ADJEKTIVA SYARAH HARZSALISTIAN

dokumen-dokumen yang mirip
ADJEKTIVA BAHASA INDONESIA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pernah diteliti baik mahasiswa di luar daerah maupun yang berada di Molibagu.

anak manis D M sebatang rokok kretek M D M sebuah rumah mewah M D M seorang guru M D

LAPORAN PERISTIWA KECELAKAAN KERETA API

UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2007 TENTANG PERKERETAAPIAN [LN 2007/65, TLN 4722]

PERENCANAAN JALUR LINTASAN KERETA API DENGAN WESEL TIPE R54 PADA EMPLASEMEN STASIUN ANTARA PASURUAN - JEMBER ( KM KM ) TUGAS AKHIR

TATA KATA DAN TATA ISTILAH BAHASA INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan sektor transportasi merupakan salah satu subsektor penting dalam

contrastive analysis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

D E P A R T E M E N P E R H U B U N G A N Komite Nasional Keselamatan Transportasi

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB III LANDASAN TEORI. A. Kajian Pola Operasi Jalur Kereta Api Ganda

BAB I PENDAHULUAN. manufaktur dan lain sebagainya. Sementara dari sisi masyarakat,

2017, No Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. kereta api, dapat diambil beberapa kesimpulan tentang penyebab kecelakaan

2013, No Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negar

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2017, No Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pe

P E N J E L A S A N ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN KERETA API

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hidup pada era modern seperti sekarang ini, mengharuskan manusia

LANGGAR ATURAN SANKSI MENUNGGU TAHAP II

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. A. Kesimpulan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1990

2018, No Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 176, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5086), sebagaimana telah diubah dengan Perat

2013, No Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara sebagaimana telah diubah terakhir deng

2017, No Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pe

BAB I PENDAHULUAN. dalam masyarakat dapat dikatakan baik apabila transportasi tersebut dapat

STUDI MANAJEMEN DAN BIAYA PEMELIHARAAN SERTA PENINGKATAN REL KERETA API

2017, No Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Pera

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini bangsa Indonesia mengalami perkembangan dan kemajuan di segala

, No.2007 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 65, Tamb

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Bahasa adalah suatu alat komunikasi pada manusia untuk menyatakan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2007 TENTANG PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. di luar bahasa, dan yang dipergunakan akal budi untuk memahami hal-hal tersebut

KLASIFIKASI EMOSIONAL DALAM UNGKAPAN BAHASA INDONESIA YANG MENGGUNAKAN KATA HATI

D E P A R T E M E N P E R H U B U N G A N Komite Nasional Keselamatan Transportasi

LAPORAN PERISTIWA KECELAKAAN KERETA API

BAB I PENDAHULUAN. Tabel I. 1 Data Kecelakaan Kereta Api

Nama Binatang Sebagai Komponen Pembentuk Kompositum. Oleh Shaila Yulisar Balafif. Abstrak

REKAYASA JALAN REL. MODUL 8 ketentuan umum jalan rel PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2007 TENTANG PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 1998 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN KERETA API PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Anggaran dari negara juga diperbolehkan untuk mengontrak rumah bagi korban, bantuan. Negara Ganti Rugi Korban Lumpur Lapindo RP 1.

a. bahwa dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 1992 tentang Perkeretaapian telah diatur ketentuan-ketentuan mengenai lalu lintas dan angkutan kereta api;

PENINJAUAN TINGKAT KEHANDALAN LINTAS KERETA API MEDAN - RANTAU PARAPAT

2017, No Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Per

Sambutan Presiden RI pd Pembukaan Kongres Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, Sumut, Apr 2015 Sabtu, 18 April 2015

LAMPIRAN C DAFTAR ISTILAH

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Penelitian

NASKAH PUBLIKASI KELAS KATA DAN BENTUK KALIMAT DALAM KALIMAT MUTIARA BERBAHASA INDONESIA SERTA TATARAN PENGISINYA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 1998 TENTANG PRASARANA DAN SARANA KERETA API PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. pemandangan sehari-hari dikota-kota besar di Indonesia. Dalam suatu sistem jaringan

