Jurnal Flywheel, Volume 1, Nomor 2, Desember 2008 ISSN :

dokumen-dokumen yang mirip
PENGARUH VARIASI SUDUT DIES TERHADAP PENARIKAN KAWAT ALUMINIUM. Asfarizal 1 dan Adri Jamil 2. Abstrak

III. METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN. Model tabung gas LPG dibuat berdasarkan tabung gas LPG yang digunakan oleh

III. METODELOGI. satunya adalah menggunakan metode elemen hingga (Finite Elemen Methods,

BAB IV SIFAT MEKANIK LOGAM

BAB I PENDAHULUAN. Ekstrusi merupakan salah satu proses yang banyak digunakan dalam

TEORI SAMBUNGAN SUSUT

Proses Lengkung (Bend Process)

MODUL 6 PROSES PEMBENTUKAN LOGAM

Analisis Kekuatan dan Deformasi Piston Mesin Bensin-Bio Etanol dan Gas dengan Injeksi Langsung untuk Kendaraan Nasional dengan Simulasi Numerik

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN

BAB II DASAR TEORI 2.1 Konsep Perencanaan 2.2 Motor 2.3 Reducer

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB IV SIFAT MEKANIK LOGAM

ANALISA KEGAGALAN POROS DENGAN PENDEKATAN METODE ELEMEN HINGGA

PERANCANGAN POROS DIGESTER UNTUK PABRIK KELAPA SAWIT DENGAN KAPASITAS OLAH 12 TON TBS/JAM DENGAN PROSES PENGECORAN LOGAM

METODOLOGI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. buah kabin operator yang tempat dan fungsinya adalah masing-masing. 1) Kabin operator Truck Crane

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB III OPTIMASI KETEBALAN TABUNG COPV

PROSES MANUFACTURING

ANALISIS CELLULAR BEAM DENGAN METODE PENDEKATAN DIBANDINGKAN DENGAN PROGRAM ANSYS TUGAS AKHIR. Anton Wijaya

Pembebanan Batang Secara Aksial. Bahan Ajar Mekanika Bahan Mulyati, MT

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kelapa sawit sebenarnya sudah ada sejak zaman panjajahan Belanda ke

Kategori Sifat Material

dislokasi pada satu butir terjadi pada bidang yang lebih disukai (τ r max).

Jurusan Teknik Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

R. Hengki Rahmanto 1)

TUGAS AKHIR. Analisa Tegangan dan Defleksi Pada Plat Dudukan Pemindah Transmisi Tipe Floor Shift Dengan Rib Atau Tanpa Rib. Yohanes, ST.

PERENCANAAN MEKANISME PADA MESIN POWER HAMMER

LAMPIRAN A. Tabel A-1 Angka Praktis Plat Datar

ANALISA MAMPU BENTUK ALUMINIUM KOMERSIAL TERHADAP EFEK PERBEDAAN KETEBALAN MATERIAL PADA PROSES SPINNING

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1(Sept. 2012) ISSN: G-340

VII ELASTISITAS Benda Elastis dan Benda Plastis

ANALISA KONSTRUKSI DAN PERECANAAN MULTIPLE FIXTURE

Modul II Wire Drawing

PREDIKSI SPRINGBACK PADA PROSES DEEP DRAWING DENGAN PELAT JENIS TAILORED BLANK MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK BERBASIS METODE ELEMEN HINGGA

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu material yang sangat penting bagi kebutuhan manusia adalah

BAB 2. PENGUJIAN TARIK

BAB II TEORI DASAR. Gambar 2.1 Tipikal struktur mekanika (a) struktur batang (b) struktur bertingkat [2]

Jurnal Teknika Atw 1

BAB IV PENGERJAAN PANAS LOGAM

04 05 : DEFORMASI DAN REKRISTALISASI

HSS PADA PROSES BUBUT DENGAN METODE TOOL TERMOKOPEL TIPE-K DENGAN MATERIAL St 41

PROSES PENGERJAAN PANAS. Yefri Chan,ST.MT (Universitas Darma Persada)

