BAB III RANCANG BANGUN WMN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODE PENELITIAN

Aplikasi CBT Uji Kompetensi

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM


Bab 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. topologi jaringan yang telah penulis rancang. dibutuhkan, diantaranya adalah sebagai berikut :

Bab 3. Metode dan Perancangan Sistem

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

CARA MENJALANKAN PROGRAM

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 3. Analisis Routing Protokol BGP & OSPF

PERANCANGAN SISTEM Perancangan Topologi Jaringan Komputer VPN bebasis L2TP dan IPSec

Pengukuran Kecepatan Transfer Data Pada Jaringan Wireless. Artikel Ilmiah

Membuat Jaringan Point-to-Point Wireless Bridge antar BTS dengan Router Mikrotik RB 411 dan Antena Grid

BAB III METODE PENELITIAN DAN PERANCANGAN SISTEM

BAB 3. PERANCANGAN JARINGAN DAN PENGUJIAN

VPLS Tunnel Untuk Kebutuhan Akses Data Pada Backbone Office to Office Menggunakan Mikrotik

MIKROTIK. I. Setting Mikrotik Wireless Bridge

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

PERCOBAAN 7 KOMUNIKASI WIRELESS MODE AD-HOC

UJI KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK KOMPUTER JARINGAN - PAKET 2

Modul 1 RB N. Pengenalan Mikrotik Router. Konfigurasi Dasar Mikrotik

PERCOBAAN 8 WIRELESS LAN MODE INFRASTRUKTUR (SETTING ACCESS POINT)

Konfigurasi Mikrotik Sebagai Router Gateway Internet

BAB 3 Metode dan Perancangan 3.1 Metode Top Down

Bab 3 Metode Perancangan

PRAKTIKUM ROUTING STATIK

BAB IV HASIL KERJA PRAKTEK. 4.1 Perancangan WLAN di Dinas Pariwisata. penempatan access point dipilih di tempat-tempat yang memang membutuhkan

III. METODE PENELITIAN. 1. Dua unit laptop, dengan spesifikasi sebagai berikut: a. Transmitter, ACER Aspire 5622WLCi dengan spesifikasi Intel Core 2

BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN

ANALISA KINERJA IMPLEMENTASI WIRELESS DISTRIBUTION SYSTEM PADA PERANGKAT ACCESS POINT G MENGGUNAKAN OPENWRT

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN. Implementasi rancangan yang telah dibuat, membutuhkan sarana pendukung,

Pembuatan Sistem Jaringan Komputer LAN dengan mikrotik RouterBoard 750. Achmad Muharyadi

RESET MIKROTIK HARDWARE RB 133C. Cara ini biasanya digunakan ketika permasalah yang dihadapi cukup serius, misalnya:

Mengenal Mikrotik Router

PERANCANGAN JARINGAN RT/RW-NET MENGGUNAKAN MIKROTIK ROUTERBOARD 750 DAN TP-LINK MR3420 SEBAGAI ACCESS POINT

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III PEMBAHASAN Kegiatan Kerja Praktek

BAB III PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

Wireless LAN. Reesa akbar EEPIS-ITS

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

MILIK UKDW BAB I PENDAHULUAN

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN

Bab 3 Metode Penelitian

BAB III ANALISIS DAN RANCANGAN SISTEM

BAB IV PEMBAHASAN. mengeluh karena koneksi yang lambat di salah satu pc client. Hal ini dikarenakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI. Dari penelitian yang dilakukan oleh Cristian Wijaya (2014) mengenai

BAB III DASAR TEORI. interkoneksi sejumlah komputer autonomous atau dalam bahasa popular adalah

PERCOBAAN VII Komunikasi Data WLAN Indoor

UJI KOMPETENSI KEAHLIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. yang memvirtualisasikan server sehingga dengannya aplikasi-aplikasi dapat

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. client yang terbagi dalam 15 titik serta intermediary network devices yang

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN

Membuat Jaringan Point-to-Point Wireless Bridge Antar BTS Menggunakan Antena Grid dengan Mikrotik RB 411

MODUL 5 KONFIGURASI MIKROTIK : DHCP SERVER

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. bertujuan untuk mempermudah pengelompokan sampel. Adapun analisis

