AUTOKORELASI PADA BAGAN KENDALI

dokumen-dokumen yang mirip
PENDUGAAN PARAMETER MODEL AUTOREGRESSIVE PADA DERET WAKTU

PENERAPAN BAGAN KENDALI T 2 HOTELLING DAN ANALISIS KEMAMPUAN PROSES DALAM PRODUKSI SEMEN PPC (PORTLAND POZZOLLAND CEMENT ) DI PT.

PENENTUAN RESIKO INVESTASI DENGAN MODEL GARCH PADA INDEKS HARGA SAHAM PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR TBK.

PERAMALAN NILAI TUKAR DOLAR SINGAPURA (SGD) TERHADAP DOLAR AMERIKA (USD) DENGAN MODEL ARIMA DAN GARCH

PERBANDINGAN RESIKO INVESTASI BANK CENTRAL ASIA DAN BANK MANDIRI MENGGUNAKAN MODEL GENERALIZED AUTOREGRESSIVE CONDITIONAL HETEROSCEDASTICITY (GARCH)

PERBANDINGAN INVESTASI PADA MATA UANG DOLAR AMERIKA (USD) DAN YEN JEPANG (JPY) DENGAN MODEL ARIMA DAN GARCH

PENGENDALIAN PROSES VARIABILITAS MULTIVARIAT MELALUI VEKTOR RAGAM (STUDI KASUS : IPK DAN LAMA STUDI LULUSAN MATEMATIKA UNIVERSITAS ANDALAS)

PERMASALAHAN AUTOKORELASI PADA ANALISIS REGRESI LINIER SEDERHANA

PEMBUATAN BAGAN KENDALI MULTIVARIAT T 2 -HOTELLING UNTUK PROSES PERKULIAHAN Studi Kasus : IPK dan Lama Studi Lulusan Matematika Universitas Andalas

Kata Kunci: Bagan kendali Multivariat np, karakteristik kecacatan, tahap start-up stage, tahap pengendalian proses

PEMODELAN DAN PERAMALAN DATA DERET WAKTU DENGAN METODE SEASONAL ARIMA

Kata Kunci: Analisis Regresi Linier, Penduga OLS, Penduga GLS, Autokorelasi, Regresor Bersifat Stokastik

PENENTUAN UKURAN CONTOH DAN REPLIKASI BOOTSTRAP UNTUK MENDUGA MODEL REGRESI LINIER SEDERHANA

STUDI KOMPARATIF METODE KUADRAT TERKECIL DENGAN METODE REGRESI ROBUST PEMBOBOT WELSCH PADA DATA YANG MENGANDUNG PENCILAN

PERBANDINGAN BAGAN KENDALI T 2 HOTELLING KLASIK DENGAN T 2 HOTELLING PENDEKATAN BOOTSTRAP PADA DATA BERDISTRIBUSI NON-NORMAL MULTIVARIAT

PENGONTROLAN BAHAN BAKU PRODUKSI SEMEN JENIS PCC DI PT. SEMEN PADANG DENGAN MENGGUNAKAN DIAGRAM KONTROL MEWMA

TINJAUAN PUSTAKA. perubahan harga yang dibayar konsumen atau masyarakat dari gaji atau upah yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Time series merupakan serangkaian observasi terhadap suatu variabel yang

SEMINAR TUGAS AKHIR. Peta Kendali Comulative Sum (Cusum) Residual Studi Kasus pada PT. PJB Unit Pembangkitan Gresik. Rina Wijayanti

PERAMALAN PENYEBARAN JUMLAH KASUS VIRUS EBOLA DI GUINEA DENGAN METODE ARIMA

Spesifikasi Model. a. ACF

BAB 2 LANDASAN TEORI

II. TINJAUAN PUSTAKA. Analisis ARIMA (Autoregressive Integrated Moving Average) umumnya

PENDUGAAN PARAMETER DISTRIBUSI BETA DENGAN METODE MOMEN DAN METODE MAKSIMUM LIKELIHOOD

MODEL LAJU PERUBAHAN NILAI TUKAR RUPIAH (IDR) TERHADAP POUNDSTERLING (GBP) DENGAN METODE MARKOV SWITCHING AUTOREGRESSIVE (MSAR)

PREDIKSI HARGA SAHAM PT. BRI, Tbk. MENGGUNAKAN METODE ARIMA (Autoregressive Integrated Moving Average)

Peramalan Aset dengan Memperhatikan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan Pembiayaan Perbankan Syariah di Indonesia dengan Metode Fungsi Transfer