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB I PENDAHULUAN. untuk memenuhi dan memudahkan segala aktifitas manusia, karena aktifitas

ANALISA SAMBUNGAN LAS PADA PENGELASAN TITIK UNTUK MENENTUKAN JARAK OPTIMAL TITIK LAS PADA BAJA KARBON AISI 1045 DENGAN PENDEKATAN ELEMEN HINGGA

PERBANDINGAN DIMENSI LEBAR DIE (CETAKAN) DENGAN PRODUK (HASIL BENDING) DARI PROSES BENDING CHASSIS MOBIL ESEMKA

Gambar 2.1 Bagian-bagian mesin press BTPTP [9]

TUGAS SARJANA CHRYSSE WIJAYA L2E604271

Laporan Praktikum MODUL C UJI PUNTIR

SIMULASI PROSES DEEP DRAWING STAINLESS STEEL DENGAN SOFTWARE ABAQUS

PERANCANGAN TEKNIS BAUT BATUAN BERDIAMETER 39 mm DENGAN KEKUATAN PENOPANGAN kn LOGO

Perancangandanpembuatan Crane KapalIkanUntukDaerah BrondongKab. lamongan

BEARING STRESS PADA BASEPLATE DENGAN CARA TEORITIS DIBANDINGKAN DENGAN PROGRAM SIMULASI ANSYS

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB II DASAR TEORI. bahan pangan yang siap untuk dikonsumsi. Pengupasan memiliki tujuan yang

Frekuensi yang digunakan berkisar antara 10 hingga 500 khz, dan elektrode dikontakkan dengan benda kerja sehingga dihasilkan sambungan la

Mengenal Proses Deep Drawing

KOPLING. Kopling ditinjau dari cara kerjanya dapat dibedakan atas dua jenis: 1. Kopling Tetap 2. Kopling Tak Tetap

PENENTUAN WELDING SEQUENCE TERBAIK PADA PENGELASAN SAMBUNGAN-T PADA SISTEM PERPIPAAN KAPAL DENGAN MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA

Rancang Bangun Sistem Chassis Kendaraan Pengais Garam

Sifat Sifat Material

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

Beberapa sifat mekanis lembaran baja yang mcliputi : pengerasan. regang, anisotropi dan keuletan merupakan parameter-parameter penting

Analisis Pengaruh Ukuran Stopper Pada Sambungan Pelat Kapal Terhadap Tegangan Sisa Dan Deformasi Menggunakan Metode Elemen Hingga

TUGAS AKHIR MODELING PROSES DEEP DRAWING DENGAN PERANGKAT LUNAK BERBASIS METODE ELEMEN HINGGA

Program Studi Teknik Mesin S1

KONSEP TEGANGAN DAN REGANGAN NORMAL

ANALISIS KAPASITAS BALOK BETON BERTULANG DENGAN LUBANG PADA BADAN BALOK

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK MESIN UNIVERSITAS MEDAN AREA

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

Analisis Kekuatan Konstruksi Sekat Melintang Kapal Tanker dengan Metode Elemen Hingga

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

KAJIAN KOEFISIEN PASAK DAN TEGANGAN IZIN PADA PASAK CINCIN BERDASARKAN REVISI PKKI NI DENGAN CARA EXPERIMENTAL TUGAS AKHIR

Karakterisasi Baja Karbon Rendah Setelah Perlakuan Bending

ANALISA STRUKTUR RANGKA DUDUKAN WINCH PADA SALUTE GUN 75 mm WINCH SYSTEM

IV. ANALISA DAN PEMBAHASAN. Tabel 6. Data input simulasi. Shear friction factor 0.2. Coeficient Convection Coulomb 0.2

Bab 5 Puntiran. Gambar 5.1. Contoh batang yang mengalami puntiran

BAB II DASAR TEORI. c) Untuk mencari torsi dapat dirumuskan sebagai berikut:

3. Mesin Bor. Gambar 3.1 Mesin bor

Analisis Tegangan Plat Penghubung Bucket Elevator Menggunakan Metode Elemen Hingga. Ully Muzakir 1 ABSTRAK

PEGAS DAUN DENGAN METODE HOT STRETCH FORMING.

