JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

dokumen-dokumen yang mirip
PENGARUH INTENSITAS CAHAYA YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN Navicula sp SKALA LABORATORIUM

PERTUMBUHAN FITOPLANKTON Tetraselmis sp DI WADAH TERKONTROL DENGAN PERLAKUAN CAHAYA LAMPU TL

JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

The Growth of Chlorella spp Culturing with Some Density of Inoculum. Lady Diana Tetelepta

I. PENDAHULUAN. Usaha pengembangan budidaya perairan tidak dapat lepas dari pembenihan jenisjenis

PRODUKSI BIOMASSA Spirulina sp. DENGAN VARIASI KONSENTRASI CO2 DAN FOTOPERIODE. Okta Nugraha 1) dan Elida Purba 1)

Kata Kunci: Pengaruh, Konsentrasi, Kepadatan Populasi, Pupuk Media Diatom, Pupuk KW21, Tetraselmis sp.

I. PENDAHULUAN. Dalam kegiatan pembenihan pakan alami telah terbukti baik untuk larva.

KANDUNGAN LEMAK TOTAL Nannochloropsis sp. PADA FOTOPERIODE YANG BERBEDA ABSTRAK

I. PENDAHULUAN. Benih ikan berkualitas baik dibutuhkan dalam tahapan utama pembesaran ikan.

BABV KESIMPULAN DAN SARAN. Dari hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa konsentrasi pupuk

JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

I. PENDAHULUAN. Protein merupakan salah satu kelompok bahan makronutrien. Protein berperan

PEMANFAATAN PUPUK CAIR TNF UNTUK BUDIDAYA Nannochloropsis sp ABSTRAK

PENGARUH PEMBERIAN ZAT PENGATUR TUMBUH PADA MEDIA KULTUR PHM TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN Chlorella sp. M. W. Lewaru * ABSTRACT

BAB I PENDAHULUAN. sebagai media penyakit (Cholik, et.al 1989 dalam wilujeng, 1999). Makanan alami

I. PENDAHULUAN. dibudidayakan dan memiliki nilai gizi tinggi yaitu, kandungan protein 74%, lemak

PRODUKTIVITAS DAN KESUBURAN PERAIRAN

I. PENDAHULUAN. kesuksesan budidaya. Kebutuhan pakan meningkat seiring dengan meningkatnya

Pemberian Mikroalga Terhadap Pertambahan Populasi Rotifera (Brachionus plicatilis) Pada Skala Laboratorium Di BBPBL Lampung

I. PENDAHULUAN. yang dibutuhkan untuk pertumbuhan larva (Renaud et.al, 1999). Pemberian pakan

I. PENDAHULUAN. di alam yang berguna sebagai sumber pakan yang penting dalam usaha

I. PENDAHULUAN. perikanan. Pakan juga merupakan faktor penting karena mewakili 40-50% dari

I. PENDAHULUAN. Kegiatan budidaya perikanan saat ini mengalami kendala dalam. perkembangannya, terutama dalam usaha pembenihan ikan.

Pengaruh Penggunaan Pupuk Organik Diamond Interest Grow dengan Dosis Berbeda terhadap Pertumbuhan Populasi Rotifera (Brachionus plicatilis)

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. Kultur Chaetoceros sp. dilakukan skala laboratorium dengan kondisi

II. MATERI DAN METODE PENELITIAN. A. Materi, Lokasi dan Waktu Penelitian. (BBPBAP) Jepara, gulma air Salvinia molesta, pupuk M-Bio, akuades,

TINJAUAN PUSTAKA. memiliki empat buah flagella. Flagella ini bergerak secara aktif seperti hewan. Inti

BAB 3 BAHAN DAN METODE

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

LAJU PERTUMBUHAN SPESIFIK Chlorella sp. DAN Dunaliella sp. BERDASARKAN PERBEDAAN NUTRIEN DAN FOTOPERIODE 1

