BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN

dokumen-dokumen yang mirip
BERITA DAERAH KOTA SEMARANG PERATURAN WALIKOTA SEMARANG TAHUN 2008 NOMOR 35 NOMOR 35 TAHUN 2008

BERITA DAERAH KOTA SEMARANG PERATURAN WALIKOTA SEMARANG

KABUPATEN TULUNGAGUNG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI TULUNGAGUNG NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG

GAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH,

BUPATI BANYUWANGI PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 48 TAHUN 2011 TENTANG

b. Kepala Sub Bagian Keuangan; c. Kepala Sub Bagian Program, Evaluasi dan Pelaporan.

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 50 TAHUN 2016 TENTANG

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 73 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN PROVINSI BALI

WALIKOTA TANGERANG SELATAN

GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 129 TAHUN 2016 TENTANG

2017, No Negara Republik Indonesia Tahun 14 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3547) sebagaimana telah diubah dengan P

BERITA DAERAH KOTA BOGOR TAHUN 2008 NOMOR 17 SERI D PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 39 TAHUN 2008

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI TASIKMALAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TASIKMALAYA,

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 08/M-DAG/PER/2/2016 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PERDAGANGAN

WALIKOTA TASIKMALAYA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN GUBERNUR RIAU NOMOR : 38 TAHUN 2009 TENTANG URAIAN TUGAS DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN PROVINSI RIAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 40 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN BUPATI MADIUN,

LAMPIRAN PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN RETENSI ARSIP SEKTOR PEREKONOMIAN URUSAN PERDAGANGAN

MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 58 TAHUN 2001 TENTANG PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN KONSUMEN

PERATURAN WALIKOTA DUMAI NOMOR 51 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS, FUNGSI DAN URAIAN TUGAS DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KOTA DUMAI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 58 TAHUN 2001 (58/2001) TENTANG PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN KONSUMEN

BAB X INSPEKTORAT JENDERAL. Bagian Kesatu Kedudukan, Tugas, dan Fungsi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Gambaran Umum Perusahaan. Sejarah singkat Kementerian Perdagangan, Visi, Misi, Logo, dan Struktur Organisasi

BUPATI BANJAR PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI BANJAR NOMOR 68 TAHUN 2016 TENTANG

Menteri Perindustrian Republik Indonesia

PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN BUPATI PENAJAM PASER UTARA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN BUPATI TOLITOLI NOMOR 18 TAHUN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR,

BAB 3 ANALISIS SISTEM BERJALAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKALIS NOMOR 12 TAHUN 2005 TENTANG

BUPATI SUKAMARA PERATURAN BUPATI KABUPATEN SUKAMARA NOMOR 23 TAHUN 2008 T E N T A N G

WALIKOTA PASURUAN SALINAN PERATURAN WALIKOTA NOMOR 60 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS KOPERASI, PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 58/Permentan/OT.140/8/ TENTANG PELAKSANAAN SISTEM STANDARDISASI NASIONAL DI BIDANG PERTANIAN

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 86 TAHUN 2016 TENTANG

Review Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2016

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

GUBERNUR GORONTALO PERATURAN GUBERNUR GORONTALO NOMOR 57 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA

BERITA DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 13 TAHUN 2009 PERATURAN BUPATI SUMEDANG NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG

(berdasarkan Peraturan Walikota Mojokerto Nomor : )

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH,

BAB II GAMBARAN UMUM BADAN PUSAT STATISTIK KOTA MAGELANG

MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA. NOMOR : 84/MPP/Kep/2/2003

- 1 - PERATURAN MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI

TUGAS DAN FUNGSI POKOK DINAS TENAGA KERJA Kepala Dinas Tenaga Kerja

BUPATI MUSI RAWAS PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 56 TAHUN 2008 T E N T A N G

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 58 TAHUN 2001 TENTANG PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN KONSUMEN

GAMBARAN PELAYANAN DINAS KOPERASI UKM DAN PERINDUSTRIAN PERDAGANGAN KOTA BANDUNG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 154 TAHUN 2014 TENTANG KELEMBAGAAN PENYULUHAN PERTANIAN, PERIKANAN, DAN KEHUTANAN

