PENGELOMPOKAN DATA ANGIN PUTING BELIUNG DENGAN MENGGUNAKAN LVQ

dokumen-dokumen yang mirip
PEMANFAATAN SATAID UNTUK ANALISA BANJIR DAN ANGIN PUTING BELIUNG: STUDI KASUS JAKARTA DAN YOGYAKARTA

PENGENALAN AKSARA JAWAMENGGUNAKAN LEARNING VECTOR QUANTIZATION (LVQ)

SIMULASI PENGENALAN TULISAN MENGGUNAKAN LVQ (LEARNING VECTOR QUANTIZATION )

PENGENALAN POLA KEPUASAN MAHASISWA TERHADAP KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (STUDI KASUS DI STMIK AKAKOM YOGYAKARTA) Abstrak

APLIKASI PENGENALAN POLA DAUN MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF LEARNING VECTOR QUANTIFICATION UNTUK PENENTUAN TANAMAN OBAT

ANALISIS KONDISI CUACA SAAT TERJADI PUTING BELIUNG DI DESA BRAJAASRI KEC.WAY JEPARA KABUPATEN LAMPUNG TIMUR (Studi Kasus Tanggal 14 Nopember 2017)

KLASIFIKASI KUALITAS BUAH GARCINIA MANGOSTANA L. MENGGUNAKAN METODE LEARNING VECTOR QUANTIZATION

BAB I PENDAHULUAN. Utara yang mana secara geografis terletak pada Lintang Utara

Prediksi Curah Hujan Menggunakan Metode Learning Vector Quantization (Studi Kasus : Kota Tanjungpinang)

OPTICAL CHARACTER RECOGNIZATION (OCR)

ANALISIS KONDISI CUACA SAAT TERJADI BANJIR DI KECAMATAN PALAS LAMPUNG SELATAN (Studi Kasus Tanggal 27 September 2017)

Perbaikan Metode Prakiraan Cuaca Bandara Abdulrahman Saleh dengan Algoritma Neural Network Backpropagation

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Estimasi Suhu Udara Bulanan Kota Pontianak Berdasarkan Metode Jaringan Syaraf Tiruan

PENGENAL HURUF TULISAN TANGAN MENGGUNAKAN JARINGAN SARAF TIRUAN METODE LVQ (LEARNING VECTOR QUANTIZATION) By. Togu Sihombing. Tugas Ujian Sarjana

ANALISIS KONDISI CUACA SAAT TERJADI PUTING BELIUNG(WATERSPOUT) DI KABUPATEN KEPULAUAN SERIBU (Studi Kasus Tanggal 23 Oktober 2017)

ANALISIS KONDISI CUACA SAAT TERJADI HUJAN LEBAT DAN ANGIN KENCANG DI ALUN-ALUN KOTA BANJARNEGARA (Studi Kasus Tanggal 08 Nopember 2017)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ANALISA CUACA TERKAIT KEJADIAN HUJAN EKSTREM SURABAYA DI SURABAYA TANGGAL 24 NOVEMBER 2017

Prediksi Curah Hujan Di Kota Pontianak Menggunakan Parameter Cuaca Sebagai Prediktor Pada Skala Bulanan, Dasarian Dan Harian Asri Rachmawati 1)*

Perbandingan Antara Metode Kohonen Neural Network dengan Metode Learning Vector Quantization Pada Pengenalan Pola Tandatangan

IDENTIFIKASI CITRA BILANGAN DESIMAL 0-9 BERBASIS LEARNING VECTOR QUANTIZATION SECARA REAL TIME

PENERAPAN METODE LEARNING VECTOR QUANTIZATION (LVQ) PADA PREDIKSI JURUSAN DI SMA PGRI 1 BANJARBARU

POSITRON, Vol. IV, No. 2 (2014), Hal ISSN :

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

ANALISIS KEJADIAN CUACA EKSTRIM DI KECAMATAN KRUI SELATAN KABUPATEN PESISIR BARAT LAMPUNG (Studi Kasus Tanggal 11 Oktober 2017)