III. BAHAN DAN METODE

I. PENDAHULUAN. mikroalga dikenal sebagai organisme mikroskopik yang hidup dari nutrien

TINJAUAN PUSTAKA. Fitoplankton adalah alga yang berfungsi sebagai produsen primer, selama

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KASCING (Bekas Cacing) TERHADAP KELIMPAHAN Nannochloropsis sp. SEBAGAI PAKAN ALAMI

I. PENDAHULUAN. memerlukan area yang luas untuk kegiatan produksi. Ketersediaan mikroalga

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada bulan Januari di Balai Besar Pengembangan Budidaya

Pengaruh Pemberian Air Cucian Beras dengan Dosis yang Berbeda Terhadap Kepadatan Chlorella

PENGARUH SALINITAS DAN NITROGEN TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN TOTAL Nannochloropsis sp. ABSTRAK

II. TINJAUAN PUSTAKA. : Volvocales. : Tetraselmis. Tetraselmis sp. merupakan alga bersel tunggal, berbentuk oval elips dan memiliki

BAB III METODE PENELITIAN. konsentrasi limbah cair tapioka (10%, 20%, 30%, 40%, 50% dan 0% atau kontrol)

APLIKASI PENGGUNAAN BERBAGAI MACAM MIKROALGA POWDER UNTUK PAKAN JUVENIL IKAN BANDENG (Chanos chanos fork)

I. PENDAHULUAN. pembenihan karena memiliki nutrisi tinggi, antara lain protein %,

PERTUMBUHAN Skeletonema costatum PADA BERBAGAI TINGKAT SALINITAS MEDIA. The Growth of Skeletonema costatum on Various Salinity Level s Media

III. METODELOGI PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Mikroalga merupakan jasad renik dengan tingkat organisasi sel yang

OPTIMASI PEMBERIAN KOMBINASI FITOPLANKTON DAN RAGI DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN ROTIFERA

PRODUKSI IKAN NEON TETRA Paracheirodon innesi UKURAN L PADA PADAT TEBAR 20, 40 DAN 60 EKOR/LITER DALAM SISTEM RESIRKULASI

TINJAUAN PUSTAKA. Fitoplankton merupakan mikro alga sehingga dalam dunia pembenihan

Studi Kultur Semi-Massal Mikroalga Chlorella sp Pada Area Tambak Dengan Media Air Payau (Di Desa Rayunggumuk, Kec. Glagah, Kab.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. Chlorella sp. tiap perlakuan. Data di analisa menggunakan statistik One Way

I. PENDAHULUAN. besar di perairan. Plankton merupakan organisme renik yang melayang-layang dalam

Pertumbuhan rumput laut Kappaphycus alvarezii pada perbedaan kedalaman dan berat awal di perairan Talengen Kabupaten Kepulauan Sangihe

Pengaruh Pemberian Kompos Sampah Rumah Tangga Terhadap Pertumbuhan Chlorella vulgaris Pada Skala Laboratorium

2. TINJAUAN PUSTAKA. berflagel. Selnya berbentuk bola berukuran kecil dengan diameter 4-6 µm.

TINJAUAN PUSTAKA. fotosintesis (Bold and Wynne, 1985). Fitoplankton Nannochloropsis sp., adalah

I. PENDAHULUAN. Dalam kegiatan budidaya ikan, pakan dibagi menjadi dua jenis, pakan buatan dan

PERTUMBUHAN Diaphanasoma sp. YANG DIBERI PAKAN Nannochloropsis sp. Sri Susilowati 12 ABSTRAK

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. yang umumnya dikenal dengan nama fitoplankton. Organisme ini merupakan

Kultur Nannochloropsis

Kata kunci : biomassa, Nannochloropsis oculata, protein, Walne. iii

I. PENDAHULUAN. limbah dari pertanian dan industri, serta deforestasi ilegal logging (Nordhaus et al.,

BAB 3 BAHAN DAN METODE

I. PENDAHULUAN. ikan di dalam air. Lemak mengandung asam-asam lemak yang berfungsi sebagai

JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang s

PEMANFAATAN FERMENTASI LIMBAH CAIR TAHU MENGGUNAKAN EM4 SEBAGAI ALTERNATIF NUTRISI BAGI MIKROALGA Spirulina sp.

