MANAJEMEN PESERTA DIDIK

dokumen-dokumen yang mirip
MANAJEMEN PESERTA DIDIK MANAJEMEN / ADMINISTRASI PENDIDIKAN/SEKOLAH MANAJEMEN PENDIDIKAN PENGERTIAN MPD. Manajemen Kesiswaan (Peserta Didik)

PENGELOMPOKAN PESERTA DIDIK

MANAJEMEN PESERTA DIDIK BERBASIS SEKOLAH

KONSEP PENDIDIKAN. Imam Gunawan

PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU

Priadi Surya, M.Pd. Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas NegeriYogyakarta

MANAJEMEN PESERTA DIDIK

BAB II KAJIAN PUSTAKA. relevan dan (3) Kerangka Konsep Penelitian. Kajian teoritis di bab ini berisi

MANAJEMEN PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR HARAPAN NUSANTARA DENPASAR-BALI

MANAJEMEN DAN PENGELOLAAN PESERTA DIDIK (Studi Pada SD di Kota Makassar)

MANAJEMEN PESERTA DIDIK DI SEKOLAH MENENGAH ATAS PATRIA BANTUL SKRIPSI

PERSEPSI SISWA TENTANG MANAJEMEN PESERTA DIDIK DI SMK TRI DHARMA KOSGORO 2 PADANG

EFEKTIVITAS PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) MELALUI SISTEM PENERIMAAN PESERTA DIDIK ONLINE

MANAJEMEN PESERTA DIDIK DI SEKOLAH SATU ATAP

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

untuk pencapaian tujuan pembelajaran di sekolah. kontrol, perencanaan dan administrasi kesiswaan (student body). Di sekolah, baik

BAB IV ANALISIS IMPLEMENTASI MANAJEMEN KESISWAAN

Kata-kata kunci: Sumber daya sekolah Sumber daya manusia Sumber daya fisik Sumber daya keuangan

PANDUAN SISTEM PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) MA HAD MADRASAH (ISLAMIC BOARDING SCHOOL) MTsN 31 JAKARTA TAHUN PELAJARAN 2016/2017

2013, No Mengingat e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu membentuk Undang-U

Sistem Informasi Kesiswaan

BAB I PENDAHULUAN A. Analisis Situasi

PEDOMAN BIMBINGAN DAN KONSELING MAHASISWA

PANDUAN SISTEM PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) MA HAD MADRASAH (ISLAMIC BOARDING SCHOOL) MTsN 31 JAKARTA TAHUN PELAJARAN 2015/2016

PERENCANAAN PESERTA DIDIK

PEMBAHASAN. A. Pengertian Bimbingan dan Konseling

PEMERINTAH KABUPATEN BLITAR DINAS PENDIDIKAN DAERAH SMP NEGERI 1 GANDUSARI BLITAR

EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM ISO DI SMK SARASWATI SALATIGA (KAJIAN MANAJEMEN KESISWAAN) Sistem. Manajemen. Mutu. A. Pelaksanaan.

EVALUASI PEMBELAJARAN GEOGRAFI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. humanistik untuk meningkatkan kemandirian belajar peserta didik yang dilakukan

PERSEPSI GURU TENTANG MANAJEMEN PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR NEGERI GUGUS II KECAMATAN LUBUK SIKARAH KOTA SOLOK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB II KAJIAN TEORI. maka ia akan berusaha untuk mengetahui lebih banyak tentang kesenian. Begitu juga terhadap mata pelajaran PKn.