-2- Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia

BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 42 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PETERNAKAN KABUPATEN BLITAR BUPATI BLITAR,

BAB 2 GAMBARAN PELAYANAN DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN

BUPATI BANYUWANGI PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Menteri Perdagangan Republik Indonesia PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/M-DAG/PER/12/2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA

PERATURAN BUPATI SUBANG NOMOR : TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PERINDUSTRIAN, PERDAGANGAN DAN PENGELOLAAN PASAR KABUPATEN SUBANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN WALIKOTA SURAKARTA NOMOR : 19-N TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN URAIAN TUGAS JABATAN STRUKTURAL PADA DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN

WALIKOTA DEPOK PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN WALIKOTA DEPOK NOMOR 86 TAHUN 2016

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA

DD. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PERDAGANGAN SUB SUB BIDANG PEMERINTAHAN DAERAH PROVINSI PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN/KOTA SUB BIDANG

BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 48 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2000 TENTANG BADAN PERTANAHAN NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

SALINAN. Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 114, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5887);

PERATURAN BUPATI SRAGEN NOMOR 97 TAHUN 2016 TENTANG TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KABUPATEN SRAGEN

BAB III DISKRIPSI LEMBAGA. A. Gambaran Umum Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kabupaten Karanganyar

TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERDAGANGAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.5/Menhut-II/2012 TENTANG

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA. Nomor : 04/P/M.KOMINFO/5/2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA SEKRETARIAT DEWAN PERS

2017, No serta Kinerja Pegawai di Lingkungan Badan Koordinasi Penanaman Modal; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam hu

SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 51 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS KOPERASI, PERINDUSTRIAN, PERDAGANGAN, DAN PARIWISATA

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 37 TAHUN 2017 TENTANG

TUGAS DAN FUNGSI DINAS PARIWISATA

-1- BUPATI SINJAI PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI SINJAI NOMOR 78 TAHUN 2016 TENTANG

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. Pembentukan Organisasi Dinas Daerah Kabupaten Bandung, Dinas Koperasi

PEMERINTAH KABUPATEN WONOSOBO

GUBERNUR JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR,

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2005 TENTANG

BAB III PROFIL PERUSAHAAN

Transkripsi:

BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN 3.1 Riwayat Perusahaan Departemen perdagangan adalah departemen dalam pemerintahan indonesia yang membidangi urusan perdagangan. Departemen perdagangan dipimpin oleh seorang menteri perdagangan, semenjak tanggal 21 oktober 2004 dijabat oleh Dr. Marie Elka Pangestu. Daya saing perdagangan suatu Negara di era perdagangan bebas tidak hanya bergantung pada instrumen tarif semata, tetapi juga harus didukung oleh kemampuan teknologi, industri dan inovasi untuk menghasilkan barang dan jasa yang memenuhi standar sehingga dapat meningkatkan akses pasar baik di dalam maupun luar negeri. Persaingan perdagangan internasional serta laju perkembangan teknologi dan industri menempatkan standard dan penilaian kesesuaian pada peran penting, baik dari sisi manfaat komersial maupun sebagai instrumen daya saing barang dan jasa nasional. Untuk memudahkan transaksi perdagangan, standar yang diacu sebaiknya berasal dari standar yang disusun oleh lembaga standardisasi internasional seperti ISO (Internasional Organization For Standardization), IEC (International Electrotechnical Commission) dan organisasi standardisasi dunia lainnya. Lahirnya tuntutan akan kepastian dan jaminan kualitas barang dan jasa dikembangkan melalui regulasi teknis yang berdasarkan standar untuk memberikan perlindungan konsumen dari aspek kesehatan, keselamatan, 56

57 keamanan dan kelestarian fungsi lingkungan hidup sesuai dengan ketentuan WTO yaitu TBT (Technical Barier to Trade) dan SPS (Sanitary and Phytosanitary Agreements). 3.2 Struktur Organisasi Perusahaan dan Pembagian Tugas, Tanggung Jawab, Wewenang dan Hal-Hal Lain yang Menyangkut Perusahaan Komponen - komponen dalam struktur organisasi dibawah memiliki tugas dan tanggung jawab sesuai dengan peranannya masing-masing. Setiap tugas yang dilakukan akan saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain sehingga tercipta suatu proses kerja yang saling mendukung. Berikut ini adalah gambar struktur organisasi dari Departemen Perdagangan khusus untuk Direktorat Jenderal Dalam Negeri beserta tugas dan tanggung jawab masing-masing bagian pada sturktur organisasi pada Departemen Perdagangan :

