Ir Naryono 1, Farid Rakhman 2

dokumen-dokumen yang mirip
PENGARUH HASIL PENGELASAN GTAW DAN SMAW PADA PELAT BAJA SA 516 DENGAN KAMPUH V TUNGGAL TERHADAP KEKUATAN TARIK, KEKERAAN DAN STRUKTUR MIKRO

ANALISA KUAT LENTUR DAN PENGELASAN PADA PEMEGANG KURSI MOBIL

PENGARUH HASIL PENGELASAN GTAW DAN SMAW PADA PELAT BAJA SA 516 DENGAN KAMPUH V TUNGGAL

PENGARUH ANNEALING TERHADAP LAS MIG DENGAN GAS PELINDUNG CO2 (100%) TERHADAP SIFAT MEKANIS DAN STRUKTUR MIKRO DAN MAKRO PADA BAJA STAM 390 G

TUGAS AKHIR. PENGARUH JENIS ELEKTRODA PADA HASIL PENGELASAN PELAT BAJA St 32 DENGAN KAMPUH V TUNGGAL TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN KEKUATAN TARIKNYA

I. PENDAHULUAN. selain jenisnya bervariasi, kuat, dan dapat diolah atau dibentuk menjadi berbagai

PENGARUH PROSES HARDENING PADA BAJA HQ 7 AISI 4140 DENGAN MEDIA OLI DAN AIR TERHADAP SIFAT MEKANIS DAN STRUKTUR MIKRO

Pengaruh Jenis Elektroda Pada Pengelasan Dengan SMAW Terhadap Sifat Fisis dan Mekanis Pada Baja Profil IWF

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II KERANGKA TEORI

PENGARUH HEAT TREATMENT

PENGARUH TEBAL PELAT BAJA KARBON RENDAH LAMA PENEKANAN DAN TEGANGAN LISTRIK PADA PENGELASAN TITIK TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS

PENGARUH SUHU NORMALIZING TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS PENGELASAN BAJA PLAT KAPAL. Sutrisna*)

PENGARUH VARIASI KUAT ARUS PENGELASAN TUNGSTEN INERT GAS

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI PENGARUH TERHADAP KEKUATAN TARIK PADA LAS SMAW (SHIELDED METAL ARC WELDING) DENGAN METODE EKSPERIMEN

PERLAKUAN PEMANASAN AWAL ELEKTRODA TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN FISIK PADA DAERAH HAZ HASIL PENGELASAN BAJA KARBON ST 41

BAB I PENDAHULUAN. dalam penyambungan batang-batang terutama pada bahan besi tuang

Pengaruh Variasi Temperatur Anneling Terhadap Kekerasan Sambungan Baja ST 37

STUDI PENGARUH VARIASI KUAT ARUS PENGELASAN PELAT AISI 444 MENGGUNAKAN ELEKTRODA AWS E316L

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian Kekuatan Sambungan Las pada Plat untuk Dek Kapal Berbahan Plat Baja terhadap Sifat Fisis dan Mekanis dengan Metode Pengelasan MIG

Pengaruh Variasi Waktu dan Tebal Plat Pada Las Titik terhadap Sifat Fisis dan Mekanis Sambungan Las Baja Karbon Rendah

Pengaruh variasi kampuh las dan arus listrik terhadap kekuatan tarik dan struktur mikro sambungan las TIG pada aluminium 5083

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. masing-masing benda uji, pada pengelasan las listrik dengan variasi arus 80, 90,

PENGARUH PENGELASAN TUNGSTEN INERT GAS TERHADAP KEKUATAN TARIK, KEKERASAN DAN MIKRO STRUKTUR PADA PIPA HEAT EXCHANGER

Jl. Menoreh Tengah X/22, Sampangan, Semarang *

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian struktur mikro dilakukan untuk mengetahui isi unsur kandungan

PENGARUH FILLER DAN ARUS LISTRIK TERHADAP SIFAT FISIK-MEKANIK SAMBUNGAN LAS GMAW LOGAM TAK SEJENIS ANTARA BAJA KARBON DAN J4

ANALISA PENGARUH HEAT TREATMENT TERHADAP KETEBALAN LAPISAN ZINC DAN KETAHANAN KOROSI PADA PERMUKAAN LINK ENGINE HANGER SEBELUM PROSES PELAPISANNYA

PENGARUH MEDIA PENDINGIN TERHADAP HASIL PENGELASAN TIG PADA BAJA KARBON RENDAH

BAB II LANDASAN TEORI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh arus pengelasan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Struktur mikro adalah gambaran dari kumpulan fasa-fasa yang dapat diamati

STUDI PENGARUH NORMALISING TERHADAP KARAKTERISTIK DAN SIFAT MEKANIK SAMBUNGAN LAS SMAW PADA PLAT JIS SM 41B MENGGUNAKAN ELEKTRODA E 7016 DAN E 6013

TEKNIKA VOL.3 NO.2 OKTOBER_2016

PENGARUH BESAR ARUS LISTRIK DAN PANJANG BUSUR API TERHADAP HASIL PENGELASAN.

