/ Telp

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 : PENDAHULUAN. kontasepsi, asupan nutrisi. Perawatan payudara setelah persalinan (1-2) hari, dan

TERAPI PIJAT OKSITOSIN MENINGKATKAN PRODUKSI ASI PADA IBU POST PARTUM. Sarwinanti STIKES Aisyiyah Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. lebih selama tahun kedua. ASI juga menyediakan perlindungan terhadap

1

BAB IV PEMBAHASAN DAN SIMPULAN. untuk meningkatkan produksi ASI pada ibu post sectio caesarea pada kasus Ny.S

PENGARUH PIJAT OKSITOSIN TERHADAP TANDA KECUKUPAN ASI PADA IBU NIFAS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NGORESAN

BAB V PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

BAB 1 PENDAHULUAN. yang paling mahal sekalipun (Yuliarti, 2010). ASI eksklusif merupakan satu-satunya

PERBEDAAN EFEKTIVITAS MASSAGE EFFLUERAGE DI PUNGGUNG DENGAN ABDOMEN TERHADAP LAMA PENGELUARAN ASI IBU NIFAS DI RUANG TERATAI RSUD BANJARNEGARA

EFEKTIFITAS PIJAT OKSITOSIN TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI ASI PADA IBU NIFAS DI RSUD dr.soegiri KABUPATEN LAMONGAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Masa nifas (puerperium), berasal dari bahasa latin, yaitu puer yang artinya bayi

PIJAT OKSITOSIN UNTUK MEMPERCEPAT PENGELUARAN ASI PADA IBU PASCA SALIN NORMAL DI DUSUN SONO DESA KETANEN KECAMATAN PANCENG GRESIK.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PENGARUH PIJAT OKSITOSIN TERHADAP PRODUKSI ASI PADA IBU POSTPARTUM DI PUSKESMAS MERGANGSAN YOGYAKARTA TAHUN 2014 NASKAH PUBLIKASI

Jurnal Kebidanan 08 (02) Jurnal Kebidanan http : / EFEKTIFITAS BREAST CARE POST PARTUM TERHADAP PRODUKSI ASI

HUBUNGAN PIJAT OKSITOSIN DENGAN KECUKUPAN ASI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANGDOWO

HUBUNGAN PIJAT OKSITOSIN PADA IBU NIFAS TERHADAP PENGLUARAN ASI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RAJA BASA INDAH BANDAR LAMPUNG TAHUN 2015

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. bagian, yaitu : anatomi payudara, ASI, laktasi dan keefektifan proses menyusui.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Menyusui akan menjamin bayi tetap sehat dan memulai. kehidupannya dengan cara yang paling sehat.

HUBUNGAN ANTARA FREKUENSI, DURASI MENYUSUI DENGAN BERAT BADAN BAYI DI POLIKLINIK BERSALIN MARIANI MEDAN

BAB I PENDAHULUAN. yaitu 98 kematian per kelahiran hidup. Tingginya angka kematian bayi

EFEKTIFITAS PIJAT OKSITOSIN TERHADAP PENGELUARAN ASI DI RSIA ANNISA TAHUN 2017

PELAKSANAAN INISIASI MENYUSU DINI DENGAN KEBERHASILAN MENYUSUI BAYI DI BPM APRI OGAN ILIR

PERBEDAAN PRODUKSI ASI SEBELUM DAN SESUDAH DILAKUKAN KOMBINASI METODE MASSASE DEPAN (BREAST CARE)

Jurnal Keperawatan, Volume XI, No. 2, Oktober 2015 ISSN HUBUNGAN INISIASI MENYUSU DINI (IMD) DENGAN WAKTU PENGELUARAN KOLOSTRUM

PENGARUH TEKNIK MARMET TERHADAP PENGELUARAN ASI PADA IBU POST PARTUM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KOTA SEMARANG

HUBUNGAN PIJAT OKSITOSIN TERHADAP KELANCARAN PRODUKSI ASI IBU POST PARTUM

Teknik Menyusui Yang Benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi. Persiapan memberikan ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan.

BAB I PENDAHULUAN. parameter utama kesehatan anak. Hal ini sejalan dengan salah satu. (AKB) dinegara tetangga Malaysia berhasil mencapai 10 per 1000

PIJAT PUNGGUNG DAN PERCEPATAN PENGELUARAN ASI PADA IBU POST PARTUM

BAB II LANDASAN TEORI. meningkatkan pengeluaran hormon oksitosin (Suherni, 2009).

