BAB 2 SISTEM KOMUNIKASI VSAT

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 SISTEM KOMUNIKASI VSAT

ANALISIS PENGKODEAN MODEM VSAT TERHADAP PERFORMANSI BER PADA SISTEM SCPC

BAB 4 ANALISIS PERFORMANSI JARINGAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Apalagi bagi Negara - negara yang mempunyai rintangan - rintangan alamiah,

TUGAS AKHIR. Oleh FAJRI DARWIS

BAB III INTERFERENSI RADIO FM DAN SISTEM INTERMEDIATE DATA RATE (IDR)

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III IMPLEMENTASI JARINGAN VSAT

TUGAS MAKALAH KOMUNIKASI SATELIT. Teknologi Very Small Aperture Terminal (VSAT)

Jaringan VSat. Pertemuan X

PERENCANAAN JARINGAN VSAT TDMA DI WILAYAH AREA JAYAPURA TUGAS AKHIR

BAB IV SATELLITE NEWS GATHERING

TEKNOLOGI VSAT. Rizky Yugho Saputra. Abstrak. ::

ANALISA KELAYAKAN JARINGAN VSAT PADA BANK MANDIRI DENGAN METODE AKSES CDMA

BAB III IMPLEMENTASI VSAT PADA BANK MANDIRI tbk

ANALISIS PENGARUH REDAMAN HUJAN PADA TEKNOLOGI VSAT SCPC TERHADAP LINK BUDGET ARAH UPLINK DAN DOWNLINK

LAPORAN KERJA PRAKTIK

BAB II CODE DIVISION MULTIPLE ACCESS (CDMA) CDMA merupakan singkatan dari Code Division Multiple Access yaitu teknik

PERBANDINGAN KINERJA JARINGAN VERY SMALL APERTURE TERMINAL BERDASARKAN DIAMETER ANTENA PELANGGAN DI PASIFIK SATELIT NUSANTARA MEDAN TUGAS AKHIR

Kuliah 5 Pemrosesan Sinyal Untuk Komunikasi Digital

ANALISIS KINERJA JARINGAN VSAT PADA STASIUN KLIMATOLOGI BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA SEMARANG

PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT PERANGKAT

BAB III Perencanaan Jaringan VSAT Pada Bank Mandiri dengan CDMA

PERBANDINGAN KINERJA JARINGAN VERY SMALL APERTURE TERMINAL BERDASARKAN DIAMETER ANTENA PELANGGAN DI PASIFIK SATELIT NUSANTARA MEDAN

SISTEM TELEKOMUNIKASI SATELIT

ANALISIS PARAMETER BER DAN C/N DENGAN LNB COMBO PADA TEKNOLOGI DVB-S2

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB IV PERENCANAAN JARINGAN TRANSMISI GELOMBANG MIKRO PADA LINK SITE MRANGGEN 2 DENGAN SITE PUCANG GADING

BAB II PEMODELAN PROPAGASI. Kondisi komunikasi seluler sulit diprediksi, karena bergerak dari satu sel

Analisis Parameter Ber Dan C/N Dengan Lnb Combo Pada Teknologi Dvb-S2

ANALISA INTERFERENSI FM TERHADAP LINK TRANSMISI SATELIT INTERMEDIATE DATA RATE

BAB II DASAR TEORI. frekuensi yang berbeda ke stasiun bumi penerima. yang disebut TWTA (Travelling Wave Tube Amplifier) atau SSPA

ANALISA KEHANDALAN JARINGAN VSAT IP DITINJAU DARI DELAY, DATA RATE DAN SERVICE LEVEL

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 Sistem Komunikasi Satelit

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISA LINK BUDGET PADA KOMUNIKASI SATELIT VSAT POINT TO POINT BANK MANDIRI tbk CABANG PADANG KE STASIUN BUMI CIPETE JAKARTA TUGAS AKHIR

BAB III TEORI PENUNJANG

BAB IV LINK BUDGET ANALYSIS PADA JARINGAN KOMUNIKASI

SISTEM KOMUNIKASI CDMA Rr. Rizka Kartika Dewanti, TE Tito Maulana, TE Ashif Aminulloh, TE Jurusan Teknik Elektro FT UGM, Yogyakarta

PENGENALAN TEKNOLOGI VSAT (VERY SMALL APERTURE TERMINAL)

Apa perbedaan antara teknik multiplex dan teknik multiple access??