Oleh Wahyu Ade Saputra ( ) Dosen Pembimbing 1. Ir. Achmad Zubaydi, M.Eng., Ph.D 2. Ir. Soeweify, M.Eng

Pengaruh Variasi Arus terhadap Struktur Mikro, Kekerasan dan Kekuatan Sambungan pada Proses Pengelasan Alumunium dengan Metode MIG

ANALISIS KEKUATAN TARIK BAJA ST37 PASCA PENGELASAN DENGAN VARIASI MEDIA PENDINGIN MENGGUNAKAN SMAW. Yassyir Maulana

Prosiding SNATIF Ke -4 Tahun 2017 ISBN:

ANALISA PENGARUH TEBAL PELAT PADA PENGELASAN LISTRIK TERHADAP KEKERASAN DAERAH HAZ BAJA KARBON St-37. By Nurfa Anisa Universitas Soerjo

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Deskripsi Data

BAB II TINJAUAN PUSTAKA dan LANDASAN TEORI

Jurnal Dinamis Vol.II,No.14, Januari 2014 ISSN

PENGARUH PROSES ANNEALING PADA HASIL PENGELASAN TERHADAP SIFAT MEKANIK BAJA KARBON RENDAH

BAB I PENDAHULUAN. atau non ferrous dengan memanaskan sampai suhu pengalasan, dengan atau tanpa menggunakan logam pengisi ( filler metal ).

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Kata Kunci: Pengelasan Berbeda, GMAW, Variasi Arus, Struktur Mikro

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

PENGARUH FILLER DAN ARUS LISTRIK TERHADAP SIFAT FISIK- MEKANIK SAMBUNGAN LAS GMAW LOGAM TAK SEJENIS ANTARA BAJA KARBON DAN J4

II. TINJAUAN PUSTAKA. Seperti diketahui bahwa, di dalam baja karbon terdapat ferrite, pearlite, dan

BAB I PENDAHULUAN. adalah karena sifat-sifat dari logam jenis ini yang bervariasi, yaitu bahwa

BAB IV DATA DAN ANALISA

EFFECT OF POST HEAT TEMPERATURE TO HARDNESS AND MACROSTRUCTURE IN WELDED STELL ST 37

Pengaruh Variasi Arus dan Jenis Elektrode pada Pengelasan Smaw Terhadap Sifat Mekanik Baja Karbon

PENGARUH ARUS LISTRIK TERHADAP DAERAH HAZ LAS PADA BAJA KARBON

BAB I PENDAHULUAN. dimana logam menjadi satu akibat panas las, dengan atau tanpa. pengaruh tekanan, dan dengan atau tanpa logam pengisi.

KARAKTERISASI SIFAT FISIS DAN MEKANIS SAMBUNGAN LAS SMAW BAJA A-287 SEBELUM DAN SESUDAH PWHT

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. perbesaran 100x adalah 100 µm. Sebelum dilakukan pengujian materi yang

PENGARUH PROSES PREHEATING PADA PENGELASAN SMAW TERHADAP KEKUATAN TARIK MATERIAL BAJA ST 37

PENGARUH VARIASI SUHU POST WELD HEAT TREATMENT ANNEALING

Peningkatan Kualitas Sambungan Las Baja Karbon Rendah Dengan Metode Taguchi

BAB I PENDAHULUAN. memiliki andil dalam pengembangan berbagai sarana dan prasarana kebutuhan

PENGARUH VARIASI TEMPERATUR ANNEALING TERHADAP KEKERASAN SAMBUNGAN BAJA ST 37

Analisa Kekuatan Tarik Baja Konstruksi Bj 44 Pada Proses Pengelasan SMAW dengan Variasi Arus Pengelasan

Simposium Nasional RAPI XII FT UMS ISSN

I. PENDAHULUAN. Dalam dunia industri saat ini tidak lepas dari suatu konsruksi bangunan baja

Jurnal Rekayasa Mesin Vol.5, No.1 Tahun 2014: 9-16 ISSN X

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KARAKTERISTIK HASIL PENGELASAN PIPA DENGAN BEBERAPA VARIASI ARUS LAS BUSUR LISTRIK