EFEKTIFITAS KOMBINASI STIMULASI OKSITOSIN DAN ENDORFIN MASSAGE TERHADAP KEJADIAN BENDUNGAN ASI PADA IBU POST PARTUM PRIMIPARA

PENGARUH PIJAT WOOLWICH TERHADAP PRODUKSI ASI DI BPM APPI AMELIA BIBIS KASIHAN BANTUL

PENGARUH PIJAT STIMULASI OKSITOSIN TERHADAP LET DOWN REFLEK PADA IBU POST PARTUM DI RUMAH BERSALIN MARDI RAHAYU KALIBANTENG SEMARANG

PENGARUH PIJAT OKSITOSIN DAN MOBILISASI DINI TERHADAP PENGELUARAN KOLOSTRUM IBU POST SECTIO CAESAREA. Abstrak

BAB 1 PENDAHULUAN. pada ibu primipara. Masalah-masalah menyusui yang sering terjadi adalah puting

BAB II TINJAUAN KONSEP DAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN. menyusui eksklusif. Pada ibu menyusui eksklusif memiliki kecenderungan yang

MENGATASI MASALAH PENGELUARAN ASI IBU POST PARTUM DENGAN PEMIJATAN OKSITOSIN. Novia Tri Tresnani Putri, Sumiyati

HUBUNGAN INISIASI MENYUSU DINI DENGAN PRODUKSI ASI PADA IBU MENYUSUI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NANGGALO PADANG

BAB I PENDAHULUAN. terutama pada bulan bulan pertama kehidupan bayi. 1 Namun, hanya 39%

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PENGELUARAN ASI PADA IBU POST PARTUM HARI KE-3 DI RSUD DR. SOEGIRI LAMONGAN

HUBUNGAN TEHNIK MENYUSUI DENGAN KELANCARAN ASI PADA IBU MENYUSUI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BLANG BINTANG ACEH BESAR JURNAL

Sekar Laras Amerli Andriani *) Rahardjo Apriyatmoko, SKM., M. Kes **), Puji Lestari, S.Kep., Ns., M. Kes (Epid)***)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG TEKNIK MENYUSUI YANG BENAR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TANON SRAGEN

Abstrak. Pengetahuan, Teknik Marmet, Pijat Oksitosin, Kombinasi Teknik Marmet dan Pijat Oksitosin, Kelancaran Pengeluaran ASI.

BAB I PENDAHULUAN. Secara global angka pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan masih

Pengaruh Metode Speos Terhadap Produksi Asi Pada Ibu Post Seksio Sesarea di Rumah Sakit Umum Daerah Tidar Kota Magelang Tahun 2017

PERSEPSI PIJAT OKSITOSIN UNTUK PENGELUARAN KOLOSTRUM PADA IBU NIFAS DI RSIA BUNDA SEMARANG

PENGARUH PIJAT OKSITOSIN TERHADAP PENGELUARAN KOLOSTRUM PADA IBU POST PARTUM DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU

PENGARUH INISIASI MENYUSU DINI TERHADAP WAKTU PENGELUARAN ASI PERTAMA PADA IBU POST PARTUM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BERGAS KABUPATEN SEMARANG

48 Media Bina Ilmiah ISSN No

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HUBUNGAN TEHNIK MENYUSUI YANG BENAR DENGAN KEJADIAN BENDUNGAN ASI PADA IBU NIFAS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEUREUDU KABUPATEN PIDIE JAYA MISRINA

PENGARUH PIJAT OKSITOSIN TERHADAP PROSES INVOLUSI UTERUS THE EFFECT OF OXYTOCIN MASSAGE TO INVOLUTION UTERINE PROCESS

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

EFEKTIVITAS MASSAGE ENDORPHINE DAN KOMPRES AIR HANGAT TERHADAP KECUKUPAN ASI BAYI PADA IBU POST PARTUM DI PUSKESMAS NGARINGAN PURWODADI

HUBUNGAN TEHNIK MENYUSUI YANG BENAR DENGAN KEJADIAN BENDUNGAN ASI PADA IBU NIFAS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEUREUDU KABUPATEN PIDIE JAYA MISRINA

Universitas Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu target Millenium Development Goals 4 (MDGs4) adalah Bangsa

BAB I PENDAHULUAN. dan kembalinya organ reproduksi wanita pada kondisi tidak hamil. Wanita

PENGARUH PIJAT OKSITOSIN TERHADAP PENGELUARAN ASI PADA IBU POSTPARTUM DI BPM PIPIN HERIYANTI YOGYAKARTA TAHUN 2016

KORELASI LAMA INISIASI MENYUSUI DINI (IMD) TERHADAP PENGELUARAN ASI DI PUSKESMAS KALIBAGOR KABUPATEN BANYUMAS

PENGARUH PELATIHAN TEHNIK MENYUSUI YANG BENAR PADA IBU NIFAS PRIMIPARA TERHADAP KETRAMPILAN DALAM MENYUSUI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. garam organik yang disekresikan oleh kedua belah kelenjar payudara ibu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Jurnal Kebidanan 08 (02) Jurnal Kebidanan http : / MASSASE ENDORPHIN TERHADAP VOLUME ASI PADA IBU POST PARTUM

EFEKTIFITAS PIJAT OKSITOSIN DAN PERAWATAN PAYUDARA TERHADAP KELANCARAN PRODUKSI ASI PADA IBU POST SECTIO CAESAREA DI RSAD WIRA BHAKTI MATARAM TAHUN

EFEKTIFITAS PRODUKSI ASI PADA IBU POST PARTUM DENGAN MASSAGE ROLLING (PUNGGUNG)

