2015 PERSEPSI GURU TENTANG PENILAIAN SIKAP PESERTA DIDIK DALAM KURIKULUM 2013 DI SMA NEGERI KOTA BANDUNG

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian.

NUR ENDAH APRILIYANI,

BAB I PENDAHULUAN. melalui berbagai upaya yang berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah dan

BAB I PENDAHULUAN. yang diamanatkan dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 pasal 3, bahwa:

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA DAN KESEHATAN BAB IV

BAB I PENDAHULUAN. Pembinaan moral bagi siswa sangat penting untuk menunjang kreativitas. siswa dalam mengemban pendidikan di sekolah dan menumbuhkan

BAB I PENDAHULUAN. bangsa. Suatu bangsa bisa dikatakan telah maju apabila seluruh warga negaranya

BAB I PENDAHULUAN. serta bertanggung jawab. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. membutuhkan sumber daya manusia yang dapat diandalkan. Pembangunan manusia

BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan. melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Oleh karena itu untuk

BAB I PENDAHULUAN. globalisasi seperti sekarang ini akan membawa dampak diberbagai bidang

Newsletter is a medium of exchange of information from the school to parents. Please contact us at: Phone:

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum pendidikan mampu manghasilkan manusia sebagai individu dan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan pilar utama bagi kemajuan bangsa dan negara.

BAB I PENDAHULUAN. memiliki peranan penting bagi keberlangsungan hidup dan masa depan seseorang.

BAB. I. Pendahuluan. Pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan. menciptakan pembelajaran yang kreatif, dan menyenangkan, diperlukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tujuan pendidikan Islam menurut Suyanto (2008: 83) adalah terbentuknya

BAB I PENDAHULUAN. mencapai cita-cita luhur bangsa. Cita-cita luhur bangsa Indonesia telah tercantum

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. merubah dirinya menjadi individu yang lebih baik. Pendidikan berperan

BAB I PENDAHULUAN. (aspek keterampilan motorik). Hal ini sejalan dengan UU No.20 tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN. Sebagaimana tujuan Pendidikan Nasional dalam Undang-Undang No.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dan Pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita permasalahan kebangsaan

BAB I PENDAHULUAN. sekaligus sebagai ujung tombak berdirinya nilai-nilai atau norma. mengembangkan akal manusia, mengingat fungsi pendidikan yaitu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. untuk memajukan kesejahteraan bangsa. Pendidikan adalah proses pembinaan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan wahana mengubah kepribadian dan pengembangan diri. Oleh

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kemajuan suatu bangsa dipengaruhi oleh akhlak bangsa tersebut.

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Suatu proses pendidikan tidak lepas dari Kegiatan Belajar Mengajar

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Nasional berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Triatno, (2009:53) menyatakan pendapatnya bahwa tujuan pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. sikap, perilaku, intelektual serta karakter manusia. Menurut Undang-Undang

I. PENDAHULUAN. karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang.

BAB I PENDAHULUAN. hidup yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan individu.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan menjadi tuntutan wajib bagi setiap negara, pendidikan memegang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan sejatinya adalah untuk membangun dan mengembangkan

BAB I PENDAHULUAN. dan pengembangan potensi ilmiah yang ada pada diri manusia secara. terjadi. Dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya,

BAB I PENDAHULUAN. dijangkau dengan sangat mudah. Adanya media-media elektronik sebagai alat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sedang berkembang, maka pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. Keberhasilan pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

STANDAR KOMPETENSI MATA PELAJARAN PJOK

BAB I PENDAHULUAN. aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, perilaku, pengetahuan, kesehatan,

SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian prasyarat Guna mencapai derajat Sarjana S- 1. Pendidikan Kewarganegaraan ROSY HANDAYANI A.

BAB I PENDAHULUAN. hidup (life skill atau life competency) yang sesuai dengan lingkungan kehidupan. dan kebutuhan peserta didik (Mulyasa, 2013:5).

