MEDIAGRO 48 VOL 9. NO. 1, HAL 48-60

dokumen-dokumen yang mirip
I. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGKAJIAN VIABILITAS BENIH DENGAN TETRAZOLIUM TEST PADA JAGUNG DAN KEDELAI

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

I. PENDAHULUAN. karena nilai gizinya yang tinggi. Untuk memenuhi konsumsi dalam negeri,

STUDI ASPEK FISIOLOGIS DAN BIOKIMIA PERKECAMBAHAN BENIH JAGUNG (Zea mays L.) PADA UMUR PENYIMPANAN BENIH YANG BERBEDA

Agros Vol.16 No.1 Januari 2014: ISSN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Viabilitas benih diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh menjadi

II. TINJAUAN PUSTAKA. daya hidup benih yang ditunjukan dengan gejala pertumbuhan atau gejala

I. PENDAHULUAN. setelah beras. Selain itu juga digunakan sebagai pakan ternak dan bahan baku

Pendahuluan. ACARA I Perkecambahan Benih. (eksternal). Faktor Dalam Faktor dalam yang mempengaruhi perkecambahan benih antara lain :

TINJAUAN PUSTAKA. Vigor Benih

I. PENDAHULUAN. Benih merupakan salah satu masukan usaha tani yang mempengaruhi tingkat

II. TINJAUAN PUSTAK A. 2.1 Karakteristik dan Komposisi Kimia Benih Kedelai

TINJAUAN PUSTAKA Pembiakan Vegetatif Viabilitas dan Vigoritas

PERKECAMBAHAN BENIH SEBAGAI SUATU SISTEM

II. TINJAUAN PUSTAKA. wilayah beriklim sedang, tropis, dan subtropis. Tanaman ini memerlukan iklim

yang khas, ukuran buah seragam, dan kandungan gizi sama dengan tomat buah. Kecenderungan permintaan tomat rampai yang semakin meningkat dipasaran akan

Mutu fisiologis Benih pada Beberapa Varietas Jagung Selama Periode Simpan

PENGARUH LINGKUNGAN TUMBUH TERHADAP PERKECAMBAHAN BENIH BEBERAPA GENOTIPE JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)

BAB I PENDAHULUAN. Biji merupakan perkembangan lanjut dari bakal biji yang telah dibuahi dan

PENGARUH INTERVAL PENYIRAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL EMPAT KULTIVAR JAGUNG (Zea mays L.)

PENGARUH LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KUALITAS JAGUNG KUNING DAN JAGUNG PUTIH

TINJAUAN PUSTAKA Padi Gogo

PENGARUH KOMBINASI KADAR AIR BENIH DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP VIABILITAS DAN SIFAT FISIK BENIH PADI SAWAH KULTIVAR CIHERANG

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Justice dan Bass (2002), penyimpanan benih adalah. agar bisa mempertahankan mutunya. Tujuan dari penyimpanan benih

I. PENDAHULUAN. karena nilai gizinya sangat tinggi. Kedelai mempunyai kandungan protein yang

I. PENDAHULUAN. Pangan merupakan kebutuhan utama manusia. Badan Pusat Statistik (2010)

I. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun

II. TINJAUAN PUSTAKA. Buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupakan tanaman sayuran yang berasal dari

I. PENDAHULUAN. baku industri, pakan ternak, dan sebagai bahan baku obat-obatan. Di Indonesia,

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Pengaruh Pemupukan NPK Majemuk pada Kualitas Benih. Benih bermutu yang dihasilkan dari suatu produksi benih ditunjukkan oleh

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai

II. TINJAUAN PUSTAKA. Viabilitas benih diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh menjadi

MUTU FISIOLOGIS BENIH JAGUNG DARI BEBERAPA UJI PENGECAMBAHAN

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Muhammadiyah Yogyakarta dalam suhu ruang. Parameter penelitian di. normal di akhir pengamatan (Fridayanti, 2015).

