TINJAUAN PUSTAKA. Beberapa pendapat tentang pengertian disminorhoe, antara lain: pertama dari masa haid. menjelang atau selama menstruasi

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. yang terjadi pada waktu menjelang atau selama menstruasi, yang memaksa

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat dewasa, usia di mana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orangorang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terdiri dari Persepsi (perception), Respon terpimpin (Guided Respons),

BAB I PENDAHULUAN. Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA DALAM MENGHADAPI DYSMENORRHEA PADA SISWI KELAS XI SMA NEGERI 3 SLAWI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. terbentuknya tindakan seseorang (over behavior). Karena itu dari pengalaman dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. meliputi kesejahteraan fisik, mental, dan sosial bukan semata-mata bebas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. remaja yaitu perubahan perubahan yang sangat nyata dan cepat. Anak

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Masa ini merupakan masa peralihan manusia dari anak-anak menuju

Daftar Pustaka : 21 ( ) Kata kunci: Dismenore, Intensitas dismenore, Senam dismenore

SATUAN ACARA PENGAJARAN

BAB II TINJAUAN TEORITIS. pengetahuan tidak selalu ilmu. Pengetahuan memberikan kewenangan (authority

BAB I PENDAHULUAN. yang cepat, termasuk pertumbuhan serta kematangan dari fungsi organ reproduksi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu pengindraan sehingga

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN TEORI Pengertian pengetahuan

GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG DISMENORE PADA SISWA PUTRI DI MTS NU MRANGGEN KABUPATEN DEMAK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. masa kehamilan (Prawirohardjo, 2000). Menurut Manuaba (2001), tujukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim.

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja (pubertas) merupakan masa transisi antara masa anak dan dewasa

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN dan 2000, kelompok umur tahun jumlahnya meningkat dari 21 juta

BAB I PENDAHULUAN. produksi zat prostaglandin (Andriyani, 2013). Disminore diklasifikasikan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. atau adolescence. Menurut WHO (2007) masa remaja terjadi pada usia antara 10 24

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja adalah masa-masa yang akan dilalui dengan berbagai

BAB I PENDAHULUAN. perhatian khusus pada masa remaja yang dimana terjadi proses pertumbuhan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. keadaan normal lama menstruasi berkisar antara 3-7 hari dan rata-rata berulang

HUBUNGAN TINGKAT DISMENOREA DENGAN PENGGUNAAN ANALGETIK PADA SISWA SMPN 4 PEUSANGAN KABUPATEN BIREUEN. Nurhidayati 1*)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. terutama pada remaja putri yang nantinya akan menjadi seorang wanita yang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. perubahan biologis dan psikologis yang pesat dari masa kanak-kanak ke masa

BAB I PENDAHULUAN. Nyeri haid atau dismenore merupakan keluhan yang sering dialami wanita

Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo, 2003) :

2015 PERBED AAN TINGKAT D ISMENORE PAD A AKTIVITAS RINGAN, SED ANG, D AN BERAT ATLET WANITA KBB

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek. tertentu.penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai obat generik menjadi faktor utama

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. endometrium yang terjadi secara rutin setiap bulan (Ayu dan Bagus, 2010).

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. produktif dan kreatif sesuai dengan tahap perkembangannya (Depkes, 2010).

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, menunjukkan suatu

BAB 1 PENDAHULUAN. seperti susah diatur dan lebih sensitif terhadap perasaannya (Sarwono, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. 50% perempuan disetiap dunia mengalaminya. Dari hasil penelitian, di

BAB I PENDAHULUAN. kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik. Masa pubertas adalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat

BAB I PENDAHULUAN. Masa pubertas merupakan masa transisi dari anak-anak menjadi remaja.

BAB I PENDAHULUAN. yang ditandai dengan perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial.

I. PENDAHULUAN. Menstruasi merupakan perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dilahirkan dan plasenta keluar lepas dari rahim, sampai enam minggu

HUBUNGAN PENGETAHUAN SISWI KELAS VIII TENTANG DISMINORE DENGAN PERILAKU DALAM UPAYA PENANGANAN DISMINORE DI SMPN 12 KOTA BATAM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. semua makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang, sampai dengan

2015 PROFIL KONSENTRASI BELAJAR SISWI YANG MENGALAMI DISMENORE

BAB I PENDAHULUAN. Remaja atau adolescence (Inggris), berasal dari bahasa latin adolescere

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perilaku terdiri dari Persepsi (perception), Respon terpimpin. (Guided Respons), Mekanisme (mekanisme), Adaptasi (adaptation)

BAB I PENDAHULUAN. Peristiwa ini terjadi satu kali dalam satu bulan. Semua wanita akan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. menarche sampai menopause. Permasalahan dalam kesehatan reproduksi

