PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

dokumen-dokumen yang mirip
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM STRATEGI PEMULIHAN KERUSAKAN VEGETASI MANGROVE DI KAWASAN SUAKA MARGASATWA PULAU RAMBUT

BAB I PENDAHULUAN. ekosistemnya. Pada Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 12 TAHUN 2002 T E N T A N G RETRIBUSI IZIN PENGUSAHAAN OBYEK DAN DAYA TARIK WISATA

LEMBAR PENGESAHAN. (Dr. Ir. Hartoyo, M.Sc.) ( Umu Rosidah )

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA NILAI KEARIFAN LOKAL: PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA MENGHADAPI ERA GLOBALISASI

cenderung akan mencari suasana baru yang lepas dari hiruk pikuk kegiatan sehari hari dengan suasana alam seperti pedesaan atau suasana alam asri yang

TINJAUAN PUSTAKA. Ecotouris, dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi ekowisata. Ada

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

RETRIBUSI MASUK OBYEK WISATA

BAB I PENDAHULUAN. positif yang cukup tinggi terhadap pendapatan negara dan daerah (Taslim. 2013).

PENGEMBANGAN WISATA PANTAI TRIANGGULASI DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI (Penekanan Desain Arsitektur Organik Bertema Ekoturisme)

BAB I PENDAHULUAN. oleh bangsa Indonesia dan tersebar di seluruh penjuru tanah air merupakan modal

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA POTENSI LIMBAH KULIT SINGKONG DALAM PRODUKSI BIOBRIKET SEBAGAI SOLUSI PERMASALAHAN KELANGKAAN ENERGI DI INDONESIA

PENGEMBANGAN KAWASAN HUTAN WISATA PENGGARON KABUPATEN SEMARANG SEBAGAI KAWASAN EKOWISATA TUGAS AKHIR

ABSTRAK. Kata kunci : masyarakat adat, Suku Dayak Limbai, Goa Kelasi, aturan adat, perlindungan sumberdaya hutan

LEMBAR PENGESAHAN NIM. I

BAB I PENDAHULUAN. penunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Taman Nasional Kerinci Seblat

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 13 TAHUN 2002 TENTANG IZIN USAHA SARANA PARIWISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki tanah air yang kaya dengan sumber daya alam dan

LEMBAR PENGESAHAN. a. Nama Lengkap : Rianah Sary NIM. H

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

IZIN USAHA JASA PARIWISATA

BAB I PENDAHULUAN. perubahan iklim (Dudley, 2008). International Union for Conservation of Nature

KAJIAN PROSPEK DAN ARAHAN PENGEMBANGAN ATRAKSI WISATA KEPULAUAN KARIMUNJAWA DALAM PERSPEKTIF KONSERVASI TUGAS AKHIR (TKP 481)

BAB I. PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang

APLIKASI KONSEP EKOWISATA DALAM PERENCANAAN ZONA PEMANFAATAN TAMAN NASIONAL UNTUK PARIWISATA DENGAN PENDEKATAN RUANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.14/Menhut-II/2007 TENTANG TATACARA EVALUASI FUNGSI KAWASAN SUAKA ALAM, KAWASAN PELESTARIAN ALAM DAN TAMAN BURU

Diusulkan Oleh: M. Budi Muliyawan E / 2008 ( Anggota) Dimas Ardi Prasetya F / 2009 ( Anggota)

PEMERINTAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA RANCANGAN PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR. TAHUN. TENTANG PENGELOLAAN TAMAN HUTAN RAYA BUNDER

HALAMAN PENGESAHAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

2015 ANALISIS POTENSI EKONOMI KREATIF BERBASIS EKOWISATA DI PULAU TIDUNG KEPULAUAN SERIBU

6 PERTIMBANGAN KAWASAN KARST DALAM PENYUSUNAN ZONASI TNMT

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT

I. UMUM. Sejalan...

ABSTRAK DAN EXECUTIVE SUMMARY PENELITIAN HIBAH BERSAING

HALAMAN PENGESAHAN. a. Nama Lengkap : Mudho Saksono NIM. F

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA SISTEM INFORMASI IDENTIFIKASI IKAN BERBASIS WEBSITE. Bidang Kegiatan : PKM Gagasan Tertulis.