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TROPOSCATTER

Code Division multiple Access (CDMA)

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. maka antara satu BTS dengan BTS yang lain frekuensinya akan saling

BAB II DASAR TEORI. orbit tertentu. Sistem komunikasi satelit dapat dikatakan sebagai sistem

BAB 3 MEKANISME PENGKODEAAN CONCATENATED VITERBI/REED-SOLOMON DAN TURBO

Simulasi Performansi Payload HAPS (High Altitude Platform System) Untuk FWA (Fixed Wireless Access) Pada Sistem CDMA2000 1x

Dasar Sistem Transmisi

TTG3B3 - Sistem Komunikasi 2 Multiple Access

SISTEM GLOBAL BEAM DAN MULTI BEAM

adalah pengiriman data melalui sistem transmisi elektronik dengan komputer adalah hubungan dua atau lebih alat yang membentuk sistem komunikasi.

ANALISA KINERJA LOCAL MULTIPOINT DISTRIBUTION SERVICE (LMDS) SEBAGAI AKSES LAYANAN NIRKABEL PITA LEBAR O L E H RUDIANTO BM. HARIANJA

PERANCANGAN SISTEM. Gambar 4.1 Konfigurasi Umum Jaringan VSAT IP

Seminar Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi Terapan 2011 (Semantik 2011) ISBN

DASAR TEKNIK TELEKOMUNIKASI

BAB II SISTEM KOMUNIKASI VSAT. Sistem komunikasi VSAT adalah salah satu aplikasi dari sistem

I. Pembahasan. reuse. Inti dari konsep selular adalah konsep frekuensi reuse.

MULTIPLEXING. Ir. Roedi Goernida, MT. Program Studi Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Simulasi Channel Coding Pada Sistem DVB-C (Digital Video Broadcasting-Cable) dengan Kode Reed Solomon

IEEE b 1.1 INTRODUCTION

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III PERHITUNGAN LINK BUDGET SATELIT

PERENCANAAN ANALISIS UNJUK KERJA WIDEBAND CODE DIVISION MULTIPLE ACCESS (WCDMA)PADA KANAL MULTIPATH FADING

Sistem Transmisi Telekomunikasi Kuliah 1 Pendahuluan

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 297 / DIRJEN / 2004 TENTANG

ANALISIS SISTEM KOMUNIKASI VSAT IP UNTUK KOMUNIKASI JARINGAN PRIVAT BANK BRI

Cara Kerja Exciter Pemancar Televisi Analog Channel 39 di LPP (Lembaga Penyiaran Publik) Stasiun Transmisi Joglo Jakarta Barat

HAND OUT EK. 481 SISTEM TELEMETRI

Satelit. Pertemuan XI

MODULASI. Ir. Roedi Goernida, MT. Program Studi Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 LATAR BELAKANG

BAB II DASAR TEORI. Dasar teori yang mendukung untuk tugas akhir ini adalah teori tentang device atau

BAB III SISTEM JARINGAN TRANSMISI RADIO GELOMBANG MIKRO PADA KOMUNIKASI SELULER

Jurnal Teknologi Elektro, Universitas Mercu Buana ISSN: ANALISA TRAFIK SCADA DAN VOICE PADA VSAT

Pengertian Multiplexing

Teknik Transmisi Seluler (DTG3G3)

Instalasi dan Uji Troughput Modem Romantis UHP 1000 pada Sistem Komunikasi Satelit Berbasis VSAT di PT. Pasifik Satelit Nusantara Cikarang Abstrak

Analisis Kebutuhan Bandwidth Minimal Pada Automatic Teller Machine (ATM) Berbasis Very Small Apperture Terminal-IP (VSat-Ip)

RANCANGAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2012 TENTANG

Pendahuluan Secara tradisional, pengembangan- pengembangan infrastruktur jaringan telekomunikasi selama ini menggunakan teknologi terrestrial, tetapi

CARA KERJA SATELIT. Dalam hal perencanaan frekuensi ini (frequency planning), dunia dibagi menjadi 3, yaitu:

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III. IMPLEMENTASI WiFi OVER PICOCELL

