Tunas Baru Lampung, Tbk

dokumen-dokumen yang mirip
Nusa Konstruksi Enjiniring, Tbk

Gunawan Dianjaya Steel, Tbk

Semen Baturaja (Persero), Tbk

Kedawung Setia Industrial, Tbk

Lautan Luas, Tbk. Equity Valuation. Laporan Kedua. Laba yang Membaik

Selamat Sempurna, Tbk

Matahari Putra Prima, Tbk

Sidomulyo Selaras, Tbk

Equity Valuation. Pembangunan Jaya Ancol, Tbk. Laporan Kedua. Ekspansi, Sebuah Permainan

Bank Victoria International, Tbk

Fortune Indonesia, Tbk

Indofarma (Persero) Tbk

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Fortune Indonesia, Tbk

Equity Valuation. Hotel Sahid Jaya International, Tbk. Laporan Kedua. Membangun Masa Depan Lebih Baik

Ultrajaya Milk Industry & Trading Company, Tbk

Selamat Sempurna, Tbk

Exploitasi Energi Indonesia, Tbk

Equity Valuation. Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk. Laporan Kedua. Melambat Sejenak sebelum Berbalik Arah

Tigaraksa Satria, Tbk

Selamat Sempurna, Tbk

Metodologi Pemeringkatan Perusahaan Kelapa Sawit

Trikomsel Oke, Tbk. Equity Valuation. Laporan Utama. Posisi Terbaik untuk Tumbuh Menguat

Gema Grahasarana, Tbk

Pembangunan Jaya Ancol, Tbk

Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk

Tifa Finance, Tbk. Equity Valuation. Laporan Utama. Mengambil Keuntungan dari Fokus Bisnis

Jasuindo Tiga Perkasa, Tbk

Multipolar, Tbk. Equity Valuation. Laporan Utama. Membuka Jalan untuk Masa Depan Lebih Cerah

PT AUSTINDO NUSANTARA JAYA Tbk. TANYA JAWAB PUBLIC EXPOSE Senin, 14 Mei Bagaimana target produksi dan penjualan Perseroan pada tahun 2018?

Laba Bersih AGII Tahun 2017 Naik 52% di atas Rp 90 miliar,

Equity Valuation. Catur Sentosa Adiprana, Tbk. Laporan Kedua. Tantangan Jangka Pendek, Prospek yang Cerah di Masa Depan

Equity Valuation. Nippon Indosari Corpindo, Tbk. Laporan Kedua. Mengolah Masa Depan Nan Cerah

Gunawan Dianjaya Steel, Tbk

Laba Bersih Kuartal AGII Naik Lebih Dari 10% Year-On-Year dengan total melebihi Rp 30 miliar

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV

Nippon Indosari Corpindo, Tbk

BAB I PENDAHULUAN. investor atau calon investor menilai bahwa perusahaan berhasil dalam mengelola

Cardig Aero Services, Tbk

Ekadharma International, Tbk

BAB 1 PENDAHULUAN. Begitu besarnya dampak krisis ekonomi global yang terjadi di Amerika Serikat secara

BAB 1 PENDAHULUAN. pengambilan keputusan investasi di pasar modal juga semakin kuat.

BAB I PENDAHULUAN. modal dan industri-industri sekuritas yang ada pada suatu negara tersebut. Peranan

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

Tabel 1. Ringkasan Laporan Laba Rugi untuk 9 bulan yang berakhir pada 30 September 2012/2011

BAB 2. Tinjauan Teoritis dan Perumusan Hipotesis

Multistrada Arah Sarana, Tbk

Ringkasan eksekutif: Di tengah volatilitas dunia

I. PENDAHULUAN. Pada tahun 1997 kondisi perekonomian Indonesia mengalami krisis yang

BAB I PENDAHULUAN. Bahkan untuk keluar dari krisis ekonomi ini, sektor riil harus selalu digerakan

BAB I PENDAHULUAN. telah memiliki perubahan pola pikir tentang uang dan pengalokasiannya. Hal ini

V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT

ANALISIS EKONOMI, KEUANGAN PERUSAHAAN & INVESTASI ANALISIS KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN

BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA. negara selain faktor-faktor lainnya seperti PDB per kapita, pertumbuhan ekonomi,

BAB 1 PENDAHULUAN. International Yearbook of Industrial Statistics 2016, industri manufaktur di

KMI Wire and Cable, Tbk

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan yang membutuhkan dana. Transaksi yang dilakukan dapat dengan

Analisis Perkembangan Industri

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. luar negeri. Sementara itu bagi investor, pasar modal merupakan wahana untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

INDONESIA PADA GUBERNUR BANK PANITIA ANGGARAN SEMESTER

LAPORAN KEUANGAN DEPRESIASI

BAB I PENDAHULUAN. memperoleh pembiayaan atau dana dengan cara penjualan saham. Pasar modal

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV

BAB III PERHITUNGAN DAN ANALISIS

BAB I PENDAHULUAN. (subprime mortgage crisis) telah menimbulkan dampak yang signifikan secara

Neraca Konsolidasi PT. GUDANG GARAM, Tbk.

Transkripsi:

Equity Valuation Tunas Baru Lampung, Tbk Laporan Utama 23 Juni 2014 Target Harga Terendah Tertinggi 830 970 Industri Agribisnis Property Kinerja Saham IHSG 5500 TBLA 650 5000 600 4500 4000 550 500 450 Masa Depan yang Manis 3500 JCI TBLA 400 3000 350 Sumber: Bloomberg, PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing Informasi Saham Kode Saham Rp TBLA Harga Saham 14 Juni 2012 620 Harga Tertinggi 52 Minggu Terakhir 630 Harga Terendah 52 Minggu Terakhir 440 Kapitalisasi Pasar Tertinggi 52 Minggu (miliar) Kapitalisasi Pasar Terendah 52 Minggu (miliar) 3.064 2.175 Market Value Added & Market Risk MVA 300 250 200 150 100 50 0 2011 2012 2013 Market Risk 1.6 1.5 1.4 1.3 1.2 1.1 1.0 0.9 0.8 0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0.0 Market Value Added (Rp/share) Market Risk Sumber: Bloomberg, PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing Pemegang Saham* (%) PT Budi Delta Swakarya 30,05 PT Sungai Budi 28,63 Widarto 0,05 Santoso Winata 0,05 Publik (dibawah 5% kepemilikan) 41,22 *Catatan: Per 31 Maret 2014 Kontak: Equity & Index Valuation Division Phone: (6221) 7278 2380 info-equityindexvaluation@pefindo.co.id PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) yang merupakan salah satu pelopor industri agribisnis di Indonesia, didirikan pada tahun 1973. Bisnis TBLA meliputi perkebunan kelapa sawit dan pembuatan produk turunannya, penghasil tebu dan gula rafinasi, serta perkebunan nanas. Saat ini, TBLA memiliki 81.793 hektar ( ha ) area perkebunan, yang digunakan untuk kelapa sawit, tebu, dan nanas. Hampir seluruh area perkebunan TBLA berlokasi di Provinsi Lampung, sementara sisanya berlokasi di Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat. TBLA memasarkan produknya ke luar negeri dan domestik. Khusus untuk pasar domestik, TBLA memasarkan minyak goreng dengan merek Rose Brand. Terkait dengan ekspansi di bisnis kelapa sawit, TBLA telah membangun pabrik pengolahan Crude Palm Oil ( CPO ) di Banyuasin, Sumatera Selatan telah beroperasi sejak 1Q2013, menambah area tertanam di Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat, dan menyelesaikan pembangunan pelabuhan baru. Sejak tahun 2013, TBLA melebarkan bisnisnya ke industri gula dan membangun pabrik gula rafinasi di Way Lunik, dan perkebunan tebu pada area seluas 1,72 ha di Terbanggi dan Mirarantih, Provinsi Lampung. Sejak Juni 2013, pabrik gula rafinasi TBLA telah mulai beroperasi dan telah menghasilkan pendapatan bagi TBLA di tahun 2013. Berdasarkan ini semua, kami percaya TBLA memiliki masa depan yang manis. 23 Juni 2014 Halaman ke 1 dari 17 halaman

