No. 10/02/51/Th. XI, 1 Februari 2017 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI JANUARI 2017, NTP BALI TURUN 0,46 PERSEN Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Bali bulan Januari 2017 tercatat mengalami penurunan sebesar 0,46 persen, dari 106,74 pada bulan Desember 2016, menjadi 106,25. Dari sisi indeks yang diterima petani (It), tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,34 persen, dari 130,72 di bulan sebelumnya menjadi 131,16. Sementara dari sisi indeks yang dibayar petani (Ib), tercatat meningkat sebesar 0,80 persen, dari 122,47 menjadi 123,45. Pada bulan Januari 2017, NTP dari kelima subsektor mengalami penurunan. Subsektor Tanaman Pangan turun sebesar 0,05 persen, Hortikultura 0,75 persen, Tanaman Perkebunan Rakyat 0,36 persen, Peternakan 0,57 persen dan Perikanan 0,03 persen. NTP Nasional bulan Januari 2017 mencapai 100,91, mengalami penurunan sebesar 0,56 persen terhadap bulan sebelumnya yaitu 101,49. Kenaikan ini secara umum didorong oleh indeks harga yang diterima petani (It) yang naik sebesar 0,15 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan lebih besar, yaitu 0,71 persen. Berdasarkan Indeks Harga Konsumen Perdesaan (IHKP) Januari 2017, daerah pedesaan di Bali tercatat mengalami inflasi sebesar 1,00 persen terhadap bulan sebelumnya. Hal ini sejalan dengan kondisi harga perdesaan secara nasional yang juga tercatat mengalami inflasi, sebesar 0,79 persen. Bulan Januari 2017, dari 33 provinsi yang melakukan pengitungan inflasi perdesaan, semua provinsi tercatat mengalami inflasi. Inflasi tertinggi tercatat di Provinsi Kalimantan Barat (1,45 persen) dan terendah di Provinsi Sumatera Barat (0,27 persen). NTP (Farmers Term of Trade) merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian terhadap barang dan jasa yang diperlukan petani untuk konsumsi rumahtangganya maupun untuk biaya produksi produk pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase). Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani. Pada bulan Januari 2017 Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Bali tercatat mengalami penurunan sebesar 0,46 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya dari 106,74, menjadi 106,25. Dari sisi indeks yang diterima petani (It), tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,34 persen, dari 130,72 di bulan sebelumnya menjadi 131,16. Sementara dari sisi indeks yang dibayar petani (Ib), tercatat kenaikan sebesar 0,80 persen, dari 122,47 menjadi 123,45. Berita Resmi Statistik Provinsi Bali No. 10/02/51/Th. XI, 1 Februari 2017 1
1. NTP Subsektor a. Subsektor Tanaman Pangan (Padi & Palawija/NTP-P) NTP Subsektor Tanaman Pangan (NTP-P) pada bulan Januari 2017 tercatat kembali mengalami penurunan dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yaitu dari 95,82 menjadi 95,77 atau turun sebesar 0,05 persen. NTP Subsektor Tanaman Pangan masih berada dibawah nilai 100, yang berarti nilai yang diterima dari hasil pertanian tanaman pangan belum mampu mencukupi kebutuhan konsumsi rumah tangga dan biaya produksinya. Indeks harga yang diterima petani (It) pada subsektor Tanaman Pangan naik sebesar 0,95 persen. Kenaikan ini terjadi pada kelompok Padi dan Palawija masing-masing sebesar 0,81 persen dan 1,33 persen. Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani (Ib) tercatat mengalami kenaikan sebesar 1,00 persen. Kenaikan pada Ib dipengaruhi oleh naiknya Indeks Harga Konsumsi Rumah Tangga (IHKP) dan indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) masing-masing sebesar 1,08 persen dan 0,60 persen. b. Subsektor Hortikultura (NTP-H) NTP Subsektor Hortikultura (NTP-H) mengalami penurunan pada bulan Januari 2017, sebesar 0,75 persen dari 106,60 pada bulan sebelumnya menjadi 105,81. Penurunan ini terjadi karena indeks yang diterima petani (It) mengalami kenaikan sebesar 0,09 persen, sedangkan indeks harga yang harus dibayar oleh petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,85 persen. Kenaikan yang terjadi pada It dipengaruhi oleh naiknya harga kelompok komoditas sayur-sayuran sebesar 1,33 persen meskipun tercatat penurunan pada kelompok buah-buahan dan tanaman obat masing-masing sebesar 0,57 persen dan 2,78 persen. Beberapa komoditas yang memberikan andil naiknya It, antara lain cabai rawit, jeruk, nangka, tomat, petsai/sawi. Sementara itu, peningkatan yang terjadi pada Ib disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga dan indesk BPPBM masing-masing sebesar 0,97 persen dan 0,47 persen. c. Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTP-Pr) NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTP-Pr) pada bulan Januari 2017 tercatat mengalami penurunan, yaitu sebesar 0,36 persen dari 105,74 menjadi 105,36. Secara umum, menurunnya NTP-Pr dipicu oleh indeks yang diterima petani (It) yang naik sebesar 0,33 persen, sedangkan indeks yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan lebih besar, yaitu sebesar 0,69 persen. Beberapa komoditas perkebunan yang memberikan andil atas naiknya It di subsektor ini yaitu kopi, kelapa, dan cengkeh. Di sisi lain, kenaikan pada Ib dipengaruhi oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,88 persen serta indeks BPPBM yang juga naik sebesar 0,01 persen. 2 Berita Resmi Statistik Provinsi Bali No. 10/02/51/Th. XI, 1 Februari 2017
Tabel 1 Nilai Tukar Petani Provinsi Bali dan Perubahannya Menurut Subsektor Desember 2016 - Januari 2017 (2012=100) Subsektor Bulan Persentase Desember 2016 Januari 2017 Perubahan (1) (2) (3) (4) 1. Tanaman Pangan (NTP-P) 95,82 95,77-0,05 a. Indeks Diterima Petani 121,22 122,37 0,95 - Padi 117,86 118,81 0,81 - Palawija 131,03 132,77 1,33 b. Indeks Dibayar Petani 126,51 127,78 1,00 - Indeks Konsumsi Rumahtangga 127,75 129,13 1,08 - Indeks BPPBM 120,76 121,49 0,60 2. Hortikultura (NTP-H) 106,60 105,81-0,75 a. Indeks Diterima Petani 131,64 131,76 0,09 - Sayur-sayuran 152,27 154,30 1,33 - Buah-buahan 122,55 121,86-0,57 - Tanaman Obat 119,06 115,75-2,78 b. Indeks Dibayar Petani 123,49 124,53 0,85 - Indeks Konsumsi Rumahtangga 126,43 127,66 0,97 - Indeks BPPBM 115,50 116,04 0,47 3. Tanaman Perkebunan Rakyat (NTP-Pr) 105,74 105,36-0,36 a. Indeks Diterima Petani 129,99 130,41 0,33 - Tanaman Perkebunan Rakyat (TPR) 129,99 130,41 0,33 b. Indeks Dibayar Petani 122,93 123,78 0,69 - Indeks Konsumsi Rumahtangga 127,21 128,34 0,88 - Indeks BPPBM 110,08 110,09 0,01 4. Peternakan (NTP-Pt) 115,78 115,12-0,57 a. Indeks Diterima Petani 137,16 137,32 0,12 - Ternak Besar 143,16 142,18-0,69 - Ternak Kecil 129,51 131,83 1,79 - Unggas 133,20 134,95 1,31 - Hasil Ternak 122,45 123,54 0,89 b. Indeks Dibayar Petani 118,47 119,29 0,69 - Indeks Konsumsi Rumahtangga 127,03 128,33 1,03 - Indeks BPPBM 110,97 111,36 0,36 5. Perikanan (NTP-Pi) 104,34 104,32-0,03 a. Indeks Diterima Petani 129,91 131,06 0,88 - Tangkap 143,74 145,84 1,46 - Budidaya 109,41 109,14-0,24 b. Indeks Dibayar Petani 124,50 125,63 0,91 - Indeks Konsumsi Rumahtangga 131,93 133,48 1,17 - Indeks BPPBM 110,15 110,46 0,28 NTP Gabungan 106,74 106,25-0,46 a. Indeks Diterima Petani 130,72 131,16 0,34 b. Indeks Dibayar Petani 122,47 123,45 0,80 - Indeks Konsumsi Rumahtangga 127,16 128,43 1,00 - Indeks BPPBM 113,95 114,37 0,36 Berita Resmi Statistik Provinsi Bali No. 10/02/51/Th. XI, 1 Februari 2017 3