Penerapan Model ARIMA

Jurnal Matematika UNAND Vol. 5 No. 4 Hal ISSN : c Jurusan Matematika FMIPA UNAND

REGRESI LINIER NONPARAMETRIK DENGAN METODE THEIL

Prosedur untuk Memonitor Proses dengan Proporsi Kecacatan yang Rendah

PERAN STATISTIKA DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN INDUSTRI Pengendalian Mutu dengan Bantuan Statistika

Oleh: Nurul Hidayah Dosen pembimbing: Dra. Laksmi Prita, M.Si

Bab 2. Teori Dasar. 2.1 Pendahuluan

JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 6, No.1, (2017) ( X Print) A 6

BAB 2 LANDASAN TEORI

SBAB III MODEL VARMAX. Pengamatan time series membentuk suatu deret data pada saat t 1, t 2,..., t n

PENGENDALIAN MUTU BERAT PRODUKSI PT. SEMEN PADANG MENGGUNAKAN BAGAN KENDALI MEDIAN ABSOLUTE DEVIATION (MAD) PADA DATA TIDAK NORMAL

Penerapan Diagram Kontrol EWMA dan NEWMA pada Proses Pembuatan Benang 30 Rayon di PT. Lotus Indah Textile Industries Surabaya

Minggu 1 Review Peubah Acak; Karakteristik Time Series. Minggu 4-6 Model Moving Average (MA), Autoregressive (AR)

BAB III MODEL STATE-SPACE. dalam teori kontrol modern. Model state space dapat mengatasi keterbatasan dari

MODEL PARTISIPASI PEMILIH MASYARAKAT KABUPATEN DHAMASRAYA PADA PEMILU 2014 DENGAN MENGGUNAKAN METODE REGRESI LOGISTIK BAYESIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

GRAFIK PENGENDALI Mnp PADA DATA TAK SESUAI

PERBANDINGAN METODE BLACK SCHOLES DAN SIMULASI MONTE CARLO DALAM PENENTUAN HARGA OPSI EROPA

ANALISIS REGRESI LOGISTIK DENGAN METODE PENDUGA BAYES UNTUK MENENTUKAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH

Kata Kunci: Bagan kendali nonparametrik, estimasi fungsi kepekatan kernel

TEORI DASAR DERET WAKTU M A T O P I K D A L A M S T A T I S T I K A II 22 J A N U A R I 2015 U T R I W E N I M U K H A I Y A R

PEMODELAN PRODUKSI TANAMAN PANGAN BERDASARKAN KARAKTERISTIK TENAGA KERJA MENGGUNAKAN REGRESI AKAR CIRI

PERBANDINGAN KUASA WILCOXON RANK SUM TEST DAN PERMUTATION TEST DALAM BERBAGAI DISTRIBUSI TIDAK NORMAL

Penerapan Model ARIMA

PENGENDALIAN KUALITAS DENGAN MENGGUNAKAN DIAGRAM KONTROL EWMA RESIDUAL (STUDI KASUS: PT. PJB UNIT PEMBANGKITAN GRESIK)

Metode Deret Berkala Box Jenkins

PENERAPAN REGRESI POISSON DAN BINOMIAL NEGATIF DALAM MEMODELKAN JUMLAH KASUS PENDERITA AIDS DI INDONESIA BERDASARKAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI

Minggu 4-5 Analisis Model MA, AR, ARMA. Minggu 6-7 Model Diagnostik dan Forecasting. Minggu 8-9 Analisi Model ARI, IMA, ARIMA

BAB 2 LANDASAN TEORI Pengertian Data Deret Berkala

Prediksi Jumlah Penumpang Kapal Laut di Pelabuhan Laut Manado Menggunakan Model ARMA

ISSN: JURNAL GAUSSIAN, Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015, Halaman Online di:

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada semester genap tahun akademik 2014/2015

HARGA OPSI SAHAM TIPE AMERIKA DENGAN MODEL BINOMIAL

Jurnal Ilmiah Widya Teknik Volume 16 Nomor ISSN

PERAMALAN NILAI EKSPOR DI PROPINSI SUMATERA UTARA DENGAN METODE ARIMA BOX-JENKINS

PENDUGAAN DATA RUNTUT WAKTU MENGGUNAKAN METODE ARIMA

BAB 2 LANDASAN TEORI. Ramalan pada dasarnya merupakan perkiraan mengenai terjadinya suatu yang akan