UNIVERSITAS INDONESIA ANALISA KEHANDALAN JARINGAN VSAT IP DITINJAU DARI DELAY, DATA RATE DAN SERVICE LEVEL SKRIPSI

ASSESMENT CLO 3 - RMG PENGENALAN TEKNIK TELEKOMUNIKASI

Teknik Telekomunikasi

Analisis Kebutuhan Bandwidth Minimal Pada Automatic Teller Machine (ATM) Berbasis Very Small Apperture Terminal-Ip (Vsat-Ip)

TEKNIK DAN MODEL KOMUNIKASI

BAB 3 JARINGAN VSAT ( VERY SMALL APERTURE TERMINAL )

BAB II ARSITEKTUR SISTEM CDMA. depan. Code Division Multiple Access (CDMA) merupakan salah satu teknik

4.2. Memonitor Sinyal Receive CPE/SU Full Scanning BAB V. PENUTUP Kesimpulan Saran...

MULTIPLEXING. Frequency-division Multiplexing (FDM)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Diajukan guna melengkapi sebagian syarat Dalam mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S1) Disusun Oleh :

Teknik Multiple Akses FDMA, TDMA, CDMA

Pada gambar 2.1, terdapat Customer Premises Equipment (CPE) adalah peralatan telepon atau penyedia layanan lain yang terletak di sisi user.

Transkripsi:

BAB 2 SISTEM KOMUNIKASI VSAT 2.1 Konfigurasi Sistem Komunikasi Satelit VSAT Dalam jaringan VSAT, satelit melakukan fungsi relay, yaitu menerima sinyal dari ground segment, memperkuatnya dan mengirimkan kembali ke ground segment yang lain. Antar stasiun VSAT terhubung dengan satelit melalui Radio Frequency (RF). Hubungan ( link) dari stasiun VSAT ke satelit disebut uplink, sedangkan link dari satelit ke stasiun VSAT disebut downlink. Komunikasi satelit memiliki konfigurasi : Gambar 2.1. Konfigurasi Sistem Komunikasi Satelit Gambar 2.2. Definisi Uplink dan Downlink

Jaringan VSAT menggunakan satelit geostasioner, yang memiliki orbit pada bidang equator dengan ketinggian ± 36.000 km di atas permukaan bumi. Gambar 2.3. Satelit Geostasioner Geostasioner mengorbit sesuai dengan rotasi bumi, sehingga kalau dilihat dari suatu titik di bumi, satelit itu akan terlihat diam. Penggunaan satelit ini menguntungkan karena terminal VSAT dapat dibuat tetap menghadap ke satelit dan tidak perlu diubah-ubah arahnya karena posisi satelitnya akan tetap terhadap terminal VSAT di bumi. Digunakan satelit geostasioner menyebabkan jaringan komunikasi VSAT mempunyai daerah jangkauan yang luas dan tidak perlu melacak arah pergerakan satelit sehingga biaya operasional dan perawatan menjadi rendah. Dengan berbagai kelebihan jaringan, maka komunikasi VSAT dapat memberikan solusi pada kebutuhan komunikasi data yang semakin meningkat. 2.2 Stasiun Bumi Jaringan VSAT Pada gambar 2.4 mengilustrasikan arsitektur dari stasiun VSAT. Seperti yang ditunjukkan pada gambar tersebut, sebuah stasiun VSAT terdiri dari dua bagian yaitu Outdoor Unit (ODU) dan Indoor Unit (IDU). Outdoor Unit adalah interface ke satelit, sedangkan Indoor Unit adalah interface ke terminal pelanggan atau local area network (LAN).