I. PENDAHULUAN. Padi (Oryza sativa L.) adalah tanaman pangan utama sebagian besar penduduk

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max [L.] Merill) merupakan salah satu komoditas pangan utama

I. PENDAHULUAN. Buncis (Phaseolus vulgaris L.) adalah anggota sayuran genus Phaseolus yang

BAB I PENDAHULUAN. tumbuh-tumbuhan. Terkait dengan tumbuh-tumbuhan sebenarnya telah

Prosiding Seminar Nasional Biologi dan Pembelajarannya Medan, 23 Agustus 2014 MAKALAH PENDAMPING #3 FISIOLOGI

PENGARUH MEDIA TANAM DAN SUHU TERHADAP PENGUJIAN DAYA BERKECAMBAH BENIH KEDELAI (Glycine max ) DI LABORATORIUM BPSBTPH KALIMANTAN SELATAN

TINJAUAN PUSTAKA Benih Bermutu Viabilitas dan Vigor benih

I. PENDAHULUAN. pokok bagi sebagian besar rakyat di Indonesia. Keberadaan padi sulit untuk

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian ± 32 meter di

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kedelai

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pohon merbau darat telah diklasifikasikan secara taksonomi sebagai berikut

STUDI PENGUJIAN DETERIORASI (KEMUNDURAN) PADA BENIH KEDELAI. Renan Subantoro

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

I PENDAHULUAN. Tanaman kacang buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupakan salah satu tanaman

PENGUJIAN MUTU BENIH JAGUNG DENGAN BEBERAPA METODE

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman tomat termasuk tanaman semusim Ordo Solanales, family solanaceae,

I. PENDAHULUAN. Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman penghasil beras yang menjadi

I. PENDAHULUAN. Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) termasuk dalam jenis tanaman sayuran,

I. PENDAHULUAN. Meningkatnya jumlah penduduk Indonesia, menyebabkan kebutuhan akan

II. TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan tanaman sumber karbohidrat

PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENGARUH FREKUENSI PENYIRAMAN DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)

MATERI 1 STRUKTUR BENIH DAN TIPE PERKECAMBAHAN I. PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN. kandungan karbondioksida mengakibatkan semakin berkurangnya lahan. subur untuk pertanaman padi sawah (Effendi, 2008).

47 Tabel 3. Rata-rata Persentase kecambah Benih Merbau yang di skarifikasi dengan air panas, larutan rebung dan ekstrak bawang merah Perlakuan Ulangan

TINJAUAN PUSTAKA. (United States Department of Agriculture, 2011). vertikal dan horizontal. Bagian akar yang aktif adalah pada kedalaman cm,

VIABILITAS DAN VIGOR BENIH PADI (Oryza sativa, L) VARIETAS IR 64 BERDASARKAN VARIASI TEMPAT DAN LAMA PENYIMPANAN

MAKALAH SEMINAR UMUM. ANALISIS MATEMATIS PENDUGAAN UMUR SIMPAN BENIH CABAI MERAH (Capsicum annum L.)

MATERI 3. VIABILITAS, VIGOR DAN UJI TZ

PENGISIAN DAN PEMASAKAN BIJI

PENGARUH CEKAMAN KEKERINGAN TERHADAP RESPON FISIOLOGIS PERKECAMBAHAN BENIH KACANG TANAH (Arachis hypogaea L) Renan Subantoro

VIABILITAS DAN VIGORITAS BENIH Stylosanthes guianensis (cv. Cook) YANG DISIMPAN PADA SUHU BERBEDA DAN DIRENDAM DALAM LARUTAN GIBERELIN SKRIPSI OLEH

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode

PENGARUH INTERVAL PEMBERIAN AIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN BAYAM (Amaranthus spinosus)

BAB I PENDAHULUAN. ada. Sehubungan dengan peranan air bagi kehidupan Allah SWT berfirman dalam

I. PENDAHULUAN. Kacang buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupakan tanaman sayuran polongan

LAPORAN PRATIKUM TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH UJI DAYA KECAMBAH

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Benih Kedelai. penyediaan benih berkualitas tinggi. Pengadaan benih kedelai dalam jumlah yang

PENGKAJIAN SUHU RUANG PENYIMPANAN DAN TEKNIK PENGEMASAN TERHADAP KUALITAS BENIH KEDELAI

MUTU FISIOLOGI BENIH JAGUNG (Zea mayzs L.) PADA BEBERAPA PERIODE SIMPAN

Tipe perkecambahan epigeal

PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS UREA PADA BEBERAPA VARIETAS SORGUM ( Sorghum bicolor L.) TERHADAP HASIL DAN MUTU BENIH

TINJAUAN PUSTAKA Pemadatan Tanah

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedelai varietas Grobogan memiliki umur polong berkisar 76 hari, bobot biji

dalam jumlah yang cukup. Carica merupakan tanaman monokotil yang dapat

II. TINJAUAN PUSTAKA. Asam jawa merupakan tanaman keras berumur panjang yang dapat mencapai

PENGARUH LAMA PENYIMPANAN DAN INVIGORASI TERHADAP VIABILITAS BENIH KAKAO (Theobromacacao L.)