ABSTRAK. Kata kunci : Data Runtun Waktu, Indeks Harga Konsumen, ARIMA, Analisis Intervensi, Fungsi Step, Peramalan. I Pendahuluan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. untuk menentukan produk dan jasa yang digunakan (Ariani, 2004). Konsumen

SIFAT-SIFAT DASAR FUNGSI KARAKTERISTIK

PENGONTROLAN KUALITAS PROSES PRODUKSI HEXAGON BOLT M16 X 75MM DI PT.TIMUR MEGAH STEEL GRESIK. MENGGUNAKAN METODE DIAGRAM KONTROL MULTIVARIAT np (Mnp)

PEMODELAN KELAHIRAN MURNI DAN KEMATIAN MURNI DENGAN DUA JENIS KELAMIN DENGAN PROSES STOKASTIK

PEMODELAN TARCH PADA NILAI TUKAR KURS EURO TERHADAP RUPIAH. Retno Hestiningtyas dan Winita Sulandari, M.Si. Jurusan Matematika FMIPA UNS

MODEL REGRESI COX PROPORTIONAL HAZARD PADA LAJU TAMAT MAHASISWA JURUSAN MATEMATIKA UNIVERSITAS ANDALAS

PERAMALAN PENJUALAN PRODUKSI TEH BOTOL SOSRO PADA PT. SINAR SOSRO SUMATERA BAGIAN UTARA TAHUN 2014 DENGAN METODE ARIMA BOX-JENKINS

ANALISIS REGRESI TERSEGMEN MENGGUNAKAN METODE GAUSS-NEWTON

BAB III PEMBAHARUAN PERAMALAN. Pada bab ini akan dibahas tentang proses pembaharuan peramalan.

MODEL EXPONENTIAL SMOOTHING HOLT-WINTER DAN MODEL SARIMA UNTUK PERAMALAN TINGKAT HUNIAN HOTEL DI PROPINSI DIY SKRIPSI

Pemodelan Autoregressive (AR) pada Data Hilang dan Aplikasinya pada Data Kurs Mata Uang Rupiah

PERAMALAN PEMAKAIAN ENERGI LISTRIK DI MEDAN DENGAN METODE ARIMA

PENERAPAN MODEL ARIMA UNTUK MEMPREDIKSI HARGA SAHAM PT. TELKOM Tbk. APPLICATION OF ARIMA TO FORECASTING STOCK PRICE OF PT. TELOKM Tbk.

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT BERWIRAUSAHA MAHASISWA DENGAN TEKNIK SEM

BAB 3 MODEL FUNGSI TRANSFER MULTIVARIAT

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Penerapan Model ARIMA

PENERAPAN MODEL ARIMAX PADA DATA PERMINTAAN IKAN PATIN DI RESTORAN KARIMATA BOGOR ARIKMADI TRI WIDODO

Analisis Mutu Ketebalan Roti Sisir Pada Perusahaan XYZ

KETERBAGIAN TAK HINGGA SEBARAN RIEMANN ZETA

Metode Cochrane-Orcutt untuk Mengatasi Autokorelasi pada Regresi Ordinary Least Squares

ANALISIS RANCANGAN EKONOMI PADA GRAFIK KENDALI EXPONENTIALLY WEIGHTED MOVING AVERAGE (EWMA)

PERBANDINGAN MODEL ARIMA DAN MODEL REGRESI DENGAN RESIDUAL ARIMA DALAM MENERANGKAN PERILAKU PELANGGAN LISTRIK DI KOTA PALOPO

Catatan Kuliah AK5161 Matematika Keuangan Aktuaria Insure and Invest! Dosen: Khreshna I.A. Syuhada, MSc. PhD.

Prediksi Tingkat Kemiskinan di Provinsi Aceh dengan Model AR

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

Peranan dari Pemilihan Level sebagai Referensi pada Variabel Bebas Bertipe Kategori terhadap Derajat Multikolinieritas dalam Model Regresi Linier

PEMODELAN JUMLAH KASUS TETANUS NEONATORUM DENGAN MENGGUNAKAN REGRESI POISSON UNTUK WILAYAH REGIONAL 2 INDONESIA (SUMATERA)

ANALISIS SISTEM ANTRIAN SATU SERVER (M/M/1)

PERBANDINGAN HASIL ESTIMASI PARAMETER GENERALIZED SPACE TIME AUTOREGRESSIVE (GSTAR) DENGAN VARIABEL EKSOGEN BERTIPE METRIK

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang

Transkripsi:

Jurnal Matematika UNAND Vol. 3 No. 2 Hal. 88 96 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND AUTOKORELASI PADA BAGAN KENDALI NILA CHOIROTUNNISA, MAIYASTRI, YUDIANTRI ASDI Program Studi Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Kampus UNAND Limau Manis Padang, Indonesia, nilachoirotunnisa@gmail.com, maiyastri@gmail.com, yudiantriasdi@gmail.com Abstrak. Dalam penggunaan bagan kendali, data yang mengkonstruksi bagan kendali harus memenuhi asumsi kebebasan dan kenormalan. Autokorelasi melanggar asumsi kebebasan pada bagan kendali dan mengakibatkan proses tidak terkendali. Permasalahan autokorelasi pada suatu proses dapat berasal dari penyebab khusus seperti pengambilan sampel secara periodik atau berasal dari sifat asli data. Autokorelasi yang berasal dari sifat asli data dapat diperbaiki dengan memodelkan data menggunakan model autoregressive. Pada makalah ini pengaruh autokorelasi pada bagan kendali dilihat dengan melakukan simulasi pada model autoregressive orde satu dengan koefisien autoregressive yang bernilai positif. Hasil simulasi menunjukkan bahwa untuk nilai koefisien autoregressive φ = 0.35, φ = 0.4 dan φ = 0.45 diperoleh data yang berpola tidak acak. Pemodelan yang dilakukan pada data untuk masing-masing koefisien autoregressive tersebut menghasilkan sisaan yang bebas dari pengaruh autokorelasi dan diperoleh proses yang terkendali. Kata Kunci: Autokorelasi, Bagan Kendali, Model Autoregressive Orde Satu, Pengendalian Proses Statistika 1. Pendahuluan Salah satu metode dari pengendalian mutu statistika adalah pengendalian proses statistika. Bagan kendali merupakan salah satu alat dari pengendalian proses statistika. Bagan kendali digunakan untuk memeriksa apakah suatu proses terkendali. Asumsi dasar penggunaan bagan kendali adalah bahwa data yang diperoleh dari suatu proses yang terkendali bersifat saling bebas dan menyebar normal dengan nilai tengah µ dan ragam σ 2 dimana nilai µ dan σ 2 tetap [2]. Autokorelasi melanggar asumsi dasar penggunaan bagan kendali, dimana data yang diambil untuk tiap pengamatan haruslah saling bebas. Apabila penyebab autokorelasi pada proses disebabkan oleh penyebab khusus maka dilakukan perbaikan pada proses. Seperti pada permasalahan proses yang disebabkan oleh kinerja karyawan, kondisi mesin dan lain-lain. Akan tetapi, jika penyebab autokorelasi bukan karena penyebab khusus melainkan karena sifat asli dari data maka permasalahan autokorelasi pada bagan kendali dilakukan dengan memodelkan data menggunakan model autoregressive. Pada makalah ini, model autoregressive yang digunakan adalah model autoregressive orde satu. 88

2. Pengendalian Proses Statistika Autokorelasi pada Bagan Kendali 89 Pengendalian proses statistika adalah teknik dasar dari pengendalian mutu statistika. Pengendalian proses statistika merupakan sekumpulan alat penyelesaian masalah yang berguna untuk mengolah data atau informasi yang diperoleh dari suatu proses untuk mengendalikan, meningkatkan dan menjaga kestabilan proses [2]. 3. Penyebab Keragaman Terdapat dua penyebab keragaman pada suatu proses produksi yaitu, penyebab umum dan penyebab khusus. Penyebab umum dari keragaman (chance causes of variation) adalah kejadian-kejadian yang merupakan bagian dari proses dan melekat pada proses [2]. Apabila hanya penyebab umum dari keragaman yang terdapat pada proses maka proses dikatakan terkendali. Sedangkan, penyebab khusus dari keragaman (assignable causes of variation) adalah kejadian-kejadian yang bukan merupakan bagian dari proses [2]. Apabila terdapat penyebab khusus dari keragaman pada suatu proses produksi maka proses tersebut dikatakan tidak terkendali. 4. Bagan Kendali Bagan kendali adalah penyajian grafis dari karakteristik mutu sampel yang diukur dan dihitung berdasarkan jumlah sampel atau waktu [2]. Bagan kendali terdiri dari garis tengah (GT) yang merepresentasikan nilai tengah dari karakteristik mutu yang menyatakan proses terkendali, batas kendali atas (BKA) yang merepresentasikan batas atas atau nilai maksimum dari data yang membuat proses dalam keadaan terkendali dan batas kendali bawah (BKB) yang merepresentasikan batas bawah atau nilai minimum dari data yang membuat proses dalam keadaan terkendali. Bagan kendali digunakan untuk memeriksa apakah suatu proses dalam keadaan terkendali statistika atau tidak. Jika sekurang-kurangnya terdapat satu titik data pengamatan berada di luar batas kendali atau jika tebaran data pengamatan pada bagan kendali membentuk pola yang tidak acak maka proses dikatakan tidak terkendali. Pola tidak acak pada bagan kendali di antaranya pola run, pola siklis, pola campuran, pola pergeseran, pola trend, pola stratifikasi dan lain-lain. Misalkan V adalah statistik untuk suatu karakteristik mutu dengan nilai tengah µ V dan standar deviasi σ V. Maka batas kendali atas (BKA), garis tengah (GT) dan batas kendali bawah (BKB) dari V didefinisikan sebagai: BKA = µ V + Lσ V, GT = µ V, BKB = µ V Lσ V, dengan L adalah jarak dari batas kendali atas atau batas kendali bawah ke garis tengah yang dinyatakan dalam satuan standar deviasi. Biasanya nilai L yang dipilih adalah tiga.