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU BERSALIN DENGAN PELAKSANAAN INISIASI MENYUSUI DINI DIKAMAR BERSALIN PUSKESMAS PUTRI AYU KOTA JAMBI TAHUN 2013

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. perkembangan yang pesat selama golden period. Pemberian nutrisi yang baik perlu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Meningkatkan derajat kesehatan yang adil dan merata seperti

PENGARUH PUTING SUSU LECET TERHADAP PENERAPAN ASI EKSKLUSIF DI PUSKESMAS KEBAKKRAMAT I KARANGANYAR

HUBUNGAN PERAWATAN PAYUDARA PADA IBU POSTPARTUM DENGAN KELANCARAN PENGELUARAN ASI DI DESA KARANG DUREN KECAMATAN TENGARAN KABUPATEN SEMARANG

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG METODE MEMPERLANCAR PENGELUARAN AIR SUSU IBU (ASI)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HUBUNGAN PIJAT OKSITOSIN DENGAN KELANCARAN PRODUKSI ASI PADA IBU POST PARTUM SEKSIO SESAREA HARI KE 2-3

PERBEDAAN PENGARUH TEKNIK MARMET DAN PIJAT OKSITOSIN TERHADAP PRODUKSI ASI PADA IBU POST PARTUM DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK IBI SURABAYA TESIS

PENGARUH PENATALAKSANAAN INISIASI MENYUSUI DINI (IMD) TERHADAP WAKTU PENGELUARAN ASI DI RSUD PROF. DR. H. ALOEI SABOE KOTA GORONTALO, Wirdawty S.

METODE AMENORE LAKTASI. Fonda Octarianingsih

BAB 1 PENDAHULUAN. Menurut laporan WHO (2014) angka kematian ibu di Indonesia menduduki

STUDI TENTANG PRODUKTIF ASI DIKAITKAN DENGAN ANATOMI PAYUDARA DI POSYANDU DESA WADUNG PAKISAJI KABUPATEN MALANG

ANATOMI PAYUDARA DAN FISIOLOGIS PAYUDARA PADA PROSES LAKTASI

HUBUNGAN FREKUENSI DAN LAMA MENYUSU DENGAN PERUBAHAN BERAT BADAN NEONATUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GANDUSARI KABUPATEN TRENGGALEK

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Perilaku manusia adalah aktivitas yang timbul karena adanya stimulus dan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

METODE SPEOS (STIMULASI PIJAT ENDORPHIN, OKSITOSIN DAN SUGESTIF) DAPAT MENINGKATKAN PRODUKSI ASI DAN PENINGKATAN BERAT BADAN BAYI

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manfaat ASI sudah sangat umum diketahui oleh masayarakat luas.

DAFTAR PUSTAKA. Ahmadi, Abu dan Nur Unbiyati Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

SIKAP POSITIF IBU DALAM PERAWATAN PAYUDARA MENDUKUNG KELANCARAN PRODUKSI ASI

BAB 1 PENDAHULUAN. setelah kira-kira 6 minggu yang berlangsung antara berakhirnya organ-organ

PENGARUH KOMBINASI METODE PIJAT WOOLWICH

BAB 1 PENDAHULUAN. akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Intensitas kontraksi uterus meningkat secara

Effect of Breast Care and Oxytocin Massage on Breast Milk Production: A study in Sukoharjo Provincial Hospital

PENGARUH PIJAT OKSITOSIN TERHADAP PRODUKSI ASI IBU POSTPARTUM DI BPM WILAYAH KABUPATEN KLATEN

Transkripsi:

PENGARUH METODE STIMULASI PIJAT ENDHORPINE, OKSITOSIN DAN SUGESTIF (SPEOS) TERHADAP PRODUKSI ASI PADA IBU NIFAS Christin Hiyana TD 1, Novi Susiyanti 2 1,2 Prodi Kebidanan Magelang Poltekkes Kemenkes Semarang Email : christinhiyana@yahoo.com / Telp. 085725241487 ABSTRAK Bayi yang menyusui di hari pertama setelah lahir dapat mengurangi resiko kematian bayi baru lahir hingga 45%. Permasalahan pengeluaran ASI dini merupakan alasan para ibu untuk tidak memberikan ASI yang akan berdampak buruk untuk kehidupan bayi. Hal tersebut bisa disebabkan oleh faktor hormonal, psikologis maupun keyakinan ibu untuk memberikan ASI. Metode Stimulasi Pijat Endorphine, Oksitosin dan Sugestif merupakan alternatif cara untuk permasalahan pengeluaran ASI. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode Stimulasi Pijat Endorphine, Oksitosin dan Sugestif pada ibu nifas yang diberikan perlakuan dan yang tidak diberikan perlakuan terhadap produksi ASI di RSUD Dr. Tjitrowardojo Purworejo. Penelitian ini dilakukan di wilayah Kabupaten Purworejo. Penelitian ini menggunakan quasi eksperimen. Populasi penelitian ini adalah 40 orang ibu nifas di RSUD Dr. Tjotrowardojo Purworejo. Tehnik pengambilan sampel yaitu dengan menggunakan tehnik simple random sampling dan data dianalisi dengan uji Man Whitney dengan taraf kepercayaan 5%. Sampel dalam penelitian ini dibagi dalam dua kelompok yaitu intervensi dan kontrol masing-masing 20 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh metode Stimulasi Pijat Endorphin, Oksitosin dan Sugestif terhadap produksi ASI pada ibu nifas. Produksi ASI pada ibu nifas dengan perlakuan metode SPEOS dengan nilai p value 0,000 dan RR 7,750, sedangkan pada kelompok kontrol dengan perlakuan pijat oksitosin RR 5,050. Metode SPEOS dianggap lebih efektif untuk ibu nifas dalam memperlancar produksi ASI. Bidan dan perawat RSUD Dr. Tjitrowardojo diharapakan untuk menerapkan metode SPEOS pada ibu nifas untuk membantu memperlancar produksi ASI serta merupakan alternatif cara pada ibu nifas untuk masalah produksi ASI terutama pada hari-hari pertama kehidupan bayi. Kata kunci : Metode SPEOS, Produksi ASI, Ibu Nifas THE EFFECT OF MASSAGE STIMULATION OF ENDORPHINS, OXYTOCIN AND SUGGESTIVE (SPEOS) IN PUERPURAL WOMEN TREATMENT AGAINST BREAST MILK PRODUCTION Christin Hiyana TD 1, Novi Susiyanti 2 1,2 Midwifery Study Program of Magelang, Semarang Health Polytechnic ABSTRACT Breastfeeding in the first days after birth can reduce the risk of neonatal mortality up to 45 %. The problem is early production of breast milk is one reason for not breastfeeding a baby that in turn it will be bad for the baby s life. This can be caused by hormonal, psychological and confidence factors. Massage Stimulation of Endorphins, Oxytocin and Suggestive method is an alternative way of breastfeeding problems in terms of breast milk production. To observe the effect of Massage Stimulation of Endorphins, Oxytocin and Suggestive method in puerperal women given and not given treatment against breast milk production in RSUD Dr. Tjitrowardojo Purworejo. This study is take place in the Purworejo Region. This study was quasi-experimental. This study use 40 puerperal women in RSUD Dr. Tjitrowardojo Purworejo. Sampling used simple random sampling. Data were analyzed with the Mann Whitney test with 5% trustworthyness. Subjects were divided into two groups intervention and control each 20 people. This study show the effect of Massage Stimulation of Endorphins, Oxytocin and Suggestive method to breast milk production on puerperal women. The breast milk production on puerperal women in the SPEOS Methods had the p value 0,000 and RR 7,750, while the control group breast milk production on puerperal women in the oxytosin massage treatment with the RR 7,750. The SPEOS method is considered more effective to raised breast milk production on puerperal women. Midwifes and nurses in RSUD Dr. Tjitrowardojo expected to apply the SPEOS method which is proven for alternative way for breast milk production issues in particular during the first days of the baby s life. Keywords : SPEOS Method, Breast Milk Production, Puerpural Women

PENDAHULUAN Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua kelenjar payudara ibu, yang berguna sebagai makanan utama bagi bayi. Banyak masalah muncul di hari-hari pertama pemberian ASI. Permasalahan mendasar yang sering membuat ibu merasa bingung dan akhirnya memilih alternatif lain dengan memberikan susu formula untuk mencukupi kebutuhan bayi adalah ASI tidak keluar (Haryono, 2014) 1. Pentingnya memberikan ASI kepada bayi tercermin pada rekomendasi Badan Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) yang menghimbau agar setiap ibu memberikan ASI eksklusif sampai bayinya berusia enam bulan. Menurut data dari UNICEF, anak-anak yang mendapat ASI eksklusif 14 kali lebih mungkin untuk bertahan hidup dalam enam bulan pertama kehidupan dibandingkan anak yang tidak disusui. Mulai menyusui pada hari pertama setelah lahir dapat mengurangi risiko kematian bayi baru lahir hingga 45%. Penelitian yang dilakukan Melina Mongo dkk (2014) 2 berjudul Determinants of exclusive breast feeding in Kilimanjaro Region, Tanzania menunjukan bahwa EBF (Exclusive Breast feeding) efektif untuk mencegah kematian balita hingga 13 % - 15 %. Berdasarkan data (Dinkes Jateng, 2014) tahun 2012, cakupan ASI Eksklusif mencapai 42,35%. Kabupaten Purworejo merupakan salah satu wilayah yang berada di Jawa Tengah dengan cakupan ASI Eksklusif dari sasaran 8.372 bayi 0 6 bulan pada tahun 2012 menunjukan persentase 40.23% tidak jauh berbeda dibandingkan dengan cakupan di Kabupaten Purworejo sebesar 35.69%. Untuk data cakupan ASI dari persalinan normal yang diambil di ruang bersalin di RSUD Tjitrowardojo Purworejo pada tahun 2015, jumlah persalinan sebanyak 127 kasus dan bayi yang secara langsung dilakukan IMD sebanyak 95 kasus dan yang tidak dilakukan IMD sebanyak 32 kasus. Pijat oksitosin adalah pemijatan pada daerah tulang belakang leher, punggung atausepanjang tulang belakang ( vertebrae) sampai tulang costae kelima sampai keenam (Suherni, dkk, 2007) 3. Metode massase endorphin digunakan sebagai alternatif cara memberikan kenyamanan untuk rasa nyeri pada persalinan. Endorphin dikenal sebagai zat yang banyak manfaatnya. Pijat endorphine dapat merangsang pengeluaran hormon endorphine dan dapat merangsang munculnya refleks prolaktin dan oksitosin sehingga meningkatkan volume dan produksi ASI (Mongan, 2009) 4. Untuk memperlancar proses laktasi dan upaya dalam mendukung proses pemberian ASI eksklusif, maka dapat dilakukan penggabungkan teknik pijat endhorpin, pijat oksitosin dan pemberian sugestif menjadi satu metode yang disebut sebagai metode SPEOS (Stimulasi Pijat Endorphin, Oksitosin, dan Sugestif). Dari latar belakang tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Pengaruh Metode SPEOS (Stimulasi Pijat Endorphin, Oksitosin, dan Sugestif) Terhadap Produksi ASI Pada Ibu Nifas Normal di RSUD Dr. Tjitrowardojo Purworejo. METODE Jenis penelitian kuantitatif dengan metode quasi eksperimen atau eksperimen semu. Desain yang digunakan dalam penelitian ini posttest only control group