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian. Bahan dan Alat

MUTU BENIH JAGUNG DI TINGKAT PETANI DAN PENANGKAR DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN. Latar Belakang

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Hasil

HASIL DA PEMBAHASA. Percobaan 1. Pengujian Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Viabilitas Benih Padi Gogo Varietas Towuti dan Situ Patenggang

Halimursyadah et al. (2013) J. Floratek 8: 73-79

HUBUNGAN AIR DAN TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN

PENENTUAN STADIA KEMASAKAN BUAH NANGKA TOAYA MELALUI KAJIAN MORFOLOGI DAN FISIOLOGI BENIH ABSTRAK

I. TINJAUAN PUSTAKA. dalam, akar dapat tumbuh hingga sekitar 1 m. Dengan adanya bakteri Rhizobium, bintil

BAB III METODE PENELITIAN. Negeri Maulana Malik Ibrahim malang. Pada bulan Desember 2011 sampai

Transkripsi:

PENGARUH BERBAGAI METODE PENGUJIAN VIGORTERHADAP PERTUMBUHAN BENIH KEDELAI RENAN SUBANTORO dan ROSSI PRABOWO Fakultas Pertanian Universitas Wahid Hasyim Semarang ABSTRACT Vigor is defined as a condition where healthy seed, when planted directly germinate quickly in different condition or potential groups of seeds to germinate fast, simultaneous and uniform then held a rapid growth in the general condition of the field. Old Seed will deteriorate. Symptom onset is only visible with a biochemical test or tress test. Continuing deterioration reduce the viability and vigor, even a poor crop performance though despite optimal environment. Experiments Paper Piercing Test is a test performed by germinating the seed vigor between the sand and filter paper. Germinated seed is old and new seed each totaled 50 seed to repeat 4 times, so there are 2 treatment on seed. Experiment Brick Gravel Test is a vigor test using shards of red brick as a medium for germination, with 2 soybean seed treatments, old and new, each amounting to 50 seeds with 4 replications. The results showed that: vigor testing showed that the higher seed vigor longer than the new seeds and media that generate the highest value for all parameters is brick gravel test, but the highest germination percentage achieved on paper piercing test. Key words : vigor, deterioration, brick gravel, paper piercing PENDAHULUAN Menurut Yudono (2006) bahwa vigor merupakan kondisi benih yang sehat, apabila ditanam langsung berkecambah cepat, serentak dan seragam pada lingkungan yang berbeda kemudian mengalami pertumbuhan cepat pada kondisi normal di lahan. Adapun benih yang vigor mempunyai ciri-ciri : 1) mempunyai kecepatan berkecambah yang tinggi, 2) mempunyai keseragaman perkecambahan, pertumbuhan, dan perkembangan yang baik pada lingkungan yang berbeda, 3) mempunyai kemampuan untuk muncul pada tanah yang crusted, 4) Mempunyai kemampuan berkecambah dan muncul pada lingkungan suhu dingin, basah, berpenyakit dan tidak sesuai (understress condition, 5) Kecambah mampu berkembang normal, 6) Parameter penampilan dan hasil tanaman, 7) Storability yang baik pada keadaan yang tidak optimal. Yudono (2006) berpendapat bahwa faktor yangmempengaruhi vigor meliputi : 1. Genetik Sifat keturunan yang membentuknya pada biji (genetic make up).vigor potensial berbeda pada species, varietas bahkan tanaman yang berbeda genotipenya. Hal MEDIAGRO 48 VOL 9. NO. 1, 2013. HAL 48-60