90 Autokorelasi pada Bagan Kendali 4.1. Jenis-Jenis Bagan Kendali Jenis-jenis bagan kendali berkaitan erat dengan jenis data yang digunakan pada bagan kendali. Jenis data yang digunakan pada bagan kendali ada dua macam, yaitu data numerik dan data kategori. Data numerik merupakan data kuantitatif yang diukur untuk keperluan analisis. Data kategori merupakan data kualitatif yang dapat dihitung untuk pencatatan dan analisis. Oleh karena itu, bagan kendali dikelompokkan menjadi dua, yaitu bagan kendali variabel dan bagan kendali atribut. 4.1.1. Bagan Kendali Variabel Suatu karakteristik mutu yang terukur disebut variabel. Misalnya diameter pipa, ketebalan produk, berat semen dalam kantong dan lain-lain. Jika karakteristik mutu dinyatakan sebagai variabel maka perlu dilakukan pengawasan dan pengendalian terhadap nilai tengah dan ragam dari karakteristik mutu tersebut. Pengendalian dapat dilakukan menggunakan bagan kendali variabel. Bagan kendali variabel dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu bagan kendali x dan R, bagan kendali x dan s dan bagan kendali I-MR. Bagan kendali x digunakan untuk mengendalikan rata-rata proses dan bagan kendali R digunakan untuk mengendalikan jangkauan dari suatu proses [3]. Apabila ukuran sampel n cukup besar, n > 10, maka bagan kendali yang baik untuk mengendalikan jangkauan atau keragaman proses adalah bagan kendali x dan s. Sedangakan bagan kendali I-MR atau bagan kendali individual dan jangkauan bergerak digunakan untuk pengendalian proses yang menggunakan sampel berukuran n = 1. 4.1.2. Bagan Kendali Atribut Tidak semua karakteristik mutu dapat dinyatakan sebagai variabel. Hal itu menyebabkan bagan kendali variabel tidak dapat digunakan secara universal. Sebagai contoh, dari suatu proses produksi akan diukur sebuah wadah kaca dari suatu produk yang dikategorikan sebagai bagian sesuai atau bagian tidak sesuai. Maka tidak mungkin pengendalian proses dilakukan menggunakan bagan kendali variabel untuk data kategori tersebut. Oleh karena itu, digunakan bagan kendali atribut untuk mengendalikan proses tersebut. Bagan kendali atribut diklasifikasikan menjadi empat yaitu bagan kendali p, bagan kendali np, bagan kendali c dan bagan kendali u. Bagan kendali p disebut juga bagan kendali untuk bagian tidak sesuai. Bagian tidak sesuai didefinisikan sebagai perbandingan jumlah item yang tidak sesuai dalam suatu populasi terhadap jumlah item keseluruhan dari populasi tersebut. Sedangkan bagan kendali np disebut juga bagan kendali untuk banyaknya bagian tidak sesuai. Bagan kendali np menunjukkan bagaimana proses diukur berdasarkan jumlah dari ketidaksesuaian, dengan mengalikan ukuran sampel dengan proporsi (np). Bagan kendali c disebut juga bagan kendali untuk ketidaksesuaian (cacat). Bagian spesifik saat spesifikasi tidak dipenuhi disebut ketidaksesuaian atau cacat.