d. Subsektor Peternakan (NTP-Pt) Subsektor Peternakan terdiri atas ternak besar, ternak kecil, unggas, dan hasil ternak. NTP Subsektor Peternakan (NTP-Pt) pada bulan Januari 2017 tercatat kembali mengalami penurunan sebesar 0,57 persen, dari 115,78 menjadi 115,12. Secara umum penurunan ini disebabkan oleh indeks harga yang diterima petani (It) yang naik sebesar 0,12 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan yang lebih tinggi sebesar 0,69 persen. Terjadinya kenaikan It dipicu oleh naiknya harga pada kelompok ternak kecil 1,79 persen, unggas 1,31 persen dan hasil ternak 0,89 persen meskipun terjadi penurunan pada kelompok ternak besar mencapai 0,69 persen. Secara umum, beberapa komoditas peternakan yang mendorong naiknya It, antara lain babi, ayam ras pedaging, telur ayam ras, dan telur itik. Di sisi lain, peningkatan pada Ib dipicu oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga dan indeks BPPBM masing-masing sebesar 1,03 persen dan 0,36 persen. e. Subsektor Perikanan (NTP-Pi) Subsektor Perikanan mencakup kegiatan perikanan tangkap dan budidaya perikanan. Pada bulan Januari 2017, NTP Subsektor Perikanan mengalami penurunan, yaitu sebesar 0,03 persen, dari 104,34 menjadi 104,32. Penurunan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) mengalami kenaikan sebesar 0,88 persen sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan mencapai 0,91 persen. Kenaikan It dipicu oleh naiknya harga-harga pada kelompok perikanan tangkap sebesar 1,46 persen meskipun kelompok perikanan budidaya tercatat menurun sebesar 0,24 persen. Secara umum, beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga, antara lain cumi-cumi, tongkol, dan tenggiri. Sementara itu, kenaikan pada Ib didorong oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 1,17 persen dan indeks BPPBM naik sebesar 0,28 persen. 2. Perbandingan Terhadap Angka Nasional Pada bulan Januari 2017, NTP gabungan secara nasional sebesar 100,91 yang mengalami penurunan sebesar 0,56 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Secara umum, penurunan tersebut terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) nasional mengalami kenaikan sebesar 0,15 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) tercatat mengalami kenaikan yang lebih besar, yaitu sebesar 0,71 persen. Jika dibandingkan dengan NTP Gabungan secara nasional, NTP Bali masih berada di atas NTP Gabungan secara nasional. 4 Berita Resmi Statistik Provinsi Bali No. 10/02/51/Th. XI, 1 Februari 2017