PENGARUH KOEFISIEN GESEKAN PADA PROSES MANUFAKTUR

Sidang Tugas Akhir (TM091486)

BAB III METODE KAJIAN

BAB III LANDASAN TEORI Klasifikasi Kayu Kayu Bangunan dibagi dalam 3 (tiga) golongan pemakaian yaitu :

EDISI 8 NO 1 AGUSTUS 2016 ITEKS ISSN Intuisi Teknologi Dan Seni

Laporan Praktikum Laboratorium Teknik Material 1 Modul D Uji Lentur dan Kekakuan

Mekanika Bahan TEGANGAN DAN REGANGAN

BAB I PENDAHULUAN. terciptanya suatu sistem pemipaan yang memiliki kualitas yang baik. dan efisien. Pada industri yang menggunakan pipa sebagai bagian

BAB I PENDAHULUAN. Istimewa Yogyakarta pada khususnya semakin meningkat. Populasi penduduk

Spesifikasi batang baja mutu tinggi tanpa pelapis untuk beton prategang

3. SIFAT FISIK DAN MEKANIK BAMBU TALI Pendahuluan

Analisa Kekuatan Tarik Baja Konstruksi Bj 44 Pada Proses Pengelasan SMAW dengan Variasi Arus Pengelasan

Transkripsi:

ANALISIS SIMULASI PENGARUH SUDUT CETAKAN TERHADAP GAYA DAN TEGANGAN PADA PROSES PENARIKAN KAWAT TEMBAGA MENGGUNAKAN PROGRAM ANSYS 8.0 I Komang Astana Widi Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Nasional Malang Kampus 2 Jl. Karanglo Km.2 Malang aswidi@yahoo.com ABSTRAKSI Selama ini proses pembuatan kawat menggunakan proses wire drawing hanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan, sehingga proses pembuataannya dan data perhitungan untuk mendapatkan cetakan yang sesuai, berapa besar gaya penarikan merupakan rahasia perusahaan. Oleh karena itu penulis mencoba untuk menganalisa pembuatan kawat menggunakan sistem wire drawing sehingga dapat digunakan sebagai pertimbangan semisal usaha kecil. Dan dalam analisa ini penulis menggunakan simulasi dengan bantuan software Ansys 8.0 untuk lebih menghemat biaya. Analisis simulasi pengaruh sudut cetakan terhadap gaya dan tegangan pada proses penarikan kawat tembaga menggunakan program ansys 8.0 telah dilakukan pengamatan. Hasil pengamatan menunjukan bahwa Cetakan yang terbaik untuk mendapatkan kawat tembaga dari diameter 2 mm menjadi diameter 1 mm adalah menggunakan cetakan dengan sudut cetakan (θ) sebesar 15 0, karena menghasilkan gaya tarikan dan tegangan terkecil yaitu 0,739.10 8 Pa dengan gaya penarikan sebesar 557 N, sedangkan tegangan masimal terjadi pada sudut cetakan (θ) sebesar 5 0 yaitu sebesar 0,116.10 9 Pa, namun hasil ini masih di bawah tegangan ijin kawat tembaga yaitu sebesar 0,38.10 9 Pa sehingga kegagalan penarikan kawat dengan sudut tersebut tidak akan terbentuk. Kata Kunci : wire drawing, tegangan, gaya, sudut cetakan. PENDAHULUAN Kawat dalam dunia industri keberadaannya sangatlah penting, karena kawat banyak digunakan diberbagai bidang, seperti : bidang permesinan, konstruksi bangunan, jaringan listrik, telekomunikasi, elektronika dan lain-lain. Karena itu kawat tidak dapat dipisahkan keberadaannya dari dunia industri. Teknologi yang digunakan dalam proses pembuatan kawat menggunakan Teknologi Metal Forming dengan proses Wire Drawing. Proses wire drawing merupakan proses pembentukan logam dimana suatu logam direduksi penampangnya dengan cara menarik logam disalah satu ujungnya dengan menggunakan peralatan tarik. Dalam proses pembuatan kawat pertama-tama dilakukan pengerolan terhadap batang kawat sehingga ujung batang kawat tersebut bisa masuk kedalam lubang cetakan, dan dalam proses penarikan kawat akan melalui beberapa celah cetakan (die) sehingga batang kawat akan mengalami penurunan dimensi/ukuran sehingga bisa didapatkan ukuran diameter kawat yang diinginkan. Pada prinsipnya proses wire drawing adalah batang kawat ditarik melalui beberapa dies guna didapat ukuran yang diinginkan. Pada proses penarikan kontinyu kawat ditarik melalui beberapa dies, dengan demikian kawat mengalami deformasi maksimal sebelum memerlukan anil. 24