yang biasa dan mudah diamati yaitu hybrid, polyploidy dibanding inbread dan normal diploid pada species yang sama. Contoh pada hybrid barley yang tumbuh cepat, lebih respon terhadap lingkungan, hasil meningkat karena morfologis lebih unggul.juga pada jagung, semangka, cabe. Vigor yang dilandasi perubahan susunan genetik ini dihubungkan dengan pengaruhnya yang lebih baik pada proses metabolisme dalam hal ini misalnya kerja mitokondria yang superefisien ekstra aktif enzim sistem, untuk asimilasi, dan sinergistik material-material inti sel. 2. Kemasakan biji Pada biji yang mencapai masak fisiologis, telah mencapai kesempurnaan fisiologis dalam perkembangannya untuk mendukung vigor. Pada saat ini biji mempunyai bobot kering maksimum, kadar air manurun pada biji orthodox dan siap mengadakan imbibisi. Biji yang belum masak dan biji lewat masak vigornya rendah. 3. Lingkungan Ketersediaan air mempengaruhi komposisi kimia biji meskipun tidak langsung pada vigor. Suhu mempengaruhi proses perkembangan biji melalui kecepatan metabolisme, yang akhirnya mempengaruhi vigor. Sebagai contoh pada biji kedelai.dengan meningkatnya suhu saat perkembangan biji, maka kandungan minyak menurun. Suhu meningkat pada 40 hari terakhir saat pemasakan biji, menurunkan vigor biji dan apabila selama pertumbuhan tanaman akanmenurunkan hasil, misalnya kedelai tanaman C3. Kesuburan tanah mempunyai pengaruh terhadap komposisi kimia biji yang akan berperan dalam metabolisme dan vigor saat perkecambahan. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa pemunculan bibit meningkat pada biji yang berasal dari tanah yang mengandung nitrogen lebih baik, Wheat dan ter pemupukan daun meningkatkan protein dan ukuran biji, meningkatkan vigor saat perkecambahan. Percobaan lain mekan bahwa peningkatan pemupukan nitrogen dan phosphor meningkatkan vigor biji yang dihasilkan. 4. Ukuran biji Ukuran biji dari benih mempengaruhi vigor benih.penanaman barley dan pea dengan benih yang berbeda ukuranya, menghasilkan panenan yang berbeda.hasil pengujian dilaboratorium menunjukkan bahwa biji-biji kecil memberikan nilai index vigor yang lebih tinggi.namun yang terjadi dilapangan dapat sebaliknya.pengaruh kerapatan benih berkorelasi positif dengan bobot biji dan vigornya.sedangkan ukuran biji juga berkorelasi positif dengan bobot biji dan vigornya.bobot biji menunjukkan jumlah cadangan makanan, protein, aktivitas mitokondria, kecepatan/kemampuan respirasi /produk ATP dan growth potensial.guritno et al. (1995) menjelaskan bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa Biji yang mempunyai bobot tinggi tidak selalu memberikan ukuran tanaman yang lebih besar.hal itu menunjukan bahwa kualitas biji tidak hanya ditentukan oleh bobot biji yang bukanmerupakan faktor dominan penentu kualitas Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian 49

biji pada semua biji dengan bobot yang berbeda.keadaan biji yang dapat menghasilkan organ fotosintesis yang besar pada awal pertumbuhan merupakan faktor yang menentukan kualitas biji. 5. Kerusakan biji Kerusakan biji yang disebabkan mekanis, menyebabkan perkecambahan abnormal dan menurunkan vigor dibandingkan dengan biji yang tidak rusak.dampak selanjutnya adalah pertumbuhan kecambah lambat, juga pertumbuhan tanaman dan kemasakan.hasil yang diperoleh menurun.semua aktivitas panen, prosesing, penyimpanan dan distribusi berpotensial sebagai penyebab kerusakan mekanis. 6. Deteriorasi Biji yang sudah lama akan mengalami deteriorasi. Gejala permulaan hanya terlihat dengan biochemical test atau tress test. Deteriorasi yang berlanjut menurunkan viabilitas dan vigor, bahkan performance tanaman yang kurang baik meskipun lingkungan optimal. 7. Mikroorganisme Infeksi mikroorganisme mengakibatkan kerusakan membrane sehingga terjadi leaching.mikroorganisme yang awalnya saprofit kemudian menjadi parasit pada perkecambahan, misalnya Phytium, Rhyzoctonia sp. BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Pertanian Universitas Wahid Hasyim Semarang, mulai bulan Januari-Maret 2013. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan meliputi benih kedelai baru dan kedelai lama, pecahan bata merah, pasir dan kertasfilter. Sedangkan alat yang digunakan adalah bak perkecambahan, penggaris, sprayer, pinset dan oven. Metode Percobaan dan Tahap Pelaksanaan a) Percobaan Paper Piercing Test Pengujian vigor dilakukan dengan mengecambahkan benih diantara pasir dan kertas filter. Benih yang dikecambahkan adalah benih lama dan baru masingmasing berjumlah 50 benih dengan ulangan 4 kali, sehingga terdapat 2 perlakuan pada benih. Pelaksanaan : 1) Menyiapkan bak perkecambahan dengan media pasir lembab. 2) Benih kedelai ditanam sebanyak 50 benih kedelai sebanyak 4 ulangan. Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian 50

