ANGGARAN RUMAH TANGGA IKATAN JURNALIS TELEVISI INDONESIA (IJTI)

dokumen-dokumen yang mirip
ANGGARAN RUMAH TANGGA IKATAN JURNALIS TELEVISI INDONESIA (IJTI)

ANGGARAN RUMAH TANGGA ALIANSI JURNALIS INDEPENDEN

ANGGARAN DASAR IKATAN JURNALIS TELEVISI INDONESIA (IJTI)

ANGGARAN RUMAH TANGGA

RANCANGAN TATA TERTIB KONGRES IJTI KE-5 BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1

Anggaran Dasar. Konsil Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia [INDONESIAN NGO COUNCIL) MUKADIMAH

ANGGARAN RUMAH TANGGA

ANGGARAN DASAR IKATAN PUSTAKAWAN INDONESIA PERIODE

DPN APPEKNAS ANGGARAN RUMAH TANGGA ASOSIASI PENGUSAHA PELAKSANA KONTRAKTOR DAN KONSTRUKSI NASIONAL

ANGGARAN DASAR ANGGARAN RUMAH TANGGA

ANGGARAN RUMAH TANGGA ASOSIASI KONTRAKTOR TATA LINGKUNGAN INDONESIA BAB I UMUM. Pasal 1 LANDASAN PENYUSUNAN

ANGGARAN RUMAH TANGGA ASOSIASI ANALIS KEBIJAKAN INDONESIA - AAKI (ASSOCIATION OF INDONESIAN POLICY ANALYSTS - AIPA) BAB I KETENTUAN UMUM

ANGGARAN RUMAH TANGGA IKATAN AHLI PERENCANA

ANGGARAN RUMAH TANGGA GABUNGAN INDUSTRI PENGERJAAN LOGAM DAN MESIN INDONESIA BAB I LANDASAN PENYUSUNAN

ANGGARAN RUMAH TANGGA IKATAN SURVEYOR INDONESIA BAB I KEANGGOTAAN Pasal 1. Pasal 2. Pasal 3

ANGGARAN RUMAH TANGGA IKATAN PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH PERUBAHAN KE VII

AD KAI TAHUN 2016 PEMBUKAAN

Anggaran Dasar KONSIL Lembaga Swadaya Masyarakat INDONESIA (Konsil LSM Indonesia) [INDONESIAN NGO COUNSILINC) MUKADIMAH

DRAFT ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA IKATAN KELUARGA ALUMNI TEKNIK KIMIA (IKA TEKNIK KIMIA) POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA

ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA

PERHIMPUNAN BANTUAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA INDONESIA INDONESIAN LEGAL AID AND HUMAN RIGHTS ASSOCIATION

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

ANGGARAN DASAR PERSATUAN PERUSAHAAN GRAFIKA INDONESIA (INDONESIA PRINT MEDIA ASSOCIATION) MUKADIMAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

K O M I S I I N F O R M A S I

ANGGARAN RUMAH TANGGA ASOSIASI ANTROPOLOGI INDONESIA

ANGGARAN RUMAH TANGGA ASOSIASI PENDIDIK DAN PENELITI BAHASA DAN SASTRA (APPI-BASTRA) BAB I PENGERTIAN UMUM

ANGGARAN RUMAH TANGGA IKATAN PENSIUNAN PELABUHAN INDONESIA II BAB I IKATAN PENSIUNAN PELABUHAN INDONESIA II DAN WILAYAH KERJA.

ANGGARAN RUMAH TANGGA

ANGGARAN DASAR dan ANGGARAN RUMAH TANGGA AD & ART LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT NUSANTARA CORRUPTION WATCH LSM NCW

ANGGARAN DASAR KONGRES ADVOKAT INDONESIA (PERUBAHAN PERTAMA) TAHUN 2016 PEMBUKAAN

ANGGARAN RUMAH TANGGA INDONESIA MAX OWNERS (IMO) BAB I PRINSIP DASAR DAN KODE KEHORMATAN. Pasal 2 Kode Kehormatan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

AIBI ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA. Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (Indonesian Business Incubator Association)

PERUBAHAN ANGGARAN DASAR IKATAN NOTARIS INDONESIA KONGRES LUAR BIASA IKATAN NOTARIS INDONESIA BANTEN, MEI 2015

PERHIMPUNAN BANTUAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA INDONESIA INDONESIAN LEGAL AID AND HUMAN RIGHTS ASSOCIATION

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

ANGGARAN RUMAH TANGGA INSTITUT AKUNTAN MANAJEMEN INDONESIA ANGGARAN RUMAH TANGGA INSTITUT AKUNTAN MANAJEMEN INDONESIA TAHUN 2016

ANGGARAN RUMAH TANGGA IKATAN ALUMNI STEMBAYO

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

IKATAN KELUARGA ALUMNI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ANDALAS ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA

Contoh Angaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Lembaga/Yayasan

ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA

ANGGARAN DASAR ALIANSI JURNALIS INDEPENDEN. Pasal 2

Lampiran II Keputusan Musyawarah Nasional Asosiasi Karoseri Indonesia Ke VI Tahun 2012 Nomor : KEP-O4/MUNAS/VI/2012 Tanggal 01 Juli 2012

UNDANG UNDANG KELUARGA BESAR MAHASISWA UNIVERSITAS LAMPUNG NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN RAYA MAHASISWA

ANGGARAN DASAR & ATURAN RUMAH TANGGA IKATAN ALUMNI UNPAR (IKA UNPAR)

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

ANGGARAN RUMAH TANGGA JARINGAN MAHASISWA KESEHATAN INDONESIA (JMKI)

