PENGEMBANGAN MODEL SISTEM ELEARNING KOMUNITAS DENGAN PENDEKATAN PERSONAL LEARNING ENVIRONMENTS (PLEs)

dokumen-dokumen yang mirip
IMPLEMENTASI E-LEARNING DENGAN PENDEKATAN PERSONAL LEARNING ENVIRONMENTS DAN ADDIE MODEL

PENGEMBANGAN WEB-BASED COLLABORATIVE LEARNING DENGAN MENGGUNAKAN FACEBOOK

MEMBANGUN LITERASI DIGITAL DALAM PEMBELAJARAN OLEH : Nunuk Suryani. Page 1

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Mengapa menggunakan ICT. Bagaimana level kompetensi ICT bagi seorang guru? Pemanfaatan ICT untuk Pembelajaran 5/24/12. Learning: dahulu vs sekarang

Pemanfaatan Web/Blog Pembelajaran

PENGEMBANGAN EVALUASI DAN PENUGASAN ONLINE BERBASIS E-LEARNING DENGAN MOODLE PADA MATA KULIAH MEDIA PEMBELAJARAN ILMU KOMPUTER

BAB 1 PENDAHULUAN. Ilmu pengetahuan dan teknologi informasi terutama penggunaan internet saat ini

S Pembelajaran berbasis komputer (CBL) S CD pembelajaran S Multimedia pembelajaran S Aplikasi tutorial S Games, dll. S Pembelajaran berbasis web (WBL)

1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah

MENJADI TEACHER JAMAN NOW

PENGANTAR E-LEARNING Apa yang kita bahas? Perkembangan/Trends ICT Tantangan Pendidik Bagaimana menghadapinya?

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Tujuan akhir penelitian ini adalah untuk mengembangkan aplikasi social

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sebuah pembelajaran, setiap siswa harus terlibat dalam kegiatan

Pemanfaatan E-Learning sebagai Media Pembelajaran

Apakah P4TK itu? Copyright

PENGANTAR E-LEARNING

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang Penelitian

IbM KELAS VIRTUAL UNTUK SMPN 6 DAN SMAN2 SALATIGA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 3 METODE PENELITIAN. Penelitian ini secara umum merupakan penelitian yang bertujuan untuk

Langkah Strategis Optimalisasi Internet Sebagai Pendukung Kegiatan Pembelajaran di Sekolah Oleh : Eka Risyana Pribadi

BAB I PENDAHULUAN. pesat terutama perkembangan internet. Dengan adanya internet dapat

Pengembangan Portal Belajar Online

Modul Pelatihan Membuat Blog dengan Wordpress

Analisa Penggunaan E-Learning Untuk Meningkatkan Kemudahan Mahasiswa Dalam Pembelajaran

Oleh Akhmad Riza Faizal S.Sos; IMDLL.

Infotek Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004 Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär. Alif Muttaqin

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Aplikasi E-Learning semacam ini pernah dibuat oleh Sdr. Rendra

BAB I PENDAHULUAN. globalisasi, sehingga interaksi dan penyampaian informasi akan berlangsung

BAB I PENDAHULUAN. E-Learning adalah pembelajaran jarak jauh (distance Learning) yang memanfaatkan

Pembelajaran Jarak Jauh dengan Penerapan Konsep Web 2.0

InfinityJurnal Ilmiah Program Studi Matematika STKIP Siliwangi Bandung, Vol 4, No.2, September 2015

RANCANG BANGUN SISTEM E-LEARNING JURUSAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMPUTER

E-LEARNING BERBASIS WEB SEBAGAI MEDIA PENDUKUNG PROSES BELAJAR MENGAJAR PADA SMA NEGERI 2 SEMARANG

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI E_LEARNING UNTUK PEMBELAJARAN BAHASA PEMROGRAMAN PHP

The next big killer application for the Internet is going to be education John Chambers, CEO of Cisco Systems