ANALISIS KONDISI CUACA SAAT TERJADI PUTING BELIUNG DI DESA PURWOSARI KEC.METRO UTARA KOTA METRO (Studi Kasus Tanggal 04 Januari 2018)

IMPLEMENTASI SEGMENTASI CITRA DAN ALGORITMA LEARNING VECTOR QUANTIZATION (LVQ) DALAM PENGENALAN BENTUK BOTOL

Analisis Kondisi Atmosfer Pada Saat Kejadian Banjir Bandang Tanggal 2 Mei 2015 Di Wilayah Kediri Nusa Tenggara Barat

LEARNING VECTOR QUANTIZATION UNTUK PREDIKSI PRODUKSI KELAPA SAWIT PADA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA I PULAU TIGA

DAFTAR ISI. Halaman Judul. Lembar Pengesahan Pembimbing. Lembar Pengesahan Penguji. Halaman Persembahan. Halaman Motto. Kata Pengantar.

BAB III METODE PENELITIAN. Pada bab ini akan dijelaskan bahan dan software yang digunakan

BAB VIII JARINGAN SYARAF TIRUAN

ANALISIS KEJADIAN CUACA EKSTRIM (BANJIR) DI KEC.NGARAS KABUPATEN PESISIR BARAT (study kasus tgl 09 Nopember 2017)

STASIUN METEOROLOGI TANJUNGPANDAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

APLIKASI JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK MEMPREDIKSI VOLUME PEMAKAIAN AIR BERSIH DI KOTA PONTIANAK

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

IMPLEMENTASI SELF ORGANIZING MAP DALAM KOMPRESI CITRA DIGITAL

IDENTIFIKASI JENIS BATU AKIK MENGGUNAKAN METODE LEARNING VEKTOR QUANTIZATION (LVQ)

ANALISIS KONDISI CUACA SAAT TERJADI BANJIR DI DUSUN WAYARENG DESA MULYOSARI KEC.BUMI AGUNG KAB. LAMPUNG TIMUR (Studi Kasus Tanggal 18 Februari 2018)

RANCANG BANGUN TOOL UNTUK JARINGAN SYARAF TIRUAN (JST) MODEL PERCEPTRON

BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK AS A METHOD OF FORECASTING ON CALCULATION INFLATION RATE IN JAKARTA AND SURABAYA

Metode Jaringan Saraf Tiruan Propagasi Balik Untuk Estimasi Curah Hujan Bulanan di Ketapang Kalimantan Barat

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ANALISIS CUACA EKSTRIM DI BANDAR LAMPUNG (Studi Kasus Tanggal Maret 2018)

BAB II LANDASAN TEORI

JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK MEMPREDIKSI CURAH HUJAN SUMATERA UTARA DENGAN METODE BACK PROPAGATION (STUDI KASUS : BMKG MEDAN)

PREDIKSI CURAH HUJAN DI KOTA MEDAN MENGGUNAKAN METODE BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK

ALGORITMA BACK PROPAGATION NEURAL NETWORK UNTUK PENGENALAN POLA KARAKTER HURUF JAWA

SISTEM PENGENALAN KARAKTER DENGAN JARINGAN SYARAF TIRUAN ALGORITMA PERCEPTRON

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG-TANGERANG

ANALISIS KEJADIAN ANGIN KENCANG DAN HUJAN LEBAT DI KAB. MEMPAWAH KALIMANTAN BARAT TANGGAL 09 AGUSTUS 2017

ANALISIS KONDISI CUACA SAAT TERJADI BANJIR DI KABUPATEN LAMPUNG UTARA (Studi Kasus Tanggal 29 Desember 2017)

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN METEOROLOGI KLAS I JUANDA SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PREDIKSI PENDAPATAN ASLI DAERAH KALIMANTAN BARAT MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BACKPROPAGATION

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PREDIKSI TERJANGKITNYA PENYAKIT JANTUNG DENGAN METODE LEARNING VECTOR QUANTIZATION. Nurul Hidayati 1, Budi Warsito 2