ADMINISTRASI KEMAHASISWAAN by Mada Sutapa. Jurusan Administrasi Pendidikan FIP UNY. Dinas Kesehatan Propinsi DIY

STANDAR KEMAHASISWAAN

BAB II SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 29 MEDAN

I. PENDAHULUAN. bervariasi dalam suatu proses pembelajaran. Perbedaan tersebut dapat menjadi

BORANG AUDIT STANDAR KEMAHASISWAAN Kode/No: Tanggal berlaku : Revisi : DP.03.03/I.01/ / Mei

BAB I PENDAHULUAN. terus diupayakan melalui pendidikan. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang

BAB I PENDAHULUAN. Pelaksanaan proses pembangunan suatu negara ditentukan oleh banyak

LAPORAN HASIL KEGIATAN PENERIMAAN MAHASISWA BARU GELOMBANG II UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA TAHUN AKADEMIK 2014/2015

EVALUASI HASIL BELAJAR

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. kelompok dengan pendekatan mentoring halaqah dalam meningkatkan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. pusat sumber belajar untuk siswa Sekolah Dasar (SD). SDN ini terletak sangat

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Orang tua yang penuh perhatian tidak akan membiarkan anak untuk

SOSIALISASI SNMPTN 2014

SELEKSI NASIONAL MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI (SNMPTN) TAHUN 2014 PANITIA SNMPTN 2014 DENPASAR, 9 DESEMBER 2014

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Widyat Nurcahyo, Analisa Atribut Yang Mempengaruhi Mutu Program Studi

ORIENTASI PESERTA DIDIK BARU

KEDUDUKAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM SITEM PENDIDIKAN NASIONAL BERORIENTASIKAN BUDAYA

Dalam bab ini diuraikan tentang latar belakang masalah, identifikasi dan

SELEKSI NASIONAL MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI (SNMPTN) TAHUN 2014 PANITIA SNMPTN 2014 DENPASAR, 9 DESEMBER /9/2014 UU 12/2012 PP 32/2013

BAB I PENDAHULUAN. dijangkau dengan sangat mudah. Adanya media-media elektronik sebagai alat

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. IPS merupakan mata pelajaran di Sekolah Dasar (SD) yang tidak hanya

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG PENDIDIKAN KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PENGEMBANGAN PENILAIAN PORTOFOLIO

KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH

MANAJEMEN PEMBELAJARAN DALAM KONTEKS PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

Borang Kinerja Jurusan UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2010

HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR

STANDAR KEMAHASISWAAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL

BAB 1 PENDAHULUAN. keahlian dalam bidang tertentu. Kesesuaian bidang pekerjaan dengan pekerjanya

SPESIFIKASI PROGRAM STUDI SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN SOSIOLOGI UNIVERSITAS UDAYANA

BAB II GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG PENDIDIKAN KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PSIKOGRAM. Nama : A Level Tes : Supervisor Tanggal Tes : 29 Juli 2010 Pengirim : PT. X Tujuan Tes : Seleksi Calon Supervisor Gudang Bahan.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

TUGAS PERKEMBANGAN SISWA VISI DAN MISI BIMBINGAN KONSELING

TRANSKIP WAWANCARA. 1. Peneliti: Apa Visi Misi MTs NU 07 Patebon dan bagaimana penjelasannya?

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Olahraga adalah segala kegiatan yang sistematis untuk mendorong, membina, serta

BAB I PENDAHULUAN. memiliki perbedaan antara siswa satu dengan lain, memiliki potensi untuk tumbuh

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam proses belajar disiplin belajar sangat penting dalam menunjang

BAB I PENDAHULUAN. menjadi manusia seutuhnya baik secara jasmani maupun rohani seperti yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN. terhadap laju pendidikan di sekolah-sekolah, terutama di tingkat SMP dan

BIMBINGAN DAN KONSELING DAN PENELUSURAN MINAT DI SMP DALAM KURIKULUM 2013

PENYUSUNAN KTSP. Sosialisasi KTSP 1

BAB I PENDAHULUAN. yang berkualitas dan mampu menghasilkan produk-produk yang unggul, maka mutu

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan memiliki peranan penting dalam meningkatkan kualitas. sumber daya manusia. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem

I. PENDAHULUAN. sanggup menghadapi tantangan zaman yang akan datang. Udiono,Tri;2007

PENGUKURAN. proses pengakaan atribut dari suatu entitas/objek dengan mengikuti aturan-aturan tertentu pengembangan aturan-aturan tertentu : scaling

BAHAN AJAR Kompetensi Dasar Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) TOPIK-2: Proses Pembelajaran dalam PJJ

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

PENGARUH LINGKUNGAN BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA DI SMA NEGERI 2 MUARO JAMBI

CIRI & PENGGUNAAN TES. N o v i a S i n t a R, M. P s i.

