BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN. Pengertian penjasorkes telah didefinisikan secara bervariasi oleh beberapa

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (Penjasorkes) merupakan

BAB I PENDAHULUAN. secara keseluruhan. Melalui pendidikan jasmani dikembangkan beberapa aspek yang

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN. pembelajaran, dan hasil belajar yang dicapai siswa sangat dipengaruhi oleh

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan salah satu mata

BAB I PENDAHULUAN. dari pendidikan, karena pendidikan memiliki peran penting bagi kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. untuk mencerdaskan kehidupan bangsa berdasarkan (UUD 1945). Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. mendorong dan menfasilitasi kegiatan belajar mereka.

BAB I PENDAHULUAN. Perbandingan Model Pendekatan Taktis Dan Pendekatan Tradisional Terhadap Hasil Belajar Permainan Kasti

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hampir para ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang

BAB I PENDAHULUAN. pengembangan psikis yanglebih baik, sekaligus membentuk pola hidup sehat dan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 2.1 Hakikat Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan di Sekolah Dasar

BAB I PENDAHULUAN. dalam dunia pendidikan di Indonesia, bukan mustahil pendidikan di Indonesia akan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. mempertahankan dan menjaga kelangsungan hidup. sejauh mungkin dan bola besi berat inilah diberi nama peluru yang

BAB I PENDAHULUAN. mengintensifkan peyelenggaraan pendidikan sebagai suatu proses pembinaan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Adi Maulana Sabrina, 2013

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hampir para ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari sistem pendidikan

I. TINJAUAN PUSTAKA. Banyak ahli pendidikan jasmani yang menjelaskan tentang pengertian

BAB I PENDAHULUAN. merangsang pertumbuhan dan perkembangan yang seimbang.

I. PENDAHULUAN. Pendidikan Jasmani merupakan pendidikan yang mengaktulisasikan potensipotensi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rizal Faisal, 2013

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pendidikan Jasmani merupakan salah satu mata pelajaran dalam kurikulum di

2015 STUD I D ESKRIPTIF PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PEND IDIKAN JASMANI D I SLB-A CITEREUP

Serambi Akademica, Vol. II, No. 2, November 2014 ISSN :

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Purnama Sidiq Nugraha, 2013

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN Hakikat Tolak Peluru dan Aspek-Aspeknya. bermula diletakkan dipangkal bahu.

BAB I PENDAHULUAN. memerlukan peraturan, pendidikan,pelatihan,pembinaan,pengembangan dan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hampir para ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang

BAB I PENDAHULUAN. Mudzakkir Faozi, 2014

I. PENDAHULUAN. maupun sebagai anggota kelompok yang dilakukan secara sadar dan. kemampuan, keterampilan jasmani, pertumbuhan kecerdasan dan

PENERAPAN PENDEKATAN BERMAIN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA KELAS V SDN TANJUNG II TAHUN PELAJARAN 2015/2016

I. PENDAHULUAN. Pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur

BAB I PENDAHULUAN. pengembangan keterampilan olah raga tetapi pada perkembangan si anak seutuhnya.

GUMELAR ABDULLAH RIZAL,

terhadap kepribadian pelakunya. Kegiatan yang untuk menggunakan tubuh secara menyeluruh dalam bentuk permainan atau pertandingan/ perlombaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. nilai (sikap-mental-emosional-spiritual-sosial), dan pembiasaan pola hidup

MENINGKATKAN KEMAMPUAN LARI ESTAFET MELALUI METODE BERMAIN PADA SISWA KELAS IV SDN 1 OTI. Anis

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

BAB I PENDAHULUAN. sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional. Salah satu diantaranya adalah

BAB I PENDAHULUAN. dan bermakna. Menurut Morse (1964) dalam Suherman (2000: 5) membedakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan dalam arti luas berarti suatu proses untuk mengembangkan

BAB I PENDAHULUAN. mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Proses kegiatan belajar mengajar merupakan suatu aktivitas yang bertujuan

I. KAJIAN PUSTAKA. manusia dan menghasilkan pola-pola prilaku individu yang bersangkutan.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu unsur penting dan sangat berpengaruh bagi

dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.