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

PERANCANGAN DAN ANALISA WIRELESS DISTRIBUTION SYSTEM (WDS) BERBASIS OPENWRT MENGGUNAKAN TL-MR3020

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. tersebut. Adapun langkah-langkah implementasi sebagai berikut: 2. Instalasi dan konfigurasi perangkat lunak

Bab IV. Implementasi

Resume. Pelatihan Membuat PC Router Menggunakan ClearOS. Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah. Lab. Hardware

JARINGAN KOMPUTER NIRKABEL AD HOC MODE WLAN

MODUL 10 Multi Protocol Label Switching (MPLS)

B A B III I M P L E M E N T A S I E T H E R N E T O V E R

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

Wireless MESH. Certified Mikrotik Training Advance Wireless Class Organized by: Citraweb Nusa Infomedia (Mikrotik Certified Training Partner)

MODUL PEMBAHASAN TKJ UKK P2

BAB III LANDASAN TEORI

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN HASIL PERANCANGAN JARINGAN. pengujian jaringan adalah sebagai berikut :

BAB IV HASIL DAN UJI COBA

MEMBUAT HOTSPOT DENGAN ROUTERBOARD MIKROTIK 750

BAB III PEMBAHASAN Jadwal kerja praktek Tabel 3.1 Jadwal kerja praktek

Analisis Performansi Mobile Ad- Hoc Network Pada Perangkat Android Untuk Membangun Sistem Komunikasi Pada Kondisi Bencana Alam

Gambar 3.1 Perancangan Sistem

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. HP Pro 3500 Microtower PC (D5S76EA) Processor family: Intel Core i3 processor

WIRELESS MESH & SMS EARLY WARNING

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN

LOCAL AREA NETWORK DAN IMPLEMENTASI VIRTUAL LOCAL AREA NETWORK UNTUK GEDUNG PERKANTORAN. Oleh : Teguh Esa Putra ( )

BAB 3 IMPLEMENTASI LOAD BALANCING

BAB III IMPLEMENTASI DAN PERFORMANSI

MODUL 11 QoS pada MPLS Network

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Dalam konfigurasi Wireless Distribution System (WDS) setiap. mikrotik wireless dikonfigurasi sama dan saling terhubung yang sedikit

PERCOBAAN VI Wireless LAN (Indoor)

BAB III METODE PENELITIAN. sebelumnya yang berhubungan dengan VPN. Dengan cara tersebut peneliti dapat

BAB I PENDAHULUAN. Di masa sekarang ini, internet sangat berperan besar. Internet digunakan

III. METODE PENELITIAN. Waktu : Oktober 2009 Februari : 1. Pusat Komputer Universitas Lampung. 2. Pusat Komputer Universitas Sriwijaya

BAB 3 METODOLOGI. 3.1 Metodologi Berikut adalah gambaran alur metodologi yang di gunakan sebagai acuan dalam penelitian ini :

BAB 1 PENDAHULUAN. dinamakan hotspot. Batas hotspot ditentukan oleh frekuensi, kekuatan pancar

BAB IV ANALISA. Mekanisme pengujian dilakukan dengan menggunakan dua buah server sekaligus

BAB III METODE PENELITIAN DAN PERANCANGAN SISTEM. jaringan. Topologi jaringan terdiri dari 3 client, 1 server, dan 2 router yang

Transkripsi:

BAB III RANCANG BANGUN WMN 3.1 Perancangan Testbed WMN Langkah pertama untuk merancang Testbed WMN adalah menentukan langkah-langkah yang akan di gunakan dalam membangun testbed yang dibutuhkan. Berikut langkah-langkah yang digunakan dalam melakukan membangun Testbed WMN dalam skripsi ini: Menentukan topologi Pada langkah ini akan dilakukan pemilihan kerangka bentuk topologi global yang cocok dan digunakan untuk jaringan Testbed WMN serta menentukan skenario pengujian sehingga dapat memenuhi tujuan dan harapan dari penulisan skripsi ini. Menentukan lokasi Menentukan lokasi dengan di sesuaikan bentuk topologi jaringan testbed. Menentukan perangkat keras Pada langkah ini akan di tentukan spesifikasi dari perangkat keras dan perangkat lunak yang akan dipakai pada testbed. Melakukan Konfigurasi dan Instalasi Melakukan instalasi perangkat dan konfigurasi jaringan seperti WDS, IP Address, HWMP+, DHCP-Server dan network monitoring tools untuk melakukan monitoring jaringan Testbed WMN. 3.2 Membangun Jaringan Testbed Wireless Mesh Seperti yang sudah di uraikan di tahap perancangan jaringan testbed WMN, di tahap ini adalah merealisasikan langkah-langkah tersebut. 39