BAB I PENDAHULUAN. generasi muda agar melanjutkan kehidupan dan cara hidup mereka dalam konteks

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Akuntansi. Disusun Oleh:

I. PENDAHULUAN. Sekolah menyelenggarakan proses pembelajaran untuk membimbing, mendidik,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

I. PENDAHULUAN. yaitu: sikap, proses, produk, dan aplikasi. Keempat unsur utama tersebut

BAB I PENDAHULUAN. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia terus

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak bisa terlepas dari individu

STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. pengajaran agar siswa tertarik dalam proses belajar mengajar. Pendidikan dapat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur memiliki

BAB I PENDAHULUAN. lawan jenis, menikmati hiburan di tempat-tempat spesial dan narkoba menjadi

BAB I PENDAHULUAN. melalui pendidikan sekolah. Pendidikan sekolah merupakan kewajiban bagi seluruh. pendidikan Nasional pasal 3 yang menyatakan bahwa:

BAB I PENDAHULUAN. Dari ketiga hal tersebut terlihat jelas bahwa untuk mewujudkan negara yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam dunia pendidikan khususnya, pelajaran akuntansi sangat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur

1. PENDAHULUAN. menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

BAB IV ANALISIS KOMPETENSI DASAR MATA PELAJARAN IPS SD/MI KURIKULUM 2013 DILIHAT DARI TAKSONOMI BLOOM

BAB 1 PENDAHULUAN. menentukan arah kemajuan suatu bangsa. Dengan pendidikan yang berjalan

(PTK Pada Siswa Kelas VIII B SMP Muhammadiyah 10 Surakarta)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. pembelajaran di sekolah baik formal maupun informal. Hal itu dapat dilihat dari

memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi.

BAB I PENDAHULUAN. sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

A. LATAR BELAKANG PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dalam kehidupan suatu negara memegang peranan yang. sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk membentuk karakter peserta

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. secara terus-menerus. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya manusia memiliki

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif

BAB I PENDAHULUAN. berfungsi untuk memperjelas istilah pada permasalahan yang ada.

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan menjadi sebuah harapan, keinginan, tuntutan dan pandangan bersama. untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

BAB 1 PENDAHULUAN. terpenting dalam bidang pendidikan. Pendidikan yang berkualitas adalah yang. Pasal 3 tentang fungsi dan tujuan pendidikan adalah:

I. PENDAHULUAN. belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif. mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

BAB I PENDAHULUAN. Dengan pendidikan manusia menjadi lebih mampu beradaptasi dengan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Matematika. Oleh:

BAB I PENDAHULUAN. untuk memimpin jasmani dan rohani ke arah kedewasaan. Dalam artian,

BAB 1 PENDAHULUAN. murid, siswa, mahasiswa, pakar pendidikan, juga intektual lainnya.ada

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan teknis (skill) sampai pada pembentukan kepribadian yang kokoh

BAB I PENDAHULUAN. yang sedang terjadi dengan apa yang diharapkan terjadi.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kemajuan suatu

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi semua orang dan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan sampai kapanpun dan dimanapun ia berada. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik. Tujuan pendidikan yang kita harapkan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Pendidikan harus mampu mempersiapkan warga negara agar dapat berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, cerdas, aktif, kreatif, terampil, jujur, berdisiplin dan bermoral tinggi, demokratis, dan toleran dengan mengutamakan persatuan bangsa.undangundang Nomor 20 tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa fungsi Pendidikan Nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berangkat dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa pendidikan merupakan aktivitas sadar yang dilakukan oleh manusia guna membangun pribadi individu, masyarakat, bangsa dan negaranya menjadi lebih baik. Salah satu pendukung yang melatar belakangi baik buruknya sebuah pendidikan terlihat pada kurikulum pendidikan yang digunakan. 48