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DENGAN SIKAP MAHASISWI KEPERAWATAN SI DALAM MENGATASI DISMENORE

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. ke dalam jiwa sehingga tidak ada keraguan terhadapnya.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Perilaku kesehatan pada garis besarnya dikelompokkan menjadi 2 yakni (Notoatmodjo, 2003):

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kemampuan untuk mengatur fertilitas mempunyai pengaruh yang bermakna

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan seseorang. Usia remaja berlangsung antara umur tahun, dengan

BAB I PENDAHULUAN. waktu menjelang atau selama menstruasi. Sebagian wanita memerlukan

2016 GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA MADYA ( TAHUN ) TENTANG DYSMENORRHEA DI SMPN 29 KOTA BANDUNG

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Hubungan Olahraga Dengan Kejadian Dismenorea Mahasiswi Tingkat 1 Akademi Keperawatan Pemkab Ngawi

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PENANGANAN SINDROM PRA MENSTRUASI TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP SISWI SMA NEGERI 2 SUKOHARJO SKRIPSI

BAB 1 PENDAHULUAN. Health Organization (WHO) menentukan usia remaja antara tahun.

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan suatu periode dalam siklus kehidupan. Pada masa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengetahuan juga bisa didapat dari tradisi (Prasetyo, 2007, hlm 3-4)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. siklik dari uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium

BAB 1 PENDAHULUAN. Remaja yang sehat dan berkualitas menjadi perhatian serius bagi orang tua,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. punggung bagian bawah dan paha (Badziad, 2003). Dismenorea merupakan

PENGARUH SENAM DISMENORE TERHADAP PENURUNAN DISMENORE PADA REMAJA PUTRI DI DESA SIDOHARJO KECAMATAN PATI

BAB I PENDAHULUAN. Dismenore merupakan suatu gejala rasa sakit atau rasa tidak enak. diperut bagian bawah pada masa menstruasi sampai dapat menggangu

BAB I PENDAHULUAN. masa dewasa dan merupakan periode kehidupan yang paling banyak terjadi

BAB 1 PENDAHULUAN. Wanita mulai dari usia remaja hingga dewasa normalnya akan mengalami

BAB II TINJAUAN TEORITIS. Pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep, dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Masa remaja adalah suatu tahap antara masa kanak kanak dengan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

PENGARUH DISMENORE TERHADAP AKTIVITAS PADA SISWI SMK BATIK 1 SURAKARTA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. aktivitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Pada hakikatnya

GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP, PERILAKU, DAN LINGKUNGAN SISWI SMU SANTA ANGELA TERHADAP KESEHATAN REPRODUKSI

BAB I PENDAHULUAN. yang meliputi : inspeksi dan palpasi pada payudara. SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) merupakan

Transkripsi:

7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Disminorhoe a. Pengertian Beberapa pendapat tentang pengertian disminorhoe, antara lain: 1) Menurut Surtiretna (2001), disminorhoe adalah rasa sakit yang menyerupai kejang, terasa di perut bagian bawah, dan biasanya dimulai 24 jam sebelum haid, dan berlangsung sampai 12 jam pertama dari masa haid. 2) Menurut Dianawati (2003), disminorhoe merupakan kekakuan atau kejang di bagian bawah perut dan terjadi pada waktu menjelang atau selama menstruasi 3) Menurut Ramaiah (2006), disminorhoe adalah nyeri atau kram pada perut yang dirasakan sebelum dan selama menstruasi. 4) Menurut Prawirohardjo (2007), disminorhoe atau nyeri haid merupakan suatu rasa tidak enak di perut bawah sebelum dan selama menstruasi dan sering kali disertai rasa mual. 5) Master Index of Medical Specialities (MIMS) Indonesia Petunjuk Konsultasi (2009/2010) mengatakan bahwa disminorhoe adalah rasa nyeri yang timbul menjelang dan selama menstruasi, ditandai dengan gejala kram pada abdomen

8 bagian bawah. Gejala ini disebabkan karena tingginya hormon prostaglandin. Walaupun tidak membahayakan tetapi gejala dismenore mungkin cukup berat dan bahkan dapat mengganggu aktivitas sehari- hari. 6) Menurut Proverawati & Misaroh (2009), disminorhoe adalah nyeri menstruasi yang memaksa wanita untuk istirahat atau berakibat pada menurunnya kinerja dan berkurangnya aktifitas sehari-hari. Istilah disminorhoe (dysmenorrhoea) berasal dari bahasa Greek yaitu dys (gangguan atau nyeri hebat/ abnormalitas), meno (bulan) dan rrhoea yang artinya flow (aliran). Jadi disminorhoe adalah gangguan aliran darah menstruasi atau nyeri menstruasi. Dari beberapa pendapat mengenai disminorhoe, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa disminorhoe adalah rasa nyeri yang timbul menjelang dan selama menstruasi yang dapat menggangggu aktivitas sehari-hari, ditandai dengan gejala kram pada abdomen bagian bawah. Gejala ini disebabkan karena tingginya produksi hormon Prostaglandin. b. Klasifikasi 1) Disminorhoe Primer Disminorhoe primer, (disebut juga Disminorhoe idiopatik, esensial, intrinsik) adalah nyeri menstruasi tanpa kelainan organ reproduksi (tanpa kelainan ginekologik). Terjadi