PARAMETER INVESTASI Diuntungkan dengan Pengalaman di Produk Turunan CPO Terkait dengan bisnis kelapa sawitnya, kami melihat bahwa TBLA adalah perusahaan kelas menengah yang tidak hanya beropeasi di hulu, tetapi juga di hilir. Bisnis hilir TBLA antara lain menghasilkan turunan CPO, seperti olein, stearine, palm fatty acid, dll, dan TBLA memiliki pengalaman yang panjang di bisnis tersebut. Kami melihat bahwa memiliki bisnis hilir akan menguntungkan TBLA, karena saat ini Pemerintah telah memberlakukan pajak yang cukup tinggi untuk ekspor CPO, sehingga membuat transaksi turunan CPO lebih menguntungkan. Melihat kontributor pendapatan TBLA saat ini, porsi produk turunan CPO telah melampaui kontribusi pendapatan dari CPO. Angin Segar dari Industri CPO Kami melihat bahwa permintaan global CPO dalam jangka panjang akan semakin positif. Tingkat penetrasi CPO yang rendah saat ini di Tiongkok, India dan Indonesia sebagai pasar utama dari CPO, mengindikasikan kebutuhan akan minyak dan mentega di pasar ini di masa datang tetap signifikan. Selain itu, kami melihat bahwa harga CPO akan rebound menjadi RM2.660/ton di akhir tahun 2014, dari harga saat ini RM2.649/ton. Di dalam negeri, program Pemerintah untuk meningkatkan kandungan minyak nabati pada bahan bakar biodiesel menjadi 10% akan meningkatkan industri CPO, karena akan membuka pasar baru bagi produksen CPO seperti TBLA. Terus Berekspansi, dengan Fokus Bisnis Gula Di tahun 2013, TBLA mengembangkan bisnisnya dengan menyelesaikan pembangunan beberapa infrastruktur. Pabrik CPO baru di Banyuasin - Sumatera Selatan dengan kapasitas 45 ton/jam telah selesai pada Januari 2013, dan akan meningkatkan total kapasitas hingga mencapai 1.480.000 ton/tahun. Pelabuhan laut yang baru untuk mempercepat proses distribusi, berlokasi di Way Lunik, Lampung, juga telah selesai. Ekspansi ini akan mengatasi masalah kapasitas yang sebelumnya terjadi dan memberikan pendapatan lainnya untuk TBLA. Namun, kami melihat bahwa ke depan, TBLA akan fokus untuk memperluas bisnis gula. Hal ini ditunjukkan oleh banyaknya investasi yang ditempatkan dalam bisnis ini, atau mencapai Rp1,28 triliun selama tahun 2014-2015. Kami percaya bahwa strategi tersebut adalah tepat karena waktu budidaya tebu yang lebih pendek dari kelapa sawit, dan juga memiliki marjin yang lebih tinggi. Prospek Usaha Permintaan CPO akan terus meningkat di masa depan. Populasi yang besar, konsumsi per kapita rendah di beberapa pasar utama, yakni India, Cina dan Indonesia, tumbuh dengan stabilnya populasi masyarakat muda, serta meningkatnya pendapatan per kapita adalah variabel kunci dalam mendorong konsumsi CPO dan turunannya. Regulasi positif mengenai program biodiesel, menghembuskan hal yang positif bagi Industri CPO Indonesia. Ditambah dengan harga CPO yang positif di masa depan, dan TBLA yang terus berekspansi menyebabkan masa depannya tampak manis. Akibatnya, kami berharap bahwa penjualan TBLA akan tumbuh pada CAGR sebesar 17,4% selama periode 2013-2018. Tabel 1: Ringkasan Kinerja 2011 2012 2013 2014P 2015P Pendapatan [Rp miliar] 3.732 3.806 3.705 4.828 6.050 Laba Sebelum Pajak [Rp miliar] 540 311 119 611 702 Laba Bersih [Rp miliar] 419 242 84 454 522 EPS [Rp] 84,8 48,9 17,1 91,9 105,6 Pertumbuhan EPS [%] 69,9 (42,3) (65,1) 438,3 14,9 P/E [x] 7,0 10,0 27,5 6,7* 4,6* PBV [x] 1,8 1,4 1,3 1,4* 1,0* Sumber: Tunas Baru Lampung Tbk. Estimasi PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing *) Berdasarkan harga saham tanggal 20 Juni 2014, Rp620 /saham 23 Juni 2014 Halaman ke 2 dari 17 halaman