Pengembangan Perangkat Lunak Untuk Model Pengelolaan Kuliah Bersama pada Karakteristik Lembaga Penyelenggara Berbeda

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Menurut sumber yang diperoleh dari situs website depkominfo Republik

PENYUSUNAN MEDIA BELAJAR MANDIRI BERBASIS BLOG SUBMATERI SISTEM SARAF MANUSIA UNTUK SISWA SMA

BAB III METODE PENELITIAN

Sharing vision mempunyai penekanan membangun dan mengasah kemampuan. analisis setiap individu. Oleh karena itu, data dan informasi kondisi perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. nasional dan muatan lokal. Dan dibuatlah Suplemen Kurikulum berbagai macam sumber ilmu, tidak hanya dari guru kelas saja.

I. PENDAHULUAN. Internet adalah suatu terobosan baru bagi dunia bisnis yang meliputi aspek

Analisa Penggunaan E-Learning Untuk Meningkatkan Kemudahan Mahasiswa Dalam Pembelajaran

PENGEMBANGAN WEBSITE DAN E-LEARNING SEKOLAH

Desain dan Pengembangan e-learning Pendahuluan Desain E-learning Desain E-learning

PEMBANGUNAN E-LEARNING SEBAGAI SARANA PEMBELAJARAN ONLINE DI SMP NEGERI 8 BANDUNG

Website:

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. penelitian di lapangan, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

MATERI PELATIHAN ELEARNING PETUNJUK BAGI PENGAJAR PADA E-LEARNING. Muhamad Ali, MT.

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN SISTEM

BAB 1 PENDAHULUAN. yang disediakan oleh pemasar menjadi tidak selalu efektif. informasi yang tidak memihak dan jujur berdasarkan pengalaman yang

Desain dan Pengembangan e-learning

STMIK GI MDP. Program Studi Sistem Informasi Skripsi Sarjana Komputer Semester Genap 2010/2011

BAB IV ANALISA FASE TOGAF ADM

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Studi (Wajib) bagi mahasiswa program S-1 Ilmu komputer. Setelah. mendapatkan persetujuan dari tim pembina mata kuliah seminar Ilmu

BAB V PERANCANGAN MOXIE

Apa itu CMS? Baiklah, kembali ke judul tulisan ini, Apa itu CMS?

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS WEB MENGGUNAKAN QUANDARY DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

Sistem Perwalian Online Mahasiswa Pada Program Pendidikan Jarak Jauh

MENGAPA MEDIA SOSIAL. Selamat Datang di Era Generasi Y

Pembuatan Konten Manajemen Video untuk mendukung Komunitas IbuKreatif di Facebook

PENGEMBANGAN E-LEARNING BERBASIS MOODLE SEBAGAI SUMBER BELAJAR IPS SMP KELAS VII SUB-TEMA KEGIATAN EKONOMI DAN PEMANFAATAN POTENSI SUMBER DAYA ALAM

SINGLE SIGN ON (SSO) DENGAN MENGGUNAKAN LIGHTWEIGHT DIRECTORY ACCESS PROTOCOL (LDAP) STUDI KASUS DI UNIVERSITAS BINA DARMA

BAB 3 METODE PENELITIAN

PEMANFAATAN E-LEARNING SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN DI UNIVERSITAS BINA DARMA PALEMBANG

PENGEMBANGAN SISTEM INVENTARISASI SARANA LABORATORIUM JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI MALANG BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI

Pengembangan Model Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Web pada Perkuliahan

BAB I PENDAHULUAN. menawarkan produk atau jasa yang perusahaan miliki dengan tujuan untuk

PENGEMBANGAN SCHOOL MOBILE LEARNING PADA MATA PELAJARAN KETERAMPILAN KOMPUTER DAN PENGELOLAAN INFORMASI DI SMK NEGERI 1 SUKASADA.

