KONFIGURASI BATANG PADA PERANCANGAN RANGKA ATAP BAMBU

dokumen-dokumen yang mirip
SAP2000 Peranan Konfigurasi Batang pada Rangka Atap Baja

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PERANCANGAN. Untuk mempermudah perancangan Tugas Akhir, maka dibuat suatu alur

Gambar 5.1. Proses perancangan

Kuliah ke-6. UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI FAKULTAS TEKNIK Jalan Sudirman No. 629 Palembang Telp: , Fax:

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENGGUNAAN RANTING BAMBU ORI (BAMBUSA ARUNDINACEA) SEBAGAI KONEKTOR PADA STRUKTUR TRUSS BAMBU (053S)

5ton 5ton 5ton 4m 4m 4m. Contoh Detail Sambungan Batang Pelat Buhul

BAB 4 PENGUJIAN LABORATORIUM

BAB I PENDAHULUAN. Suatu konstruksi tersusun atas bagian-bagian tunggal yang digabung membentuk

KAJIAN PEMANFAATAN KABEL PADA PERANCANGAN JEMBATAN RANGKA BATANG KAYU

PERBANDINGAN PERENCANAAN SAMBUNGAN KAYU DENGAN BAUT DAN PAKU BERDASARKAN PKKI 1961 NI-5 DAN SNI 7973:2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERANCANGAN SAMBUNGAN BAMBU UNTUK KOMPONEN RANGKA BATANG RUANG 1) (Bamboo Connection Design for Space Truss Member)

DAFTAR PUSTAKA. Analisis Harga Satuan Pekerjaan Kota Bandung. Dinas Tata Kota Propinsi Jawa Barat

DAFTAR ISI. Latar Belakang... 1 Rumusan Masalah... 2 Batasan Masalah... 2 Maksud dan Tujuan... 3 Sistematika Penulisan... 3

BAB I PENDAHULUAN Umum. Pada dasarnya dalam suatu struktur, batang akan mengalami gaya lateral

4.3.5 Perencanaan Sambungan Titik Buhul Rangka Baja Dasar Perencanaan Struktur Beton Bertulang 15

V. BATANG TEKAN. I. Gaya tekan kritis. column), maka serat-serat kayu pada penampang kolom akan gagal

A. IDEALISASI STRUKTUR RANGKA ATAP (TRUSS)

BAB I PENDAHULUAN. bersifat monolit (menyatu secara kaku). Lain halnya dengan konstruksi yang

4. PERILAKU TEKUK BAMBU TALI Pendahuluan

BAB 4 STUDI KASUS. Sandi Nurjaman ( ) 4-1 Delta R Putra ( )

BAB III PEMODELAN STRUKTUR

A. IDEALISASI STRUKTUR RANGKA ATAP (TRUSS)

STUDI ANALISIS DAN EKSPERIMENTAL PENGARUH PERKUATAN SAMBUNGAN PADA STRUKTUR JEMBATAN RANGKA CANAI DINGIN TERHADAP LENDUTANNYA

Ir. H. Achmad Bakri Muhiddin, MSc, Ph.D Dr. Eng. A. Arwin Amiruddin, ST, MT Pembimbing 1 Pembimbing 2. Abstrak

BAB I PENDAHULUAN. balok, dan batang yang mengalami gabungan lenturan dan beban aksial; (b) struktur

DASAR DASAR PENGGUNAAN SAP2000

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN

BAB IV PERMODELAN DAN ANALISIS STRUKTUR

PERBANDINGAN BERAT KUDA-KUDA (RANGKA) BAJA JENIS RANGKA HOWE DENGAN RANGKA PRATT

BAB III METODE PERANCANGAN. Dalam dunia konstruksi, tugas dari seorang civil structure engineer adalah

1- PENDAHULUAN. Baja Sebagai Bahan Bangunan


ANALISIS METODE ELEMEN HINGGA DAN EKSPERIMENTAL PERHITUNGAN KURVA BEBAN-LENDUTAN BALOK BAJA ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. Dalam upaya untuk dapat memperoleh desain konstruksi baja yang lebih

Bab 5 Kesimpulan dan Saran

Pertemuan I,II I. Struktur Statis Tertentu dan Struktur Statis Tak Tentu

BAB I PENDAHULUAN. salah satu sifat kayu merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable

KEKUATAN TARIK DAN TEKAN KOMPONEN BAMBU UNTUK KONSTRUKSI RANGKA BATANG RUANG

BAB I PENDAHULUAN. baja. Akan tetapi kayu yang juga merupakan salah satu bahan konstruksi

Golongan struktur Balok ( beam Kerangka kaku ( rigid frame Rangka batang ( truss

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

MODIFIKASI PERENCANAAN STRUKTUR BAJA KOMPOSIT PADA GEDUNG PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS NEGERI JEMBER

PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG RUSUNAWA 5 LANTAI DI WILAYAH GEMPA 3

Pertemuan 8 KUBAH TRUSS BAJA

Struktur Baja 2. Kolom

PERENCANAAN STRUKTUR ATAS JEMBATAN RANGKA BAJA MUSI VI KOTA PALEMBANG SUMATERA SELATAN. Laporan Tugas Akhir. Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

BAB 1 PENDAHULUAN...1

BAB I PENDAHULUAN. Pada suatu konstruksi bangunan, tidak terlepas dari elemen-elemen seperti

ANALISIS KAPASITAS BALOK BETON BERTULANG DENGAN LUBANG PADA BADAN BALOK

BAB 1 PENDAHULUAN. metoda desain elastis. Perencana menghitung beban kerja atau beban yang akan

COVER TUGAS AKHIR PERENCANAAN JEMBATAN RANGKA BAJA DENGAN PELAT LANTAI ORTOTROPIK

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR KONSTRUKSI BAJA GEDUNG DENGAN PERBESARAN KOLOM

BAB 2 DASAR TEORI Dasar Perencanaan Jenis Pembebanan

8. PEMBAHASAN UMUM DAN REKOMENDASI Pembahasan Umum

STUDI LITERATUR PERANCANGAN DIMENSI RANGKA BATANG BAJA RINGAN BERDASARKAN ANALISIS LENDUTAN DAN KEKUATAN BAHAN

SIMULASI STRUKTUR JEMBATAN RANGKA BAJA KERETA API TERHADAP VARIASI KONFIGURASI RANGKA BATANG, MUTU MATERIAL, DAN BEBAN SUHU

BAHAN KULIAH Struktur Beton I (TC214) BAB IV BALOK BETON

PERENCANAAN RANGKA ATAP BAJA RINGAN BERDASARKAN SNI 7971 : 2013 IMMANIAR F. SINAGA. Ir. Sanci Barus, M.T.

V. PENDIMENSIAN BATANG

PENGARUH DAN FUNGSI BATANG NOL TERHADAP DEFLEKSI TITIK BUHUL STRUKTUR RANGKA Iwan-Indra Gunawan PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. yang ada di bawahnya dari panas,hujan, angin, dan benda-benda lain yang bisa

Nama : Mohammad Zahid Alim Al Hasyimi NRP : Dosen Konsultasi : Ir. Djoko Irawan, MS. Dr. Ir. Djoko Untung. Tugas Akhir

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI. 3.1 Dasar-dasar Perancangan

BAB I PENDAHULUAN. Konstruksi bangunan tidak terlepas dari elemen-elemen seperti balok dan

KOLOM (ANALISA KOLOM LANGSING) Winda Tri W, ST,MT

PERENCANAAN GEDUNG PERPUSTAKAAN KOTA 4 LANTAI DENGAN PRINSIP DAKTAIL PARSIAL DI SURAKARTA (+BASEMENT 1 LANTAI)

PERBANDINGAN BIAYA STRUKTUR BAJA NON-PRISMATIS, CASTELLATED BEAM, DAN RANGKA BATANG

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KULIAH 4 LANTAI DENGAN SISTEM DAKTAIL TERBATAS

TM. IV : STRUKTUR RANGKA BATANG

Kajian Pengaruh Panjang Back Span pada Jembatan Busur Tiga Bentang

3. SIFAT FISIK DAN MEKANIK BAMBU TALI Pendahuluan

PERHITUNGAN PANJANG BATANG

BAB I PENDAHULUAN. Istimewa Yogyakarta pada khususnya semakin meningkat. Populasi penduduk