9 sejak menarche dan tidak terdapat kelainan pada alat kandungan (Proverawati & Misaroh, 2009) Disminorhoe primer timbul sejak haid pertama dan akan pulih sendiri dengan berjalannya waktu. Tepatnya saat lebih stabilnya hormon tubuh atau perubahan posisi rahim setelah menikah dan melahirkan (Wijayanti, 2009) Disminorhoe primer terjadi beberapa waktu setelah menarche biasanya setelah 12 bulan atau lebih, oleh karena siklus-siklus haid pada bulan-bulan pertama setelah menarce umumnya berjenis anovulatuar yang tidak disertai rasa nyeri. Rasa nyeri tidak timbul lama sebelumnya atau bersama dengan permulaan haid dan berlangsung untuk beberapa jam, walaupun pada beberapa kasus dapat berlangsung beberapa hari (Prawirohardjo, 2006). Disminorhoe primer biasanya dimulai 6 bulan hingga 1 tahun setelah seorang gadis mendapatkan menstruasi pertamanya. Ini adalah waktu ketika sel telur mulai matang setiap bulan dalam ovarium. Pematangan sel telur disebut ovulasi. Disminorhoe tidak ada pada siklus jika ovulasi belum terjadi. Disminorhoe primer jarang terjadi setelah usia 20 tahun (Ramaiah, 2006).

10 Disminorhoe primer, timbul sejak haid pertama dan akan pulih sendiri dengan berjalannya waktu, dengan lebih stabilnya hormone tubuh atau perubahan posisi rahim setelah menikah atau melahirkan ( Fitria, 2007) Menurut Prawirohardjo (2006), ada beberapa faktor peranan sebagai penyebab disminorhoe primer, antara lain; a) Faktor kejiwaan Pada gadis-gadis yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika mereka tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses haid, mudah timbul disminorhoe. b) Faktor kostitusi Faktor ini erat hubungannya dengan faktor di atas karena dapat menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri, misalnya anemia, penyakit menahun, dan sebagainya yang dapat mempengaruhi timbulnya disminorhoe. c) Faktor obstruksi kanalis servikalis Salah satu teori yang paling tua untuk menerangkan terjadinya dismenore primer adalah stenosis canalis servikalis.

11 d) Faktor alergi Teori ini dikemukakan setelah memperhatikan adanya asosiasi antara disminorhoe dengan urtikaria, migrane atau asam bronkhiale, bahwa sebab alergi adalah toksi haid. 2) Disminorhoe Sekunder Disminorhoe sekunder, (disebut juga sebagai disminorhoe ekstrinsik, acquired) adalah nyeri menstruasi yang terjadi karea kelainan ginekologik, misalnya endometriosis (sebagian besar), fibroids, adenomyosis. Terjadi pada wanita yang sebelumnya tidak mengalam disminorhoei (Proverawati dkk, 2009). Disminorhoe sekunder merupakan nyeri yang disebabkan oleh kelainan ginekologi seperti salpingitis kronika, endometriosis, adenomiosis uteri, stenosis uteri dan lain-lain (Prawirohardjo, 2006). Disminorhoe sekunder biasanya didapati pada wanita berusia diatas 20 tahun meskipun dalam beberapa kasus bisa mulai tampak pada usia kurang dari 20 tahun (Ramaiah, 2004). Disminorhoe sekunder biasanya baru muncul jika ada penyakit yang datang kemudian ( Fitria, 2007).

12 c. Tanda dan Gejala Gejala disminorhoe yang paling umum adalah nyeri mirip kram dibagian bawah perut yang menyebar ke punggung dan kaki. Gejala terkait lainnya adalah muntah, sakit kepala, cemas, kelelahan, diare, pusing dan rasa kembung atau perut terasa penuh. Beberapa wanita mengalami nyeri sebelum menstruasi dimulai dan bisa berlangsung beberapa hari (Ramaiah, 2004). Disminorhoe atau nyeri haid mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan. Karena gangguan ini sifatnya subyektif, berat atau intensitasnya sukar dinilai. Walaupun frekuensi disminorhoe cukup tinggi dan lama dikenal, namun sampai sekarang patogenesisnya belum dapat dipecahkan dan memuaskan. Oleh karena itu hampir semua wanita mengalami rasa tidak enak diperut bagian bawah sebelum dan selama haid dan sering kali rasa mual, muntah, sakit kepala, diare, dan iritabilitas sehingga memaksa penderita untuk istirahat dan meninggalkan pekerjaan atau cara hidupnya sehari-hari (Prawirohardjo, 2006). d. Penanganan Beberapa pendapat tentang upaya penanganan untuk mengatasi disminorhoe: 1) Upaya penanganan disminorhoe menurut Yatim (2001), adalah :