BAB I PENDAHULUAN. merambah hingga masing-masing mata pelajaran, sehingga hampir semua

BAB I PENDAHULUAN. sejalan dengan filosofi yang mendasari pendidikan jasmani. Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. dianggap belum memenuhi tujuan utama pembelajaran. Tujuan utama pembelajaran dalam pendidikan jasmani tidak hanya untuk

BAB I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang Masalah. Sekolah adalah salah satu lembaga formal dalam sistem pendidikan yang

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN. untuk belajar keterampilan spesifik, ilmu pengetahuan, dan sikap serta yang

I. PENDAHULUAN. isi, dan arah untuk menuju kebulatan kepribadian sesuai dengan cita-cita

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Pedidikan jasmani pada dasarnya bagian integral dari pendidikan secara

MAKNA PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan proses pembinaan manusia yang berlangsung

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat.pendidikan pada

YUSRA FAUZA, 2015 PENGARUH KIDS ATHLETICS TERHADAP PENINGKATAN KETERAMPILAN MOTORIK KASAR SISWA SEKOLAH DASAR

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara

I. PENDAHULUAN. Pendidikan Jasmani merupakan suatu aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan

I. PENDAHULUAN. Peranan dan fungsi guru Penjaskes yang baik akan tewujud apabila memiliki

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SEPAK TAKRAW MELALUI PENDEKATAN PERMAINAN JALA HIP HOP

BAB 1 PENDAHULUAN. Pada saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang. dengan menggunakan tenaga manusia kini sudah banyak diganti dengan

BAB I PENDAHULUAN. keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Riska Dwi Herliana, 2013

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dasar/bekal ilmu untuk menghadapi tantangan dimasa yang akan datang dan

BAB I PENDAHULUAN. Permainan bolavoli merupakan salah satu permainan yang kompleks yang

I. PENDAHULUAN. Pendidikan jasmani merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk

II. KAJIAN PUSTAKA. peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan

BAB I PENDAHULUAN. untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik,

I. PENDAHULUAN. lempar. Selain dari itu gerakan yang terdapat dalam. mengemukakan bahwa atletik ibu dari semua cabang olahraga.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang

BAB I PENDAHULUAN. yang mengarah pada tujuan Pendidikan Nasional, yaitu meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

PERBANDINGAN PENDEKATAN TAKNIS DAN PENDEKATAN TEKNIS TERHADAP HASIL BELAJAR PERMAINAN BOLA BASKET

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini berkembang pesat

2015 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM GAME TOURNAMENT TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN FUTSAL

BAB V PENUTUP. 1. Hasil Penelitian ini menunjukan data observasi awal nilai rata rata yang

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

prilaku hidup sehat peserta didik, dalam kehidupan sehari-hari (Suroto, 2009).

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN. secara sistematis dengan melibatkan gerakan-gerakan yang terpilih dan terencana

BAB IV DESKRIPSI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pada bab ini akan deskripsikan hasil dari penelitian masing-masing siklus

BAB I PENDAHULUAN. Sedangkan di dalam GBHN tahun 1973 yang dikutip oleh (Fuad Ihsan,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan dalam arti sederhana sering diartikan sebagai usaha manusia

BAB I PENDAHULUAN. wajib dilaksanakan di lingkungan persekolahan formal seperti di SD, SMP, dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Proses kegiatan belajar mengajar merupakan suatu aktivitas yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hampir para ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang belajar.