BAB I PENDAHULUAN. berbagai bidang, seperti: militer, ekonomi-bisnis, sosial, politik, budaya,

e-learning: Belajar Kapan Saja, Dimana Saja

BAB I PENDAHULUAN. berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web

SYSTEM E-LEARNING DENGAN PENDEKATAN EVALUASI PEMBELAJARAN

BAB I PENDAHULUAN. melakukan browsing di internet untuk melakukan pencarian informasi kuliner.

Open Source Bagi Guru-Guru SMK di Kabupaten Kulon Progo.

DAFTAR ISI. Halaman Judul... Halaman Pengesahan... Halaman Persembahan... Halaman Motto... Kata Pengantar... Daftar Isi... Daftar Gambar...

BAB I PENDAHULUAN. publiknya. Hal ini juga berlaku untuk universitas. Disinilah organisasi

BAB II LANDASAN TEORI. suatu maksud tertentu adalah bagian dari suatu sistem, yang mana sistem

PENGEMBANGAN E-LEARNING SEBAGAI MEDIA BELAJAR

MERPATI VOL. 1, NO. 2, AGUSTUS 2013 ISSN:

Kerangka Acuan Kerja Praktek

Penelitian dan Pengembangan R&D

Mengenal Joomla. 3.1 Sejarah Joomla

BAB III METODE PENELITIAN. Mengacu pada latar belakang penelitian dan rumusan masalah serta tujuan

PERANGKAT LUNAK PENJUALAN BERBASIS WEB (E-COMMERCE) DI PETERNAKAN AYAM HIAS PARENGNA

Kata Pengantar. Irwinda Putri W.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Transkripsi:

PENGEMBANGAN MODEL SISTEM ELEARNING KOMUNITAS DENGAN PENDEKATAN PERSONAL LEARNING ENVIRONMENTS (PLEs) Asep Sufyan Tsauri 1, Eddy Prasetyo Nugroho 2, Yudi Wibisono 3 Program Studi Pendidikan Ilmu Komputer, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung Email : 1) tsauri28@gmail.com, 2) eddypn@upi.edu, 3) yudi@upi.edu ABSTRACT The development of information and communication technology (ICT) encourage the birth of the idea of electronic learning (elearning) which makes the learning can be done anytime, anywhere via internet. ELearning implementation with Virtual Learning Environment (VLE) approach in the last decade showed many technical obstacles, so worth to try with the development of other approaches, including the approach to Personal Learning Environments (PLEs),it is the elearning development approach from the standpoint of students as the main actor. PLEs approach is closely connected with the development of web 2.0 technologies like social networking applications, so the main tool used in this study is social networking applications. Research method used is a method of Research and Development (R & D) which is adjusted into three main steps, namely preliminary study, planning and development and implementation. The study begins with the development of field studies to see the latest trends in Internet usage among the students that it becomes a strong reference to the next developmental stage. The planning and development of models to produce a form of elearning model hypothesis PLEs approach. Implementation phase is done by testing the model, respondents gave a positive assessment of models with different levels of satisfaction of 21.44%. Keywords: elearning, Personal Learning Environments, elearning Community. 1. PENDAHULUAN Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang sangat cepat telah banyak mempengaruhi perilaku dan cara pandang manusia terhadap berbagai dimensi kehidupan dan lingkungannya. Salah satu ( 25 ) perkembangan yang sangat fenomenal saat ini adalah lahirnya sebuah teknologi bernama internet. Indonesia adalah negara dengan pengguna internet yang cukup besar, dengan angka pertumbuhan yang besar dari tahun ke tahun. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dalam situs resminya menyajikan data kumulatif sampai akhir tahun 2007, bahwa pelanggan jasa internet diperkirakan mencapai dua juta pelanggan dan pengguna internet di Indonesia diperkirakan sekitar 25 juta pengguna, berkembang rata-rata 25% per tahunnya [1]. Menurut survey Internet World Stats dalam situs resminya, Indonesia dengan pengguna sekitar 25 juta, merupakan negara dengan pengguna terbanyak di kawasan Asia Tenggara dan pengguna terbanyak ke lima di Asia di bawah China (298 juta), Jepang (94 juta), India (81 juta) dan Korea Selatan (36,8 juta) [2] data ini dapat dilihat pada gambar 1. Hal ini mengisyaratkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk dapat menyetarakan diri dengan negara-negara maju dalam berbagai aspek kehidupan apabila diupayakan dengan baik dan konsisten. Dalam bidang pendidikan, perkembangan teknologi internet mempengaruhi banyak hal, salah satunya yaitu lahir konsep elearning. Wahono [3] menyatakan bahwa elearning akan membawa pengaruh terjadinya proses transformasi pendidikan konvensional ke dalam bentuk digital, baik secara isi (contents) maupun sistemnya. Saat ini elearning telah banyak diimplementasikan di berbagai institusi, baik institusi pendidikan maupun industri. Penerapannya didominasi oleh satu pendekatan bernama Virtual Learning Environment (VLE). Pendekatan tersebut diaplikasikan menggunakan perangkat lunak berupa Learning Management System (LMS) seperti Moodle, Claroline dan lain-lain. Sebagai gambaran,