Gambar 2.4. Stasiun Bumi VSAT 2.2.1 Outdoor Unit (ODU) Outdoor Unit terdiri dari antena dan Radio Frequency (RF) unit yang terdiri dari transmit amplifier, Low Noise Amplifier dan up/down converter. Parameter - parameter penting pada Outdoor Unit (ODU) : Band frekuensi transmit dan receive. Step size pengaturan frekuensi untuk frekuensi transmit dan tuning untuk frekuensi receive. EIRP (Effective Isotropic Radiated Power) yang menunjukkan performansi dari radio frekuensi uplink. EIRP tergantung pada gain antena dan power transmit

G/T (Figure of Merit) : parameter RF pada arah downlink yaitu perbandingan antara gain antena terhadap temperatur noise di receiver; Variasi gain sidelobe antena. 2.2.1.1 Antena Antena berfungsi untuk memancarkan dan menerima gelombang radio RF, antena yang digunakan pada jaringan VSAT adalah antena parabola yang mudah dipasang dan dipindahkan sesuai dengan keinginan pemakai. Adapun untuk suatu antena stasiun bumi harus memenuhi tiga kebutuhan dasar : Antena harus mempunyai direktifitas/gain yang tinggi. Antena harus mempunyai temperature noise yang rendah. Antena harus dapat dikendalikan dengan mudah. Pada antena terdapat primary feed horn yang terbuat dari bean synthesized horn dan two port orthomcode tranducer. Peralatan ini diletakkan pada titik fokus dari pemantul dan dihubungkan dengan Low Noise Amplifier (LNA) yang berfungsi untuk transmisi simultan dan penerimaan sinyal.

Gambar 2.5. Antena Stasiun Bumi VSAT 2.2.1.2 Radio Frequency (RF) Unit Pada Radio Frequency (RF), selain antena terdapat Low Noise Amplifier (LNA) yang dipasang pada antena yang berfungsi untuk memperkuat sinyal RF yang diterima untuk selanjutnya diteruskan kembali ke bagian down-converter (mengubah sinyal RF menjadi IF). Selain itu pada subsistem RF terdapat up-converter yang mengubah sinyal IF menjadi sinyal RF dan High Power Amplifier (HPA) atau Solid-State Power Amplifier (SSPA) untuk memperkuat sinyal RF sehingga dapat ditransmisikan. Dilihat dari penggunaanya, LNA merupakan perangkat penerima (downlink), sedangkan upconverter dan HPA merupakan perangkat pengirim (uplink). Gambar 2.6. Low Noise Amplifier (LNA)

Gambar 2.7. Up-Down Converter Gambar 2.8. High Power Amplifier (HPA) 2.2.2 Indoor Unit (IDU) Indoor Unit merupakan interface ke terminal pelanggan. Indoor Unit terdiri dari modem (modulator - demodulator) dan terminal pelanggan. Perangkat Indoor Unit berfungsi menerima data dari pelanggan, memodulasi serta mengirimkan ke outdoor RF unit untuk ditransmisikan dan menerima data termodulasi dari outdoor RF unit, mendemodulasikan lalu mengirimkan kembali data tersebut ke pelanggan. Sebagai interface ke terminal pelanggan, parameter - parameter penting yang harus diperhatikan pada Indoor Unit (IDU) adalah : Jumlah port. Tipe port.

Kecepatan port (Bit Rate maksimum data yang dapat dilewatkan). Gambar 2.9. Modem Comtech CDM-600 2.3 Prinsip Kerja Sistem VSAT 2.3.1 Proses Transmisi 1) Data yang akan ditransmisikan dari remote/user, terlebih dahulu memasuki modem. Modem yang digunakan dalam hal ini adalah CDM- 600, dalam modem ini data dimodulasi. Modulasi ini bertujuan untuk mentranslasikan gelombang frekuensi informasi ke dalam gelombang lain pada frekuensi yang lebih tinggi untuk dibawa ke media transmisi 2) Setelah data tersebut dimodulasi, selanjutnya akan memasuki perangkat yang disebut RFT ( RFTransceiver). Dalam RFT ini terdapat Up dan Down Converter. Untuk proses transmit yang digunakan adalah Up Converter. Up Converter ini berfungsi untuk mentranslasikan sinyal dari frekuensi menengah IF (Intermediate Frequency) menjadi suatu sinyal RF (Radio Frequency). Output sinyal yang dihasilkan adalah 5925-6425 MHz 3) Proses selanjutnya adalah memasuki SSPA (Solid State Power Amplifier) yang berfungsi sama dengan HPA yaitu untuk memperkuat sinyal RF agar dapat diterima oleh satelit.