INFORMASI BISNIS Profil Usaha Sejarah PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) dimulai tahun 1973 ketika pertama kali didirikan. Pada saat itu, TBLA adalah salah satu perusahaan pelopor dalam industri perkebunan Indonesia. Dari hanya aktif pada bisnis kelapa sawit, bisnis TBLA sekarang terdiri dari perkebunan dan penghasil produk derivatif terkait kelapa sawit, tebu, dan nanas. Pada Desember 2013, TBLA memiliki total lahan 81.793 ha, 58.510 ha diantaranya sudah ditanami. Dari total lahan tersebut, sekitar 94% ditanam untuk tanaman kelapa sawit, dan sisanya untuk nanas dan tanaman tebu. Sebagian besar areal perkebunan TBLA berlokasi di Lampung, Sumatera Selatan (area Waylunik), dan Pontianak (Kalimantan Barat). TBLA memiliki beberapa anak perusahaan, yaitu: PT Bumi Sentosa Abadi ( BSA ) mengelola area perkebunan di Lampung. PT Bangun Nusa Indah Lampung ( BNIL ) mengelola area perkebunan di Lampung. PT Budi Dwiyasa Perkasa ( BDP ) mengelola area perkebunan di Lampung. PT Budi Nusa Cipta Wahana ( BNCW ) mengelola area perkebunan di Lampung. PT Adi Karya Gemilang ( AKG ) mengelola area perkebunan di Lampung. PT Bangun Tatalampung Asri ( BTLA ) mengelola area perkebunan di Lampung. PT Bumi Perkasa Gemilang ( BPG ) mengelola area perkebunan di Kalimantan Barat. PT Solusi Jaya Perkasa ( SJP ) berlokasi di Kalimantan Barat. Tabel 2: Profil Area Perkebunan TBLA per Desember 2013 Tanaman Tanaman Belum Perusahaan Lokasi Area Area Tertanam Menghasilkan Menghasilkan (Ha) (Ha) (Ha) (Ha) Tanaman TBLA Lampung 3,805 3,383 3,370 13 Kelapa sawit TBLA Lampung 1,678 380-380 Tebu TBLA Palembang 8,000 7,484 5,588 1,896 Kelapa sawit TBLA Palembang 5,000 2,121-2,121 Kelapa sawit TBLA - Plasma Sumatera Selatan 2,800 2,617-2,617 Kelapa sawit BSA Lampung 970 903 903 - Kelapa sawit BNIL Lampung 6,475 5,922 5,922 - Kelapa sawit BNIL - Plasma Lampung 9,868 9,868 9,868 - Kelapa sawit BDP Lampung 7,958 7,284 6,971 313 Kelapa sawit BNCW Lampung 4,001 3,194 1,805 1,389 Kelapa sawit AKG Lampung 2,536 300 87 213 Nanas AKG Lampung 2,360 1,356 1,183 173 Tebu AKG Lampung 2,972 1,584 1,366 218 Kelapa sawit BTLA Lampung 9,870 8,079 5,393 2,686 Kelapa sawit BPG Pontianak 12,000 4,035 1,498 2,537 Kelapa sawit SJP Pontianak 1,500 - - - Kelapa sawit Total Area 81,793 58,510 43,954 14,556 Dari hanya satu pabrik minyak kelapa sawit ("CPO") di tahun 1995, TBLA sekarang memiliki empat pabrik CPO dengan total kapasitas 1.480.000 ton per tahun. Pembangunan pabrik CPO yang terakhir, berlokasi di Banyuasin - Sumatera Selatan, baru saja selesai pada Januari 2013. CPO diolah menjadi produk bernilai tambah melalui kilang, sementara Palm Kernel ("PK") diproses lebih lanjut menjadi palm kernel oil (PKO) melalui mesin pemecah cangkang (kernel) dari inti dengan kapasitas produksi 250.000 ton/tahun. Selain itu, TBLA juga memperluas bisnisnya sebagai penghasil gula halus melalui anak perusahaannya PT Adi Karya Gemilang ("AKG"). TBLA juga memasarkan minyak goreng sawit ke dalam negeri dengan merek dagang "Rose Brand". 23 Juni 2014 Halaman ke 3 dari 17 halaman

Gambar 1: Rincian Kontribusi Pendapatan TBLA per Produk 6% 3% 2% 2%1% 29% Olein CPO 12% PKO Stearine Palm Expeller Palm Fatty Acid Sugar Cane 17% Soap 28% Sugar Gambaran Ekonomi Dunia: Terus Membaik IMF memandang bahwa pertumbuhan global diperkirakan akan pulih menjadi 3,6% pada tahun 2014 yang dipimpin oleh menguatnya ekonomi AS didorong oleh kebijakan moneter yang akomodatif. Ekonomi AS mengakhiri tahun 2013 dengan landasan yang kuat, karena pertumbuhan ekonomi yang dipercepat menjadi 4,1% QoQ tahunan pada 3Q13, tertinggi dalam enam kuartal terakhir. Selain itu, tingkat pengangguran menurun dengan cepat, menjadi 7% di Nov13, terendah dalam lima tahun terakhir dan semakin dekat dengan yang ditargetkan oleh Fed yaitu 6,5%. Sektor industri menopang pertumbuhan yang lebih cepat, dengan ISM manufaktur naik ke level tertinggi dalam 31 bulan terakhir, yaitu 57,3 di Nov'13. Terakhir, sektor properti sudah mulai semakin membaik dengan harga rumah dan penjualan rumah baru terus naik. Tiongkok terus berusaha melakukan soft landing. Berbeda dengan AS, pertumbuhan Tiongkok melambat menjadi 7,8% di 3Q13, meskipun lebih tinggi dari 2Q13 7,5% namun angka itu jauh dari pertumbuhan dua digit yang sering dicapai pada periode pra-2010. Pemerintah saat ini sedang bekerja sesuai agenda reformasi jangka panjang dengan gagasan utama pembukaan ekonomi Tiongkok menjadi lebih terdesentralisasi. Tabel 3: Pertumbuhan Ekonomi Internasional Pertumbuhan Dunia Realisasi Ekspektasi 2010 2011 2012 2013F 2014F Dunia 5,1% 3,9% 3,2% 2,9% 3,6% Negara Maju 3,0% 1,7% 1,5% 1,2% 2,0% Amerika Serikat 2,4% 1,8% 2,8% 1,6% 2,6% Kawasan Eropa 2,0% 1,5% 0,6% 0,4% 1,0% Jepang 4,5% -0,6% 2,0% 2,0% 1,2% Inggris 1,8% 1,1% 0,2% 1,4% 1,9% Negara Berkembang 7,4% 6,2% 4,9% 4,5% 5,1% Rusia 4,3% 4,3% 3,4% 1,5% 3,0% Cina 10,4% 9,3% 7,7% 7,6% 7,3% India 10,8% 6,3% 3,2% 3,8% 5,1% Brazil 7,5% 2,7% 0,9% 2,5% 2,5% ASEAN-5 7,0% 4,5% 6,1% 5,0% 5,4% Indonesia 6,2% 6,5% 6,2% 5,3% 5,5% Sumber: IMF, PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing 23 Juni 2014 Halaman ke 4 dari 17 halaman