BAB III LANDASAN TEORI

kelompok nomina modifikatif (mewatasi)

*35899 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 69 TAHUN 1998 (69/1998) TENTANG PRASARANA DAN SARANA KERETA API PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 1998 TENTANG PRASARANA DAN SARANA KERETA API PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG PENERBANGAN [LN 2009/1, TLN 4956] Pasal 402

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

2 2015, No.322 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4722) 3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publi

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 52 TAHUN 2000 TENTANG JALUR KERETA API MENTERI PERHUBUNGAN,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1990 TENTANG JALAN TOL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB III LANDASAN TEORI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 1998 TENTANG PRASARANA DAN SARANA KERETA API PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

2017, No Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 129, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5048); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Ta

BAB 1 : PENDAHULUAN. tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan di ruang lalu lintas jalan.

BAB III LANDASAN TEORI. A. Tipikal Tata Letak dan Panjang Efektif Jalur Stasiun

a. Pengertian 5. N+FP 6. Ar+N b. Struktur Frasa Nomina 7. yang+n/v/a/nu/fp 1. N+N 2. N+V 8. Nu+N 3. N+A 4. N+Nu

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

ANALISIS PENYEBAB TERJADINYAA KERETA API SERTA USAHA PREFENTIF YANG DAPAT DILAKUKAN

BAB VI TATARAN LINGUISTIK SINTAKSIS

UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 1992 TENTANG PENERBANGAN [LN 1992/53, TLN 3481]

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi merupakan salah satu bagian penting dari

BAB III LANDASAN TEORI. A. Jenis jenis dan Bentuk Tata Letak Jalur di Stasiun

Apa itu sintaksis Sitindoan: Sintaksis ialah cabang dari tata bahasa yang mempelajari hubungan kata atau kelompok kata dalam kalimat dan menerangkan h

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. manusia untuk membawa barang melewati jalan setapak. Seiring dengan

BAB I PENDAHULUAN. dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Transportasi berperan penting dalam

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

Bab XXI : Menyebabkan Mati Atau Luka-Luka Karena Kealpaan

BAB II LANDASAN TEORI

Mengelompokkan Kata, Bentuk Kata, Ungkapan, dan Kalimat Berdasarkan Kelas Kata dan Makna Kata

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Transportasi merupakan sarana yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan

Perencanaan Jalur Ganda Kereta Api Lintas Cirebon Kroya Koridor Prupuk Purwokerto BAB I PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Peran dan Karakteristik Angkutan Kereta Api Nasional

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sekelompok objek, peristiwa atau fenomena lainnya. Woodruff ( dalam Amin, 1987 ),

Transkripsi:

ADJEKTIVA SYARAH HARZSALISTIAN 06 313 1211 016

PENGERTIAN *Adjektiva adalah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat. Adjektiva yang memberikan keterangan terhadap nomina itu berfungsi atributif. Keterangan itu dapat mengungkapkan suatu kualitas atau keanggotaan dalam suatu golongan. * Adjektiva adalah kata yang menjelaskan kesifatan atau keadaan suatu benda atau yang di bendakan,biasanya disertai kata keterangan amat,paling,dan sangat.

Menurut Harimurti Kridalaksana bentuknya kata sifat dapat berupa : 1. Adjektiva Dasar 2. Adjektiva Turunan 3. Adjektiva Majemuk

1. Adjektiva Dasar Sebagian besar adjektiva dasar merupakan bentuk yang monomorfemis, meskipun ada yang berbentuk perulangan semu. Contoh: arif, anggun, rajin, malas, besar, mewah,adil,cerah. 2. Adjektiva Turunan a. Adjektiva turunan berafiks, misalnya: prefiks se-, contoh: secantik, semahal, seluas dan dengan prefiks ter-, contoh: terpandai, terlama, terbaru,terhormat.