ASOSIASI PENELITI KESEHATAN INDONESIA APKESI ANGGARAN DASAR (AD)

ANGGARAN RUMAH TANGGA INSTITUT AKUNTAN MANAJEMEN INDONESIA TAHUN 2009 BAB I KEANGGOTAAN. Pasal 1 KETENTUAN UMUM

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

KETETAPAN SENAT MAHASISWA FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS DIPONEGORO NO.01 / TAP / SM FEB UNDIP / 2017 TENTANG TATA TERTIB SENAT MAHASISWA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

ANGGARAN RUMAH TANGGA ( ART ) GABUNGAN PERUSAHAAN ALAT ALAT KESEHATAN DAN LABORATORIUM INDONESIA ( GAKESLAB INDONESIA )

ANGGARAN RUMAH TANGGA BADAN PERFILMAN INDONESIA BAB I UMUM. Pasal 1

DEWAN KEHORMATAN DAN PROSEDUR OPERASIONAL KODE ETIK GURU INDONESIA

IAP KETETAPAN KONGRES ISTIMEWA IKATAN AHLI PERENCANAAN INDONESIA (IAP) NO. 3 TAHUN 2009 TENTANG

ANGGARAN RUMAH TANGGA IKATAN ALUMNI PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA (ILUNI PPs UI)

ANGGARAN RUMAH TANGGA ASOSIASI PERUSAHAAN PERJALANAN WISATA INDONESIA (ASITA) BAB I. Pasal 1 STRUKTUR ORGANISASI ASITA

b. bahwa Komisi Yudisial mempunyai peranan penting dalam usaha mewujudkan

MASTEL MASYARAKAT TELEMATIKA INDONESIA The Indonesian Infocom Society

BADAN PERWAKILAN DESA SIDOMULYO. KEPUTUSAN BADAN PERWAKILAN DESA SIDOMULYO NOMOR: 01/Kep.BPD/2002 TENTANG: TATA TERTIB BADAN PERWAKILAN DESA

MUSYAWARAH NASIONAL IX HISKI HIMPUNAN SARJANA-KESUSASTRAAN INDONESIA (HISKI)

ANGGARAN DASAR/ ANGGARAN RUMAH TANGGA (AD/ART), PROGRAM KERJA DAN KODE ETIK AHLI GIZI

BAB VIII PENGAMBILAN KEPUTUSAN Pasal 15

ANGGARAN RUMAH TANGGA PERKUMPULAN MANAJER INVESTASI INDONESIA

ANGGARAN RUMAH TANGGA ASOSIASI INSTITUSI PENDIDIKAN TINGGI KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA (AIPTKMI) BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 BAB II KEANGGOTAAN

ANGGARAN DASAR (AD) ASOSIASI PENGELOLA SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM DAN SANITASI (SPAMS) PERDESAAN

BUPATI LAMONGAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI LAMONGAN NOMOR 17 TAHUN 2016 TENTANG

ASOSIASI PENGUSAHA DAN PEMILIK ALAT KONSTRUKSI INDONESIA ( APPAKSI ) ANGGARAN RUMAH TANGGA BAB. I UMUM. Pasal. 1 LANDASAN PENYUSUN. Pasal.

KEPUTUSAN RUA No.05/CIVAS/RUA/XII/14. Tentang

- - PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG MAJELIS KEHORMATAN KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

ASOSIASI PENGUSAHA DAN PEMILIK ALAT KONSTRUKSI INDONESIA ( APPAKSI ) ANGGARAN DASAR

ANGGARAN DASAR IKATAN AHLI KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

1 A D I A R T I I K A L U N I D U A P U L U H D U A B E L A S

Dengan Persetujuan Bersama SENAT MAHASISWA KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS GADJAH MADA, dan PRESIDEN BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA KELUARGA MAHASISWA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

Lampiran SURAT KEPUTUSAN Nomor: 007/MUNASLUB/APKOMINDO/III/2014. Tentang

ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA PERHIMPUNAN EKONOMI PERTANIAN INDONESIA (PERHEPI)

ANGGARAN DASAR IKATAN NOTARIS INDONESIA HASIL KONGRES XIX IKATAN NOTARIS INDONESIA JAKARTA, 28 JANUARI 2006

ANGGARAN DASAR IKATAN AHLI KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA

ANGGARAN DASAR KOPERASI FORTUGA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

ANGGARAN DASAR ASOSIASI KURATOR DAN PENGURUS INDONESIA

ANGGARAN RUMAH TANGGA ASOSIASI KONTRAKTOR MEKANIKAL ELEKTRIKAL INDONESIA ( A S K O M E L I N ) BAB I UMUM Pasal 1 DASAR 1. Anggaran Rumah Tangga ini

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BADAN PERWAKILAN DESA DESA PADI KECAMATAN GONDANG KABUPATEN MOJOKERTO K E P U T U S A N BADAN PERWAKILAN DESA PADI NOMOR : 01 TAHUN 2001 T E N T A N G

ANGGARAN RUMAH TANGGA IKATAN AHLI KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA

ANGGARAN RUMAH TANGGA INSTITUT AKUNTAN PUBLIK INDONESIA TAHUN 2017

ANGGARAN RUMAH TANGGA BADAN MUSYAWARAH MUSEA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BAB I LAMBANG DAN DUAJA

BAB IV KEANGGOTAAN Bagian Kesatu

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

ANGGARAN RUMAH TANGGA ASOSIASI BADAN PENYELENGGARA PERGURUAN TINGGI SWASTA INDONESIA BAB I KEANGGOTAAN. Pasal 1

BAB I UMUM. Pasal 1 LANDASAN PENYUSUNAN

Transkripsi:

1 ANGGARAN RUMAH TANGGA IKATAN JURNALIS TELEVISI INDONESIA (IJTI) Upaya Umum UPAYA MENCAPAI TUJUAN Pasal 1 (1) Aktif melakukan peningkatan kompetensi dan profesionalisme jurnalis televisi (2) Berpartisipasi dalam pembuatan peraturan perundangan di bidang media massa, khususnya media Televisi dan Penyiaran. (3) Berpartisipasi memperkuat pranata sosial di bidang media massa. (4) Berpartisipasi menjaga kemerdekaan pers dan mengembangkan budaya demokrasi. Upaya Khusus Pasal 2 (1) Mengembangkan, memfasilitasi komunikasi di antara anggota. (2) Menyelenggarakan pendidikan jurnalistik televise dan uji kompetensi jurnalis televisi. (3) Menyelenggarakan kegiatan untuk meningkatkan profesionalitas anggota. (4) Melakukan penelitian dan pengembangan di bidang jurnalistik televisi. (5) Memperjuangkan terwujudnya pelaksanaan pengikutsertaan saham dan atau pembagian keuntungan di perusahaan penyiaran televisi. (6) Memperjuangkan jaminan kesejahteraan yang layak, sesuai standar profesi. (7) Mendirikan dan menyelenggarakan badan hukum. (8) Mendorong didirikannya koperasi karyawan dan atau badan hukum lain di lingkungan perusahaan televisi, guna mengelola pemilikan saham dan atau pembagian keuntungan sebagaimana dimaksud dalam butir 5. (9) Memberikan advokasi dan perlindungan hukum bagi anggota dalam menyelenggarakan tugas-tugas jurnalistik. BAB II KEANGGOTAAN Pasal 3 Ketentuan Umum (1) Untuk menjadi anggota, seseorang harus mengajukan permohonan. (2) Pemohon harus mengisi formulir yang sudah ditentukan. (3) Formulir permohonan yang sudah diisi, harus diserahkan kepada pengurus, dilampiri kelengkapan administrasi yang dipersyaratkan. (4) Yang dimaksud dengan anggota adalah insan Jurnalis televisi yang melakukan tugastugas jurnalistik, yaitu reporter, kameramen, video editor, presenter, program director,

2 yang bekerja pada bagian pemberitaan di stasiun televise dan saluran lain yang tersedia dan sudah terverifikasi (5) Tidak menjadi anggota organisasi profesi jurnalistik lainnya di Indonesia. Pasal 4 Persyaratan Anggota (1) Formulir permohonan untuk menjadi anggota harus ditandatangani oleh pemohon. (2) Formulir harus dilengkapi foto copy surat keterangan bekerja sebagai jurnalis dari stasiun televise atau surat referensi dari Pengurus Daerah, Pengurus Pusat atau Dewan Pertimbangan Pasal 5 Persyaratan Anggota Kehormatan (1) Memiliki pengetahuan dan kepedulian terhadap perkembangan jurnalistik televisi yang bebas dan mandiri. (2) Memiliki integritas. Pasal 6 Tindakan Organisasi (1) Organisasi dapat menjatuhkan tindakan organisatoris terhadap anggota karena satu diantara hal-hal berikut: a. Melanggar Kode Etik Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia. b. Merugikan bangsa/negara, atau merendahkan martabat bangsa/negara agama, atau korps jurnalis televisi Indonesia. c. Melakukan perbuatan yang bertentangan atau tidak sesuai dengan Anggaran Dasar dan, atau Anggaran Rumah Tangga, atau keputusan organisasi. d. Menyalahgunakan nama organisasi untuk kepentingan sendiri atau pihak lain. (2) Pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran dilakukan oleh Dewan Pertimbangan. Hasil pemeriksaan dan rekomendasi Dewan Pertimbangan disampaikan kepada Pengurus Harian (3) Tindakan organisatoris dapat berupa: a. Peringatan keras. b. Pemberhentian sementara dari keanggotaan. c. Pemberhentian penuh dari keanggotaan. (4) Kewenangan pemberian sanksi organisasi berada pada Dewan Pengurus. Pasal 7 Pembelaan Diri (1) Pembelaan diri dapat dilakukan secara tertulis.

3 Pasal 8 Rehabilitasi Keanggotaan (1) Pemberhentian sementara berlaku untuk paling lama 4 (empat) tahun. (2) Anggota yang setelah melakukan banding pembelaan diri, sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 7 ayat 3, dan dinyatakan tidak bersalah oleh Kongres, harus dipulihkan keanggotaanya. Pasal 9 Meninggal, Mengundurkan Diri, dan Sebab Lain (1) Anggota gugur keanggotaanya apabila: a. Meninggal dunia. b. Setelah lewat 6 (enam) bulan anggota bersangkutan tidak melanjutkan kegiatan jurnalistiknya. c. Mengundurkan diri. Pasal 10 Daftar Ulang Keanggotaan (1) Anggota harus melakukan daftar ulang keanggotaanya 4 (empat) tahun sekali. (2) Bagi anggota yang tidak mentaati ketentuan ayat 1 pasal ini, berlaku ketentuan: a. Yang bersangkutan dianggap mengundurkan diri. b. Mantan anggota yang melakukan daftar ulang dalam jangka waktu kurang dari 1 (satu) tahun sejak dianggap mengundurkan diri, dapat dipulihkan keanggotaanya. Pasal 11 Pembatalan Keanggotaan Keanggotaan dalam IJTI dapat dibatalkan apabila menurut hasil penelitian atau penyelidikan atau pengamatan Dewan Pengurus, anggota bersangkutan ternyata tidak memenuhi kreteria dan persyaratan keanggotaan yang diberlakukan organisasi. Pasal 12 Kartu Anggota (1) Organisasi mengeluarkan kartu anggota yang masa berlakunya 4 (empat) tahun. (2) Kartu Anggota untuk Anggota Kehormatan dikeluarkan oleh Dewan Pengurus dengan masa berlaku yang tidak ditentukan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kartu anggota diatur Dewan Pengurus.