4) Sinyal masuk ke dalam feedhorn, sinyal dari feedhorn dipantulkan ke satelit dengan antena. 2.3.2 Proses Receive 1) Antena menerima sinyal dari satelit, sinyal yang diterima antena kemudian dipantulkan ke feedhorn. 2) Dari Feedhorn, sinyal diteruskan memasuki LNA (Low Noise Amplifier). Dimana LNA ini berfungsi untuk menekan noise dan memperkuat sinyal yang diterima. 3) Dari LNA sinyal diteruskan memasuki Down Converter yang berfungsi untuk mentranslasikan sinyal RF menjadi sinyal IF. 4) Setelah memasuki Down Converter, maka sinyal IF memasuki perangkat modem untuk melakukan proses demodulasi, dimana proses demodulasi itu dimaksudkan untuk memisahkan antara sinyal carrier dengan informasi yang ada di dalamnya. 5) Data informasi kemudian masuk ke dalam modem CDM-600. Modem disini berfungsi untuk menerima data termodulasi dari Converter dan mendemodulasi untuk selanjutnya diteruskan ke user. 2.4 Jaringan Point to Point Pada jaringan point to point stasiun bumi yang satu dengan yang lainnya dapat mengirim dan menerima informasi. Komunikasi yang dilakukan adalah komunikasi dua arah secara bersamaan yang disebut full two way link. Komunikasi tipe ini digunakan untuk trafik yang besar dan bersifat interaktif. Gambar 2.10 mengilustrasikan tipe komunikasi full two way link.

Gambar 2.10. Full Two Way 2.5 Sistem Akses Jamak (Multiple Access) Dikarenakan satu transponder satelit dapat dipergunkan oleh banyak stasiun bumi secara bersamaan, maka diperlukan suatu teknik untuk mengakses transponder tersebut ke masing - masing stasiun bumi. Teknik ini dinamakan satellite multiple access. Ada tiga multiple access yang digunkan untuk komunikasi satelit yaitu FDMA, TDMA dan CDMA. Sistem multiple access yang digunakan pada jaringan VSAT pada tugas akhir ini adalah SCPC (Single Channel Per Carrier). 2.5.1 FDMA (Frequency Division Multiple Access) Metode ini merupakan metode yang paling sederhana dan digunakan sejak adanya satelit komunikasi. Setiap stasiun bumi yang menggunakan metode FDMA (Frequency Division Multiple Access) yang telah ditentukan frekuensi kerjanya berdasarkan bandwidth total dan dapat mengakses ke satelit dalam waktu yang bersamaan. Setiap sinyal carrier dari stasiun bumi akan dipancarkan secara simultan. Jika pada suatu transponder diduduki oleh lebih

dari dua sinyal carrier, maka level sinyal carrier yang dipancarkan oleh stasiun - stasiun bumi mempunyai batasan level EIRP yang tidak boleh dilampaui. Jenis akses tidak memerlukan pengontrolan yang rumit. Metode FDMA tidak digunakan untuk pengiriman data berkecepatan rendah tetapi untuk pengiriman data dengan kecepatan di atas 56 Kbps. Gambar 2.5 mengilustrasikan konsep FDMA (Frequency Division Multiple Access). Gambar 2.11. Konsep FDMA 2.5.2 TDMA (Time Division Multiple Access) Pada metode TDMA, sejumlah stasiun bumi mendapat alokasi bandwidth yang sama tetapi tiap VSAT diberikan alokasi waktu untuk mengakses ke satelit. Pembagian alokasi waktu dilakukan dalam selang waktu tertentu yang disebut kerangka TDMA (TDMA frame). Setiap frame dibagi lagi atas sejumlah celah waktu (time slot). Informasi dimasukkan dalam time slot yang berbeda dan dipancarkan secara periodik dengan selang waktu yang sama.