Moodle sebagai LMS tersukses saat ini, telah diintegrasikan sekitar 40 ribu situs terregistrasi dari 196 negara [4]. Namun, di balik fenomena tersebut ternyata perkembangan elearning tidak sebaik yang diharapkan pada awalnya. Sistem elearning yang ada tidak memberikan hasil yang menggembirakan. Dari sebuah studi tahun 2000 yang dilakukan oleh Forrester Group kepada 40 perusahaan besar menunjukkan bahwa lebih dari 68% pekerja menolak untuk mengikuti pelatihan atau kursus yang menggunakan konsep elearning. Ketika elearning itu diwajibkan kepada mereka, 30% menolak untuk mengikutinya. Sedangkan studi lain mengindikasikan bahwa dari orang-orang yang mendaftar untuk mengikuti elearning, 50%-80% tidak pernah menyelesaikannya sampai akhir [3]. Dapat disimpulkan bahwa elearning dalam penerapannya selama ini adalah sesuatu yang secara teori sangat menarik, tetapi dalam prakteknya sulit dilakukan. Menurut Pitner dan Drasil [5], elearning dengan diaplikasikan melalui LMS tidak dapat memenuhi karakteristik teori-teori pendidikan mutakhir, seperti teori Student Centred Learning dan teori Konstruktivisme. Aplikasi elearning saat ini seperti halnya menerjemahkan bentuk pembelajaran kelas konvensional ke dalam bentuk online saja. Beberapa studi terakhir mengenai topik elearning mencoba menyiasati bagaimana mengembangkan sebuah konsep elearning sehingga dapat memenuhi teori-teori pendidikan mutakhir serta dapat memenuhi kebutuhan dan kesenangan siswa sebagai aktor utama dalam pembelajaran. Untuk menjawab masalah tersebut, peneliti-peneliti Amerika dan Eropa mencetuskan sebuah pendekatan baru bernama Personal Learning Environments (PLEs), yaitu sebuah pendekatan pembelajaran elearning yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi web 2.0, sehingga sering disebut sebagai konsep elearning 2.0 [6]. Di lain pihak, pengguna internet di Indonesia saat ini termasuk salah satu negara dengan pengguna aplikasi-aplikasi web 2.0 terbanyak di dunia. Menurut data dari Alexa.Com [7], Indonesia merupakan negara dengan pengguna terbanyak di Asia untuk situs Layanan Facebook dan nomor lima di dunia dengan pengguna sebanyak 4,0% dari seluruh pengguna Facebook di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa antusiasme masyarakat Indonesia terhadap layanan web 2.0 sangat ( 26 ) besar, pengguna internet di Indonesia menyukai aplikasi web yang interaktif, kolaboratif dan dimiliki secara personal. Melihat fenomena-fenomena yang diungkap di atas, penelitian ini bertujuan untuk mencari solusi dari hambatan dan peluang tersebut di atas serta untuk mengembangkan model sistem yang diharapkan dapat digunakan dalam penerapan elearning dengan pendekatan Personal Learning Environments (PLEs) di Indonesia, khususnya dalam komunitaskomunitas belajar. 2. MODEL ELEARNING DENGAN PLEs Terdapat beberapa perbedaan terminologi penulisan untuk menunjukan istilah pembelajaran online. Ada yang menuliskan dengan E-Learning, Elearning dan ada pula dengan penulisan elearning. Menurut Wahono [8], fenomena ini hampir sama dengan fenomena terminologi penulisan E-Mail dan Email, yang pada akhirnya yang menjadi baku adalah penulisan Email (tanpa tanda hubung). Dalam paper ini terminologi penulisan yang digunakan adalah Elearning (tanpa tanda hubung). Model mengandung pengertian suatu pola, gaya, contoh, acuan, ragam dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan [9]. Sedangkan model yang dimaksud adalah suatu pola dan alur proses pengembangan elearning yang dibuat, dihasilkan dan digunakan guna keberhasilan program kegiatan pembelajaran yang terdiri dari komponen input, proses dan output. Secara harfiah, elearning berasal dari dua kata dasar, yaitu e yang merupakan kependekan dari electronic atau elektronik dan learning atau pembelajaran. Sehingga elearning dapat diartikan sebagai pembelajaran yang dibentuk atau menggunakan media elektronik. Namun, pada perkembangannya, pengertian elearning mengalami penyempitan makna, yaitu untuk menunjukan cara pembelajaran dengan menggunakan media internet, yang dapat menggantikan atau melengkapi pembelajaran konvensional sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Selama dekade terakhir, penerapan elearning sebagian besar hanya menerapkannya dengan pendekatan Virtual Learning Environment (VLE), yaitu penerapan elearning dengan mengaplikasikannya melalui virtualisasi ruang kelas atau disebut virtual classroom. Dengan VLE guru yang memiliki peranan utama