49 Kurikulum di Indonesia sudah mengalami beberapa kali perubahan. Perubahan kurikulum tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran serta rancangan pembelajaran yang ada di sekolah. Perubahan kurikulum dari masa ke masa baik di Indonesia maupun di negara lain, disebabkan karena kebutuhan masyarakat yang setiap tahunnya selalu berkembang dan tuntutan zaman yang cenderung berubah. Perubahan kurikulum dianggap sebagai penentu masa depan anak bangsa. Oleh karena itu, kurikulum yang baik akan sangat diharapkan dapat dilaksanakan di Indonesia sehingga akan menghasilkan masa depan anak bangsa yang cerah yang berimplikasi pada kemajuan bangsa dan negara. Pada setiap kurikulum, penilaian (assessment) menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan, mengingat evaluasi sebagai salah satu alat untuk menilai dan mengukur tingkat kemampuan peserta didik di samping memahami perubahan-perubahan yang terjadi pada keseharian siswa. Kurikulum 2013 mengisyaratkan pentingnya sistem penilaian diri, dimana peserta didik dapat menilai kemampuannya sendiri. Sistem penilaian mengacu pada 3 (tiga) aspek penting, yakni: knowledge, skill, dan attitude. Adapun model penilain yang terdapat dalam kurikulum 2013 adalah authentic assessment. Menurut Kunandar (2013, hlm. 37) dalam penilaian otentik memerhatikan keseimbangan antara penilaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang disesuaikan dengan perkembangan karakteristik peserta didik sesuai dengan jenjangnya. Penilaian otentik ini dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output), yang meliputi ranah pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Penilaian dalam kurikulum 2013 mengacu pada Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Standar Penilaian Pendidikan bertujuan untuk menjamin: (1) perencanaan penilaian peserta didik sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dan berdasarkan prinsipprinsip penilaian, (2) pelaksanaan penilaian peserta didik secara profesional, terbuka, edukatif, efektif, efisien, dan sesuai dengan konteks sosial budaya, dan (3) pelaporan hasil penilaian peserta didik secara objektif, akuntabel, dan informatif. Menurut Permendikbud tersebut standar penilaian pendidikan

50 adalah kriteria mengenai mekanisme, prosedur, dan istrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Dalam kurikulum 2013 ada pergeseran paradigma dalam melakukan penilaian, yakni dari penilaian konvensional (melalui tes) yang mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja, menjadi penilaian otentik yang mengukur kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap berdasarkan proses dan hasil. Dalam kurikulum 2013, sikap dibagi menjadi dua, yakni sikap spiritual dan sikap sosial. Sikap masuk menjadi kompetensi inti, yakni kompetensi inti 1 (KI 1) untuk sikap spiritual dan kompetensi inti 2 (KI 2) untuk sikap sosial. Menurut Kunandar (2013, hlm. 100) dalam kurikulum 2013 kompetensi sikap, baik sikap spiritual (KI 1) dan sikap sosial (KI 2) tidak diajarkan dalam proses belajar mengajar (PBM). Artinya, kompetensi sikap spiritual dan sosial meskipun memiliki Kompetensi Dasar (KD), tetapi tidak dijabarkan dalam materi atau konsep yang harus disampaikan atau diajarkan kepada peserta didik melalui PBM, namun sikap spiritual dan sikap sosial tersebut harus terimplementasikan dalam PBM melalui pembiasaan dan keteladanan yang ditunjukkan oleh peserta didik dalam keseharian melalui dampak pengiring (nurturant effect) dari pembelajaran. Sikap menentukan keberhasilan belajar seseorang. Orang yang tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu sulit untuk mencapai keberhasilan belajar secara optimal. Seseorang yang berminat dalam suatu mata pelajaran diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Oleh karena itu, semua pendidik harus mampu membangkitkan minat semua peserta didik untuk mencapai komptensi yang telah ditentukan. Selain itu ikatan emosional sering diperlukan untuk membangun semangat kebersamaan, semangat persatuan, semangat nasionalisme, rasa sosial, dan sebagainya. Untuk itu, semua dalam merancang program pembelajaran satuan pendidikan harus memerhatikan ranah afektif. Pada kenyataannya masih banyak permasalahan sikap yang sering ditemui dalam kegiatan pembelajaran. Permasalahan-permasalahan tersebut diantaranya seperti mencontek saat ujian, tidak mengerjakan tugas yang