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA

BAB II. Penelitian dengan jaringan syaraf tiruan propagasi balik. dalam bidang kesehatan sebelumnya pernah dilakukan oleh

KOMPARASI METODE JARINGAN SYARAF TIRUAN SOM DAN LVQ UNTUK MENGIDENTIFIKASI DATA BUNGA IRIS

1.1 Latar Belakang. Universitas Indonesia

Komparasi Metode Klasifikasi Penyakit Diabetes Mellitus Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan Learning Vector Quantization dan Backpropagation

ANALISA CUACA TERKAIT KEJADIAN ANGIN KENCANG DI PRAMBON SIDOARJO TANGGAL 02 APRIL 2018

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan iklim merupakan perubahan jangka panjang dalam

IMPLEMENTASI JARINGAN SYARAF TIRUAN METODE BACKPROPAGATION UNTUK MEMPREDIKSI HARGA SAHAM

APLIKASI JARINGAN SYARAF TIRUAN MULTI LAYER PERCEPTRON PADA APLIKASI PRAKIRAAN CUACA

BAB I PENDAHULUAN. terjadi pada suatu wilayah tertentu dalam kurun waktu tertentu misalnya bencana

T 11 Aplikasi Model Backpropagation Neural Network Untuk Perkiraan Produksi Tebu Pada PT. Perkebunan Nusantara IX

ANALISIS CURAH HUJAN SAAT KEJADIAN BANJIR DI SEKITAR BEDUGUL BALI TANGGAL 21 DESEMBER 2016

PRISMA FISIKA, Vol. I, No. 1 (2013), Hal ISSN :

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN ISSN : VOL. 7 NO. 1 Maret 2014

Tugas Akhir Pengembangan Perangkat Lunak Berbasis Suara Ucapan untuk Membuka dan Mencetak Dokumen

ANALISA CUACA TERKAIT KEJADIAN ANGIN PUTING BELIUNG DI ARJASA SUMENEP TANGGAL 03 APRIL mm Nihil

PENERAPAN METODE LEARNING VECTOR QUANTIZATION (LVQ) UNTUK DIAGNOSIS PENYAKIT IKAN BAWAL BINTANG (Studi Kasus : BALAI BUDIDAYA LAUT BATAM)

TINJAUAN SECARA METEOROLOGI TERKAIT BENCANA BANJIR BANDANG SIBOLANGIT TANGGAL 15 MEI 2016

Jurnal Informatika Mulawarman Vol 5 No. 1 Februari

DESKRIPSI PARAMETER CUACA DAN STABILITAS UDARA TERKAIT KEJADIAN ANGIN PUTING BELIUNG PONTIANAK (STUDI KASUS 30 AGUSTUS 2016)

Penerapan Learning Vector Quantization Penentuan Bidang Konsentrasi Tugas Akhir (Studi Kasus: Mahasiswa Teknik Informatika UIN Suska Riau)

Seminar Nasional Penginderaan Jauh ke-4 Tahun Stasiun Meteorologi kelas III Nangapinoh-Melawi,Kalimantan Barat 2

Oleh: Angger Gusti Zamzany( ) Dosen Pembimbing: Dr. Dwi Ratna Sulistyaningrum, S.Si, M.T.

Analisis Hujan Lebat pada tanggal 7 Mei 2016 di Pekanbaru

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

ANALISIS BANJIR DI KABUPATEN SEKADAU TANGGAL 21 JANUARI 2017

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG-TANGERANG

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

KAJIAN METEOROLOGI TERKAIT HUJAN LEBAT MENGGUNAKAN SATELIT TRMM, SATELIT MT-SAT DAN DATA REANALISIS (Studi Kasus Banjir di Tanjungpandan)

Project Akhir UAS. 2. daftar isi a. fuzzy b. jst. 3. daftar gambar. 4. isi fuzzy step by step langkah penyelesaikan latihan soal

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA

BAB III METODE PENELITIAN. menjawab segala permasalahan yang ada dalam penelitian ini.