BAB V PEMBAHASAN. terjadinya distribusi gaya. Biasanya untuk alasan efisiensi waktu dan efektifitas

Gambar 1.1 Keruntuhan rangka kuda-kuda kayu (suaramedianasional.blogspot.com, 2013)

BAB III METEDOLOGI PENELITIAN. dilakukan setelah mendapat data dari perencanaan arsitek. Analisa dan

Bab II STUDI PUSTAKA

BAB 2 DASAR TEORI. Bab 2 Dasar Teori. TUGAS AKHIR Perencanaan Struktur Show Room 2 Lantai Dasar Perencanaan

ANALISA KAPASITAS KELOMPOK TIANG PANCANG TERHADAP BEBAN LATERAL MENGGUNAKAN METODA FINITE DIFFERENCE

LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR. PERENCANAAN GEDUNG IKIP PGRI SEMARANG JAWA TENGAH ( Planning Building Structure IKIP PGRI, Semarang Central Java )

BAB IV ANALISIS A1=1.655 L2=10. Gambar 4.1 Struktur 1/2 rangka atap dengan 3 buah kuda-kuda

PERKUATAN KOLOM YANG MIRING AKIBAT GEMPA BUMI

Struktur Rangka Batang (Truss)

Oleh : MUHAMMAD AMITABH PATTISIA ( )

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Isi Laporan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Dalam bidang konstruksi, beton dan baja saling bekerja sama dan saling

ANALISIS PERBANDINGAN KUDA KUDA BAJA RINGAN DENGAN BETON BERTULANG MENGGUNAKAN PROGRAM SAP 2000 V.18

BAB I PENDAHULUAN. menggunakan SNI Untuk mendukung penulisan tugas akhir ini

SAP Pemodelan Struktur Balok Lengkung menggunakan CAD

ANALISIS SAMBUNGAN ANTARA RIGID CONNECTION DAN SEMI-RIGID CONNECTION PADA SAMBUNGAN BALOK DAN KOLOM PORTAL BAJA

ANALISIS DIMENSI PELAT DASAR (BASE PLATE) PADA KOLOM STRUKTUR BAJA YANG MAMPU TAHAN TERHADAP EFEK PRAY

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Studi Analisis Gording Baja pada Pembangunan Gedung Auto2000 Kabupaten Sukabumi

BAB IV ANALISA STRUKTUR

ANALISA PLASTIS PADA PORTAL DENGAN METODE ELEMEN HINGGA

Transkripsi:

KONFIGURASI BATANG PADA PERANCANGAN RANGKA ATAP BAMBU Wisnu Rachmad Prihadi 1 ; Galeh Nur Indriatno Putra Pratama 2 1 Pascasarjana UNY ; 2 Jurusan Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan FT UNY Email: wisnurachmadprihadi@gmail.com ABSTRACT This study discusses the system design roof truss on a wide span which spans 15 m using bamboo materials, it is deemed necessary because of the material bamboo is a material that is readily available and can be used as themporary shelter as a temporary shelter disaster victims, therefore it needs to be done a review of some particular configuration rod placement diagonal rods. The purpose of the configuration of the rod is to obtain an optimal and efficient structure and implement connection system Moriscos on bamboo construction. On the pedestal roof frame is at the point of the column, so that in this condition is considered the foundation of the joints with horizontal movement of the pedestal reason restrained by anchor bolts and added restrained also by friction contact area of the pedestal. In this modeling study using bamboo material strap (Gigantochloa lear kurz) diameter of 6 cm, as a truss, and use the program SAP 2000 version 14 as a tool in calculating the truss. from reviewing several models from the rafters with bamboo material shows that the stiffness criterion for diagonal rod configuration on the model B which show the predicted vertical deflection z direction is small. As for the efficiency criteria in terms of style rod rod press (compression) due to the effect of buckling (buckling), various models have the smallest is the model A. Keywords: bamboo, design, roof truss. ABSTRAK Kajian ini membahas perancangan sistem rangka atap pada bentang yang lebar yaitu bentang 15 m dengan menggunakan material bambu, hal ini dirasa perlu karena material bambu merupakan material yang mudah didapat dan dapat digunakan sebagai themporary shelter sebagai tempat tinggal sementara korban bencana, oleh karena itu perlu dilakukan peninjauan terhadap beberapa konfigurasi penempatan batang khususnya batang diagonal. Tujuan dari konfigurasi batang tersebut adalah untuk mendapatkan struktur yang optimal dan efisien serta menerapkan sistem sambungan morisco pada konstruksi bambu. Pada tumpuan rangka atap berada pada titik kolom, sehingga dalam kondisi ini tumpuan dianggap sendi-sendi dengan alasan pergerakan horizontal tumpuan tertahan oleh angkur baut serta ditambahkan tertahan juga oleh gesekan bidang kontak tumpuan. Kajian permodelan ini menggunakan material bambu tali (gigantochloa apus kurz) berdiameter 6 cm, sebagai bahan rangka batang, dan menggunakan program SAP 2000 versi 14 sebagai alat bantu dalam menghitung struktur rangka batang dari peninjauan beberapa model dari rangka atap dengan material bambu menunjukkan bahwa untuk kriteria kekakuan maka konfigurasi batang diagonal pada model B yang menunjukkan prediksi defleksi vertikal arah z yang kecil. Sedangkan untuk kriteria efisiensi batang ditinjau dari gaya batang tekan (compression) karena pengaruh tekuk (buckling), dari berbagai model dipilih yang terkecil adalah model A. Kata Kunci: bambu, perancangan, rangka atap. PENDAHULUAN Seiring bertambahnya waktu dan meningkatnya populasi manusia di berbagai belahan bumi, mengakibatkan peningkatan kebutuhan akan tempat tinggal, namun sayangnya pertumbuhan jumlah penduduk mengakibatkan penurunan kapasitas produksi sumber bahan bangunan berupa kayu, oleh disebabkan adanya alih fungsi lahan, yang dahulunya hutan dijadikan kawasan perumahan sehingga mengakibatkan kelangkahan material bahan bangunan. Dengan terjadinya krisis persediaan kayu, bambu diharapkan dapat memasuki pasar bahan bangunan menggantikan kayu sebagai bahan bangunan alternatif, mengingat bambu sebagai bahan bangunan yang dapat 173