dalam sistem, dari sejak merencanakan pembelajaran sampai dengan evaluasi pembelajaran, hal ini berimbas pelaksanaannya sebagian besar kurang dinikmati oleh peserta didik yang memiliki karakter-karakter belajar yang berbeda-beda. Penerapan elearning dengan pendekatan Personal Learning Environments (PLEs) sangat berbeda dibandingkan dengan pendekatan VLE. Penerapan PLEs menitikberatkan elearning sebagai sebuah kegiatan pembelajaran online yang dilakukan oleh individu pembelajar, bukan dilihat dari pemenuhan kebutuhan institusi penyelenggara pembelajaran. Dalam hal tools yang digunakan, Downes [10] menyebutkan bahwa tools elearning dengan pendekatan PLEs cenderung kecil dan menyesuaikan tren penggunaan aplikasi-aplikasi berbasis web, yaitu aplikasi-aplikasi web 2.0. Namun demikian, elearning dengan PLEs menuntut pembelajar supaya memiliki kemampuan mengkolaborasikan antar tools tersebut. Web 2.0 diartikan sebagai sebuah konsep aplikasi berbasis web yang memiliki cara pengembangan baru yang bertujuan untuk lebih meningkatkan partisipasi penggunanya, seperti untuk berkomunikasi, berpartisipasi, berinteraksi, berkomunitas atau berkolaborasi satu sama lainnya. Contoh aplikasi web 2.0 ini adalah aplikasi-aplikasi social networking (facebook, twitter), social media (slideshare, scribd) dan weblog (wordpress, blogspot). Ditinjau dari teori-teori kependidikan, pendekatan elearning dengan PLEs ini sangat erat hubungannya dengan paradigma pendidikan kontruktivisme, pembelajaran kolaboratif dan penilaian portofolio. Matrik perbedaan PLEs dan VLE dapat dilihat pada tabel 1. 3. METODE PENELITIAN Metode Penelitian yang dipakai adalah metode penelitian pendidikan model Resarch and Development (R & D). Langkah-langkah penelitian yang dilakukan sesuai dengan yang [11] dikembangkan oleh Borg & Gall yang kemudian dimodifikasi menjadi 3 (tiga) langkah utama, untuk menyesuaikan kondisi yang terjadi pada saat penelitian berlangsung. Ketiga langkah tersebut kemudian dibagi kembali menjadi 8 (delapan) langkah yang lebih rinci yaitu (1) studi eksploratif, (2) studi pustaka, (3) penyusunan model system hipotetik, (4) ( 27 ) verifikasi dan validasi oleh pakar dan praktisi; (5) revisi model sistem, (6) uji coba terbatas, (7) analisis dan revisi, serta (8) layanan yang direkomendasikan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan dalam paper ini disesuaikan dengan langkah-langkah penelitian seperti yang disebutkan di atas. 4.1 Studi Pendahuluan Hasil studi pendahuluan terhadap komunitas belajar mahasiswa (komunitas blogger Ilkom UPI) disajikan dalam matrik analisis SWOT, seperti yang ditunjukkan dalam tabel 2. Mengenai pola penggunaan internet dan social networking, pemahaman belajar mandiri serta pemahaman pembelajaran komunitas para responden (96 orang) dari komunitas blogger ilkom UPI adalah sebagai berikut : a) Seluruh responden (100%) terbiasa mengguna-kan internet yang lama penggunaannya sebagian besar telah lebih dari lima tahun (56,25%) dan sebagian besar dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mandiri (46,87%), b) Fasilitas yang biasa digunakan oleh responden sebagian besar adalah fasilitas pribadi (41,67%) dan fasilitas warung internet (25%), c) sebagian besar responden lebih menyukai facebook (90,63%) dibandingkan dengan aplikasi lainnya yang digunakan untuk jaringan komunikasi (62,50%), d) Pemahaman tentang belajar online, sebagian besar responden mengartikannya sebagai kegiatan mencari dan berbagi ilmu (62,50%), e) Responden sebagian besar telah memiliki weblog pribadi (81,25%) yang di-update rata-rata kurang dari sebulan sekali (51,04%). Weblog tersebut berisi tutorial dan review (31,25%) dan curahan hati (25,00%), f) Sebagian besar responden telah memiliki koleksi website (bookmarks) (88,54%) dan merasa terbantu dengan bookmarks tersebut (75,00%), g) Sebagian besar responden telah tergabung dalam komunitas belajar online (88,54%) baik berupa forum diskusi, milist maupun elearning gratis menurut minatnya masing-