KATA PENGANTAR. Sidoarjo, Desember Fakultas. Universitas Muhammadiyah Sidoarjo 1

PENGARUH KELEMBABAN FLUKS ELEKTRODA E 6013 LAS SMAW PADA KEKUATAN SAMBUNGAN TUMPUL BAJA PADUAN BERKEKUATAN TARIK TINGGI AISI 4340

STUDI PENGARUH BESARNYA ARUS LISTRIK TERHADAP DISTRIBUSI KEKERASAN, STRUKTUR MIKRO, DAN KEKUATAN IMPAK PADA BAJA KARBON RENDAH JENIS SB 46

BAB II PENGELASAN SECARA UMUM. Ditinjau dari aspek metalurgi proses pengelasan dapat dikelompokkan

16 Media SainS, Volume 4 Nomor 1, April 2012 ISSN

PENGARUH VARIASI ARUS TERHADAP STRUKTUR MIKRO, KEKERASAN DAN KEKUATAN SAMBUNGAN PADA PROSES PENGELASAN ALUMINIUM DENGAN METODE MIG

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan dibeberapa tempat, sebagai berikut:

ANALISA PENGARUH HEAT TREATMENT TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO BESI COR NODULAR (FCD 60)

PENGARUH PREHEAT TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN KEKUATAN TARIK LAS LOGAM TAK SEJENIS BAJA TAHAN KARAT AUSTENITIK AISI 304 DAN BAJA KARBON A36

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

PENGARUH VARIASI AMPERE PENGELASAN PLAT BAJA ST 36 TERHADAP BEBAN TEKAN BENGKOK DAN KERUSAKAN PERMUKAAN

Analisa Sifat Mekanik Hasil Pengelasan GMAW Baja SS400 Studi Kasus di PT INKA Madiun

PENGARUH POLA GERAKAN ELEKTRODE DAN POSISI PENGELASAN TERHADAP KEKERASAN HASIL LAS PADA BAJA ST60

BAB I PENDAHULUAN. bermanfaat bagi kebutuhan teknologi maupun kebutuhan rumah. berpengaruh pada penurunan kualitas barang produksi seperti

II. TINJAUAN PUSTAKA

INFO TEKNIK Volume 14 No. 2 Desember 2013 ( ) PENGARUH ARUS TERHADAP KEKERASAN HASIL PENGELASAN BAJA ST 60 MENGGUNAKAN PENGELASAN SMAW

PENGARUH POSISI PENGELASAN TERHADAP KEKUATAN TAKIK DAN KEKERASAN PADA SAMBUNGAN LAS PIPA

I. PENDAHULUAN. keling. Ruang lingkup penggunaan teknik pengelasan dalam konstruksi. transportasi, rel, pipa saluran dan lain sebagainya.

Pengaruh Kondisi Elektroda Terhadap Sifat Mekanik Hasil Pengelasan Baja Karbon Rendah

BAB I PENDAHULUAN. Banyak cara yang dapat dilakukan dalam teknik penyambungan logam misalnya

SKRIPSI / TUGAS AKHIR

Laporan Praktikum. Laboratorium Teknik Material. Modul F Analisis Struktur Mikro Sambungan Las (SMAW) Oleh : : Surya Eko Sulistiawan NIM :

Jurnal Teknik Mesin UNISKA Vol. 02 No.02 Mei 2017 ISSN

ANALISA PENGARUH PENGELASAN FCAW PADA SAMBUNGAN MATERIAL GRADE A DENGAN MATERIAL GRADE DH 36. Oleh :

TUGAS AKHIR. Tugas Akhir ini Disusun Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

Journal of Mechanical Engineering Learning

Kajian Kekuatan Baja Paduan Rendah Yang Dilas Listrik Elektroda Terbungkus Dengan Kampuh V Dan Elektroda Rd 320 E.6013 Panas yang t erjadi t idak cuku

Pengaruh Preheat Terhadap Struktur Mikro dan Sifat Mekanis Sambungan Las GTAW Material Baja Paduan 12Cr1MoV yang Digunakan pada Superheater Boiler

Gambar 4.1 Penampang luar pipa elbow

Transkripsi:

PENGARUH VARIASI KECEPATAN PENGELASAN PADA PENYAMBUNGAN PELAT BAJA SA 36 MENGGUNAKAN ELEKTRODA E6013 DAN E7016 TERHADAP KEKERASAN, STRUKTUR MIKRO DAN KEKUATAN TARIKNYA Ir Naryono 1, Farid Rakhman 2 Lecture 1,College student 2,Departement of machine, Faculty of Engineering, University Muhammadiyah Jakarta, Jalan Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta Pusat 10510, Tlp 021-4244016,4256024, email : naryono@yahoo.com ABSTRAK Pengaruh pengelasan terhadap kekerasan, struktur mikro dan kekuatan tarik las. Penelitian ini menggunakan bahan baja karbon rendah yang mengandung kadar C = 0,17 %. Material SA 36 diberikan proses pengelasan yang kecepatan rata-ratanya untuk E6013 adalah 2 menit 06 detik dan kecepatan rata-rata untuk E7016 adalah 3 menit 06 detik. Kedua elektroda tersebut menggunakan metode las SMAW ( Shield Metal Arc Welding ). Benda uji dilakukan penelitian terhadap kekerasan, struktur mikro, dan kekuatan tariknya.dari hasil penelitian tersebut pengaruh dari kecepatan dan heat input sangat mempengaruhi nilai dari kekerasan, struktur mikro dan uji tariknya. Semakin rendah heat input yang diterima, makin tinggi nilai kekerasan dan kekuatan tariknya. Begitu pula sebaliknya, makin besar heat input yang diterima, maka makin rendah nilai kekerasan dan kekuatan tariknya. Kata kunci : SMAW, uji tarik, E6013 dan E7016, kekerasan. 1.PENDAHULUAN Pada kenyataan aplikasi dilapangan struktur atau konstruksi yang terbentuk dari baja sering kali menggunakan proses penyambungan dengan cara pengelasan. Berdasarkan dari DIN ( Deutche Indutrie Normen ) las adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam atau logam paduan yang dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair. Hal yang paling memungkinkan dari akibat proses pengelasan adalah timbulnya lonjakan tegangan yang lebih besar jika dibandingkan dengan sambungan pada mur baut atau paku keling. Hal ini disebabkan karena terjadinya perubahan sifat-sifat bahan pada sambungan terutama pada daerah terpengaruh panas atau HAZ ( Heat Affected Zone ), karena daerah tersebut adalah daerah logam yang bersebelahan dengan daerah logam las yang selama proses mengalami siklus thermal pemanasan dan pendinginan cepat. Kemungkinan yang lain adalah penurunan kekuatan mekanis pada sambungan las, yang terjadi akibat terlalu banyak sedikitnya unsur pada kawat pengisi ( filler ) sehingga dapat mengakibatkan timbulnya keretakan. 2.METODA EKSPERIMEN DAN FASILITAS YANG DIGUNAKAN Berdasarkan definisi dari Deutche Industrie Normen (DIN) las adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam atau logam paduan yang dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair.paling tidak saat ini terdapat sekitar 40 jenis pengelasan. Dari seluruh jenis pengelasan tersebut hanya dua jenis yang paling populer di Indonesia yaitu pengelasan dengan menggunakan busur nyala listrik (Shieldedmetal arc welding/ SMAW) dan las karbit (Oxy SINTEK VOL 5 NO 2 Page 1

acetylene welding/oaw.kekuatan sambungan las dipengaruhi beberapa faktor antara lain: prosedur pengelasan, bahan, elektroda dan jenis kampuh yang digunakan. 2.1Komposisi Kimia Baja SA 36 Berdasarkan data komposisi kimia baja SA 36 dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Tabel 2.1. Komposisi Kimia Baja SA 36 C Si Mn P S 0,17% 0,20% 0,94% 0,020% 0,011% 2.2 Hasil Uji Kekerasan. Pengujian kekerasan menghasilkan data nilai kekerasan dari benda uji yang di las dengan menggunakan dua elekroda yang berbeda kelasnya, yaitu E6013 dan E7016 sebagai berikut : Tabel 2.2 Hasil Uji Kekerasan Vickers (HV) Dalam Satuan kg/mm 2 Posisi Base Metal 1 Antara Base Metal 1 dan Lasan Daerah Lasan Antara Base Metal 2 dan Lasan Base Metal 2 Kekerasan Mikro Vikers (HVn) Rata-rata E6013 E7016 E7016 E6013 157,7 157,7 157,7 154,5 158,9 157,7 157,7 164,4 148,4 171,5 145,4 171,5 164,8152,7 164,4 151,4 187,3 179,1 183,2 191,6 183,3 185,9 187,3 179,1 164,4 161,0 154,5 148,4 152,6 163,5 171,5 148,4 154,5 148,4 157,7 154,5 149,4155,6 154,5 145,4 Keterangan Mikro Vikers Beban 200 gf Indentor Intan Gambar 2.1 Menunjukkan Titik Pengujian Kekerasan Elektroda E6013 dan E7016. SINTEK VOL 5 NO 2 Page 2