4 BAB III KEPENGURUSAN Pasal 13 Pemilihan Pengurus Harian (1) Pengurus Harian dipilih dari anggota yang hadir pada Kongres. (2) Pengurus Harian dipilih oleh Kongres untuk masa kerja sampai Kongres berikutnya, dengan ketentuan bahwa jika terjadi lowongan kepengurusan, pengisinya ditetapkan oleh Pengurus Harian secara musyawarah mufakat, dalam masa selambat-lambatnya 6 (enam) bulan. Pasal 14 Susunan Pengurus Harian (1) Ketua umum. (2) Ketua Bidang Organisasi. (3) Ketua Bidang Konvergensi dan Multimedia (4) Ketua Bidang Kesejahteraan dan Advokasi. (5) Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri. (6) Ketua Bidang Diklat, Sertifikasi dan Kompetensi. (7) Sekretaris Jenderal. (8) Wakil Sekretaris Jenderal. (9) Bendahara. (10) Wakil Bendahara. Pasal 15 Tata Cara Pemilihan Ketua Umum (1) Pemilihan Ketua Umum dilakukan secara langsung, bebas dan rahasia oleh peserta Kongres yang berhak memilih dalam 3 (tiga) tahap. (2) Pencalonan Bakal Calon dapat dilakukan melalui: a. Mengajukan diri secara langsung. b. Dicalonkan oleh peserta Kongres. (3) Tahap-tahap pemilihan: a. Tahap I: Penjaringan bakal calon dan memilih sebanyak-banyaknya 6 (enam) calon yang memperoleh suara terbanyak. b. Tahap II: Memilih 2 (dua) orang calon dari hasil pemilihan tahap pertama yang memperoleh suara terbanyak. c. Jika dalam tahap kedua terdapat seorang calon yang mendapat suara lebih dari 50 persen, otomatis menjadi Ketua Umum terpilih, dan tidak perlu pemilihan tahap ketiga. d. Tahap III: memilih Ketua Umum dari 2 (dua) calon tahap II yang memperoleh suara terbanyak.

5 (4) Setiap calon diwajibkan menyampaikan kesediaannya dan menyampaikan visi misi dan komitmen untuk menjalankan garis besar program organisasi. (5) Ketua Umum terpilih otomatis menjadi Ketua Formateur. (6) Calon yang memperoleh suara terbanyak pada tahap I, secara otomatis menjadi Anggota Formateur. (7) Formateur terpilih bersama anggota formeteur melakukan rapat membentuk Pengurus Harian dan memilih Dewan Pertimbangan serta melaporkanya kepada Kongres untuk disahkan. Pasal 16 Pemilihan Anggota Pengurus Harian (1) Pemilihan anggota Pengurus Harian dilakukan melalui sistem formateur. (2) Formateur terpilih harus membentuk Pengurus Harian dan Dewan Pertimbangan serta melaporkanya kepada Kongres. Pasal 17 Persyaratan Calon Ketua Umum (1) Anggota IJTI. (2) Bukan Pengurus orsospol atau lembaga-lembaga yang dinaungi. (3) Berpengalaman minimal 5 (lima) tahun di bidang jurnalistik televise (4) Tidak menjadi pengurus di organisasi profesi jurnalis lainnya. Pasal 18 Persyaratan Calon Ketua Pengurus Daerah (1) Anggota IJTI. (2) Bukan pengurus Orsospol atau lembaga-lembaga yang dinaungi. (3) Berpengalaman minimal 3 (tiga) tahun di bidang jurnalistik televisi. (4) Tidak menjadi pengurus di organisasi profesi jurnalis lainya. (1) Tugas Ketua Umum. Pasal 19 Tugas Pengurus Harian a. Bersama seluruh dewan Penguruis IJTI menjabarkan keputusan-keputusan Kongres, dan menuangkanya ke dalam satu kebijakan dan program umum. b. Bersama Ketua Bidang bersangkutan, serta dengan memperhatikan pendapat dan saran anggota pengurus lainya, menetapkan kebijakan dan program kerja di bidang organisasi, di bidang diklat dan litbang, bidang kesejahteraan dan advokasi, bidang hubungan luar negeri, yang mengacu pada dan merupakan penjabaran dari kebijakan dan program umum (bidang kompetensi dan sertifikasi). c. Bersama Sekretris Jenderal dan Wakil sekretaris jenderal, serta dengan memperhatikan pendapat dan saran anggota pengurus lainya, menetapkan