Gambar 2.12. Konsep TDMA 2.5.3 CDMA (Code Division Multiple Access) CDMA merupakan teknik akses bersama ke satelit yang membagi bandwidth transponder satelit dengan memberikan kode - kode alamat tujuan dan pengenal untuk setiap data. Sinyal informasi memiliki kode tujuan dan pengenal masing - masing dan dipancarkan secara acak dan hanya stasiun tujuan yang dapat menerima informasi tersebut. Gambar 2.13. Konsep CDMA 2.5.4 SCPC (Single Channel Per Carrier) SCPC (Single Channel per Carier) merupakan salah satu konfigurasi pada jaringan VSAT dengan menggunakan metode akses point to point. Layanan

komunikasi data atau voice yang menggunakan media akses satelit dengan teknologi SCPC untuk hubungan titik ke titik ( point to point) dapat dikembangkan menjadi hubungan titik ke banyak titik ( point to multipoint) atau dikenal dengan istilah MCPC. Metode akses SCPC ini menempatkan masing - masing satu buah sinyal pembawa (Carier) untuk setiap node link komunikasinya. Gambar 2.14. Konsep SCPC Keunggulan sistem VSAT dengan mengunakan metode SCPC ini diantaranya adalah sebagai berikut : 1) Banyak jenis protokol yang dapat digunakan misalnya RS-232, V-35, G703 dan masih banyak yang lainnya, sehingga lebih fleksibel dan aplikatif. 2) Sistem akses ke jaringan dapat dilakukan oleh pemakai setiap saat. mampu mentransmisikan data dalam jumlah yang besar secara tepat dan akurat pada jaringan.

2.6 Aplikasi VSAT untuk Komunikasi Seluler Teknologi VSAT dapat digunakan untuk menghubungkan antar BTS dan BSC seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.15. Gambar 2.15. Point to Point SCPC Topologi Gambar 2.15 merupakan jaringan VSAT yang digunakan untuk menghubungkan antar BTS dan BSC menggunakan SCPC modem yang memiliki interface G703 (T1/E1). Teknologi VSAT untuk komunikasi seluler antar BTS dan BSC digunakan pada daerah - daerah yang tidak bisa menggunkan teknologi microwave atau Line of Sight (LOS), seperti di daerah pengunungan atau pulau - pulau terpencil. Dalam pemilihan modulasi yang akan digunkan harus diperhitungkan bandwidth yang dibutuhkan. Penggunaan modulasi yang membutuhkan bandwidth yang kecil dapat mengurangi biaya penyewaan bandwidth transponder. Selain itu, harus diperhatikan juga faktor - faktor lainnya seperti power modem dan SSPA, redaman hujan dan interferensi.

2.7 Interferensi Interferensi merupakan energi frekuensi radio yang tidak diinginkan yang berasal dari sumber interferensi yang timbul pada penerima (receiver). Pada jaringan VSAT terdapat dua tipe interferensi, yaitu : 1) Self Interference Co-channel interference merupakan kerugian dari penggunaan pengulangan frekuensi yang bertujuan meningkatkan kapasitas dari sistem karena bandwidth sistem yang terbatas. Interferensi co-channel berasal dari isolasi yang tidak sempurna antar beam pada satelit dan juga disebabkan oleh ketidak sempurnaan isolasi antara pengulangan polarisasi orthogonal pada frekuensi yang sama. Adjacent Channel Interference merupakan interferensi yang berasal dari daya carrier penginterferensi tehadap sinyal yang diinginkan yang diterima oleh stasiun bumi. 2) External Interference Interferensi dari sistem satelit yang berdekatan. Interferensi dari sistem terestrial. 2.8 Sistem Komunikasi Digital Gambar 2.16 menunjukkan konfigurasi dari sistem komunikasi digital yang terdiri dari source coding, channel coding dan modulation pada sisi pengirim, sedangkan pada sisi penerima terdiri dari demodulation, channel decoding dan source decoding.

Gambar 2.16. Blok Diagram Sistem Komunikasi Digital Pada tugas akhir ini akan dibahas mengenai blok channel decoding dan teknik modulasi yang digunakan. Pada blok channel decoding digunakan untuk mendeteksi error yang terjadi dan mengkoreksinya yang dikenal dengan istilah error correction codes. Dengan adanya error correction codes dapat meningkatkan performansi Bit Error Rate (B ER). Jenis error correction codes yang digunakan pada tugas akhir ini adalah concatenated viterbi/reed-solomon dan turbo. 2.8.1 Teknik Modulasi Faktor - faktor yang mempengaruhi pemilihan teknik modulasi adalah menyediakan BER yang rendah pada Eb/No yang rendah sehingga efisiensi dalam penggunaan power, performansi tetap bagus dengan adanya interferensi dan kondisi fading dan juga efisiensi dalam penggunaan bandwidth transponder. Jenis modulasi yang akan digunakan untuk menganalis performansi BER dengan teknik pengkodean yang berbeda adalah 8-PSK dan 16-QAM. Pemilihan modulasi tersebut didasarkan pada penggunaan bandwidth transponder yang tidak terlalu lebar.