Ekonomi Indonesia 2014: Tahun Stabilisasi Indonesia akan mengadakan pemilihan umum tahun ini untuk memilih presiden baru (presiden saat ini telah menjabat selama dua periode) dan anggota legislatif. Pemilihan umum tersebut akan dimulai pada 9 April 2014, dan pemilihan presiden yang dijadwalkan pada bulan Juli 2014. Kami melihat bahwa pengeluaran terkait kegiatan tersebut akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,2 ppt. Pola historis selama tahun 2004 dan pemilu 2009 menunjukkan bahwa konsumsi swasta cenderung meningkat satu kuartal sebelum dimulainya pemilu parlemen. Gambar 2: Private Consumption Sumber: PEFINDO Divisi Riset, PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing Inflasi kemungkinan akan kembali normal pada tahun 2014, disebabkan oleh meredanya dampak dari kenaikan harga BBM bersubsidi pada pertengahan 2014. Namun demikian, di sisi lain, depresiasi Rupiah, kenaikan harga LPG, dan kenaikan tarif listrik akan menambah inflasi yang lebih tinggi. Kami memperkirakan inflasi akan mencapai batas atas target inflasi BI 4,5% - 5,5% pada tahun 2014, lebih rendah dibandingkan tahun lalu sebesar 8,4% Kami percaya bahwa kebijakan yang diambil oleh Pemerintah dan bank sentral akan membantu untuk menekan permintaan impor khususnya non-minyak dan gas. Analisis sensitivitas kami menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1% BI Rate akan menurunkan impor sebesar 1,5% YoY. Pelemahan mata uang juga memiliki dampak negatif pada impor. Ini akan menurunkan defisit transaksi berjalan sekitar USD10 miliar, yang diperlukan untuk membawa rasio defisit terhadap PDB turun menjadi 2,5% dari 3,6%. Jadi, kami melihat BI rate kemungkinan akan dipertahankan pada 7,5% dengan penguatan Rupiah menjadi sekitar Rp11.300/USD di tahun 2014. Tabel 4: Ringkasan Proyeksi Makroekonomi Indikator Makroekonomi 2012 2013P 2014P Real GDP (% yoy) IDR/USD (avg) IDR/USD (eop) BI Rate (%avg) BI Rate (% eop) CPI Inflation (% yoy, avg) CPI Inflation (% yoy, eop) 6,2 9.384 9.622 5,8 5,8 4,3 4,3 5,8 10.452 12.189 6,5 7,5 7,0 8,4 5,7 11.745 11.300 7,5 7,5 6,3 5,0 Sumber: PEFINDO Divisi Riset, PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing Permintaan Kelapa Sawit Dunia Diperkirakan Tetap Tinggi Dalam Jangka Panjang Permintaan minyak kelapa sawit diperkirakan akan tetap tinggi dalam jangka panjang, seperti yang ditunjukkan oleh konsumsi per kapita yang rendah, terutama di beberapa pasar utama dunia. Selain dari populasi yang besar, konsumsi minyak kelapa sawit per kapita di India, Indonesia, Tiongkok dan Uni Eropa juga masih rendah. Aliran urbanisasi yang kuat, jumlah populasi muda yang terus berkembang, serta peningkatan pendapatan per kapita adalah variabel kunci dalam mendorong konsumsi produk CPO dan turunannya. Kecenderungan pertumbuhan konsumsi minyak kelapa sawit di Tiongkok, India dan Indonesia merupakan yang terkuat selama beberapa tahun terakhir, berkat dukungan demografis dan konsumsi per kapita yang rendah. 23 Juni 2014 Halaman ke 5 dari 17 halaman

Tingkat penetrasi yang rendah saat ini menunjukkan bahwa kebutuhan untuk minyak dan lemak di pasar-pasar tetap signifikan, sehingga memungkinkan ruang untuk permintaan berkelanjutan di negara-negara tersebut di masa depan. Dengan keunggulan dibandingkan dengan produk pengganti lainnya, minyak sawit memiliki kesempatan untuk mencapai porsi yang lebih besar di pasar-pasar tersebut. Gambar 3: Konsumsi Domestik Gambar 4: Konsumsi Minyak dan Lemak Per Kapita di Pasar-Pasar Penting, 2012 Sumber: Oil World, PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing Sumber: Oil World, PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing Katalis Positif di Dalam Negeri: Program Biodiesel Baru-baru ini, Pemerintah Indonesia meluncurkan program untuk meningkatkan kandungan minyak nabati dalam bahan bakar biodiesel sampai 10%. Dengan program ini, semua bahan bakar biodiesel di Indonesia harus mengandung minyak nabati, yang berasal dari CPO. Konsumsi biodiesel ditargetkan mencapai 4 juta kilo liter ("kl") pada tahun 2014, meningkat dari 1,07 juta kl pada 2013 dan 669.000 kl pada tahun 2012. Selama 1Q14, sekitar 350.000 kl CPO telah diserap dan sudah menghemat sekitar USD237 juta devisa bagi Indonesia, dari target USD4 miliar penghematan. Persentase kandungan tersebut akan meningkat menjadi 20% pada awal 2016. Gambar 5: Penggunaan CPO Untuk Biodiesel di Dalam Negeri Sumber: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing Merasakan Efek Kenaikan Pajak Ekspor CPO Kami melihat bahwa besaran pajak ekspor untuk produk minyak sawit yang baru ditetapkan oleh Pemerintah adalah salah satu faktor yang merubah jumlah pengiriman produk ke luar negeri. Jumlah minyak sawit olahan, CPO olahan, serta olein, telah meningkat selama beberapa tahun terakhir, melebihi jumlah pengiriman CPO ke luar negeri. 23 Juni 2014 Halaman ke 6 dari 17 halaman

Gambar 6: Trend Ekspor Minyak Kelapa Sawit, 9M13 Sumber: Badan Pusat Statistik, PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing Hal ini juga mempengaruhi TBLA, dimana kontribusi penjualan dari CPO turun dari 38% di tahun 2012 menjadi hanya 28% pada tahun 2013. Bentuk cair olahan CPO, yang dikenal sebagai olein, menggantikan sebagai kontributor tertinggi bagi pendapatan TBLA pada periode 2013, dengan kontibusi sebesar 29%. Gambar 7: Kontribusi bagi Pendapatan TBLA per Produk Land Bank yang Cukup Untuk Area Penanaman Pada Tahun 2013, TBLA memiliki 81.793 ha areal perkebunan, dimana 58.510 (71,5%) telah ditanami. Hal ini menjadikan land bank yang tersisa untuk TBLA adalah 23.283 ha. Kami melihat bahwa land bank ini cukup bagi aktivitas penanaman TBLA selama sedikitnya 4 tahun. Hal ini didasarkan pada aktivitas penanaman tahun 2010-2013, dimana jumlah penanaman terbanyak terjadi pada tahun 2011, yaitu 4.777 ha. PADA Tahun 2014, TBLA Berencana untuk meningkatkan area tertanam sebesar 5.000 ha, terutama di wilayah Kalimantan Barat. Gambar 8: Jumlah Area Tertanam TBLA, 2010-2013 70,000 60,000 50,000 40,000 30,000 20,000 51,182 55,959 57,235 58,510 10,000 4,777 1,276 1,276-2010 2011 2012 2013 Jumlah area tertanam (ha) Peningkatan (ha) 23 Juni 2014 Halaman ke 7 dari 17 halaman