2.2.1 Grafik Base Metal 1 Gambar 2.2. Nilai Kekerasan Pada Daerah Base Metal 1 posisi A 1. Nilai tertinggi dari pengujian pada daerah base metal 1 titik A adalah 164,4 kg\mm 2 pada titik 3 dengan menggunakan elektroda E7016. 2. Dan nilai rata-rata tertinggi dari pengujian pada daerah base metal 1 titik A adalah 158,9 kg\mm 2 dengan menggunakan elektroda E7016. 3. Terjadi penurunan dan kenaikan hasil nilai kekerasan pada titik 2 dan 3 untuk penggunaan elektroda E7016, hal ini mungkin disebabkan faktor tidak meratanya panas yang diterima pada saat pengelasan dilakukan. 2.2.2 Grafik Base Metal 2 Gambar 2.3 Nilai Kekerasan Pada Daerah Base Metal 2 Posisi E 1. Nilai tertinggi dari pengujian pada daerah base metal 2 titik E adalah 157,7 kg\mm 2 pada titik 2 dengan menggunakan elektroda E6013. 2. Dan nilai rata-rata tertinggi dari pengujian pada daerah base metal 2 titik E adalah 155,6 kg\mm 2 dengan menggunakan elektroda E6013. 3. Terjadi penurunan dan kenaikan hasil nilai kekerasan pada titik 1, 2 dan 3 pada kedua penggunaan elektroda E6013 dan E7016, hal ini mungkin disebabkan faktor tidak meratanya panas yang diterima pada saat pengelasan dilakukan. SINTEK VOL 5 NO 2 Page 3

2.2.3 Grafik HAZ Area 1 Gambar 2.4 Nilai Kekerasan Pada Daerah HAZ Area 1 Posisi B 1. Nilai tertinggi dari pengujian pada HAZ area 1 titik B adalah 171,5 kg\mm 2 pada titik 1 dan 2 dengan menggunakan elektroda E7016. 2. Dan nilai rata-rata tertinggi dari pengujian pada HAZ area 1 titik B adalah 164,8 kg\mm 2 dengan menggunakan elektroda E7016. 3. Terjadi kenaikan nilai kekerasan yang derastis pada titik 1 dan 2 dengan menggunakan elektroda E7016. Hal ini disebabkan rendahnya heat input yang diterima HAZ area 1 dengan menggunakan elektroda E7016. 2.2.4 Grafik HAZ Area 2 Gambar 2.5 Nilai Kekerasan Pada Daerah HAZ Area 2 Posisi D. 1. Nilai tertinggi dari pengujian pada HAZ area 2 titik D adalah 171,5 kg\mm 2 pada titik 3 dengan menggunakan elektroda E6013. 2. Dan nilai rata-rata tertinggi dari pengujian pada HAZ area 2 titik D adalah 163,5 kg\mm 2 dengan menggunakan elektroda E6013. 3. adanya nilai kekerasan yang tinggi pada titik 3 dengan menggunakan elektroda E6013. Hal ini disebabkan rendahnya heat input yang diterima HAZ area 2 dengan menggunakan elektroda E6013. SINTEK VOL 5 NO 2 Page 4

2.2.5 Grafik Daerah Lasan Gambar 2.6 Nilai Kekerasan Pada Daerah Lasan Posisi C 1. Nilai tertinggi dari pengujian pada daerah lasan titik C adalah 191,6 kg\mm 2 pada titik 2 dengan menggunakan elektroda E7016. 2. Dan nilai rata-rata tertinggi dari pengujian pada daerah lasan titik C adalah 185,9 kg\mm 2 dengan menggunakan elektroda E6013. 3. adanya nilai kekerasan yang tinggi pada titik 2 dengan menggunakan elektroda E7016. Hal ini disebabkan rendahnya heat input yang diterima daerah lasan dengan menggunakan elektroda E7016. 2.2.6 Grafik Nilai Rata-rata Kekerasan Gambar 2.7.Grafik Nilai Rata-rata Kekerasan. 1. Daerah lasan menempati urutan pertama untuk nilai kekerasan, Hal ini terjadi karena bila kecepatan pengelasan bertambah maka masukan panas yang dihasilkan akan berkurang dan bila masukan panasnya kecil maka kekuatan sambungan las akan menjadi besar dan ini sesuai dengan landasan teori pada bab II. 2. Kekerasan yang terjadi pada base metal 1 dan 2 tidak terlalu jauh, hal ini terjadi karena perbedaan komposisi kimia dari kedua elektroda tidak jauh berbeda. SINTEK VOL 5 NO 2 Page 5