3) Benih ditutup dengan kertas filter dan ditutup kembali dengan selapis pasir setebal 2-2,5 cm, kemudian disiram dan dipertahankan tetap lembab selama 7-10 hari. b) Percobaan Brick Gravel Test Pengujian vigor menggunakan pecahan bata merah sebagai media perkecambahan, dengan 2 perlakuan yaitu benih kedelai lama dan baru, masingmasing berjumlah 50 benih dengan 4 ulangan. Pelaksanaan : 1) Menyiapkan bak perkecambahan plastik dengan media pecahan bata merah dengan diameter 2 mm. 2) Kemudian menyiram dengan air sehingga lembab. 3) Benih kedelai lama dan baru dikecambahkan diatas media pecahan bata merah sebanyak 50 benih dengan 4 ulangan. 4) Kemudian benih ditutup dengan selapis bata merah setinggi 2-2,5 cm, kemudian disiram dengan air dan dipertahankan agar media tetap lembab selama 7-10 hari. c) Percobaan Sand Test Pengujian vigor dengan menggunakan perlakuan benih lama dan baru, benih dikecambahkan pada media pasir dengan jumlah benih masing-masing 50 benih dengan 4 ulangan. Pelaksanaan : 1) Menyiapkan bak perkecambahan plastik dengan media pasir lembab. 2) Kemudian menyiram dengan air sehingga lembab. 3) Benih kedelai lama dan baru dikecambahkan diatas media pasir sebanyak 50 benih dengan 4 ulangan. 4) Kemudian benih ditutup dengan selapis pasir setinggi 2-2,5 cm, kemudian disiram dengan air dan dipertahankan agar media tetap lembab selama 7-10 hari. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengamatan persentase perkecambahan biji kedelai pada berbagai pengujian ditampilkan pada tabel 1. Tabel 1. Perkecambahan Biji Kedelai pada Berbagai Metode Pengujian Vigor (%) Ulangan Paper Piercing Test Brick Gravel Test Media Pasir Baru Lama Baru Lama Baru Lama I 50,00 52,00 70,00 42,00 16,00 58,00 II 66,00 72,00 24,00 12,00 2,00 66,00 Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian 51

Persentase Perkecambahan Subantoro, R III 50,00 60,00 24,00 10,00 2,00 82,00 IV 28,00 62,00 66,00 60,00 10,00 84,00 Jumlah 194,00 246,00 184,00 124,00 30,00 290,00 ratarata 48,50 61,50 46,00 31,00 7,50 72,50 tα 2,45 2,45 2,45 t hit. 1,47 0,85 9,09 tidak tidak Berdasarkan Tabel 1. menunjukkan bahwa pada biji kedelai persentase perkecambahan biji pada pengujian dengan metode Brick Gravel Test dan pengujian Paper Piercing Test menunjukkan perbedaan yang tidak antara biji baru dan biji lama. Namun perkecambahan biji kedelai dengan metode Media Pasir menunjukkan perbedaan yang. Untuk melihat perbedaan hasil pengujian dapat diamati pada gambar 1. 80,00 70,00 60,00 50,00 40,00 30,00 Benih Baru Benih Lama 20,00 10,00 0,00 Paper Piercing Test Brick Gravel Test Media Pasir Metode Pengujian Perkecambahan Gambar 1. Persentase Perkecambahan Biji Kedelai Lama dan Baru Pada Berbagai Metode Pengujian Vigor Penggunaan biji lama dalam percobaan ini mampu berkecambah sama dengan biji baru pada pengujian dengan metode metode Paper Piercing Test dan pengujian Brick Gravel Test, sedangkan pada metode pengujian media pasir, ada perbedaan persentase perkecambahan antara biji lama dan biji baru. Persentase perkecambahan biji kedelai lama lebih tinggi dibandingkan dengan biji baru pada metode pengujian pada media pasir. Hal ini diduga biji lama tersebut telah mengalami penyimpanan yang lama tetapi organ-organ fungsional dalam biji masih hidup dan cadangan makanan masih mencukupi untuk dapat berkecambah pada saat biji diletakkan pada lingkungan yang mendukung untuk terjadinya Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian 52