3.2.1. Menentukan Topolagi Sesuai dengan tujuan dalam skripsi ini, yaitu melakukan pengujian performa protokol HWMP+ dengan mode reaktif dan proaktif yang digunakan pada jaringan backbone, maka topologi yang akan di bangun pada jaringan testbed akan menggunakan topologi partial mesh karena tipe topologi ini memang sangat cocok jika di diimplementasikan untuk jaringan backbone karena merupakan jaringan vital yang sangat bergantung pada redundansi untuk menjaga layanan bisa berjalan secara nonstop dan topologi ini sering digunakan oleh ISP. Pada jaringan tesbed ini memiliki topologi physical dan logic. Topologi Physical terdiri 5 buah Mesh Acces Point (MAP) dan 2 buah Mesh Client (MC). Tiap MAP mempunyai dua link yang terhubung dengan dua MAP lain, Mesh Client A terhubung menggunakan media nirkabel ke MAP2 dan Mesh Client B terhubung dengan media nirkabel ke MAP 5. Adapun bentuk topologi Physical testbed ada pada gambar 3.1. Gambar 3. 1 Topologi Physical Testbed WMN 40

Selain topologi Physical MWN yang akan di bangun juga mempunyai topologi Logical lihat Gambar 3.2 yaitu: Router GW dan PRTG terhubung langsung dengan MAP1 menggunakan media kabel, tiap-tiap MAP mempunyai dua link yang terhubung dengan dua MAP lain, Mesh Client A dan B mendapatkan IP-DHPC dari Router GW. Mesh Client A terhubung dengan media nirkabel ke MAP2 dan Mesh Client B juga terhubung dengan media nirkabel ke MAP 5. Gambar 3. 2 Topologi Logical Testbed WMN Dengan bentuk topologi seperti gambar 3.1 dan 3.2 di nilai sudah sesuai dengan harapan dan tujuan pembangunan testbed yaitu: untuk melakukan testing unjuk kerja perbandingan jaringan WMN dengan arsitektur HWMP+ menggunakan mode Proactive dan Reactive serta menganalisa proses hand-off dari MAP ketika mesh client bergerak dan berpindah MAP. 41

3.2.2. Lokasi Testbed Lokasi merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam pembangunan testbed WMN. Dalam hal ini adalah penempatan MAP sebagai infrastruktur dari WMN. Lokasi penempatan MAP diambil dengan beberapa langkah sebagai berikut: 1. Setting semua MAP dengan maksimal TX Power:5dbi, setting SSID, Frekwensi yang berbeda di tiap-tiap MAP. 2. Kemudian pasang dan aktifkan MAP di tiap pojok ruang MAP1 di ruang engineer MAP2 di ruang tunggu tamu MAP3 di ruang inventory MAP4 di ruang meeting besar MAP5 di ruang meeting kecil kemudian menghubungkan laptop ke MAP1 dan berjalan menjauh dari posisi MAP1 untuk memonitor kualitas link dan jangkauan terjauh dari MAP1. Hal serupa juga di lakukan pada MAP2, MAP3, MAP4 dan MAP5. 3. Setelah mendapatkan titik yang paling optimal dan titik terburuk langkah selanjutnya adalah menggeser MAP ke titik yang paling optimal di tiaptiap sel pada MAP. Catatan: pastikan proses test dilakukan dengan memasukkan faktor yang paling buruk yaitu dengan menutup semua pintu dari tiap-tiap ruangan. Setelah melakukan ke-3 langkah di atas di peroleh beberapa overlap antar MAP sebagai berikut: 1. MAP1 overlap terhadap MAP2, MAP3 dan MAP5 2. MAP2 overlap terhadap MAP4, MAP1 dan MAP3 3. MAP3 overlap terhadap MAP1dan MAP5 4. MAP4 overlap terhadap MAP2 dan MAP5 5. MAP5 overlap terhadap MAP1, MAP2, MAP3 dan MAP5. 42