3. Kekerasan yang terjadi pada HAZ area 1 dan 2 tidak terlalu jauh, hal ini terjadi karena masukan panas yang dihasilkan elektroda E6013 dan E7016 tidak jauh berbeda. 4. Nilai kekerasan rata-rata tertinggi dari titik A, B, C, D dan E dihasilkan oleh elektroda E6013 yaitu sebesar 163,08 kg\mm 2. 5. Semakin tinggi nilai kekerasan, semakin rendah heat input yang diterima oleh base metal, HAZ area, dan daerah lasan. Dan itu yang dihasilkan oleh elektroda E6013, meskipun hasilnya tidak jauh berbeda dengan menggunakan E7016. 2.3 Hasil Uji Struktur Mikro Pengamatan yang dilakukan pada struktur mikro dilakukan dengan mengambil gambar pada base metal, daerah HAZ, dan daerah pada lasan dengan menggunakan perbedaan elektroda yaitu E6013 dan E7016.sehingga gambar yang diambil seluruhnya 10 buah. Berikut ini hasil uji foto struktur mikro dari benda uji daerah base metala antara E6013 dan E7016 dengan perbesaran 300x dan etsa nital 2%. 2.3.1 Hasil Metalografi Base Metal A Perlit Ferit Perlit (a) Ferit (b) Gambar 2.8 Foto Struktur Mikro Base Metal A (a) E6013 dan (b) E7016 Struktur mikro pada gambar di atas adalah area base metal A, struktur mikro pada gambar di dominasi butir-butir ferit yang berwarna putih terang, sedangkan fasa perlit lebih sedikit dan berwarna gelap. Butir ferit cenderung lebih halus sedangkan butir perlit lebih kasar, butir perlit cenderung keras karena mengandung karbon, sedangkan butir ferit cenderung lunak. Struktur yang terjadi pada sambungan las, sangat ditentukan oleh temperatur pemanasan pada saat pengelasan dan laju pendinginan setelah pengelasan, selain itu juga SINTEK VOL 5 NO 2 Page 6

tergantung pada komposisi kimia, base metal, logam pengisi, cara pengelasan dan perlakuan panas yang dilakukan. Struktur mikro yang terjadi dan laju pendinginan akan menentukan sifat mekanis dari bahan tersebut. Adanya panas dari proses pengelasan mengakibatkan perbedaan struktur mikro antara daerah las, daerah HAZ dan base metal. 2.3.2 Hasil Metalografi HAZ Area B Perlit Bainit Ferit Perlit Bainit Ferit (a) (b) Gambar 4.9 Foto Struktur Mikro HAZ Area B (a) E6013 dan (b) E7016 Logam ini merupakan base metal yang masih terpengaruh oleh panas dari busur listrik, bila semakin dekat dengan daerah pengelasan maka akan mendapat masukan panas yang tinggi, dan begitu sebaliknya bila semakin jauh akan berkurang. Hal ini dikarenakan kecepatan pendinginan yang tidak merata, sehingga berpengaruh pada struktur mikro yang terjadi. Struktur mikro yang terjadi ferit (terang), perlit (gelap) dimana jika dibandingkan dengan logam induk butirannya lebih halus dan bainit (berupa titik-titik hitam) dengan jumlah yang jauh lebih sedikit dibandingkan pada logam las. 2.3.3 Hasil Metalografi Daerah Lasan C (a) Gambar 2.10 Foto Struktur Mikro Daerah Lasan C SINTEK VOL 5 NO 2 Page 7