proses perkecambahan biji. Menurut Semsilomba (2008) bahwa suatu biji dapat berkecambah jika memenuhi syarat-syarat seperti embrio biji tersebut masih hidup, biji tidak dalam keadaan dorman dan faktor lingkungnan menguntungkan untuk perkecambahan. Menurut Gardner et.al. (1991) bahwa proses perkecambahan dimulai dengan penyerapan air oleh biji dan hidrasi dari protoplasma. Kemudian pengaktifan enzim dan pencernaan, transpor molekul yang terhidrolisis ke poros embrio, peningkatan respirasi dan asimilasi, inisiasi pembelahan dan pembesaran sel dan munculnya embrio. Pada biji baru dan lama pada percobaan ini cenderung memiliki nilai yang sama dengan waktu perkecambahan yang lebih cepat dan seragam sehingga vigor biji yang dihasilkan juga tinggi. Hasil pengamatan terhadap tinggi bibit kedelai (cm), pada berbagai metode pengujian dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Tinggi Bibit Kedelai (cm) pada Berbagai Metode Pengujian Vigor Ulangan Paper Piercing Test Brick Gravel Test Media Pasir Baru Lama Baru Lama Baru Lama I 3,75 2,15 10,69 14,48 1,65 4,84 II 3,57 3,54 6,25 13,25 2,00 7,33 III 2,80 2,36 6,79 12,80 1,00 8,36 IV 2,91 3,53 11,73 13,49 1,20 7,50 Jumlah 13,03 11,59 35,46 54,02 5,85 28,03 ratarata 3,26 2,90 8,87 13,50 1,46 7,01 tα 2,45 2,45 2,45 t hit. 0,82 3,27 7,03 tidak Tabel 2. di atas menunjukkan bahwa metode pengujian viabilitas Paper Piercing Test menunjukan perbedaan yang tidak terhadap tinggi bibit benih baru dan lama, tetapi memberikan perbedaan yang pada metode pengujian viabilitas Brick Gravel Test dan Media Pasir, antara benih baru dan lama. Metode pengujian Brick Gravel Test menunjukan data tinggi tanaman yang lebih tinggi Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian 53

dibanding Media Pasir dan Paper Piercing Test. Perbedaan hasil pengujian berbagai media perkecambahan dapat dilihat pada gambar 2. Gambar 2. Tinggi Tanaman (cm) Biji Kedelai Lama dan Baru Pada BerbagaiMetode Pengujian Vigor Parameter tinggi tanaman (cm) diperoleh hasil tertinggi pada metode pengujian Brick Gravel Test, diikuti oleh metode pengujian media pasir, berbeda antara biji baru dan lama serta biji lama mempunyai tinggi bibit lebih tinggi dibanding dengan benih baru. Hal itu menunjukan bahwa pertumbuhan bibit yang diperlihatkan dengan tinggi bibit membuktikan bahwa biji lama masih dapat berkecambah dengan baik (daya tumbuh tinggi). Sedangkan biji baru belum mencapai masak fisiologis, sehingga menunjukan tinggi bibit yang lebih pendek daripada biji lama. Menurut Gardner et. al. (1991) bahwa pertumbuhan bibit sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal antara lain iklim, tanah, biologis dan faktor internal serta vigor biji. Hasil pengamatan terhadap panjang akar bibit (cm), pada berbagai metode pengujian vigor dapat dilihat dan disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Panjang Akar Bibit Kedelai (cm) pada Berbagai Metode Pengujian Vigor Ulangan Paper Piercing Test Brick Gravel Test Media Pasir Baru Lama Baru Lama Baru Lama I 1,70 0,88 5,13 4,88 4,06 3,77 II 2,19 1,58 3,46 5,25 1,50 6,26 III 1,45 1,19 3,58 4,10 4,50 7,24 Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian 54

IV 1,45 4,70 5,86 6,22 3,70 6,16 Jumlah 6,79 8,36 18,03 20,45 13,76 23,44 ratarata 1,70 2,09 4,51 5,11 3,44 5,86 tα 2,45 2,45 2,45 t hit. 0,44 0,82 2,43 tidak tidak tidak Tabel di atas menunjukkan bahwa berbagai metode pengujian vigor tidak menghasilkan perbedaan yang terhadap panjang akar bibit (cm). Hal ini dapat ditunjukan pada gambar 3. Gambar 3. Panjang Akar Bibit (g) Biji Kedelai Lama dan Baru PadaBerbagai Metode Pengujian Vigor Untuk parameter panjang akar bibit (cm) diperoleh hasil tertinggi pada metode pengujian media pasir, diikuti oleh brick gravel test dan paper piercing test, tetapi tidak berbeda antara benih lama dan baru pada semua metode pengujian vigor. Pemanjangan akar yang terjadi merupakan fungsi dari pembelahan dan pembesaran sel. Semakin panjang akar bibit berarti proses pembelahan dan pemanjangan sel berlangsung dengan optimal. Akar yang panjang menentukan kemampuan bibit dalam menyerap air dari media dan hara dari cadangan makanan dalam embrio untuk proses metabolismenya.hal itu diduga bahwa sebagian besar Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian 55

