BOBY HAFIDZ YULIANTO J5000

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. kesehatan akibat lingkungan kerja. Lingkungan kerja dikaitkan dengan segala. dibebankan padanya (Suma mur, 2009).

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Setiap ahli kesehatan khususnya dokter seharusnya sudah

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang International Labour Organization (ILO), pada tahun 2008 memperkirakan

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit kulit akibat kerja (occupational dermatoses) adalah suatu peradangan

BAB I PENDAHULUAN. yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lain di luar kesehatan itu. ada pengaruhnya terhadap kesehatan tersebut.

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 432

KHALIMATUS SAKDIYAH NIM : S

SKRIPSI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat sarjana S-1. Diajukanoleh : DIAH RIFQI SUSANTI J Kepada : FAKULTAS KEDOKTERAN

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan kerja serta terlindung dari penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. melaksanakan pembangunan nasional telah berhasil. meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi pada

BAB 1 : PENDAHULUAN. upaya perlindungan terhadap tenaga kerja sangat diperlukan. Salah satunya dengan cara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. peranan penting dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku tujuan

BAB I PENDAHULUAN. klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema, papula, vesikel, skuama) dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. disebabkan oleh faktor paparan/kontak akibat pekerjaan atau ketika suatu bahan

BAB III METODA PENELITIAN A. JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN. Rancangan penelitian ini adalah discriptive correlation, yaitu

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik korelasi yaitu

BAB I PENDAHULUAN. Psoriasis merupakan penyakit kulit yang penyebabnya sampai saat ini masih belum

PENGETAHUAN PASIEN TENTANG PENYAKIT GASTRITIS DI RSUD GAMBIRAN KOTA KEDIRI

BAB I PENDAHULUAN. dan fasilitas pelayanan kesehatan yang membuang air limbahnya tanpa

BAB 1 PENDAHULUAN. Dermatitis berasal dari kata derm atau o- (kulit) dan itis (radang atau

PENGETAHUAN DASAR. Dr. Ariyati Yosi,

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini, industri tepung aren menghasilkan limbah cair dan limbah padat.

BAB I PENDAHULUAN. salon, dan pekerja tekstil dan industri rumahan (home industry). Pada. pekerja per tahun. (Djuanda dan Sularsito, 2007).

BAB 5 HASIL PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Promotif, Vol.2 No.2 April 2013 Hal

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. dengan masalah tersebut adalah dermatitis kontak akibat kerja. 1

III. METODE PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan ini merupakan suatu penelitian deskriptif analitik

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. negara maju maupun negara berkembang. Mencuci pakaian secara manual

PEMANFAATAN LIMBAH PADAT AREN SEBAGAI BAHAN BAKU KOMPOS DENGAN PENAMBAHAN STARTER ALAMI SKRIPSI

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DERMATITIS KONTAK PEKERJA INDUSTRI TEKSTIL X DI JEPARA. Ari Suwondo, Siswi Jayanti, Daru Lestantyo 1

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit kulit akibat kerja merupakan peradangan kulit yang disebabkan

BAB III METODE PENELITIAN. Desain yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu korelasi, karena menjelaskan hubungan antara dua variabel yaitu

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG HYGIENE MAKANAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BAYI DI WILAYAH KERJA POSYANDU MELATI KELURAHAN TLOGOMAS MALANG ABSTRAK

PERILAKU IBU DALAM MENGASUH BALITA DENGAN KEJADIAN DIARE

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG HYGIENE MAKANAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI PUSKESMAS JATIBOGOR TAHUN 2013

BAB III METODE PENELITIAN. metode survei dengan pendekatan Cross Sectional. Cross Sectional adalah data

HUBUNGAN PERSONAL HYGIENE DAN LAMA KERJA DENGAN PENYAKIT DERMATITIS DI KAMPUNG KRAJAN KELURAHAN MOJOSONGO KECAMATAN JEBRES SURAKARTA

HUBUNGAN ANTARA LAMA KONTAK KARYAWAN BENGKEL CUCI KENDARAAN DENGAN KEJADIAN DERMATITIS KONTAK AKIBAT KERJA DI KECAMATAN BANJARSARI KOTA SURAKARTA

INTISARI. Kata Kunci : Kondisi Kerja, Beban Kerja, Tingkat Stres perawat.

BAB I PENDAHULUAN. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat. kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya (DepKes RI, 2009).