Gambar 3. 3 Denah lokasi dan Posisi penempatan MAP 3.2.3. Skenario Pengujian testbed WMN Dari jaringan testbed yang dibangun akan diberikan beberapa skenario pengujian. Skenario tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran dari kinerja testbed WMN yang telah di bangun. Skenario pengujian tersebut antara lain: 1. Pengujian untuk melihat perbandingan kinerja mode reactive dan proactive terhadap penentuan best path yang berpengaruh terhadap throughput dan latency pada tiap-tiap MAP dari jaringan WMN multi-hop. 2. Pengujian untuk mendapatkan nilai jitter pada proses hand-off ketika mesh client bergerak dan berpindah MAP. 3.2.3.1.Pengujian Mode REACTIVE Skenario pengujian mode Reactive bertujuan untuk mendapatkan data waktu latency pada tiap-tiap MAP, throughput dan lama waktu yang dibutuhkan dalam pengiriman data. Skenario ini dilakukan dengan menggunakan topologi yang sudah di bangun tanpa mengaktifkan mesh portal pada MAP1. Skenario pengujian ini dilakukan dengan menggunakan beberapa alat bantu seperti aplikasi FileZilla, aplikasi monitoring PRTG, selain itu pengujian dilakukan dalam kondisi yang berbeda-beda untuk melihat performa jaringan dalam berbagai kondisi 43

tersebut. Adapun gambaran skenario pengujian mode reactive pada wireless mesh network ini dapat dilihat pada gambar 3.4 Gambar 3. 4 Skenario Pengujian Mode Reactive Pengujian dilakukan dengan durasi 2 jam dimana waktu tersebut dibagibagi lagi menjadi dua bagian dimana satu jam pertama beban yang diberikan pada jaringan tidak terlalu besar seperti ping, bagian kedua selama satu jam berikutnya jaringan diberikan beban dengan cara melakukan upload data dari MC-A ke MC- B sebesar 3GB. Hasil lengkap pengujian latency berdasarkan pembacaan PRTG yang dapat dilihat pada lampiran 1a dan 1b, sedangkan pembacaan trafik pada masing-masing MAP oleh PRTG dapat dilihat pada lampiran 1c. dan pembacaan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pengiriman data sebesar 3GB dihasilkan oleh FileZilla yang dapat dilihat pada lampiran 1d. Skenario input data pada pengujian mode reactive dapat dilihat pada tabel 3.1. Untuk melakukan pengujian mode reactive dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Mesh Client A dan B mendapatkan IP DHCP dari Router 2) Aplikasi PRTG melakukan ping dan menangkap SNMP Trafik pada semua MAP. 3) Mesh Client A dan B mengaktifkan aplikasi FileZilla 4) Mesh Client A mengirimkan data sebesar 3GB ke Mesh Client B 44

5) Lama pengiriman data ini akan di gunakan untuk menghitung throughput dan latency pada masing-masing MAP. 3.2.3.2.Pengujian Mode PROACTIVE Skenario pengujian mode Proactive bertujuan untuk mendapatkan data waktu latency pada tiap-tiap MAP, throughput dan lama waktu yang dibutuhkan dalam pengiriman data. Skenario ini dilakukan dengan menggunakan topologi yang sudah di bangun dengan mengaktifkan mesh portal pada MAP1. Skenario pengujian ini dilakukan dengan menggunakan beberapa alat bantu seperti aplikasi FileZilla, aplikasi monitoring PRTG, selain itu pengujian dilakukan dalam kondisi yang berbeda-beda untuk melihat performa jaringan dalam berbagai kondisi tersebut. Adapun gambaran skenario pengujian mode Proactive pada wireless mesh network iini dapat dilihat pada gambar 3.5 Gambar 3. 5 Skenario pengujian mode proactive Pengujian dilakukan dengan durasi 2 jam dimana waktu tersebut dibagibagi lagi menjadi dua bagian dimana satu jam pertama beban yang diberikan pada jaringan tidak terlalu besar seperti ping, bagian kedua selama satu jam berikutnya jaringan diberikan beban dengan cara melakukan upload data dari MC-A ke MC- B sebesar 3GB. Hasil lengkap pengujian latency berdasarkan pembacaan PRTG yang dapat dilihat pada lampiran 2a dan 2b, sedangkan pembacaan trafik pada masing-masing MAP oleh PRTG dapat dilihat pada lampiran 2c. dan pembacaan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pengiriman data sebesar 3GB dihasilkan 45