b.. Adjektiva turunan bereduplikasi contoh: elok-elok, kecil-kecil, mudamuda, gagah-gagah,ringan-ringan. c. Adjektiva berafiks ke-r-an atau ke-an, misalnya: Kebelanda-belandaan, kemalu-maluan, kesakitan,kesepian d.. Adjektiva berafiks I (atau alomorfnya),misalnya: Abadi (abad), alami, alamiah )alam,duniawi )dunia, gerejani (gereja), hewani(hewan),ilmiah(ilmu),insani(insan,jasadi(jasad). -

E..Adjektiva yang berasal dari berbagai kelas dengan proses-proses berikut: a. deverbalisasi: mencekam, terhormat, terpaksa, tersinggung. b. denominalisasi: berapiapi,berbisa,berbuih,membudaya,melembaga c. deadverbialisasi: berkurang, bertambah d. denumeralia: manunggal, mendua, menyeluruh. e. deinterjeksi: aduhai, asoi, sip, wah, yahud

3. Adjektiva majemuk yaitu adjektiva yang merupakan gabungan morfem terikat dengan morfem bebas dan ada yang merupakan gabungan dua morfem bebas. Kridalaksana menyebut adjektiva gabungan morfem terikat dengan morfem bebas dengan istilah adjektiva majemuk subordinatif, dan adjektiva gabungan dua morfem bebas dengan istilah adjektiva majemuk koordinatif.

Adjektiva majemuk di bagi kedalam 2 bagian : a. Subordinatif Berat lidah, besar mulut,buta hari, buta huruf,kepala dingin, murah hati, pahit lidah,panas hati,cepat lidah,besar mulut. B. Koordinatif Aman sentausa, baik buruk, besar kecil, lemah gemulai, suka duka, porak poranda, riang gembira, sehat walafiat,gagah perkasa.

Kategori Adjektiva Ada dua macam kategori adjektiva : A. 1. Ajektiva predikatif, yaitu ajektiva yang dapat menempati posisi predikat dalam klausa, misalnya: gedung yang baru itu sangat megah 2. Ajektiva atributif, yaitu ajektiva yang mendampingi nomina dalam frase nominal,tempatnya sebelah kanan nomina. Contoh: buku merah, harga mahal. Jika katanya lebih dari satu, rangkaiannya itu lazimnya dihubungkan oleh kata yang. Contohnya: baju putih yang panjang dan bersih.

B.1. Ajektiva bertaraf Ajektiva bertaraf yang mengungkapkan suatu kualitas yakni yang dapat berdampingan dengan agak.sangat, seperti pekat,makmur 2. Ajektiva tak bertaraf Ajektiva tak bertaraf yang mengungkapkan keanggotaan dalam suatu golongan. yakni yang tidak dapat berdampingan dengan agak,sangat, seperti nasional,intern

Jenis kata adjektiva ( kata sifat ) Ada sembilan jenis kata adjektif : 1. Kata adjektif sifat / keadaan 2. Kata Adjektif Warna 3. Kata Adjektif Ukuran 4. Kata Adjektif Bentuk 5. Kata Adjektif Jarak 6. Kata Adjektif Waktu 7. Kata Adjektif Perasaan 8. Kata Adjektif Cara 9. Kata Adjektif Pancaindera

