BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
I. PENDAHULUAN. Demam tifoid merupakan masalah kesehatan yang penting di negara-negara

I. PENDAHULUAN. disebabkan oleh mikroorganisme Salmonella enterica serotipe typhi yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. Salmonella sp. yang terdiri dari S. typhi, S. paratyphi A, B dan C

BAB I PENDAHULUAN. oleh infeksi saluran napas disusul oleh infeksi saluran cerna. 1. Menurut World Health Organization (WHO) 2014, demam tifoid

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Laporan Pendahuluan Typhoid

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai obat antihipertensi (Palu et al., 2008). Senyawa aktif yang

BAB 1 PENDAHULUAN. menjadi penyakit multisistemik yang disebabkan oleh kuman Salmonella

BAB 1 PENDAHULUAN. kesadaran (Rampengan, 2007). Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella

BAB I PENDAHULUAN. masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi (0-1 tahun),

I. PENDAHULUAN. besar di Indonesia, kasus tersangka tifoid menunjukkan kecenderungan

BAB I PENDAHULUAN. Amerika Selatan dan 900/ /tahun di Asia (Soedarmo, et al., 2008).

ASUHAN KEPERAWATAN DEMAM TIFOID

BAB I PENDAHULUAN. Salmonella typhi, suatu bakteri gram-negative. Demam tifoid (typhoid fever atau

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

ASKEP THYPOID A. KONSEP DASAR

BAB I PENDAHULUAN. seimbang. Demikian juga tubuh manusia yang diciptakan dalam keadaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

APA ITU TB(TUBERCULOSIS)

BAB I PENDAHULUAN. Dilihat dari berbagai macam segi kehidupan, kesehatan merupakan harta terindah bagi setiap

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh Salmonella Typhi yang masih dijumpai secara luas di berbagai

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II GAMBARAN UMUM OBJEK. sakit umum terbesar di daerah Pekanbaru, Riau. Rumah Sakit ini berada di Jalan

BAB I PENDAHULUAN. Susu merupakan salah satu sumber protein yang baik dikonsumsi oleh

BAB I PENDAHULUAN. rendah, cenderung meningkat dan terjadi secara endemis. Biasanya angka

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. yang terjadi pada usus kecil yang disebabkan oleh kuman Salmonella Typhi.

BAB II TUJUAN PUSTAKA. jalan seperti es dawet, es kelapa muda, dan es rumput laut. Pecemaran oleh

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Sumber penularan penyakit demam typhoid adalah penderita yang aktif,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. Usia anak dibawah lima tahun (balita) merupakan usia dalam masa emas

BAB I PENDAHULUAN. oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara

BAB I PENDAHULUAN. hormon insulin baik secara relatif maupun secara absolut. Jika hal ini dibiarkan

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

E. coli memiliki bentuk trofozoit dan kista. Trofozoit ditandai dengan ciri-ciri morfologi berikut: 1. bentuk ameboid, ukuran μm 2.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. disebabkan oleh Salmonella typhi (Soedarmo, dkk., 2003). Demam typhoid masih

BAB I PENDAHULUAN UKDW. negara berkembang seperti Indonesia (Stella et al, 2012). S. typhii adalah bakteri

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI DI RS ROEMANI RUANG AYUB 3 : ANDHIKA ARIYANTO :G3A014095

Oleh : Seksi Gizi Dinas Kesehatan Provinsi Bali

BAB I PENDAHULUAN. dan keserasian antara perkembangan fisik dan perkembangan mental. Tingkat. lampau, bahkan jauh sebelum masa itu (Budiyanto, 2002).

BAB 1 PENDAHULUAN. dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Pembangunan nasional dapat

BAB I PENDAHULUAN. Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang. disebabkan oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di

BAB I PENDAHULUAN. adalah masalah kejadian penyakit Tifoid (Thypus) di masyarakat.

ETIOLOGI : 1. Ada 5 kategori virus yang menjadi agen penyebab: Virus Hepatitis A (HAV) Virus Hepatitis B (VHB) Virus Hepatitis C (CV) / Non A Non B

TINJAUAN PUSTAKA. melindungi kebersihan tangan. Sanitasi adalah upaya kesehatan dengan cara

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Materi Penyuluhan Konsep Tuberkulosis Paru

BAB 1 PENDAHULUAN. setelah pembedahan tergantung pada jenis pembedahan dan jenis. dilupakan, padahal pasien memerlukan penambahan kalori akibat

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.S DENGAN DEMAM TYPHOID DI BANGSAL SOFA RS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. TB Paru merupakan penyakit yang disebabkan oleh. Mycobacterium tuberculosis, yaitu kuman aerob yang mudah mati dan