asimilat hasil fotosintesis dialokasikan dibagian akar, sebagai suatu strategi dengan harapan agar tanaman lebih mampu menyerap air dan unsur hara lebih masuk ke dalam tanah.menurut Amthor dan McCree (1990) dalam Sinaga (tanpa tahun) peningkatan alokasi relatif substrat yang tersedia ke akar yang selanjutnya menyebabkan produksi daun menurun, merupakan salah satu akibat perubahan konsentrasi antar bagian dalam sistem metabolisme tanaman yang mengalami cekaman air.peristiwa tersebut sering diinterpretasikan sebagai mekanisme adaptasi terhadap kondisi langka air.menurut O Toole et.al (1979), akar yang panjang diperlukan bibit sebagai bentuk strategi terutama pada kondisi kekurangan lengas. Akar bibit yang panjang memungkinkan bibit menjangkau lapisan media tanam yang lebih dalam sehingga mampu menyerap air yang cukup untuk keperluan hidupnya. Pertumbuhan bibit yang baik diperlihatkan oleh bobot segar dan bobot kering bibit yang baik pula. Bobot kering bibit menunjukan hasil asimilasi bersih dan mencerminkan aktivitas bibit selama pertumbuhan dan perkembangannya yaitu dalam merubah energi matahari menjadi energi kimia.menurut Bohm (1979) panjang akar menunjukkan kemampuan penetrasi akar pada media tanam. Akar yang semakin panjang berarti kemampuan penetrasinya pada media tumbuh akan semakin baik begitu pula sebaliknya, sehingga kebutuhan air mampu dipenuhi oleh sistem perakaran bibit. Hasil pengamatan terhadap bobot kering bibit kedelai pada berbagai metode pengujian viabilitas dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Ulangan Bobot Segar Bibit Kedelai (g) pada Berbagai Metode Pengujian Viabilitas Paper Piercing Test Brick Gravel Test Media Pasir Baru Lama Baru Lama Baru Lama I 0,25 0,49 0,60 1,40 0,36 0,71 II 0,26 0,61 0,51 1,43 0,32 0,78 III 0,26 0,47 0,73 1,26 0,29 1,02 IV 0,25 0,60 0,57 1,02 0,33 0,82 Jumlah 1,02 2,18 2,42 5,11 1,31 3,33 ratarata 0,26 0,54 0,60 1,28 0,33 0,83 tα 2,45 2,45 2,45 t hit. 7,642 6,405 7,478 Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian 56

Pada tabel 4. di atas menunjukkan bahwa berbagai metode pengujian vigor menghasilkan perbedaan yang antara benih baru dan lama. Untuk melihat perbedaan hasil pengujian berbagai media perkecambahan dapat dilihat pada gambar 4. Gambar 4. Bobot Segar dan Bobot Kering (g) Biji Kedelai Lama dan Baru PadaBerbagai Metode Pengujian Vigor Berdasarkan gambar 4. di atas menunjukkan bahwa bobot segar dan kering tertinggi pada metode pengujian Brick Gravel Test, diikuti oleh media pasir dan paper piercing test. Pada berbagai metode pengujian, benih lama memiliki bobot segar dan kering (g) yang lebih tinggi dibanding benih baru. Tabel 5. Bobot Kering Bibit Kedelai (g) pada Berbagai Metode Pengujian Viabilitas Ulangan Paper Piercing Test Brick Gravel Test Media Pasir Baru Lama Baru Lama Baru Lama I 0,08 0,15 0,18 0,42 0,11 0,21 II 0,08 0,18 0,15 0,43 0,10 0,24 III 0,08 0,14 0,22 0,38 0,09 0,31 IV 0,07 0,18 0,17 0,31 0,10 0,25 Jumlah 0,31 0,65 0,73 1,53 0,39 1,00 rata- 0,08 0,16 0,18 0,38 0,10 0,25 Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian 57