Harus Terus Menanam Berdasarkan laporan dari Oil Palm Research Center, tanaman kelapa sawit mulai menghasilkan pada tahun keempat. Setelah itu, produktivitas tanaman naik hingga mencapai puncaknya yaitu usia 9 sampai 15 tahun. Setelah periode itu, produktivitas menurun secara bertahap Melihat profil usia tanaman sawit TBLA, kami percaya bahwa TBLA harus terus menanam untuk mengamankan pertumbuhan perusahaan di masa depan. Dari 58.510 ha areal yang ditanami kelapa sawit, sekitar 47,22% telah melewati puncaknya produktivitas (> 15 tahun), sedangkan tanaman yang dalam fase produktivitas puncaknya hanya 12,76% (9 tahun - 15 tahun), dan sisanya masih dalam fase immature dan berkembang. Gambar 9: Profil Usia Tanaman Kelapa Sawit TBLA, Dec 13 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000-23.91% 6.86% 9.24% 6.82% 5.85% 38.04% 9.18% 0.09% 13,436 3,854 5,195 3,834 52 3,289 21,374 5,159 0-4 years 5-6 years 7-8 years 9-10 years 11-12 years 13-14 years 15-19 years >20 years 40.00% 35.00% 30.00% 25.00% 20.00% 15.00% 10.00% 5.00% 0.00% Hektar Prosentase Pabrik Pengolahan CPO Siap Beroperasi TBLA adalah satu-satunya perusahaan perkebunan berskala medium dengan bisnis yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Selain perkebunan kelapa sawit, pendapatan TBLA juga didorong oleh kegiatan manufaktur, seperti penghasil CPO, minyak goreng sawit, minyak inti sawit, stearin dan sabun. Pada 2013, TBLA telah menyelesaikan pabrik pembuatan CPO yang baru di Banyuasin, Sumatera Selatan, yang memiliki kapasitas 45 ton/jam atau sekitar 400.000 ton per tahun. Dengan selesainya pabrik CPO ke-4 ini, total kapasitas pabrik TBLA adalah 1.480.000 ton/tahun, dan akan memberikan pengaruh besar pada tahun 2014 Gambar 10: Pabrik Pembuatan CPO TBLA di Banyuasi Berekspansi, dengan Fokus pada Bisnis Gula Selain fokus pada membuat produk-produknya, TBLA juga fokus pada distribusi. Hal ini dibuktikan dengan aktivitas TBLA untuk memperbesar kapasitas dermaga 23 Juni 2014 Halaman ke 8 dari 17 halaman

lautnya yang terletak dekat lahan perkebunan di Way Lunik, Lampung. Dengan total belanja modal Rp50 miliar, Perseroan telah menyelesaikan pembangunan dermaga baru ini, dan mulai beroperasi sejak Januari 2013. Perluasan ini akan mengatasi masalah kapasitas pelabuhan yang sebelumnya terjadi dan memberikan pendapatan tambahan untuk TBLA. Kami percaya bahwa saat ini TBLA sangat fokus pada ekspansi di bisnis gula. Ini ditunjukkan dengan diselesaikannya pembangunan pabrik gula rafinasi baru pada bulan Juli 2013. Pada tahun 2013, bisnis gula rafinasi telah memberikan pendapatan Rp62,8 miliar. Ke depan, TBLA akan memperluas bisnis gula tersebut, seperti dibuktikan dengan tingginya porsi belanja modal untuk bisnis tersebut. Gambar 11: Pelabuhan Laut TBLA Gambar 12: Rencana Capex TBLA 600 570.5 570.5 500 400 300 344.3 324 200 100 106.1 115.0 108.2 80 70 50 50 50 50 170.9 0 2014F 2015F Pemeliharaan rutin (Rp, miliar) Pemeliharan kebun (Rp, miliar) Minyak goreng - SBY (Rp, miliar) Pabrik CPO Muko-muko (Rp, miliar) Pabrik biodiesel (Rp, miliar) Pabrik gula (Rp, miliar) Perkebunan tebu (Rp, miliar) Sumber: PT Tunas Baru Lampung Tbk, PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing Sumber: PT Tunas Baru Lampung Tbk, PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing Memiliki Jaringan Distribusi yang Luas di Dalam dan Luar Indonesia TBLA adalah anggota dari sebuah kelompok perusahaan pertanian terpadu yaitu Sungai Budi Group ("SBG") yang didirikan sejak tahun 1974. Saat ini, jaringan kelompok ini terdiri dari 21 kantor pemasaran di seluruh Indonesia, dengan didukung oleh lebih dari 48.000 outlet dan 1.000 kendaraan. TBLA memiliki kontrak jangka panjang dengan SBG, terutama BSP untuk mendistribusikan produk TBLA dengan tarif per kg yang tetap. TBLA memasarkan dan mendistribusikan produknya ke pasar ekspor dan pasar domestik. Untuk pasar ekspor, TBLA memiliki jumlah penjualan yang signifikan kepada Cargill International Trading Pte, Ltd, - Singapura dan Inter - Amerika Enterprise Pte. Ltd, - Singapura. Sedangkan untuk pasar domestik, TBLA memasarkan produk olahan di seluruh Indonesia bagi konsumen berpenghasilan menengah ke bawah di Indonesia. Gambar 13: Jaringan Distribusi TBLA di Indonesia 23 Juni 2014 Halaman ke 9 dari 17 halaman