Autokorelasi pada Bagan Kendali 91 Bagan kendali u disebut juga bagan kendali untuk unit tidak sesuai. Bagan kendali u adalah bagan kendali yang dibentuk berdasarkan rata-rata dari banyaknya ketidaksesuaian perunit. 5. Deret Waktu (Time Series) Suatu deret waktu adalah himpunan pengamatan-pengamatan yang terurut dan berorientasi waktu dari suatu variabel tertentu [2]. Misalkan T adalah periode waktu dan pengamatan dari peubah X pada waktu t dinyatakan sebagai x t dimana t = 1, 2,, T, maka {x t } adalah deret waktu. Definisi 5.1. [3] Suatu deret waktu {X t } dikatakan stasioner kuat (stricly stationary) jika sebaran bersama dari pengamatan X 1,, X t dan X 1+k,, X t+k bernilai sama untuk setiap bilangan bulat k dan t > 0. Definisi 5.2. [3] Misalkan fungsi rataan E(X t ) = µ t (t), kovarian antara X t dan X t+k, disebut autokovarian pada lag k yang didefinisikan sebagai: γ k = Cov(X t, X t+k ) = E[(X t µ Xt )(X t+k µ Xt+k )]. Definisi 5.3. [3] Jika x 1,, x t adalah pengamatan dari suatu deret waktu {x t }, maka fungsi autokovarian sampel didefinisikan sebagai berikut. dimana: ˆγ k = 1 T T k (x t x)(x t+k x), k = 0, 1, 2,, k, t=1 ˆγ k : Fungsi autokovarian sampel saat lag k, T : Banyaknya Sampel, k : Lag waktu, x t+k : Pengamatan saat t + k, x : Rataan sampel. Definisi 5.4. [1] Suatu deret waktu {X t } dikatakan stasioner lemah jika: (1) E(X t ) bebas terhadap t. (2) γ(x t, X t+k ) bebas terhadap t untuk setiap k. Model deret waktu untuk data pengamatan x t adalah spesifikasi sebaran bersama (atau hanya nilai rataan dan kovarians) dari suatu barisan peubah acak X t dengan pengamatan x t [1]. Beberapa model deret waktu di antaranya adalah model autoregressive (AR(p)), model moving average (MA(q)), model autoregressive moving average (ARMA(p,q)) dan model autoregressive integrated moving average (ARIMA(p,d,q)). Untuk memilih model deret waktu yang tepat dan orde model dari suatu data digunakan fungsi autokorelasi sampel dan fungsi autokorelasi parsial sampel.

92 Autokorelasi pada Bagan Kendali Definisi 5.5. [3] Misalkan {X t } adalah deret waktu stasioner. Fungsi autokorelasi dari deret waktu {X t } saat lag k adalah: ρ k = γ k = Cov(X t, X t+k ) γ 0 Cov(X t, X t+0 ) = Cov(X t, X t+k ) = Cor(X t, X t+k ). V ar(x t ) Definisi 5.6. [3] Misalkan x 1,, x t adalah adalah pengamatan dari suatu deret waktu {x t }. Fungsi autokorelasi sampel dari deret waktu {x t } saat lag k adalah: r k = ˆρ k = ˆγ T k k t=1 = (x t x)(x t+k x) ˆγ T 0 t=1 (x. t x) 2 Definisi 5.7. Misalkan {X t } adalah suatu deret waktu. Fungsi autokorelasi parsial dari {X t } didefinisikan sebagai berikut: φ kk = Cor(X t, X t+k X t+1, X t+2,, X t+k 1 ). φ kk adalah elemen terakhir dari φ k = Γ ( 1) k γ k, dimana Γ k = [γ i j ] k γ 1 untuk setiap i, j = 1,, k dan γ k =. γ k dan fungsi autokorelasi parsial sampel dari {x t } adalah: r k k = 1, ˆφ kk = r k k 1 j=1 r k q,r k j r k k 1 k = 2, 3,. j=1 r k q,r j γ 0 untuk setiap k 6. Metodologi Penelitian 6.1. Pembangkitan Data dengan Sifat Autokorelasi 1. Data dengan sifat autokorelasi dibangkitkan melalui simulasi data yang dilakukan menggunakan software Minitab 16. Berikut adalah langkah-langkah simulasi yang dilakukan: 1.1 Tetapkan jumlah sampel (T ) sebanyak 30 sampel. 1.2 Tetapkan ukuran sampel (n) sebanyak lima. 1.3 Tetapkan koefisien autoregressive (φ), φ = 0.35, φ = 0.4 dan φ = 0.45 1.4 Tetapkan nilai awal (x 0 ), x 0 = 1. 1.5 Tetapkan konstanta (µ), µ = 20. 1.6 Bangkitkan nilai galat (δ t ) secara acak dari sebaran normal dengan ketentuan nilai tengah nol dan ragam dua untuk setiap t = 1,, T. 1.7 Agar data memiliki sifat autokorelasi, bentuk suatu model autoregressive orde satu dengan menghitung: x t = µ t + φx t 1 + δ t, untuk setiap t = 1,, T, dimana x t 1 adalah pengamatan pada saat t-1.