PERANAN PEMBERIAN KUNING TELUR DENGAN DOSIS PENGENCERAN YANG BERBEDA TERHADAP TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN MAS

SNTMUT ISBN:

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biologi Spirulina sp.

PERBANDINGAN LAJU PERTUMBUHAN Spirulina platensis PADA TEMPERATUR YANG BERBEDA DALAM SKALA LABORATORIUM

PENGARUH SPECIES Clorella DALAM MENETRALISIR LIMBAH CAIR KARET

PERTUMBUHAN Tetraselmis chuii PADA MEDIUM AIR LAUT DENGAN INTENSITAS CAHAYA, LAMA PENYINARAN DAN JUMLAH INOKULAN YANG BERBEDA PADA SKALA LABORATORIUM

III. METODE KERJA. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut

METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2014 bertempat di Laboratorium

TEKNIK KULTUR Tetraselmis chuii SKALA LABORATORIUM DAN SKALA SEMI MASSAL DI BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU (BBPBAP) JEPARA-JAWA TENGAH

III. METODE KERJA. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zooplankton, Balai Besar

PENGARUH PERBEDAAN DOSIS PUPUK PHOSPAT TERHADAP PERTUMBUHAN PHYTOPLANKTON

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Rata rata Pertambahan Jumlah Moina sp. (Ind/200ml) Rata rata pertambahan jumlah populasi Moina sp.

PENGARUH JENIS MEDIA TERHADAP KONSENTRASI BIOMASSA. DAN KANDUNGAN PROTEIN MIKROALGA Chaetoceros calcitrans SKRIPSI

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Aquatik, Fakultas

KOMPOSISI DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON CRYSOPHYTA

III. METODE PENELITIAN. Tabel 1. Alat dan Bahan yang digunakan dalam penelitian

PENGARUH JENIS FITOPLANKTON TERHADAP KADAR OKSIGEN DI AIR

Modul Praktikum Plankton Budidaya Chlorella

I. PENDAHULUAN. yaitu ± ,42 Km (Dahuri dkk, 2011). Di laut, tumbuh dan berkembang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Mikroalga Tetraselmis sp. merupakan salah satu mikroalga hijau.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan yang dialami ekosistem perairan saat ini adalah penurunan kualitas air akibat pembuangan limbah ke

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 2013

I. PENDAHULUAN. air tawar, payau, dan perikanan laut, dapat dilihat dari semakin banyaknya

BAB I PENDAHULUAN. upaya untuk meningkatkan produksi perikanan adalah melalui budidaya (Karya

Transkripsi:

JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN Volume 5, Nomor 2, Oktober 2009 PENGAMATAN JENIS CACING LAOR (ANNELIDA, POLYCHAETA) DI PERAIRAN DESA LATUHALAT PULAU AMBON, DAN ASPEK REPRODUKSINYA STUDI EKOLOGI KOMUNITAS GASTROPODA PADA DAERAH MANGROVE DI PERAIRAN PANTAI DESA TUHAHA, KECAMATAN SAPARUA ASOSIASI INTER-SPESIES LAMUN DI PERAIRAN KETAPANG KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT PENGARUH WARNA CAHAYA BERBEDA TERHADAP KANDUNGAN KARAGINAN Kappaphycus alvarezii VARIAN MERAH STUDI KEPADATAN Tetraselmis chuii YANG DIKULTUR PADA INTENSITAS CAHAYA YANG BERBEDA ANALISIS TARGET STRENGTH IKAN PELAGIS DI PERAIRAN SELAT SUNDA DENGAN AKUSTIK BIM TERBAGI ESTIMASI ENERGI GELOMBANG PADA MUSIM TIMUR DAN MUSIM BARAT DI PERAIRAN PANTAI DESA TAWIRI, TELUK AMBON BAGIAN LUAR DISTRIBUSI SEDIMEN PADA PERAIRAN TELUK INDRAMAYU PENENTUAN KONSENTRASI KLOROFIL-A PERAIRAN TELUK KAYELI PULAU BURU MENGGUNAKAN METODE INDERAJA JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS PATTIMURA AMBON TRITON Vol. 5 No. 2 Hlm. 1-66 Ambon, Oktober 2009 ISSN 1693-6493