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Berdasarkan penelitian dan tujuan yang hendak dicapai, jenis penelitian ini

BAB III METODA PENELITIAN. 1. Ditinjau dari tujuan yang akan dihadapi yaitu mengetahui hubungan. hubungan antara variabel (Nursalam, 2003)

HUBUNGAN PENANGANAN SAMPAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS INGIN JAYA KABUPATEN ACEH BESAR

I. PENDAHULUAN. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 44 Tahun 2009 tentang

HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK LANJUT USIA DENGAN PENGETAHUAN TENTANG HIPERTENSI DI KELURAHAN SRIWIDARI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CIPELANG KOTA SUKABUMI

PENYAKIT KULIT AKIBAT KERJA PADA PEMULUNG DI TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH AKHIR SUWUNG DENPASAR SELATAN TAHUN 2016

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan metode cross sectional dengan cara mengambil data rekam medis di

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DERMATITIS KONTAK IRITAN PADA PENGRAJIN LOGAM DI DESA CEPOGO, KECAMATAN CEPOGO KABUPATEN BOYOLALI

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III METODE PENELITIAN. Adapun lokasi penelitian ini dilakukan di Badan Lingkungan Hidup Kota

Factors that Corelation to The Incidence of Occupational Contact Dermatitis on the Workers of Car Washes in Sukarame Village Bandar Lampung City

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PEKERJA TENTANG APD TERHADAP PENGGUNAANNYA DI CV. UNGGUL FARM NGUTER

PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN PENYAKIT SKABIES PADA SANTRI WUSTHO (SMP) DI PESANTREN AL-FALAH BANJARBARU

HUBUNGAN WAKTU PELAYANAN REKAM MEDIS DI TPPRJ DENGAN KEPUASAN PASIEN POLIKLINIK BEDAH DI RUMAH SAKIT UMUM Dr. SAIFUL ANWAR MALANG TAHUN 2012

PENGARUH OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY (OHS) TERHADAP MOTIVASI DAN KINERJA KARYAWAN

HUBUNGAN KONDISI FASILITAS SANITASI DASAR DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN DIARE DI KECAMATAN SEMARANG UTARA KOTA SEMARANG.

HUBUNGAN DERMATITIS KONTAK IRITAN DENGAN RIWAYAT ATOPI DAN MASA KERJA PADA PEKERJA SALON DI WILAYAH KECAMATAN JEBRES SKRIPSI

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Promotif, Vol.1 No.1, Okt 2011 Hal PENERAPAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA PADA PETUGAS PENANGANAN SAMPAH DI RUMAH SAKIT KOTA PALU

GAMBARAN DAN PREVALENSI KELUHAN GANGGUAN KULIT PADA PEKERJA BENGKEL KENDARAAN BERMOTOR DI KECAMATAN MEDAN BARU, MEDAN

BAB I PENDAHULUAN. Dermatitis Kontak Alergika (DKA) merupakan suatu penyakit keradangan

BAB III METODE PENELITIAN. adalah analitik, dengan menggunakan rancangan penelitian cross sectional yaitu mengukur

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini kuantitatif

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Angka kematian ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. Hepatitis akut. Terdapat 6 jenis virus penyebab utama infeksi akut, yaitu virus. yang di akibatkan oleh virus (Arief, 2012).

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Yulisetyaningrum ABSTRAK

jenis penelitian deskriptif analitik dengan rancangan penelitian cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui gambaran profil penderita

HUBUNGAN ANTARA CODER (DOKTER DAN PERAWAT) DENGAN KEAKURATAN KODE DIAGNOSIS BERDASARKAN ICD-10 DI PUSKESMAS GONDOKUSUMAN II KOTA YOGYAKARTA TAHUN 2012

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. pengambilan yang dilakukan dalam waktu yang bersamaan dengan sebyek yang

SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan. Disusun oleh : ANGGIT YATAMA EMBUN PRIBADI

BAB I PENDAHULUAN. bulan Agustus 2014 berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik berjumlah sekitar

BAB III METODE PENELITIAN. Pendekatan yang digunakan adalah Croos Sectional yaitu suatu penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. tahunnya di dunia (Sugiato, 2006). Menurut Badan Kependudukan Nasional,

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit di Indonesia dengan jumlah

HUBUNGAN PENERAPAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SARUNG TANGAN DENGAN KELUHAN IRITASI KULIT BAGIAN TANGAN KARENA ASAM ASETAT DI PT X KARANGANYAR

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah correlation study yaitu penelitian yang

BAB 1 PENDAHULUAN. oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah. mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan pada mukosa hidung