6 kebijakan dan program kerja di bidang kesekretariatan untuk menunjang terlaksananya kebijakan dan program umum maupun kebijakan dan program di setiap bidang. d. Bersama Bendahara dan wakil bendahara, serta dengan memperhatikan pendapat dan saran anggota pengurus lainya, menetapkan kebijakan dan program di bidang keuangan untuk mrnunjang terlaksananya kebijakan dan program umum maupun kebijakan dan program di setiap bidang. Bersama masing-masing ketua bidang serta dengan memperhatikan pendapat dan saran anggota pengurus lainya, menetapkan kebijakan dan program pengembangan jurnalistik televisi. e. Bersama Sekretaris Jenderal atau Wakil Sekretaris Jenderal membuat dan menandatangani surat-surat atau perjanjian bersama dengan pihak luar. f. Bersama Bendahara atau wakil Bendahara membuat dan menandatangani surat atau bukti pembayaran atau penagihan yang sah. g. Menunjuk salah seorang ketua atau anggota pengurus lain untuk mewakilinya, baik dalam kaitan kegiatan interen organsasi maupun eksteren organisasi. (2) Tugas Ketua Bidang Organisasi a. Membantu Ketua Umum dalam memimpin organisasi dan dalam melaksanakan kebijakan dan program umum. b. Menjabarkan lebih lanjut serta melaksanakan kebijakan dan program yang sudah ditetapkan bersama Ketua Umum. c. Menangani hal-hal yang berkaitan dengan aspek keorganisasian yang bersifat pengawasan, pengendalian pembinaan dan pengembangan. d. Menangani hal-hal yang berkaitan dengan aspek keanggotaan yang bersifat pembinaan, pengawasan dan administratif. e. Bertindak sebagai Pejabat Ketua Umum apabila Ketua Umum berhalangan sementara atau berhalangan tetap, kecuali jika pleno pengurus menunjuk anggota pengurus yang lain. (3) Tugas Ketua Bidang Kesejahteraan dan Advokasi. a. Membantu ketua Umum dalam memimpin organisasi dan dalam melaksanakan kebijakan program umum. b. Menjabarkan lebih lanjut dan melaksanakan kebijakan dan program yang sudah ditetapkan bersama ketua umum. c. Meningkatkan kesejahteraan anggota berdasarkan hukum dan perundang undangan yang berkaitan dengan pekerjaan jurnalistik. d. Memperjuangkan peningkatan kesejahteraan yang sesuai standart profesi jutnalis televisi. e. Mengupayakan terwujutnya pengikutsertaan jurnalis televisi dalam kepemilikan modal perusahaan televisi. f. Mendorong didirikanya koperasi atau yayasan kesejahteraan anggota. g. Mengupayakan badan hukum bagi anggota dalam proses penegakan hukum maupun tindakan nonhukum lain yang mengancam dan merugikan profesi.

7 (4) Tugas Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri a. Membantu Ketua umum dalam memimpin organisasi dan dalam melaksanakan kebijakan dan program umum. b. Menjabarkan lebih lanjut serta melaksanakan kebijakan dan program yang sudah ditetapkan bersama Ketua Umum. c. Menjalin Hubungan kerjasama dengan organisasi-organisasi sejenis dinegara lain dan organisasi lain yang erat kaitanya dengan profesi jurnalis televisi. (5) Tugas Bidang Diklat, Kompetensi dan Sertifikasi a. Menjalan IJTI sebagai lembaga penguji kompetensi wartawan. b. Bersama litbang menjalankan peningkatan kompetensi jurnalis. c. Membantu Ketua Umum dalam memimpin organisasi dan dalam melaksanakan kebijakan dan program umum. d. Menjabarkan lebih lanjut dan melaksanakan kebijakan dan program yang sudah ditetapkan bersama Ketua Umum. e. Menyelenggarakan Kegiatan-kegiatan diklat untuk anggota. f. Menyelenggarakan penelitihan dan pengembangan jurnalistik televisi. g. Menyelenggarakan penerbitan hasil litbang dan diklat. (6) Tugas Sekretaris Jenderal a. Membantu Ketua Umum dalam memimpin organisasi dan dalam melaksanakan kebijakan dan program umum. b. Menjabarkan lebih lanjut dan program yang sudah ditetapkan bersama Ketua Umum. c. Sehari-hari bersama Ketua Umum mewakili organisasi ke dalam dan keluar. d. Membantu para ketua bidang dan ketua departemen dalam melaksanakan tugas masing-masing. e. Membina hubungan dengan pihak luar untuk meningkatkan citra organisasi. f. Memimpin pelaksanaan tugas-tugas kesekretariatan,termasuk penyediaan dan pemeliharaan prasarana dan sarana yang diperlukan. g. Mengatur penugasan dan melaksanakan pembinaan jajaran staf sekretariat. (7) Tugas Wakil Sekretaris Jendral a. Bersama Sekretaris jendral membantu Ketua Umum dalam memimpin organisasi dan dalam melaksanakan kebijakan dan program umum. b. Bersama dengan Sekretaris Jenderal melaksanakan tugas-tugas sebagaimana dimaksud didalam butir d s/d g ayat 6 pasal ini,sesuai pembagian tugas yang sudah ditetapkan. c. Secara insidental mewakili sekretaris Jenderal. d. Menjadi pejabat sekretaris jenderal jika berhalangan tetap atau berhalangan sementara,kecuali jika pleno pengurus menunjuk anggota pengurus yang lain.

