Sinopsis Buku Montessori Mafia

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. Anak adalah makhluk sosial sama seperti dengan orang dewasa. Anak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. pendidikannya. Dalam pengembangan pendidikan di Indonesia pihak

BAB I PENDAHULUAN. bidang sains berada pada posisi ke-35 dari 49 negera peserta. dalam bidang sains berada pada urutan ke-53 dari 57 negara peserta.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anak usia dini merupakan manusia yang memiliki karakteristik yang

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Suryosubroto, 2009:2).

BAB I PENDAHULUAN. minatnya serta dapat menerapkan keterampilan berbahasa Indonesia secara tepat,

SURAKARTAA. SKRIPSI persyaratan. Sarjana S-1. Disusun Oleh : DWI A USIA DINI

BAB I PENDAHULUAN. daya manusianya (SDM) dan kualitas pendidikannya. Tingkat pendidikan di

BAB 1 PENDAHULUAN. bahwa komunikasi atau speech acts dipergunakan secara sistematis untuk

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan anak usia dini diselenggarakan dengan tujuan untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. pendidikan di Indonesia masih belum selesai dengan problematika sarana dan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Kegiatan membaca erat kaitannya dengan proses belajar, seperti kita

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan salah satu bentuk upaya sadar yang bertujuan untuk

2015 KEEFEKTIFAN TEKNIK EXAMPLE NON EXAMPLE BERMEDIA GAMBAR DALAM PEMBELAJARAN MENULIS TEKS NEGOSIASI

BAB I PENDAHULUAN. mendukung lancarnya proses belajar mengajar disekolah. Seperti yang dikemukakan Norris

BAB I PENDAHULUAN. tahun. Pendidikan Taman Kanak-Kanak memiliki peran yang sangat penting

BAB I PENDAHULUAN. berasal dari istilah Natural Science. Ruang lingkup sains adalah cara mencari tahu

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

BAB I PENDAHULUAN. kecerdasan anak sebanyak-banyaknya. Di masa peka ini, kecepatan. pertumbuhan otak anak sangat tinggi hingga mencapai 50 persen dari

PERANCANGAN KOMUNIKASI VISUAL ANIMASI EDUKASI SI OTAK KANAN DAN SI OTAK KIRI. Suzanna Romadhona ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perkembangan mode dan trend tata rias di era modern sekarang ini sangat

BAB 1 PENDAHULUAN. pengendalian diri, kepribadian kecerdasan akhlak mulia, serta keterampilan yang. diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

BAB I PENDAHULUAN. hidup sehingga pendidikan bertujuan menyediakan lingkungan yang memungkinkan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Paradigma inilah

BAB I PENDAHULUAN. pemersatu bangsa Indonesia. Selain itu, Bahasa Indonesia juga merupakan

M, 2016 PENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA MELALUI MODEL PROJECT BASED LEARNING MENGGUNAKAN MEDIA FLIP CHART DALAM PEMBELAJARAN IPS

Penitipan Anak), playgroup/ kelompok bermain dan juga termasuk TK.

I. PENDAHULUAN. Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, kreatif, mandiri, serta mampu

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik

PADA KURIKULUM (Mulida Hadrina Harjanti) Abstrak

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. suatu bangsa. Pendidik sangat berperan dalam mewujudkan kehidupan yang

I. PENDAHULUAN. Proses pembelajaran fisika seringkali dianggap susah oleh siswa karena cara

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Prahesti Tirta Safitri, 2013

PENERAPAN GUIDED INQUIRY

BAB I PENDAHULUAN. Kaling berpenghasilan dari hasil membuat batu bata dan karyawan. anak jadi rendah sehingga prestasi juga rendah pula.

BAB VI PENUTUP Praktek Kurikulum 2013 untuk mata pelajaran pendidikan agama Islam di SMA Negeri 1 Matauli Pandan mampu membangun interaksi komunikasi

I. PENDAHULUAN. Dalam Undang-Undang Sistim Pendidikan Nasional, pada BAB II tentang Dasar,

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) PADA PENDIDIKAN ANAK DINI USIA. Muh. Tawil, *)

BAB I PENDAHULUAN. dirumuskan dari Standar Kelulusan (SKL). Penyusunan kurikulum 2013