KEUANGAN Penurunan Sementara dari Kinerja Untuk pertama kalinya sejak 2009, pendapatan TBLA pada tahun 2013 tidak lebih dari periode tahun sebelumnya. Pendapatan TBLA sedikit turun menjadi Rp3,7 triliun dari Rp3,8 triliun pada tahun 2012, atau turun sebesar 2,64% YoY. Ini disebabkan oleh jatuhnya harga jual rata-rata ("ASP") produk TBLA sebesar 14,7% YoY, walaupun volume penjualan beberapa produk TBLA, seperti palm kernel oil, dan stearin naik sebesar 25% YoY dan 29% YoY. Namun, pada akhir tahun 2014 kami melihat bahwa kecenderungan penurunan harga akan berubah, karena harga CPO diproyeksikan mencapai RM2.660/ton pada harga spot dari RM2.649/ton. Gambar 14: Proyeksi Harga CPO (RM/ton) 2,675 2,670 2,665 2,660 2,655 2,650 2,645 2,640 2,635 2,649 Spot price (24/4/2014) 2,673 2,668 2,660 2014 2015 2016 Proyeksi harga CPO (RM/ton) Sumber:Bloomberg, PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing Mengalami Peningkatan Biaya Karyawan, Namun Bukan yang Tertinggi Peningkatan upah merupakan salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh perusahaan perkebunan. Memberikan kontribusi sekitar 30% sampai 40% dari total biaya produksi menurut Nomura Research, kenaikan tersebut memaksa perkebunan merogoh kocek lebih dalam untuk membayar tenaga kerja. Kenaikan upah minimum pada tahun 2013 adalah yang tertinggi di lima tahun terakhir, meningkat sebesar 18,3% YoY, dibandingkan dengan kenaikan rata-rata historis selama lima tahun terakhir sebesar 10,1%. Di beberapa sentra produksi, terdapat peningkatan gaji dalam rentang yang sedang dan tinggi. Tertinggi terjadi di Kalimantan dan Bengkulu Timur, masing-masing sebesar 48,9% dan 29,0%. Karena hampir sebagian besar perkebunan TBLA terletak di di Lampung, TBLA tidak mengalami peningkatan tajam dari biaya upah. Meskipun, karena sudah beroperasinya pabrik gula rafinasi yang baru pada tahun 2013, TBLA juga mengalami kenaikan biaya upah. Gambar 15: Upah Minimum di Daerah Penghasil CPO Gambar 16: Biaya Karyawan TBLA Sumber: Badan Pusat Statistik, PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing 154,000 152,000 150,000 148,000 146,000 144,000 142,000 140,000 138,000 136,000 141,758 152,751 2012 2013 Total biaya karyawan (Rp, miliar) Sumber: PT Tunas Baru Lampung Tbk, PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing 23 Juni 2014 Halaman ke 10 dari 17 halaman

Kerugian Selisih Kurs Mata Uang Asing yang Relatif Rendah Bank sentral yang terus menaikkan suku bunga, hingga mencapai 7,5% pada tanggal 12 November 2013, naik 175 bps dari akhir 2012, mengakibatkan beban bunga turut meningkat. Pada saat yang sama, sejumlah perusahaan juga terbebani dengan depresiasi Rupiah, sehingga membuat pinjaman dalam mata uang asing membengkak. Pada tahun 2013, kerugian selisih kurs mata uang asing TBLA naik hingga mencapai Rp249,9 miliar, dari hanya Rp91,4 miliar pada tahun 2012. Gambar 17: Kerugian Selisih Kurs Mata Uang Asing, 2013 1,200.00 1,101.4 1,000.00 800.00 600.00 400.00 200.00-443.8 483.6 249.90 292.3 86.7 12.4 TBLA JAWA GZCO UNSP ASII PALM SMAR Kerugian selisih kurs mata uang asing (Rp, miliar) Sumber:Berbagai sumber, PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing Konsisiten Membayar Deviden Walaupun Saat Kondisi Kurang Baik Sejak tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2000, TBLA secara konsisten membayarkan deviden kepada pemegang sahamnya. Pada tahun 2013, TBLA telah mendistribusikan sekitar Rp34,6 miliar dividen interim kepada para pemegang saham. TBLA membayar Rp7/saham deviden tunai atau mewakili 2% dividend yield dari rata-rata harga saham. Konsistensi pembayaran deviden ditengah tren penurunan harga beberapa produknya, merupakan pertanda baik bagi investor jangka panjang, karena mereka menyadari bahwa TBLA akan terus membayar dividen, walaupun kondisi saat ini kurang menguntungkan. Tabel 5: Sejarah Pembagian Deviden TBLA Tahun Deviden (Rp juta) Deviden/saham (Rp/saham) Rata-rata harga saham (Rp) Dividend Yield (%) 2007 29.161 7,00 265 3% 2008 72.088 17,36 264 7% 2009 41.111 10,00 327 3% 2010 73.864 15,70 400 4% 2011 126.807 26,50 500 5% 2012 73.130 14,82 495 3% Interim 2013 34.552 7,00 450 2% 23 Juni 2014 Halaman ke 11 dari 17 halaman

ANALISA SWOT Tabel 6: Analisa SWOT Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weakness) Anggota dari Grup Sungai Budi, Perusahaan agribisnis terintegrasi di Indonesia, dengan pengalaman lebih dari 30 tahun. Masuk ke bisnis gula rafinasi. Pengalaman panjang di perkebunan kelapa sawit dan pembuatan minyak goreng. Peningkatan kapasitas pelabuhan, yang berlokasi di dekat area perkebunan. Terintegrasi vertikal pada bisnis kelapa sawit dan gula. Telah lama menjadi supplier bagi salah satu pengolah nanas terbesar di Indonesia. Ketergantungan yang tinggi kepada beberapa pembeli dapat mengurangi daya tawar atas harga. Prosentase yang cukup tinggi (23,91%) tanaman belum menghasilkan (usia < 4 tahun), dan tanaman tua (usia > 20 tahun, 9,2%). Efisiensi biaya dibutuhkan. Peluang (Opportunities) Ancaman (Threats) Peningkatan permintaan sebagai akibat peningkatan penggunaan CPO untuk bahan bakar. Tingginya permintaan gula rafinasi nasional. Fluktuasi harga CPO akan mempengaruhi fluktuasi pendapatan. Larangan dari wilayah Eropa untuk menggunakan produk CPO Indonesia, dapat menghambat pertumbuhan industri. Biaya akuisisi lahan yang mahal sebagai akibat dari moratorium. Perubahan cuaca yang ekstrim, seperti El Nino, dapat berakibat terhadap produktivitas. 23 Juni 2014 Halaman ke 12 dari 17 halaman