BAB 1 PENDAHULUAN. Luka adalah terjadinya diskontinuitas kulit akibat trauma baik trauma

Transkripsi:

HUBUNGAN KETAATAN PELAKSANAAN PROSEDUR KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN TERJADINYA DERMATITIS KONTAK IRITAN (DKI) PADA PEKERJA PERAH AMPAS ONGGOK POHON AREN DESA BENDO KECAMATAN TULUNG KLATEN MAKALAH PUBLIKASI Disusun Oleh : BOBY HAFIDZ YULIANTO J5000 90075 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2013

MAKALAH PUBLIKASI ii

HUBUNGAN KETAATAN PELAKSANAAN PROSEDUR KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) DENGAN TERJADINYA DERMATITIS KONTAK IRITAN (DKI) PADA PEKERJA PERAH AMPAS ONGGOK POHON AREN DESA BENDO KECAMATAN TULUNG KLATEN Oleh: Boby Hafidz Yulianto 1, Harijono Kariosentono 2, Ratih Pramuningtyas 3 ABSTRAK Latar Belakang: Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi penyakit akibat kerja. Dermatitis kontak iritan merupakan suatu peradangan kulit yang diakibatkan oleh suatu pekerjaan seseorang. Lingkungan industri akan mempengaruhi insidensi suatu penyakit kulit dan yang sering muncul adalah DKI. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian survei yang bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan Cross sectional. Populasi penelitian adalah pekerja perah ampas onggok pohon aren di Desa Bendo Kecamatan Tulung Klaten. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah chi square responden penelitian berjumlah 39 orang. Hasil: Hasil penelitian terhadap 39 responden menunjukkan 48,7% tidak taat terhadap prosedur kesehatan dan keselamatan kerja dan 51,3% positif terkena Dermatitis Kontak Iritan (DKI), sehingga hasil penelitian menunjukkan bahwa ketaaan prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja mempunyai hubungan signifikan dengan kejadian Dermatitis Kontak Iritan (p < 0,05). Kesimpulan: Ketaaan prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) mempunyai hubungan dengan kejadian Dermatitis Kontak Iritan (DKI) pada pekerja Perah Ampas Onggok Pohon Aren Desa Bendo Kecamatan. Kata kunci: Dermatitis Kontak Iritan (DKI), Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) iii

COMPLIANCE IMPLEMENTATION PROCEDURES RELATIONS OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY (OHS) WITH ACCURRENCE IRRITAN COTACT DERMATOSE (ICD) IN THE DAIRY WORKES CASSAVA DREGS SUGAR TREE IN THE VILLAGE BENDO TULUNG KLATEN By : Boby Hafidz Yulianto 1, Harijono Kariosentono 2, Ratih Pramuningtyas 3 ABSTRACT Background: Occupational Health and Safety Worker is one of the efforts to create a workplace that is safe, healthy, free from environmental pollution, so as to reduce and free from workplace accidents and occupational diseases. Irritant contact dermatitis is an inflammation of the skin caused by a person's job. Industry environment will affect the incidence of a disease and the skin that often arises is ICD. Method: This research is a descriptive survey study analytic cross sectional approach. The study population is a working dairy cassava dregs of palm trees in the Village District Tulung Klaten Bendo. The method of data analysis used in this study is chi square survey respondents totaled 39 people. Result: The results of the 39 respondents showed 48.7% do not adhere to health and safety procedures and 51.3% tested positive for Irritant Contact Dermatitis, so that the results showed that the compliance procedures Occupational Health and Safety (OHS) significant relationship with the occurrence Irritant Contact dermatitis (p <0.05). Conclusion: The implementation of procedures Occupational Health and Safety (OHS) had a relationship with the occurrence Irritant Contact Dermatitis (ICD) in cassava dregs Dairy worker Sugar Tree in the Village Bendo Tulung District Klaten. Keywords: Irritant Contact Dermatitis (ICD), Occupational Health & Safety (OHS). iv