Indeks Tabel 2 Nilai Tukar Petani Provinsi Bali dan Nasional serta Persentase Perubahannya, Desember 2016 - Januari 2017 (2012=100) Provinsi Bali Nasional Desember 2016 Januari 2017 % Desember 2016 Januari 2017 % (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Indeks yang Diterima Petani 130,72 131,16 0,34 127,81 128,00 0,15 Indeks yang Dibayar Petani 122,47 123,45 0,80 125,94 126,84 0,71 NTP 106,74 106,25-0,46 101,49 100,91-0,56 3. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), dimana komponen Ib hanya terdiri dari Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM). Dengan dikeluarkannya Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) dari komponen Ib, NTUP dapat lebih mencerminkan margin usaha pertanian, karena yang dibandingkan hanya produksi dengan biaya produksinya. Kondisi NTUP Januari 2017 tercatat mengalami penurunan sebesar 0,03 persen, dari 114,72 pada bulan sebelumnya menjadi 114,69. Penurunan NTUP terjadi pada subsektor Hortikultura dan Peternakan yang turun masing-masing sebesar 0,37 persen, dan 0,24 persen. Subsektor yang mengalami kenaikan NTUP, yaitu subsektor Tanaman Pangan(0,34 persen), Tanaman Perkebunan Rakyat (0,32 persen) dan Perikanan (0,60 persen). Informasi NUTP secara lebih lengkap dapat dilihat pada tabel 3 dibawah ini. Tabel 3 Nilai Tukar Usaha Pertanian per Subsektor dan Persentase Perubahannya, Desember 2016 - Januari 2017 (2012 = 100) Subsektor Bulan Desember 2016 Januari 2017 Persentase Perubahan (1) (2) (3) (4) 1. Tanaman Pangan 100,38 100,73 0,34 2. Hortikultura 113,98 113,55-0,37 3. Tanaman Perkebunan Rakyat 118,09 118,46 0,32 4. Peternakan 123,61 123,31-0,24 5. Perikanan 117,94 118,65 0,60 NTUP Bali 114,72 114,69-0,03 4. Indeks Harga Konsumen Perdesaan Indeks Harga Konsumen Perdesaan (IHKP) dapat ditunjukkan oleh Indeks Harga Konsumsi Rumahtangga Petani yang merupakan komponen dalam Indeks Harga yang Dibayar Petani. IHK perdesaan terdiri dari 7 (tujuh) kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, kelompok perumahan, kelompok sandang, kelompok kesehatan, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga, serta kelompok transportasi dan komunikasi. Perubahan IHK perdesaan mencerminkan angka inflasi/deflasi di wilayah perdesaan. Secara nasional terjadi inflasi perdesaan sebesar 0,79 persen. Berdasarkan pengamatan Indeks Konsumsi Berita Resmi Statistik Provinsi Bali No. 10/02/51/Th. XI, 1 Februari 2017 5
Rumah Tangga Petani di perdesaan pada bulan Januari 2017, dari 33 provinsi yang melakukan pengitungan inflasi perdesaan, semua provinsi tercatat mengalami inflasi. Inflasi tertinggi tercatat di Provinsi Kalimantan Barat (1,45 persen) dan terendah di Provinsi Sumatera Barat (0,27 persen). Grafik 1 Perubahan Indeks Harga Konsumen Perdesaan (IHKP) Menurut Provinsi di Indonesia, Januari 2017 Pada Januari 2017, Provinsi Bali mengalami inflasi perdesaan sebesar 0,10 persen yang disebabkan oleh naiknya rata-rata harga di semua kelompok komoditas, yaitu bahan makanan 1,76 persen, makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 1,04 persen, perumahan 0,41 persen, kesehatan 0,40 persen, sandang 0,31 persen, transportasi dan komunikasi 0,22 persen, serta pendidikan, rekreasi, dan olah raga 0,15 persen. Secara umum, komoditas penyumbang inflasi pada bulan Januari 2017, antara lain cabai rawit, daging ayam ras, bawang putih, rokok kretek filter, rokok putih filter dan gado-gado. Selanjutnya persentase perubahan indeks harga konsumen perdesaan menurut kelompok komoditas dapat dilihat pada tabel 4. 6 Berita Resmi Statistik Provinsi Bali No. 10/02/51/Th. XI, 1 Februari 2017