BAB I PENDAHULUAN. kembang anak usia lahir hingga enam tahun secara menyeluruh. yang mencakup aspek fisik dan nonfisik dengan memberikan rangsangan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Peranan seorang guru dalam proses belajar-mengajar harus mampu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anak adalah Tunas harapan bangsa. Mereka ibarat bunga yang tengah

2016 PENGEMBANGAN MODEL DIKLAT INKUIRI BERJENJANG UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI PEDAGOGI INKUIRI GURU IPA SMP

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan

BAB 1 PENDAHULUAN. mencakup empat jenis yaitu keterampilan menyimak (listening skill),

DCH2G3 TEKNIK PRESENTASI DAN PELAPORAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Belajar menuntut seseorang untuk berpikir ilmiah dan mengungkapkan

Pendidik. Pengertian. Pendidik. Hakekat PAUD-KBK PAUD-SPN AKD-NON. Oleh: Dra. OCIH SETIASIH, M.Pd

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini dalam Kerangka Besar. Pembangunan PAUD menyatakan :

dibakukan berdasarkan pengukuran tertentu. Dalam pendekatan kualitatif dilakukan pemahaman

BAB I PENDAHULUAN. menghawatirkan, baik dari segi penyajian, maupun kesempatan waktu dalam

Perkembangan teknologi merupakan salah satu dampak globalisasi. Untuk. mendorong perkembangan teknologi disegala bidang, salah satunya dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan manusia, bahasa merupakan alat menyatakan pikiran dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Usia lahir sampai dengan memasuki pendidikan dasar merupakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berkorban, dan berjiwa ksatria. Kepribadian tersebut mencerminkan sikap

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

I. PENDAHULUAN. timbul pada diri manusia. Menurut UU RI No. 20 Tahun 2003 Bab 1 Pasal 1

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan usaha manusia untuk menumbuhkan dan

BAB I PENDAHULUAN. yang dapat mengembangkan semua aspek dan potensi peserta didik sebaikbaiknya

BAB I PENDAHULUAN. sangat banyak. Tuntutan tersebut diantaranya adalah anak membutuhkan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah wahana untuk mengembangkan dan melestarikan. dan moral yang berakar pada budaya bangsa Indonesia yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara

BAB I PENDAHULUAN. dalam melaksanakan keterampilan menulis dan hasil dari produk menulis itu.

BAB I PENDAHULUAN. Pembinaan Tutor Oleh Gugus PAUD Dalam Rangka Meningkatkan Kinerja Tutor PAUD Di Desa Cangkuang Rancaekek

BAB I PENDAHULUAN. memasuki masa sekolah, tugas mereka adalah belajar. Ini merupakan salah

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat, bangsa dan Negara (UUSPN No.20 tahun 2003).

BAB I PENDAHULUAN. pada usia dini merupakan masa keemasan dimana pada masa ini setiap aspek

commit to user BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

maupun kemampuan mengadaptasi gagasan baru dengan gagasan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latarbelakang Masalah

Transkripsi:

Sinopsis Buku Montessori adalah metode yang dipakai pada jenjang pendidikan Playgroup (PG/KB) dan TK yang cukup populer di kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Banyak orangtua yang tertarik untuk menyekolahkan anaknya di PG-TK Montessori karena mendengar kabar yang menyebutkan bahwa metode ini menawarkan sesuatu yang lebih. Misalnya lebih mengembangkan sikap hidup positif, lebih mampu menggali potensi anak, lebih membebaskan pengembangan jati diri anak, secara sistematis juga menghasilkan anak yang lebih jenius dan sederetan lebih yang lain. Tetapi belum banyak kalangan yang memahami apa sebenarnya metode Montessori dan bagaimana hasil yang lebih itu bisa dicapai. Banyak artikel yang membahas tentang tokoh muda dan sukses, contohnya seperti pendiri perusahaan Google, Amazon, Wikipedia dll ternyata mereka semua semasa kecilnya mendapat pendidikan di sekolah Montessori. Belakangan juga muncul artikel di majalah bisnis Amerika yang memperkenalkan istilah Montessori Mafia * yang merujuk pada kelompok orang muda sukses yang dulunya pernah mengecap pendidikan Montessori dan menjadi pelopor ide bisnis baru. Para mafia 2