oleh FileZilla yang dapat dilihat pada lampiran 2d. Skenario input data pada pengujian mode reactive dapat dilihat pada tabel 3.1. Untuk melakukan pengujian mode proactive dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Mengaktifkan Mesh Portal pada MAP1 2) Mesh Client A dan B mendapatkan IP DHCP dari Router 3) Aplikasi PRTG melakukan ping dan menangkap SNMP Trafik pada semua MAP. 4) Mesh Client A dan B mengaktifkan aplikasi File Zilla 5) Mesh Client A mengirimkan data (upload) sebesar 3GB ke Mesh Client B 6) Lama pengiriman data ini akan di gunakan untuk menghitung throughput dan latency, trafik pada masing-masing MAP. Tabel 3. 1 Skenario input data mode reactive dan proactive Non aplikasi (Latency /ms) Aplikasi (Latency /ms) Average Traffic Total (Mbps) AP1 M AP2 M AP3 M AP4 M AP5 M 3.2.3.3.Pengujian Multi Hop Skenario ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kinerja system multi-hop pada WMN. adapun parameter-parameter yang akan diamati adalah throughput dari system multi-hop. Pengujian tersebut terbagi menjadi beberapa tahapan antara lain pengujian dengan 1 hop, pengujian dengan 2 hop, pengujian dengan 3 hop, pengujian dengan 4 hop dan pengujian dengan 5 hop. Pada setiap pengujian multi-hop ini hanya MAP yang digunakan saja yang akan di aktifkan. Misal pada pengujian 1 hop maka hanya MAP 1 saja yang akan di aktifkan. Gambaran dari skenario ini dapat dilihat pada Gambar 3.6 46

Gambar 3. 6 Skenario Pengujian Multi-hop Pengamatan throughput pada pengujian system multi-hop dilakukan dengan mengaktifkan aplikasi FileZilla untuk melakukan transfer data sebesar 500MB dari Mesh Client A ke Mesh Client B. Pengujian dilakukan secara berulang-berulang dari 1-Hop sampai 5-Hop. Pembacaan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pengiriman data sebesar 500MB dihasilkan oleh FileZilla yang dapat dilihat pada lampiran 3. Skenario input data pada pengujian system multihop dapat dilihat pada tabel 3.2. Tabel 3. 2 skenario input data system multi-hop Throughput (Mbps) Hop1 Hop2 Hop3 Hop4 Hop5 3.2.3.4.Pengujian Hand Off pada Mesh Client Bergerak Skenario pengujian Handoff pada mesh client bergerak ini bertujuan untuk mencatat nilai jitter pada saat Mesh Client berpindah dari MAP satu ke MAP yang lain. Dengan skenario Mesh client A bersifat statis (tidak bergerak) dan terhubung ke MAP1 menggunakan media nirkabel. Sedangkan Mobile client B bersifat mobile (bergerak) dan berpindah pindah dari MAP1 ke MAP2 ke 47

MAP4 ke MAP5 ke MAP3 dan kembali ke MAP1. Pada percobaan ini dilakukan selama 24 menit pada rentang waktu pkl. 12:56:00 PM - 1:20:00 PM. Hasil lengkap waktu perpindahan pada pengujian hand-off berdasarkan pembacaan pada Mikrotik SysLog yang dapat di lihat pada lampiran 4. Skenario pengujian handoff dapat di lihat pada Gambar 3.7 dan Skenario input data pada pengujian system multi-hop dapat dilihat pada tabel 3.3 Gambar 3. 7 Skenario perpindahan mesh client Untuk melakukan pengujian handoff pada Mesh Client dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Mesh Client A dan B mendapat IP DHCP dari router yang terhubung ke MAP1 dengan media kabel. 2. Mesh Client A bersifat statis (tidak bergerak) dan terhubung ke MAP1 menggunakan media nirkabel. 3. Mesh Client A mengaktifkan aplikasi Mikrotik SysLog untuk menangkap waktu perpindahan. 4. PRTG melakukan ping terus menerus ke Mesh Client B 5. Mesh Client B bersifat mobile (bergerak) 48