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN. Belajar tidak selamanya hanya bersentuhan dengan hal-hal yang konkret,

BAB I PENDAHULUAN. tanpa pendidikan manusia tidak akan bisa mencapai cita-cita yang mulia.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

TINJAUAN PUSTAKA. Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari sistem pendidikan, mata pelajaran ini

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Transkripsi:

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Hakikat Penjasorkes Pengertian penjasorkes telah didefinisikan secara bervariasi oleh beberapa pakar. Para pakar penjasorkes cenderung memberikan definisi sesuai dengan pandangan filosofi mereka masing-masing. penjasorkes sebagai bagian integral dari pendidikan keseluruhan yang mencapai tujuan untuk mengembangkan kebugaran jasmani, mental, sosial dan emosional bagi masyarakat dengan wahana aktivitas jasmani. Hal tersebut seperti yang dikemukakan Cholik dan Lutan (1996:16) menurut mereka bahwa Pendidikan Jasmani sebagai mata pelajaran di sekolah dengan kegiatan pendidikannya mempunyai tujuan untuk pertumbuhan dan perkembangan unsur jasmani, rohani, sosial, emosional dan intelektual. Menurut Wawan S. Suherman (2004 : 23) Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran Jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, dan sikap sportif, kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur seksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah, jasmani, psikomotor, kognitif, dan afektif setiap siswa. Menurut Engkos Kosasih (1992 :4) mengemukakan bahwa Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan ialah pendidikan yang mengaktualisasikan

potensi aktivitas manusia yang berupa sikap tindak dan karya untuk diberi bentuk, isi dan arah menuju kebulatan kepribadian sesuai dengan cita cita kemanusiaan. Dikemukakan juga arti Pendidikan Jasmani didalam Depdiknas (2003 : 6) Pendidikan Jasmani merupakan proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani dan direncenakan secara sistematik bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, perceptual, kognitif, sosial, dan emosional. Menurut Nadisah (1992 : 15) mengemukakan bahwa Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan adalah bagian dari pendidikan (secara umum) yang berlangsung melalui aktivitas yang melibatkan mekanisme gerak tubuh manusia dan menghasilkan pola pola perilaku individu yang bersangkutan. Menurut Rusli (1998 : 13) pada awalnya olahraga pendidikan adalah suatu kawasan olahraga yang spesifik diselenggarakan dilingkungan pendidikan formal. Aktivitas jasmani pada umumnya dan olahraga pada khususnya dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Menurut uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Pendidikan Jasmani merupakan media untuk mendorong perkembangan keterampilan motorik kemampuan fisik, pengetahuan, penalaran, penghayatan nilai (sikap, mental emosional, spritiual, sosial) dan pembiasan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan serta perkembangan yang seimbang dalam rangka sistem pendidikan nasional.

2.1.2 Hakekat Tolak Peluru Dan Pembelajarannya Di Sekolah Dasar Dalam http://delite20.wordpress.com/tag/pembelajaran-tolak-peluru/ dikatakan bahwa tolak peluru diadakan sebagai nomor terpisah untuk putra dan putri dan juga sebagai bagian dari dasa lomba dan sapta lomba. Selama bertahuntahun nomor ini telah didominasi oleh atlet yang bertubuh besar dan kuat. Kemajuan terbesar dalam teknik tolak peluru terjadi pada tahun 1950, ketika Parry O Brien memulai tolakannya menghadap bagian belakang ring. Metode ini yang kemudian dikenal sebagai teknik O Brien atau lebih dikenal dengan teknik meluncur, yang digunakan oleh mayoritas atlet tolak peluru. Teknik yang mendapat popularitas adalah teknik berputar, yang menggunakan putaran seperti lempar cakram melintasi ring tolak peluru, bukan bergerak ke belakang atau meluncur yang mencirikan teknik O Brien. Kedua teknik ini sama-sama mencapai keberhasilan. Tetapi bagi siswa sekolah dasar teknik tidak menjadi tujuan utama, melainkan bagaimana mereka dapat mengembangkan gerak dasar dalam tolak peluru itu sendiri. Menurut Ateng (1999: 79) bahwa Tolak peluru merupakan salah satu komponen dalam nomor lempar pada cabang olahraga atletik. Tolak peluru bagi siswa sekolah dasar, menjadi bagian keterampilan gerak dasar yang dilakukan dengan anggota badannya. Dalam upaya meningkatkan dan pengembangan kemampuan tersebut, guru perlu merancang proses pembelajaran yang lebih menarik bagi anak agar mereka lebih giat mempelajarinya, Untuk itu tugas utama guru penjas dalam mengajarkan tolak peluru adalah menciptakan kesempatan