PROSPEK IKLIM DASARIAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Update: 01 Februari 2016

PENERAPAN FUZZY INFERENCE SYSTEM PADA PREDIKSI CURAH HUJAN DI SURABAYA UTARA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Jurnal Ilmiah Komputer dan Informatika (KOMPUTA)

ANALISIS KEJADIAN HUJAN LEBAT DAN BANJIR DI BATAM, KEPULAUAN RIAU TANGGAL 14 NOVEMBER 2017

Transkripsi:

PENGELOMPOKAN DATA ANGIN PUTING BELIUNG DENGAN MENGGUNAKAN LVQ Fenny Fitriani Fakultas Keguruan Ilmu Pidikan, Univeritas PGRI Adi Buana Surabaya email: fennyftiriani@gmail.com Abstrak Pada tahun 2007, Puslitbang - BMKG merintis kegiatan kerja kajian cuaca ekstrim (Puslitbang, 2007). Dalam penelitian tersebut, didapatkan basis data cuaca ekstrim yang berdampak buruk terhadap sektor kehidupan masyarakat. Salah satu dampak tersebut adalah munculnya angin puting beliung yang terjadi di beberapa daerah. Penelitian akan pengelompokan data terjadinya angin puting beliung dapat membantu penelitian selanjutnya untuk digunakan sebagai dasar pembentukan suatu pola perkiraan terjadinya angin puting beliung. Pengelompokan data apda penelitian ini dilakukan dengan menggunakan salah satu algoritma yang ada di jaringan syaraf tiruan, yaitu learning vector quantization (LVQ). Data yang diolah dalam penelitian ini merupakan data cuaca yang terjadi pada persekitaran terjadinya puting beliung. Data yang didapatkan dinormalkan dahulu, lalu diolah dengan algoritma. Hasil pengolahan dengan LVQ ini diharapkan dapat membentuk suatu pola yang bisa digunakan untuk dijadikan pedoman dalam pengolahan data angin puting beliung pada penelitian lebih lanjut. Keywords: LVQ, jaringan syaraf tiruan, puting beliung, data kejadian. 1. PENDAHULUAN Akibat terjadinya pemanasan global, maka cuaca yang terjadi menjadi kurang bersahabat. Puslitbang-BMKG merintis kegiatan kerja kajian cuaca ekstrim (Puslitbang, 2007). Hasil dalam penelitian tersebut adalah didapatkan basis data cuaca ekstrim yang berdampak buruk bagi masyarakat. Angin puting beliung merupakan salah satu kejadian yang disebabkan oleh cuaca ekstrim. Angin puting beliung ini dapat terjadi akibat aya pertemuan udara dingin panas. Biasnya angin puting beliung ini juga disertai dengan curah hujan berintensitas tinggi (Puslitbang, 2009). Fenomena terjadinya angin puting beliung bersifat lokal, mencakup area antara 5 10 km. Puting beliung dapat didefinisikan sebagai angin kencang yang muncul secara tiba-tiba, yang mempunyai pusat, bergerak melingkar seperti spiral hingga menyentuh permukaan bumi. Periode hidup dari angin puting beliung ini tergolong sangat singkat, yaitu sekitar 3-5 menit, mulai dari tumbuh hingga punahnya. Periode hidup yang sangat singkat tersebut tidak berarti kerugian yang diakibat sedikit. Sesuai dengan data yang ada, kerugian yang diakibatkan oleh fenomena angin puting beliung ini dapat mencapai ratusan juta rupiah. Seperti yang terjadi di kabupaten Wonogiri 49 pada tanggal 1 Juni 2015, menurut data BNPB terdapat 2 kerusakan berat 12 kerusakan ringan pada rumah puduk. Pada tanggal yang sama, di kabupaten Solok 3 rumah rusak parah akibat angin puting beliung. Berdasarkan hal tersebut, pada penelitian ini akan di lakukan suatu untuk mengelompokkan secara teliti data kejadian angin puting beliung. Metode yang digunakan adalah algoritma LVQ, dimana LVQ merupakan salah satu algoritma yang ada dalam jaringan syaraf tiruan. Pengelompokan awal dari data yang diambil adalah dengan memberikan pengelompokan kasar sesuai dengan kejadian yang terjadi. Data yang ada tersebut dinormalisasikan terlebih dahulu menjadi bentuk 0 1. Setelah penormalan tersebut, maka data dibagi menjadi dua yaitu data yang digunakan sebagai data uji data training. Kedua data tersebut yang akan diolah untuk menentukan pengelompokan yang diinginkan dengan menggunakan algoritma LVQ. Dengan melakukan pengelompokan ini, diharapkan dapat dijadikan sebagi penodam penelitian yang akan dilakukan selanjutnya.