Strukrur mikro pada permukaan las dengan perbedaan elektroda bertipe axial dikarnakan apabila kecepatan tinggi maka struktur mikro akan berbentuk seperti tetesan air dan columnarnya berbentuk tegak lurus,. Maka jumlah kandungan martensit dan bainitnya semakin banyak dan bentuk ferit widmanstattennya semakin halus. Dengan banyaknya jumlah kandungan yang martensit dan bainit cenderung keras karena mengandung karbon, maka akan membuat daerah ini memiliki kekerasan yang tinggi. Hal ini terbukti pada uji kekerasan yang telah dilakukan, bahwa daerah logam las memiliki nilai kekerasan tertinggi. 2.3.4 Hasil Metalografi HAZ Area D Perlit Ferit Bainit \ (a) Perlit Ferit Bainit (b) Gambar 2.11 Foto Struktur Mikro HAZ Area D (a) E6013 dan (b) E7016 Sama seperti HAZ area B, HAZ area D juga masih terpengaruh oleh panas dari busur listrik, bila semakin dekat dengan las akan mendapat masukan panas yang tinggi, dan bila semakin jauh akan berkurang. Hal ini dikarenakan kecepatan pendinginan yang tidak merata, sehingga berpengaruh pada struktur mikro yang terjadi. Struktur mikro yang terjadi ferit (terang), perlit (gelap) dimana jika dibandingkan dengan logam induk butirannya lebih halus dan bainit (berupa titik-titik hitam) dengan jumlah yang jauh lebih sedikit dibandingkan pada logam las. 2.3.5 Hasil Metalografi Base Metal E SINTEK VOL 5 NO 2 Page 8

Perlit Ferit (b) Gambar 2.12 Foto Struktur Mikro Daerah Base Metal E (a) E6013 dan (b) E7016 Sama seperti daerah base metal A, daerah base metal E masih di dominasi oleh ferit yang berbentuk butiran berwarna putih dan cenderung lunak sedangkan perlit yang berbentuk butiran yang berwarna hitam dan cenderung keras karena mengandung karbon. 2.3.6 Kesimpulan Hasil Metalografi 1. Pada daerah base metala dan E untuk elektroda E6013 dan E7016 sama-sama mengandung ferlit dan perlit saja, hal ini disebabkan daerah base metal A dan E samasama tidak menerima heat input yang besar atau jauh dari posisi pengelasan. 2. Pada daerah HAZ area B dan D untuk elektroda E6013 dan E7016 juga sama-sama mengandung ferit, perlit dan bainit. Bainit terbentuk oleh kandungan ferit dan austenite yang menjadi satu akibat proses pendinginan yang sedang. Sehingga timbul butir-butir kecil yang berwana hitam yang disebut bainit. Daerah HAZ adalah daerah yang paling kritis pada saat pengelasan, karena daerah HAZ menerima heat input yang besar. 3. Pada daerah pengelasan C untuk elektroda E6013 dan E7016 mengandung martensit, Widmanstatten dan bainit. Adanya sebagian besar martensit pada daerah pengelasan C diakibatkan pendinginan cepat yang dialami pada daerah pengelasan dan kecilnya heat input yang diterima pada daerah pengelasan C. 2.4 Hasil Uji Tarik. Pengujiandenganmenggunakanmesinservopulserpadaskalabeban10tondansuhukamar.Spesime npengujianterdiridaripengujiantarikuntuk kualitaskekuatantarikbaja paduanrendahhasil pengelasansmawdengan elektroda E6013 dane7016dankekuatantarikdaerahlasbajapaduanrendah. Tabel 2.3 Hasil Pengujian Tarik Untuk Kualitas Kekuatan Tarik Baja Paduan Rendah Parameter E6013 Spesimen E7016 σ u (N\mm 2 ) 513,5 501,6 σ y (N\mm 2 ) 375,7 358,2 e (%) 31,6 25 q (%) 18,77 14,51 SINTEK VOL 5 NO 2 Page 9

Dalam diagram batang sebagai berikut : Gambar 2.13 Diagram Kekuatan Tarik Antara Elektroda E6013 Dan E71016 Gambar 2.14 Diagram Batas Luluh Antara Elektroda E6013 Dan E7016 Elongation % 40 30 20 10 31.6 25 0 E6013 Spesimen E7016 Gambar 2.15 Diagram Perpanjangan Antara Elektroda E6013 Dan E7016 SINTEK VOL 5 NO 2 Page 10