Prinsip penarikan batang kawat pada dasarnya sama, walaupun peralatan yang digunakan berbeda untuk ukuran produk yang berlainan. Batang dan tabung yang tidak dapat digulung diproduksi pada mesin tarik. Batang ditusuk dengan penusuk dimasukkan kecetakan dan dijepitkan pada kepala tarik. Kepala tarik digerakkan oleh mekanisme hidroliks. Penarikan kawat dimulai dengan pengerolan panas batang kawat. Mulamula batang dibersihkan untuk menghilangkan kerak yang dapat mengakibatkan cacat permukaan dan keausan cetakan yang berlebihan. Tahap berikutnya adalah persiapan batang agar pelumasan efektif. Untuk menghasilkan kekuatan kawat yang tinggi, diperlukan persiapan yang lunak dengan kapur atau lapisan tipis tembaga atau timah putih. Selain itu sering pula digunakan lapisasn konversi seperti sulfat atau aksalat. Bahan ini dipergunakan disamping pelumas, seperti sabun pada penarikan kering. Pada penarikan basah cetakan dan batang seluruhnya tercelup dalam minyak pelumas. Bila diameter batang cukup kecil sehingga dapat digulung, maka dapat digunakan blok penggulung sehingga ruang yang digunakan tidak terlalu luas. Karena pada umumnya reduksi penampang setiap pas tarik tidak lebih dari 30-40 persen, maka diperlukan reduksi ganda untuk mencapai reduksi keseluruhan. Mesin blok ganda dengan satu cetakan dan satu blok tarik untuk setiap reduksi adalah umum. Karena diameter kawat berkurang setelah melalui pas tertentu, kecepatan dan panjang kawat bertambah. Jadi kecepatan setiap blok tarik harus bertambah besar agar tidak terjadi slip antara kawat dan blok. Hal ini dapat dicapai bila kecepatan setiap blok tarik dikendalikan oleh motor sendiri. Akan tetapi untuk menghemat energi digunakan satu motor listrik untuk menjalankan kerucut bertingkat. Diameter setiap kerucut dirancang sedemikian rupa sehingga kecepatannya sebanding dengan reduksi penampang tertentu. Bila kecepatan kawat dan kecepatan blok gulung tidak sesuai, kawat menggeser pada blok sewaktu berputar dan menyebabkan terjadinya gesekan. Kecepatan tarik pada mesin cetakan ganda dapat mencapai 600 m/menit untuk penarikan kawat besi/baja dan 2000 m/menit untuk kawat bukan besi. Operasi penarikan menurut temperatur kerjanya dapat dibagi menjadi dua macam yaitu : penarikan panas dan penarikan dingin. Pada penarikan panas benda kerja dipanaskan terlebih dahulu sampai mencapai temperatur diatas temperatur rekristalisasi dari logam. Besarnya temperatur rekristalisasi dari masing-masing logam tidak sama dimana besarnya dipengaruhi oleh jenis logam maupun paduannya. Sedangkan penarikan dingin merupakan penarikan yang dilakukan pada temperatur dibawah temperatur rekristalisasi. Karena sifat tembaga murni adalah ulet maka operasi penarikan kawat tembaga dilakukan dengan penarikan dingin. Proses wire drawing menggunakan dies yang berbentuk kerucut. Selama malalui dies, kawat mengalami deformasi plastis dan terjadi penyusutan diameter. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses wire drawing adalah : 1. Gaya luar dan tegangan yang diperlukan untuk mengerjakan drawing. 25