tersebut dianggap memiliki bakat kreatif inovatif serta kemampuan untuk berpikir out of the box, yang mana merupakan ciri khas metode pendidikan Montessori. Entrepreneur bidang pendidikan yang jeli melihat trend ini tentu tertarik untuk mendirikan sekolah Montessori. Namun orangtua dan masyarakat juga perlu mewaspadai bahwa sekolah Montessori yang telah lama berdiri sekalipun banyak yang tidak memahami filosofi dan menjalankan prinsip-prinsip dasar pendidikan Montessori, alih-alih mampu memberikan hasil sesuai reputasi Montessori yang sejati. Salah satu penyebab dikarenakan minimnya informasi dan buku tentang metode Montessori yang berbahasa Indonesia. Maka buku ini ditulis, agar dapat memberikan informasi yang benar sehingga para orangtua tidak serta merta tergiur dengan sekolah yang memakai embelembel nama Montessori dan ketersediaan aparatus (alat belajar) Montessori di dalam kelas. Karena hal tersebut bukanlah tolak ukur sebuah sekolah yang menjalankan metode pendidikan Montessori secara baik dan benar. Lewat buku ini, para orangtua, calon orangtua, para pendidik dan calon pendidik anak usia dini, baik yang berbasis metode Montessori ataupun bukan, juga dapat merefleksikan cara-cara mendidik anak yang telah mereka pahami dan lakukan selama ini. Sekaligus 3

tindakan dan usaha yang bisa diupayakan untuk membantu perkembangan sosial, emosional dan intelegensia anak-anak dalam periode pertumbuhan emas. Pendekatan dan teknik yang dipakai dalam metode pendidikan Montessori seringkali bertolak belakang dengan metode konvensional. Beberapa contoh misalnya guru tidak mengajar di depan kelas tetapi memberi presentasi individual kepada masing-masing anak, murid-murid boleh saling berbicara dan berjalan hilir mudik ketika kelas berlangsung, murid-murid dengan perbedaan usia 3 tahun dan kemampuan jauh berbeda sebaiknya digabung dalam ruang kelas yang sama, tidak ada PR, ujian, nilai dan sistem ranking bahkan sampai tingkat pendidikan SD dan SMP di sekolah Montessori. Buku ini akan membabarkan alasannya secara detail. Diawali dengan kisah perjalanan hidup tokoh pendirinya, yaitu Dr. Maria Montessori (bab 1). Dilanjutkan dengan cerita sejarah asal mula penemuan metode ini (bab 2), prinsip dasar dan filosofinya (bab 3), pengaturan lingkungan dan intisari kegiatan murid di kelas (bab 4), aktor/aktris pendukung utamanya yaitu GURU dan perbedaan peran serta fungsi seorang guru Montessori dengan guru di sekolah konvensional (bab 5). Hasil terutama yang diharapkan dari sistem pendidikan Montessori ini adalah pembentukan karakter 4

positif dan pengembangan kepribadian utuh seorang anak yang mampu berfungsi dengan baik, sebagai individu maupun sebagai anggota dalam komunitas masyarakat. Kita akan melihat bagaimana pembentukan karakter ini terjadi secara alamiah di kelas Montessori (bab 6). Informasi kurikulum TK Montessori bisa Anda temukan pada bab 7. Bagian akhir buku menyajikan beberapa foto kegiatan anak-anak dalam kelas yang berbasis metode Montessori. [] * Metode Montessori begitu revolusioner sebagai sebuah sistem pendidikan yang menumbuhkan kreativitas dan rasa percaya diri setiap murid-muridnya. Banyak kalangan pebisnis melihat bahwa prinsip-prinsip Montessori ternyata juga sangat sesuai bila diterapkan dalam sistem manajemen perusahaan. Contoh artikel-artikel bisnis tersebut misalnya: Harvard Business Review: Montessori Build Innovators https://hbr.org/2011/07/montessori-builds-innovators/ The Wall Street Journal: The Montessori Mafia http://blogs.wsj.com/ideas-market/2011/04/05/themontessori-mafia/ Forbes: The Future of Education Was Invented in 1906 http://www.forbes.com/sites/pascalemmanuelgobry/2014/01 /22/the-future-of-education-internet-one-laptop-per-childted-sugata-mitra-montessori/ 5