BAB I PENDAHULUAN. atraumatic care atau asuhan yang terapeutik. 500/ penduduk dengan angka kematian antara 0,6 5 %.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. akan dikonsumsi akan semakin besar. Tujuan mengkonsumsi makanan bukan lagi

BAB I PENDAHULUAN. subtropis terutama di negara berkembang dengan kualitas sumber air yang tidak

METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Jumlah dan Cara Pengambilan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tema Lomba Infografis Community TB HIV Care Aisyiyah 2016

BAB 1 PENDAHULUAN. adalah masalah kejadian demam tifoid (Ma rufi, 2015). Demam Tifoid atau

BAB VI PEMBAHASAN. subyek penelitian di atas 1 tahun dilakukan berdasarkan rekomendasi untuk. pemberian madu sampai usia 12 bulan.

TEORI SISTEM IMUN - SMA KELAS XI SISTEM IMUN PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN ). Penyakit Typhoid Abdominalis juga merupakan masalah kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Infeksi merupakan masalah terbanyak yang dihinggapi oleh negara yang

UJI ANTIBAKTERI EKSTRAK TANAMAN PUTRI MALU (Mimosa pudica) TERHADAP PERTUMBUHAN Shigella dysentriae

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bumbu bawang merah, bawang putih, jahe, garam halus, tapioka, minyak,

BAB I PENDAHULUAN. Kemampuan fisiologis seseorang akan mengalami penurunan. secara bertahap dengan bertambahnya umur. Proses penuaan ditandai

Awal Kanker Rongga Mulut; Jangan Sepelekan Sariawan

BAB I PENDAHULUAN. masih menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia. Angka kejadian

Fungsi Makanan Dalam Perawatan Orang Sakit

Jangan Sembarangan Minum Antibiotik

BAB II TINJAUAN TEORI. dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. atau dapat pula bercampur lendir dan darah/lendir saja (Ngastiyah, 2005). Pada

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh salmonella typhi, salmonella paratyphi A, salmonella

PENATALAKSANAAN DIIT PADA HIV/AIDS. Susilowati, SKM, MKM.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Infeksi nosokomial adalah infeksi yang ditunjukkan setelah pasien

INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA)

Leukemia. Leukemia / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

Farmakoterapi I Diar dan konstipasi. Ebta Narasukma A, M.Sc., Apt

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Angka Kematian Neonatus (AKN) di Indonesia mencapai 19 per 1.000

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

MIKROORGANISME DALAM PENGEMAS ASEPTIK PENGENDALIAN MUTU MIKROORGANISME PANGAN KULIAH MIKROBIOLOGI PANGAN PERTEMUAN KE-12

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Gambaran Umum Rumah Sakit RSUD dr. Moewardi. 1. Rumah Sakit Umum Daerah dr. Moewardi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Typhoid 1. Pengertian Typhoid Demam Typhoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut yang di sebabkan oleh Salmonella Typhi. Penyakit ini di tandai oleh panas berkepanjangan, di topang dengan bakteremia tanpa keterlibatan struktur endotelial atau endokardial dan invasi bakteri sekaligus multiplikasi ke dalam sel fagosit mononuklear dari hati, limpa, kelenjar limfe usus dan peyer s patch. ( Sumarmo S.dkk 2008 ) Penyebab utama dari penyakit ini adalah mikroorganisme Salmonella Typhosa dan Salmonella Typhi, A, B, dan C. Mikroorganisme ini banyak terdapat di kotoran, tinja manusia dan makanan atau minuman yang terkena mikroorganisme yang di bawa oleh lalat. Sebenarnya sumber utama dari penyakit ini adalah lingkungan yang kotor dan tidak sehat. Tidak seperti virus yang dapat beterbangan di udara, mikroorganisme ini hidup di sanitasi yang buruk seperti lingkungan kumuh, makanan dan minuman yang tidak higenis Manifestas Klinik. ( Ngastiyah, 2005 ) Gejala demam typhoid sering kali muncul setelah 1 sampai 3 minggu terpapar mulai dari tingkat sedang hingga parah. Gejala klasik yang muncul mulai dari demam tinggi, malas, sakit kepala, konstipasi atau diare, Rose-Spot pada dada dan Hepatosplenomegali ( WHO, 2010 ). Rose spot adalah suatu ruam makulopapular yang berwarna merah dengan ukuran 1 sampai 5 mm, sering kali di jumpai pada daerah abdomen, thoraks, ekstremitas dan punggung pada orang kulit putih, tetapi tidak pernah di laporkan di temukan pada anak Indonesia. Ruam ini muncul pada hari ke 7 sampai 10 dan bertahan selama 2 sampai 3 hari. ( Soedarmo et al. 2010 ) Periode inkubasi demam typhoid pada anak antara 5 sampai 40 hari dengan rata-rata 10 sampai 14 hari. Gejala klinis ringan tidak memerlukan 4