51 diberikan, menyalin tugas dari pekerjaan temannya, bolos tanpa alasan yang jelas dan dapat diterima, terlibat tawuran, terlibat narkoba, sering telat masuk sekolah, dan tidak menghormati guru dan orang lain. Dalam kurikulum 2013 menetapkan sikap sebagai aspek yang sangat penting untuk dinilai dalam pembelajaran. Secara otentik, urutan penilaian dimulai dari penilaian sikap, penilaian pengetahuan, dan yang terakhir penilaian keterampilan. Secara logis kita tidak akan bisa mengukur perubahan sikap peserta didik dengan memberi soal-soal sebagaimana kita mengukur pengetahuan. Secara umum, semua mata pelajaran memiliki tiga domain tujuan, yaitu peningkatan kemampuan kognitif, peningkatan kemampuan afektif, dan peningkatan keterampilan berhubungan dengan berbagai pokok bahasan yang ada dalam suatu mata pelajaran. Namun demikian, selama ini penekanan yang sangat menonjol, baik dalam proses pembelajaran maupun dalam pelaksanaan penilaiannya adalah dalam domain kognitif. Domain afektif dan psikomor agak terabaikan. Dampak yang terjadi, seperti yang menjadi sorotan masyarakat akhir-akhir ini, lembaga-lembaga pendidikan menghasilkan lulusan yang kurang memiliki sikap positif yang sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dan kurang terampil untuk menjalani kehidupan dalam masyarakat lingkungannya. Oleh karena itu, kondisi ini perlu diperbaiki. Domain kognitif, afektif dan psikomotor perlu mendapat penekanan yang seimbang dalam proses pembelajaran dan penilaian. Dengan demikian, penilaian sikap perlu dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, dan hasil penilaiannya perlu ditindak lanjuti. Pengutamaan penilaian sikap harus dibangun sejak awal agar nantinya peserta didik mampu menjadi penerus bangsa yang berbudi luhur. Penilaian sikap pada Kurikulum 2013 meliputi penilaian sikap spiritual dan sikap sosial. Sikap spiritual adalah sikap kepada Tuhan, yang tentu saja berisikan penilaian dalam hal ibadah. Sikap sosial adalah sikap kepada sesamanya, yang tentu saja berisikan sikap dalam berinteraksi sosial. Karakteristik nilai spiritual yang general menyebabkan sulitnya pengembangan indikator kompetensi, dikarenakan nilai spiritual yang lebih

52 bersifat umum tersebut ketika dihadapkan pada pola kehidupan religi bangsa kita yang bermacam-macam. Nilai umum spiritual tersebut muaranya adalah manusia yang ber-imtaq (Iman dan Taqwa). Disamping itu, ada nilai sosial yang sifatnya general-relatif. Bersifat umum namun terkait pada tema/topik tertentu. Hal ini juga membawa kesulitan tersendiri, karena guru dituntut memilih beberapa kompetensi sikap sosial yang cocok dengan tema-tema tertentu. Nilai sikap sosial tersebut dikembangkan melalui sekurangkurangnya tujuh nilai kompetensi sikap sosial, yakni jujur, kerjasama, toleransi, gotong-royong, peduli, percaya diri dan santun. Sikap spiritual maupun sosial dari sisi pembelajaran merupakan pembelajaran tidak langsung. Nilai-nilai tersebut tidak diajarkan secara langsung seperti pembelajaran pada kompetensi pengetahuan dan keterampilan. Jika mengajarkan pengetahuan atau keterampilan, maka materi pembelajarannya jelas, tujuan pembelajaran yang terumus melalui indikator kompetensi sumbernya juga jelas dan spesifik. Sedangkan pada kompetensi sikap tidak, materinya bersumber dari nilai-nilai yang sifatnya generalnormatif (norma-norma umum yang berlaku dalam kehidupan masyarakat). Penilaian sikap dalam kurikulum 2013 dilakukan melalui beberapa instrumen tertentu, yakni observasi atau pengamatan perilaku dengan alat lembar pengamatan, penilaian diri, penilaian teman sejawat oleh peserta didik, jurnal, dan wawancara dengan alat panduan wawancara (pertanyaanpertanyaan langsung). Artinya, guru harus mempersiapkan instrumen penilaian tersebut mulai dari perencanaan yang berupa penentuan kompetensi sikap yang akan dinilai hingga merumuskan format instrumen penilaian yang akan digunakan. Selanjutnya, guru akan melakukan penilaian sikap tersebut yang nantinya akan ditindak lanjuti dengan mengacu pada hasil penilaian. Dengan persepsi individu dapat menyadari, dapat mengerti tentang keadaan lingkungan yang ada di sekitarnya, dan juga tentang keadaan diri individu yang bersangkutan. Karena dalam persepsi itu merupakan aktivitas yang integrated, maka seluruh apa yang ada dalam diri individu seperti perasaan, kemampuan berfikir, pengalaman-pengalaman individu tidak sama, maka dalam mempersepsi suatu stimulus, hasil persepsi mungkin akan