13 a) Olahraga atau latihan, psikoterapi untuk meyakinkan perempuan bahwa keluhannya tidak membahayakan kehidupan, dan akan berlalu begitu darah keluar dengan lancar b) Obat-obatan anti sakit (analgetik) sebaiknya bukan golongan narkotik seperti Morfin dan Codein c) Obat-obatan penghambat pengeluaran hormon Prostaglandin, seperti Aspirin, Endometasin, dan Asam Mefenamat 2) Upaya penanganan disminorhoe menurut Proverawati & Misaroh (2009) dan Wijayanti (2009), adalah : a) Kompres dengan botol (hangat) tepat pada bagian yang terasa kram (bisa di perut atau pinggang bagian belakang) b) Minum-minuman hangat yang mengandung kalsium tinggi c) Menghindari minum-minuman yang beralkohol, kopi dan es krim d) Menggosok-gosok perut atau pinggang yang sakit e) Ambil posisi menungging sehingga rahim tergantung ke bawah f) Tarik nafas dalam-dalam secara perlahan untuk relaksasi g) Obat-obatan yang digunakan harus atas pengawasan dokter. Boleh minum analgetik (penghilang rasa sakit) yang banyak

14 dijual di toko obat, asal dosisnya tidak lebih dari 3 kali sehari 3) Menurut Dianawati (2003), ada beberapa cara pengobatan yang biasa dilakukan untuk membantu mengurangi disminorhoe yaitu: a) Olahraga ringan b) Mengonsumsi buah dan sayur c) Mengurangi kadar gula dan kafein d) Minum obat yang mengandung aspirin dan ibuprofen 4) Upaya penanganan disminorhoe menurut Prawirohardjo (2006) antara lain : a) Penerangan dan nasihat Perlu dijelaskan kepada penderita bahwa disminorhoe adalah gangguan yang tidak berbahaya untuk kesehatan. Hendaknya diadakan penjelasan mengenai cara hidup, pekerjaan, kegiatan, dan lingkungan penderita. Kemungkinan salah informasi mengenai haid atau adanya tabu atau takhayul mengenai haid perlu dibicarakan. Nasihat-nasihat mengenai makanan sehat, istirahat yang cukup, dan olahraga mungkin berguna. b) Pemberian obat analgesik Jika rasa nyerinya berat, diperlukan istirahat di tempat tidur dan kompres panas pada perut bawah untuk mengurangi

15 penderitaannya. Obat analgesik yang sering diberikan adalah preparat kombinasi Aspirin, Fenasetin, dan Kafein. Obat-obat paten yang beredar di pasaran antara lain Novalgin, Ponstan, Acep-aminopen dan sebagainya. c) Terapi hormonal Tindakan ini bersifat sementara dengan maksud untuk membuktikan bahwa gangguan benar-benar disminorhoe primer atau untuk memungkinkan penderita melakukan pekerjaan penting pada waktu haid tanpa gangguan. Tujuan ini dapat dicapai dengan pemberian salah satu jenis pil kombinasi kontrasepsi. d) Terapi dengan obat nosteroid anti prostaglandin Termasuk disini indometasin, ibuprofen, dan naproksen hendaknya pengobatan diberikan sebelum haid mulai, 1-3 hari sebelum haid, dan pada hari pertama haid. e) Dilatasi canalis servikalis Dapat memberikan keringanan karena kemudahan pengeluaran darah haid dan prostaglandin di dalamnya. 2. Remaja a. Pengertian Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata lain adolescence (kata bendanya yang berarti remaja) yang berarti

16 tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Menurut Piaget mengatakan secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama (Hurlock, 2004). Masa remaja merupakan suatu tahapan antara masa kanakkanak dengan masa dewasa. Istiah ini menunjukkan masa dari awal pubertas sampai tercapainya kematangan, biasanya mulai dari usia 14 tahun pada pria dan usia 12 tahun pada wanita. Menurut WHO, disebut remaja apabila anak telah mencapai usia 10-18 tahun (Proverawati & Misaroh, 2009). b. Pembagian masa remaja Menurut Widyastuti dkk (2009), masa remaja dibagi menjadi tiga tahap, yaitu: 1) Masa remaja awal (10-12 tahun) a) Tampak dan memang merasa lebih dekat dengan teman sebaya b) Tampak dan merasa ingin bebas c) Tampak dan memang lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai berfikir yang khayal (abstrak) 2) Masa remaja tengah (13-15 tahun) a) Tampak dan merasa ingin mencari identitas diri