PENDAHULUAN Perkembangan dan kemajuan yang telah dicapai dalam melaksanakan pembangunan nasional telah berhasil meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat. Masyarakat memiliki kemudahan untuk memperoleh dan memanfaatkan hasil-hasil industri baik produksi dalam negeri maupun luar negeri. Dampak negatif akibat terjadinya kontak kulit manusia dengan produk-produk industri atau pekerjaan yang dilakukannya, di antaranya adalah DKI yang merupakan respon peradangan terhadap bahan eksternal yang kontak pada kulit. Ada dua macam jenis dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak iritan (DKI) yang merupakan proses inflamasi lokal pada kulit akibat bahan iritan dan dermatitis kontak alergik (DKA) yang diakibatkan oleh mekanisme imunologik spesifik, keduanya dapat bersifat akut maupun kronis (Trihapsoro, 2003). Penyakit dermatitis kontak yang merupakan respon peradangan terhadap bahan eksternal yang kontak pada kulit ini lebih disebabkan karena kurang terwujudnya kesehatan yang optimal bagi masyarakat (Budiartho, 2005). Upaya untuk mewujudkan kesehatan yang optimal bagi masyarakat diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pengobatan penyakit (kuratif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (rehabilitatif) yang diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan melalui penyelenggaraan upaya kesehatan kerja (Depkes, 2004). Tujuan dari kesehatan kerja yaitu untuk menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif, dan dapat dicapai bila didukung oleh lingkungan kerja yang memenuhi syarat kesehatan. Salah satu tujuan dari pelaksanaan kesehatan kerja dalam bentuk operasional adalah pencegahan penyakit akibat kerja (Natoadmodjo, 2003). Penyakit kulit akibat kerja (PKAK) merupakan suatu peradangan kulit yang diakibatkan oleh suatu pekerjaan seseorang. Penyakit ini biasanya terdapat di daerah industri, pertanian, dan perkebunan. Lingkungan industri akan mempengaruhi insidensi suatu penyakit kulit dan yang sering muncul adalah DKI (Siregar, 2004). Penyakit ini ditandai dengan peradangan kulit polimorfik yang 1

mempunyai ciri ciri yang luas, meliputi: rasa gatal, kemerahan, skuama, vesikel, dan krusta papulovesikel (Budiartho, 2005). Penelitian tentang DKI menunjukkan bahwa penyakit dermatitis kontak merupakan penyakit yang lazim terjadi pada pekerja-pekerja yang berhubungan dengan bahan kimia dan panas, serta faktor mekanik sebagai gesekan, tekanan, trauma. Jenis dermatitis kontak seperti DKI yang disebabkan oleh bahan iritan absolut seperti asam basa, basa kuat, logam berat dengan konsentrasi kuat dan bahan relatif iritan, misalnya sabun, deterjen dan perlarut organik, dan jenis dermatitis lain adalah dermatitis kontak alergi biasanya disebabkan oleh paparan bahan-bahan kimia atau lainnya yang meningkatkan sensitivitas kulit (Siregar, 2004). Setiap perusahaan mempunyai kewajiban dalam melindungi kesehatan dan keselamatan kerja karyawannya melalui program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Undang-Undang No. 23/1992 Pasal 23 menyatakan bahwa tempat kerja wajib menyelenggarakan upaya kesehatan kerja apabila tempat kerja tersebut memiliki risiko bahaya kesehatan yaitu mudah terjangkitnya penyakit atau mempunyai paling sedikit 10 (sepuluh) orang karyawan. Pelaksanaan K3 adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan bebas dari kecelakaan kerja serta penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisien dan produktivitas kerja. Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya berdampak pada masyarakat luas (Depkes RI, 2002). Penelitian Nonic Rachmasari (2013) dengan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan dermatitis kontak iritan pada pengrajin logam di Desa Cepogo diperolah hasil penelitian dan observasi oleh tenaga medis, ditemukan kejadian dermatitis kontak iritan yang tinggi yakni sebesar 82,5% pengrajin menderita dermatitis kontak iritan. Ada hubungan antara kontak dengan bahan kimia (p value = 0,0001) dan lama paparan (p value = 0,003) dengan kejadian 2