I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang kaya raya akan

BAB I PENDAHULUAN. Wisata alam dapat diartikan sebagai bentuk kegiatan wisata yang

BAB I PENDAHULUAN. hidup Indonesia terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat. Kaedah

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 1998 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN EKOSISTEM LEUSER PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

LEMBAR PENGESAHAN. Bogor, 23 Maret Menyetujui, Sekretaris Departemen Gizi Masyarakat. Ketua Pelaksana Kegiatan

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa kekayaan sumber daya

PERANG TOPAT 2015 KABUPATEN LOMBOK BARAT Taman Pura & Kemaliq Lingsar Kamis, 26 November 2015

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PROSES SUKSESI VEGETASI GAMBUT DI TAMAN NASIONAL SEBANGAU, KALIMANTAN TENGAH BIDANG KEGIATAN : PKM-AI.

BAB II URAIAN TEORITIS. yaitu : pari dan wisata. Pari artinya banyak, berkali-kali atau berkeliling.

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara kepulauan dengan garis pantai sepanjang

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 1998 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN EKOSISTEM LEUSER PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 108 TAHUN 2015 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

(2) Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Balai Pengelolaan Taman Hutan Raya Banten mempunyai fungsi sebagai berik

PENILAIAN POTENSI OBYEK DAN DAYA TARIK WISATA ALAM SERTA ALTERNATIF PERENCANAANNYA DI TAMAN NASIONAL BUKIT DUABELAS PROVINSI JAMBI SIAM ROMANI

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Data tentang luas tutupan lahan pada setiap periode waktu penelitian disajikan pada

BAB I PENDAHULUAN. Berawal dari Surabaya yang menjadi kota perdagangan tua, banyak sekali pedagang dari berbagai belahan dunia berdagang dan

PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH NOMOR 46 TAHUN 2001 TENTANG PENGELOLAAN TAMAN HUTAN RAYA POCUT MEURAH INTAN

DAFTAR ISI.. HALAMAN JUDUL. HALAMAN PRASYARAT GELAR SARJANA LEMBAR PENGESAHAN.. HALAMAN PENETAPAN PANITIA UJIAN UCAPAN TERIMKASIH ABSTRACT...

BAB I PENDAHULUAN. untuk mengembangkan serta menggalakan dunia kepariwisataan kini semakin giat

BAB I. PENDAHULUAN. yang dimaksud adalah taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM

ANALISA MANFAAT BIAYA PROYEK PEMBANGUNAN TAMAN HUTAN RAYA (TAHURA) BUNDER DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sedangkan kegiatan koleksi dan penangkaran satwa liar di daerah diatur dalam PP

BAB I PENDAHULUAN. dan ekosistemnya ini dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebesar-besarnya

I. PENDAHULUAN. Provinsi Lampung merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi wisata

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-Undang Kehutanan Nomor 41 tahun 1999, hutan adalah

HALAMAN PENGESAHAN. Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo. Pembantu atau Wakil Rektor Bidang Akademik Kemahasiswaan

Dr. Ir. H. NAHARDI, MM. Kepala Dinas Kehutanan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah

PERENCANAAN PROGRAM INTERPRETASI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT SUKABUMI PROVINSI JAWA BARAT ADAM FEBRYANSYAH GUCI

BAB I PENDAHULUAN. kawasan yang dilindungi (protected area) sebagai tujuan wisata melahirkan

1. PENDAHULUAN. jenis flora dan fauna menjadikan Indonesia sebagai salah satu mega biodiversity. peningkatan perekonomian negara (Mula, 2012).

BAB I PENDAHULUAN. besar di dalam suatu ekosistem. Hutan mampu menghasilkan oksigen yang dapat

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.38/Menhut-II/2014 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN PENELITIAN ARTEFAK ASTANA GEDE. dan terapit oleh dua benua. Ribuan pulau yang berada di dalam garis tersebut

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PEMANFAATAN JANGKRIK SEBAGAI SOLUSI ALTERNATIF TULANG RAWAN IKAN HIU UNTUK PENGOBATAN REMATIK PKM GAGASAN TERTULIS

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA KAJIAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA KOMPOR RAMAH LINGKUGAN BERBASIS TENAGA SURYA UNTUK PENYULINGAN MINYAK ATSIRI DARI NILAM

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki sumber daya alam yang

VII PRIORITAS STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA TN KARIMUNJAWA

serta menumbuhkan inspirasi dan cinta terhadap alam (Soemarno, 2009).