17 b) Ada keinginan untuk berkencan atau ketertarikan pada lawan jenis c) Timbul perasaan cinta yang mendalam d) Kemampuan berfikir abstrak (berkhayal) makin berkembang e) Berkhayal mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seksual 3) Masa remaja akhir (16-19 tahun) a) Menampakkan pengungkapan kebebasan diri b) Dalam mencari teman sebaya lebih selektif c) Memiliki citra (gambaran, keadaan, peranan) terhadap dirinya d) Dapat mewujudkan perasaan cinta e) Memiliki kemampuan berfikir khayal atau abstrak c. Ciri-ciri usia remaja Menurut Hurlock (2009) usia remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang dibedakan menjadi 8 periode, yaitu: 1) Masa periode penting Pada periode remaja baik akibat langsung maupun akibat jangka panjang tetap penting karena akibat fisik dan ada lagi karena akibat psikologis. Perkembangan fisik cepat dan penting disertai dengan cepatnya perkembangan mental yang cepat, terutama pada awal masa remaja. Semua perkembangan itu menimbulkan

18 perlunya penyesuaian mental dan perlunya membentuk sikap, nilai dan minat baru. 2) Masa periode peralihan Dalam setiap periode peralihan, status individu tidaklah jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilaksanakan. Pada masa ini, remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan seorang dewasa. Dilain pihak status remaja yang tidak jelas ini juga menguntungkan karena status memberi waktu kepadanya untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai dengan dirinya. 3) Masa periode perubahan Ada 4 perubahan yang sama yang hampir bersifat universal. Pertama, meningginya emosi yang interaksinya bergantiung pada tingkat perubahan fisik dan psikologis yang terjadi. Kedua, perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial untuk dipesankan menimbulkan masalah baru. Ketiga, berubahnya minat dan pola perilaku, maka nilai-nilai juga berubah. Keempat, sebagian besar remaja bersifat ambivalen terhadap setiap perubahan. Mereka menginginkan dan manuntut kebebasan tapimereka sering takut bertanggung jawab atas akibatnya dan merugikan kemampuan mereka untuk dapat mengatasi tanggung jawab ini.

19 4) Masa periode bermasalah Ada 2 alasan bagi masalah itu. Pertama, sepanjang masa kanakkanak, masalah kanak-kanak sebagian diselesaikan oleh orang tua dan guru, sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah. Kedua, karena para remaja merasa dirinya mandiri sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri dan menolak bantuan orang lain. 5) Masa mencari identitas Pada tahun-tahun awal masa remaja, penyesuaian diri dengan kelompok masih tetap penting bagi anak laki-laki dan perempuan. Lambat laun mereka mulai mendambakan identitas diri dan tidak puas dengan menjadi sama dengan teman-teman dalam segala hal seperti sebelumnya. Tetapi status remaja yang mendua dalam kebudayaan Amerika saat ini menimbulkan suatu dilemma yang menyebabkan krisis identitas atau masalah identitas-ego pada remaja. 6) Masa usia yang menimbulkan ketakutan Anggapan stereotip budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapi, yang tidak dapat dipercaya atau cenderung merusak, menyebabkan orang dewasa harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja muda takut bertanggung jawab dan bersikap untuk simpatik terhadap perilaku remaja yang normal.

20 7) Masa yang tidak realistik Remaja cenderung melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan dan bukan sebagaimana adanya, terlebih dalam hal cita-cita. Cita-cita yang tidak relistik ini tidak hanya bagi keluarganya dan teman-temannya menyebabkan emosi yang merupakan ciri dari awal masa remaja. 8) Masa ambang manuju dewasa Semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa. 3. Pengetahuan a. Pengertian Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo,2007). b. Manfaat Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Over behavior). Dari pengalaman dan penelitian terbukti

21 bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Sebelum orang mengadopsi perilaku baru, di dalam diri seseorang terjadi proses yang berurutan yakni : 1) Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam diri mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (obyek). 2) Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau obyek tersebut. Disini sikap subyek sudah mulai timbul. 3) Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. 4) Trial, sikap dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus. 5) Adaption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus. Apabila penerimaan perilaku baru atau diadopsi perilaku melalui proses seperti ini, dimana didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng. c. Tingkat pengetahuan Tingkat pengetahuan dibagi menjadi 6 tingkat menurut Notoatmodjo (2007), yaitu

22 1) Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang yang dipelajari antara lain: menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya. Contoh: dapat menyebutkan tanda-tanda kekurangan kalori dan protein pada anak balita. 2) Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar, dengan cara menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya 3) Aplikasi (Aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang real (sebenarnya). 4) Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

23 5) Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyususn formulasi baru dari formulasiformulasi yang ada. 6) Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. d. Cara Memperoleh Pengetahuan Dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah, dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu : 1) Cara memperoleh kebenaran non ilmiah Cara- cara penemuan pengetahuan pada periode ini antara lain meliputi : a. Cara coba salah (Trial and Error) Cara coba- coba ini dilakukan dengan menggunakan beberapa kemungkinan dalam memecahkan masalah, dan