diperoleh pada umur 3-5 tahun (Morisco, 2005). Bambu dan produk berbahan bambu seharusnya dapat ditingkatkan sehingga setara dengan bahan bangunan lain. Untuk itu, diperlukan penelitian dan pengembangan agar pemanfaatannya menjadi optimal. Bentuk bambu yang berupa tabung dengan sekat-sekat yang disebut buku mempunyai sifat mekanis yang khusus, yaitu kekuatan pada daerah buku dan ruas berbeda. Bambu memiliki potensi kekuatan setara atau bahkan lebih bila dibandingkan dengan kuat tarik baja, namun bambu untuk kuat geser sejajar seratnya memiliki nilai rendah sehingga mudah pecah. Oleh karena itu, bambu lebih cocok jika dipakai sebagai konstruksi rangka batang (truss), yang mana komponen-komponennya dihubungkan secara sendi sehingga beban yang bekerja pada batang hanya gaya aksial tekan dan tarik (Dewi et al., 2005). Kendala utama dalam pemanfaatan buluh bambu adalah membuat model sambungan bambu yang cukup kokoh terutama agar dapat menerima beban tarik, kebanyakan sambungan bambu yang banyak digunakan pada bangunan berupa alat sambung paku dan tali, baik tali rotan, tali ijuk maupun kawat. Sambungan ini sangat bergantung pada kekuatan tali ikatannya, sehingga sulit untuk dipertanggungjawabkan kekuatannya, selain itu kurang tahan lama. Oleh karena itu, sambungan tersebut lebih cocok digunakan untuk bangunan sementara. Konstruksi bambu umumnya hanya untuk bentang-bentang pendek dan bersifat sementara, tidak atau jarang sekali sebagai bentang lebar, padahal potensi yang dimiliki dari bambu hal ini bermanfaat sebagai tempat pengungsian sementara (temporary shelter) untuk menampung korban bencana yang mana material bambu merupakan material yang mudah didapat khususnya di daerah indonesia. Kajian ini bertujuan merancang dan melakukan peninjauan terhadap konfigurasi penempatan batang pada konstruksi rangka menggunakan material bambu, yang mana nantinya untuk mendapatkan struktur yang optimal dan efisien. Pada penelitian menggunakan material Konfigurasi Batang pada (Wisnu/ hal 173-183) bambu tali (gigantrochloa apus kurz) dengan diameter 6 cm, yang telah diketahui sifat fisik dari material tersebut berdasarkan dari hasil pengujian oleh saudara G. Bachtiar. Bambu sebagai material bangunan yang ringan dan elastis sangat cocok digunakan untuk bangunan. Terdapat beberapa faktor yang mendukung bambu sebagai material bangunan yaitu bambu mempunya sifat yang elastis, dari hasil uji pengujian di laboratorium, terbukti bahwa bambu mempunyai kekuatan tarik yang sangat tinggi mendekati kuat tarik baja struktural. Selain itu bambu juga bersifat lentur, sehingga mampu mengikuti gerakan akibat adanya pengaruh gaya dari luar tanpa mengalami keruntuhan (patah atau putus), kecuali apabila kekuatannya melebihi kekuatan lentur yang diijinkan. Disamping itu bentuk bambu yang bulat dan berbentuk pipa, sehingga bambu memiliki momen lembam yang besar tetapi ringan dan merata ke segala arah. Karena bentungnya seperti pipa sehingga dibutuhkan sistem sambungan yang berbeda dari bangunan yang terbuat dari beton, maupun kayu dalam hal penyaluran beban dan sistem sambungannya. Konstruksi bambu harus merupakan suatu konstruksi yang menyatu satu dengan yang lain membentuk suatu kesatuan yang bekerja bersama-sama menyalurkan beban dan saling menghilangkan momen yang timbul dari beban-beban tersebut, sehingga tercipta suatu kekakuan.kekakuan ini dapat diwujudkan dengan memberi ikatan satu sama lain yang kuat dan kokoh. Konstruksi Rangka Batang adalah suatu konstruksi yang tersusun atas batang-batang yang dihubungkan satu dengan lainnya untuk menahan gaya luar secara bersama-sama. Konstruksi Rangka Batang ini dapat berupa konstruksi yang satu bidang datar (2D) dan atau dua bidang datar (ruang) (3D). Dalam diktat ini dibatasi pada Konstruksi Rangka Batang yang satu bidang. Dilihat dari susunan batangnya, secara garis besar ada tiga macam Konstruksi Rangka Batang yaitu (a) Konstruksi Rangka Batang Tunggal, (b) Konstruksi Rangka Batang Ganda dan (c) Konstruksi Rangka Batang Tersusun. 174

Rangka batang terdiri dari bermacam-macam, Pada Konstruksi Rangka Batang Tunggal setiap batang atau setiap segitiga penyusunannya mempunyai kedudukan yang setingkat, Konstruksi terdiri dari atas satu kesatuan yang sama (setara). Sedang pada Konstruksi Rangka Batang Ganda setiap batang atau setiap segitiga penyusunnya setingkat kedudukannya. Akan tetapi konstruksi terdiri atas dua buah kesatuan konstruksi yang setara. Terdapat banyak metode dalam menghitung rangka batang tergantung model strukturnya. METODE Kajian ini menggunakan pendekatan eksperimen. Sampel menggunakan bambu dengan diameter 6 cm sebagai bahan rangka batang. Data yang didapatkan dianalisis secara deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASAN Perancangan sistem rangka atap pada bentang yang lebar yaitu bentang 15 m dengan menggunakan material bambu, hal ini dirasa perlu karena material bambu merupakan material yang mudah didapat dan dapat digunakan sebagai desain tempat tinggal sementara korban bencana, oleh karena itu perlu dilakukan peninjauan terhadap beberapa konfigurasi penempatan batang khususnya batang diagonal. Tujuan dari konfigurasi batang tersebut adalah untuk mendapatkan struktur yang optimal dan efisien serta menerapkan sistem sambungan morisco pada konstruksi bambu. Pada tumpuan rangka atap berada pada titik kolom, sehingga dalam kondisi ini tumpuan dianggap sendi-sendi dengan alasan pergerakan horizontal tumpuan tertahan oleh angkur baut serta ditambahkan tertahan juga oleh gesekan bidang kontak tumpuan. Gambar 1. Sistem Sambungan yang Digunakan Suyono (2007) menjelaskan dalam peninjauan mengenai kestabilan dan ketidak tentuan statis dari struktur rangka atap diambil dari determination of the statical determinacy of trusses oleh O. Mohr (1874), dapat ditentukan dengan rumus pendekatan berikut : m + r = 2j, statis tertentu, stabilitas terpenuhi. m + r < 2j, tidak stabil m + r > 2j, statis tak tentu, stabilitas terpenuhi. dimana, m = jumlah batang r = banyaknya reaksi perletakan (untuk tumpuan sederhana, r = 3) j = jumlah titik buhul (joint) Cek stabilitas struktur, m + r = (11+22+12) + (2+2) = 49 > 2.j = 2*24 = 48 sehingga struktur statis tak tentu, stabilitas terpenuhi. 175