dermatitis kontak iritan pada pengrajin logam di Desa Cepogo Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali. Analisis terhadap endosperma pohon aren telah menunjukkan bahwa limbah cair pohon aren menunjukan beberapa parameter melebih baku mutu golongan II, yakni: total zat padat tersuspensi, amoniak bebas (NH3-N), dan materi organik. Di dalam limbah cair ditemukan pula bakteri golongan coliform yang menunjukkan adanya kontaminasi yang terjadi karena proses pelepasan pati dari serat aren dilakukan dengan cara menginjak-injak serat aren tanpa memperhatikan aspek sanitasi diri. Selain itu air limbah mempunyai tingkat keasaman yang relatif tinggi (4,28). Derajat keasaman ini timbul akibat degradasi materi organik yang terkandung dalam bak pencucian dan bak pengendap (Kooiman, 2001). Industri tepung aren berada di Dukuh Bendo, Desa Daleman Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten Jawa Tengah, sekitar 15-18 km ke arah utara kota Klaten. Luas Dukuh Bendo mencapai 61.190 m 2, dengan jumlah penduduk 1.164 jiwa. Mata pencaharian penduduk terutama adalah dari industri aren yang mencapai jumlah 35 buah. Industri yang kebanyakan rumahan tersebut mendapatkan pasokan bahan baku batang pohon aren dari 3 pabrik yang juga berlokasi di dukuh tersebut. Industri tepung aren menghasilkan limbah limbah cair dan limbah padat. Limbah cair berasal dari proses pemarutan/pelepasan pati dari serat dan pengendapan tepung aren. Limbahpadat yang berupa serbuk serat aren semula dimanfaatkan oleh industri budidaya jamur di kota Yogyakarta. Pada dua tahun terakhir, industri tersebut tidak beroperasi lagi, akibatnya timbunan limbah padat memenuhi bantaran sungai dan daerah sekitar sawah. Lindi dari limbah padat ini mulai terasa mencemari badan air dan sistem irigasi yang ada di daerah tersebut. Dampak yang dirasakan penduduk berupa timbulnya gangguan kulit setelah menggunakan sumber air yang sudah tercemar oleh lindi ampas aren dan juga matinya ikan-ikan pada kolam ikan milik penduduk, selain bau yang menyengat, khususnya setelah ampas terbasahi oleh hujan. Desa Bendo Kecamatan Klaten merupakan salah satu desa yang memproduksi perah ampas onggok pohon aren. Beberapa proses produksi tersebut berpotensi terjadinya penyakit akibat kerja khususnya penyakit dermatitis kontak. 3

Berdasarkan hasil survei awal bulan Maret 2012, diketahui sebagian besar pekerja mengalami keluhan gatal-gatal, kemerahan dan bengkak yang berbatas tegas di daerah lengan bawah dan bagian perut (Observasi, 2012). Hasil pengamatan peneliti pekerja hanya menggunakan tangan yang dialasi sarung tangan kain dan sepatu bots. Berdasarkan hal itu, maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara ketaatan pelaksanaan prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada pekerja perah ampas onggok pohon aren terhadap terjadinya Dermatitis Kontak Iritan (DKI). METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian survei yang bersifat deskriptif analitik karena peneliti tidak memberikan perlakuan kepada subyek penelitian. Penelitian survei adalah penelitian dengan cara data dikumpulkan dan hubungan (korelasi) antara berbagai perubahan diselidiki untuk memberi gambaran terhadap obyek peneliti. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan Cross sectional (Nursalam, 2003). Populasi pada penelitian ini yang diambil adalah pekerja perah ampas onggok pohon aren di Desa Bendo Kecamatan Tulung Kabupaten Klaten. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari populasi yaitu pekerja perah ampas onggokpohon aren di Desa Bendo Kecamatan Tulung Kabupaten Klaten. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Convenience Sampling, yaitumetode pengambilan sampel secara bebas tanpa menentukan status, atau keadaan dari responden sehingga menjadikan peneliti nyaman dalam pengambilan sampel (Sugiyono, 2007). Adapun jumlah subjek penelitian ditetapkan berdasarkan rumus besar sample minimal (Lemeshow, dkk, 2007) yaitu : n = ( Z α/2 ) 2.P(1-P) d 2 = (1,96) 2. 0,1 (1-0,1) (0,1) 2 4

= (3,84). 0,1 (0,90) 0,01 = 0,3456 0,01 = 34,56 Loss to follow 10% = 34,56 + (34,56 x 10%) Keterangan: n = besar sampel p = proporsi populasi (0,10) = 34,56 + 3,45 = 38,01 = 39 sampel Z α/2 = nilai distribusi normal pada (α) 0,05 = 1,96 d = presisi/derajat ketepatan = 0,10 Berdasarkan perhitungan di atas, maka sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 39 responden. Keberhasilan penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap, adapun tahap-tahap dalam penelitian sebagai berikut: Populasi Responden Pelaksanaan Prosedur Kesehatan dan Keselamatan Kerja Taat Tidak taat DKI (+) DKI (-) DKI (+) DKI (-) Analisis Data dengan Chi Square ( 2 ) Gambar 1 Jalan Penelitian 5