Gambar 3.1 Struktur Organisasi Direktorat Jenderal Dalam Negeri 58

59 1. Menteri Perdagangan Departemen Perdagangan mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian tugas pemerintah di bidang perdagangan. a. Perumusan kebijakan nasional, kebijakan pelaksanaan, dan kebijakan teknis di bidang perdagangan. b. Pelaksanaan urusan pemerintahan sesuai dengan bidang tugasnya. c. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya. d. Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. e. Penyampaian laporan hasil evaluasi, saran, dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. 2. Sekretariat Jendral Melaksanakan koordinasi pelaksanaan tugas serta pembinaan dan pemberian dukungan administrasi Departemen. a. Pembinaan serta pelaksanaan tugas dan administrasi Departemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, dan ketatalaksanaan, pendayagunaan sumber daya serta hubungan antar lembaga dan masyarakat.

60 b. Koordinasi terhadap pelaksanaan tugas unit organisasi dilingkungan Departemen. 3. Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang perdagangan dalam negeri. a. Penyiapan perumusan kebijakan Departemen di bidang perdagangan dalam negeri. b. Pelaksanaan kebijakan di bidang perdagangan dalam negeri sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. c. Perumusan standar, norma, pedoman, kriteria dan prosedur di bidang perdagangan dalam negeri. d. Pemberian bimbingan teknis, dan evaluasi di bidang perdagangan dalam negeri. e. Pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal. f. 4. Sekretariat Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Melaksanakan pelayanan teknis dan administratif kepada semua unsur organisasi dilingkungan Direktorat Jenderal.

61 a. Pelaksanaan koordinasi penyusunan kebijakan rencana dan program, evaluasi serta pelaporan di bidang perdagangan dalam negeri. b. Penyusunan rencana program dan analisis kebijakan serta kerjasama di bidang perdagangan dalam negeri. c. Penyusunan anggaran dan pengelolaan keuangan. d. Pembinaan dan pengelolaan administrasi kepegawaian, perlengkapan, rumah tangga serta urusan tata persuratan dan kearsipan. e. Penyiapan dan penelaahan peraturan perundang-undangan, pembinaan organisasi dan ketatalaksanaan, penyajian informasi, evaluasi, penyusunan laporan dan statistik di bidang perdagangan dalam negeri. 5. Direktorat Bina Usaha dan Pendaftaran Perusahaan Melaksanakan perumusan kebijakan, standarisasi dan bimbingan teknis, serta evaluasi di bidang usaha perdagangan dan pendaftaran perusahaan. a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang kelembagaan usaha, perdagangan jasa, usaha dagang asing, keagenan, pendaftaran perusahaan, dan laporan keuangan tahunan perusahaan.

62 b. Penyiapan perumusan standar, norma, kriteria dan prosedur di bidang kelembagaan usaha perdagangan jasa usaha dagang asing, keagenan, pendaftaran perusahaan, dan laporan keuangan tahunan perusahaan, c. Pelaksanaan bimbingan teknis di bidang kelembagaan usaha, perdagangan jasa, usaha dagang asing, keagenan, pendaftaran perusahaan, dan laporan keuangan tahunan perusahaan. d. Evaluasi pelaksanaan kegiatan di bidang kelembagaan usaha, perdagangan jasa, usaha dagang asing, keagenan, pendaftaran perusahaan, dan laporan keuangan tahunan perusahaan. e. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat. 6. Direktorat Bina Pasar dan Distribusi Melaksanakan perumusan kebijakan, standarisasi dan bimbingan teknis, pengawasan serta evaluasi di bidang pembinaan pasar dan distribusi. a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang pengembangan pasar hasil pertanian dan kehutanan, hasil industri dan pertambangan, bahan kebutuhan pokok, peningkatan penggunaan produksi dalam negeri, sarana distribusi dan informasi pasar. b. Penyiapan perumusan pedoman standar, norma, kriteria dan prosedur di bidang pengembangan pasar hasil pertanian dan