LEMBAR PENGESAHAN. 4. Anggota Pelaksana Kegiatan : 2 orang. Dosen Pembimbing

SERI BUKU INFORMASI DAN POTENSI OBYEK DAN DAYA TARIK WISATA TAMAN NASIONAL ALAS PURWO

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM SISTEM PENGELOLAAN LIMBAH BATERAI RUMAH TANGGA MELALUI PENDEKATAN SOSIAL DAN ORGANISASI

2 Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 (Lem

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.19/Menhut-II/2004 TENTANG KOLABORASI PENGELOLAAN KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

PENGEMBANGAN MASJID AGUNG DEMAK DAN SEKITARNYA SEBAGAI KAWASAN WISATA BUDAYA

Transkripsi:

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PEMANFAATAN JASA LINGKUNGAN HUTAN MELALUI PENGELOLAAN WISATA RELIGI DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO Bidang Kegiatan : PKM Artikel Ilmiah Diusulkan Oleh : Ika Satyasari (E34052746/ 2005) Merzyta Septiyani (E34051398/ 2005) M. Farikhin Yanuarefa (E34052783/ 2005) Hery Jamaksari (E34063163/ 2006) INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009

ii HALAMAN PENGESAHAN 1. Judul Kegiatan : Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Melalui Pengelolaan Wisata Religi Di Taman Nasional Alas Purwo 2. Bidang Kegiatan : PKM-AI 3. Bidang Ilmu : Pertanian 4. Ketua Pelaksana Kegiatan a. Nama Lengkap : Ika Satyasari b. NIM : E34052746 c. Jurusan : Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata d. Universitas/Institut/Politeknik : Institut Pertanian Bogor e. Alamat Rumah dan No.Tel./HP : Wisma Nuradi, Babakan Doneng Dramaga, Bogor. Email: ika_poenya19@yahoo.com 081316920258 5. Anggota Pelaksana Kegiatan : 3 orang 6. Dosen Pendamping a. Nama Lengkap dan Gelar : Dr. Ir. Arzyana Sunkar, M.Sc b. NIP : 132 133 962 c. Alamat Rumah dan No.Tel./HP : Jl. Praja Raya No. 8 Kebayoran Lama Jakarta Selatan HP 08159477743 Menyetujui, Ketua Departemen Bogor, 2 April 2009 Ketua Pelaksana Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS NIP. 131 411 832 Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Ika Satyasari NIM. E34052746 Dosen Pendamping, Prof. Dr. Ir. Yonny Koesmaryono, MS Dr. Ir. Arzyana Sunkar, M.Sc NIP. 130 473 999 NIP. 132 133 962

1 PEMANFAATAN JASA LINGKUNGAN HUTAN MELALUI PENGELOLAAN WISATA RELIGI DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO Ika Satyasari, Merzyta Septiyani, M. Farikhin Yanuarefa, Hery Jamaksari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor ABSTRAK Manfaat yang diberikan hutan bagi kehidupan manusia sangat beragam. Selain manfaat dari sumber daya alamnya, hutan juga dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi. Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) merupakan salah satu kawasan taman nasional yang dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan religi. Pengelolaan wisata religi di TNAP dipusatkan di seksi I Tegaldlimo. Kajian tentang pengelolaan wisata religi perlu dilakukan untuk mendukung pemanfaatan hutan secara lestari. Berdasarkan hasil yang diperoleh melalui metode observasi lapang dan wawancara, pengelolaan wisata religi di TNAP sudah berjalan dengan baik. Sampai saat ini terjadi kesinergisan antara pelaku wisata religi dan pengelola dalam upaya melestarikan TNAP berlandaskan pilar konservasi (perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan). Kegiatan wisata religi dikatakan mendukung segi perlindungan dan pengawetan karena kegiatan tersebut didasarkan pada kesadaran untuk tidak melakukan kerusakan. Sedangkan segi pemanfaatan dapat terlihat dari penggunaan lokasi-lokasi (Goa Basori, Pura Luhur Giri Salaka, Situs Kawitan, Goa Istana, Goa Mayangkara dan Parang Ireng) sebagai tempat wisata sekaligus tempat religi. Pemanfaatan lokasi-lokasi tersebut menunjukkan adanya fungsi TNAP untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang berupa kebutuhan rohani. Kata Kunci: Alas Puwo, Wisata religi, Konservasi PENDAHULUAN Latar belakang Hutan merupakan aset negara yang menyimpan berbagai macam manfaat. Jenis pemanfaatan hutan antara lain berupa pemanfaatan sumber daya alam, ilmu pengetahuan, wisata, budaya dan religi. Kebutuhan masyarakat tidak dapat dipisahkan dengan hutan, bagaimanapun juga masyarakat memiliki ketergantungan terhadap hutan baik langsung maupun tidak langsung. Salah satu upaya pelestarian hutan untuk menunjang kebutuhan masyarakat adalah dengan pembentukan taman nasional.