2. Reduksi maksimum yang mungkin dilakukan bila gaya luar maksimum diterapkan. 3. Kondisi optimal dari proses yaitu sudut dies optimal. Teknik penarikan kawat dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu : 1. Penarikan logam besi. 2. Penarikan logam bukan besi. Kelompok kedua dapat dibagi lagi menjadi penarikan logam bukan besi yang berat seperti tembaga dan penarikan logam bukan besi yang ringan seperti alumunium. Ansys 8.0 adalah perangkat lunak atau juga dapat dikatakan software yang dapat digunakan untuk menyelesaikan berbagai kasus dibidang struktur, termal dan fluida. Perangkat lunak (software) ini berbasis pada metode elemen. Perangkat lunak (software) ini sangat berguna untuk diterapkan pada bidang konstruksi. Perangkat lunak ( software) ANSYS 8.0 yang menggunakan dasar prinsip metode elemen hingga, disini akan dijelaskan sedikit mengenai metode elemen hingga tetapi dalam analisis tegangan ini tidak dibahas mengenai metode elemen hingga. Bila suatu kontinum dibagi-bagi menjadi beberapa bagian yang lebih kecil. Bagian-bagian ini disebut elemen hingga. Proses pembagian suatu kontinum menjadi elemen hingga ini sering dikenal sebagai proses diskritisasi (pembagian). Dinamakan elemen hingga karena ukuran elemen kecil ini berhingga (bukannya kecil tidak berhingga) dan umumnya memiliki bentuk geometri yang lebih sederhana dibandingkan dengan kontinumnya. Dengan menggunakan metode elemen hingga dapat dirubah masalah yang memiliki jumlah derajat kebebasan tidak berhingga menjadi suatu masalah dengan derajat lebih sederhana. Derajat kebebasan dapat didefinisikan sebagai suatu perpindahan bebas (tidak diketahui) yang dapat terjadi di suatu titik. Perpotongan antar elemen dinamakan simpul atau titik simpul dan permukaan antar elemen-elemen disebut garis simpul dan bidang simpul. METODOLOGI PENELITIAN Diagram Alir Software Ansys 8.0 mempunyai cara-cara sistematik dalam menganalisis suatu persoalan. Adapun diagram alurnya sebagai berikut : Start Pemilihan Jenis Analisis Pembuatan Model Penentuan Tipe Elemen dan Material Meshing Solusi Hasil End ya Tidak Gambar 3.1. Alur Program Ansys 8.0 Data Material Pada proses pembuatan kawat dengan wire drawing, menggunakan dua jenis bahan yaitu untuk cetakan dan kawat dengan spesifikasi sebagai berikut : Cetakan 26