Sumber dan Teknik Pengumpulan Data

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. digambarkan sebagai berikut : Perencanaan I

KAJIAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Transkripsi:

MANAJEMEN PESERTA DIDIK

PENGERTIAN MPD Layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan, dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas, seperti: pengenalan, pendaftaran, layanan individual seperti: pengembangan keseluruhan kemampuan, minat, kebutuhan sampai ia matang di sekolah (Knezevich, 1999) Upaya pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah (Imron dan Burhanuddin, 2003) Semua kegiatan yang ada di sekolah, baik yang berkenaan dengan peserta didik baik langsung atau pun tak langsung agar peserta didik mendapatkan layanan pendidikan yang andal

TUJUAN DAN FUNGSI MPD Tujuan: Mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatankegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar di sekolah; lebih lanjut proses pembelajaran di sekolah dapat berjalan lancar, tertib dan teratur sehingga dapat memberikan secara keseluruhan Fungsi MPD: Sebagai wahana bagi peserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi individualitasnya, segi sosialnya, segi aspirasinya, segi kebutuhannya, dan segi-segi potensi peserta didik yang lainnya

PRINSIP-PRINSIP MPD MPD sebagai bagian dari keseluruhan manajemen sekolah Kegiatannya mengemban misi pendidikan dan dalam rangka mendidik para peserta didik Kegiatannya berupaya menyatukan peserta didik yang beraneka ragam Kegiatannya dipandang sebagai upaya pengaturan terhadap pembimbing peserta didik Kegiatannya mendorong dan memacu kemandirian peserta didik Kegiatannya berfungsi bagi kehidupan peserta didik, baik di sekolah dan masa depan

Aktivitas peserta didik dilaksanakan dengan pertimbangan: Atas dasar hasil penelusuran bakat, minat, dan kemampuan peserta didik Dilaksanakan secara demokratis dengan memerhatikan keunikan individu peserta didik Semua peserta didik memiliki potensi untuk berkembang Dilaksanakan secara terencana, terpadu, komprehensif, berkesinambungan, dan berproses Pembinaan tak menimbulkan tambahan beban biaya Menjamin optimalisasi potensi peserta didik dan lingkungannya Melakukan kerjasama dengan berbagai pihak Setiap saat harus dievaluasi secara komprehensif dan obyektif

PENDEKATAN MPD Menurut Yeager (1999) pendekatan dalam MPD: Aspek Pendekatan Kuantitatif Pendekatan Kualitatif Orientasi Menitikberatkan pada segi administratif Memberikan perhatian kepada kesejahteraan peserta didik Peran peserta didik Asumsi Peserta didik memenuhi tuntutan dan harapan sekolah (obyek, mampu) Asumsinya peserta didik akan dapat matang dan tercapai apa yang diingini manakala dapat memenuhi aturan, tugas, dan harapan yang diminta oleh sekolah Peserta didik senang (subyek, sesuai bakat) Asumsinya jika peserta didik senang dan sejahtera maka mereka dapat belajar dengan baik dan senang juga mengembangkan diri di sekolah

RUANG LINGKUP MPD Perencanaan peserta didik: school census, school size, class size, dan effective class Penerimaan peserta didik: kebijakan penerimaan, sistem penerimaan, kriteria penerimaan, prosedur penerimaan, dan penyelesaian masalah penerimaan Orientasi peserta didik baru: pengenalan sekolah Mengatur kehadiran dan ketidakhadiran peserta didik di sekolah Mengatur pengelompokkan peserta didik (homogen dan heterogen) Mengatur evaluasi: kegiatan pembelajaran, bimbingan Mengatur kenaikan tingkat peserta didik Mengatur peserta didik yang mutasi dan droup out Mengatur layanan peserta didik: penasihat akademik, BK, kesehatan, kafetaria, koperasi, perpustakaan, laboratorium, asrama, dan transprotasi Mengatur organisasi peserta didik: intra dan ekstra

PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU Sensus sekolah merupakan kegiatan pendataan jumlah anak usia sekolah dalam rangka menentukan animo dan kapasitas sekolah masa mendatang sesuai dengan jangkauan sekolah. Data tersebut untuk proyeksi jumlah siswa akan duduk di kelas I, II, III, dst. yang lazimnya menggunakan Analisis Kohort Sekolah mencatat secara periodik jumlah dan perkembangan siswa dalam buku (buku induk dan buku klapper)

Contoh Analisis Kohort SEKOLAH DASAR XXX MADIUN DATA JUMLAH SISWA YANG NAIK KELAS, MENGULANG KELAS, DAN LULUSAN Tahun Keterangan Siswa Kls 1 Kls 2 Kls 3 Kls 4 Kls 5 Kls 6 2007 Siswa terdaftar 1.448 1.444 1.438 1.448 1.454 1.432 2008 Siswa terdaftar 1.460 1.456 1.450 1.455 1.456 1.446 Mengulang kelas 48 76 58 82 90 84 Lulusan - - - - - 1.280 2009 Siswa terdaftar 1.460 1.456 1.430 1.460 1.456 1.430 Mengulang kelas 78 76 72 88 96 82 Lulusan - - - - - 1.296 2010 Lulusan - - - - - 1.120

Diagram Kohort 1 2 3 4 5 6 20 6 7 0 2 68 08/09 1.448 1.474 1.438 1.448 1.454 1.432 1.380 1.392 1.373 1.366 1.362 1.280 48 76 58 82 90 84 2 22 6 15 12 68 09/10 1.460 1.456 1.450 1.455 1.456 1.446 1.380 1.358 1.372 1.360 1.348 1.296 78 76 72 88 96 82 = Droup Out = Naik tingkat = Mengulang

Sistem penerimaan peserta didik siswa: 1) Sistem promosi Penerimaan peserta didik yang sebelumnya tanpa menggunakan seleksi Mereka yang mendaftar diterima semua begitu saja, tak ada yang ditolak Lazimnya berlaku pada sekolah yang pendaftarnya kurang dari daya tampung yang ditentukan 2) Sistem seleksi Nilai Ujian Nasional (NUN) PMDK Tes masuk

Kriteria penerimaan peserta didik: 1) Kriteria acuan patokan (standard criteria reference) Berdasarkan patokan yang telah ditentukan oleh sekolah Sekolah membuat patokan calon peserta didik dengan kemampuan minimal setingkat mana yang dapat diterima di sekolah Konsekuensinya jika semua calon peserta didik yang mengikuti seleksi memenuhi patokan minimal maka mereka harus diterima semua, juga sebaliknya

Lanjutan kriteria penerimaan peserta didik: 2) Kriteria acuan norma (norm criteria reference) Berdasarkan atas keseluruhan prestasi calon peserta didik Sekolah menetapkan kriteria prestasi keseluruhan dengan memerhatikan pemberian bobot dan skor 3) Kriteria daya tampung Sekolah menentukan jumlah daya tampung Merangking prestasi siswa Menentukan peserta didik yang diterima berdasarkan ranking dan daya tampung

Prosedur penerimaan peserta didik: 1. Pembentukan panitia 2. Rapat penentuan peserta didik 3. Pembuatan, pemasangan, dan pengiriman pengumuman 4. Pendaftaran peserta didik baru 5. Seleksi 6. Penentuan Peserta didik yang diterima 7. Pengumuman peserta didik yang diterima 8. Registrasi 9. Masa orientasi

PENGELOMPOKAN PESERTA DIDIK Kebijakan pengelompokkan menurut Duke & Canady (1991) bertujuan untuk menguntungkan siswa, dengan memerhatikan: Outcome (tampilan) Mutu Menentukan posisi siswa di tempat mana Adanya pengelompokkan siswa bertujuan untuk menjamin siswa mendapatkan akses sesuai dengan kebutuhan, bakat, & kemampuan siswa