5 perawatan, sedangkan gejala klinis berat harus di rawat. Anak mengalami demam tinggi pada sore hingga malam hari dan turun pada pagi hari. Banyak penderita demam typhoid yang di akibatkan kurang masukan cairan dan makanan. ( Soedarmo et al. 2010 ) Penderita typhoid perlu di rawat di rumah sakit untuk isolasi agar penyakit ini tidak menular ke orang lain. Penderita harus istirahat total minimal 7 hari bebas panas. Istirahat total ini untuk mencegah terjadinya komplikasi di usus. Makanan yang di konsumsi adalah makanan lunak dan tidak banyak berserat. Sayuran dengan serat kasar seperti daun singkong harus di hindari, jadi harus benar-benar di jaga makanannya untuk memberi kesempatan kepada usus menjalani upaya penyembuhan. (Soedarto, 2007 ) 2. Epidemiologi Demam typhoid masih merupakan masalah kesehatan sedang bergembang. Besarnya angka kasus demam typhoid di dunia ini sangat sukar di tentukan sebabab penyakit ini di kenal mempunyai gejala dengan spektrum klinisnya sangat luas. Di perkirakan angka kejadian dari 150/100.000/tahuan di Amerika Selatan dan 900/100.000/tahun di Asia. Umur di Indonesia ( daerah endemis ) di laporkan antara 3 smpai 19 tahun mencapai 91% kasus. Angka yang kurang lebih sama juga di laporkan dari Amerika Selatan. Salmonella Typhi dapat hidup dalam tubuh manusia ( manusia sebagai natural reservoir). Manusia yang terinfeksi Salmonella Typhi dapat mengeksresikanya melalui sekret saluran nafas, urin dan tinja dalam jangka waktu yang sangat bervariasi. Salmonella Typhi yang berada di luar tubuh manusia dapat hidup untuk beberapa minggu apabila berada di dalam air, es, debu atau kotoran yang kering maupun pada pakian. Akan tetapi Salmonella Typhi hanya dapat hidup kurang dari 1 minggu pada raw sewage, dan mudah di matikan dengan klorinasi dan pasteurisasi (temperatur 63 0 C ).

6 Terjadinya penularan Salmonella Typhi sebagian besar melalui minuman atau makanan yang tercemar oleh mikroorganisme yang berasal dari penderita atau pembawa mikroorganisme biasanya keluar bersamasama dengan tinja ( melalui rute oral fekal, jalur oro, fenal ). Dapat juga terjadi transmisi transplasental dari seorang ibu hamil yang berada dalam bakteremia ke pada bayinya, pernah di laporkan pula transmisi oro fekal dari seorang ibu pembawa mikrooranisme pada saat proses kelahirannya kepada bayinya dan sumber mikroorganisme berasal dari labolatorium peneliti. ( Sumarmo S.dkk 2008 ) 3. Etiologi Salmonella typhi sama dengan Salmonella lain adalah bakteri Gram negatif mempunyai flagela tidak berkapsul dan tidak membentuk spora fakultatif anaerob. Mempunyai anti gensomatik ( O ) yang terdiri dari oligosakarida, flagelar antigen ( H ) yang terdiri dari protein dan envelope antigen ( K ) yang tediri dari polisakarida. Mempunyai makromolekuler lipopolisakarida kompleks yang membentuk lapisan luar dari diding sel yang di namakan endotoksin. Salmonella Typhi juga dapat memperoleh plasmid faktor R yang berkaitan dengan resistensi terhadap multipel antibiotik. ( Sumarmo S.dkk 2008 ) 4. Patofisiologi Patofisiologi demam typhoid melibatkan 4 proses kompleks mengikuti ingesti organisme Yaitu: (1) Penempelan dan invasi sel-sel M Peyer s patch, (2) mikroorganisme bertahan hidup dan bermultiplikasi di makrofag Peyer s patch, nodus limfatikus mesenterikus dan organ-organ ekstra intestinal sistem retikuloendotelial, (3) mikroorganisme bertahan hidup di dalam aliran darah, (4) produksi enterotoksin yang meningkatkan kadar CAMP di dalam kripta usus dan menyebabkan keluarnya elektrolit dan air ke dalam lumen intestinal. ( Soedarmo et al. 2010 ) Mikroorganisme Salmonella Typhi dan Salmonella parathyphi masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan atau minuman terkontaminasi. Sebagian mikroorganisme di musnahkan dalam lambung dengan ph <2,