yang merangsang anak-anak untuk mengembangkan kemampuannya menolak atau melempar dalam suasana bermain secara bebas, Lutan. (1997 : 37). Gerak dasar dalam tolak peluru bagi siswa sekolah dasar pada intinya tidak perlu menggunakan alat khusus. Bagi siswa sekolah dasar yang lebih penting adalah menggunakan beban ringan, karena bila beban ringan yang dipakai hasil nyata dapat dicapai. Alat sederhana untuk lempar atau tolak dapat dibuat dengan menggunakan bola tennis bekas. Keuntungannya karena penggunaan bola tersebut ringan yaitu tidak diperlukan pengamanan seperti halnya pemakaian peluru, yang sesungguhnya sebagai contoh sebuah bentuk permainan dilakukan dengan posisi siswa saling berhadapan diantara dua teman (Subroto, 2002:83). Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada lampiran 1. Menolak bola tennis atau benda lain yang sejenis dari gerakan samping memerlukan lebih banyak gerak. Bentuk ini tidaklah mudah, karena melibatkan koordinasi, dan menolak peluru sangat membutuhkan penempatan kaki dalam sikap dan proses yang benar. Hal tersebut menurut Saputra (2002:96) bahwa bentuk gerakan tersebut harus lebih menekankan pada pembentukan sikap menolak dan jangan dibiasakan siswa melakukan sikap melempar. Oleh karena itu guru harus mengingatkan bahwa dalam latihan ini gerakan yang dilakukan oleh setiap siswa harus gerakan menolak. Upaya ini dapat melahirkan pola gerak menolak yang benar sesuai dengan perkembangan usia mereka dan keinginan mereka secara umum dalam melakukan aktivitas fisik semakin meningkat sehingga dapat membawa dampak terhadap kebugaran jasmani kita.

2.1.3 Modifikasi Pembelajaran Penjasorkes Modifikasi pembelajaran adalah salah satu pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan kepada kegembiraan, kecakapan jasmani, pengajaran, dan perbendaharaan gerak anak. Karena itu modifikasi olahraga tolak peluru dalam pembelajaran pendidikan jasmani tidak merujuk kepada salah satu model pembelajaran tertentu, akan tetapi dapat merujuk pada model pembelajaran yang diadaptasikan secara tepat oleh guru selama dalam proses belajar mengajar Ngasmain dan Soepartono (1997 : 117) Menurut Berliana (1998 : 23) bahwa memodifikasi olahraga merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan guru pendidikan jasmani SD agar siswa mau mengikuti pelajaran dengan senang, tanpa beban, lebih rileks dan lebih mudah dalam menerima aktivitas visik. Modifikasi alat pembelajaran dalam pendidikan jasmani diperlukan, dengan tujuan agar : (1) siswa memperoleh kepuasan dalam mengikuti pelajaran, (2) siswa dapat mening katkan kemungkinan keberhasilan dalam berpartisipasi, dan (3) siswa dapat melakukan pola gerak secara benar. Berdasarkan penjelasan di ata maka dapat di katakan bahwa dalam penjasorkes, modifikasi alat pembelajaran olahraga bukan untuk mengubah isi kurikulum yang telah ditetapkan, akan tetapi dengan pendekatan modifikasi alat dapat menyesuaikan materi dengan kemampuan siswa, yakni agar materi yang ada di dalam kurikulum dapat disajikan secara sistematis, sesuai dengan tahap-tahap perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotor siswa, sehingga pembelajaran penjasorkes dapat dilakukan secara intensif.

