BPS PROVINSI JAWA TENGAH

dokumen-dokumen yang mirip
BPS PROVINSI JAWA TENGAH

BPS PROVINSI JAWA TENGAH

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH AGUSTUS 2011: TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA SEBESAR 5,93 PERSEN

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

Keadaan Ketenagakerjaan Provinsi Jawa Tengah Agustus 2017

ASPEK : PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMAKAIAN KONTRASEPSI INDIKATOR : HASIL PEROLEHAN PESERTA KB BARU

I. PENDAHULUAN. cepat, sementara beberapa daerah lain mengalami pertumbuhan yang lambat.

KONDISI KETENAGAKERJAAN DAN PENGANGGURAN NUSA TENGGARA TIMUR AGUSTUS 2010

BERITA RESMI STATISTIK

ASPEK : PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMAKAIAN KONTRASEPSI INDIKATOR : HASIL PEROLEHAN PESERTA KB BARU

BAB I PENDAHULUAN. berinteraksi mengikuti pola yang tidak selalu mudah dipahami. Apabila

BAB 3 GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN DAN KEUANGAN DAERAH KAB/KOTA DI JAWA TENGAH

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 PROVINSI JAWA TENGAH

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2013

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK

Gambar 4.1 Peta Provinsi Jawa Tengah

ASPEK : PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMAKAIAN KONTRASEPSI INDIKATOR : HASIL PEROLEHAN PESERTA KB BARU

BADAN PUSAT STATISTIK PROPINSI KEPRI

PROVINSI JAWA TENGAH. Data Agregat per K b t /K t

BAB I PENDAHULUAN. terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan kekhasan daerah

Lampiran 1. Data Penelitian No Kabupaten Y X1 X2 X3 1 Kab. Cilacap Kab. Banyumas Kab.

BAB 1 PENDAHULUAN. dan Jusuf Kalla, Indonesia mempunyai strategi pembangunan yang

BAB I PENDAHULUAN. yang melibatkan seluruh kegiatan dengan dukungan masyarakat yang. berperan di berbagai sektor yang bertujuan untuk meratakan serta

TABEL 4.1. TINGKAT KONSUMSI PANGAN NASIONAL BERDASARKAN POLA PANGAN HARAPAN

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 7 TAHUN 2018 TAHUN 2012 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. turun, ditambah lagi naiknya harga benih, pupuk, pestisida dan obat-obatan

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB I PENDAHULUAN. meningkat. Kemampuan yang meningkat ini disebabkan karena faktor-faktor. pembangunan suatu negara (Maharani dan Sri, 2014).

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Sektor industri mempunyai peranan penting dalam pembangunan ekonomi

GUBERNUR JAWA TENGAH

EVALUASI DAERAH PRIORITAS PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAN PENARGETAN BERBASIS WILAYAH

KATA PENGANTAR. Demikian Buku KEADAAN TANAMAN PANGAN JAWA TENGAH kami susun dan semoga dapat digunakan sebagaimana mestinya.

GUBERNUR JAWA TENGAH

BAB I PENDAHULUAN. menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 27 TAHUN 2015 TENTANG

KONDISI UMUM PROVINSI JAWA TENGAH

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2015

GUBERNUR JAWA TENGAH

Gambar 1 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Tengah,

BAB I PENDAHULUAN. World Bank dalam Whisnu, 2004), salah satu sebab terjadinya kemiskinan

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2015

BAB III METODE PENELITIAN

PENEMPATAN TENAGA KERJA. A. Jumlah Pencari Kerja di Prov. Jateng Per Kab./Kota Tahun 2016

PENEMPATAN TENAGA KERJA

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu Provinsi di Jawa, letaknya diapit

BAB I PENDAHULUAN. untuk meningkatan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) di tingkat

LUAS TANAM, LUAS PANEN DAN PREDIKSI PANEN PADI TAHUN 2016 DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA PROVINSI JAWA TENGAH

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

HASIL SENSUS PERTANIAN 2013 (ANGKA TETAP)