24 apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, di coba kemungkinan yang lain. Apabila kemungkinan kedua ini gagal pula, maka dicoba lagi dengan kemungkinan ketiga dan apabila kemungkinan ketiga gagal dicoba kemungkinan keempat dan seterusnya, sampai masalah tersebut dapat dipecahkan. b. Secara kebetulan Penemuan kebenaran secara kebetulan terjadi karena tidak sengaja oleh orang yang bersangkutan. c. Kekuasaan atau otoritas Kebiasaan ini biasanya diwariskan turun- temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Kebiasaan seperti ini bukan hanya terjadi pada masyarakat tradisional saja, melainkan juga terjadi pada masyarakat modern. Sumber pengetahuan tersebut dapat berupa pemimpin-pemimpin masyarakat baik formal maupun informal, para pemuka agama, pemegang pemerintahan dan sebagainya. d. Berdasarkan pengalaman pribadi Pengalaman adalah guru baik, demikian bunyi pepatah. Pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan atau merupakan cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan.

25 e. Akal sehat (Common Sense) Akal sehat atau common sense kadang- kadang dapat menemukan teori atau kebenaran. Misal dengan menghukum anak sampai sekarang berkembang menjadi teori atau kebenaran, bahwa hukuman merupakan metode bagi pendidikan anak. Pemberian hadiah dan hukuman masih dianut oleh banyak orang untuk mendisiplinkan anak dalam konteks pendidikan. f. Kebenaran melalui wahyu Ajaran dan dogma agama adalah suatu kebenaran yang diwahyukan dari Tuhan melalui para Nabi. Kebenaran ini harus diterima oleh pengikut- pengikutnya, terlepas dari apakah kebenaran tersebut rasional atau tidak. Sebab kebenaran ini diterima oleh usaha penalaran atau penyelidikan. g. Kebenaran secara intuitif Kebenaran secara intuitif diperoleh manusia secara sekali melalui proses diluar kesadaran dan tanpa melalui proses penalaran atau berpikir. h. Melalui jalan pikiran Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara berpikir manusiapun ikut berkembang. Dari sini manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam

26 memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain, dalam memperoleh kebenaran pengetahuannya. Dengan kata lain, dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikirannya, baik melalui induksi maupun deduksi. i. Induksi Induksi adalah proses penarikan kesimpulan yang dimulai dari pernyataan- pernyataan khusus ke pernyataan yang bersifat umum. Hal ini berarti dalam berpikir induksi pembuatan kesimpulan tersebut berdasarkan pengalaman empiris yang ditangkap oleh indra. Kemudian disimpulkan ke dalam suatu konsep yang memungkinkan seseorang untuk memahami suatu gejala. j. Deduksi Deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyatraanpernyataan umum ke khusus. Ariestoteles ( 384-332 SM) mengembangkan cara berpikir deduksi ini kedalam suatu bentuk deduksi yang memungkinkan seseorang untuk dapat mencapai kesimpulan yang lebih baik. 2) Cara ilmiah dalam memperoleh pengetahuan Cara baru atau modern dalam memperolah pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis, logis, dan ilmiah. Cara ini disebut

27 metode penelitian ilmiah atau lebih populer disebut metodologi penelitian ( research methodology).pencatatan ini mencakup tiga hal pokok, yaitu : a) Segala sesuatu yang positif, yakni gejala tertentu yang muncul pada saat dilakukan pengalaman. b) Segala sesuatu yang negatif, yakni gejala tertentu yang tidak muncul oada saat dilakukan pengamatan. c) Gejala-gejala yang muncul secara bervariasi, yaitu gejalagejala yang berubah-ubah pada kondisi tertentu ( Notoatmodjo, 2010) e. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003), faktor- faktor yang mempengaruhi pengetahuan sebagai berikut : 1) Umur Umur responden sangat erat hubungannya dengan pengetahuan seseorang, karena semakin bertambah usia semakin banyak pula pengetahuannya. 2) Pendidikan Tingkat pendidikan menentukan pola piker dan wawasan seseorang. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka diharapkan stok modal pengetahuan meningkat. Pendidikan memiliki peran penting dalam kualitas. Lewat pendidikan manusia dianggap akan mmemperoleh pengetahuan.

28 3) Sumber Informasi Menurut Notoatmodjo (2005), informasi adalah data yang diproses kedalam suatu bentuk yang mempunyai arti bagi si penerima dan mempunyai nilai nyata dan terasa bagi keputusan saat ini atau keputusan mendatang, informasi yang datang dari pengirim pesan yang ditujukan kepada penerima pesan. Selain itu informasi dapat diperoleh dari media cetak, media elektronik, non- media seperti, keluarga, teman dan tenaga kesehatan. f. Pengukuran pengetahuan Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden (Notoatmodjo, 2007). 4. Perilaku a. Pengertian Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicar, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2007).