Gambar 2. Model yang akan Ditinjau Diketahui Batang diagonal (d) = 13batang (l = 1,8 m) Batang atas / bawah = 13 batang (l = 1,5 m) Batang vertikal (v) = 14 batang (l = 1,0 m) Penyelesaian tidak dapat dilakukan dengan metode konvensional cara analitis (method of joints) maupun grafis (graphical solution of trusses). Namun jika ingin dilakukan perhitungan tangan sebagai perbandingan dapat digunakan metode yang diajukan oleh S. Whipple (1847) dan L.Cremona (1872) tersebut dengan cara membuat salah satu tumpuan menjadi rolled support sehingga jumlah total reaksi perletakan menjadi 3 yang tidak diketahui. Konfigurasi batang yang ditinjau ada 3 model, penggunaan software SAP2000 akan sangat membantu karena dengan cepat pengguna cukup sedikit memodifikasi batang diagonal sesuai dengan model yang diharapkan. 176

Gambar 3. Model yang akan Ditinjau Pembebanan yang ditinjau yaitu akibat beban mati (Dead Load) dan beban hidup/tidak tetap (Live Load) serta beban angin (Wind Load). 1. Plafond termasuk rangka rusuk-rusuknya (eternit dari bahan semen asbes), W pfn = 11 kg/m 2 2. Penutup atap seng gelobang (BWG 24) tanpa gordeng, W atp = 10 kg/m 2 3. Rangka usuk, gording (perkiraan), W usgd = 20 kg/m 2 4. Beban air hujan, W ahj = 20 kg/m 2 5. Beban hidup akibat orang/pekerja, W horg = 50 kg/m 2 6. Beban angin, W agn = - 0,4. 25 = 10 kg/m 2 (ditinjau tekan) Perhitungan beban titik pada joint mengikuti konsep tributary loaded areas ditunjukkan pada gambar dengan daerah yang di arsir. Jarak antar kuda-kuda rangka atap, L krka = 4 m jarak antar gording, L grd = 1,5 m Luas pembebanan, A tl = 1,50 * 4 = 6 m 2 Beban titik pada node/joint P pfn = 11 * 6 = 66 Kgf (½ Ppfn = 66/2 = 33 Kgf) P usgd = 20 * 6 = 120 Kgf (½ Pusgd = 120/2 = 60 Kgf) P ahj = 20 * 6 = 120 Kgf (½ Pahj = 120/2 = 60 Kgf) P horg = 50 * 6 = 300 Kgf (½ Phorg = 300/2 = 150 Kgf) P agn = 10 * 6 = 60 Kgf (½ Pagn = 60/2 = 30 Kgf) Berat sendiri profil batang rangka diperhitungkan langsung sebagai selfweight dengan faktor 1,0, untuk kombinasi pembebanan yang ditinjau mengikuti metode perencanaan kondisi batas LRFD (Load and Resistance Factor Design) yaitu: 1,4D 1,2D + 1,6L 1,2D + 0,5 L ± 0,8 Angin kanan / 1,2D + 0,5 L ± 0,8 Angin kiri P atp = 10 * 6 = 60 Kgf (½ Patp = 60/2 = 30 Kgf) 177

(Sumber : G. Bachtiar et al.) Penampang profil yang digunakan untuk estimasi awal yaitu diameter 6 cm Gambar 4. Pemberian Beban Titik Akibat Berat Plafond Gambar 5. Pemberian Beban Titik Akibat Berat Atap 178