TABEL 2.1. ESTIMASI KETERSEDIAAN PANGAN JAWA TENGAH 2013 ASEM _2012

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumber-sumber yang ada

KEGIATAN PADA BIDANG REHABILITASI SOSIAL TAHUN 2017 DINAS SOSIAL PROVINSI JAWA TENGAH

RUANG LINGKUP KERJA DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI PROVINSI JAWA TENGAH

Keadaan Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Tengah April 2015

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 116 TAHUN 2016 TENTANG

KEADAAN KETENAGAKERJAAN SUMATERA UTARA FEBRUARI 2017

KEADAAN KETENAGAKERJAAN SUMATERA UTARA FEBRUARI 2016

GUBERNUR JAWA TENGAH

BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan pembangunan ekonomi tradisional. Indikator pembangunan

DINAS ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PROVINSI JAWA TENGAH

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

GUBERNUR JAWA TENGAH,

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

BOKS PERKEMBANGAN KINERJA BPR MERGER DI JAWA TENGAH

BAB I PENDAHULUAN. sampai ada kesenjangan antar daerah yang disebabkan tidak meratanya

KEADAAN KETENAGAKERJAAN KALIMANTAN SELATAN FEBRUARI 2012

KETENAGAKERJAAN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BAB I PENDAHULUAN. keadilan sejahtera, mandiri maju dan kokoh kekuatan moral dan etikanya.

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

GUBERNUR JAWA TENGAH

PEDOMAN PENYUSUNAN JAWABAN TERMOHON TERHADAP PERMOHONAN PEMOHON (PERSEORANGAN CALON ANGGOTA DPD)

BAB I PENDAHULUAN. rakyat. Untuk mencapai cita-cita tersebut pemerintah mengupayakan. perekonomian adalah komponen utama demi berlangsungnya sistem

TIM KOORDINASI PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAERAH KABUPATEN KENDAL. 0 Laporan Pelaksanaan Penanggulangan Kemiskinan Daerah (LP2KD) Kabupaten Kendal

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Tembakau merupakan salah satu komoditas perdagangan penting di dunia. Menurut Rachmat dan Sri (2009) sejak tahun

1.1. UMUM. Statistik BPKH Wilayah XI Jawa-Madura Tahun

REKAPITULASI PESERTA PAMERAN SOROPADAN AGRO EXPO 2017 TANGGAL JULI 2017

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH


I. PENDAHULUAN. negara untuk mengembangkan outputnya (GNP per kapita). Kesejahteraan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

KEADAAN KETENAGAKERJAAN FEBRUARI 2016

KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 561.4/52/2008 TENTANG UPAH MINIMUM PADA 35 (TIGA PULUH LIMA) KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2009

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI KEPULAUAN RIAU KEADAAN KETENAGAKERJAAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU FEBRUARI 2016

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

DAFTAR NOMINASI SEKOLAH PENYELENGGARA UN CBT TAHUN 2015

GUBERNURJAWATENGAH. PERATURANGUBERNUR JAWA TENGAH NOM0R '2 TAJroJii 2e15 TENTANG

KATA PENGANTAR. Semarang, 22 maret 2018 KEPALA STASIUN. Ir. TUBAN WIYOSO, MSi NIP STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG

Transkripsi:

BPS PROVINSI JAWA TENGAH No. 08/05/33/Th.I, 15 Mei 2007 TINGKAT PENGANGGURAN DI JAWA TENGAH MENURUN 0,1% Tingkat Penganguran Terbuka di Jawa Tengah pada Februari 2007 adalah 8,10%. Angka ini 0,10% lebih rendah dibandingkan dengan Tingkat Pengangguran Terbuka pada Februari 2006 yang berada pada angka 8,20%. Meskipun TPT menurun, tetapi jumlah orang yang menganggur bertambah sebanyak 14.632 orang. Pada Februari 2006 jumlah pengangguran sebanyak 1.422.256 orang menjadi 1.436.888 orang pada Februari tahun 2007. Pada Februari 2007 jumlah angkatan kerja betambah sebanyak 387.483 orang angkatan kerja baru, sehingga jumlah angkatan kerja menjadi 17.737.595 orang. Jumlah yang terserap bekerja sebanyak 16.300.707 orang (91,90%) dan yang tidak terserap sebanyak 1.436.888. orang (8,10%). Sektor yang paling banyak menyerap angkatan kerja adalah sektor pertanian yang mengambil 6.627.356 orang atau 40,7%, kemudian sektor Perdagangan yang menyerap 3.524.369 orang atau 21,6% dan sektor Jasa Kemasyarakatan yang menampung 1.619.766 orang atau 9,9% dari orang yang bekerja. Berita Resmi Statistik No.08/05/33/Th.1, 15 Mei 2007 1