Data dari kuesioner yang telah terkumpul dan telah diisi oleh responden dianalisis sesuai dengan prosedur analisis data yang terdiri dari 5 langkah (Arikunto, 2006). 1. Persiapan (Editing) Kegiatan dalam langkah ini adalah : a. Mengecek nama dan kelengkapan identitas responden. b. Mengecek kelengkapan data, dengan memeriksa isi instrument pengumpulan data (termasuk kelengkapan lembaran isi instrument, kemungkinan ada yang terlepas atau sobek). c. Mengecek macam isian data. 2. Coding Memberikan kode jawaban dengan angka atau kode tertentu. 3. Scoring Memberikan nilai/score terhadap hasil kuesioner yang telah disebarkan dari setiap point pertanyaan. 4. Tabulasi Data-data mentah dilakukan penataan data kemudian menyusun dalam bentuk distribusi. 5. Penerapan data sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam penelitian. Analisis data yang dilakukan setelah data terkumpul yang didapatkan dari kuesioner, untuk menguji hipotesis penelitian, maka perlu dicari hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dengan menggunakan fasilitas komputer yaitu program SPSS versi 18.0. Karena ketaatan pelaksanaan prosedur kesehatan, keselamatan kerja dan kejadian dermatitis iritan (DKI) merupakan variabel yang kedua-duanya berbentuk skala data ordinal, sehingga digunakan tekhnik analisis Chi Square( 2 ). χ 2 ( fo = fh) fh 2 Keterangan: χ 2 = Chi kuadrat fh = frekuensi yang diharapkan 6

Analisis Chi Square ( 2 )digunakan untuk mencari hubungan antara dua variabel atau lebih bila datanya berbentuk ordinaldan data dari kedua variabel tidak selalu harus membentuk distribusi normal. Pengambilan keputusan didasarkan pada nilai asymp.sig (p value). Bila nilai p < 0,05 signifikan maka terdapat koefisien korelasi antar variabel yang diuji, dan sebaliknya (Sugiyono, 2007). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu upaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat dengan meminimalisasi resiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Ketaatan pada prosedur keselamatan dan kesehatan kerja akan berdampak terhadap produktivitas kerja yang optimal. Keselamatan dan kesehatan kerja meliputi penyerasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri maupun masyarakat disekitarnya (Mangkunegara, 2005). Kesehatan dan keselamatan kerja diselenggarakan sebagai upaya kesehatan dengan pendekatan peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), pengobatan penyakit (kuratif) dan pemeliharaan kesehatan (rehabilitatif) yang terpadu dan berkesinambungan untuk mewujudkan produktivitas kerja yang optimal dengan tujuan terciptanya tenaga kerja yang sehat dan terbebas dari penyakit akibat kerja dilaksanakan secara menyeluruh. Pada lingkungan kerja terdapat berbagai faktor bahaya yang dapat merusak kondisi kesehatan dan produktivitas tenaga kerja, menimbulkan gangguan kesehatan, penyakit bahkan kematian akibat kerja (Depkes, 2004). Salah satu penyakit kulit akibat dari lingkungan kerja adalah Dermatitis Kontak Iritan (DKI). Penyakit kulit akibat kerja (occupational dermatoses) merupakan suatu peradangan kulit yang diakibatkan oleh suatu pekerjaan seseorang. Penyakit ini biasanya terdapat di daerah industri, pertanian, dan perkebunan. Dimana lingkungan industri akan mempengaruhi insidensi suatu penyakit kulit dan yang 7