Bahan = Baja ST 37 Massa jenis = 7850 kg/m 3 Angka poisson = 0,3 Modulus elastisitas = 1,99 x 10 11 Pa Tegangan ijin = 9,99.10 8 Pa Kawat Diameter awal = 2 mm Diameter akhir = 1 mm Bahan = Tembaga (C22000) Massa jenis = 8880 kg/m 3 Angka poisson = 0,285 Modulus elastisitas = 1,31 x 10 11 Pa Tegangan ijin = 9,65.10 8 Pa Koefisien gesek = 0,22 (Sumber; Oberg, Erik, 2000, Machinery s Handbook, New York, Industrial Press Inc) Dimensi awal cetakan (b) ( c) Gambar 3.5. sudut cetakan (θ) 5 0 a) Model Simulasi wire drawing b). Model cetakan c). Model kawat Gambar 3.2 Dimensi awal cetakan (a) Gambar 3.3 Sudut cetakan Dimensi Awal kawat (b) Gambar 3.4 Dimensi awal kawat HASIL DAN DISKUSI Pemodelan Simulasi (c) (a) (d) 27

(e) Gambar 3.6. Model Simulasi wire drawing dengan sudut cetakan a). 10 0 b). 15 0 c). 20 0 d). 25 0 e).30 0 Penentuan Tipe Elemen dan Spesifikasi Bahan ANSYS 8.0 menyediakan 133 jenis elemen yang bisa digunakan untuk berbagai macam jenis analisis. Untuk penentuan dari tipe elemen dari suatu benda yang dianalisis tergantung dari bentuk benda, model analisis yang akan di lakukan dan bentuk elemen yang akan digunakan. Untuk analisis wire drawing, elemen yang digunakan adalah Solid 92. Dimana Solid 92 adalah berbentuk elemen segi tiga yang mempunyai sepuluh node dan setiap node mempunyai enam DOF. untuk semua arah ( All Dof) pada cetakan karena pada waktu melakukan kerja, cetakannya tidak bergerak. Sedangkan untuk kawat diberikan tumpuan arah sumbu Z karena kawat ditarik ke arah sumbu Z sebesar 0,005 m Gambar 4.2. Free body diagram pembebanan pada wire drawing Hasil Simulasi Ansys 8.0 Hasil analisa tegangan Untuk pemodelan simulasi dengan sudut cetakan (θ) 5 0 Deskritisasi atau Pembagian Elemen Deskritisasi atau pembagian elemen dilakukan dengan proses yang dinamakan meshing. Dengan menggunakan dasar metode elemen hingga, bentuk elemen adalah elemen segi tiga ( 10-node tetrahedral structural solid) didapatkan : Gambar 4.1. Pembagian Elemen (meshing) Penyelesaian atau solusi Langkah solusi meliputi pemberian tumpuan ( displacement). Untuk pemberian tumpuan di berikan tumpuan Gambar 4.3. Kontur tegangan yang terjadi pada simulasi wire drawing Dari hasil analisis yang dikerjakan pada simulasi wire drawing menggunakan program Ansys 8.0 28

didapatkan hasil tegangan yang berupa kontur seperti terlihat pada gambar 4.11 di atas. Dimana tegangan maksimum terdapat pada daerah yang ditunjukkan dengan warna merah yaitu di sekitar ujung kawat yang ditarik yaitu sebesar 0,116.10 9 Pa, sedangkan daerah yang di tunjukkan dengan warna biru merupakan daerah yang mengalami tegangan minimum sebesar 567 Pa, akan tetapi pada kenyataannya daerah tersebut memiliki nilai yang berbeda. Hasil analisa defleksi Untuk pemodelan simulasi dengan sudut cetakan (θ) 5 0 terdapat pada daerah yang di tunjukkan dengan warna merah yaitu di ujung kawat yaitu sebesar 0,005003 m, sedangkan daerah yang di tunjukkan dengan warna biru merupakan daerah yang mengalami defleksi minimum sebesar 0,508.10-3 m, akan tetapi pada kenyataannya daerah tersebut memiliki nilai yang berbeda. Hasil analisa gaya Untuk pemodelan simulasi dengan sudut cetakan (θ) 5 0 Gambar 4.5. Kontur gaya yang terjadi simulasi wire drawing Gambar 4.4. Kontur defleksi yang terjadi pada simulasi wire drawing Dari hasil analisis yang dikerjakan pada simulasi wire drawing menggunakan program Ansys 8.0 didapatkan hasil defleksi yang berupa kontur seperti terlihat pada gambar 4.12 di atas. Dimana defleksi maksimum Dari hasil analisis yang dikerjakan pada simulasi wire drawing menggunakan program Ansys 8.0 didapatkan hasil gaya yang berupa kontur seperti terlihat pada gambar 4.13 di atas. Dimana gaya maksimum terdapat pada daerah yang di tunjukkan dengan warna merah, yang pada penggambaran ini tidak 29