PERBANDINGAN INDUSTRI Tabel 7: Kinerja TBLA Dibandingkan Dengan Kompetitor 31 Desember 2013 TBLA JAWA BWPT GZCO Pendapatan (Rp, miliar) 3.705 649 1.144 428 Laba kotor (Rp, miliar) 950 220 541 87 Laba sebelum pajak (Rp, miliar) 119 111 255 (89) Laba bersih (Rp, miliar) 84 70 182 (92) Total Aset (Rp, miliar) 6.212 2.659 6.200 3.201 Total Liabilitas (Rp, miliar) 4.414 1.385 4.016 1.698 Total Ekuitas (Rp, miliar) 1.798 1.274 2.185 1.503 Pertumbuhan (% YoY) Pendapatan (%) (2,6%) (4,9%) 21,2% 5,5% Laba kotor (%) (7,6%) (12,7%) (5,2%) (44,4%) EBT (%) (61,7%) (44,1%) (27,5%) (176,9%) Laba bersih (%) (65,1%) (54,4%) (30,7%) (194,9%) Profitabilitas Laba kotor(%) 25,6% 34,0% 47,3% 20,5% Marjin EBT (%) 3,2% 17,1% 22,3% (20,7%) Laba bersih (%) 2,3% 10,8% 15,9% (21,5%) ROA (%) 1,4% 2,6% 2,9% (2,9%) ROE (%) 4,7% 5,5% 8,3% (6,1%) Leverage (1Q2012) DER (x) 2,46 1,09 1,84 1,13 Sumber: Bloomberg. PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing 23 Juni 2014 Halaman ke 13 dari 17 halaman

TARGET HARGA PENILAIAN Metodologi Penilaian Kami mengaplikasikan metode Discounted Cash Flow (DCF) sebagai metode penilaian utama dengan pertimbangan bahwa pertumbuhan pendapatan adalah merupakan faktor yang sangat mempengaruhi nilai (value driver) jika dibandingkan dengan pertumbuhan aset Selanjutnya, kami juga mengaplikasikan metode Guideline Company Method (GCM) sebagai metode pembanding lainnya. Penilaian ini didasarkan pada Nilai 100% saham per tanggal 20 Juni 2014, menggunakan laporan keuangan TBLA per tanggal 31 Maret 2014 sebagai dasar dilakukannya analisa fundamental. Estimasi Nilai Kami menggunakan Cost of Capital sebesar 9,56% dan Cost of Equity sebesar 11,16% berdasarkan asumsi-asumsi berikut: Tabel 8: Asumsi Risk free rate [%]* 8,15 Risk premium [%]* 3,48 Beta [x]** 0,86 Cost of Equity [%] 11,16 Marginal tax rate [%] 25,0 Debt to Equity Ratio 1,72 WACC [%] 9,56 Sumber: Bloomberg, Estimasi PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing Catatan: * Per tanggal 20 Juni 2014 ** Berdasarkan laporan PEFINDO Beta Saham tanggal 19 Juni 2014 Target harga saham untuk 12 bulan berdasarkan posisi penilaian pada tanggal 20 Juni 2014 adalah sebagai berikut: Dengan menggunakan metode DCF dan asumsi tingkat diskonto 9,56% adalah sebesar Rp938 Rp1.095 per saham. Dengan menggunakan metode GCM (PBV 1,8X and P/E 21,4X) adalah Rp571 Rp683 per saham. Untuk mendapatkan nilai yang mewakili kedua indikasi nilai tersebut dilakukan rekonsiliasi dengan dilakukan pembobotan terhadap kedua metode tersebut sebesar 70% untuk DCF dan 30% untuk metode GCM. Berdasarkan perhitungan di atas, maka Target Harga Saham TBLA untuk 12 bulan adalah Rp830 Rp970 per saham. Tabel 9: Ringkasan Penilaian Metode DCF Konservatif Moderat Agresif PV of Free Cash Flows [Rp miliar] 935 984 1.033 PV Terminal Value [Rp miliar] 6.429 6.768 7.106 Non-Operating Assets [Rp miliar] 264 264 264 Net Debt [Rp miliar] (2.992) (2.992) (2.992) Total Equity Value [Rp miliar] 4.636 5.024 5.411 Number of Share [juta saham] 4.942 4.942 4.942 Fair Value per Share [Rp] 938 1.017 1.095 Sumber: Estimasi PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing 23 Juni 2014 Halaman ke 14 dari 17 halaman

Tabel 10: Perbandingan GCM TBLA JAWA BWPT Rata-rata Penilaian, 20 Juni 2014 P/E, (x) 21,9 19,1 23,3 21,4 PBV, (x) 1,7 1,1 2,5 1,8 Sumber: Bloomberg, PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing Tabel 11: Ringkasan Penilaian Metode GCM Multiples (x) Est. EPS (Rp) Est. BV/Share (Rp) Nilai P/E, (x) 21,4 27-571 PBV, (x) 1,8-391 683 Sumber: Bloomberg, Estimasi PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing Tabel 12: Rekonsiliasi Nilai Wajar Nilai Wajar per Saham (Rp) DCF GCM Rata-rata Batas atas 1.095 683 970 Batas bawah 938 571 830 Bobot 70% 30% Sumber: Estimasi PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing 23 Juni 2014 Halaman ke 15 dari 17 halaman

Tabel 13: Laporan Laba Rugi Konsolidasian (Rp miliar) Laba Rugi 2011 2012 2013 2014P 2015P Penjualan 3.732 3.806 3.705 4.828 6.050 Harga Pokok Penjualan (2.489) (2.778) (2.756) (3.280) (4.174) Laba Kotor 1.243 1.028 950 1.549 1.876 Beban Operasi (703) (717) (831) (937) (1.174) Laba Sebelum Pajak 540 311 119 611 702 Pajak (119) (67) (33) (153) (176) Laba Bersih 419 242 84 454 522 Sumber: PT Tunas Baru Lampung Tbk, Estimasi PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing Tabel 14: Neraca Aset Aset Lancar (Rp miliar) Neraca 2011 2012 2013 2014P 2015P Kas dan Setara Kas 555 559 658 317 315 Piutang Usaha 233 385 416 899 1.126 Persediaan 489 649 795 632 856 Aset Lancar Lainnya 606 724 673 646 821 Total Aset Lancar 1.883 2.318 2.543 2.494 3.118 Tanaman 934 1.042 1.195 1.422 1.639 Aset Tetap 1.393 1.750 2.321 2.634 2.855 Aset Lainnya 35 87 153 31 36 Total Aset 4.245 5.198 6.212 6.580 7.647 Liabilitas Hutang Usaha 190 250 183 346 441 Pinjaman Jk. Pendek 1.106 1.111 2.010 1.906 1.865 Kewajiban Jk. Pendek Lainnya 70 99 77 112 130 Pinjaman Jk. Panjang 1.089 1.804 1.961 1.907 2.506 Pinjaman Jk. Panjang 182 174 184 189 215 Lainnya Total Liabilitas 2.637 3.438 4.414 4.460 5.156 Total Ekuitas 1.607 1.759 1.798 2.120 2.492 Sumber: PT Tunas Baru Lampung Tbk, Estimasi PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing Gambar 18: Return on Assets, Return on Equity dan Total Asset Turnover ROA & ROE 30 25 20 15 10 5 0 2011 2012 2013 ROA (%) ROE (%) Asset Turnover (x) Sumber: PT Tunas Baru Lampung Tbk. PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing Gambar 19: P/E dan P/BV P/E 30.0 28.0 26.0 24.0 22.0 20.0 18.0 16.0 14.0 12.0 10.0 8.0 6.0 4.0 2.0 0.0 2011 2012 2013 P/E (x) P/BV (x) Tabel 15: Rasio Kunci Turnover 1.0 0.9 0.8 0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0.0 P/BV 2.0 Rasio 2011 2012 2013 2014P 2015P Pertumbuhan [%] Pendapatan 26,5 2,0 (2,6) 30,3 25,3 Laba sebelum pajak 66,5 (42,4) (61,7) 413,3 14,9 Laba bersih 69,9 (42,3) (65,1) 438,3 14,9 1.8 1.6 1.4 1.2 1.0 Profitabilitas [%] Marjin laba kotor 33,3 27,0 25,6 32,1 31,0 Marjin laba sebelum pajak 14,5 8,2 3,2 12,7 11,6 Marjin laba bersih 11,2 6,3 2,3 9,4 8,6 ROA 9,9 4,6 1,4 6,9 6,8 ROE 26,1 13,7 4,7 21,4 20,9 Solvabilitas [X] Debt to Equity 1,6 2,0 2,5 2,1 2,1 Interest Bearing Debt to Equity 0,9 1,2 1,7 1,4 1,4 Debt to Asset 0,6 0,7 0,7 0,7 0,7 Likuditas [X] Current Ratio 1,4 1,6 1,1 1,1 1,3 Quick Ratio 0,6 0,7 0,5 0,5 0,6 Sumber: PT Tunas Baru Lampung Tbk. Estimasi PEFINDO Divisi Valuasi Saham & Indexing 23 Juni 2014 Halaman ke 16 dari 17 halaman