Alasan lain mengapa harus dilakukan modifikasi alat, yakni agar keterampilan motorik tertentu dapat dikembangkan sesuai masa kematangan siswa, karena itu modifikasi merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan kepada kegembiraan, kecakapan jasmani, pengajaran, dan perbendaharaan gerak anak. Selanjutnya yang dimodivikasi adalah peraturan, jumlah pemain, alat yang digunakan dalam permainan. Jadi dapat dikatakan bahwa pendekatan modifikasi olahraga dapat digunakan sebagai satu alternatif dalam pembelajaran pernjasorkes di sekolah dasar, karena pendekatan ini mempertimbangkan tahap perkembangan dan karakteristik siswa, sehingga anak akan mengikuti pelajaran penjasorkes dengan senang hati. Dari uraian tersebut maka dapat dikatakan bahwa modifikasi olahraga sebagai alternatif dalam pembelajaran penjasorkes mutlak untuk dilakukan. 2.1.4 Hakikat Pendekatan Modifikasi Dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah keterlibatan guru masih sangat diperlukan agar proses belajarnya menjadi efektif, karena itu pendekatan yang layak digunakan dalam pembelajarannya adalah pendekatan modifikasi. Pendekatan modifikasi adalah salah satu pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan kepada kegembiraan, kecakapan jasmani, pengajaran, dan perbendaharaan gerak siswa. Karena itu modifikasi olahraga dalam pembelajaran pendidikan jasmani tidak merujuk kepada salah satu model pembelajaran tertentu, akan tetapi ia merujuk keberbagai model pembelajaran

yang diadaptasikan secara tepat oleh guru selama dalam proses belajar mengajar (Ngasmain dan Soepartono, 1997 : 117). Menurut Berliana (1998:23), memodifikasi olahraga merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan guru pendidikan jasmani sekolah dasar agar siswanya mau mengikuti pelajaran dengan senang, tanpa beban, lebih rileks dan lebih mudah dalam menerima aktivitas fisik. Pandangan tersebut selaras dengan apa yang dikemukakan oleh Lutan (1988:25) bahwa: Modifikasi alat pembelajaran dalam pendidikan jasmani diperlukan, dengan tujuan agar : (1) siswa memperoleh kepuasan dalam mengikuti pelajaran, (2) siswa dapat meningkatkan kemungkinan keberhasilan dalam berpartisipasi, dan (3) siswa dapat melakukan pola gerak secara benar. Jadi dalam pendidikan jasmani, modifikasi alat pembelajaran olahraga bukan untuk mengubah isi kurikulum yang telah ditetapkan, akan tetapi dengan pendekatan modifikasi alat dapat menyesuaikan materi dengan kemampuan siswa, yakni agar materi yang ada di dalam kurikulum dapat disajikan secara sistematis, sesuai dengan tahap-tahap perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotor siswa, sehingga pembelajaran pendidikan jasmani dapat dilakukan secara intensif. Oleh karena itu modifikasi sebagai alternatif dalam pembelajaran pendidikan jasmani mutlak dilakukan, dan guru harus mampu untuk melakukan modifikasi keterampilan yang hendak diajarkan agar sesuai dengan tingkat perkembangan siswa (Siedentop, 1994:12). Sehubungan dengan hal di atas, maka pendekatan modifikasi harus dilakukan agar keterampilan motorik tertentu dapat dikembangkan sesuai masa kematangan siswa, karena itu modifikasi meupakan salah satu pendekatan dalam

