Wear Rate) Resin Akrilik dengan Penambahan Serat Penguat pada Dental Prosthesis

BAB 2 GAYA 2.1 Sifat-sifat Gaya

DISTRIBUSI TEMPERATUR AREA PEMOTONGAN PADA PROSES DRAY MACHINING BAJA AISI 1045

CORRECTIVE MAINTENANCE BANTALAN LUNCUR LORI PABRIK KELAPA SAWIT DENGAN KAPASITAS ANGKUT 2,5 TON TBS MENGGUNAKAN ANALISA KEGAGALAN

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Thrust bearing [2]

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA

BAB III PEMODELAN KONTAK BERPELUMAS DAN PERHITUNGAN KEAUSAN

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1. Salah satu contoh MEMS: accelerometer silikon untuk aplikasi sensor pada otomotif [2]

PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAMBI JUNI 2016

TEORI MEMESIN LOGAM (METAL MACHINING)

Penemuan-Penemuan Ilmuwan Muslim Yang Mengubah Peradaban Dunia

HUKUM NEWTON TENTANG GERAK DINAMIKA PARTIKEL 1. PENDAHULUAN

PENGARUH CAIRAN PENDINGIN BERTEKANAN TINGGI TERHADAP GAYA POTONG, KEAUSAN TEPI PAHAT, DAN KEKASARAN PERMUKAAN PADA PROSES BUBUT MATERIAL AISI 4340


FENOMENA RUNNING-IN RODA GIGI TRANSMISI KE-2 SEPEDA MOTOR HONDA SUPRA X

Hukum Newton tentang Gerak

Materi dan Soal : USAHA DAN ENERGI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

RANCANG BANGUN ALAT UJI RUNNING-IN UNTUK SISTEM KONTAK TWO-DISC

MENGENAL PELUMAS PADA MESIN

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Turbin blade [Gandjar et. al, 2008]

ANALISIS PENINGKATKAN KUALITAS SPROKET SEPEDA MOTOR BUATAN LOKAL DENGAN METODE KARBURASI

BAB II LANDASAN TEORI

PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAMBI 2016

Listrik yang tidak mengalir dan perpindahan arusnya terbatas, fenomena kelistrikan dimana muatan listriknya tidak bergerak.

Transkripsi:

Sepenggal kisah tentang Tribo Oleh Azhari Sastranegara* Siapapun tahu bila dua benda bersentuhan sambil bergerak akan timbul gesekan. Siapapun juga dengan mudah mengerti bahwa akibat yang ditimbulkan gesekan bisa bermacam-macam misalnya bunyi mencicit, kenaikan temperatur permukaan, atau permukaan yang aus. Namun barangkali tidak banyak yang mengetahui bahwa gesekan atau dalam bahasa ilmiahnya friction merupakan salah satu penyebab pemborosan energi yang cukup signifikan. Alkisah, pada tahun 1966 di negeri pelopor industri modern Inggris, menteri pendidikan waktu itu H.P.Jost memberikan laporan yang mengejutan kepada parlemen tentang besarnya energi yang terbuang karena gesekan. Dalam laporannya yang terkenal dengan nama The Jost Report (1), disebutkan bahwa energi yang hilang di Inggris karena gesekan bila dikonversi setara dengan 1.3% GNP Inggris waktu itu, atau sekitar 500 juta poundsterling! Dari laporan Host inilah muncul istilah baru untuk ilmu tentang gesekan dan cara menguranginya yaitu, Tribology (berasal dari bahasa Yunani, Tribo). Negara-negara industri maju terkejut atas laporan Jost dan mulai mengadakan investigasi di negaranya masing-masing. Jepang yang baru saja menjadi negara industri segera mengadakan penelitian besar-besaran untuk mengurangi gesekan. Pada tahun 1971, pemerintah Jepang mengumumkan bahwa besar energi yang telah dihemat berdasarkan hasil penelitian mengenai tribology setara dengan 2.6% GNP atau sekitar 2 trilyun yen. Meski relatif telat, beberapa tahun kemudian Amerika Serikat mengumumkan bahwa penghematan energi berkat tribology mencapai 0.9% GNP atau sekitar enam persen dari konsumsi energi AS saat itu. Definisi dan akar Tribology Dari laporan Jost diartikan bahwa Tribology adalah ilmu yang menangani gesekan (friction), pelumasan (lubrication) dan aus (wear). Tribology sendiri berasal dari bahasa Yunani, tribo yang artinya menggesek atau menggores. Dewasa ini secara saintifik dirumuskan bahwa Tribology adalah ilmu tentang interaksi permukaan benda padat yang bergerak dan implikasi yang muncul dari interaksi tersebut (2). Definisi dan istilah ini