8 (8) Tugas Bendahara a. Membantu Ketua Umm dalam memimpin organisasi dan dalam melaksanakan kebijakan program umum. b. Menjabarkan lebih lanjut dan melaksanakan tugas yang sudah ditetapkan bersama Ketua Umum. c. Membantu para Ketua Bidang dan Ketua Departemen dalam melaksanakan tugas masing-masing. d. Menggali sumber dana organisasi. e. Mengelola keuangan dan kekayaan organisasi serta melaporkanya dalam rapat Dewan Pengurus. (9) Tugas Wakil Bendahara a. Membantu Ketua Umum dalam memimpin organisasi dan dalam melaksanakan kebijakan dan program umum. b. Bersama bendahara melaksanakan tugas-tugas sebagaimana dimaksud dalam butir b s/d e ayat 8 pasal ini, sesuai pembagian tugas yang sudah ditetapkan. c. Secara insidental mewakili Bendahara. d. Menjadi pejabat bendahara, jika bendahara berhalangan tetap atau sementara, kecuali pleno Pengurus menunjuk Pengurus lain. (10) Tugas Ketua Departemen a. Membantu Kepala Bidang melaksanakan tugas dan tanggung jawab operasional di bidang kerja masing-masing. b. Melaksanakan hal-hal lain yang dilimpahkan Ketua Bidang. c. Melakukan koordinasi kerja mitra dan antar Departemen. (1) Status dan Fungsi Pasal 20 PENGURUS DAERAH a. Pengurus Daerah adalah kesatuan organisasi IJTI yang dibentuk di daerah propinsi, yang berfungsi sebagai badan yang mengorganisasi anggota di tingkat daerah untuk mencapai tujuan organisasi. b. Pengurus Daerah memiliki kewenangan otonom dalam mengurus rumah tangganya sendiri, sejauh tidak melakukan perjanjian hukum dengan pihak ketiga. c. Segala kegiatan yang melibatkan pihak ketiga harus dikoordinasi dengan Dewan Pengurus IJTI (pusat). d. Pengurus Daerah dapat dibentuk jika anggota IJTI di daerah minimal 20 (dua puluh) orang. (2) Tugas dan Wewenang Pengurus Daerah a. Pengurus Daerah baru dapat menjalankan tugasnya setelah dilantik dan disahkan oleh Dewan Pengurus IJTI.

9 b. Melaksanakan hasil-hasil musyawarah Pengurus Daerah, kebijaksanaan nasional IJTI dan ketetapan-ketetapan organisasi lainya. c. Melaksanakan rapat-rapat Pengurus Daerah. d. Menyampaikan laporan kerja kepengurusan tiap 6 (enam) bulan sekali ke Dewan Pengurus IJTI. e. Pengurus Daerah mempertanggungjawabkan kerja pada Musyawarah Pengurus Daerah. (3) Pemilihan Pengurus Daerah a. Pengurus Daerah dipilih dari anggota yang hadir dalam musyawarah Pengurus Daerah. b. Pengurus Daerah dipilih untuk masa kerja 3 (tiga) tahun, dan jika terdapat lowongan atau tidak aktif, Ketua Pengurus Daerah berdasarkan Musyawarah Pengurus Daerah dapat menunjuk seseorang untuk mengisi lowongan kepengurusan maupun penggantinya. c. Syarat menjadi Pengurus Daerah minimal telah menjadi anggota IJTI selama 1 (satu) tahun. Pasal 21 SUSUNAN PENGURUS DAERAH Susunan Pengurus Daerah, paling sedikit terdiri dari: (1) Ketua (2) Sekretaris (3) Bendahara (1) Ketua Pengurus Daerah Pasal 22 TUGAS-TUGAS PENGURUS DAERAH a. Memimpin Kepengurusan dengan cara menjabarkan dan melaksanakan program kerja bersama pengurus lainya. b. Mewakili organisasi berhubungan dengan pihak luar, mengambil kebijakan yang sifatnya mendesak, dengan mempertimbangkan saran-saran anggota pengurus lainya. c. Membina hubungan dengan pihak lain dalam rangka membangun citra organisasi. (2) Sekretaris Pengurus Daerah a. Menjalankan tugas-tugas kesekretariatan. b. Membantu ketua menjabarkan program kerja. c. Bersama Ketua melakukan hubungan dengan pihak luar dalam rangka membangun citra organisasi. d. Bertanggung jawab kepada Ketua.

10 (3) Bendahara a. Bersama Ketua menjabarkan program kerja. b. Menggali dana untuk kegiatan organisasi. c. Mengelola keuangan organisasi. d. Bertanggung Jawab kepada Ketua Pengurus Daerah. Pasal 23 PEMILIHAN KETUA PENGURUS DAERAH (1) Pemilihan Ketua Pengurus Daerah dilakukan dalam forum Musyawarah Pengurus Daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 Anggaran Dasar dan 20 Anggaran Rumah Tangga IJTI. (2) Tata cara pemilihan Ketua Pengurus Daerah. a. Pemilihan dilakukan dalam forum musyawarah Pengurus Daerah. b. Pemilihan dilakukan secara langsung bebas dan rahasia. c. Pemilihan dilakukan dengan 2 tahapan : 1) Tahap Pertama, pengajuan bakal calon oleh peserta,masing-masing peserta mengajukan 3 orang. Tiga orang calon yang mendapat suara terbanyak ditetapkan sebagai calon sah. Calon sah harus menyatakan kesediaanya dan menyampaikan visi misi program-programnya. 2) Tahap kedua yang mendapat suara terbanyak ditetapkan sebagai formateur/ ketua terpilih. Dua orang calon lainya otomatis menjadi anggota mide formatur d. Formateur dan mide formateur berkewajiban menyusun komposisi kepengurusan yang dilaporkan pada forum musyawarah Pengurus Daerah. BAB IV MUSYAWARAH DAN RAPAT-RAPAT Pasal 24 (1) Musyawarah dan rapat-rapat pengambilan keputusan IJTI terdiri dari: a. Kongres. b. Kongres Luar Biasa. c. Rapat Pleno Dewan Pengurus. d. Rapar Kerja Pengurus. e. Rapat Bidang dan Departemen. f. Musyawarah Pengurus Daerah. g. Musyawarah Pengurus Daerah Luar biasa h. Rapat-rapat Pengurus Daerah. (2) Kongres sebagaimana diatur dalam Pasal 16 Anggaran Dasar adalah forum pengambilan keputusan tertinggi IJTI, yang dihadiri oleh peserta: a. Dewan Pertimbangan. b. Pengurus Harian dan Anggotanya. c. Anggota. d. Utusan dari Badan atau Lembaga yang dibentuk oleh Dewan Pengurus. e. Peninjau bila dianggap perlu.