design. Penelitian ini dilakukan di ruang nifas RSUD Tjitrowardojo Purworejo, dilakukan kurang lebih satu bulan yaitu bulan Mei sampai Juni 2016. Populasi penelitian ini adalah ibu nifas normal di RSUD Tjitrowardojo Purworejo pada bulan Mei sampai Juni tahun 2016 yang diperkirakan berjumlah 45 orang. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan simple random sampling. Analisis bivariat penelitian ini dengan jenis data berskala ordinal yang artinya data merupakan non parametric, sehingga hipotesis komparatif menggunakan uji statistik Mann Whitney dengan interpretasi hasil jika P value < 0,05 maka Ho ditolak. HASIL & PEMBAHASAN Tabel 1 Distribusi Frekuensi Produksi ASI Kategori Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol F % F % Lancar 20 100 10 50% Tidak Lancar 0 0 10 50% Jumlah 20 100 20 100 Produksi ASI seluruh responden kelompok eksperimen termasuk kategori lancar dan pada kelompok kontrol hanya mencapai 50% yang termasuk kategori lancar. Pengeluaran ASI menurut Roesli (2005) 5 merupakan suatu proses pelepasan hormon oksitosin untuk mengalirkan air susu yang sudah diproduksi melalui saluran dalam payudara. Permasalahan pengeluaran ASI dini ini memberikan dampak buruk untuk kehidupan bayi. Padahal justru nilai gizi ASI tertinggi ada di hari-hari pertama kehidupan bayi, yakni kolostrum. Penggunaan susu formula merupakan alternatif yang dianggap paling tepat untuk mengganti ASI. Tabel 2 Indikator Produksi ASI (Kelompok Eksperimen) Kelompok Indikator Eksperimen Ya Tidak % N % N 1 Payudara tegang 65 17 35 3 2 Ibu rileks 65 13 35 7 3 Let down reflek baik 100 20 0 0 4 Frekeunsi menyusu >8 kali 70 14 30 6 5 Menggunakan 2 payudara 70 15 30 5 6 Posisi perlekatan benar 70 14 30 6 7 Putting tidak lecet 100 20 0 0 8 Payudara penuh &memerah 70 14 30 6 9 Menyusui tanpa jadwal 75 15 25 5 10 Bayi menghisap kuat dengan irama perlahan 65 13 35 7 Tabel 3 Indikator Produksi ASI (Kelompok Intervensi) Kelompok Kontrol Indikator Ya Tidak % N % N 1 Payudara tegang 45 9 55 11 2 Ibu rileks 55 11 45 9 3 Let down reflek baik 55 11 45 9 4 Frekeunsi menyusu >8 kali 100 20 0 0 5 Menggunakan 2 payudara 40 8 60 12 6 Posisi perlekatan benar 25 5 75 15 7 Putting tidak lecet 65 13 35 7 8 Terlihat memerah payudara penuh 20 4 80 16 9 Menyusui tanpa jadwal 45 9 55 11 10 Bayi menghisap kuat dengan irama perlahan 55 11 45 9 Persentase paling tinggi pada kelompok eksperimen adalah responden dengan let down reflek yang baik yaitu 20 responden atau seluruhnya (100%) dan responden pada putting tidak lecet yaitu sebanyak 20 responden atau seluruhnya (100%). Pada kelompok kontrol persentase paling tinggi adalah responden dengan frekuensi menyusui >8 kali yaitu seluruh responden (100%) dan pada responden dengan putting tidak lecet yaitu sebanyak 13 responden (65%). Payudara Tegang Payudara tegang menurut Ambarwati (2009) 6 dapat disebabkan karena prolaktin bekerja pada kelenjar susu ( alveoli) untuk memproduksi ASI. Pijat oksitosin menurut Haryono (2014) 1 digunakan untuk merangsang reflek oksitosin atau reflek let-down. Sekresi hormon prolaktin akan merangsang sel - sel kelenjar susu untuk memproduksi air susu sebagai persiapan menyusui, pasca kelahiran. Dengan menyusui, akan meningkatkan sekresi hormon oksitosin