Pada modulasi 8-PSK perubahan phase terjadi pada selang waktu 3 bit (000, 001, 010, 011, 100, 101, 110, 111). Jika digunakan MPSK di mana M = 2 m maka : (2.1) Penggunaan modulasi MQAM ditujukan untuk mengatasi akan kebutuhan modulasi yang tinggi. Modulasi MQAM menyangkut perbedaan phase dan amplitudo. MQAM ini mempunyai persamaan bandwidth yang mirip dengan MPSK. Perhitungan bandwidth juga tergantung code rate yang digunakan, overhead, carrier spacing dan baik atau jeleknya filter. Adapun persamaan perhitungan bandwidth :..(2.2). (2.3)..(2.4)...(2.5) Pada perhitungan transmission rate, RS coding dihitung jika menggunakan pengkodean reed-solomon. Jika tidak menggunakan pengkodean reedsolomon perhitungan transmission rate tidak memperhitungkan RS coding. 2.9 Keuntungan Sistem VSAT Jaringan VSAT yang telah beroperasi saat ini menunjukkan beberapa keuntungan yang menonjol apabila dibandingkan dengan jaringan terestrial. Keuntungan - keuntungan tersebut adalah dari aspek - aspek sebagai berikut :

Ketersediaan jaringan Ketersediaan sebesar 99,5% dapat dengan mudah dicapai oleh jaringan VSAT sehingga dapat mengungguli jaringan terestrial. Menyangkut kegagalan peralatan, VSAT bekerja secara bebas satu sama lain, sehingga kegagalan sebuah stasiun VSAT tidak akan mempengaruhi ketersediaan jaringan secara keseluruhan. Pada jaringan terestrial, gangguan pada sebuah saluran yang dipakai bersama dapat mengakibatkan kegagalan pada sebuah jaringan. Pertumbuhan dan fleksibilitas jaringan Kapasitas jaringan dapat ditingkatkan dengan menambah lebar pita satelit untuk menampung pertambahan lalu lintas atau lokasi baru. Lokasi - lokasi baru dapat ditambahkan atau diubah dalam beberapa saat saja. Sebagai perbandingan, pertumbuhan dalam jaringan terestrial akan memerlukan rekonfigurasi yang menonjol agar jaringan tetap dalam kondisi yang optimum dan seringkali diperlukan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan pelayanan yang diinginkan. Konversi protokol Jaringan satelit dengan penyambungan paketnya memudahkan konversi protokol untuk VSAT. Dalam jaringan terestrial, perubahan pada terminal pemakai seringkali memerlukan rekonfigurasi jaringan. Waktu tanggap jaringan Waktu tanggap jaringan terutama sekali ditentukan oleh disain dan konfigurasi jaringan.

Bit Error Rate (BER) Penampilan BER lewat jaringan satelit jauh lebih baik dari pada melewati saluran telepon dan penampilan ini diperoleh dengan biaya yang tidak mahal. Keamanan Transmisi menggunakan terestrial seringkali tidak menjamin keutuhan dan keamanan data yang ditransmisikan seperti kerusakan pada kabel - kabel transmisi bawah tanah, penyadapan pembicaraan telepon (walaupun ada alat anti sadap), dan lain-lain. Pada jaringan VSAT, terdapat tiga skema keadaan data yang standar, yaitu : Viterbi FEC (forward error correction), V.35 scrambling, ARQ (automatic resend request) dan X.25 DES (data encryption standard) dan ditambah dengan fasilitas kontrol dan monitor jaringan yang dilakukan oleh NCC (Network Control Center), sistem VSAT memberikan tambahan jaminan akan keutuhan dan keamanan data yang ditransmisikan. Pengendalian biaya jangka panjang Seperti halnya dengan setiap jaringan tertutup ( private), pengendalian atau biaya pengoperasian jaringan terletak ditangan pemakai sendiri dan bagian terbesar dari biaya tersebut tetap besarnya serta dapat diramalkan.