6. Percobaan dilakukan satu kali, Perpindahan dilakukan lima kali dimulai dari MAP1, MAP2, MAP4, MAP5 dan MAP3. Tabel 3. 3 Skenario input data handoff Menit Ke- Delay (/ms) 1 2 4 5 6 3.3 Spesifikasi Perangkat 3.3.1. Spesifikasi Hardware Sesuai dengan rancangan topologi di atas untuk membangun sebuah jaringan testbed dibutuhkan 5 buat MAP, satu buah router dan 2 buah mesh client. 3.3.1.1.Spesifikasi Hardware MAP MAP yang akan digunakan untuk membangun jaringan testbed adalah RouterBoard (RB) 751u-2HnD seperti terlihat pada gambar 3.8a dan 3.8b Gambar 3.8 RouterBoard 751u-2HnD RB751U-2HnD adalah sebuah wireless AP SOHO dengan system operasi Mikrotik RouterOS, mempunyai 5 buah Ethernet, satu USB2.0 dan card wireless dengan power besar mendukung 802.11b/g/n beserta antenna di dalamnya. Selain itu RB751U-2HnD juga menyediakan external konektor MMCX jika ingin 49

mengganti antenna bawaan dengan antenna external. RB751U-2HnD didesain dengan bentuk yang kecil dan terlihat bagus baik di gunakan dalam rumah ataupun kantor. Berikut spesifikasi detail RB751U-2HnD yang akan digunakan untuk keperluan testbed WMN Features: RB751U-2HnD (USB, 2GHz, 802.11n, dual chain) CPU: Atheros AR7241 400MHz CPU Memory: 32MB DDR SDRAM onboard memory Data storage: 64MB onboard NAND storage chip Ethernet: Five independent 10/100 Ethernet ports LEDs: Power, NAND activity, 5 Ethernet LEDs, wireless activity LED Power options: PoE: 8-30V DC on Ether1. Jack: 8-30V DC Dimensions: 113x138x29mm. Weight without packaging and cables: 230g Power consumption: Up to 10W Operating Temp: -20C.. +50C Operating System: MikroTikRouterOS, Level4 license Package contains: RouterBOARD in a plastic case, power adapter Antennas: 2x2 MIMO PIF antennas, max gain 2.5dBi; external MMCX option RX sensitivity : 802.11g :-96dBm @ 6Mbit/s to-81dbm @ 54Mbit/s 802.11n: 96 dbm @ MCS0 to 78 dbm @ MCS7 TX power: 802.11g: 30dBm @ 6Mbps to 27dBm @ 54 Mbps 802.11n: 30dBm @ MCS0 to 26dBm @ MCS7 Modulations: OFDM: BPSK, QPSK, 16QAM, 64QAM, DSSS: DBPSK, DQPSK, CCK 3.3.1.2.Spesifikasi Hardware Router Hardware router yang akan di gunakan untuk keperluan testbed kali ini adalah sebuah Mikrotik Router Virtual yang di jalankan pada sebuah software Oracle VM VirtualBox yang di install pada sebuah laptop dengan spesifikasi prosesor intel core 2 duo dengan memori 2GB. Berikut spesifikasi detail Mikrotik router Virtual yang akan di fungsikan sebagai router pada jaringan tesbed Processor : Intel Core2 Duo Memory : 64 MB Data storage : 512 MB Operating System : MikroTik RouterOS v5.20, Level6 license 50

Ethernet : Satu Buah 10/100 Ethernet ports 3.3.1.3.Spesifikasi Hardware Mesh Client Untuk spesifikasi hardware Mesh Client pada jaringan testbed ini tidak terlalu di tentukan spesifikasi-nya, dikarenakan jaringan mesh ini dapat terintegrasi dengan perangkat apapun asalkan perangkat tersebut dilengkapi dengan wireless card yang mendukung 802.11b/g/n. 3.3.2. Spesifikasi Software Sama seperti spesifikasi hardware, spesifikasi software yang digunakan pada jaringan testbed dibagi sesuai dengan kebutuhan pada MAP, Router dan Mesh client. 3.3.2.1 Spesifikasi Software MAP Gambar 3.9 LisensiRB751U-2HnD Spesifikasi software yang digunakan pada MAP adalah menyangkut penggunaan Lisensi yang ada pada MAP tersebut. Untuk keperluan jaringan testbed wireless mesh dibutuhkan Lisensi Mikrotik RouterOS minimal Level 4. Seperti terlihat pada Gambar 3.9 pada MAPRB751U-2HnD sudah menggunakan 51