yang akan mendorong produksi air susu meningkat. Oksitosin akan dialirkan melalui darah menuju ke payudara yang akan merangsang kontraksi otot di sekeliling alveoli (pabrik ASI) dan memeras ASI keluar dari pabrik ke gudang ASI. Hanya ASI di dalam gudang ASI yang dapat dikeluarkan oleh bayi dan atau ibunya. Ibu Rileks Hasil penelitian ditinjau dari segi rileks, 13 responden pada kelompok eksperimen atau 65% merasa rileks pada saat dilakukan pengukuran produksi ASI, sedangkan pada kelompok kontrol hanya mencapai 11 orang atau 55%. Ibu yang cemas dan stres dapat mengganggu proses menyusui sehingga mempengaruhi produksi ASI. Pengeluaran ASI akan berlangsung baik pada ibu yang merasa rileks dan nyaman Roesli (2005) 5. Pada metode SPEOS ini salah satunya melakukan pijat endorphin dan memberikan sugestive kepada ibu nifas dimana ketika menggabungkan antara keduanya akan menghasilkan hormon endorphin yang bertujuan membuat ibu menjadi lebih rileks sehingga produksi ASI akan semakin lancar Let Down Refleks Baik Hasil penelitian seluruh responden kelompok eksperimen atau 100% mengalami let down reflek dengan baik, pada kelompok kontrol hanya mencapai 11 orang atau 55% saja. Let-down reflek adalah refleks penyemprotan susu ( milk ejection reflek), yang bertanggung jawab menyalurkan susu dari payudara kepada bayi, dan dikendalikan oleh kadar oksitosin. Oksitosin yang dilepaskan oleh hipofifis posterior akan dialirkan ke dalam darah dan sampai pada organ tujuan yaitu sel mioepitel di sekitar alveoli dan sel mioepitel di uterus. Kemudian hormon oksitosin merangsang sel mioepitel sehingga kantung alveolus tertekan, tekanan meningkat dan duktus memendek dan melebar. Kemudian diejeksikanlah ASI dari putting susu. Siregar (2004) 7. Frekuensi Menyusui > 8 kali Hasil penelitian tentang frekuensi menyusui lebih dari 8 kali dari kelompok eksperimen sebanyak 14 responden atau 70% sedangkan pada kelompok kontrol seluruhnya atau 100% menyatakan menyusui lebih dari 8 kali. Saat bayi menghisap payudara ibu maka akan merangsang ujung saraf sensoris disekitar payudara sehingga merangsang kelenjar hipofisis bagian depan untuk menghasilkan prolaktin. Prolaktin akan masuk ke peredaran darah kemudian ke payudara menyebabkan sel sekretori di alveolus untuk menghasilkan ASI. Selain itu prolaktin akan berada di peredaran darah selama 30 menit setelah payudara dihisap, sehingga prolaktin dapat merangsang payudara menghasilkan ASI Siregar (2004) 7. Sedangkan untuk minum yang sekarang, bayi mengambil ASI yang sudah ada. Makin banyak ASI yang dikeluarkan dari gudang ASI ( sinus laktiferus), maka akan semakin banyak produksi ASI. Semakin sering bayi menyusui makin banyak ASI diproduksi. Sebaliknya, makin jarang bayi menghisap, makin sedikit payudara menghasilkan ASI. Jika bayi berhenti menghisap maka payudara akan berhenti menghasilkan ASI. Prolaktin umumnya dihasilkan pada malam hari, sehingga menyusui pada malam hari dapat membantu untuk mempertahankan produksi ASI. Siregar (2004) 7. Menggunakan 2 Payudara