Jan '16 Feb '16 Mar '16 Apr '16 Mei '16 Jun '16 Jul '16 Ags '16 Sep '16 Okt '16 Nov '16 Des '16 Jan '17 Tabel 4 Persentase Perubahan Indeks Harga Konsumen Perdesaan Provinsi Bali dan Nasional, Januari 2017 Kelompok Perubahan IHK Perdesaan (%) Bali Nasional (1) (2) (3) Bahan Makanan 1,76 0,75 Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau 1,04 0,90 Perumahan 0,41 0,95 Sandang 0,31 0,51 Kesehatan 0,40 0,88 Pendidikan, Rekreasi, dan Olah Raga 0,15 0,41 Transportasi dan Komunikasi 0,22 0,70 Gabungan 1,00 0,79 5. Harga Gabah Bulan Januari 2017 Turun Berdasarkan hasil pencatatan harga gabah di 7 kabupaten, yaitu Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Klungkung, Karangasem dan Buleleng selama bulan Januari 2017, harga gabah (GKP) di tingkat petani mengalami kenaikan sebesar 0,55 persen, dari Rp 4.310,82 per kg pada bulan sebelumnya menjadi Rp 4.334,38 per kg. Sementara itu, rata-rata harga GKP di tingkat penggilingan naik sebesar 0,43 persen dari Rp 4.380,55 per kg menjadi Rp 4.399,38 per kg. Grafik 2 Perkembangan Rata-rata Harga Gabah (GKP) di Tingkat Petani dan Penggilingan Provinsi Bali Januari 2016 Januari 2017 5,000.00 4,800.00 4,600.00 4,400.00 4,200.00 4,000.00 3,800.00 3,600.00 3,400.00 3,200.00 3,000.00 Tk. Petani Tk. Penggilingan HPP Tk. Petani HPP Tk. Penggilingan Berita Resmi Statistik Provinsi Bali No. 10/02/51/Th. XI, 1 Februari 2017 7
Tabel 5 Perkembangan Rata-rata Harga Gabah (GKP) di Tingkat Petani dan Penggilingan Provinsi Bali Januari 2016 Januari 2017 No Bulan Harga di Tingkat Petani (Rp/Kg) Perubahan (%) Harga di Tingkat Penggilingan (Rp/Kg) Perubahan (%) (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Januari 2016 4.816,54 1,71 4.890,96 1,84 2 Februari 2016 4.768,84-0,99 4.837,17-1,10 3 Maret 2016 4.401,26-7,71 4.467,46-7,64 4 April 2016 4.063,96-7,66 4.132,72-7,49 5 Mei 2016 4.213,26 3,67 4.292,60 3,87 6 Juni 2016 4.211,78-0,03 4.319,61 0,63 7 Juli 2016 4.317,71 2,51 4.389,07 1,61 8 Agustus 2016 4.352,91 0,82 4.418,13 0,66 9 September 2016 4.294,60-1,34 4.366,42-1,17 10 Oktober 2016 4.293,98-0,01 4.375,19 0,20 11 Nopember 2016 4.361,86 1,58 4.436,83 1,41 12 Desember 2016 4.310,82-1,17 4.380,55-1,27 13 Januari 2017 4.334,38 0,55 4.399,38 0,43 *) HPP GKP (Mulai Maret 2015) Rp 3.700,00/kg di tingkat petani Rp 3.750,00/kg di tingkat penggilingan 8 Berita Resmi Statistik Provinsi Bali No. 10/02/51/Th. XI, 1 Februari 2017
Tabel 6 Perkembangan Inflasi Perdesaan Bulanan dan Kumulatif Provinsi Bali dan Nasional Tahun 2015 2017 Tahun Bali Nasional Bulanan Kumulatif Bulanan Kumulatif (1) (2) (3) (4) (5) 2015 Januari -0.90-0.90-0.03-0.03 Februari -0.53-1.42-0.73-0.76 Maret 0.88-0.55 0.48-0.29 April 0.25-0.30 0.21-0.08 Mei -0.20-0.49 0.60 0.52 Juni 0.17-0.32 0.82 1.35 Juli 0.64 0.31 0.89 2.24 Agustus 0.64 0.96 0.47 2.72 September 0.52 1.48-0.02 2.70 Oktober -0.02 1.46-0.04 2.66 November 0.41 1.88 0.43 3.10 Desember 1.08 2.98 1.14 4.28 2016 Januari 1.01 1.01 0.83 0.83 Februari 0.38 1.40 0.09 0.92 Maret 0.33 1.73 0.95 1.88 April -0.45 1.27-0.50 1.37 Mei -0.13 1.14 0.13 1.50 Juni 0.43 1.58 0.59 2.10 Juli 0.50 2.08 0.76 2.87 Agustus 0,27 2,36 0,06 2,93 September 0.44 2.81 0.32 3.26 Oktober -0.29 2.51 0.04 3.30 November 0,50 3,02 0,87 4,20 Desember 0.10 3.12 0.42 4.63 2017 Januari 1,00 1,00 0,79 0,79 Berita Resmi Statistik Provinsi Bali No. 10/02/51/Th. XI, 1 Februari 2017 9
Informasi lebih lanjut hubungi: I Gede Nyoman Subadri, S.E. Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Provinsi Bali Telepon: 0361-238159, Fax: 0361-238162 E-mail: bps5100@bps.go.id