2. KAJIAN LITERATUR 2.1 Angin Puting Beliung Angin puting beliung merupakan salah satu kejadian alam yang dapat dikategorikan sebagai bencana alam. Jenis angin ini di Indonesia kag dikenal juga dengan istilah angin Puyuh, Lesus (Jawa), Sirit Batara (Sunda). Bila dibandingkan dengan banjir, puting beliung lebih murni disebabkan oleh faktor alam. Faktor alam yang paling berpengaruh pada terbentuknya angin puting beliung adalah dengan aya perbedaan suhu yang siknifikan atara daratan dengan permukaan udara dekat dengan awan. Pengamatan yang dilakukan untuk mengetahui perbedaan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan suatu program komputer yang disebut SATAID. Dengan menggunakan SATAID, pengguna dapat menampilkan melakukan overlay antara citra satelit data NWP. (Harsa dkk 2011). Penelitian yang didasarkan pada angin puting beliung telah dilakukan oleh Hastuadi Harsa pada tahun 2011 dengan penelitiannya Pemanfaatan SATAID Untuk Analisa Banjir Dan Angin Puting Beliung: Studi Kasus Jakarta Dan Yogyakarta. Pada penelitian tersebut didapatkan hasil yaitu pada saat terjadi puting beliung Yogyakarta 18 Februari 2007, citra satelit menunjukkan awan dengan pola bulatan yang merupakan konsentrasi awan konvektif kuat yang berpotensi menimbulkan angin puting beliung. 2.2 Self Organizing Self organizing pada jaringan syaraf tiruan yang digunakan dalam penelitian ini adalah learning vector quantization (LVQ). LVQ merupakan suatu metode untuk melakukan pelatihan pelatihan terhadap lapisan-lapisan kompetitif yang terawasi. Lapisan tersebut akan belajar secara otomatis untuk melakukan klasifikasi terhadap vektor input yang diberikan. Apabila vektor input memiliki jarak yang sangat berdekatan, maka vektor-vektor input tersebut akan dikelompokkan ke dalam kelas yang sama. Berikut adalah gambaran jaringan LVQ yang terdiri atas 6 unit lapisan pada lapisan input 2 unit (neuron) pada lapisan output. Berikut merupakan algoritma pelatihan yang dilakukan oleh jaringan LVQ jika kita memiliki n buah data dengan m buah variabel input dimana data-data tersebut terbagi dalam K kelas. 0. Tetapkan: a. Bobot awal variabel input ke-j menuju ke kelas(cluster) ke-i: dengan b. Tentukan nilai maksimum iterasi/epoh: MaxEpoh c. Parameter learning rate: αα d. Pengurangan learning rate: Decαα e. Minimal learning rate yang diperbolehkan: Minαα 1. Masukkan a. Data input: dengan b. Target berupa kelas: dengan 2. Tetapkan kondisi awal: epoh= 0. 3. Kerjakan jika: (epoh MaxEpoh) (α Min α). a. epoh = epoh+1 b. Kerjakan untuk i = 1 sampai n i. Tentukan J sedemikian hingga minimum dengan ii. Perbaiki dengan ketentuan Jika maka Jika maka 50