Hasil penelitian sejumlah 15 responden atau 70% kelompok eksperimen menyatakan tentang menyusui dengan 2 payudara secara bergantian dan pada kelompok kontrol hanya 8 orang saja atau 40% yang menyusui dengan menggunakan 2 payudara secara bergantian. Bayi sebaiknya saat menyusu mengosongkan kedua payudara secara bergantian. Apabila bayi tidak mengosongkan payudara bergantian, maka pada pemberian air susu yang berikutnya payudara yang lain yang diberikan pertama kali, atau bayi mungkin sudah kenyang dengan satu payudara, maka payudara yang kedua digunakan pada pemberian air susu berikutnya. Sebagai respons terhadap pengisapan, prolaktin dikeluarkan dari grandula pituitaria anterior, sehingga memacu pembentukan air susu yang lebih banyak. Siregar (2004) 7. Posisi Perlekatan Benar Hasil penelitian ditinjau dari aspek perlekatan payudara sebanyak 14 responden atau 70% pada kelompok eksperimen melakukan dengan benar dan hanya 5 orang atau 25% pada kelompok kontrol yang melakukan dengan benar. Posisi adalah bagaimana tubuh bayi menempel ke tubuh ibu, dan pelekatan adalah bagaimana mulut bayi menempel ke payudara ibu, keduanya haruslah benar. Pada posisi yang benar perut bayi menempel ke perut ibu; kepala,leher, dan badan bayi berada dalam satu garis lurus, wajah bayi menghadap payudara ibu, dan badan bayi tersangga dengan baik. Penting untuk memastikan kepala dan leher bayi lurus, karena bayi tidak dapat menelan dengan baik jika minum dengan posisi leher menoleh. Pada pelekatan yang benar, dagu bayi menempel di payudara ibu, areola (bagian gelap di sekitar puting) yang berada di bibir bawah bayi lebih banyak masuk ke dalam mulut bayi dibandingkan areola sebelah atas, bibir bayi terlipat keluar, dan mulutnya terbuka lebar. Bote (2009) 8. Putting Tidak Lecet Hasil penelitian semua responden pada kelompok eksperimen payudara tidak lecet, sedangkan pada kelompok kontrol sejumlah 13 orang atau 65% menyatakan payudara lecet. Pada puting susu lecet berkaitan dengan posisi perlekatan yang benar, dimana jika pelekatan benar maka hisapan bayi pada puting susu akan sepenuhnya mencakup puting dan sebagian areola tetapi jika hisapan salah, hisapan akan terus menerus terpusat pada puting, sehingga menyebabkan rasa nyeri, dan puting menjadi lecet dan luka. Jika bayi tidak dapat menghisap ASI dengan efektif, maka asupan ASI kurang, kenaikan berat badan kurang optimal, dan rantai selanjutnya adalah pengosongan payudara tidak maksimal dan produksi ASI selanjutnya menurun. Kristiyanasari (2009) 9. Terlihat Memerah Payudara Penuh Hasil penelitian tentang ibu terlihat memerah payudara saat penuh pada kelompok eksperimen sebanyak 14 responden atau 70%, sedangkan pada kelompok kontrol hanya mencapai 4 orang atau 20%. Bila ASI tak keluar banyak, kemungkinan teknik ibu salah. Mungkin cara memerah ASI-nya seperti melakukan massage payudara. Cara ini tak akan mengeluarkan ASI, karena yang ditekan pada pijat payudara adalah pabrik ASI bukan gudang nya. Ibu tak bisa langsung mengeluarkan ASI dari pabrik tapi harus melalui gudang dulu. Widayanti (2014 ) 10.

Gerakan memerah dengan menggunakan telapak tangan atau bantalan jari tangan ini dilakukan sesuai dengan peredaran darah menuju jantung maupun kelenjar- kelenjar getah bening. Manfaat gerakan ini adalah merelaksasi otot dan ujung-ujung syaraf. Manipulasi ini dimaksudkan untuk mempengaruhi syaraf-syaraf vegetatif pada jaringan-jaringan di bawah kulit dan mencari atau mengetahui kelainan-kelainan jaringan. Mithayani (2012) 11. Menyusui Tanpa Jadwal Hasil penelitian tentang bayi menyusui tanpa jadwal pada kelompok eksperimen sebanyak 15 responden atau 75% dan pada kelompok kontrol sebanyak 9 orang atau 45%. ASI ibu menyusui akan meningkat dan berubah dari kolostrum menjadi mature milk antara 2-5 hari setelah melahirkan. Payudara akan terasa penuh, bengkak, dan mungkin terasa menyakitkan jika ASI tidak dikeluarkan. Untuk meminimalisasi terjadinya proses pembengkakan, harus memperhatikan frekuensi menyusui atau dapat memerah ASI. Ambarwati (2009) 6. Ibu memiliki kapasitas atau jumlah penyimpanan ASI yang berbeda. Kapasitas penyimpanan ASI adalah jumlah ASI yang dapat terakumulasi sebelum memberikan sel-sel suatu pesan untuk mengurangi jumlah ASI. Seorang ibu dapat memiliki kapasitas penyimpanan ASI yang berbeda memungkinkan payudara menyimpan ASI lebih lama atau lebih singkat dibandingkan dengan ibu yang lain. Lowdermilk (2005) 12. Bayi menghisap kuat dengan irama perlahan Hasil penelitian tentang bayi menghisap kuat payudara dengan irama perlahan yaitu 13 responden atau 65% pada kelompok eksperimen dan hanya 11 orang atau 55% terjadi pada kelompok kontrol. Dengan isapan mulut bayi akan menstimulus kelenjar hipotalamus pada bagian hipofise anterior dan posterior. Isapan bayi yang tidak sempurna akan menurunkan produksi ASI. Hal ini disebabkan hampir seluruhnya ibu menyusui bayinya dengan tepat pada saat menyusui, seperti cara menempatkan posisi mulut pada payudara, sehingga isapan bayi seluruhnya benar. Jika isapan bayi benar maka akan menstimulasi hipotalamus yang akan merangsang hipofise anterior menghasilkan hormon prolaktin dan hipofise posterior menghasilkan hormone oksitosin.haryono (2014) 1. Berdasarkan analisis statistik menggunakan uji Man Whitney dapat dilihat rerata produksi ASI pada kedua kelompok diperoleh pada kelompok eksperimen yaitu 7,750, sedangkan rerata produksi ASI pada kelompok kontrol 5,050 dengan p-value 0,000. Karena p-value <0,000 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Ada pengaruh metode SPEOS terhadap produksi ASI ibu nifas di RSUD Dr. Tjitrowardojo Purworejo. Metode SPEOS merupakan gabungan dari stimulasi pijat endhorpine, oksitosin, dan sugestif yang dilakukan secara berurutan. Peranan hipofisis adalah mengeluarkan endorfin (endegenous opiates) yang berasal dari dalam tubuh dan efeknya menyerupai heroin dan morfin. Zat ini berkaitan dengan penghilang nyeri alamiah ( analgesik). Peranan selanjutnya mengeluarkan prolaktin yang akan memicu dan mempertahankan sekresi air susu dari kelenjar mammae. Nurizah (2011) 13. Sedangkan peranan hipotalamus akan mengeluarkan oksitosin yang berguna untuk menstimulus sel-sel otot polos uterus dan menyebabkan keluarnya air