Autokorelasi pada Bagan Kendali 93 1.8 Bangkitkan nilai galat ε ti secara acak dari sebaran normal dengan ketentuan nilai tengah nol dan ragam satu untuk setiap t = 1,, T dan i = 1, 2,, n. 1.9 Untuk mengkonstruksi data yang berupa subsampel, hitung x ti = x t + ε ti, untuk setiap t = 1,, T dan i = 1,, n. 1.10 Hitung nilai tengah dari x ti, t = 1,, T dan i = 1,, n. x t = i=1 n n Sehingga diperoleh nilai x t dimana t = 1,, T yang memiliki sifat autokorelasi orde satu. 2. Data yang diperoleh kemudian diperiksa apakah bersifat autokorelasi. Berikut langkah-langkah yang dilakukan: 2.1 Uji keacakan (kerandoman) dari sebaran data x t, t = 1,, T, menggunakan uji run. 2.2 Plot bagan kendali x dari x t, t = 1,, T. 2.3 Jika bagan kendali dinyatakan terkendali, proses selesai. Jika bagan kendali dinyatakan tidak terkendali, lanjut ke langkah 2.4. 2.4 Hitung fungsi autokorelasi sampel dari x t. 2.5 Uji signifikansi koefisien autokorelasi sampel dari x t menggunakan uji satistik t. 2.6 Hitung fungsi autokorelasi parsial sampel dari x t. 2.7 Uji signifikansi koefisien autokorelasi parsial sampel dari x t menggunakan uji satistik t. 2.8 Jika data tidak berautokorelasi, proses selesai. Jika data berautokorelasi, lanjutkan ke langkah 1 subbahasan 7.2. 6.2. Penggunaan Model Autoregressive Orde Satu (AR(1)) untuk Mengatasi Permasalahan Autokorelasi pada Bagan Kendali Untuk melihat sifat autokorelasi pada data, data dimodelkan dengan model autoregressive orde satu (AR(1)). Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Modelkan data dengan model autoregressive orde satu (AR(1)), yaitu: x ti x t = µ + φx t 1 + e t. 2. Duga koefisien autoregressive φ, yaitu ˆφ. 3. Duga nilai konstanta µ, yaitu ˆµ. 4. Cari nilai dugaan dari x t, dimana ˆ x t = ˆµ + ˆφ x t. 5. Hitung nilai sisaan dari model autoregressive orde satu, yaitu: e t = x t ˆ x t 6. Uji kebebasan dan kenormalan sisaan e t. 7. Plot bagan kendali x dari sisaan e t..

94 Autokorelasi pada Bagan Kendali 7. Hasil dan Pembahasan Pengaruh autokorelasi pada bagan kendali dilihat dengan melakukan simulasi data menggunakan software minitab 16. Data pengamatan disimulasikan memiliki sifat autokorelasi, dengan asumsi bahwa penyebab autokorelasi pada proses bukan diakibatkan oleh penyebab khusus keragaman yang dapat dieleminasi dari proses, tetapi murni melekat pada proses sehingga autokorelasi tidak dapat dihilangkan dari proses. Pada simulasi ini, ukuran sampel yang ditetapkan adalah lima dan jumlah sampel sebanyak 30 sampel. Simulasi dilakukan untuk beberapa nilai koefisien autoregressive φ, yaitu φ = 0.2, φ = 0.25, φ = 0.3, φ = 0.35, φ = 0.4, φ = 0.45 dan φ = 0.5. Pada simulasi dengan koefisien autoregressive φ = 0.2, φ = 0.25 dan φ = 0.3 tidak diperoleh data pengamatan x yang berpola tidak acak, karena autokorelasi belum berpengaruh signifikan pada data. Sedangkan pada simulasi yang dilakukan dengan koefisien autoregressive φ > 0.45 data yang diperoleh dari simulasi tidak dapat digunakan untuk mengkostruksi bagan kendali. Dari simulasi yang dilakukan dengan menggunakan koefisien autoregressive φ = 0.35, φ = 0.4 dan φ = 0.45 diperoleh data yang berpola tidak acak. Gambar 1 menunjukkan hasil simulasi dengan koefisien autoregressive φ = 0.35. Gambar 1. Bagan Kendali x untuk Karakteristik Mutu x t Dari bagan kendali x pada Gambar 1, terdapat 11 pengamatan di luar batas kendali atas dan 8 pengamatan berada di luar batas kendali bawah. Karena pola sebaran data karakteristik mutu x t tidak acak dan terdapat pengamatan yang berada di luar batas kendali maka proses dikatakan tidak terkendali dan diindikasikan terdapat autokorelasi pada bagan kendali. Dengan menganalisis fungsi autokorelasi dan fungsi autokorelasi parsial dari karakteristik mutu x t, diperoleh bahwa terdapat autokorelasi pada lag 1. Selanjutnya, data pengamatan x t dimodelkan menggunakan model autoregressive orde satu (AR(1)). Setelah data dimodelkan diperoleh nilai ˆφ = 7.4498, nilai ˆµ = 7.4498 dan sisaan dari model. Kemudian dilakukan uji kenormalan dan uji kebebasan pada sisaan. Dari pengujian yang dilakukan diketahui bahwa sisaan menyebar normal dan saling bebas. Kemudian dikonstruksi bagan kendali individual dari