Jurnal TRITON Volume 5, Nomor 2, Oktober 2009, hal. 31 35 31 STUDI KEPADATAN Tetraselmis chuii YANG DIKULTUR PADA INTENSITAS CAHAYA YANG BERBEDA (Density of Tetraselmis chuii Cultured at The Different Lights Intensity) Jolen Matakupan Jurusan Manajemen Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura Jl. Chr. Soplanit Poka-Ambon ABSTRACT : Natural feed given to fish or nonfish is critical to increase output. With improvement of technonology makes supply of natural feed in sufficient amount at the right time and continouesly it can be produce by massal culture and laboratorium scale. Tetraselmis chuii represents phytoplankton used as natural feed, but the supply is very limited in nature. To answer the demand of this organism, Tetraselmis chuii are produced by culture to getting it in large number. This research was aimed to know the density of Tetraselmis chuii wich were cultured at different lights intensity. The result showed that the highest to lower density of T.chuii is treatment D 404,16 x 10 4 cells/ml (80 w TL), then followed by treatment E 266,25 x 10 4 cells/ml (100 w TL), treatment C 224,916 x 10 4 cells/ml (60 w TL), treatment B 193,75 x 10 4 cells/ml (40 w TL) and treatment A 43,75 x 10 4 cells/ml (20 w TL). The F-test showed significantly different among treatments. Keywords : Density, Tetraselmis chuii, Light Intensity PENDAHULUAN Pembenihan merupakan suatu mata rantai awal dan kunci keberhasilan dalam usaha budidaya organisme akuatik (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995). Salah satu usaha untuk meningkatkan hasil produksi pembenihan adalah penyediaan pakan yang berkualitas serta mencukupi yang dibutuhkan oleh organisme budidaya selama masa pemeliharaan. Dalam pembenihan ikan dan non-ikan sangat dibutuhkan tersedianya pakan alami yang cukup. Peranan pakan alami selain untuk menentukan kualitas, kuantitas, dan kesinambungan benih yang dihasilkan ternyata belum dapat tergantikan oleh pakan buatan yang telah ada secara baik dan sempurna. Tetraselmis chuii merupakan salah satu jenis fitoplankton yang dapat digunakan sebagai sumber makanan alami. Pergerakannya yang aktif