1. ANGKATAN KERJA Jumlah penduduk berusia 15 tahun atau lebih, yaitu penduduk yang termasuk sebagai kelompok usia kerja, pada tahun Februari 2007 sebanyak 24.904.805 orang, atau bertambah sebanyak 503.407 orang dari jumlah penduduk usia kerja Februari 2006. Dari kelompok usia kerja tersebut sebanyak 17.737.595 orang termasuk sebagai angkatan kerja atau biasa disebut sebagai Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (71,22%) dan sisanya sebanyak 7.167.210 orang (28,78%) bukan angkatan kerja. Kelompok angkatan kerja adalah kelompok orang yang bekerja maupun yang sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, dll. Kelompok yang yang bekerja sebanyak 16.300.707 (91.90%) orang dan pengangguran sebanyak 1.436.888 orang atau umum mengenal sebagai Tingkat Pengangguran Terbuka (8.10%). Kondisi Februari 2006, struktur angkatan kerja dibandingkan bukan angkatan kerja adalah 71,10% dan 28,90%. Ini berarti terjadi perubahan sedikit pada Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja yang membaik sebesar 0,12%. Sementara Tingkat Pengangguran Terbuka Februari 2006 berada pada tingkat 8,20%. Ini berarti tingkat pengangguran terbuka juga menurun, dengan laju 0,10%. Jumlah penduduk yang setengah menganggur meningkat dari 5.063.310 orang menjadi 5.129.670 orang atau bertambah 66.360 orang. Peningkatan jumlah setengah penganggur ini tidak secepat peningkatan penyerapan tenaga kerja sehingga Tingkat Setengah Menganggur menurun dari 29,18% menjadi 28,93%. Jumlah penduduk penganggur terpaksa, yaitu yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu dan masih mencari penghasilan tambahan, naik dari 2.180.462 orang menjadi 2.664.689 orang atau bertambah sebanyak 484.227 orang, tetapi penganggur sukarela menurun sebanyak 417.867 orang. Angkatan Kerja Tabel 1.1 Penduduk 15 tahun ke atas menurut kegiatan terbanyak, 2005 - Peb 2007 Jawa Tengah PEB 2005 PEB 2006 PEB 2007 Bekerja 15.548.609 15.927.856 16.300.707 Pengangguran 1.446.404 1.422.256 1.436.888 Total 16.995.013 17.350.112 17.737.595 Sekolah 1.940.360 2.039.041 2.086.347 Mengurus RT 3.599.439 3.483.424 3.715.485 Bukan Angkatan Kerja Lainnya 1.342.842 1.528.821 1.365.378 Total 6.882.641 7.051.286 7.167.210 Total Penduduk 15+ 23.877.654 24.401.398 24.904.805 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) 71,2 71,1 71,2 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 8,5 8,2 8,1 Setengah Penganggur Terpaksa 2.182.010 2.180.462 2.664.689 Setengah Pengangur Sukarela 2.701.374 2.882.848 2.464.981 Total 4.883.384 5.063.310 5.129.670 2 Berita Resmi Statistik N.07/05/33/Th.1, 15 Mei 2007