Taman nasional merupakan kawasan daratan maupun perairan yang memiliki ciri khas tertentu, dan mempunyai multi fungsi yaitu perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan dan pemanfaatan secara lestari jenis tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya, yang dikelola dengan sistem zonasi. Pemanfaatan taman nasional untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budidaya, kebudayaan dan wisata. Alas Purwo merupakan salah satu dari 51 taman nasional di Indonesia yang pengelolaannya menerapkan 3 Pilar Konservasi (Perlindungan, Pengawetan dan Pemanfaatan). Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Pemanfaatan hutan di TNAP difokuskan pada pemanfaatan jasa lingkungan hutan untuk wisata. wisata yang dikelola di TNAP adalah wisata religi. Kegiatan religi di kawasan TNAP sudah dimulai sejak lama dan dilakukan secara turun temurun. Lokasi-lokasi yang dijadikan tempat untuk wisata religi yaitu Pura Luhur Giri Salaka, Goa Basori, Goa Istana, Goa Mayangkara dan Parang Ireng. Kegiatan religi yang dilaksanakan di kawasan TNAP antara lain berupa pemujaan, ritual keagamaan umat Hindu serta pembinaan spiritual dan rohani. Masyarakat Bayuwangi yang merupakan suku jawa, masih berpedoman pada ajaran nenek moyang mereka, yaitu ajaran Hindu. Gauthama et al (2003) mengatakan bahwa nenek moyang suku jawa mengimplementasikan hakekat hubungan manusia dengan alam melalui filsafah memayu hayuning bawana dan gugontuhon. Makna dari memayu hayuning bawana adalah mengusahakan keselamatan dunia beserta segala isinya agar tetap terpelihara dan harmonis. Sedangkan makna gugontuhon adalah untuk mencapai suatu tujuan, manusia harus berhati-hati dan selalu memohon kepada Tuhan agar segala sesuatu yang dilakukan dapat tercapai tanpa aral melintang. Pelaku wisata religi di TNAP tidak hanya berasal dari daerah sekitar taman nasional saja tetapi juga berasal dari luar daerah bahkan luar provinsi. Masyarakat pelaku wisata percaya bahwa TNAP merupakan tempat yang tenang dan damai untuk mencari inspirasi atau melepaskan diri dari berbagai masalah yang sedang dihadapi. Hal ini mungkin berkaitan dengan asal nama Alas Purwo itu sendiri. Menurut masyarakat, Alas Purwo berasal dari kata alas yang berarti hutan dan purwo yang berarti tua/awal, jadi Alas Purwo berarti hutan yang paling tua atau awal. Bagi masyarakat Banyuwangi, Alas Purwo dianggap sebagai hutan yang paling tua di Banyuwangi. Menyadari Alas Purwo sebagai hutan mereka yang paling tua dan dikeramatkkan, masyarakat berupaya menjaga TNAP agar tetap lestari melalui filsafah memayu hayuning bawana dan gugontuhon. Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas mengenai pentingnya hutan bagi kehidupan religi masyarakat, maka perlu dilakukan kajian tentang pengelolaan wisata religi untuk mendukung pemanfaatan hutan secara lestari 2