c. Kurangi nilai α. Pengurangan nilai α dapat dilakukan dengan cara atau dengan cara. Setelah dilakukan pelatihan akan diperoleh bobot-bobot akhir W. Bobot ini akan digunakan untuk melakukan pengujian atau simulasi. Misalkan kita akan menguji np buah data, maka kita harus melakukan 1. Masukkan data yang akan diuji, misalkan dengan. 2. Kerjakan untuk i = 1 sampai np a. Tentukan J sedemikian hingga minimum dengan b. J adalah kelas untuk. 3. METODE PENELITIAN Tahapan yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan melakukan studi literatur mengkaji permasalahan yang relevan dengan objek yang diteliti, pengumpulan data kejadian yang diteliti, melakukan penormalan dari data yang didapatkan, melakukan pengelompokan awal, tahapan terakhir adalah pengolahan data untuk dikelompokka dengan menggunakan algoritma LVQ dengan diimplementasikan kedalam bahasa pemrograman MATLAB. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Data yang diambil dari penelitian ini adalah data kejadian puting beliung yang terjadi di 2 lokasi di Indonesia, yaitu di Surabaya Jakarta. Data yang diambil dari bulan Maret tahun 2012 sampai dengan bulan Pebruari tahun 2015. Data kejadian tersebut didapaykan dari http://geospasial.bnpb.go. id/pantauanbencana/data/datatopanall.php. Setelah didapatkan data tersebut, data cuaca yang terjadi pada sekitaran kejadian diakses dari http://www.wunderground. com/. Data yang didapatkan tersebut, kemudaian dinormalkan dengan ketentuan sebagai berikut: Dengan adalah nilai hasil penormalan data pada baris ke a. Dari hasil penormalan tersebut, kemudian dilakukan pengelompokan kasar. Pengelompokan kasar yang dilakukan adalah dengan membagi data yang diambil menjadi 4 data kejadian, yaitu a) data saat terjadinya puting beliung, b) data sebelum terjadinya puting beliung, c) data setelah terjadinya puting beliung, d) data netral. Data netral yang dimaksud adalah data yang tidak berada pada persekitaran berlangsungnya kejadian angin puting beliung. Dari pengelompokan kasar tersebut, kemudaian data dibagi menjadi 2 bagian, yaitu data training data uji. Data uji dimaksudkan untuk mengetahui, pengelompokan yang dihasilkan oleh simulasi pemrograman algoritma yang diambil apakah telah sesuai dengan yang diharapkan atau tidak. Implementasi program untuk memisahkan 2 data tersebut dapat dituliskan sebagai berikut filename1 = uigetfile('*.xlsx'); [num,text,alldata]=xlsread(filename1,1); trai=alldata; haclus=xlsread('hasilclus.xlsx'); [d e]=size(haclus) for i=1:d clu(i)=haclus(i,e); clus=max(clu); for i=1:clus for j=1:d nk=haclus(j,e); if nk == i for h=1:e bo(i,h)=trai(j+1,h); filename = 'bobota.xlsx'; xlswrite(filename,bo) co=num2cell(haclus); f=d-1; for i=1:f for j=1:e 51

trai(i+1,j+1)=co(i,j); filename2 = 'test.xlsx'; xlswrite(filename2,trai) g=e+1; for i=1:10 for j=1:g uji(i,j)=trai(d-i,j); filename = 'ujidata.xlsx'; xlswrite(filename,uji) [a b]=size(bo); set(gui.uitable1,'data',trai) set(gui.uitable2,'data',bo) set(gui.uitable3,'data',uji) set(gui.edit1,'string',a); Rangan tampilan dari program iterasi adalah dengan menggunakan GUI yang ada pada MATLAB 2012b. bentuk dari tampilan awal sebagai berikut Inti dari implentasi program LVQ yang menghubungkan interface yang telah dibuat dengan menggunakan MATLAB 2012b adalah sebagai berikut for j=1:aa D(j)=0; for k=1:(b-1) D(j)=D(j)+(bobot(j,k)-trai(i,k))^2; D(j)=sqrt(D(j)) [jmin idx]=min(d) if idx==trai(i,baa+1) for l=1:baa bobot(idx,l)=bobot(idx,l)+mm*(trai(i,l)- bobot(idx,l)); else for l=1:b bobot(idx,l)=bobot(idx,l)-mm*(trai(i,l)- bobot(idx,l)); bobot(idx,b)=idx; if mod(i,20)==0 mm=0.5*mm; jk=jk+1; filename = 'bobotakhir.xlsx'; xlswrite(filename,bobot) set(gui.uitable4,'data',bobot) Bobot awal yang diambil yang digunakan dalam proses training diambil secara random dari setiap kelompok data yang telah dibuat. Nilai learning rate yang diambil adalah dengan nilai minimal dari learning rate yang diambil adalah. Maksimal iterasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah 1.000.000 iterasi. Besarnya maksimal iterasi bisa dinaikkan. Setelah dilakukan running program, maka didapatkan hasil sebagai berikut trai=xlsread('test.xlsx'); bobot=xlsread('bobota.xlsx') [a b]=size(trai); [aa bb]=size(bobot); m=str2num(get(gui.edit2, 'string'));%nilai maxepoh mm=str2num(get(gui.edit3, 'string'));%nilai Alfa mmm=str2num(get(gui.edit4, 'string'));%nilai minalfa a=a-1; baa=b-1; jk=1; while (jk<=m) & (mm>=mmm) for i=1:a Dari hasil running yang telah dilakukan, semakin kecil nilai min- yang diambil, maka hasil pembentukan pola yang dibuat akan 52