sering muncul adalah dermatitis kontak iritan (DKI) (Siregar, 2004). Penyakit ini ditandai dengan peradangan kulit polimorfik yang mempunyai ciri ciri yang luas, meliputi: rasa gatal, kemerahan, skuama, vesikel, dan krusta papulovesikel (Budiartho, 2005). Berdasarkan hasil penelitian pada pekerja Perah Ampas Onggok Pohon Aren, diketahui bahwa angka ketidaktaatan pekerja terhadap prosedur kesehatan dan keselamatan kerja cukup tinggi, yaitu 48,7%. Pekerja merasa tidak nyaman dalam mengenakan sarung tangan dan pelindung lainnya dalam bekerja, akibatnya dalam bekerja senantiasa kontak langsung dengan bahan-bahan kimia zat padat tersuspensi, amoniak bebas (NH3-N), dan materi organik pada ampas onggok pohon aren. Air limbah mempunyai tingkat keasaman yang relatif tinggi (4,28). Derajat keasaman ini timbul akibat degradasi materi organik yang terkandung dalam bak pencucian dan bak pengendap. Asam dapat larut pada air dan menyebabkan dehidrasi pada kulit. Pada kulit yang telah mengalami gangguan, pajanan dari bahan iritan lemah dapat menyebabkan inflamasi pada kulit. Besar intensitas dari inflamasi bergantung pada konsentrasi dari iritan dan lamanya terpajan dari bahan iritan tersebut. Iritan yang lembut dapat menyebabkan kulit kering, fissura, dan eritema. Sebuah reaksi ringan ekzim dapat timbul pada pajanan yang berkelanjutan. Pajanan yang berkelanjutan pada daerah seperti tangan, area di upper, atau pada sekeliling kulit yang terkadang menyebabkan peradangan ekzim. Zat kimia kuat dapat menyebabkan reaksi yang berat (Fregret, S., 2008). Hasil penelitian tentang kejadian Dermatitis Kontak Iritan pada pekerja Perah Ampas Onggok Pohon Aren Desa Bendo Kecamatan Tulung Kabupaten Klaten juga termasuk kategori tinggi yang berada pada angka 51,3%; artinya 51,3% pekerja yang tidak taat pada pelaksanaan prosedur K3 mempunyai resiko yang tinggi terkena DKI. Tingginya jumlah prosentase kejadi DKI ini disebabkan oleh ketidaktaatan pekerja dalam pelaksanaan prosedur K3. Dermatitis kontak iritan kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan melalui kerja kimiawi maupun fisik. Bahan iritan merusak lapisan tanduk, dalam beberapa menit atau beberapa jam bahan-bahan iritan tersebut akan berdifusi 8

melalui membran untuk merusak lisosom, mitokondria dan komponen-komponen inti sel. Rusaknya membran lipid keratinosit maka fosfolipase akan diaktifkan dan membebaskan asam arakidonik akan membebaskan prostaglandin dan leukotrin yang akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah dan transudasi dari faktor sirkulasi dari komplemen dan sistem kinin dan akan menarik neutrofil dan limfosit serta mengaktifkan sel mast yang akan membebaskan histamin, prostaglandin dan leukotrin. Platelet yang aktif akan menyebabkan perubahan vaskuler. Diacil gliserida akan merangsang ekspresi gen dan sintesis protein. Pada dermatitis kontak iritan terjadi kerusakan keratinosit dan keluarnya mediatormediator. Perbedaan mekanisme dengan dermatis kontak alergik sangat tipis yaitu Dermatitis Kontak iritan tidak melalui fase sensitisasi (Sularsito, 2007). Kelainan kulit timbul akibat kerusakkan sel yang disebabkan oleh bahan iritan (toksin) melalui kerja kimiawi atau fisis. Bahan iritan merusak lapisan tanduk, denaturasi keratin, menyingkirkan lemak lapisan tanduk, dan mengubah daya ikat air kulit. Kebanyakan bahan iritan (toksin) merusak membrane lemak (lipid membran) keratonosit, tetapi sebagian dapat menembus membrane sel dan merusak lisosom, mitokondria, atau komponen inti. Keruskan membrane mengaktifkan fosfolipase dan melepaskan asam arakidonat (AA), diasligliserida (DAG), platelet activating factor (PAF), daninositida (IP3). Selanjutnya AA akan diubah menjadi prostaglandin (PG) dan leukotrin (LT). Kemudian PG dan LT akan menginduksi vasodilatasi, dan meningkatkan permebealitas vaskular sehingga mempermudah transudasi komplemen dan kinin. Selain itu PG dan LT juga bertindak sebagai kemoatraktan kuat untuk limfosit dan neutrofil, serta mengaktifasi sel mast melepaskan histamine, LT dan PG lain, dan PAF, sehingga memperkuat perubahan vaskular. Diasilgliserida (DAG) dan second messengers lain menstimulasi ekspresi gen dan sintesis protein, misalnya interleukin-1 (IL-1) dan granulocytemacrophag colony stymulatunf factor (GMCSF), IL-1 mengaktifkan sel-t penolong mengeluarkan IL-2 dan mengekspresi reseptor IL-2, yang menimbulkan stimulasi autokrin dan proliferasi sel tersebut. Keratinosit juga membuat molekul permukaan HLA-DR dan adesi intrasel-1 (ICAM-1). Pada kontak dengan iritan, 9