tampak atau tidak memenuhi syarat warna merah, dimana gaya maksimal yang terjadi sebesar 669 N. PEMBAHASAN Perhitungan Manual Pada perhitungan manual untuk mendapatkan kawat tembaga dengan diameter 2 mm menjadi 1 mm, didapatkan perhitungan sebagai berikut : Reduksi (r) A A dimana : Maka : r = A a A b b A 21 r = 2 = 0,5 Regangan bidang () = ln 1 1 r = ln 1 1 0,5 b a...(dieter, 1996 ; 250) = Diameter akhir kawat = 1 mm = Diameter awal kawat = 2 mm = 0,69 Tegangan alir () K.ε n Dimana = n 1.(Dieter, 1996 ; 250) K = Koefisien kekuatan pada bahan tembaga (319,92 MPa) n = eksponen pengerasan regangan pada bahan tembaga (0,54) maka : = 0,54 319,92 x 0,69 0,541 = 170,02 MPa Tegangan tarik ( a ) 1 B A a = σ 1 B A a b B (Dieter, 1996 ; 250) Dimana : B = cotg = tan Dengan = koefisien gesek = 0,22 dan = sudut cetakan Dan gaya tarik (F) F = a. A Maka : Untuk sudut cetakan () 5 0 B = a = 0,22 tan 5 = 2,51 1 2,51 1 170,02 1 2,51 2 F = = 196,02 MPa 196,02 x 3,14.0,001 = 615,5 N 2,51 Pembahasan diambil dari hasil simulasi menggunakan Ansys 8.0 dan perhitungan manual, dan dapat ditabelkan sebagai berikut : Tabel hasil tegangan No. Sudut Cetakan (θ) Tegangan Hasil Simulasi (Pa) 2 Tegangan Hasil Perhitungan (Pa) 1. 5 0,116.10 9 0, 19602.10 9 2. 10 0,767.10 8 0, 177364.10 9 3. 15 0,739.10 8 0, 163608.10 9 4. 20 0,774.10 8 0, 154263.10 9 5. 25 0,755.10 8 0, 147849.10 9 6. 30 0,881.10 8 0, 143144.10 9 Tabel hasil gaya No. Sudut Cetakan (θ) Gaya Hasil Simulasi (N) Gaya Hasil Perhitungan (N) 1. 5 669 615,5 2. 10 620 556,92 3. 15 557 513,73 4. 20 625 484,86 5. 25 579 464,24 6. 30 641 449,47 30