3 TUJUAN Tujuan dari penulisan artikel ini adalah: a. Menelaah manfaat TNAP bagi masyarakat untuk kegiatan religi b. Menelaah pengelolaan wisata religi di TNAP c. Menganalisis kesinergisan antara masyarakat dan pengelola dalam upaya melesatarikan TNAP melalui wisata religi METODE Waktu dan Lokasi Kajian tentang kegiatan wisata religi ini dilaksanakan pada tanggal 2-7 Maret 2009 dan berlokasi di Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, dengan fokus pengambilan data di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) 1 Kecamatan Tegaldlimo yaitu di Resort Rowobendo (Pura Giri Luhur Salaka, Situs Kawitan dan Goa Basori) dan Resort Pancur (Goa Istana, Goa Mayangkara dan Parang Ireng). Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam pengambilan data adalah tape recorder dan kamera digital. Jenis dan Metode Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan adalah mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para pelaku wisata yang meliputi pemujaan, ritual keagamaan umat Hindu serta pembinaan spiritual dan rohani. Metode pengumpulan data adalah dengan mengumpulkan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari observasi lapang serta wawancara terhadap pihak pengelola dan pelaku wisata religi. Adapun teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara langsung. Data hasil wawancara dan observasi lapang yang didapatkan kemudian dianalisis dan dibandingkan dengan sumber literatur yang relevan sesuai topik.

4 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Data Tujuan Kunjungan Wisata di TNAP Tujuan kunjungan wisata ke TNAP terbesar untuk keperluan ritual. Grafik di bawah ini menggambarkan tujuan kunjungan wisata di TNAP selama tahun 2008. Grafik 1. Tujuan Kunjungan Wisata di TNAP Tahun 2008 Lokasi-lokasi Dilakukannya Wisata Religi di TNAP Lokasi-lokasi yang digunakan untuk wisata religi terkonsentrasi di SPTN I Kecamatan Tegaldlimo Resort Rowobendo khususnya di Pura Luhur Giri Salaka dan Goa Basori dan Resort Pancur khususnya di Goa Istana dan Goa Mayangkara. Berikut adalah gambar objek-objek wisata yang digunakan untuk wisata religi: (a) (b) (c) Gambar 1. Lokasi wisata religi di Resort Rowobendo: (a) Goa Basori, (b) Pura Luhur Giri Salaka, (c) Situs Kawitan

5 (a) (b) (c) Gambar 2. Lokasi-lokasi religi di Resort Pancur: (a) Gua Istana, (b) Gua Mayangkara, (c) Parang Ireng Pembahasan Pengelolaan Wisata Religi di TNAP Alas Purwo ditetapkan sebagai taman nasional melalui Keputusan Menteri Kehutanan No. 283/Kpts-II/1992 pada 26 Februari 1992 seluas 43.420 Ha. Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) terletak di Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur meliputi dua kecamatan yaitu Kecamatan Tegaldlimo dan Purwoharjo. Alas Purwo yang juga dikenal dengan julukan semenanjung Blambangan memiliki potensi wisata yang menarik. Sebagian besar tujuan kunjungan wisata ke TNAP setiap bulannya adalah untuk keperluan religi (Grafik 1 ). Pengelolaan wisata religi yang terdapat di TNAP terpusat di Kecamatan Tegaldlimo khususnya di Resort Rowobendo dan Resort Pancur. Lokasi kegiatan wisata religi di Resort Rowobendo yaitu Goa Basori, Pura Luhur Giri Salaka dan Situs Kawitan, sedangkan lokasi di Resort Pancur yaitu Goa Istana, Goa Mayangkara dan Parang Ireng. Pengunjung yang memasuki kawasan berasal dari sekitar kabupaten Banyuwangi maupun dari provinsi lain. Aktivitas religi yang dilakukan oleh pengunjung antara lain berupa pemujaan, semedi serta ritual keagamaan umat Hindu. Pelaku wisata religi selain wajib membayar retribusi juga wajib memberikan informasi mengenai identitas diri. Retribusi berupa biaya masuk diberlakukan untuk setiap pengunjung sebesar Rp. 2.500,00. Bagi pengunjung yang melakukan ritual di kawasan TNAP lebih dari satu hari wajib menyerahkan identitas diri berupa tanda pengenal. Apabila pengunjung menghendaki tinggal di kawasan TNAP selama 7 hari atau lebih harus menyertakan surat keterangan yang menyatakan bahwa pengunjung akan melakukan aktivitas ritual dan tidak melakukan pelanggaran selama berada di dalam kawasan. Fungsi Kawasan TNAP bagi Masyarakat dalam Hal Kebudayaan dan Religi Berdasarkan motif wisatanya, para pelaku wisata religi di TNAP bermotifkan kebudayaan dan spiritual. Menurut Soekadiji (2000) dalam tipe