keratonosit juga melepaskan TNF, suatu sitokin proinflamasi yang dapat mengaktifasi sel T, makrofag dan granulosit, menginduksi ekspresi molekul adesi sel dan pelepasan sitokin. Rentetan kejadian tersebut menimbulkan gejala peradangan klasik ditempat terjadinya kontak di kulit berupa eritema, edema, panas, nyeri, bila iritan kuat. Bahan iritan lemah akan menimbulkan kelainan kulit setelah berulang kali kontak, dimulai dengan kerusakkan stratum korneum oleh karena delipidasi yang menyebabkan desikasi dan kehilangan fungsi sawarnya, sehingga mempermudah kerusakan sel dibawahnya oleh iritan (Sularsito, 2007). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketaatan pelaksanaan prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian Dermatitis Kontak Iritan (p < 0,05). Peneliti menemukan bahwa penyakit dermatitis kontak merupakan penyakit yang lazim terjadi pada pekerja-pekerja yang berhubungan dengan bahan kimia dan panas, serta faktor mekanik sebagai gesekan, tekanan, trauma. Jenis dermatitis kontak seperti DKI yang disebabkan oleh bahan iritan absolut seperti asam basa, basa kuat, logam berat dengan konsentrasi kuat dan bahan relatif iritan, misalnya sabun, deterjen dan perlarut organik, dan jenis dermatitis lain adalah dermatitis kontak alergi biasanya disebabkan oleh paparan bahan-bahan kimia atau lainnya yang meningkatkan sensitivitas kulit (Siregar, 2004). Perusahaan mempunyai kewajiban dalam melindungi kesehatan dan keselamatan kerja karyawannya melalui program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Hasil penelitian ini relevan dengan penelitain Nonic Rachmasari (2013) dengan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan dermatitis kontak iritan pada pengrajin logam di Desa Cepogo diperolah hasil penelitian dan observasi oleh tenaga medis, ditemukan kejadian dermatitis kontak iritan yang tinggi yakni sebesar 82,5% pengrajin menderita dermatitis kontak iritan. Ada hubungan antara kontak dengan bahan kimia (p value = 0,0001) dan lama paparan (p value = 0,003) dengan kejadian dermatitis kontak iritan pada pengrajin logam di Desa Cepogo Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali. 10

KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ketaaan pelaksanaan prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian Dermatitis Kontak Iritan (DKI) pada pekerja Perah Ampas Onggok Pohon Aren Desa Bendo Kecamatan Tulung Kabupaten Klaten. Adanya keterbatasan dalam penelitian ini, maka penulis memberikan saran sebagai berikut: 1. Perusahaan Perah Ampas Onggok Pohon Aren Desa Bendo Perlu membuat aturan tertulis semacam SOP (Standar Operasional Prosedur) tentang tata cara perah ampas onggok pohon aren, sehingga tercipta Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan terbebas dari Dermatitis Kontak Iritan (DKI). 2. Pekerja Perah Ampas Onggok a. Pekerja perlu mengikuti pelatihan mengenai tata cara pemerahan ampas onggok pohon aren yang sesuai dengan standar kesehatan dan keselamatan kerja dan menambah pengetahuan tentang penanggulangan Dermatitis Kontak Iritan (DKI). b. Sebaiknya pekerja berkomunikasi dengan dokter atau petugas kesehatan dalam menjaga kesehatan dan menanggulangi terjadinya Dermatitis Kontak Iritan (DKI). 11

DAFTAR PUSTAKA A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Arikunto, Suharsimi, 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Budiarto, E. 2002. Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC. Depkes RI. 2002. Keputusan Menkes RI No. 228/MENKES/SK/III/2002 tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit yang Wajib Dilaksanakan Daerah. Depkes RI. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor. 128/MENKES/SK/II /2004 Tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat. Fregret, S., 2008. Kontak Dermatitis. Jakarta: Yayasan Essentia Medica Lemeshow, S, dkk. 2007. Besar Sampel Pada Penelitian Kesehatan. UGM press, Yogyakarta. Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Nursalam. 2003. Konsep Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. (Edisi Pertama). Jakarta: Salemba Medica. Rachmasari, Nonic. 2013. Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan Pada Pengrajin Logam Di Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali. JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT. Volume 2, Nomor 1. [http://ejournals1.undip.ac. id/ index.php/jkm] Siregar, Charles. JP., 2004. Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan. Cetakan. I, Penerbit EGC, Jakarta. Sularsito, SA. 2007. Dermatitis. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Sugiyono, 2007, StatistikaUntukPenelitian,Bandung: CV. Alfabeta. Trihapsoro, I., 2003, Dermatitis Kontak Alergi pada Pasien Rawat Jalan di RSUP Haji Adam Malik Medan, USU Digital Library. 12