32 Matakupan, Studi Kepadatan Tetraselmis Chuii memudahkan jenis ini ditangkap oleh larva udang termasuk udang windu terutama pada fase zoea, karena pada fase ini larva sangat memerlukan adanya makanan dari luar seperti plankton yang bergerak aktif (Murtidjo,2003). Menurut Borowitzka (1988), Tetraselmis chuii merupakan sumber makanan alami yang baik untuk organisme akuatik seperti oyster dan abalone. Selain itu menurut McVey (1983), Tetraselmis tetrathele dan Tetraselmis subcordiformis banyak dikultur untuk makanan larva udang. Penyediaan pakan alami Tetraselmis chuii secara terus menerus sangat sukar dilakukan jika hanya mengumpulkannya dari alam. Untuk itu produksi massal pakan alami ini haruslah dilakukan baik itu dalam bentuk skala besar maupun laboratorium dengan tidak mengesampingkan faktor pendukung seperti nutrien dan cahaya. Dalam kultur fitoplankton komposisi nutrien pada media kultur ternyata sangat berperan dalam pertumbuhan. Mikroalga mendapatkan nutrien dari air laut yang sudah mengandung nutrien yang cukup lengkap. Namun pertumbuhan mikroalga dengan kultur dapat mencapai optimum dengan mencampurkan air laut dengan nutrien yang tidak terkandung dalam air laut tersebut. Nutrien tersebut dibagi menjadi makronutrien (nitrat dan fosfat) dan mikronutrien. Makronutrien merupakan pupuk dasar yang mempengaruhi pertumbuhan mikroalga. Intensitas cahaya sangat menentukan pertumbuhan mikroalga yaitu dilihat dari lama penyinaran dan panjang gelombang yang digunakan untuk fotosintesis yang berguna untuk pembentukan senyawa karbon organik. Kebutuhan akan cahaya bervariasi tergantung kedalaman kultur dan kepadatannya (Anonim, 2008). Dalam kultur alga yang dilakukan di laboratorium, lampu TL dapat digunakan sebagai pengganti sinar matahari, dimana intensitas cahaya yang dihasilkan memenuhi syarat untuk berlangsungnya proses fotosintesis (Mustafa dalam Sumampow, 1993). Bertolak dari hal ini maka perlu dilakukan penelitian mengenai kepadatan sel dari phytoplankton khususnya Tetraselmis chuii yang dikultur pada intensitas cahaya yang berbeda dengan tujuan untuk mendapatkan intensitas cahaya yang efektif untuk perumbuhan dan pertambahan kepadatan sel yang selanjutnya intensitas cahaya ini dapat digunakan dalam kultur phytoplankton pada skala laboratorium METODOLOGI Bahan uji yang digunakan dalam penelitian adalah phytoplankton T.chuii yang dikultur pada media air laut yang telah diisi nutrien. Sebagai wadah kultur digunakan erlenmeyer dengan kapasitas 250 ml sebanyak 15 buah untuk 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan A: Diberi cahaya lampu TL 20 watt, perlakuan B: diberi cahaya lampu TL 40 watt, perlakuan C: diberi cahaya lampu TL 60 watt (40 watt + 20 watt), perlakuan D: diberi cahaya lampu TL 80 watt (40 watt + 40 watt), perlakuan E: diberi cahaya lampu TL 100 watt (40 watt + 40 watt + 20 watt). Perhitungan dilakukan tiap selang waktu 4 jam selama 2 hari. Sel T.chuii di hitung menggunakan hemaecytometer yang diletakan di bawah mikroskop. Untuk menghitung nilai kelimpahan dari Tetraselmis chuii yang diperoleh, digunakan rumus menurut Isnansetyo dan Kurniastuty (1995), sebagai berikut: Σ (sel) = ( X rata-rata ) x 10 4