rata tα 2,45 2,45 2,45 t hit. 7,635 6,405 7,481 Tabel 5.di atas menunjukkan bahwa berbagai metode pengujian viabilitas (vigor biji) memberikan bobot kering bibit yang berbeda antara benih baru dan lama. Untuk melihat perbedaan hasil pengujian berbagai media perkecambahan dapat dilihat pada gambar 5. Gambar 5. Bobot Kering (g) Biji Kedelai Lama dan Baru Pada Berbagai Metode Pengujian Vigor Vigor biji yang baik memberikan pertumbuhan bibit yang baik sehingga mampu berperan dalam proses metabolisme bibit utnuk menghasilkan senyawa organik yang akan mengakibatkan bobot kering bibit lebih tinggi. Menurut Gardner et.al. (1991) bobot kering bibit menunjukkan salah satu faktor dalam pertumbuhan yang menentukan hasil tanaman. Bobot kering yang rendah pada biji lama menunjukkan rendahnya persediaan makanan yang ada dalam biji yang seharusnya mendukung awal perkecambahan sebelum daun berfungsi sebagai organ fotosintesis. Pembahasan umum Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian 58

Berdasarkan hasil pengamatan percobaan menunjukan bahwa untuk perlakuan Paper Piercing Test pada parameter persentase perkecambahan, panjang akar, bobot basah dan bobot kering kecambah benih lama menunjukan nilai lebih tinggi dibanding benih baru. Pada perlakuan Brick Gravel Test pada parameter panjang akar, bobot basah dan bobot kering kecambah benih lama menunjukan nilai lebih tinggi dibanding benih baru, kecuali parameter persentase perkecambahan. Sedangkan pada perlakuan media pasir test pada parameter panjang akar, bobot basah dan bobot kering kecambah benih lama menunjukan nilai lebih tinggi dibanding benih baru, kecuali parameter persentase perkecambahan. Diduga benih yang masih baru belum mengalami masak fisiologis, sehingga walaupun dengan kondisi lingkungan yang optimal, benih belum dapat berkecambah.yudono (2006) menjelaskan bahwa embrio beberapa species tumbuhan belum masak fisiologis saat lepas dari tanaman induk dan memerlukan waktu untuk perkembangan selanjutnya sampai mampu berkecambah.embrio yang belum masak, kecil bahkan belum mengalami differensiasi dan harus mengalami after ripening. Persentase perkecambahan tertinggi dicapai pada paper piercing test untuk benih lama maupun baru. Hal itu menunjukkan bahwa pada awal perkecambahan membutuhkan kondisi media paper piercing, kemudian untuk pertumbuhan kecambah selanjutnya membutuhkan kondisi media brick gravel. Pertumbuhan kecambah selanjutnya membutuhkan media tanam yang menyediakan tidak hanya air tetapi diperlukan aerasi yang optimal untuk perkembangan akar yang pada akhirnya mendukung perkembangan tajuk. Kesimpulan 1. Vigor suatu benih dapat dilihat dari kecepatan tumbuh benih. 2. Untuk mengetahui vigoritas benih dapat dilakukan dengan beberapa metode antara lain Percobaan Paper Piercing Test, Brick Gravel Test dan Media Pasir. 3. Benih lama memiliki vigor lebih baik dibanding dengan benih baru yang dipengaruhi oleh kandungan cadangan makanan dalam benih yang lebih banyak. 4. Benih lama, apabila disimpan sesuai dengan persyaratan penyimpanan benih menyebabkan turunnya vigor yang lambat, hal ini dibuktikan dengan benih lama memiliki vigor yang lebih baik dari benih baru. DAFTAR PUSTAKA Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian 59

Bohm, W. 1979.Methods of Studying Root System. Springer-Verlag Berlin. New York. Copeland, L.O. 1980. Principles of Seed Science and Technology.Departement of Agronomy Ohio State Universyty.Macmillan Publishing Company New York. Gardner, F.P., R.B. Pearce dan R.L. Mitchell. 1991. Physiology of Crop Plants (Terjemahan Susilo, H dan Subiyanto). Universitas Indonesia Press Jakarta. Kuswanto, H.1996. Dasar-dasar Teknologi Produksi dan Sertifikasi Biji.Penerbit Andy Yogyakarta. O Toole, J.C.Chang. 1979. Drought Resistance of Cereal Rice a Case Study. John Wiley and Sons. New York. Sadjad, S. 1975. Dasar-dasar Teknologi Biji.Departemen Agronomi IPB Bogor. Sudikno, T.S. 1977. Teknologi Biji 1. Yayasan Pembina Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta Sutopo, L. 2002. Teknologi Biji. Rajawali Press Jakarta. Taiz, L and E. Zeiger. 1998. Plant Physiology. Sinauer Associates.Inc. Publisher. Massachusetts. Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian 60