63 kehutanan, hasil industri dan pertambangan, bahan kebutuhan pokok, peningkatan penggunaan produksi dalam negeri, sarana distribusi dan informasi pasar. c. Pelaksanaan bimbingan teknis di bidang pengembangan pasar hasil pertanian dan kehutanan, hasil industri dan pertambangan, bahan kebutuhan pokok, peningkatan penggunaan produksi dalam negeri, sarana distribusi dan informasi pasar. d. Evaluasi pelaksanaan di bidang pengembangan pasar hasil pertanian dan kehutanan, hasil industri dan pertambangan, bahan kebutuhan pokok, peningkatan penggunaan produksi dalam negeri, sarana distribusi dan informasi pasar. e. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat. 7. Direktorat Perlindungan Konsumen Melaksanakan perumusan kebijakan, standarisasi dan bimbingan teknis, evaluasi di bidang perlindungan konsumen. a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang kerjasama, informasi dan publikasi perlindungan konsumen, analisis penyelenggaraan perlindungan konsumen, bimbingan konsumen dan pelaku usaha, pelayanan pengaduan dan fasilitasi kelembagaan perlindungan konsumen.

64 b. Penyiapan perumusan standar, norma, kriteria dan prosedur di bidang kerjasama, informasi dan publikasi perlindungan konsumen, analisis penyelenggaraan perlindungan konsumen, bimbingan konsumen dan pelaku usaha, pelayanan pengaduan dan fasilitasi kelembagaan perlindungan konsumen. c. Pelaksanaan bimbingan teknis di bidang kerjasama, informasi dan publikasi perlindungan konsumen, analisis penyelenggaraan perlindungan konsumen, bimbingan konsumen dan pelaku usaha, pelayanan pengaduan dan fasilitasi kelembagaan perlindungan konsumen. d. Evaluasi pelaksanaan di bidang kerjasama, informasi dan publikasi perlindungan konsumen, analisis penyelenggaraan perlindungan konsumen, bimbingan konsumen dan pelaku usaha, pelayanan pengaduan dan fasilitasi kelembagaan perlindungan konsumen. e. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat. Direktorat Perlindungan Konsumen di bagi menjadi 5 bagian dengan masing-masing tugas yang berbeda diantaranya : 1. Sub Direktorat Kerjasama, Publikasi dan Informasi Melaksanakan fungsi kerjasama dengan para stakeholder perlindungan konsumen, sehingga membangun dan memperkuat jaringan kerjasama, komunikasi dan koordinasi diantara lembagalembaga perlindungan konsumen nasional dan internasional.

65 a. Membangun dan memperkuat jaringan kerjasama, komunikasi dan koordinasi diantara lembaga-lembaga perlindungan konsumen nasional dan internasional. b. Mendorong terjalinnya kerjasama untuk membangun keahlian, kecakapan dan teknologi perlindungan konsumen dengan lembaga-lembaga terkait di dalam dan di luar negeri. c. Meningkatkan pemahaman dimensi perlindungan konsumen bagi perumus dan pelaksana kebijakan di pusat dan daerah. d. Membuat publikasi dan diseminasi informasi mulai dari peraturan, pedoman dan pesan-pesan perlindungan konsumen dalam berbagai bentuk baik melalui media baik cetak maupun elektronik. 2. Sub Direktorat Analisa Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen Melaksanakan evaluasi penyelenggaraan perlindungan konsumen dari semua instansi penyelenggara baik di pusat maupun di daerah, merumuskan kebijakan termasuk menyusun berbagai pedoman dan peraturan sebagai petunjuk pelaksanaan perlindungan konsumen.