Autokorelasi pada Bagan Kendali 95 sisaan model tersebut seperti pada Gambar 2. Gambar 2. Bagan Kendali x untuk Sisaan e t Berdasarkan pengujian yang dilakukan pada sisaan dan plot bagan kendali individual pada Gambar 2 diketahui bahwa proses terkendali. Sehingga, disimpulkan bahwa penggunaan model autoregressive orde satu dapat digunakan untuk memperbaiki pengaruh autokorelasi pada bagan kendali. 8. Kesimpulan dan Saran Autokorelasi pada bagan kendali terjadi apabila data yang mengkonstruksi bagan kendali tidak saling bebas, sehingga menyebabkan pola tidak acak dan mengakibatkan proses tidak terkendali. Simulasi data yang dilakukan untuk nilai koefisien autoregressive φ = 0.35, φ = 0.4 dan φ = 0.45 menghasilkan data dengan pola tidak acak yang menunjukkan bahwa proses tidak terkendali. Untuk menghilangkan pengaruh autokorelasi pada data, data tersebut dimodelkan dengan model autoregressive orde satu dan kemudian diperoleh sisaan model. Sisaan model yang menyebar normal dan saling bebas menunjukkan bahwa tidak terdapat autokorelasi pada data dan proses terkendali. Sehingga disimpulkan bahwa model autoregressive orde satu dapat digunakan untuk memperbaiki pengaruh autokorelasi pada bagan kendali. Terdapat berbagai metode yang dapat dilakukan untuk memperbaiki pengaruh autokorelasi pada bagan kendali. Salah satunya dengan menggunakan model deret waktu. Pada makalah ini, deret waktu yang digunakan adalah model autoregressive orde satu (AR(1)). Untuk itu, penulis menyarankan untuk membahas penggunaan model deret waktu lain seperti AR(p) dengan orde yang lebih tinggi (p > 1), MA(q), ARMA(p,q) atau ARIMA(p,d,q) untuk memperbaiki pengaruh autokorelasi pada bagan kendali. 9. Ucapan Terima kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada kepada Ibu Izzati Rahmi H.G, M.Si, Ibu Hazmira Yozza, M.Si dan Bapak Dr. Dodi Devianto yang telah memberikan

96 Autokorelasi pada Bagan Kendali masukan dan saran sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Daftar Pustaka [1] Brockwell, P.J. and Davis, R.A. 2002. Introduction to Time Series and Forecasting, Second Edition. Springer-Verlag New York, Inc. United States of America. [2] Montgomery, D.C. 2009. Introduction to Statistical Quality Control, Sixth Edition. John Wiley And Son, Inc. New York. [3] Montgomery, D.C. and Jennings, C.L. 2008. Introduction to Time Series Analysis and Forecasting. John Wiley And Son, Inc. United States of America. [4] Montgomery, D.C. 1992. Introduction To Linear Regression Analysis, Second Edition. John Wiley And Son,Inc. New York. [5] Requeijo, J.G. and Souza, A. M. 2011. T2 Control Chart To Processes With Cross-Autocorrelation. Proceedings of the 41st International Conference on Computers and Industrial Engineering pp. 822 827. Los Angeles.