O Contoh wacana Salah Urus Kereta Lagi-lagi kecelakaan kereta api terjadi. Kereta api Citra Jaya terguling di Cibatu, Jawa Barat, Sabtu lalu. Pada hari yang sama, sepur eksekutif Argo Lawu juga anjlok di Banyumas, Jawa Tengah. Ini makin menunjukkan perkeretaapian kita dalam kondisi gawat. Pemerintah mesti segera membenahinya sebelum korban jatuh lebih banyak akibat kecelakaan. Musibah kereta api Argo Lawu tak memakan korban. Tapi kecelakaan kereta Citra Jaya menyebabkan puluhan orang terluka. Daftar kecelakaan pun bertambah panjang. Dalam kurun waktu empat bulan terakhir sudah terjadi 10 kali kecelakaan kereta api. Angka ini naik hampir tiga kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu. Tidaklah salah pernyataan Menteri Perhubungan Hatta Rajasa kemarin bahwa anjloknya dua sepur itu seharusnya bisa dideteksi. Tandatanda amblesnya tanah di bawah bantalan rel kereta tentu bisa diamati jauh hari. Dengan kata lain, semestinya manajemen PT Kereta Api lebih serius mengawasi jalur kereta api. Persoalannya, Pak Menteri Cuma melihat sisi ketidakberesan PT Kereta Api. Yang terjadi sebenarnya O pemerintah juga salah urus perusahaan ini sehingga terus merugi. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, Rp 1,4 triliun per tahun. Inilah yang menyebabkan perusahaan milik negara tersebut tak sanggup memberikan layanan yang baik. Kerugian besar muncul karena PT Kereta Api diwajibkan memelihara jaringan rel di Indonesia. Total duit yang dikeluarkan untuk perawatan reguler per tahun mencapai Rp 2,1 triliun. Sementara itu, anggaran dari pemerintah hanya Rp 750 miliar. Di luar perawatan rutin, PT Kereta Api jelas tak mampu lagi menanggungnya. Padahal sebagian besar bantalan rel itu perlu diganti. Dari total panjang lintasan rel kereta api 4.676 kilometer, separuh lebih berusia di atas 50 tahun. Jangan heran jika banyak bantalan rel yang sudah lapuk. Kondisi ini sangat mudah membuat kereta api anjlok. Faktanya, sebagian besar kecelakaan kereta api yang terjadi pada 2001-2006 akibat kurang beresnya rel. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional tahun lalu menghitung dibutuhkan Rp 6 triliun untuk menyehatkan kereta api dan jaringan rel.

Dalam keadaan anggaran negara yang sedang tekor, angka itu memang tampak besar. Tapi, kalau pemerintah bisa menalangi Lapindo Brantas Inc. Sekitar Rp 7,5 triliun buat membangun infrastruktur di Porong Sidoarjo, kenapa untuk urusan yang ini tidak? Pemerintah tak perlu ragu mengucurkan dana untuk pembenahan perkeretaapian. Jika dikelola dengan benar, kereta api sebetulnya berpotensi menunjang perekonomian. Dengan pengelolaan di bawah standar pun, setiap tahun kereta api mampu mengangkut 150 juta penumpang dan 5 juta ton barang. Kalau ditangani lebih baik, jumlah penumpangnya tentu akan jauh meningkat. Pendapatan PT Kereta Api pun akan bertambah. Membiarkan kereta api berlari di atas bantalan rel yang lapuk atau tak terurus sungguh berbahaya. Jika pemerintah peduli keselamatan warganya, kondisi perkeretaapian yang amburadul harus segera dibenahi.

Hasil Analisis 1. Kata Adjektiva Keadaan: Gawat,Amburadul,sanggup,bisa,naik, Mudah,mampu,tekor,meningkat,bertambah 2. Kata Adjektiva Warna: Hitam dan putih 3. Kata Adjektiva Ukuran:Panjang,besar 4. Kata Adjektiva Bentuk: saya tidak menemukan 5. Kata Adjektiva Jarak: Jauh 6. Kata Adjektiva Waktu:saya tidak menemukan 7. Kata Adjektiva Perasaan: Ragu,serius,baik 8. Kata Adjektiva Cara: Saya tidak menemukan 9. Kata Adjektiva Pancaindra: Saya tidak menemukan

Saya menganalisis pula kata sifat yang terdapat pada wacana tersebut dalam bentuk kata nya dan kategori-kategorinya. Di Adjektiva dasar terdapat kata : *Gawat,panjang,naik,bisa,jauh,seurius,sanggup,baik,m ampu,besar,lapuk,mudah,kurang,tekor,ragu,amburadul. Di Adjektiva turunan yang berasal dari berbagai kelas dengan proses-proses terdapat kata : * Bertambah,itu merupakan deadverbialisasi Contoh lainnya seperti Adjektiva yang bertaraf yang dapat di ikuti oleh kata sangat,agak : Agak besar,sangat mudah,lebih baik Di Adjektiva Predikatif terdapat kalimat : Kondisi ini sangat mudah. Di Adjektiva Atributif terdapat kalimat : Kondisi perkeretaapian yang amburadul dan buruk.

TERIMA KASIH