masing, h) Kebiasaan responden beraktifitas dalam komunitas belajar tersebut belum memuaskan, karena sebagian besar hanya baru menempatkan komunitas sebagai tempat bertanya saja (42,71%) dan cenderung memanfatkannya hanya untuk dibaca yang diperlukan saja (57,30%). 4.2 Perencanaan dan Pengembangan Dari hasil studi pendahuluan sebelumnya, maka dirumuskan sebuah model hipotetik elearning dengan PLEs dalam mendukung pembelajaran komunitas ini yang secara rasional dapat dikembangkan dan dilaksanakan oleh komunitas. Model hipotetik yang dimaksud berupa diagram model sistem, usecase sistem yang dikembangkan dan flow chart pelaksanaan model sistem. Diagram model sistem hipotetik yang dikembangkan sesuai pada gambar 3, berupa pola dan petunjuk pelaksanaan untuk mengembangkan, mengelola dan mengevaluasi model sistem elearning yang dimaksud, sehingga dapat dipahami oleh semua pihak yang berkepentingan terhadap elearning tersebut. Untuk menjalankan kegiatan pembelajarannya (PLEs Tagging), maka dibutuhkan suatu sistem berbasis web. Berikut ini adalah usecase sistem yang dikembangkan dalam gambar 4. Untuk menjalankan model sistem dengan baik, maka perlu standar operasional untuk menjalankannya. Dalam standar operasional yang dikembangkan ini mengakomodasi pihak instruktur atau guru dan siswa atau anggota peserta didik. Flowchart pelaksanaan model sistem ditunjukkan dalam gambar 5. 4.3 Uji Coba Model Ujicoba dilaksanakan secara terbatas di laboratorium terhadap 19 responden dengan skenario pembelajaran yang disajikan melalui tabel 3. Dari hasil self evaluation responden yang mengikuti uji coba model sistem, sebelum uji coba total poin self evaluation sebesar 495 poin dari total 950 poin dan total poin sesudah uji coba 693 poin dari total 950, sehingga terdapat perbedaan kepuasan responden sebesar 198 poin dari total 950 poin atau sebesar 21,44%. ( 28 ) 5. PENUTUP 1. Model sistem elearning dengan pendekatan PLEs secara umum dapat mendukung pembelajaran komunitas mahasiswa Blogger Ilkom UPI 2. Kelebihan dari model sistem elearning yang dikembangkan diantaranya adalah : a. Tidak membutuhkan biaya pengembangan yang besar karena menggunakan software open source, b. Dalam implementasinya, pengguna tetap menggunakan aplikasi-aplikasi yang disukainya berupa aplikasiaplikasi social networking, c. Mendorong kegiatan belajar mandiri yang terfokus bagi penggunanya, d. Memungkinkan terjadinya sharing knowledge antar penggunanya, e. Mendorong komunitas untuk menjadi lebih produktif dalam melaksanakan pembelajaran komunitas, dan f. Memungkinkan pelaksanaan penilaian portofolio seara online. 3. Kekurangan model sistem elearning yang dikembangkan adalah : a. Memerlukan waktu yang lama untuk membiasakan anggota melaksanakan model, b. Memerlukan kesadaran untuk menjaga agar model tetap berjalan dengan baik, c. Memerlukan komitmen pengguna yang tinggi untuk melaksanakan model, khususnya dalam fokus belajar mandiri, dan d. Dalam sistem yang dikembangkan belum mampu mengakomodir pengelolaan nilai. 4. Model sistem memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut dengan kompleksitas yang lebih tinggi 5. Model sistem tidak akan pernah bermanfaat jika tidak dilaksanakan dengan konsisten oleh seluruh pihak yang terdapat dalam diagram model sistem. DAFTAR PUSTAKA [1]. APJII. (2009). Perkembangan Jumlah Pelanggan dan Pemakai Internet di Indonesia [Online]. Tersedia: http://www.apjii.or.id/dokumentasi /statistik.php?lang=ind [30 April 2009]. [2]. Internet World Stats. (2009). Internet Users in Asia [Online]. Tersedia: http://www.internetworldstats.com/asia [30 April 2009].