11 f. Kongres dianggap sah memenuhi qorum bila dihadiri oleh minimal 2/3 peserta. (3) Kongres Luar Biasa a. Kongres Luar Biasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat 4 Anggaran Dasar diadakan untuk membicarakan masalah-masalah mendesak. b. Diadakan atas permintaan 2/3 jumlah anggota. c. Pesertanya sama dengan yang diatur dalam ayat 2 pasal ini. d. Kongres dianggap sah memenuhi qorum bila dihadiri setengah dari anggota yang meminta Kongres luar biasa. (4) Rapat Pleno Dewan Pengurus a. Rapat Pleno Dewan Pengurus diadakan untuk mengambil keputusan berkaitan dengan kebijakan organisasi dan koordinasi pelaksanaan kerja organisasi. b. Diikuti oleh pengurus harian dan Ketua-ketua Departemen. c. Diadakan sekurang-kurangnya 4 bulan sekali. (5) Rapat Kerja Pengurus a. Rapat kerja pengurus memiliki wewenang menjabarkan program kerja. b. Mengadakan penilaian terhadap pelaksanaan program kerja. c. Diadakan sedikitnya satu tahun sekali atau jika dipandang perlu. d. Pesertanya terdiri dari Dewan Pengurus serta anggotanya. (6) Rapat Pengurus Harian a. Diadakan untuk memutuskan kebijakan organisasi yang sifatnya mendesak. b. Diikuti oleh Ketua Umum, Ketua Bidang, Sekretaris Jenderal dan Bendahara c. Diadakan bilamana perlu (7) Rapat Bidang dan Departemen a. Dilakukan untuk memutuskan pelaksanaan program kerja bidang. b. Diikuti oleh ketua bidang,ketua Departemen,Wakil Ketua Departemen, sekretaris dan staff. c. Diadakan sekurang-kurangnya 2 bulan sekali. (8) Musyawarah Pengurus Daerah a. Musyawarah Pengurus Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 Anggaran Dasar dihadiri oleh Pengurus Daerah, anggota dan peninjau. b. Diadakan 3 (tiga) tahun sekali, untuk memutuskan program kerja, memilih pengurus, dan forum pertanggungjawaban kepengurusan di tingkat Pengurus Daerah. c. Musyawarah Pengurus Daerah dianggap sah memenuhi quorum jika dihadiri oleh minimal setengah dari anggota.

12 (9) Musyawarah Pengurus Daerah Luar Biasa a. Musyawarah Pengurus Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat 3 Anggaran dasar diadakan untuk memutuskan persoalan kelangsungan organisasi ditingkat pengurus daerah dan mendesak sifatnya. b. Musyawarah Pengurus Daerah luar biasa dilakukan atas permintaan 2/3 jumlah anggota. c. Pesertanya adalah Pengurus dan anggota Pengurus Daerah. d. Musyawarah Pengurus Daerah luar biasa dianggap sah memenuhi qorum bila dihadiri setengah dari anggota yang meminta Musyawarah Pengurus Daerah luar biasa. (10) Rapat-rapat Pengurus Daerah a. Rapat Pleno. Dilakukan tiap dua bulan sekali,dihadiri oleh seluruh Pengurus Daerah,rapat ini berwenamg memutuskan hal-hal yang bersifat kebijakan organisasi. b. Rapat Kerja. Dihadiri oleh Pengurus Harian yakni Ketua, Sekretaris, Bendahara dan berwenang: 1) Memutuskan pelaksanaan program kerja. 2) Keputusan-keputusan lain yang bersifat teknis. (11) Pengambilan keputusan dalam musyawarah maupun rapat-rapat pada asasnya dilakukan dengan musyawarah mufakat, dan apabila hal ini tidak mungkin maka keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak. (12) Keputusan dalam Kongres, Kongres Luar Biasa dan Musyawarah Pengurus Daerah dianggap sah apabila disetujui oleh minimal setengah jumlah anggota plus 1 (satu) anggota yang hadir. BAB V DEWAN PERTIMBANGAN Pasal 25 (1) Dewan Pertimbangan adalah lembaga yang berfungsi sebagai penegak kode etik jurnalis televisi IJTI, dan bertugas menerima pengaduan, memberi saran dan pendapat kepada pengurus IJTI, serta memeriksa dan memberikan rekomendasi sanksi atas pelanggaran kode etik jurnalis televisi. (2) Dalam hal menyangkut isu-isu strategis, Dewan pertimbangan berhak untuk menyuarakan kepentingan anggota. (3) Anggota Pertimbangan dipilih oleh formateur dan ditetapkan oleh Kongres. (4) Anggota Pertimbangan dipilih di antara orang-orang yang memenuhi persyaratan: a. Warga negara Republik Indonesia. b. Berdomisili di Indonesia. c. Mempunyai kredibilitas dan komitmen terhadap perjuangan media massa nasional.