lisensi mikrotik routeros Level 4 sehingga tidak dibutuhkan upgrade lisensi ataupun modifikasi lain guna memenuhi kebutuhan dalam membangun jaringan testbed wireless mesh. 3.3.2.2 Spesifikasi Software Router Sama seperti pada MAP spesifikasi software yang difokuskan disini adalah lisensi yang digunakan. Untuk kebutuhan router minimal dibutuhkan lisensi level 4 s/d 6, dimana level 6 ini adalah level tertinggi pada Mikrotik router Os. Lisensi router dapat dilihat di gambar 3.10 Gambar 3. 10 Liseni Mesh Router 3.3.2.3 Spesifikasi Software Mesh client Untuk Mesh Client tidak ada spesifikasi khusus dalam pemilihan software untuk digunakan. Semua system seperti windows, Linux, android dan sebagainya dapat digunakan selama kompatibel untuk penggunaan jaringan baik nirkabel maupun wired. 52

3.4 Konfigurasi WMN Setelah menentukan topologi, lokasi dan penentuan spesifikasi hardware dan software tahap berikutnya adalah mengkonfigurasi jaringan agar dapat beroperasi sesuai dengan ketentuan HWMP+ dengan mode proactive dan reactive adalah sebagai berikut ini: a) Pengalamatkan IP Address Memberikan pengalamatan pada setiap MAP, mesh client, router dan Monitoring sistem. b) Konfigurasi interface Wireless Konfigurasi interface wireless di setiap MAP disini adalah penentuan mode, band, channel, SSID dan WDS Mode sehingga dapat terhubung dengan baik antar satu sama lain. c) Konfigurasi Mesh Konfigurasi Mesh pada MAP yang dimaksud adalah menambahkan interface mesh, menambahkan mesh port. 3.4.1 IP Address Seperti terlihat di tabel 3.4. Pada WMN konfigurasi IP Address pada MAP hanya berfungi sebagai monitoring dan mengelola node tersebut jika dibutuhkan perubahan konfigurasi. Berbeda dengan IP pada Mesh Client yang digunakan untuk menghubungkan dengan device lain dalam satu jaringan maupun di luar jaringan mesh Tabel 3. 4 Pengalamatan IP address NO NAMA IP ADD NETMASK GATEWAY INTERFACE TYPE 1 MAP1 10.0.0.1 255.255.255.240 MESH STATIK 2 MAP2 10.0.0.2 255.255.255.240 MESH STATIK 3 MAP3 10.0.0.3 255.255.255.240 MESH STATIK 4 MAP4 10.0.0.4 255.255.255.240 MESH STATIK 5 MAP5 10.0.0.5 255.255.255.240 MESH STATIK 6 PRTG 10.0.0.7 244.255.255.340 10.0.0.14 Eth0 STATIK 7 MESH CLIENT A 10.0.0.10 255.255.255.240 10.0.0.14 Wireless LAN DHCP-CLIENT 8 MESH CLIENT B 10.0.0.12 255.255.255.240 10.0.0.14 Wireless LAN DHCP-CLIENT DHCP- 9 GATEWAY 10.0.0.14 255.255.255.240 Ether1 SERVER 53

3.4.2 Konfigurasi Interface Wireless Untuk konfigurasi interface wireless pada tiap-tiap MAP menggunakan konfigurasi yang sama baik SSID, Mode, Chanel dan WDS Mode agar dapat saling berhubungan dengan baik. Pada jaringan tesbed ini akan menggunakan WDS Statik, hal ini disesuai dengan topologi yang digunakan yaitu topologi mesh parsial. Berikut konfigurasi interface wireless pada tiap-tiap MAP dapat dilihat pada tabel 3.5 Tabel 3. 5 Konfigurasi Interface Wireless MAP NO NAMA MAP MAC ADDRES MODE BAND FREQU ENCY SSID RADIO NAME WDS 1 MAP1 00:0C:42:E3:C7:BD MAP1 2 MAP2 D4:CA:6D:4C:8D:D7 MAP2 3 MAP3 D4:CA:6D:27:A7:AF AP 2GHz- BRIDGE B/G/N 2437 MESH MAP3 4 MAP4 D4:CA:6D:7D:0D:CD MAP4 STATIC MESH 5 MAP5 D4:CA:6D:52:4D:69 MAP5 Tabel 3. 6 Interface WDS NO NAMA MAP 1 MAP1 2 MAP2 3 MAP3 4 MAP4 5 MAP5 WDS NAME MAP2 MAP3 MAP1 MAP4 MAP1 MAP5 MAP2 MAP5 MAP3 MAP4 MAC ADDRES D4:CA:6D:4C:8D:D7 D4:CA:6D:27:A7:AF 00:0C:42:E3:C7:BD D4:CA:6D:7D:0D:CD 00:0C:42:E3:C7:BD D4:CA:6D:52:4D:69 D4:CA:6D:4C:8D:D7 D4:CA:6D:52:4D:69 D4:CA:6D:27:A7:AF D4:CA:6D:7D:0D:CD Seperti terlihat pada tabel 3.6. Tahap selanjutnya membuat Interface WDS,. Tiap-tiap MAP mempunyai jumlah interface wds yang berbeda-beda sesuai topologi yang digunakan, interface wds menggambarkan banyaknya link yang dimiliki oleh setiap MAP. Pada jaringan testbed ini tiap MAP memiliki dua buah interface WDS static. 54