6 wisata kebudayaan (cultural tourism) orang tidak hanya sekedar mengunjungi suatu tempat untuk menyaksikan dan menikmati atraksi (pleasure tourism) akan tetapi lebih dari itu. Kunjungan wisatawan ke berbagai peristiwa khusus seperti upacara keagamaan, penobatan raja, pemakaman tokoh tersohor dan pertunjukan kesenian yang terkenal termasuk dalam wisata budaya. Wisata spiritual (spiritual tourism) merupakan salah satu tipe wisata tertua. Kunjungan ke tempat-tempat yang dikeramatkan termasuk ke dalam wisata spiritual. Sampai saat ini kawasan TNAP merupakan tempat yang di anggap memiliki banyak misteri. Sebelum kawasan Alas Purwo ditetapkan sebagi taman nasional, hutan Alas Purwo sudah digunakan untuk kegiatan religi. Aktivitas religi dilakukan di tempat yang dianggap memiliki kekuatan supranatural. Tempattempat yang dianggap memiliki kekuatan supranatural biasanya adalah goa, candi dan tempat-tempat di sekitar sungai. Goa yang telah ditemukan di kawasan TNAP sebanyak 40 goa. Goa Basori, Goa Istana dan Goa Mayangkara merupakan goa yang paling banyak dikunjungi untuk keperluan religi di antara goa-goa lain di TNAP. Berbagai kegiatan religi yang dilaksanakan oleh pengunjung adalah pemberian sesajen, sembahyang dan nyepi/bertapa. Parang Ireng merupakan blok hutan pantai di kawasan Pancur yang dialiri sungai dari Teluk Grajagan. Aktivitas religi yang dilakukan di kawasan ini adalah sembahyang keagamaan dan pemberian sesajen. Sedangkan Situs Kawitan dan Pura Luhur Giri Salaka digunakan untuk ritual keagamaan umat Hindu dan wisata kunjungan ritual sementara saja. Situs Kawitan yang menjadi kebanggaan masyarakat Hindu Banyuwangi merupakan situs budaya peninggalan Majapahit pada abad ke-14. Situs ini ditemukan pada tahun 1965 dan mulai dibuka untuk kegiatan keagamaan pada tahun 1968. Pura Luhur Giri Salaka mulai dibangun pada tahun 1996 di dekat Situs Kawitan. Pembangunan pura ini karena umat Hindu yang melakukan ritual keagamaan di Situs Kawitan semakin banyak. Oleh Departemen Kehutanan RI, area di sekitar Situs Kawitan yang diberikan untuk kepentingan peribadatan 2 ha. Upacara rutin dan khas di Pura Luhur Giri Salaka adalah upacara pagar wesi. Upacara ini dilakukan setiap wuku Shinto (penanggalan jawa kuno) pada malam Rabu kliwon (kira-kira setiap 210 hari sekali). Tujuan dari upacara ini adalah untuk memuji Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan mensyukuri ilmu pengetahuan yang telah diberikan oleh para dewata. Kesinergisan antara Masyarakat dan Pengelola dalam Upaya Melestarikan TNAP melalui Wisata Religi Masyarakat Jawa di Banyuwangi masih berpegang teguh pada ajaran nenek moyang yang beragama Hindu. Gauthama, et al (2003) menyebutkan bahwa masyarakat Jawa mengimplementasikan hakekat hubungan manusia dengan alam dengan filsafah memayu hayuning bawana (mengusahakan keselamatan dunia beserta segala isinya agar tetap terpelihara dan harmonis) dan