66 a. Pengujian bagaimana hukum dan praktek pasar yang ada mempengaruhi konsumen. b. Meningkatkan analisis dan evaluasi penyelenggaraan perlindungan konsumen sebagai upaya feedback penyusunan berbagai peraturan dan ketentuan mengenai perlindungan konsumen. c. Menyerap dinamika isu perlindung konsumen dan bersama instansi terkait lain, mendorong pengawasan pasar Market surveilance, serta monitoring dan evaluasi. d. Menyusun berbagai pedoman dan peraturan petunjuk pelaksanaan perlindungan konsumen (label, klausa baku, iklan, cara menjual, layanan purna jual) dan aspek lain. yang terkait dengan pelaksanaan perlindungan konsumen. e. Membangun koordinasi yang efektif dengan instansi pelaksana perlindungan konsumen dalam pelaksanaan perlindungan konsumen yang berkaitan dengan standar produk, ketentuan-ketentuan lain bagi prasyarat keamanan, kesehatan, keselamatan dan lingkungan hidup. 3. Sub Direktorat Bimbingan Konsumen dan Pelaku Usaha Sub Direktorat ini mengemban tugas mempersiapkan generasi kedepan untuk lebih berdaya sebagai konsumen yang cerdas dan

67 mandiri serta pelaku usaha yang mengerti hak, kewajiban dan tanggung jawabnya serta hal-hal yang tidak benar dalam memproduksi dan memperdagangkan barang. Fungsi : a. Melakukan pembinaan mengenai produk yang aman bagi konsumen dan pemanfaatannya. b. Menginformasikan kepada konsumen dan pelaku usaha tentang keberadaan dan keberlakuan peraturan perlindungan konsumen. c. Membangun pengetahuan dan pemahaman perlindungan konsumen bagi generasi ke depan melalui instrumen non formal maupun bekerjasama dengan instansi terkait untuk pendidikan formal. d. Melakukan pemasyarakatan nilai-nilai perlindungan konsumen (Internalisasi/Sosialisasi). e. Menyediakan dukungan dalam bentuk pelatihan hukum kepada konsumen. f. Mempromosikan praktek bisnis yang baik bagi kepentingan konsumen. g. Membangun motivator perlindungan konsumen untuk konsumen dan pelaku usaha.

68 h. Membangun forum komunikasi pelaku usaha dengan kelompok-kelompok konsumen, untuk jalur feedback bagi aktivitas dunia usaha. 4. Sub Direktorat Pelayanan dan Pengaduan Konsumen Bertugas merencanakan, mengimplementasikan pelayanan dan memberikan informasi tentang hak dan kewajiban konsumen serta pelaku usaha sesuai hukum perlindungan konsumen berlaku, termasuk melayani pengaduan secara mediasi kepada konsumen. Bidang ini juga melakukan koordinasi dan komunikasi dengan lembaga swadaya masyarakat dalam penanganan penyelesaian kasus pengaduan konsumen. a. Memfasilitasi masyarakat dengan akses informasi mengenai pelayanan pengaduan yang memadai. b. Mengembangkan jejaring dengan seluruh stakeholders penegak hukum perlindungan konsumen berkaitan dengan penanganan kasus perlindungan konsumen. c. Memfasilitasi pengembangan sarana pelayanan pengaduan konsumen di berbagai daerah yang memerlukan. d. Membangun forum komunikasi dalam kerangka bedah kasus dan solusi efektif untuk penanganannya.

69 e. Membangun pemahaman sekaligus jejaring dalam rangka menerapkan peraturan/pedoman perlindungan konsumen, penegakan hukum, dan penelitian kasus. f. Melakukan koordinasi dan memberikan rekomendasi kepada lembaga/pejabat terkait untuk melarang beredarnya produk/jasa yang berpotensi menjadi stressor terhadap integritas keselamatan konsumen. g. Menyediakan informasi tertulis tentang standar operasional prosedur pengaduan konsumen bagi konsumen dan pelaku usaha dan menyebarluaskannya. h. Menyediakan tenaga-tenaga pelayanan pengaduan yang kompeten sebagai mediator dan konsiliator. 5. Sub Direktorat Fasilitasi Kelembagaan Melaksanakan perencanaan dan upaya pengembangan kapasitas institusi, baik yang terkait langsung dengan perlindungan konsumen maupun terhadap lembaga yang terkait dengan pembangunan perdagangan nasional. a. Memberikan pedoman mediasi, konsiliasi dan arbitrase untuk Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen. b. Memberikan perspektif konsumen terhadap usulan-usulan kebijakan dari lembaga-lembaga pemerintahan lainnya.