Jurnal TRITON Volume 5, Nomor 2, Oktober 2009, hal. 31 35 33 Dimana: Σ (sel) = jumlah sel yang dicari X rata-rata = jumlah sel rata-rata dari tiap ulangan pada tiap perlakuan yang telah dihitung. Untuk mengetahui pengaruh intensitas cahaya yang berbeda terhadap kepadatan sel Tetraselmis chuii, maka dalam rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dimana tiap perlakuan terdiri atas tiga kali ulangan dan dilakukan dalam kondisi yang homogen. Selanjutnya untuk menganalisa seluruh data yang diperoleh digunakan analisis ragam (ANOVA) menurut Zar (1999). HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan dengan menggunakan intensitas cahaya yang berbeda pada kultur Tetraselmis chuii, diperoleh data ratarata kepadatan sel (Tabel 1). Data tersebut merupakan angka rata-rata yang diperoleh selama percobaan dilakukan, perhitungannya dimulai dari awal penebaran. Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty (1995), kepadatan sel fitoplankton yang dikultur dapat ditandai dengan bertambahnya jumlah sel selama kultur dilakukan. Hasil penelitian yang dilakukan terlihat jelas bahwa terjadi penambahan jumlah sel Tetraselmis chuii selama kultur. Tabel 1. Rata-rata kepadatan sel T.chuii pada intensitas cahaya berbeda Hari Ke I II III Jam Ke Populasi Perlakuan (x 10 4 sel/ml) A (TL 20 watt) B (TL 40 Watt) C (TL 60 Watt) D (TL 80 Watt) 0 10,9 10,9 10,9 10,9 10,9 4 19,33 21,16 21,41 26,58 27,41 8 21,50 22,75 22,25 28,75 28,41 12 31,75 24,41 29,33 31,58 38,16 16 38,91 32,50 30,50 32,58 41,58 20 43,75 37 49,91 53,50 62,25 E (TL 100 Watt) 24 29,50 43,82 53,50 76,25 68,16 28 22,50 82,91 89,91 87,66 95,90 32 14,50 87,91 114,25 145,25 118,41 34 91,16 158,16 182,75 143 38 106,33 177,50 192,33 197,91 42 14,16 190,33 350,41 266,25 46 153,50 224,91 404,16 252 52 176,16 192,50 304,58 198,83 56 193,75 177,66 152,58 185,83 60 184,33 139,83 139,83 155,16 64 132,50 128,41 134,08 151,41 68 120,50 116,83 119,08 121,25 Kepadatan sel Tetrselmis chuii mengalami peningkatan sejak penebaran awal pada tiap-tiap perlakuan. Setelah mencapai puncak kekepadatan sel, maka terjadi penurunan jumlah sel. Naiknya populasi sel di awal percobaan disebabkan karena kandungan unsur hara (nutrien) yang tersedia masih banyak dalam media kultur sehingga memungkinkan Teraselmis chuii melakukan pembelahan sel secara berulang-ulang. Dalam kondisi nutrien yang cukup, terjadi pembelahan sel alga yang cepat dan setelah unsur hara tersebut habis terpakai maka pembelahan sel akan menurun bahkan berhenti sehingga sel akan mengecil dan hancur.

34 Matakupan, Studi Kepadatan Tetraselmis Chuii Terjadinya penurunan kepadatan sel fitoplankton dapat disebabkan oleh beberapa faktor yakni penipisan nutrien sehingga tidak lagi mampu bertumbuh, dan terbatasnya sumber cahaya yang menyebabkan keredupan karena padatnya pertumbuhan (Mustafa dan Sudarmadji dalam Sumampow, 1993). Hasil pengamatan (Gambar 1) juga menunjukkan bahwa puncak kelimpahan populasi Tetrselmis chuii yang tertinggi terdapat pada perlakuan D, kemudian diikuti oleh populasi E, C, B, dan A. Kepadatan sel Tetraselmis chuii pada perlakuan A mencapai 43,75 x 10 4 sel/ml, perlakuan B 176,166 x 10 4 sel/ml, perlakuan C 224,916 x 10 4 sel/ml, perlakuan D 404,16 x 10 4 sel/ml, dan perlakuan E 266,25 10 4 sel/ml. 450 400 404.16 350 Populasi Sel (x10 4 Sel/ml) 300 250 200 150 266.25 224.91 19 3. 7 5 A B C D E 100 50 43.7 0 0 4 8 12 16 20 24 28 32 36 40 44 48 52 56 60 64 68 Selang Waktu (Jam) Gambar 1. Puncak kepadatan sel Tetraselmis chui pada intensitas cahaya yang berbeda Menurut Ngadiman dalam Hartini (1999), kemampuan alga untuk bertahan hidup pada media kultur yang diberi lampu TL 40 watt dapat dijadikan dasar atau standar, untuk mengkultur alga di laboratorium jika dibandingkan dengan lampu TL 10 atau 20 watt. Selanjutnya dari hasil pengamatan, dimana perlakuan B dan C yang menggunakan lampu TL 40 dan 60 watt memberikan respon yang cukup baik karena memperoleh cahaya yang cukup untuk Tetraselmis chuii dapat bertumbuh. Menurut Hutagaol dalam Hartini (1999), intensitas cahaya yang besar maka akan semakin baik untuk perkembangan sel alga. Hasil pengamatan menunjukkan pada perlakuan E yang menggunakan lampu TL 100 watt memberikan hasil kedua terbaik. Kekuatan cahaya yang besar, ternyata mempengaruhi pertumbuhan Tetraselmis chuii dimana terjadi penipisan nutrien di dalam wadah kultur akibat laju perkembangan sel yang terjadi sangat cepat dan kerusakan pada sel-sel klorofil akibat intensitas cahaya yang terlalu tinggi sehingga Tetraselmis chuii tidak dapat bertumbuh dengan baik. Hasil analisis ragam yang diperoleh menunjukkan bahwa penggunaan intensitas cahaya yang berbeda ternyata memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap kelimpahan populasi Tetraselmis chuii. Hal ini dapat terlihat jelas pada tabel analisis ragam dimana F hitung > F Tabel. Dengan demikian perlakuan yang diujicobakan pada Tetraselmis chuii yakni intensitas cahaya yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap kelimpahan populasinya.