semakin dekat dengan yang diinginkan. Begitu juga dengan nilai iterasi, semakin besar nilai iterasi yang dibuat, maka tingkat ketelitian pola yang terbentuk akan semakin tinggi. Tetapi kedua hal tersebut berpengaruh pada running time program. Semakin tinggi iterasi semakin kecil min- yang diambil, menyebabkan running time program yang dilakukan akan sangat lama. Hal tersebut disebabkan karena program tidak akan berhenti sampai dengan min- yang diambil atau mencapai maksimal iterasi yang ditentukan. Dari hasil running tersebut, maka didapatkan hasil dari data pengujian sebagai berikut Kel Awal Kel Akhir j26190 1 1 j26185 2 2 j26180 3 3 j26175 3 3 j26170 1 3 j26165 3 3 j26160 3 3 j26155 1 1 j26150 3 3 j26145 1 2 Angin Puting Beliung: Studi Kasus Jakarta Dan Yogyakarta. Meteorologo Geofisika. 12, No 2. 197 205. Kusumadewi, Sri. 2004. Membangun Jaringan Syaraf Tiruan Menggunakan Matlab Excel Link. Yogyakarta: Graha Ilmu. Puslitbang BMKG. 2007. Kajian Cuaca Ekstrim di Wilayah Indonesia. Laporan Penelitian, Pusat Penelitian Pengembangan, Ba Meteorologi Klimatologi Geofisika, Jakarta. Puslitbang BMKG. 2009. Kajian Cuaca Ekstrim di Wilayah Indonesia. Laporan Penelitian, Pusat Penelitian Pengembangan, Ba Meteorologi Klimatologi Geofisika, Jakarta. Yoshiro Tanaka. (2009). SATAID-Powerful Tool for Satellite Analysis. RSMC Tokyo- Typhoon Center, Japan Meteorology Agency (JMA). Pantauan bencana. (2015). http://geospasial.bnpb.go.id/pantauanbencana/data/dat atopan-all.php. Diakses tanggal 12 Desember 2015 Weather forecast & reports. (2016). http://www.wunderground.com/. Diakses tanggal 6 Januari 2016 5. KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan, perancangan program yang digunakan untuk melakukan pengelompokan data pengenalan pola perlu aya perbaikan. Hal perbaikan pada program pengelompokan pola ditujukan untuk menemukan pengelompokan yang lebih tepat sebelum digunakan pada program pengenalan pola. Sebaliknya, perbaikan program pengenalan pola diperlukan untuk menemukan pola yang lebih mekati kejadian nyata serta bisa mengurangi running time yang diperlukan apabila peneliti mengambil nilai min-α yang lebih kecil mengambil maksimal iterasi yang lebih besar. 6. REFERENSI Harsa, Hastuadi dkk. 2011. Pemanfaatan SATAID Untuk Analisa Banjir Dan 53