Gambar 6. Pemberian beban titik akibat berat gording Gambar 7. Pemberian Beban Titik Akibat Berat Air Hujan Gambar 8. Pemberian Beban Titik Akibat Berat Orang/ Pekerja Gambar 9. Pemberian Beban Titik Akibat Berat Angin Tekan 179

Setelah dilakukan analisa dari ketiga model tersebut, dengan menggunakan material bambu dan dimensi 60 mm didapat hasil Konfigurasi Batang pada (Wisnu/ hal 173-183) sebagai berikut hasil keluaran diagram gaya aksial dan deformasi struktur ditampilkan sebagai berikut: Keterangan : Warna merah = Tekan/ negarif (compression) Warna kuning = Tarik/ Positif (tension) Gambar 10. Diagram Aksial Beban Kombinasi Model A Gambar 11. Deformasi Struktur Akibat Beban Kombinasi Model A 180

Gambar 12. Diagram Aksial Beban Kombinasi Model B Gambar 13. Deformasi Struktur Akibat Beban Kombinasi Model B Gambar 14. Diagram Aksial Beban Kombinasi Model C 181

Analisa yang ditinjau adalah jenis analisa rangka atap bidang (plane truss) dengan 2 derajat ketidak tentuan kinematis (DOF's) 2 translasi tiap titik node. Pada SAP 2000 secara default batang adalah jenis frame yang mempunyai kekakuan lentur menahan momen, untuk kesesuaian ini dapat dilakukan dengan mengeset member end release pada M 33 (major) pada kedua ujung member atau dengan cara lain merubah nilai Inersia Penampang Ix dan Iy menjadi nol (0). Konfigurasi Batang pada (Wisnu/ hal 173-183) Sebenarnya kondisi ini juga kurang realistis karena pada kenyataannya tergantung dari jenis sambungan yang digunakan pengaruh kekakuannya menahan lentur, dalam struktur baja apalagi menggunakan sambungan las maka akan cenderung moment resisting frames, akan tetapi dalam kasus ini konstruksi bambu menggunakan sambungan baut. Kondisi sambungan sesungguhnya berada diantara kedua keadaan tersebut. Gambar 15. Sistem Koordinat Persegi (Cartesian) dalam SAP 2000 Tabel 1. Hasil analisa ketiga model Tinjauan Gaya Aksial Terbesar Batang (kgf m ) Atas (a) Bawah (b) Diagonal (d) Vertikal (v) Model A -3452,23-3132,62-1974,81-298,73 Model B -3502,12-2652,52-1974,81-309,73 Model C -3502,12-3037,18-2437,12-1069,67 SIMPULAN Berdasarkan peninjauan beberapa model dari rangka atap dengan material bambu menunjukkan bahwa untuk kriteria kekakuan maka konfigurasi batang diagonal pada Model C yang menunjukkan prediksi defleksi vertikal arah z yang kecil. Sedangkan untuk kriteria efisiensi batang ditinjau dari gaya batang tekan (compression) karena pengaruh tekuk (buckling), dari berbagai model dipilih yang terkecil. Tabel di atas menunjukkan bahwa konfigurasi batang diagonal pada Model A menghasilkan nilai yang terkecil. Berdasarkan tinjauan beberapa model tersebut, dapat dipahami bahwa konfigurasi batang yang bertemu pada tumpuan joint yang di restraint apabila semakin banyak batang yang bertemu tersebut maka struktur rangka akan semakin kaku serta penyebaran tegangan aksial batang akan lebih merata dan mengecil.. 182

DAFTAR RUJUKAN [1] Dwi Istianingsih et al. Bambu Untuk bangunan Tahan Gempa. Teodolita Vol.9, No.2., Desember 2008. [2] Computers and Structures Inc., 1998, SAP2000 Basic Analysis Refference, Berkeley California [3] Frick Heinz, 2013. Ilmu Konstruksi Bangunan Bambu. Kanisius. Yogyakarta. [4] G. Bachtiar et al. Perancangan Sambungan Bambu untuk Komponen Rangka Batang Ruang. Jurnal Teknik Sipil, vol. 8, Desember 2007. [5] Wiryanto, D. 2013. Komputer Rekayasa Struktur dengan SAP 2000. Lumina Press: Jakarta. 183