% 20 15 10 5 0 Reduksi Penampang 18.77 14.51 E6013 E7016 Spesimen Gambar 2.16 Diagram Reduksi Penampang Antara Elektroda E6013 Dan E7016 1. Nilai kekuatan tarik untuk spesimen E6013 adalah 513,5 N\mm 2, dan nilai kekuatan tarik untuk spesimen E7016 adalah 501,6 N\mm 2. Ini berarti mengalami penurunan sebesar 11,9 N\mm 2 untuk spesimen E7016 terhadap spesimen E6013. 2. Nilai batas luluh untuk spesimen E6013 adalah 375,7 N\mm 2, dan nilai batas luluh untuk spesimen E7016 adalah 358,2 N\mm 2. Ini berarti mengalami penurunan sebesar 17,5 N\mm 2 untuk spesimen E7016 terhadap spesimen E6013. 3. Nilai perpanjangan untuk spesimen E6013 adalah 8,97 %, dan nilai perpanjangan untuk spesimen E7016 5,23 %. Ini berarti mengalami penurunan sebesar 3,74 % untuk spesimen E7016 terhadap spesimen E6013. 4. Nilai reduksi penampang untuk E6013 adalah 18,77 %, dan nilai reduksi penampang untuk spesimen E7016 adalah 14,51 %. Ini berarti mengalami penurunan sebesar 4,26 % untuk spesimen E7016 terhadap spesimen E6013. Hal ini disebabkan oleh kecepatan las dan masukan panas yang terjadi, seperti yang diketahui dari hasil report pembuatan benda kerja, hasil spesimen E6013 menunjukkan volt rata-rata ialah 25 volt dan 110 ampere dengan kecepatan las rata-rata 2 menit 06 detik, sehingga masukan panas yang dihasilkan rata-rata sebesar 1191 J\mm. sedangkan untuk spesimen E7016 menunjukkan volt rata-rata ialah 23 volt dan 104 ampere dengan kecepatan las rata-rata 3 menit 06 detik, sehingga masukan panas yang dihasilkan rata-rata 1445 J\mm. ini menunjukkan spesimen E7016 menerima masukan panas lebih besar dibandingkan spesimen E6013, hal ini dikarenakan kecepatan rata-rata spesimen E7016 lebih lama dibandingkan spesimen E6013. Sehingga spesimen E7016 lebih getas dibandingkan spesimen E6013. SINTEK VOL 5 NO 2 Page 11

3. SKEMA NUMERIK Mulai Persiapan bahan SA36 PROSES PENGELASAN SMAW 1. Ø wire = 3.2 mm 2. Tebal pelat = 12 mm Menggunakan E6013 Menggunakan E7016 1. Uji Tarik 2. Struktur mikro 3. Kekerasan 1. Uji Tarik 2. Struktur mikro 3. Kekerasan Pembahasan dan Kesimpulan Hasil pengujian Selesai SINTEK VOL 5 NO 2 Page 12

4.1. KESIMPULAN 1. Kecepatan dan heat input yang dihasilkan sangat berpengaruh pada kekerasan, struktur mikro dan uji tarik dari hasil lasan. 2. Hasil uji kekerasan menyatakan bahwa dengan menggunakan elektroda E6013 lebih tinggi nilai kekerasannya karena heat input yang diterima lebih kecil dibandingkan menggunakan elektroda E7016, meskipun hasilnya tidak jauh berbeda dikarenakan komposisi kimia dari kedua elektroda tidak begitu jauh. 3. Hasil uji struktur mikro menyatakan bahwa kandungan yang dihasilkan pada base metal, HAZ, dan daerah lasan antara elektroda E6013 dan E7016 cenderung sama. 4. Hasil uji tarik menyatakan bahwa dengan E6013 lebih tinggi nilai tarik maksimum, batas luluh, perpanjangan dan reduksi penampang dibandingkan menggunakan elektroda E7016. Hal ini disebabkan lebih lamanya waktu kecepatan dan besarnya heat input yang diterima dengan menggunakan elektroda E7016 sehingga mempengaruhi sifat bahan menjadi lebih getas. 4.2.SARAN 1. Karena penelitian diatas proses pengelasannya secara manual sehingga kecepatan ratarata yang dihasilkan oleh kedua elektroda tersebut berbeda disarankan untuk menggunakan robot welding agar kedua elektroda tersebut memiliki nilai rata-rata kecepatan yang sama. 2. Penelitian ini memerlukan variasi pendinginan, seperti menggunakan air, oli dan udara. Agar terlihat perbedaan di struktur mikronya. REFERENSI 1. An internasional code 2010 asme boiler sect II A dan preasure vessel code 2. Djafri. Sriati..Terjemah dari Manufacturing Proceses. 1983.Jakarta. Erlangga. 3. Kobelco Welding Handbook. Welding Consumables and Processes. 2008. Japan. 4. Miller electric MFG. 2008, Guiledelines for shielded arc welding (SMAW). Miller electric.usa. 5. Welding hand book.welding processes.1991.america 6. Wiryosumarto, Harsono, Prof, Dr, Ir. Okumura, Toshie, Prof, Dr. 2000. Teknologi Pengelasan Logam. Jakarta, Paramita. 7. http://nadhifosakaeng.blogspot.com/ 8. http://taryza.wordpress.com/2008/06/30/hello-world/. 9. http://www.scribd.com/doc/31678074/smaw SINTEK VOL 5 NO 2 Page 13