70 c. Mendorong tumbuh kembangnya LPKSM melalui pembentukan forum komunikasi, peningkatan SDM, dan fasilitas lain yang memungkinkan. d. Membangun motivator dari lembaga penyelesaian sengketa konsumen (LPKSM) untuk berpartisipasi dan bermitra guna membangun konsumen yang cerdas dan mandiri. e. Memfasilitasi pembentukan dan memperkuat fungsi dan kewenangan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) di Kabupaten/Kota. f. Memfasilitasi operasionalisasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) sebagai lembaga pendukung dan konsultatif untuk berbagai kebijakan pemerintah di bidang perlindungan konsumen. g. Menyusun dan menyempurnakan berbagai aturan yang terkait dengan penguatan fungsi dan peran serta aturan main bagi BPSK dan LPKSM. 8. Direktorat Metrologi Melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, standarisasi dan bimbingan teknis, pengawasan serta evaluasi di bidang Kemetrologian.

71 a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang sarana dan kerjasama kemetrologian, standar ukuran dan laboratorium kemetrologian, teknik kemetrologian, sumber daya manusia kemetrologian serta pengawasan dan penyuluhan kemetrologian. b. Penyiapan perumusan standar, norma, kriteria dan prosedur di bidang sarana dan kerjasama kemetrologian, standar ukuran dan laboratorium kemetrologian, teknik kemetrologian, sumber daya manusia kemetrologian serta pengawasan dan penyuluhan kemetrologian. c. Pelaksanaan bimbingan dan pelaksanaan teknis di bidang sarana dan kerjasama kemetrologian, standar ukuran dan laboratorium kemetrologian, teknik kemetrologian, sumber daya manusia kemetrologian serta pengawasan dan penyuluhan kemetrologian. d. Pengawasan dan evaluasi pelaksanaan di bidang sarana dan kerjasama kemetrologian, standar ukuran dan laboratorium kemetrologian, teknik kemetrologian, sumber daya manusia kemetrologian serta pengawasan dan penyuluhan kemetrologian. e. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat. Direktorat Metrologi di bagi menjadi 5 bagian dengan masing-masing tugas yang berbeda diantaranya : 1. Sub direktorat Sumber Daya Manusia Mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, norma, kriteria, prosedur,

72 bimbingan dan pelaksanaan teknis serta pengawasan dan evaluasi di bidang sumber daya manusia kemetrologian. a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang sumber daya manusia kemetrologian. b. Penyiapan penyusunan, pedoman, standar, norma, kriteria dan prosedur di bidang sumber daya manusia kemetrologian. c. Penyiapan bimbingan dan pelaksanaan teknis di bidang sumber daya manusia kemetrologian. d. Penyiapan pengawasan dan evaluasi pelaksanaan di bidang sumber daya manusia kemetrologian. 2. Sub Direktorat Standar Ukuran dan Laboratorium Kemetrologian Mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, norma, kriteria, prosedur, bimbingan dan pelaksanaan teknis serta pengawasan dan evaluasi di bidang standar ukuran dan laboratorium Kemetrologian. a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang standar ukuran dan laboratorium kemetrologian.

73 b. Penyiapan penyusunan pedoman, standar, norma, kriteria dan prosedur di bidang standar ukuran dan laboratorium kemetrologian. c. Penyiapan bimbingan dan pelaksanaan teknis di bidang standar ukuran dan laboratorium kemetrologian. d. Penyiapan pengawasan dan evaluasi pelaksanaan di bidang standar ukuran dan laboratorium kemetrologian. 3. Sub Direktorat Teknik Kemetrologian Mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, norma, kriteria, prosedur bimbingan dan pelaksanaan teknis serta pengawasan dan evaluasi di bidang teknik kemetrologian. a. penyiapan perumusan kebijakan di bidang teknik kemetrologian. b. penyiapan penyusunan pedoman, standar, norma, kriteria dan prosedur di bidang teknik kemetrologian. c. penyiapan bimbingan dan pelaksanaan teknis di bidang teknik kemetrologian. d. penyiapan pengawasan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan di bidang teknik kemetrologian.