susu dari kelenjar mammae pada ibu menyusui dengan menstimulasi sel-sel mioepitel ( kontraktil) di sekitar alveoli kelenjar mammae. Sekresi air susu akan terhambat apabila ibu merasakan nyeri saat menyusui atau stress emosional. Inilah peranan pijat tengkuk yang mengurangi nyeri ibu menyusui dan membantu meredam stress emosional, dengan pijatan tengkuk merangsang keluarnya endorfin yang menenangkan sehingga reflek oksitosin dan prolaktin menjadi lancar.bote (2009) 8. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. Seluruh ibu nifas yang diberikan metode SPEOS kategori produksi ASI nya lancar yaitu sebanyak 100%. 2. Sebagian ibu nifas yang diberikan pijat oksitosin kategori produksi ASI nya lancar yaitu sebanyak 50%. 3. Ada pengaruh metode SPEOS terhadap produksi ASI pada ibu nifas di RSUD Dr. Tjitrowardojo Purworejo tahun 2016. Saran 1. Bagi tenaga medis perawat, bidan atau dokter Dianjurkan untuk mengganti tindakan yang sebelumnnya berupa pijat oksitosin menjadi metode SPEOS yang bertujuan untuk memperlancar produksi ASI pada ibu nifas. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam memproduksi ASI pada ibu nifas sebaiknya metode SPEOS dilakukan selama 3 hari. 2. Bagi Responden Untuk lebih sering memberikan ASI kepada bayinya atau menyusui lebih dari 8 kali dalam satu hari, karena lebih sering memberikan ASI maka produksi ASI pada ibu nifas akan menjadi lebih lancar. Diharapkan untuk menggunakan kedua payudara secara bergantian saat menyusui bayinya sehingga akan memperlancar produksi ASI pada ibu nifas. KEPUSTAKAAN 1 Haryono. (2014). Manfaaat ASI Eksklusif cetakan III.Yogyakarta: Pustaka Baru. 2 Melina Mongo. (2014). Determinants of exclusive breastfeeding in Kilimanjaroregion, Tanzania. (http://www.sciencepublishinggro up.com/j/sjph) 3 Suherni, dkk. (2007). Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta : Fitramaya. 4 Mongan, M. (2009). HypnoBirthing Metode Melahirkan Secara Aman, Mudah dan Nyaman. Jakarta: PT Buana Ilmu Populer. 5 Roesli Utami. (2005). Seri 1 Mengenal ASI Eksklusif cetakan III. Jakarta: Trubus Agriwidya. 6 Ambarwati dan Wulandari. (2009). Asuhan Kebidanan Nifas. Jogjakarta: Mitra Cendekia. 7 Arifin, M Siregar. (2004). Pemberian ASI Eksklusif dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Diakses tanggal 27 April 2016. http://repository.usu.ac.id/bitstream/1 23456789/32726/1/fkm-arifin4.pdf 8 Bote, 2009. ASI dan Laktasi. 2 Maret 2013. Betofilia.com. 9 Kristiyanasari Weni. 2009. ASI, Menyusui Dan Sadari. Yogyakarta: Nuha Medika 10 Widayanti,Wiwin. 2014. Efektifitas Metode SPEOS (Stimulasi Pijat Endorphin, Oksitosin Dan Sugestif) Terhadap Pengeluaran ASI Pada Ibu Nifas : (Quasi Ekperimen, di BPM Wilayah Kabupaten Cirebon Tahun 2013). http://eprints.undip.ac.id/43466/ Diakses tanggal 15 Juli 2016.

11 12 Mitayani. 2011. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika Bobak, Perry, Lowdermilk. (2005). Maternity Nursing (4th Ed.). California: Mosby. 13 Iin Nurizah. 2011. Pengaruh Endorphin Massage Terhadap Intensitas Nyeri Kala I Persalinan Normal Ibu Primipara di BPS S Dan B Demak Tahun 2011. http://jurnal.unimus.ac.id Diakses tanggal 13 Agustus 2016