2. Lapangan Kerja Sektor Pertanian tetap menjadi lapangan pekerjaan utama penduduk Jawa Tengah. Pada tahun 2007 ini, persentase penduduk yang bekerja di sektor ini adalah 40,07% atau naik sebesar 0,5% dibandingkan dengan Februari 2006. Kenaikan jumlah pekerja di sektor ini disebabkan antara lain masih ramainya kegiatan penanaman dan pemanenan akibat iklim yang bergeser. Di beberapa Kabupaten (Kabupaten Tegal misalnya), juga disebabkan karena berpindahnya pekerja sektor pertambangan ke pertanian. Sektor terbesar kedua yang menyerap tenaga kerja adalah sektor Perdagangan yang menyerap 21,6% tenaga kerja, atau 3.524.369 orang. Sektor perdagangan menambah pekerja sebanyak 135.096 orang dari 3.389.273 orang pada bulan Februari 2006 atau tumbuh 0,3%. Sektor Perdagangan dikenal dengan cirri-ciri informalitasnya yang memudahkan orang untuk masuk atau keluar, sehingga sektor ini cenderung dipilih untuk mencari penghasilan atau pendapatan. Sektor terbesar ke tiga adalah sektor Industri Pengolahan yang menyerap 2.754.575 orang atau 16,9%. Dibandingkan dengan Februari 2006 sektor ini menambah tenaga kerja sebanyak 92.437 orang atau tumbuh 0,2%. Perlu dicatat yang dimaksud sebagai Sektor Industri Pengolahan adalah sektor yang mengubah barang mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi dan atau mengubah barang setengah jadi menjadi barang jadi. Dengan demikian Sektor Industri Pengolahan mencakup bukan hanya pabrik-pabrik tetapi juga kerajinan rumahtangga. Pertanian Tabel 2.1 Penduduk 15+ yang bekerja menurut lapangan pekerjaan utama, 2005 - Peb 2007 Jawa Tengah Pertambangan Industri Listrik, Gas & Air Bangunan Perdagangan Angkutan dan Pergudangan Keuangan & Jasa Perusahaan Jasa Kemasyarakatan Total PEB 2005 PEB 2006 PEB 2007 Orang 6.339.024 6.408.548 6.627.356 % 40,8 40,2 40,7 Orang 72.978 162.238 118.207 % 0,5 1,0 0,7 Orang 2.551.679 2.662.078 2.754.575 % 16,4 16,7 16,9 Orang 17.248 17.727 29.409 % 0,1 0,1 0,2 Orang 902.627 909.106 826.639 % 5,8 5,7 5,1 Orang 3.318.128 3.389.273 3.524.369 % 21,3 21,3 21,6 Orang 675.111 664.844 663.051 % 4,3 4,2 4,1 Orang 114.426 116.804 137.335 % 0,7 0,7 0,8 Orang 1.557.388 1.597.238 1.619.766 % 10,0 10,0 9,9 Orang 15.548.609 15.927.856 16.300.707 % 100,0 100,0 100,0 Berita Resmi Statistik No.08/05/33/Th.1, 15 Mei 2007 3

Sektor Bangunan dan sektor Angkutan dan Pergudangan mengalami penurunan baik dalam jumlah orang yang bekerja maupun persentase serapannya. Penurunan daya serap sektor Bangunan sangat mungkin karena sedang lemahnya sektor ini dimana biasanya pada bulan Februari proyekproyek bangunan pemerintah hanya menjalankan program yang carry over dari program tahun sebelumnya. Sektor Angkutan melemah antara lain karena kebutuhan angkutan umum melemah disebabkan oleh tersedianya kesempatan untuk memiliki moda angkutan murah yaitu dengan sepeda motor. Sementara sektor Jasa Kemasyarakatan mengalami kenaikan jumlah orang yang bekerja tetapi mengalami penurunan peranan dalam menyerap tenaga kerja. 3. Status Pekerjaan Tabel 3.1 Penduduk 15+ yang bekerja menurut status pekerjaan utama, 2005 - Peb 2007 Jawa Tengah Status Pekerjaan PEB 2005 PEB 2006 PEB 2007 Orang 2.466.229 2.680.692 2.970.357 Berusaha sendiri % 15,9 16,8 18,2 Orang 3.603.256 3.568.407 3.739.617 Berusaha dibantu buruh tidak tetap/brh tdk dibayar % 23,2 22,4 22,9 Orang 408.553 448.023 446.170 Berusaha dibantu buruh tetap/brh dibayar % 2,6 2,8 2,7 Orang 3.933.290 4.082.160 4.065.790 Buruh/karyawan % 25,3 25,6 24,9 Orang 1.117.132 1.323.929 1.227.004 Pekerja bebas pertanian % 7,2 8,3 7,5 Orang 996.143 1.068.931 893.124 Pekerja bebas non tani % 6,4 6,7 5,5 Orang 3.024.006 2.755.714 2.958.645 Pekerja tak dibayar % 19,4 17,3 18,2 Orang 15.548.609 15.927.856 16.300.707 Total % 100,0 100,0 100,0 Proporsi terbesar pekerja di Jawa Tengah adalah Buruh/karyawan. Pada Februari 2007 mencapai 24,9%, sedangkan tahun sebelumnya mencapai 25,6% pada tahun 2006 dan 25,3% pada tahun 2005. Penurunan jumlah dan persentase buruh/karyawan diduga kuat karena terjadi pergeseran status ke berusaha sendiri setelah terjadinya pemutusan hubungan kerja atau berpindah ke sektor lain seperti perdagangan. Proporsi penduduk yang bekerja dengan dibantu buruh tidak tetap atau pekerja tak dibayar menduduki urutan kedua dengan jumlah orang bekerja sebanyak 3.739.617 atau 22.9%. Pada urutan ke tiga adalah orang-orang yang berusaha sendiri dengan jumlah 2.970.357 orang atau 18,2%. 4 Berita Resmi Statistik N.07/05/33/Th.1, 15 Mei 2007