pembelajaran yang menekankan kepada kegembiraan, kecakapan jasmani, pengajaran, dan perbendaharaan gerak siswa (Soepartono 1998:32). Berdasarkan hal di atas maka dapat disimpulkan bahwa yang dimodivikasi adalah peraturan, jumlah pemain, alat yang digunakan dalam permainan. Demikian pula materi pelajaran pendidikan jasmani berpusat pada siswa maka perlu disesuaikan dengan perkembangan psikofisik, dan jika tidak relevan maka perlu memodifikasi alat pembelajaran baik yang lebih sukar dan berat ataupun sebaliknya lebih mudah dan ringan. Jadi pendekatan modifikasi dapat digunakan sebagai satu alternatif dalam pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar, karena pendekatan ini mempertimbangkan tahap perkembangan dan karakteristik siswa, sehingga siswa akan mengikuti pelajaran pendidikan jasmani dengan gembira. Selanjutnya Soepartono (1997:3) mengemukakan bahwa: Pendekatan modifikasi olahraga merupakan salah satu alternatif pendekatan dalam pembelajaran pendidikan jasmani yang dilakukan secara sadar, sukarela tanpa paksaan yakni salah satu pendekatan pembelajaran dalam pendidikan jasmani yang menggunakan pendekatan bilateral atau untuk pengembangan dan pengayaan perbendaharaan gerak siswa. Demikian pula Cholick dan Lutan (1996:6), mengemukakan bahwa penekanan utama dari pendekatan modifikasi adalah bagaimana membuat siswa senang dan gembira dalam mengikuti berbagai aktifitas gerak, sehingga tingkat keterlibatan dan intensitas gerak siswa dapat dioptimalkan. Pernyataan tersebut memberi gagasan kepada guru bahwa dalam proses pembelajarannya perkembangan motorik dari siswa merupakan tanggung

jawab guru mata pelajaran. Oleh karena itu guru pendidikan jasmani harus mengetahui bagaimana sistem motorik siswa itu berkembang. Dengan demikian maka penguasaan keterampilan olahraga khususnya keterampilan teknik dasar merupakan gejala belajar yang terjadi dalam diri seseorang. Gejala belajar itu berhubungan dengan perubahan perilaku dalam domain psikomotor atau keterampilan yang mengandung unsur gerak dalam olahraga. Seperti yang dikemukakan oleh Lutan (1988:322) bahwa: Proses belajar dan penampilan gerak dalam olahraga dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternal yang keduanya melekat pada setiap individu, seperti tipe tubuh, motivasi, dan lingkungan belajar serta lingkungan sosial budaya yang lebih luas. Gerak merupakan perhatian pokok dari guru pendidikan jasmani. Tugasnya adalah membantu peserta didik bergerak secara efisien, meningkatkan kualitas unjuk kerjanya (performance), kemampuan belajarnya dan kesehatannya, karena gerak merupakan unsur pokok yang paling utama dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani. Berkaitan dengan belajar gerak tersebut Wiranto (1998:13) mengemukakan bahwa: Pendekatan modifikasi yang digunakan dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar gerak siswa, akibatnya proses pembelajaran pendidikan jasmani terlaksana dengan baik dan efisien. Hal ini menunjukkan bahwa belajar gerak merupakan seperangkat proses yang bertalian dengan latihan secara holistik melalui pendekatan modifikasi serta pengalaman yang mengantar kearah perubahan tingkah laku secara permanen dalam kemampuan untuk bereaksi dalam situasi tertentu.

Dalam konteks pendekatan modifikasi Lutan (1997:10) mengemukakan bahwa: Pembinaan olahraga melalui pendidikan jasmani dapat dilakukan melalui pendekatan modifikasi pembelajaran cabang olahraga serta inovasi dalam model pembelajaran sehingga dapat disintesis kepentingan pendidikan, peningkatan kebugaran dan prestasi yang memiliki dampak sosial-psikologis dan sosialekonomi untuk mencapai satu tujuan. 2.2 Hipotesis Tindakan Apakah dengan menggunakan Bola Tennis Sebagai Media Pembelajaran Yang Dimodifikasi Keterampilan Dasar Tolak Peluru Siswa Kelas VI SDN 6 Bonepantai Kabupaten Bone Bolango dapat ditingkatkan? 2.3 Indikator Kinerja Yang menjadi indikator kinerja dalam penelitian ini yaitu: apabila keterampilan dasar tolak peluru siswa kelas VI SDN 6 Bone Pantai Kabupaten Bone Bolango dapat meningkat minimal 75% dari tindakan yang akan diberikan di lapangan.