29 b. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Menurut Lawrence Green (1980) dalam Notoatmodjo (2007), faktor- faktor yang mempengaruhi perilaku antara lain : 1) Faktor predisposisi (predisposing factor), Yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, nilai-nilai dan umur. a) Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan seseorang dapat diperoleh melalui pendidikan, paparan media masa(akses informasi), ekonomi (pendapatan), hubungan social dan lingkungan social budaya. Sebelum responden melakukan perilaku mengatasi disminorhoe, responden harus tahu mengenai manfaat dari penanganan disminorhoe. Pendidikan akan memberikan pengetahuan kepada para siswi mengenai disminorhoe sehinggan diharapkan siswi tahu, bisa menilai dan berperilaku yang baik dan benar mengenai cara mengatasi disminorhoee. b) Sikap Sikap adalah reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek

30 (Notoatmodjo,2007). Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri ataupun dari orang lain. Sikap terhadap nilai- nilai kesehatan tidak selalu terwujud dalam suatu tindakan nyata. Sikap remaja mengenai disminorhoe juga dipengaruhi oleh tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal- hal yang berkaitan dengan kesehatan system nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi. c) Kepercayaan Kepercayaan merupakan kenyakinan tentang kebenaran terhadap sesuatu yang dirasakan pada budaya yang ada pada masyarakat tersebut. Sehingga bila dalam masyarakat mempunyai kepercayaan yang salah tentang suatu maka dapat menghambat perubahan perilaku. Masyarakat yang mempercayai suatu keyakinan tertentu tentang nyeri haid (disminorhoe), maka dapat mempengaruhi suatu perilaku yang akan berpengaruh terhadap perilaku seseorang menghadapi disminorhoe. d) Tradisi Tradisi merupakan suatu adat dari tempat tinggal seseorang yang selalu dilakukan. Ketika responden mendapat pengetahuan atau pengaruh dari lingkungan tempat tinggal, maka responden akan menjalankan tradisi yang ada di tempatnya, seperti ketika setelah selesai menstruasi harus

31 minum jamu agar bersih dan ketika nyeri haid dilakukan pijat perut agar nyeri haidnya berkurang dan tidak sakit kembali. e) Nilai- nilai Individu lahir diantara kelompok, yaitu keluarga dan masyarakat. Hal ini akan membuat kemungkinan adanya suatu norma atau aturan yang diharapkan mampu memunculkan perilaku yang sesuai dengan ketentuan yang telah dibuat. Nilai ini diperoleh melalui sosialisasi dan emosi dikenakan kepercayaan mereka atas apa yang membuat orang berfikir apakah sesuatu itu penting sehingga dari nilai akan mempengaruhi keseluruhan berbagai tentang keluarga. f) Umur Umur mempengaruhi perilaku dari responden. Umur dapat mempengaruhi cara berfikir, bersikap dan berperilaku seseorang mengenai hal yang sedang dialami. 2) Faktor pendukung (enabling factor) Faktor- faktor ini mencakup : Ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas (fisik dan umum) yang mendukung kelancaran penanganan disminorhoe. Fasilitas fisik yaitu fasilitas- fasilitas atau sarana kesehatan yang meliputi Puskesmas, Usaha Kesehatan Sekolah dan Obatobatan. Sedangkan fasilitas umum yaitu fasilitas atau sarana kesehatan meliputi media informasi misalnya TV, Koran atau

32 majalah sehingga dapat diketahui bahwa untuk menunjang terlaksananya perilaku penanganan disminorhoe dengan baik maka tidak hanya tahu dan sadar mengenai disminorhoe melainkan fasilitas yang lengkap juga dapat menjadi faktor pemicu perilaku penanganan disminorhoe. 3) Faktor pendorong (reinforcing factor), Faktor- faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku dari petugas kesehatan. Sikap dan perilaku disini adalah bagaimana para petugas kesehatan ( perawat, bidan, dokter dan tenaga kesehatan lainnya) berlaku tidak sesuai dengan perilaku yang ada. c. Pengukuran Perilaku Cara mengukur perilaku ada 2 cara (Notoatmodjo,2005) yaitu : 1) Perilaku dapat diukur secara langsung yakni wawancara terhadap kegiatan- kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari, bulan yang lalu (recall) 2) Perilaku yang diukur secara tidak langsung yakni, dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden. d. Pembentukan Perilaku Pembentukan perilaku menurut Ircham (2005) ada beberapa cara, diantaranya : 1) Conditing atau kebiasaan Salah satu cara pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan conditioning kebiasaan. Dengan cara membiasakan diri untuk