Konsep Definisi Penduduk usia kerja Penduduk usia kerja adalah penduduk berumur 15 tahun ke atas. Bekerja Kegiatan bekerja didefinisikan sebagai kegiatan ekonomi dengan menghasilkan barang atau jasa yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan, paling sedikit satu jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. Kegiatan tersebut termasuk pula kegiatan pekerja tak dibayar yang membantu dalam suatu usaha atau kegiatan ekonomi. Pengangguran Pengangguran meliputi penduduk yang sedang mencari pekerjaan, atau mempersiapkan suatu usaha, atau merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, atau sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) Tingkat partisipasi angkatan kerja adalah ukuran yang menggambarkan perbandingan jumlah angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja dan dihitung dari jumlah angkatan kerja dibagi jumlah penduduk 15 tahun ke atas dikali 100. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) TPT adalah angka yang menunjukkan banyaknya pengangguran, terhadap 100 penduduk yang masuk kategori angkatan kerja. Setengah Pengangguran Penduduk yang bekerja di bawah jam kerja normal (kurang dari 35 jam seminggu). Setengah Penganggur Terpaksa adalah mereka yang bekerja di bawah jam kerja normal (kurang dari 35 jam seminggu), dan masih mencari pekerjaan atau masih bersedia menerima pekerjaan Setengah Penganggur Sukarela adalah mereka yang bekerja di bawah jam kerja normal ( kurang dari 35 jam seminggu), tetapi tidak mencari pekerjaan atau tidak bersedia menerima pekerjaan lain (sebagian pihak menyebutkan sebagai pekerja paruh waktu/part time worker) Berita Resmi Statistik No.08/05/33/Th.1, 15 Mei 2007 5

JUMLAH SAMPEL SAKERNAS FEBRUARI 2007 Target Sampel Kabupaten/Kota Blok Sensus Rumahtangga (1) (2) (3) 01 Kab. Cilacap 25 400 02 Kab. Banyumas 22 352 03 Kab. Purbalingga 12 192 04 Kab. Banjarnegara 13 208 05 Kab. Kebumen 18 288 06 Kab. Purworejo 11 176 07 Kab. Wonosobo 12 192 08 Kab. Magelang 17 272 09 Kab. Boyolali 14 224 10 Kab. Klaten 18 288 11 Kab. Sukoharjo 12 192 12 Kab. Wonogiri 15 240 13 Kab. Karanganyar 11 176 14 Kab. Sragen 14 224 15 Kab. Grobogan 20 320 16 Kab. Blora 13 208 17 Kab. Rembang 10 160 18 Kab. P a t I 17 272 19 Kab. Kudus 11 176 20 Kab. Jepara 14 224 21 Kab. Demak 16 256 22 Kab. Semarang 13 208 23 Kab. Temanggung 10 160 24 Kab. Kendal 13 208 25 Kab. Batang 11 176 26 Kab. Pekalongan 11 176 27 Kab. Pemalang 16 256 28 Kab. Tegal 20 320 29 Kab. Brebes 25 400 71 Kota Magelang 2 32 72 Kota Surakarta 7 112 73 Kota Salatiga 2 32 74 Kota Semarang 20 320 75 Kota Pekalongan 4 64 76 Kota Tegal 3 48 Jumlah 472 7 552 6 Berita Resmi Statistik N.07/05/33/Th.1, 15 Mei 2007