[3]. Wahono, R. S. (2007). Sistem elearning Berbasis Model Motivasi Komunitas. Ilmukomputer.com (IKC). [4]. Santoso, Harry B. (2008). Dibalik Kesuksesan Moodle [Online]. Tersedia : http://staff.blog.ui.ac.id/harrybs/2008/05/06/di balik-kesuksesan-moodle/ [30 Maret 2009]. [5]. Pitner, Tomas. & Drasil, Pavil. (2005). An E- learning 2.0 Environment Principles, Technology and Prototype. Masaryk University Brno. [6]. Downes, Stephen. (2006). E-learning 2.0 [Online]. Tersedia : http://www.elearnmag.org/subpage.cfm?secti on=articles&article=29-1 [28 Maret 2009]. [7]. Alexa. (2009). Facebook.com - Traffic Detail from Alexa [Online]. Tersedia: http://alexa.com/siteinfo/facebook.com [28 Maret 2009]. [8]. Wahono, R. S. (2005). Pengantar E-Learning dan Pengembangannya. Ilmukomputer.com (IKC). [9]. Moeliono. (1988). Kamus besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud. [10]. Downes, Stephen. (2008). The Future of Online Learning: Ten Years On. elearn, 10(1). [11]. Syaodih, Nana. (2005). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya. China 298,0 Japan India 81,0 94,0 South Korea Indonesia Vietnam Philippines Pakistan Malaysia Taiwan 36,8 25,0 21,0 20,7 17,5 15,9 15,1 0,0 50,0 100,0 150,0 200,0 250,0 300,0 350,0 Millions of Users Gambar 1 : Jumlah pengguna internet di Asia (dalam juta) Studi Eksploratif Studi Pustaka STUDI PENDAHULUAN PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN Penyusunan Model Sistem Hipotetik Verifikasi dan Validasi oleh Pakar Revisi Model Sistem Uji Coba Terbatas Analisis dan Revisi Model Sistem yang Direkomendasikan PELAKSANAAN Gambar 2 : Langkah-Langkah Penelitian ( 29 )