tidak terlalu mengikat dan baku, bahkan para ilmuwan Cina lebih sreg memakai istilah Friction Engineering daripada Tribology. Sesungguhnya akar tribology bermula pada gesekan dari dua permukaan yang bersentuhan. Dari adanya gesekan ini timbullah ide untuk melakukan pelumasan agar suatu benda bergerak lebih mudah. Dalam literatur kuno didapatkan bahwa bangsa-bangsa peradaban tua seperti Mesir dan Assyria sudah memakai prinsip-prinsip tribology dalam kegiatan keseharian mereka ribuan tahun lalu. Diketahui bahwa di jaman itu, ketika memindahkan barang yang berat mereka menggunakan minyak hewan untuk melicinkan permukaan. Gesekan dan misterinya Karena tribology dan gesekan tidak bisa dipisahkan, penting untuk menelusuri sejarah manusia modern mencoba membedah fenomena gesekan. Adalah si jenius Leonardo Da Vinci (1452-1519) yang mula-mula merumuskan cara mengurangi gesekan dalam bentuk yang riil dan terstruktur. Da Vinci meninggalkan sketsa ball bearing kayu yang sangat mirip dengan ball bearing logam yang dipakai saat ini (3). Di dunia modern sekarang, hampir semua alat yang bergerak memakai bearing, dalam bahasa Indonesia disebut klaher. Diilhami oleh Da Vinci, hukum-hukum fisika mengenai gesekan dirumuskan oleh dua ilmuwan secara terpisah yaitu Amontons (1699) dan selanjutnya Coulomb (1751) dan disebut Hukum Gesekan Amontons-Coulomb. Hukum ini sederhana dan berisi empat butir postulat: 1. Gaya gesekan pada permukaan yang bersentuhan berbanding lurus dengan gaya tegak lurus pada permukaan tersebut. 2. Gaya gesekan tidak bergantung pada luas proyeksi permukaan yang bersentuhan 3. Gaya gesekan tidak berhubungan dengan kecepatan sliding permukaan. 4. Gaya gesekan statis lebih besar daripada gaya gesekan dinamis Postulat 1 dan 2, terbukti melalui penelitian (emprically proved) akurat untuk gesekan benda padat (lihat Figure 1 dan Figure 2). Sementara itu, postulat 3 dan 4 dalam beberapa kasus tidak sesuai dengan hasil percobaan. Selama lebih dari dua ratus tahun hukum gesekan di atas (terutama hukum 1 dan 2) dipakai secara luas dan hampir semua disain alat mekanik modern menerapkan hukum ini.

Friction coefficient μ Copper/Aluminum No lubricant N F=μN Load N [kn] Figure 1 Hubungan antara gaya normal dan koefisien gesekan (4) Friction coefficient μ wood/copper no lubricant, normal force 0.3 N Luas proyeksi permukaan [mm 2 ] Figure 2 Hubungan luas permukaan dan antara koefisien gesekan (5) Yang unik, Hukum Amontons-Coulomb tidak memiliki pembuktian ilmiah yang akurat. Kehebatan hukum ini terletak pada hasilnya yang sesuai dengan eksperimen pada banyak kasus. Seolah-olah dua orang ilmuwan itu berkata, "Kami memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi buktinya hukum ini sesuai dengan percobaan." Pada kenyataannya, sampai sekarang tak seorangpun yang berhasil menguak misteri yang terjadi di lapisan molekul dua permukaan yang bergesekan. Misalnya pada fenomena anomali kekasaran permukaan (surface roughness) dan gaya gesekan. Secara sederhana kita akan mengambil kesimpulan bahwa semakin kecil kekasaran permukaan (artinya permukaan semakin licin) semakin kecil pula gaya gesekan yang timbul. Namun ternyata, bila kekasaran permukaan dikurangi terus sampai lebih kecil

dari nilai kekasaran tertentu (kira-kira 0.5 micron,) gaya gesekan berbalik menjadi lebih besar (lihat Figure 3). Fenomena ini gagal dijelaskan oleh hukum Amontons-Coulomb. Friction coefficient μ kekasaran permukaan [μm] Figure 3 Hubungan antara kekasaran permukaan dan koefisien gesekan (5) Selain hukum Amontons-Coulomb, teori modern tentang friksi dikembangkan oleh Bowden dan Tabor dengan teorinya yang disebut Adhesive Friction Theory (6). Teori ini menjelaskan secara ilmiah hukum 1 dan 2 dari teori Amontons-Coulomb dan berhasil menjelaskan fenomena pada Figure 3 di atas, tetapi tetap saja gagal menjelaskan fenomena gesekan secara tuntas. Alhasil, gesekan yang merupakan sistem sangat sederhana (hanya melibatkan dua permukaan) tetap menjadi misteri. Kembali pada laporan Jost di atas, muncul keingintahuan, perlukah juga di Indonesia diadakan penelitian mengenai pengaruh gesekan? Di negara kita berapa persen kira-kira energi yang hilang karena gesekan yang tidak mendapatkan penanganan dengan benar? Ataukah mungkin pertanyaan-pertanyaan ini menjadi tidak relevan karena persentasi kehilangan energi (baca uang) disebabkan faktor manipulasi manusia jauh lebih besar daripada sekadar hitungan satu atau dua persen dari GNP? Wallahualam. Referensi: (1) Department of Education and Science, Lubrication (Tribology), Her Majesty s Stationery Office (1966) (2) Glossary of Terms and Definitions in the Field of Friction, Wear and Lubrication

Tribology-, OECD (1969) (3) Dowson, D., History of tribology, Longman (1979) (4) Whitehead, J.R., Proc.Roy.Soc. London, A201 (1950) 109 (5) Rabinowicz, E., Friction and Wear of Materials, John Wiley & Sons (1966) (6) Bowden, F.P. and Tabor, D., The Friction and Lubrications of Solids, Pt.1, Oxford (1950) *Azhari Sastranegara, peneliti pada laboratorium mekanika dasar NSK Ltd. Meraih gelar doctor of engineering bidang teknik mesin dari Tokyo Institute of Technology.