7 sebagian lolos masuk ke dalam usus dan selanjutnya berkembang biak. Bila respon imunitas humoral mukosa ( IgA ) usus kurang baik maka mikroorganisme akan menembus sel-sel epitel ( terutama sel M ) dan selanjutnya ke lamina propia. Propia mikroorganisme berkembang biak dan difagosit oleh makrorag. Mikroorganisme dapat hidup dan berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya di bawa ke Plak Peyeriileum Distal kemudian ke kelenjar getah bening mesenterika. ( Sudoyo et al. 2009 ) 5. Diagnosis Diagnosis di tegakkan berdasarkan gejala klinis berupa demam, gangguan gastrointestinal dan mungkin di sertai perubahan dan gangguan kesadaran dengan kriteria ini maka seorang klinis dapat membuat diagnosis tersangka demam typhoid. Diagnosis pasti di tegakkan melalui isolasi ( Salmonella Typhi ) dari darah. Pada dua minggu pertama sakit, kemungkinan mengisolasi ( Salmonella Typhi ) dari dalam darah pasien lebih besar dari pada minggu berikutnya. Biakan spesimen yang beasal dari aspirasi sumsum tulang mempunyai sensitivitas tertinggi, hasil positif di dapat pada 90% kasus. Akan tetapi prosedur ini sangat invasif sehingga tidak di gunakan dalam praktek sehari-hari. Pada keadaan tertentu dapat di lakukan biakan spesimen empedu yang di ambil dari duodenum dan memberikan hasil yang cukup baik. Pemeriksaan demam typhoid ada beberapa jenis yaitu untuk mendeteksi atibodi ( Salmonella Typhi ) dalam serum antigen tehadap Salmonella Typhi dalam darah, serum, urin dan DNA ( Salmonella Typhi ) dalam darah dan faeses polymerase chain reaction telah di gunakan untuk memperbanyak gen salmonella sel. Typhoid secara spesifik pada darah pasien dan hasil dapat di peroleh hanya dalam beberapa jam. Metode ini spesifik dan lebih sensitif di banding dengan biakan darah. ( Sumarmo S.dkk 2008 )

8 6. Pencegahan Secara umum untuk memperkecil kemungkinan tercemar (Salmonella Typhi ) maka setiap individu harus memperhatikan kualitas makanan dan minuman yang mereka konsumsi. Salmonella Typhi di dalam air akan mati apabila di panaskan setinggi 57 0 C untuk beberapa menit atau dengan proses iodinasi atau klorinasi. Untuk makanan pemanasan sampai suhu 57 0 C beberapa menit dan secara merata juga dapat mematikan kuman Salmonella typhi. Penurunan endemisitas suatu negara atau daerah tergantung baik pada baik buruknya pengadaan sarana air dan pengaturan pembuangan sampah serta tingkat kesadaran individu terhadap higiene pribadi. Imunisasi aktif dapat membantu menekan angka kejadian demam typhoid. ( Sumarmo S.dkk 2008 ) 7. Diet Diet merupakan hal yang penting dalam proses penyembuhan penyakit karena makanan yang kurang akan menurunkan keadaan umum dan gizi penderita akan semakin turun sehingga proses penyembuhan akan semakin lama. Penderita demam typhoid di beri makan bubur untuk menghindari perforasi usus. Pemberian makanan padat seperti nasi beserta lauk pauk rendah selulosa ( menghidari sementara sayuran yang tinggi serat) dapat di berikan dengan aman pada pasien demam typhoid. (Sudoyo et al, 2009) B. Pemberian dukungan gizi bagi orang sakit Bukan merupakan tindakan yang berdiri sendiri dan terpindah dari tindakan perawatan dan pengobatan pengaturan makan, perawatan penyakit dan pengobatan merupakan satu kesatuan dalam proses penyembuhan penyakit. Malnutrisi dapat timbul sejak sebelum di rawat di rumah sakit karena penyakitnya atau asupan zat gizi yang tidak cukup namun tidak jarang pula malnutrisi ini timbul selama di rawat di rumah sakit. Penurunan status gizi dapat menyebabkan angka mortalitas naik dan memperpanjang lama hari rawat.