74 4. Sub Direktorat Pengawasan dan Penyuluhan Kemetrologian Mempunyai tugas melaksanakan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, norma, kriteria, prosedur, bimbingan dan pelaksanaan teknis serta evaluasi di bidang pengawasan dan penyuluhan kemetrologian. a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang pengaasan dan penyuluhan kemetrologian. b. Penyiapan penyusunan pedoman, standar, norma, kriteria dan prosedur di bidang pengawasan dan penyuluhan kemetrologian. c. Penyiapan bimbingan dan pelaksnaan teknis di bidang pengawasan dan penyuluhan kemetrologian. d. Penyiapan pengawasan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan di bidang pengawasan dan penyuluhan kemetrologian. 5. Sub Direktorat Sarana dan Kerjasama Kemetrologian Mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, norma, kriteria, prosedur, bimbingan dan pelaksanaan teknis serta pengawasan dan evaluasi di bidang sarana dan kerjasama kemetrologian.

75 a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang sarana dan kerjasama kemetrologian. b. Penyiapan penyusunan pedoman, standar, norma, kriteria dan prosedur di bidang sarana dan kerjasama kemetrologian. c. Penyiapan bimbingan dan pelaksanaan teknis di bidang sarana dan kerjasama kemetrologian. d. Penyiapan pengawasan dan evaluasi pelaksanaan di bidang sarana dan kerjasama kemetrologian. 9. Direktorat Pengawasan Barang Beredar dan Jasa Melaksanakan perumusan kebijakan, pelaksanaan, koordinasi, bimbingan teknis, dan evaluasi di bidang pengawasan barang beredar dan jasa. a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang pembinaan dan pelaksanaan pengawasan barang hasil industri logam, mesin, elektronika, aneka, kimia, agro hasil hutan, dan jasa serta penyidikan dan kerjasama di bidang pengawasan barang beredar dan jasa. b. Penyiapan perumusan norma, kriteria dan prosedur di bidang pembinaan dan pelaksanaan pengawasan barang hasil industri logam, mesin, elektronika, aneka, kimia, agro hasil hutan, dan jasa

76 serta penyidikan dan kerjasama di bidang pengawasan barang beredar dan jasa. c. Pelaksanaan pengawasan barang hasil industri logam, mesin, elektronika, aneka, kimia, agro hasil hutan, dan jasa. d. Pelaksanaan koordinasi pengawasan barang beredar dan jasa lintas sektoral, pusat dan daerah. e. Pelaksanaan bimbingan teknis di bidang pembinaan dan pelaksanaan pengawasan barang hasil industri logam, mesin, elektronika, aneka, kimia, agro hasil hutan, dan jasa serta penyidikan dan kerjasama di bidang pengawasan barang beredar dan jasa. f. Evaluasi pelaksanaan kegiatan di bidang pembinaan dan pelaksanaan pengawasan barang hasil industri logam, mesin, elektronika, aneka, kimia, agro hasil hutan, dan jasa serta penyidikan dan kerjasama di bidang pengawasan barang beredar dan jasa. g. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat. 3.2.1 Visi dan Misi Berikut adalah Visi dan Misi dari Departemen Perdagangan : a. Perumusan Kebijakan Nasional, Kebijakan Pelaksanaan, dan kebijakan teknis di bidang perdagangan. b. Pelaksaan urusan pemerintah sesuai dengan bidang tugasnya.

77 c. Pengelolaan barang milik atau kekayaan Negara yang menjadi tanggung jawabnya. d. Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. e. Penyampaian laporan hasil evaluasi, saran dan pertimbangan dibidang tugas dan fungsinya kepada presiden. 3.3 Tata Laksana/Prosedur Yang Berjalan Untuk menentukan kebutuhan informasi yang diperlukan maka dilakukan observasi terlebih dahulu pada sistem yang berjalan saat ini. Sistem yang diamati meliputi prosedur jalannya pengiriman laporan. 3.3.1 Prosedur pengiriman laporan Jika diperhatikan, sistem yang sedang berjalan saat ini masih kurang efektif. Tahap-tahap prosedur jalannya laporan mingguan di departemen perdagangan saat ini : 1. Laporan yang dikumpulkan oleh Eselon 4 dari berbagai bagian akan disiapkan sebagai bahan utama laporan. 2. Laporan yang sudah tersedia akan dilakukan penginputan oleh staf yang telah dipillih yang mewakili (Kepala Bagian atau Esselon 3). 3. Lalu laporan yang telah masuk dikirim ke Eselon 3 untuk dilakukan pensortiran laporan.