Daftar Isi Sinopsis Buku... 3 Pendahuluan... 13 1. Sekilas Sejarah Pendidikan Montessori... 31 2. Casa dei Bambini... Laboratorium Penemuan Fenomena Dunia Anak-anak... 51 3. Rahasia Kehidupan Masa Kanak-kanak... The Montessori Principles... 65 Sensitive Periods... 86 Absorbent Mind... 93 3.1. Pekerjaan... 96 3.2. Kemandirian... 102 3.3. Kemampuan Berfokus... 105 3.4. Kemampuan Mengendalikan Niat (Will Power)... 107 3.5. Perkembangan Kecerdasan... 112 3.6. Perkembangan Imajinasi dan Kreativitas... 116 3.7. Perkembangan Emosional dan Spiritual... 120 6

4. Mempersiapkan Lingkungan Anak... The Prepared Environment... 127 4.1. Kebebasan... 133 4.2. Keteraturan... 142 4.3. Keindahan... 144 4.4. Benda-benda yang Nyata dan Alamiah... 147 4.5. Alat Belajar Didaktis... 150 4.6. Kehidupan Sosial Bersama Anak-anak Lain... 171 5. Tugas dan Peran Guru The Trained Adults... 181 6. Pendidikan Karakter ala Montessori... 209 7. Kurikulum Montessori... 247 Penutup... 288 Daftar Pustaka... 320 Tentang Penulis... 322 7

4. Mempersiapkan Lingkungan Anak - The Prepared Environment Scientific observation has established that education is not what the teacher gives; education is a natural process spontaneously carried out by the human individual, and is acquired not by listening to words but by experiences upon the environment (Dr. Maria Montessori, Education for a New World ) (Pengamatan ilmiah telah menyingkap fakta bahwa pendidikan bukanlah sesuatu yang diberikan oleh seorang guru; pendidikan adalah sebuah proses alamiah yang dilakukan sendiri oleh setiap individu secara spontan dan didapat bukan dari mendengarkan kata-kata tetapi lewat pengalaman/interaksi dengan lingkungannya). Sebagai seorang ilmuwan sekaligus praktisi ilmu antropologi dan kependidikan, Dr. Montessori tidak hanya sekedar meneliti dan kemudian membabar- 8

kan hasil penelitiannya. Beliau selangkah lebih maju dari ilmuwan lainnya, yaitu dengan menyertakan pula metode/cara penerapan teknis di lapangan, yang mampu berfungsi untuk mendukung sekaligus sebagai alat pembuktian teori hasil penelitiannya. Sebuah metode pendidikan (teori pedagogia) umumnya disusun berdasarkan teori filosofis maupun teori logika dengan beberapa asumsi pokok dan menggunakan model belajar tertentu. Secara umum metode selalu disusun mengikuti teori. Namun teori dan model belajar yang dipakai oleh sang pakar dalam menyusun metode kadangkala tidak selalu sesuai dengan fakta di lapangan. Kenyataannya kemampuan belajar setiap peserta didik pasti berbeda dan cara/model belajar mereka pun tidak mungkin sama. Sebaliknya Dr. Montessori dalam menyusun metode pendidikannya bertumpu dari titik awal yang berlawanan. Beliau menguji berbagai metode yang ada dengan penerapan langsung pada murid-murid di lapangan, mencatat hasilnya dan merumuskan kesimpulannya berdasarkan hasil pengujian tersebut. Kesimpulan awal itu kemudian diuji dan dievaluasi lebih lanjut pada objek yang berbeda 9

untuk memastikan apakah efeknya juga sama, sebelum dibakukan menjadi sebuah teori, lengkap dengan metode yang bisa dipakai untuk pengujian dan pembuktian lebih lanjut pada teori tersebut. Oleh karena itu beliau menyebut metodenya sebagai experimental science, yaitu sebuah ilmu yang terbentuk lewat berbagai proses eksperimen dan pengujian di lapangan. Metode beliau ini tidak tertutup inovasi, adaptasi dan percobaan baru bisa dilakukan, selama itu dituntun oleh observasi terhadap anak-anak. Namun hendaknya praktisi juga berhati-hati karena adaptasi menurut selera pribadi atau adaptasi yang ceroboh akan membuat metode Montessori ini melenceng jauh, sehingga tidak mampu memberikan hasil yang seharusnya didapat. Ada alasan untuk setiap alat, benda dan teknik yang dipakai dalam kelas Montessori. Dan alasan itu telah diuji lewat ratusan eksperimen di lapangan, di berbagai belahan dunia dengan latar belakang murid-murid yang berbeda dan memberikan hasil yang positif. Anda dapat menyimak alasan-alasan tersebut pada bab ini. Seperti yang telah dijelaskan................. 10