7 gugontuhon (manusia harus berhati-hati dan selalu memohon kepada Yang Maha Kuasa agar segala sesuatu yang dilaksanakan dapat tercapai tanpa aral melintang). Hutan Alas Purwo dipilih masyarakat sebagai tempat ritual karena Alas Purwo dipercayai sebagai hutan yang tua, keramat dan suci. Menurut Nanang (1997) dalam Inoue dan Isozaki (2003), kepercayaan merupakan hal yang berkaitan dengan pemikiran manusia tentang alam termasuk hubungan manusia dengan lingkungan fisik. Bagi mereka hutan Alas Purwo merupakan tempat yang memberikan ketenangan jiwa dan sebagai sumber inspirasi. Melalui kegiatan religi di Alas Purwo, pengunjung berharap dapat menemukan solusi dari permasalahan kehidupan yang dihadapinya. Kegiatan wisata religi yang ada di TNAP selain memberikan manfaat secara pribadi bagi para pelaku wisata juga memberikan manfaat secara tidak langsung terhadap kelestarian hutan. Hal ini dapat membantu pihak pengelola TNAP dalam melakukan pengeloaan yang berlandaskan tiga Pilar Konservasi (Perlindungan, Pengawetan dan Pemanfaatan). Bagi masyarakat pelaku kegiatan religi di TNAP, kedatangannya tidak semata-mata untuk bertapa tetapi juga melakukan perbuatan nyata seperti tetap menjaga lestarinya sarwaprani (tumbuhan dan hewan). Kegiatan wisata religi dikatakan mendukung segi perlindungan dan pengawetan karena kegiatan tersebut didasarkan pada kesadaran untuk tidak melakukan kerusakan. Selain melakukan kegiatan religinya, pelaku wisata sekaligus memperhatikan keadaan sekitar untuk kemudian dilaporkan pada pengelola. Oleh karena itu daerah di sekitar lokasi wisata dapat terpantau dari segi keamanan dan keberadaan flora dan faunanya. Sedangkan dari segi pemanfaatan, masyarakat membuat tempat pemujaan sederhana dengan areal yang tidak luas di lokasi-lokasi yang dianggap suci (Goa Basori, Pura Luhur Giri Salaka, Situs Kawitan, Goa Istana, Goa Mayangkara dan Parang Ireng). Menurut Inoue dan Isozaki (2003) pengelolaan lingkungan harus memperhatikan nilai guna keagamaan, budaya, tradisi dan norma hidup dalam komunitas. Dikelolanya wisata religi di kawasan TNAP, menunjukkan bahwa pengelolaan TNAP memperhatikan kebutuhan masyarakat yang berupa kebutuhan rohani dan spiritual. KESIMPULAN Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) memiliki manfaat yang besar dalam mendukung kegiatan wisata religi karena banyak masyarakat / pengunjung yang menjadikan hutan sebagai sumber inspirasi. Lokasi-lokasi yang digunakan untuk kegiatan religi, yaitu Pura Luhur Giri Salaka, Goa Basori, Goa Istana, Goa Mayangkara dan Parang Ireng. Kegiatan religi yang dilakukan pada lokasi-lokasi tersebut adalah pemujaan, semedi serta ritual keagamaan umat Hindu.

8 Pengelolaan wisata religi di TNAP dipusatkan di Seksi I Kecamatan Tegaldlimo khususnya Resort Rowobendo dan Resort Pancur. Adanya kesinergisan antara pihak pengelola TNAP dengan pelaku wisata religi menunjukkan bahwa pengelolaan wisata religi di TNAP sudah terlaksana dengan baik. Kegiatan wisata religi adalah wisata yang bertanggungjawab dan mendukung prinsip konservasi UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada Kepala Taman Nasional Alas Purwo dan pihak-pihak terkait yang telah memberikan izin untuk tempat pelaksanaan pengambilan data. Selain itu juga penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr. Ir. Arzana Sunkar, M.Sc sebagai dosen yang telah membimbing proses penulisan artikel ilmiah ini, tim kegiatan Praktek Kerja Lapang Profesi Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB dan semua pihak yang telah membantu. DAFTAR PUSTAKA Ariyanto, D. 2008. Pengelolaan Taman Nasional Berbasis Resort. Banyuwangi. Font X, Tribe J. 2000. Forest Tourism and Recreation: Case Studies in Environmental Management. London : CABI Publishing. Gauthama, M.P, Kusrestuwardhani, Alkadri. 2003. Budaya Jawa dan Masyarakat Modern. Jakarta: BPPT Press. Hartono. 2008. Mencari Bentuk Pengelolaan Taman Nasional Model Sebuah Tinjauan Reflektif Praktek Pengelolaan Taman Nasional Di Indonesia. Banyuwangi Ife J, Tesoreiro F. 2008. Community Development: Alternatif Pengembangan Masyarakat di Era Globalisasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Inoue M, Isozaki H. 2003. People and Forest Policy and Local Reality in Southeast Asia, The Rusian for East and Japan, 215-229. Netherland: Kluwer Academic Publishers. Soekadijo, R.G. 2000. Anatomi Pariwisata. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.