Gambar 3 : Diagram Model Sistem Hipotetik Elearning dengan PLEs ( 30 )

Email Social Networking Selective RSS User Social Bookmarking Social Content Networking Weblog Selective RSS Selective RSS Selective RSS Aggregator API PLEs Network Database Admin Gambar 4 : Arsitektur PLEs Network Gambar 5 : Flowchart Pelaksanaan Model dengan PLEs Network ( 31 )

Tabel 1 : Matrik Perbedaan PLEs dengan VLE VLE PLEs Pengguna utama Institusi pendidikan/pendidik Pembelajar/Siswa Alat yang digunakan Learning Management Web 2.0 tools System Pendekatan pembelajaran Online classroom Personal learning Kemudahan penggunaan Mudah, karena cukup menguasai satu sistem Mudah, karena menggunakan tools yang biasa digunakan Penyimpanan materi Terpusat dalam satu sistem Tersebar di berbagai tools Bentuk pembelajaran Didominasi pembelajaran formal Didominasi pembelajaran nonformal dan informal Bentuk penilaian (evaluasi) Penilaian konvensional Penilaian portofolio Tabel 2 : SWOT Komunitas Blogger Ilkom UPI Strengths Weaknesses Anggota cukup banyak dan terhubung dengan baik Belum memiliki aturan yang jelas (kode etik) Anggota terbiasa beraktifitas online Belum memiliki sistem elearning Anggota memiliki weblog yang rutin di-update Belum terdapat pengelompokan tema-tema tulisan blog Opportunities Threats Komunitas yang produktif dalam pembelajaran Kegiatan yang tidak produktif Terfokus kedalam beberapa bidang pembelajaran Tidak fokus terhadap suatu bidang Antar kemampuan individu dapat berkolaborasi Pengetahuan yang tidak terhubung Tabel 3 : Rencana Pembelajaran pada Uji Simulasi Tujuan Memahami struktur templating wordpress Memahami standar minimum dalam pembuatan theme wordpress Dapat membuat halaman utama pada sistem theme wordpress Dapat membuat halaman arsip pada sistem theme wordpress Dapat membuat dinamic sidebar pada sistem theme wordpress Instruksi-instruksi Tutor Tag/Hastag Resmi Bacalah modul awal Buatlah posting di blog masing-masing tentang struktur templating wordpress Silahkan berkontribusi melalui facebook, twitter, diigo dan sebagainya Plesnetwpbasic Aturan-aturan kelas Setiap pertemuan pembelajaran secara langsung, seluruh anggota wajib online Jadwal pertemuan melalui Yahoo!Messenger pada hari Minggu pukul 08.00 12.00 WIB Peraturan-peraturan lainnya akan dikomunikasikam melalui facebook atau twitter. ( 32 )