Grafik hasil tegangan dan gaya Tegangan (Pa) Gaya (N) 2.50E+08 2.00E+08 1.50E+08 1.00E+08 5.00E+07 0.00E+00 Grafik Perbandingan Tegangan Hasil Simulasi Dengan Perhitungan Manual Pada Analisa Wire Drawing simulasi manual 8.00E+02 7.00E+02 6.00E+02 5.00E+02 4.00E+02 3.00E+02 2.00E+02 1.00E+02 0.00E+00 5 10 15 20 25 30 Sudut Cetakan ( ) Grafik Perbandingan Gaya Tarik Hasil Simulasi Dengan Perhitungan Manual Pada Analisa Wire Drawing simulasi manual 5 10 15 20 25 30 Sudut Cetakan ( ) Sebagai pembanding hasil simulasi dilakukan perhitungan manual, dari diameter awal 2 mm dan diameter akhir 1 mm, reduksi sebesar 0,5 dan regangan bidang sebesar 0,69 didapatkan masing-masing nilai untuk tegangan yang terjadi dan gaya yang dibutuhkan untuk tiap masing-masing sudut cetakan. Sudut cetakan ditentukan dari sudut terkecil sebesar 5 0 sampai dengan sudut terbesar sebesar 30 0 dengan lebar cetakan yang tetap. Variabel sudut yang bervariasi dipilih karena dengan berubahnya sudut cetakan maka lebar cetakan untuk bidang persinggungan antara kawat dan cetakan juga berubah. Dengan sudut cetakan yang bervariasi didapatkan tegangan tarik dan gaya tarik minimal yang dibutuhkan untuk dapat membentuk kawat dari diameter 2 mm menjadi diameter 1 mm. Dari perbandingan tegangan hasil simulasi dan perhitungan manual dapat dilihat semakin besar sudut cetakan maka tegangan yang terjadi cenderung menurun. Pada perhitungan manual penurunan tegangan pada variasi sudut cetakan diakibatkan semakin turunnya ketebalan kawat yang diakibatkan kenaikan sudut cetakan. Sedangkan dalam perhitungan secara simulasi tegangan yang terjadi dan dihasilkan cenderung bervariasi tetapi tetap cenderung turun. Hal ini disebabkan karna didalam simulasi terjadi ketidaksamaan bidang kontak antara kawat tembaga dengan cetakan yang diakibatkan ukuran pembagian elemen (meshing) yang berbeda, begitu juga yang terjadi pada hasil gaya (F) yang dibutuhkan untuk membentuk kawat dari diameter 2mm menjadi 1mm. Sedangkan selisih nilai yang terjadi antara perhitungan manual dan simulasi, karena tegangan yang terjadi pada perhitungan manual berdasarkan dari gaya tarik minimal yang dibutuhkan untuk membentuk kawat. Sedangkan didalam simulasi tegangan yang terjadi merupakan tegangan konstan setelah terjadi penarikan oleh gaya pada pergeseran selang jarak tertentu. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari hasil analisa wire drawing pada pembuatan kawat menggunakan simulasi dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Cetakan yang tebaik untuk mendapatkan kawat tembaga dari diameter 2 mm menjadi diameter 1 mm adalah menggunakan cetakan dengan sudut cetakan (θ) sebesar 15 0, 31

karena menghasilkan gaya tarikan dan tegangan terkecil. 2. Tegangan terkecil pada simulasi sebesar 0,739.10 8 Pa yang terjadi pada sudut cetakan (θ) sebesar 15 0, dimana merupakan tegangan terkecil yang terjadi untuk mendapatkan kawat tembaga dari diameter 2 mm menjadi 1 mm. 3. Gaya penarikan kawat tembaga pada sudut cetakan (θ) sebesar 15 0 adalah sebesar 557 N, dimana merupakan gaya tarikan terkecil untuk mendapatkan kawat tembaga dari diameter 2 mm menjadi 1 mm. 4. Tegangan masimal yang terjadi pada pembuatan kawat pada sudut cetakan 0 (θ) sebesar 5 adalah sebesar 0,116.10 9 Pa, masih di bawah tegangan ijin kawat tembaga sebesar 0,38.10 9 Pa sehingga tidak terjadi patah pada saat penarikan. Saran Dari hasil simulasi wire drawing untuk pembuatan kawat tembaga diharapkan dapat dijadikan acuan untuk pembuatan kawat tembaga dengan cara wire drawing yang sebenarnya, serta dapat dilakukan simulasi selanjutnya dengan memasukkan komponen-komponen lainnya seperti pelumasan, perlakuan panas dan lain-lain. DAFTAR PUSTAKA 1. Sriati Djaprie, Metalurgi mekanik, penerbit Erlangga, Jakarta 1988, hal.274. 2. Gere dan Timoshenko, Mekanika Bahan, Penerbit Erlangga, hal. 10 32