Pengelompokkan berdasarkan sifat populasi (heterogen & homogen) Unsur homogen siswa: Prestasi Proses ujian Perbedaan perlakuan Sekolah (dalam hal ini guru) melakukan analisa kebutuhan siswa yang berbeda2 tersebut dalam setiap populasi

Isu Persamaan (pengelompokkan homogen): Pengelompokkan homogen banyak protes Guru memerhatikan kelompok tinggi daripada bawah Guru lebih memuji kelompok tinggi daripada kelompok bawah Kelompok heterogen akan lebih efektif belajar, jika dikelola dengan baik & bijak. Faktor psikologis dari adanya masalah pengelompokkan: Kelompok bawah telah terkonsep sebagai siswa yang bodoh Pola pikir siswa tinggi lebih dari siswa bawah Siswa lebih suka dikelompokkan dengan siswa lain yang berkemampuan sama

Pengelompokkan dapat berubah, seiring dengan kedinamisan situasi belajar, dan pertumbuhan dan perkembangan siswa. Dampak pengelompokkan thd prestasi belajar siswa: Jika pengelompokkan tidak dikelola dengan baik dapat menurunkan prestasi siswa pada kelompok bawah (faktor yang sudah terkonsep, minder, diejek teman, & merespons negatif) Pengelompokkan homogen menunjukkan hasil positif bagi siswa yang berbakat Pengelompokkan bergantung pada persepsi & sikap guru

Pengelompokkan tidak dapat dipaksakan, dimaksudkan untuk menjamin siswa tiap individu. Semua kelompok harus diperhatikan. Sehingga perlu penyadaran kepada siswa (peserta didik) dalam semua kelompok: Kelompok tinggi: bukan karena untuk meningkatkan gengsi tetapi memfasilitasi siswa untuk maju, tidak terhambat oleh siswa yang kurang mampu. Kelompok rendah: bakatnya diasah & dikembangkan agar lebih baik & berguna bagi siswa.

Jenis Pengelompokkan Group Interest grouping Special need grouping Team grouping Tutorial grouping Research grouping Description Berdasarkan minat peserta didik. Minat pada pokok bahasan, kegiatan, atau tema Berdasarkan kebutuhan khusus peserta didik Terbentuk dari dua atau lebih peserta didik ingin bekerja atau belajar bersama menyelesaikan masalah Peserta didik bersama guru merencanakan kegiatan kelompoknya, setiap kelompok dapat berbeda kegiatannya Dua atau lebih peserta didik mengerjakan suatu topik khusus untuk dilaporkan di depan kelas. Proses pengerjaan, penyajian, dan sistem kerja sesuai kesepakatan

Group Full class grouping Combined class grouping Friendships grouping Achievement grouping Aptitude grouping Attention or interest grouping Intelligence grouping Description Peserta didik bersama-sama mempelajari dan mendapatkan bidang seni, seperti drama, musik, dan tari Dua atau lebih kelas dikumpulkan dalam ruangan bersamasama menyaksikan pemutaran film, slide, TV, atau media audio visual lainnya Berdasarkan kesukaan peserta didik memilih teman Berdasarkan prestasi peserta didik Berdasarkan kemampuan dan bakat peserta didik Berdasarkan perhatian bakat dan minat peserta didik Berdasarkan tes kecerdasan (intelegensi) peserta didik

LAYANAN KHUSUS Layanan yang diberikan kepada siswa, yang berfungsi sebagai penunjang agar siswa dapat belajar dengan lancar dan pengembangan diri siswa Layanan khusus yang dilaksanakan di sekolah seperti: Organisasi intra dan ekstra Layanan kafetaria Layanan kesehatan Layanan koperasi sekolah Bimbingan dan konseling Perpustakaan Laboratorium Asrama Transportasi

REHAT Ilmu kasil mung kejobo nem perkoro, kang bakal tak critak ake: 1. Kumpulo kanti pertilo; 2. Rupane lipad lobo; 3. Sabar; 4. Ono sangune; 5. Piwulange guru; 6. Sing suwe masane.