78 4. Lalu Laporan yang telah dicek dan disortir oleh Eselon 3 dikirim lagi ke (Direktorat atau Eselon 2) untuk dilakukan pembelajaran materi laporan dan pensortiran laporan. 5. Lalu laporan yang telah dipelajari oleh Eselon 2, akan dilakukan penginputan Tindakan Produk Hukum untuk menyikapi isu penting dari laporan yang bersangkutan, yang kemudian akan diserahkan ke (Sekretariat Jenderal atau Sekjen) untuk dipelajari, disortir, dan diperbaiki apabila terjadi kesalahan. 6. Setelah dipelajari oleh Sekjen, laporan akan dikirim ke (Direktorat Jenderal atau Eselon 1) untuk dilakukan persortiran kembali dan melakukan penginputan Tindak Lanjut / Saran untuk menyikapi isu penting dari laporan yang bersangkutan. 7. Sebelum laporan sampai ke tingkat Menteri, laporan terlebih dahulu masuk ke bagian (Sekretaris Jenderal atau Sesjen) dimana akan dilakukan pensortiran dan pengeditan untuk laporan yang kurang tepat. 8. Laporan yang sudah dikoreksi oleh Sesjen akan diterima oleh Menteri sebagai bahan rapat mingguan.

79 3.4 Diagram Aliran Data 3.4.1 Diagram FlowData Gambar 3.2 Diagram Aliran Data

80 3.4.2 Diagram Konteks MENTERI PERDAGANGAN HASIL AKHIR LAPORAN SISTEM LAPORAN ESELON 2 ESELON 1 KERJA MINGGUAN INPUT TINDAKAN PRODUK HUKUM INPUT TINDAK LANJUT PENGUMPULAN BAHAN LAPORAN ESELON 4 Gambar 3.3 Diagram Konteks

81 3.4.3 Diagram Nol Aliran Data Gambar 3.4 Diagram Nol Aliran Data

82 3.4.4 Diagram Rinci Sortir Laporan Gambar 3.5 Diagram Rinci Sortir Laporan 3.4.5 Diagram Rinci Edit Laporan

Gambar 3.6 Diagram Rinci Edit Laporan 83

84 3.5 Permasalahan Yang Dihadapi Setelah dilakukan analisis terhadap sistem yang sedang berjalan, Didapat permasalahan sebagai berikut : - Masih sulitnya penyampaian laporan ke pimpinan dikarenakan belum adanya sistem secara online yang real time. - Database dari masing-masing direktorat masih belum terintegrasi dengan baik dikarenakan database yang dibuat tidak berdasarkan aliran data dari Departemen Perdagangan. - Tidak memiliki sistem backup data untuk menghindari manipulasi data karena belum tersedianya halaman back office sebagai halaman admin. - Masih kurangnya keamanan data pada aplikasi yang sedang berjalan dikarenakan hak akses untuk masing masing user yang masih belum sempurna dalam pengaksesan laporan, dikarenakan data hanya dapat dilihat berdasarkan jabatan yang berwenang. 3.6 Alternatif Pemecahan Masalah Dari permasalahan yang telah didapat, diajukan usulan pemecahan masalah sebagai berikut: Merancang dan membuat suatu sistem basis data baru pada Direktorat Perdagangan Dalam Negeri agar data dapat terorganisasi dengan rapi dan mempercepat proses pencarian data. Membuat suatu aplikasi baru yang dapat menghasilkan laporan yang tersusun dengan rapi dan mudah dipahami, agar mempermudah dalam

85 pengambilan keputusan. Merancang sistem basis data untuk memberikan hak akses yang lebih aman untuk para penggunanya, agar data dapat lebih terjaga kerahasiaannya.