33 berperilaku seperti yang diharapkan akhirnya akan terbentuklah perilaku. 2) Pengertian (Insight) Pembentukan perilaku yang didasarkan atas teori belajar kognitif yaitu belajar disertai dengan adanya pengertian. 3) Menggunakan Model Cara ini menjelaskan bahwa domain pembentukan perilaku pemimpin dijadikan model atau contoh oleh yang dipimpinya. Cara ini didasarkan atas teori belajar social (Social learning theory) atau observational learning theory oleh bandura (1977). e. Faktor- faktor yang mempengaruhi perilaku yang berhubungan dengan Kesehatan Perilaku yang mempengaruhi kesehatan dapat digolongkan dalam dua kategori (Dewi,2010), yaitu : 1) Perilaku yang terwujud secara sengaja dan sadar 2) Perilaku yang terwujud secara tidak sengaja atau tidak sadar Perilaku- perilaku disengaja atau tidak disengaja yang membawa manfaat bagi kesehatan individu dan sebaliknya. Perilaku yang disengaja atau tidak disengaja berdampak merugikan kesehatan antara lain : a) Perilaku sadar yang menguntungkan kesehatan Mencakup perilaku yang secara sadar oleh seseorang yang berdampak menguntungkan kesehatan. Golongan perilaku ini

34 langsung berhubungan dengan kegiatan- kegiatan pencegahan penyakit serta penyembuhan penyakit yang dijadikan secara sadar atas dasar pengetahuan bagi diri seseorang. b) Perilaku sadar yang merugikan kesehatan Perilaku sadar yang dijalankan secara sadar diketahui bila perilaku tersebut tidak menguntungkan kesehatan terdapat pula dikalangan orang berpendidikan atau professional atau secara umum pada masyarakat yang sudah maju. c) Perilaku tidak sadar yang merugikan kesehatan Golongan masalah ini paling banyak dipelajari, terutama karena penanggulangan merupakan salah satu tujuan utama berbagai program pembangunan kesehatan masyarakat. d) Perilaku tidak sadar yang menguntungkan kesehatan Golongan perilaku ini menunjukkan bahwa tanpa sadar pengetahuan seseorang dapat menjalankan kegiatan- kegiatan tertentu yang secara langsung atau tidak langsung menberi dampak positif terhadap derajat kesehatan mereka. f. Bentuk Perilaku Secara lebih operasional perilaku dapat diartikan suatu respons organism atau seseorang terhadap rangsangan (stimulasi) dari luar subjek tersebut. Respon ini berbentuk 2 macam (Dewi,2010) yakni :

35 1) Bentuk Pasif Respon internal yaitu yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misalnya berpikir, tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan. 2) Bentuk Aktif Perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung, oleh karena perilaku mereka ini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata disebut overt behavior. g. Klasifikasi Perilaku Beberapa klasifikasi perilaku menurut beberapa ahli, antara lain : 1) Berdasarkan teori S-O-R dalam Notoatmodjo (2005) maka perilaku manusia dapat dikelompikkan menjadi 2, yaitu : a) Perilaku Tertutup (Covert behavior) Perilaku tertutup terjadi bila respon terhadap stimulasi tersebut masih belum dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Respon tersebut masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap terhadap stimulasi yang bersangkutan. b) Perilaku terbuka (Over Behavior) Perilaku terbuka ini terjadi bila respon terhadap stimulasi tersebut sudah berupa tindakan, atau praktik tersebut dapat diamati orang lain.

36 2) Becker (1979) dalam Dewi (2010) mengklasifikasikan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan sebagai berikut : a) Perilaku Kesehatan (Health Behavior) Hal- hal yang berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Termasuk tindakan mencegah penyakit, kebersihan perorangan. b) Perilaku Sakit (illness Behavior) Tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang individu yang merasa sakit untuk mengidentifikasi penyakit, penyebab sakit, serta usaha mencegah penyakit tersebut. c) Perilaku Peran Sakit (the sick role behavior) Tindakan atau kegiatan yang dilakukan individu yang sedang sakit untuk memperoleh kesembuhan.

37 B. Kerangka Teori Predisposing Factor (Faktor Predisposisi): a. Pengetahuan b. Sikap c. Kepercayaan d. Tradisi e. Nilai f. Umur Enabling Factor (Faktor Kemungkinan): a. UKS ( Usaha Kesehatan Sekolah ) b. Obat- obatan Perilaku mengatasi disminorhoe Reinforcing Factor (Faktor Penguat): a. Sikap petugas kesehatan b. Perilaku petugas kesehatan Bagan 2.1 Kerangka Teori Teori Lawrence Green dalam Notoatmodjo, 2005

38 C. Kerangka Konsep Dari uraian tinjauan pustaka diatas, maka disusun kerangka konsep sebagai berikut: Variabel Independent Variabel Dependent Pengetahuan siswi SMA kelas X tentang Disminorhoe Perilaku Mengatasi Disminorhoe Bagan 2.2 Kerangka Konsep D. Hipotesis Berdasarkan rumusan tujuan penelitian, maka hipotesis ini adalah: Ha : Ada hubungan antara tingkat pengetahuan siswi SMA kelas X tentang disminorhoe dengan perilaku mengatasi disminorhoe di SMA NU AL MA RUF Kudus.