3.4.3 Konfigurasi Interface Mesh Tahap selanjutnya adalah menambahkan interface mesh pada tiap-tiap MAP, kemudian menambahkan interface wds ke dalam mesh port. Konfigurasi Interface mesh dapat dilihat pada tabel 3.7 NO NAMA Tabel 3. 7 Konfigurasi Interface mesh dan Port Mesh INTERFACE MESH MESH PORT ETH1 MAP1 MAP2 MAP3 MAP4 MAP5 1 MAP1 MESH ѵ ѵ ѵ ѵ 2 MAP2 MESH ѵ ѵ ѵ 3 MAP3 MESH ѵ ѵ ѵ 4 MAP4 MESH ѵ ѵ ѵ 5 MAP5 MESH ѵ ѵ ѵ 3.4.4 Scripting dan Scheduler RouterOs Pada routeros scrip dibagi menjadi beberapa baris perintah. Baris perintah di eksekusi satu persatu sampai akhir script atau sampai terjadi error. Scripting pada routeros digunakan untuk mengotomatisasi beberapa tugas dalam pengelolaan routerboard, penggunaan script dibatasi pada beberapa peristiwa yang terjadi. Penggunaan Script dapat disimpan di repository scrip dan dijalankan dengan scheduler, netwatch atau dapat langsung dituliskan di konsol. Dalam skripsi ini script digunakan terbatas untuk memeriksa tabel registrasi pada interface wireless pada tiap-tiap MAP dengan tujuan memeriksa semua mesh client yang terhubung ke MAP dan memutuskan koneksi antara MAP dengan mesh client jika memiliki tingkat CCQ kurang dari 40%. Dengan harapan bahwa mesh client akan mencoba terhubung kembali dengan MAP yang terbaik. scrip ini akan dijalankan secara terus menerus oleh MAP dimulai dari startup dan di ulang setiap 30detik. Script: /interface wireless registration-table :foreach i in=[ /interface wireless registration-table find ap=no] do={ :if ([get $i tx-ccq] < "40") do={ :log warning ([get $i mac-address]. " was disconnected due to low CCQ - Tx: ". [get $i tx-ccq]. "% / Rx: ". [get $i rx-ccq]. "%") /interface wireless registration-table remove $i 55

:delay 5s } } Scheduler: /sys scheduler add name="station-check-schedule" start-time=startup \ interval=30s on-event="/system script run statio-check;" 3.4.5 PRTG Network Monitoring Pada skripsi ini PRTG (Paessler Router Traphic Grahper) yang digunakan adalah versi V13.1.2.1462. PRTG merupakan software monitoring yang digunakan untuk melakukan hal-hal sebagai berikut: Mengawasi terhadap koneksi resource-resource pada jaringan Mengawasi dan mengukur penggunaan bandwidth pada device-device jaringan Mengawasi dan mengukur delay pada device-device jaringan. Mencari dan menemukan serta mengakses device-device yang ada pada jaringan Mendeteksi aktifitas yang tidak seharusnya (suspicious and malicious) baik dari user ataupun device yang ada dalam jaringan Mengawasi penggunaan terhadap resource sistem, seperti konsumsi CPU, penggunaan memory, sisa kapasitas drive yang tersedia, dll. mengelompokkan paket-paket yang lewat pada traffic berdasarkan sumber (source) dan tujuan-nya (destination) 56

Gambar 3. 11 PRTG Network Monitoring Seperti terlihat pada gambar 3.11 PRTG Networks monitoring digunakan sebagai tool untuk monitoring SNMP traffic dan delay pada jaringan testbed yang dibangun. 57