13 d. Mengakui dan menghormati Kode Etik IJTI. e. Pernah menjadi anggota IJTI. f. Tidak menjadi pengurus organisasi jurnalis lain. (5) Jika karena suatu hal jumlah anggota Pertimbangan kurang dari 7 (tujuh) orang, pengisiannya ditentukan oleh rapat Pertimbangan. (6) Seseorang tidak boleh menjabat lebih dua kali berturut-turut sebagai Ketua Dewan Pertimbangan. (7) Dewan Pertimbangan melakukan pemeriksaan terhadap suatu pelanggaran Kode Etik IJTI atas prakarsa sendiri, atau setelah menerima pengaduan dari seseorang atau sesuatu badan yang merasa dirugikan. (8) Pengaduan oleh seseorang atau badan yang merasa dirugikan, harus disampaikan secara tertulis. (9) Pengaduan harus dengan jelas menerangkan sifat pelanggaran terhadap Kode Etik IJTI yang dilakukan oleh anggota IJTI disertai bukti-bukti dan keterangan. (10) Pengaduan harus dilampiri pernyataan dari pengadu, bahwa ia melepaskan haknya untuk mengajukan gugatan ke pengadilan, jika Dewan Pertimbangan berhasil menyuruh anggota IJTI yang bersangkutan mematuhi Kode Etik IJTI dan melaksanakan segala yang diputuskan oleh Dewan Pertimbangan ((Pasal 26)) Tata Cara Pemeriksaan (1) Setelah menerima pengaduan, Dewan Petimbangan secepatnya mengadakan sidang, kemudian menyampaikan secara tercatat salinan dari pengaduan tersebut kepada anggota yang bersangkutan. (2) Anggota bersangkutan berhak menyampaikan pembelaanya dengan ketentuan: a. Pembelaan disampaikan secara tertulis kepada Dewan Petimbangan. b. Pembelaan harus disampaikan dalam waktu 14 (empat belas) hari setelah tanggal penerimaan salinan pengaduan yang dibuktikan dengan tanggal penerimaan. c. Jika setelah lewat waktu sebagaimana dimaksud didalam butir b, yang bersangkutan tidak menyampaikan pembelaan secara tertulis,maka yang bersangkutan dianggap telah melepaskan haknya untuk membela diri. d. Sebelum mengambil keputusan, jika menganggapnya perlu Dewan Petimbangan dapat memanggil pihak bersangkutan, untuk dimintai keterangan secara langsung dalam sidang Dewan Petimbangan Pasal 27 Keputusan Dewan Petimbangan (1) Setelah memeriksa dan mempertimbangkan pengaduan, pembelaan dan bukti-bukti, Dewan Petimbangan dapat : a. Menolak atau menerima Pengaduan. b. Mengeluarkan keputusan bahwa telah terjadi pelanggaran Kode Etik IJTI dan meminta Pengurus IJTI untuk melaksanakan sanksi etik. (2) Putusan Dewan Petimbangan tidak dapat diganggu gugat.

14 Pasal 28 S a n k s i (1) Sanksi Dewan Pertimbangan Berupa: a. Surat teguran. b. Surat peringatan. c. Pemberhentian sementara keanggotaan IJTI untuk selama-lamanya 2 (dua) tahun. d. Pemberhentian dengan tidak hormat. (2) Peringatan biasa maupun peringatan keras langsung disampaikan oleh Dewan Petimbangan kepada anggota yang bersangkutan, dengan tembusan kepada Dewan Pengurus IJTI. (3) Pemberhentian sementara dan pemberhentian dengan tidak hormat disampaikan oleh Dewan Pertimbangan Kepada Pengurus IJTI untuk dilaksanakan. Pasal 29 Hal-hal Lain Hal-hal lain mengenai Dewan Petimbangan yang belum diatur di dalam Anggaran Rumah Tangga, akan diatur oleh Dewan Kehormatan dengan memperhatikan saran-saran Dewan Pengurus IJTI, untuk kemudian dilaporkan kepada Kongres berikutnya. BAB VI KEKAYAAN Pasal 30 Uang Pangkal dan Uang Iuran (1) Setiap anggota wajib membayar uang pangkal dan iuran tahunan. (2) Bagi anggota yang tidak membayar uang pangkal dan iuran tahunan dikenakan sanksi yang diatur oleh Dewan Pengurus. (3) Besarnya uang pangkal dan uang iuran ditetapkan oleh Dewan Pengurus. Pasal 31 Kekayaan Organisasi Dewan Pengurus setiap tahun menginventarisasi seluruh kekayaan organisasi baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak.

15 Pasal 32 Pertanggung Jawaban Keuangan (1) Dewan Pengurus harus mempertanggung jawabkan keuangan organisasi dalam masa kepengurusanya kepada Kongres. (2) Bila dipandang perlu, dapat meminta Akuntan Publik untuk memeriksa pertanggungjawaban keuangan Dewan Pengurus. BAB VII PEMBUBARAN DAN PEMBEKUAN Pasal 33 (1) Pembubaran dan Pembekuan organisasi hanya boleh diputuskan oleh Kongres yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) jumlah anggota serta disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) jumlah suara. (2) Penggunaan kekayaan setelah organisasi dibubarkan ditetapkan oleh Kongres. BAB VIII PENUTUP Pasal 34 Hal-hal yang belum diatur di dalam Anggaran Rumah Tangga, apabila diperlukan, dapat diatur oleh Dewan Pengurus, selama hal itu tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan atau Anggaran Rumah Tangga, untuk kemudian dipertanggungjawabkan kepada Kongres. Diperbaharui dan disahkan kembali dalam Kongres ke V IJTI, pada 21 Januari 2017 di Jakarta. ---------------- Catatan : Seragam baru IJTI --,,--