9 C. Lama hari rawat Lama hari rawat berhubungan erat dengan mutu dan efisiensi rumah sakit, dan jumlah pengeluaran biaya oleh keluarga pasien, agar dapat mewujudkan kepuasan pasien dan keluarga pasien dengan mengetahui faktorfaktor yang terkait dengan lama hari rawat, maka hal tersebut dapat di gunakan untuk meningkatkan kinerja rumah sakit. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi lama hari rawat yaitu umur, perawatan sebelumnya, dan alasan pemulangan pasien. ( Setiawan, 2009 ) D. Asupan Energi Asupan energi seseorang menurut FAO/WHO (2005) adalah konsumsi energi berasal dari makanan yang di perlukan untuk menutupi pengeluaran energi seseorang bila mempunyai ukuran dan komposisi tubuh dengan tingkat aktivitas yang sesuai kesehatan jangka panjang untuk memelihara aktivitas fisik yang di butuhkan. Energi basal metabolisme selalu di pengaruhi oleh beberap faktor yaitu : ukuran tubuh, jenis kelamin, umur dan komposisi tubuh. ( Almatsier, 2005 ) E. Asupan protein Protein di perlukan untuk sebagian besar proses metabolik terutama pertumbuhan, perkembangan dan maintenance merawat jaringan tubuh (Suandi, 2004). Protein sebagai pemasok energi dapat di berikan dalam jumlah sedang tetapi sebaiknya 20-25% dari jumlah total kalori. (Arisman, 2004) Diet demam typhoid adalah diet yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan makan penderita typhoid dalam bentuk makanan lunak rendah serat. Tujuan utama diet demam typhoid adalah memenuhi kebutuhan nutrisi penderita demam typhoid dan mencegah kekambuhan. Penderita penyakit demam typhoid selama menjalani perawatan harus mengikuti petunjuk diet yang di anjurkan. Makanan dengan rendah serat dan rendah sisa bertujuan untuk memberikan makanan sesuai kebutuhan gizi

10 yang sedikit mungkin meninggalkan sisa sehingga dapat membatasi volume feses dan tidak merangsang saluran cerna. Pemberian bubur saring juga di tujukan untuk menghindari terjadinya komplikasi perdarahan saluran cerna atau perforasi usus. Syarat-syarat diet sisa rendah adalah energi cukup sesuai dengan umur, jenis kelamin dan aktivitas. Protein cukup10-15% dari kebutuhan energi total, lemak sedang 10-25% dari kebutuhan energi total, Karbohidrat cukup yaitu sisa kebutuhan energi total, menghindari makanan berserat tinggi dan sedang sehingga asupan serat maksimal 8 gr/hari. (Utami, 2010) F. Status Gizi Status gizi adalah salah satu aspek status kesehatan yang di hasilkan dari asupan, penyerapan, dan penggunaan pangan serta terjadinya infeksi, trauma, dan faktor metabolik yang mungkin terjadi karena adanya patologi. Status makanan merupakan salah satu aspek yang mengacu pada konsumsi pangan seseorang, kelompok pangan atau zat gizi. Status makanan dan status gizi tidak sepenuhnya sama karena konsumsi pangan tidak hanya faktor yang temasuk dalam faktor penyebab tetapi, asupan makanan diperlukan untuk menjaga kesehatan. ( Rippe, 2001 ) G. Hubungan Asupan Energi Dan Protein Dengan Lama Hari Rawat Makanan yang kaya zat gizi berasal dari bahan makanan yang di antaranya mengandung sumber energi dan protein tinggi. Tingkat asupan energi dan protein sangat mempengaruhi terhadap status gizi seseorang terutama pada anak-anak di mana masih dalam masa pertumbuhan. Asupan energi di perlukan tubuh sebagai zat tenaga dan asupan protein di perlukan sebagai zat pembangun bagi tubuh. Keduanya berperan penting dalam tubuh untuk mengetahui status gizi seseorang yang dapat di ukur dengan berbagai macam pengukuran antropometri. ( Supariasa, 2001 )

11 Tingkat kecukupan energi dan protein akan mempengaruhi satus gizi pasien yang kemudian akan berpengaruh pada lama masa rawat di rumah sakit. ( Hariyanti, 2005 )

12 H. Kerangka Teori Kualitas SDM Mutu pelayanan Psikologis Asupan Energi Asupan Protein Status Gizi Lama Hari Rawat I. Kerangka Konsep Asupan energi Asupan Protein Lama hari rawat J. Hipotesis 1. Ada hubungan asupan energi dengan lama hari rawat penderita demam typhoid. 2. Ada hubungan asupan protein dengan lama hari rawat pederita demam typhoid.