DISCLAIMER Laporan ini dibuat berdasarkan sumber-sumber yang kami anggap terpercaya dan dapat diandalkan. Namun kami tidak menjamin kelengkapan, keakuratan atau kecukupannya. Dengan demikian kami tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang diambil berdasarkan laporan ini. Adapun asumsi, opini, dan perkiraan merupakan hasil dari pertimbangan internal kami per tanggal penilaian (cut off date), dan kami dapat mengubah pertimbangan diatas sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Kami tidak bertanggung jawab atas kekeliruan atau kelalaian yang terjadi akibat penggunaan laporan ini. Kinerja dimasa lalu tidak selalu dapat dijadikan acuan hasil masa depan. Laporan ini bukan merupakan rekomendasi penawaran, pembelian atau menahan suatu saham tertentu. Laporan ini mungkin tidak sesuai untuk beberapa investor. Seluruh opini dalam laporan ini telah disampaikan dengan itikad baik, namun sewaktu-waktu dapat berubah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, dan disajikan dengan benar per tanggal diterbitkan laporan ini. Harga, nilai, atau pendapatan dari setiap saham Perseroan yang disajikan dalam laporan ini kemungkinan dapat lebih rendah dari harapan pemodal, dan pemodal juga mungkin mendapatkan pengembalian yang lebih rendah dari nilai investasi yang ditanamkan. Investasi didefinisikan sebagai pendapatan yang kemungkinan besar diterima dimasa depan, namun nilai dari pendapatan yang akan diterima tersebut kemungkinan besar juga akan berfluktuasi. Untuk saham Perseroan yang penyajian laporan keuangannya didenominasi dalam mata uang selain Rupiah, perubahan nilai tukar mata uang tersebut kemungkinan dapat menurunkan nilai, harga, atau pendapatan investasi pemodal. Informasi dalam laporan ini bukan merupakan pertimbangan pajak dalam mengambil suatu keputusan investasi. Target harga saham dalam Laporan ini merupakan nilai fundamental, bukan merupakan Nilai Pasar Wajar, dan bukan merupakan harga acuan transaksi yang diwajibkan oleh peraturan perundang - undangan yang berlaku. Laporan target harga saham yang diterbitkan oleh Pefindo Divisi Valuasi Saham & Indexing bukan merupakan rekomendasi untuk membeli, menjual, atau menahan suatu saham tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai nasehat investasi oleh Pefindo Divisi Valuasi Saham & Indexing yang behubungan dengan cakupan Jasa Pefindo Divisi Valuasi Saham & Indexing kepada, atau kaitannya kepada, beberapa pihak, termasuk emiten, penasehat keuangan, pialang saham, investment banks, institusi keuangan dan perantara keuangan, dalam kaitannya menerima imbalan atau keuntungan lainnya dari pihak tersebut. Laporan ini tidak ditujukan untuk pemodal tertentu dan tidak dapat dijadikan bagian dari tujuan investasi terhadap suatu saham dan juga bukan merupakan rekomendasi investasi terhadap suatu saham tertentu atau suatu strategi investasi. Sebelum melakukan tindakan dari hasil laporan ini, pemodal disarankan untuk mempertimbangkan terlebih dahulu kesesuaian situasi dan kondisi dan, jika dibutuhkan, mintalah bantuan penasehat keuangan. PEFINDO memisahkan kegiatan Valuasi Saham dengan kegiatan Pemeringkatan untuk menjaga independensi dan objektivitas dari proses dan produk kegiatan analitis. PEFINDO telah menetapkan kebijakan dan prosedur untuk menjaga kerahasiaan informasi non-publik tertentu yang diterima sehubungan dengan proses analitis. Keseluruhan proses, metodologi dan database yang digunakan dalam penyusunan Laporan Target Harga Referensi Saham ini secara keseluruhan adalah berbeda dengan proses, metodologi dan database yang digunakan PEFINDO dalam melakukan pemeringkatan. Laporan ini dibuat dan disiapkan Pefindo Divisi Valuasi Saham dan Indexing dengan tujuan untuk meningkatkan transparansi harga saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Laporan ini juga bebas dari pengaruh tekanan atau paksaan dari Bursa maupun Perseroan yang dinilai. Pefindo Divisi Valuasi Saham dan Indexing akan menerima imbalan sebesar Rp 20 juta dari Bursa Efek Indonesia dan Perseroan yang dinilai untuk 2 (dua) kali pelaporan per tahun. Keterangan lebih lanjut, dapat mengunjungi website kami di http:// Laporan ini dibuat dan disiapkan oleh Pefindo Divisi Valuasi Saham dan Indexing. Di Indonesia Laporan ini dipublikasikan pada website kami dan juga pada website Bursa Efek Indonesia. 23 Juni 2014 Halaman ke 17 dari 17 halaman