Jurnal TRITON Volume 5, Nomor 2, Oktober 2009, hal. 31 35 35 Untuk mengetahui perbedaan puncak kelimpahan populasi pada masingmasing perlakuan, maka dilakukan uji beda nyata terkecil (BNT). Dimana hasil perhitungan tersebut menunjukan bahwa antara perlakuan AD, AE, BE, CE, CD dan DE berbeda sangat nyata pada taraf uji 0,01 sedangkan untuk BD berbeda nyata pada taraf uji 0,05. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh intensitas cahaya yang berbeda terhadap kepadatan sel Tetraselmis chuii, maka dapat disimpulkan bahwa: (1) Puncak kepadatan sel yang paling tinggi terdapat pada perlakuan D dengan penggunaan lampu TL 80 Watt yaitu 404,16 x 10 4 sel/ml, kemudian perlakuan E dengan penggunaan lampu TL 100 Watt yaitu 266,25 x 10 4 sel/ml. Perlakuan C dengan penggunaan lampu TL 60 Watt yaitu 224,916 x 10 4 sel/ml, perlakuan B dengan penggunaan lampu TL 40 Watt yaitu 193,75 x10 4 sel/ml dan perlakuan A dengan penggunaan lampu TL 20 Watt yaitu 43,75 x 10 4 sel/ml; (2) Intensitas cahaya yang paling baik untuk menunjang pertumbuhan Tetraselmis chuii yang dikultur di laboratorium adalah dengan menggunakan lampu TL 80 Watt. Saran yang dapat diberikan adalah menggunakan lampu TL 80 watt sebagai sumber cahaya untuk kultur fitoplankton di dalam laboratorium. DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2008. Budidaya Tetraselmis sp. Pada Skala Laboratorium. http://my.opera.com/blog/show.dml/4450732 Borowitzka L. J. 1988. Microalgal Biotechnology. Cambridge University Press. USA. pp 140-142. Hartini. 1999. Pertumbuhan Clamydomonas sp Pada Intensitas Cahaya Yang Berbeda. Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Sam Ratulangi Manado. 35 hal Haryati R. 2008. Pertumbuhan dan Biomassa Spirulina sp. Dalam skala Laboratorium. Jurnal Bioma. Vol. 10, No. 1, Hal. 19-22. Isnansetyo, A dan Kurniastuty. 1995. Teknik Kultur Phytoplankton dan Zooplankton. Kanisius. Yogyakarta 110 Hal. McVey J. P. 1983. Hand Book Of Mariculture. Crustacean Culture. 2 nd Editon. Silver spiring, Maryland. CRC Press. pp 8-9. Mudjiman A. 2004. Makanan Ikan. Penebar swadaya. Jakarta. Hal 78-84. Murtidjo B. A. 2003. Benih Udang Windu Skala Kecil. Kanisius. Jakarta. Hal 52. Sumampow M. 1993. Pertumbuhan Alga Tetraselmis tetrathele Dalam Media Kulltur Dengan Komposisi Yang Berbeda-Beda. Skripsi Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan. Universitas Sam Ratulangi Manado. 39 hal Zar J. H. 1999. Biostatical Analysis. 4 th Edition. Simon and Schuter An Viacom Company. USA. pp 616.