53 berbeda antara individu satu dengan individu lain. Keadaan tersebut memberikan gambaran bahwa persepsi itu memang bersifat individual. Maka jelaslah dengan adanya stimulus yang sama mengenai penilaian sikap peserta didik dalam kurikulum 2013, tetapi karena pengalamannya tidak sama, kemampuan berfikir tidak sama, adanya kemungkinan hasil persepsi antara guru yang satu dengan guru yang lainnya tidak sama dalam hal memberikan persepsi mengenai penilaian sikap dalam kurikulum 2013 yang cenderung baru. Berdasarkan kenyataan dan tuntutan di atas, maka peneliti tertarik untuk mengambil judul Persepsi Guru tentang Penilaian Sikap Peserta Didik dalam Kurikulum 2013 di SMA Negeri Kota Bandung. B. Pembatasan dan Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, rumusan masalah umum dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah persepsi guru tentang penilaian sikap peserta didik dalam kurikulum 2013 di SMA Negeri Kota Bandung? Rumusan masalah khusus dari penelitian ini adalah: 1. Bagaimana persepsi guru terhadap perencanaan penilaian sikap peserta didik dalam kurikulum 2013 di SMA Negeri Kota Bandung? 2. Bagaimana persepsi guru terhadap pelaksanaan penilaian sikap peserta didik dalam kurikulum 2013 di SMA Negeri Kota Bandung? 3. Bagaimana persepsi guru terhadap kesulitan perencanaan dan pelaksanaan penilaian sikap peserta didik dalam kurikulum 2013 di SMA Negeri Kota Bandung? 4. Bagaimana upaya guru untuk mengatasi kesulitan dalam pelaksanaan penilaian sikap peserta didik dalam kurikulum 2013 di SMA Negeri Kota Bandung? C. Tujuan Penelitian Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran serta informasi mengenai penilaian sikap peserta didik dalam kurikulum 2013 di SMA Negeri Kota Bandung.

54 Adapun tujuan khusus penelitian ini yaitu: 1. Mendeskripsikan dan menganalisis persepsi guru tentang perencanaan penilaian sikap peserta didik dalam kurikulum 2013 di SMA Negeri Kota Bandung 2. Mendeskripsikan dan menganalisis persepsi guru tentang pelaksanaan penilaian sikap peserta didik dalam kurikulum 2013 di SMA Negeri Kota Bandung 3. Mengidentifikasi kesulitan guru dalam pelaksanaan penilaian sikap peserta didik dalam kurikulum 2013 di SMA Negeri Kota Bandung 4. Mendeskripsikan upaya guru untuk mengatasi kesulitan dalam untuk mengatasi kesulitan guru dalam pelaksanaan penilaian sikap peserta didik dalam kurikulum 2013 di SMA Negeri Kota Bandung D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan dapat digunakan oleh semua pihak yang berkecimpung di dunia pendidikan atau tertarik dengan dunia pendidikan serta dapat dijadikan sebagai acuan dalam pelaksanaan sistem penilaian. 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan kajian lebih lanjut mengenai hal yang serupa di kemudian hari. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Guru Melalui penelitian ini diharapkan guru mengetahui bagaimana pelaksanaan penilaian sikap peserta didik dalam kurikulum 2013, dan juga sebagai bahan evaluasi untuk dapat terus mengembangkan potensi yang dimiliki agar lebih siap lagi dalam melaksanaan penilaian di kelas. b. Bagi Sekolah Sekolah dapat mengetahui persepsi guru terhadap penilaian sikap peserta didik dalam kurikulum 2013, yang kemudian dijadikan pertimbangan untuk melakukan evaluasi terhadap tenaga pendidik baik yang telah siap atau belu